©all rights reserved

Tulisan : Rezeki itu ada waktu dan tempatnya

Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu yang dijalani, semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami menjadi semakin dimengerti. Melihat bagaimana dunia berputar, bagaimana orang-orang bergerak ke sana ke mari, merasakan bagaimana siang dan malam terasa semakin cepat berganti.

Sebelum lulus dari kuliah, ingin ini dan itu. Banyak sekali. Melihat kepemilikan orang lain dan ingin memilikinya. Melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu tidak terasa berharga.

Selepas kuliah. Melihat bagaimana teman-teman mulai memiliki perusahaan sendiri, ataupun mulai membeli dan mencicil rumah, juga kendaraan, dan kita masih tertatih-tatih kepanasan dengan sepeda motor dan kos-kosan yang sempit. Terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu begitu sedikit.

Selepas itu, melihat teman satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Kita pun mulai berpikir bagaimana mencari dan menemukannya, sementara di satu sisi kaki kita masih berpijak di dunia dimana kita masih mengukur seberapa banyak harta yang kita siapkan untuk membina rumah tangga. Dan kita juga menyadari usia yang semakin menua. Juga menyadari kalau menikah tidaklah tepat dengan alasan-alasan seperti itu, tapi tetap saja hati kita terasa kosong dan iri pada apa-apa yang didapati oleh teman-teman yang lain.

Setelah menikah, kita melihat orang lain memiliki bayi-bayi yang lucu. Bahkan beberapa dari mereka, menikah setelah kita dan memiliki bayi lebih dulu. Sementara kita belum juga diberikan. Rasanya kebahagiaan seperti dikurangi setiap hari dan setiap kali melihat foto-foto bayi yang membanjiri linimasa media sosial.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya jika kita menghitung apa-apa yang tidak dan belum kita miliki. Dan itu membuat hari kita semakin sempit, kebahagiaan semakin sulit ditumbuhkan.

Dan saya menjadi paham bahwa rezeki itu memang ada waktu dan tempatnya. Apa yang saya miliki saat ini, adalah apa-apa yang begitu diinginkan oleh orang lain. Barangkali memang inilah rezeki yang paling tepat untuk saya saat ini. Dan saya pun menjadi paham bahwa mendoakan orang lain itu lebih baik daripada bertanya.

Bertanya tentang; kerja dimana, penghasilan berapa, sudah punya apa, kapan menikah, sudah hamil belum.

Kadang saya khilaf, jangan-jangan saya menjadi sebab hilangnya rasa syukur orang lain karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang seperti peduli tapi sebenarnya hanya penasaran karena ingin tahu. Keingintahuan tentang orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan saya pun belajar bahwa syukur itu hal yang paling bisa memenangkan dan menenangkan hati. Saya percaya bahwa rezeki itu akan datang di tempat dan waktu yang terbaik. Jangan khawatir.

Yogyakarta, 20 April 2017 | ©kurniawangunadi

Menerka Ukuran

Usia saya akan menginjak angka 27 pada akhir tahun ini. Dan saya sering mengingat bagaimana masa-masa usia 22-25 dijalani hingga sampai di titik ini. Ada begitu banyak hal-hal yang saya syukur, dan tentu saja ada yang disesali. Tapi, setidaknya saya kini punya pandangan bahwa; apapun yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali sepanjang saya sudah mengikhtiarkannya semaksimal mungkin sampai batas yang saya bisa.

Kenyataannya memang demikian. Tidak segala hal yang kita inginkan pada masa-masa life crisis akan terwujud. Dan itu jangan menjadi sesal, caranya tentu dengan memperjuangkannya terlebih dulu sampai batasnya. Bagaimana kita tahu batasnya? Ya dengan memperjuangkannya! Karena itu tidak bisa diterka, juga tidak ada panduannya. Yang bisa merasakan batas itu adalah dirimu sendiri!

Hari ini, kita sedang berjuang tertatih-tatih. Sementara kita dipaparkan pada kenyataan paling memilukan menurut saya hari ini, feeds instagram. Satu hal yang perlu kita pahami benar, bahwa ukuran kita tidak akan pernah sama dengan ukuran orang lain. Tujuan kita pun begitu.

Perjuangan kita semakin dirusak kemurniannya karena terpukau dengan apa yang tertampil di sana. Perjuangan kita semakin meresahkan karena seolah-olah tak pernah sampai, seperti apa yang kita lihat di orang lain. Tujuan kita menjadi tidak lagi murni, bahwa perjuangan itu tidak perlu ditampilkan, apalagi harus diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Hidup kita semakin tidak tenang karena rasa syukur kita yang semakin hilang, kita sibuk membandingkan dan terkagum dengan apa yang dicapai orang lain.

Ada sebuah cerita tentang seekor katak yang berusaha memanjat pohon. Sepanjang usahanya memanjat, katak-katak yang lain meneriakinya dari bawah. Meragukannya, menghinanya, tapi ia tidak bergeming. Ia tetap memanjat.

Sampai pada akhirnya ia hampir mendekati pucuk pohon, seluruh katak yang tadinya menghinanya kini meneriakinya dengan dukungan. Bahkan kekaguman. Dan ia tetap diam saja, sampai ia berhasil sampai.

Dan satu hal yang katak-katak lain tidak tahu, ternyata katak yang memanjat itu tuli. Ia tidak mendengar cacian, juga pujian yang tadi di alamatkan kepadanya.

Kalau dalam konteks kita saat ini, sebagai generasi muda. Mungkin kita perlu untuk membutakan diri. Menutup mata kita dari dunia yang amat semu, yang setiap hari kita buka setelah bangun tidur, di kantor, di jalan, di mana pun. Kita perlu fokus pada apa yang kita perjuangkan, pada apa yang sedang kita jalani, dan pada hal-hal yang sudah kita miliki.

Kita perlu untuk membutakan diri dari dunia luar yang hingar bingar, yang memecah kesunyian kita dengan tawaran-tawaran yang semu. Kita perlu kembali menata diri, dan bahagia dengan setiap waktu dan jerih payah yang kita lakukan.

Kita tidak perlu menjadi bagian dari mereka. Hidup kita tidak perlu mereka ketahui. Kita tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun. Kita hanya perlu mengakui diri kita sendiri, betapa berharganya kita dan apa yang sedang kita perjuangkan. Karena kelak, kebahagiaanmu bukan bergantung pada bagaimana orang memperlakukanmu, melainkan bagaimana kamu bisa memperlakukan dan menghargai dirimu sendiri.

Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

Hey friends! I recently came across an old video (2011) of Tyler singing a snippet of Isle of Flightless Birds and thought I’d share! Please please please watch this. Tyler puts the same breathtaking amount of emotion now as he did back then, and I think that’s pretty incredible. (x)