sereal

3

Requested by anonymous

Years ago Fiona gave up one of her daughter’s. She never thought she’d see you again, yet here you were on the doorstep of the coven. Your had just discovered your powers and this was the only place you could go.

“My beautiful girl” Fiona said placing a hand on your cheek. Now the supreme hardly cared about anyone but herself but this was kind of sereal.

You backed away from the woman, confused to what was going on. You didn’t know who she was.
“Um I’m sorry… Do I know you?” You asked.

“You’re my daughter of course” Fiona explained, making your insides do a backflip.

REQUESTS ARE OPEN

Perempuan yang Terjebak Dalam Toples Kaca

Kau selalu tertawa dengan hal-hal yang tak mampu kau pahami. Sudah berulang kali kukatakan kepadamu, aku ini seorang penyihir. Bukan seperti dalam adegan film sekolah Hogwarts yang berisi sapu terbang, tongkat sihir atau kodok yang terbuat dari cokelat. Aku tak tahu mantra-mantra yang mampu mengeluarkan cahaya. Aku ini penyihir kata-kata. Kau selalu tertawa ketika aku mengulang pernyataan itu.

Sepi kadang berbicara kepadaku, betapa sempitnya waktu. Betapa luasnya kenangan. Aku ingin menciptakan kenangan-kenangan indah bersamamu. Sebab nyawa yang kita pinjam ini hanya sementara, bahagia dan luka akan hidup selamanya di dalam pikiran kita. Tapi kau tak pernah percaya.

Sudah berulang kali kunyatakan cinta kepadamu. Namun kau selalu menolak dengan alasan-alasan yang tak mampu kumengerti. Ini ketujuh kalinya aku menyatakan cinta kepadamu, berharap kau jatuh ke dalam pelukanku lalu cerita-cerita bahagia akan mekar setelahnya. Semakin keras kau menolak cintaku, semakin keras pula aku berusaha mengejarmu. Aku tahu betul cinta membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan. Bukan seberapa lama kau menyakitiku, tapi seberapa tangguh aku mampu bertahan. Digerus oleh keangkuhan tembok tinggi yang kau bangun antara aku dan dirimu.

Seorang kawan pernah berkata kepadaku: “Ketika gadis yang kau suka tidak mencintaimu, masukan saja ke dalam botol kaca. Lalu simpan di dalam kamar.”

Tujuh kali kunyatakan cinta, tujuh kali pula kau menolaknya. Cukup sudah aku bersabar dan menanti. Tak percuma jutaan puisi kuciptakan untukmu dan berakhir sia-sia di depan pintu kamarmu. Juga rintik-rintik rindu yang kadang tiap malam mengetuk atap-atap rumahmu. Kau selalu menganggap cinta hanyalah sebuah lelucon belaka.

Sudah kurencanakan berminggu-minggu sebelumnya. Aku akan mengendap-ngendap masuk ke rumahmu lewat pintu belakang, lalu menuju pintu kamarmu dengan menaiki tangga yang memutar. Setelah sampai di sana, kudapati pintu kamarmu berwarna putih langit dan berhiaskan gantungan seorang penari Bali. Perlahan-lahan kubuka pintu kamarmu yang tak pernah tertutup rapat. Segera kutemukan dirimu dalam keadaan terlelap dibuai oleh mimpi-mimpi.

Keesokan paginya, kau akan terbangun di dalam toples kaca yang kupersiapkan untukmu. Aku sudah mendekor ruangan toples kaca itu semirip mungkin dengan kamarmu. Agar kau tak begitu kaget bahwa kau sudah kuculik dan kujadikan dirimu seutuhnya tawananku. Tak perlu lagi aku mencuri-curi cara mengajakmu kencan ke taman, bioskop atau tempat favorit bersantai bersama dengan teman-temanmu. Aku sudah tahu pasti kau akan menolaknya.

Aku akan lebih mudah mencarimu jika kau selalu ada di dalam kamarku. Di sudut meja kerja persis di samping desktop tempat biasa aku menyimpan foto-fotomu. Aku akan lebih leluasa mengajak berbincang tentang hal-hal yang kualami seharian di kantor, kejadian-kejadian lucu yang kutemui di jalanan atau tentang berita televisi yang selalu mengabarkan kebohongan dan berharap semua orang yang mendengarkan mereka percaya begitu saja. Kau akan menjadi pendengar setia terbaikku, selain tembok kamarku.

Sudah seminggu kau terjebak di dalam toples kacaku. Sudah seminggu pula aku berusaha menjadi lawan bicaramu. Setiap pagi kau kuberi sarapan semangkuk sereal dan segelas susu. Setiap malam menjelang, setelah aku tiba dari tempat kerja, kubawakan makanan apa saja yang kutemukan di perjalanan pulang. Kadang ketika kau merasa bosan kubawakan buku-buku baru penulis favoritmu yang kubeli dari toko langgananku.

Seminggu kemudian kau jenuh berada di dalam toples kaca. Kau ingin menjadi gadis normal seperti pada umumnya. Pergi ke kampus, bertemu dengan teman-temanmu atau kekasihmu yang tak pernah kau ceritakan sebelumnya kepadaku. Kadang aku juga merasa bosan memandangi tubuhmu yang mungil. Aku ingin sekali memelukmu dan merasakan wangi tubuhmu mendesirkan jantungku.

Aku tersadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah membiarkannya bebas. Bukan mengekang. Bahkan untuk ukuran manusia normal tak akan mengurung binatang peliharannya dalam kandang seumur hidupnya. Apalagi kekasihnya sendiri. Ketika kau mengatakan ingin kembali kepada kehidupanmu, aku harus siap merelakanmu menolak kembali cintaku. Aku tak apa-apa. Tetapi kau tak akan lupa aku ini masih seorang penyihir kata-kata. Aku masih dapat mengurung kau di dalam tulisanku untuk seribu tahun lamanya.

Bekasi, 2016

Holy Land Tour: Day 3

This morning we left early for Galilee on our tour bus with Abu Ali. Our first stop was at Beth Shean. This is a place where pre-history human settlements began around 3,000 B.C. It was cool. We got to see a lot of the Roman Columns and some sweet architecture and got to walk up to a super high area that overlooks the valley which was super amazing! After Beth Shean we made our way to Capernaum! This was such an awesome place to be present in because this is where many miracles and stories of Jesus happened! Some of these very familiar stories were: 1) Christ’s ministry beginning in Galilee, 2) Sermon on the Mount, 3) Feeding of the five thousand, 4) Jesus walking on water, 5) Jesus giving the great commission and when Jesus calmed the sea. We got to sight-see a bit around this particular area and it was just sereal to be here! I even got a bit emotional just thinking about how Jesus was ACTUALLY here, right where I was standing. We walked down to the edge of the Sea of Galilee and put our feet in too. It was so refreshing!
Then we drove to the Jordan river and 8 of our tour members got baptized.
In the evening we took an AMAZING sunset boat ride around the Sea of Galilee. It was a total surprise for me that we got to do this. We played worship music on the boat, took pictures and prayed together as a tour group. It was very memorable. After the boat ride we had fish for dinner then went to our hotel near the sea.

“the Houses as Emo Bands” e x p l a i n e d

i wanted to do an explnation of why i sorted each band where! but i didn’t want to go back to the things i’d already posted, so imma do it here!

for the original posts click here

H U F F L E P U F F

Originally posted by emma41416

i put Twenty One Pilots in hufflepuff, not for the members themselfs, but for the music. in my opinion, Tyler is closer to a Ravenclaw (as many poets are), and Josh walks the line of a Gryffindor.

however, the first time i listened to TOP, i had an overwelming sence of exseptence. it didn’t matter what kind of home i was from, what i believed, who i was, they didn’t care. ya, life sucks, ya, it’s hard, ya, it hurts like hell, ya, sometimes you hate yourself, but it doesn’t matter. TOP radeated love. 

i’ve found in my own personal expereance that Hufflepuffs bring out the best in me (a Slytherin). their honesty brings hope to my life. TOP are honest in all of there lyrics. Tyler knows he’s messsed up, but it doesn’t matter. TOP’s music is an invitation, for all out us to be messed up together.

R A V E N C L A W

Originally posted by swiftembers

the now one man band, Panic! At The Disco, has always had a certain oddness to them. they’ve never been able to seem to pick one genre, and paved they’re own road when it came to music. they’re only remaining member, Brendon, has always been a Ravenclaw in my mind (however he has gained much wisdom over the years).

i always found Panic! to be increadably creative, and able to see things others can’t. from the first song of theres i ever heard (I Write Sins, Not Tragedies) i knew this was a truely unique band. 

i have fallen in love with Panic!’s strange song titles, and intelligent lyrics. the best way i can describe they way they make me feel is: strangly at home (probably because both of my parents are Ravenclaw). and much like before, Brendon knows he’s strange, goofy, and untaimed, and he love’s every secent of it!

G R Y F F I N D O R

Originally posted by thesocialawkward

this one most people seem to disagree with me on. most people seem to think that Patrick is a Hufflepuff, but i half to disagree. Patrick has a nearly unquenchable thirst for knowledge, a distinctively Ravenclaw trait. but that is beside the point. 

why Gryffindor? well, i have always found Fall Out Boy to be incredably bold. that trait is consisted through all of the members, regardless of there hosue. i also have found that FOB is vary impowering. you want to stand up to that kid? do it! you want to be freinds with that person? go talk to them! screw what anyone else says! you’re your own person! and you don’t half to be afraid anymore!

FOB helped me get the courage to do what i really wanted. as well as the exseptance that if it fails, if i lose that friend, if i get beat up, it doesn’t matter. life is hard, and reality bites, but you just half to fight back harder!

S L Y T H E R I N

Originally posted by fvckyeahbands

this ones pretty self explanitory. just listen to them. not only is nearly the intire band Slytherin (Ray, you little Ravenclaw rebel 😉 ), but there hole aesthetic screams it. any Slytherin will tell you, MCR without a dout, are welcome at the serpent’s table.

from the vary first time i heard MCR, i heard utter understanding. ‘ya, okay, so maybe you are crazy, but so are we!’. i’ve seen MCR go from angry vampires, to emotional sereal killers, to lonely angels of death, to butt kicking indepented vigilantes. every true Slytherin should be able to go through a similar trancformation (not that you half to go to quite the same extream).

MCR have been through hell and back. proudy staiting that they don’t need anyone else. Slytherins are common loners, and generally rather reserved individuals. a Slytherin is willing to do almost anything to acomplish there goal, and MCR is no stranger to tough situations.

The Way I Lose Her: On My Way

Sebenarnya tak sulit untuk bisa jatuh cinta. Tapi untuk bisa benar-benar terjatuh dalam satu cinta, aku rasa aku perlu berdamai dengan luka.

                                                                 ===

.

Setelah menunggu sebentar, akhirnya teman-teman Wulan mendatangi kita berdua. Gue lupa siapa saja nama teman-teman wulan saat itu, tapi dari 4 orang temannya Wulan, ada satu cewek yang namanya gue ingat sampai sekarang. Namanya unik banget, Claudya. Namanya kebarat-baratan, mirip kaya nama Digimon. Jika dibandingkan dengan nama gue, nama Claudya ini kayanya nggak cocok banget kalau diajak sarapan nasi kuning atau bubur, cocoknya Oat Meal atau Sereal. Sedangkan nama Dimas kaya nama gue ini cocoknya sarapan tempe orek sama nasi tim. 

Emang pada dasarnya udah naluri sih ya, jadi sosok Don Juan kembali muncul lagi ke permukaan. Gue dan Ikhsan saat itu lagi ada di pinggir lapangan, tepatnya di bawah pohon yang cukup rindang dengan beberapa bangku di bawahnya. Gue berdiri sambil menggenggam bola basket di pinggang dan bergaya setampan Ryan Gosling, sedangkan Ikhsan duduk di meja memasang gaya bak Ryan Jombang.

“Ikhsan, Dimas, kenalin teman-teman aku.” Ucap Wulan seraya mempersilahkan teman-temannya untuk berjabat tangan dengan kita berdua.

“Salah satu dari kalian, siapa yang rumahnya di daerah sini ya?” Tanya gue setelah selesai berkenalan.

“Aku. Rumah aku yang nomer 43 itu.” Jawab salah seorang teman Wulan.

“Rumah nomer 43? Yang warna biru itu bukan?” Tanya gue lagi.

“Iya.”

“Yang punya Inova merah itu?”

“Iya, kok kamu tau.”

“Loh, anaknya Pak Dodi?!" 

"IH KOK TAU NAMA PAPAH AKU?!”

“Hahahahahaha Kenal nih aku sama pak Dodi, dulu sering taruhan main carambol sama Ayah aku. Terus waktu kelurahan lagi ngadain lomba balap Tamiya juga pak Dodi keliatan paling antusias ikut lomba bareng Ayah aku. Tamiya-nya gaul banget, pake dinamo gorok. Tapi btw rasa-rasanya dulu aku nggak pernah liat kamu deh. Eh iya sorry, tadi kalau nggak salah namanya….”

“Claudya. Panggil aja Claudya.” Ucapnya sembari menyodorkan tangan.

“Ah iya, Dimas. Panggil aja Dimas. Loh tapi kok kayaknya aku nggak pernah liat kamu ya?” Ucap gue sembari menjabat tangannya untuk yang kedua kalinya.

“Aku SDnya di Belanda. Nginep sama saudara aku.” Tambahnya lagi.

“Woooh SDnya dari Belanda, masih sepupuan sama Holand Bakery berarti.” Jawab gue nyeleneh. Claudya yang mendengarkan ocehan gue ini cuma tertawa lucu sambil tetap menggenggam tangan gue.

“Ah mulai deh mulai. Keluar srigalanya.” Tukas Ikhsan bisik-bisik sambil melirik ke arah gue.

Mendengar ucapan Ikhsan tersebut, gue cuma bisa tersenyum. Sebelum pergi makan, kita ber-tujuh duduk duduk dulu di kursi yang ada di dekat kita ini. Bercengkrama sebentar untuk mengenal diri kita masing-masing lebih jauh. Apa makanan favorite, umur, nama sekolahan, baju favorite, zodiak, golongan darah, ukuran BH, tipe batu akik yang disenangi, dan masih banyak lagi.
Ikhsan yang dari kemarin masih galau perihal Mai, kini terlihat kembali cerah. Wajahnya kembali bercahaya kaya batu Bacan. Dia tampak menemukan kembali secercah harapan. Sedangkan gue tetap seperti biasanya, berusaha menjadi orang yang enak diajak berbicara dan lebih cenderung untuk mendengarkan ketika mereka semua bercerita.

“Always let she say more ‘me’ than you." 

Itu adalah rumus Don Juan yang selalu gue pegang setiap gue melakukan conversation dengan orang yang baru gue kenal. Lagi asik berbicara dan bertanya-tanya, secara tak sengaja gue melihat ke arah Wulan. Kebetulan saat itu juga Wulan melihat ke arah gue. Kita terdiam sebentar.

"Dim, lagi main basket ya tadi?” Tanya Wulan mendadak memecah keheningan kita berdua.

“Ah iya, biasa olahraga pagi biar kuat kaya Thomas Djorgi." 

"Ih tua banget deh artis favoritenya Thomas Djorgi.” Tukas Wulan.

“Hahahaha, mau bilang artis favorite gue Rhama Aipama, pasti lo bakal makin ilfeel sama gue, Lan.”

“Hahahahahaha kamu ih, dari dulu masih aja konyol. Btw Dim, temenin bentar main basket dong, sekalian ada yang mau aku omongin.” Jawab Wulan seraya berdiri menggandeng tangan gue.

Tanpa pikir panjang, gue langsung menuruti apa kata-kata Wulan. Gue pamit sebentar sama Ikhsan sambil mengisyaratkan kepada Ikhsan agar meneruskan permainan yang sedang dijalankan. Setelah pamit, gue dan Wulan kini ada di salah satu sisi lapangan basket. Gue memberikan bola kepada Wulan agar dia saja yang bermain, sedangkan gue lebih memilih untuk mengambilkan bola untuk Wulan.

“Dim..” Kata Wulan sambil mendribble bola di tempat.

“Ya?”

“Sudah lama ya kita nggak ngobrol." 

"Hehe iya. Kangen juga rasanya. Udah hampir berapa bulan ya semenjak ospek kita dulu?”

“Tiga?” Tanya Wulan sembari menembak bola ke dalam ring.

Bolanya tidak masuk dan memantul, gue berlari untuk mendapatkan bola tersebut lalu memberikannya kembali kepada Wulan.

“Maaf ya Dim. Soal yang dulu.” Ucap Wulan lagi sembari menatap gue.

“Sudahlah, Lan. Itu kan cerita lama.”

“Tapi, aku sampai sekarang masih merasa nggak enak sama kamu.” Jawab Wulan lagi sembari menggenggam bola basketnya.

Gue tersenyum, gue berjalan menghampiri Wulan dan mengambil bola basket yang ada di pelukannya tersebut. Gue dribble sebentar, lalu berlari kencang ke arah sisi lapangan yang satunya lagi dan langsung melakukan Lay-Up. 

“Kalau sekarang kamu tengah bahagia dan malah terusik karena masih merasa bersalah sama gue. Gue malah nggak bahagia, Lan.” Tukas gue sambil mengoperkan bola kepada Wulan.

“Loh kok gitu?”

“Kita bisa bahagia kalau dulu bersama. Mungkin itu yang ada di benak gue saat itu. Dan itu pun cuma ada di khayalan gue doang. Berbeda dengan kenyataan. Tampaknya Tuhan terlalu menyayangi kita sehingga kita dipisahkan. Cara lo pergi karena lo memilih orang lain, adalah cara Tuhan memberi tahu gue bahwa jika bersama gue, lo nggak akan bahagia, Lan. Sebanyak apapun senyum yang bisa gue hadirkan di wajah manis lo itu, bagi Tuhan itu semua tidak akan pernah bisa mengalahkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang pacar lo berikan sehingga membuat hati lo nyaman.”

“…” Wulan terdiam.

“Bahkan mungkin segala kebahagiaan, segala kenyamanan, segala lawakan, dan segala pelukan yang bisa gue sediakan buat lo di masa depan jika kita bisa bersama itu masih tetap tidak bisa mengalahkan apa yang pacar lo berikan, bahkan untuk sebuah tangis penyesalan yang lo derita karena lebih memilih dia ketimbang gue. Gue tetap tidak bisa menyaingi itu, Lan.”

“Kok bisa gitu?” Tanya Wulan bingung.

Gue berlari ke arahnya, merebut bola yang sedang Wulan pegang, lalu melakukan tembakan 3 angka. Dan secara ajaib, bola tersebut masuk ke dalam ring. Subhanallah, tumben-tumbenan tembakan gue masuk, coba kalau kaga, kan bisa keliatan nggak gagah. 

“Karena gue sudah benar-benar kalah dari semenjak lo berpikir bahwa pacar lo itu bisa menggantikan sosok gue, dulu.” Ucap gue keren sambil menaikan satu alis seperti Hanamichi Sakuragi yang berhasil melakukan Slam Dunk.

Wulan terdiam sebentar mencerna kata-kata gue tersebut.

“Kamu bahagia sekarang, Dim?” Tanya Wulan lagi.

“Ya. Bisa dibilang seperti itu.”

“Sudah punya pendamping?” Tanyanya lagi.

Gue sedikit terkejut mendengar perkataan Wulan. Dan secara otomatis gue langsung memikirkan Ipeh ketika Wulan bertanya mengenai hal tersebut.

“Belum kayaknya.” Jawab gue dingin.

“Kok gitu sih? Kok orang sebaik, seramah, dan semenyenangkan kamu sampai sekarang masih belum mempunyai pacar? Bukannya itu ya yang semua cewek pengenin dari setiap cowok?”

“Hahahaha.” Gue tertawa sebentar sambil berlari mengambil bola basket yang sudah tergeletak di lapangan, “Seandainya orang yang gue sayang berpikiran hal yang sama juga seperti apa yang lo pikirkan, Lan..” Jawab gue sembari berlalu melewati Wulan dan langsung kembali berjalan menuju tempat Ikhsan dan teman-teman Wulan berkumpul.

Aku sudah belajar menerima, bahwa kehilangan tidak selamanya buruk. Kehilangan mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah keikhlasan. Keikhlasan kepada diri sendiri untuk mau mengakui bahwa aku tidaklah bahagia yang kau perlukan. Aku hanya senyuman yang kau dambakan, bukan kenyamanan yang kau butuhkan. Aku adalah inginmu, bukan kebutuhanmu. Sulit memang rasanya untuk menerima kekalahan, apalagi itu jika menyangkut orang-orang yang kita sayang. Mengakui bahwa dia bisa lebih membahagiakan kamu ketimbang aku; aku benar-benar masih tidak mampu. Rasa-rasanya aku mampu menjadikanmu piala di setiap lomba-lomba yang Tuhan berikan. Aku akan menunjukkanmu kepada dunia bahwa kaulah yang aku cinta. Aku akan menunjukkan kepada setiap orang yang menginginkan pelukku, bahwa kau adalah satu-satunya peluk yang kuinginkan.

Namun ternyata kau memilih orang lain, bukan diriku. Aku seperti batu loncatan untukmu, aku seperti kerikil-kerikil kecil yang kau pijak sebelum bertemu dengannya. Awalnya aku tak rela, namun kelak ketika aku telah diizinkan untuk menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku apa adanya, mungkin saat itu aku juga akan mulai menganggap bahwa kau adalah batu loncatan yang harus kulalui untuk menemukannya. Kau adalah kerikil-kerikil yang melukai kakiku agar ia datang dan menyembuhkannya. Kau adalah anak-anak tangga agar aku mencapai puncak yang sesungguhnya.

Kita semua adalah anak-anak tangga di setiap masa depan masa lalu kita. Maka terimlah rasa terimakasihku ini. Dipertemukan denganmu, aku tak pernah menyesal. Terimakasih atas cerita dan cintanya. Kau telah berhasil mencapai puncak dengan melewatiku, dan sekarang tolong izinkanlah aku. Kelak,

Aku,

–Cepat atau lambat–

Akan menemukannya juga.

I’m On My Way.

.

                                                                   ===

.

Kita bertujuh akhirnya berkumpul kembali. Setelah sepakat akan sarapan di mana, akhirnya kita semua berangkat bersama-sama. Sepanjang perjalanan menuju tempat sarapan nasi kuning, Ikhsan, Wulan, beserta teman-teman yang lain berjalan terlebih dahulu, sedangkan gue dan Claudya lebih memilih untuk berjalan belakangan. Kita berbicara seputar tempat-tempat di daerah rumah yang kayaknya belum pernah Claudya datangi.

Lagi asik-asiknya nyekill, mendadak telepon gue berbunyi. Setelah gue lihat siapa nama peneleponnya, ternyata itu Ipeh. Ngapain juga sih nih anak ganggu gue lagi indehoi?! Gue mau move-on dari elu Peh! Please izinin gue!! ucap gue dalam hati. Gue reject teleponnya dan kembali berbicara bersama Claudya.

Selang 5 menit, telepon gue berbunyi lagi, dan itu Ipeh. Tanpa pikir panjang gue langsung reject lagi.

“Kok nggak diangkat?” Tanya Claudya.

“Nanti aja deh, nggak sopan kalau orang cantik lagi ngomong terus dipotong cuma gara-gara ada telepon.” Tukas gue.

“Ih kok ngomong gitu. Aku jadi salting tau nggak.” Ucap Claudya sembari bingung mau melakukan apa.

Gue tertawa riang di dalam hati. Bhahahahahahak.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami semua sampai di tempat nasi kuning. Tanpa pikir panjang, Ikhsan, Wulan, dan teman-teman yang lain langsung memesang menu sarapannya masing-masing, walau pada hakikatnya ini sudah memasuki waktu jam makan siang.

Begitu kita semua sudah mendapatkan tempat duduk, Ikhsan yang masih kurang jam terbang perihal berbicara pada wanita itu langsung saja mempraktekan segala apa yang gue lakukan kepada Mai kemarin di kantin, dan yang lebih kampretnya lagi, taktik itu berhasil!! Cewek yang pake baju biru itu tampak terlihat tertarik dengan Ikhsan. Gila, murid gue telah berhasil. Pelajaranmu telah selesai, nak. Mission Accomplished

Gue mengusap air mata yang tak sengaja menetes karena terharu.

Baiklah, karena Ikhsan telah berhasil untuk bisa berdiri sendiri, kini saatnya gue yang beraksi. Gue memalingkan wajah gue dari Ikhsan dan langsung menatap Claudya yang kebetulan ada di depan gue.

“Clau…” 

Belum sempat gue memulai topik pembicaraan, mendadak telepon gue bunyi lagi. Ketika gue lihat, lagi-lagi itu Ipeh. Karena kesal diganggu terus, mau tidak mau akhirnya gue angkat juga itu telepon.

“APAAN SIH PEH?! LO NGGAK TAU ORANG LAGI INDEHOI APA?! MAU LO AP…”

“Mbeeee lo di mana…" 

"Loh loh loh, Peh?? Lo nangis??!”

.

.

.

.

                                                               Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Ikhsan

Semoga ia tidak menyakitimu. Semoga ia adalah terakhirmu.
Semoga aku menemukan yang lain selain kamu. Yang menjadikan aku dirinya bagimu. Yang dipilihmu, di antara orang-orang yang baik, yang serupa aku.

                                                            ===

.

“Lo ngambil kunci ke rumah gue aja, san.” Bales sms gue. “Alamatnya di jalan xxx nomer xxx, kalau udah di depan rumah, miskol gue ya”

Angkot yang gue tumpangi pun berhenti pada pemberhentian terakhirnya. Gue yang masih pengen duduk sambil berpangku dagu melihat jalanan ini terpaksa harus turun gara-gara supir angkot udah teriak-teriak pake bahasa batak.

“Mau sampe kapan kau melamun, Jang? Turun lah kau, aku mau istirahat ini. Lapar aku” Ucap seorang supir angkot tambun dengan warna pelangi di area ketiaknya.

Gue pun pada akhirnya turun lalu menyodorkan ongkos sebesar seribu lima ratus dalam bentuk bola-bola unyu yang udah gue kuwel-kuwel sebelumnya. Kemudian gue pergi mengambil langkah cepat meninggalkan angkot tersebut. Sebelum kemudian mamang angkot itu teriak-teriak sambil mencet klakson mobil lantaran uang seribu yang gue berikan sama doi sobek setengah.

Jaman dulu duit sobek juga masih bisa dipake, asal pinter kamuflase kaya bunglon. Gue belajar cara ini dari temen gue waktu SMP. Karena apa yang pernah dia lakukan inilah, gue dulu jadi yang harus ngebayar ongkosnya karena gue kebagian turun paling akhir. Bener-bener tai temen gue yang satu itu. Tapi akhirnya gue belajar ilmu baru. Gue setuju sama pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru paling bajingan bagi umat manusia.

Oke, sampai mana kita tadi?

Ah iya. Gue berjalan lunglai menuju menuju rumah tanpa berpaling kemanapun. Bahkan warnet kesayangan gue pun gue lewati begitu saja. Pikiran gue sudah terlalu penuh dengan segala omong kosong, emosi, dan segala rasa kecewa atas apa yang terjadi siang tadi.

Setiap gue mencoba mengerti mengapa Wulan tidak mengenal gue lagi, pikiran gue secara otomatis mem-flashback seluruh hal manis yang pernah Wulan dan gue lakukan. Sepolos apapun Wulan, gue nggak pernah mampu membayangkan Wulan bisa menjadi sejahat ini.

Gue buka gerbang rumah, lepas sepatu, cuci kaki, lalu kemudian rebah di kursi bambu halaman belakang. Selain beranda rumah, halaman belakang adalah tempat yang paling sering gue tuju ketika sedang banyak pikiran.

Setiap kali gue berusaha mengingat tentang Wulan, pening yang gue rasakan semakin besar. Gue mencoba mengalihkan pikiran gue kepada kak Hana. Namun yang ada gue malah jadi horny sendiri gara-gara kejadian di UKS tadi. Wah berabe, harus wudhu 2x kalau gini caranya mah.

Lamunan 17++ gue mendadak buyar ketika gue mendengar ada suara deru motor di depan rumah. Gue pikir itu Mirza, tapi ternyata bukan. Itu Ikhsan dengan motor bututnya berwarna merah.

Cepet juga nih anak dateng ke rumah gue. Setau gue, umur kita sama, tapi Ikhsan tampak sudah mempunyai SIM (Surat Izin Mencintai)-nya sendiri. Ini yang membuat dia terlihat sok-sok keren sambil mengibas-ngibaskan rambutnya disertai membuka helmnya di halaman depan rumah bak Raline Shan di iklan shampo pantene.

.

“Cepet amat datangnya.” Jawab gue sambil membukakan pager.

“Yoi dong. Sodaranya Valentino Rosi nih gue.” Jawabnya sombong.

“Valentino Rossi apaan?! Valentino Rosida elo mah” Tukas gue lagi.

“ANJIR!! Rosida mah nama ibu gue nyet!”

“Wanjrit, Serius? Bhahahahak sorry-sorry kagak tau gue. Yaudah nyok masuk cepet, nggak enak kalau diliat tetangga.”

“Lha emang napa?”

“Kasta Brahmana gak mantes kalau ngomong sama kasta Sudra” Jawab gue sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

“Tai lo.” Ucap Ikhsan sambil memarkirkan motor bututnya.

Langkah gue menuju rumah mendadak terhenti ketika melihat ritual aneh yang Ikhsan lakukan kepada motornya. Ia memasang rantai di kedua ban motornya. Karena penasaran, akhirnya gue iseng bertanya.

“San, kaga lo kunci stang aja tuh motor? Ribet amat pake rante segala” Tanya gue heran.

“Kaga bisa di kunci stang bro motor gue. Ini juga kalau misalnya lo stater tanpa nyolokin kunci juga bisa nyala. Hahahahaha gimana, istimewa kan motor gue?” Jawabnya enteng.

“….”

Melihat hal ini gue cuma bisa terpana nggak percaya. Ternyata motor itu cerminan orangnya ya. Orangnya sengklek, motornya juga sengklek. Dan dengan kejadian ini pula akhirnya gue bisa memaklumi kenapa Ikhsan dulu membawa buku Pribahasa pada waktu ospek hari pertama.

Akhirnya, semua misteri kedongoannya kini telah terpecahkan.

Sembari terus-terusan mengelus dada, gue masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ikhsan dibelakang yang tak henti-hentinya menata rambut klimisnya itu di setiap kaca yang ia lewati.

“Eh lo ngapain masuk ke dalam rumah? Gue cuma mau ngambil konci lo doang di tas, dah gitu gue balikin.” Ucap gue jutek.

“Yah nyet, tega amat, jauh gue ke sini. Minum dikit kek atau apa gitu. Udah kaya menir Belanda ah lo kejam amat.”

“Yaudah mau minum apa? Adanya cuma air putih tapi”

“Ya kaga usah lo tawarin kalau gitu setan. Jus alpuket dah.” Pintanya lagi.

“Dih malah nawar, kaga ada blendernya. Buahnya juga belom tumbuh. Air tajin aja deh mau?”

“Bohong lo, noh di dapur tadi gue liat ada alpuket sama blendernya lagi mejeng berdua deket-dekettan”

“AH, saos tar-tar! Teliti amat kaya maling. Yaudah sono tunggu di belakang, gue bikinin.”

Akhirnya gue meninggalkan Ikhsan yang sekarang sedang duduk lenjeh-lenjeh di halaman belakang. Karena rumah gue nggak punya pembantu, makanya semua harus gue lakukan sendiri.

Sebenarnya ada sih pembantu, namun doi hanya sebagai yang bersih-bersih rumah, atau masak kalau lagi nggak ada nyokap. Kalau bagian nyuci piring, nyapu kamar, ngepel kamar, semua harus dilakukan oleh diri sendiri. Itu tanggung jawab pribadi. Itu yang nyokap gue ajarkan ke setiap anak-anaknya.

Maka dari itu, walaupun ada pembantu, gue selalu merasa nggak enak kalau menyuruh melakukan sesuatu yang gue sebenarnya bisa melakukan itu sendiri.

.

                                                            ===

.

Gue berjalan ke halaman belakang dengan 2 buah jus alpukat di tangan. Gue taruh minuman ini di sebelah meja kursi lalu kemudian duduk bersebelahan dengan Ikhsan.

Gue menarik nafas panjang. Tampaknya masalah Wulan terus saja menghantui gue kemanapun gue pergi hari ini. Gue termenung menatap rerumputan, sedangkan Ikhsan malah asik nyedot jus alpukat geratisnya.

Mungkin karena penasaran melihat gue yang terus-terusan menghela nafas, Ikhsan akhirnya menyenggol lengan gue. Gue yang saat itu sedang melamun menjadi sedikit terkejut.

“Apaan sih?”

“Kenape lo? Tumben jadi pendiam kayak gini. Lagi ada masalah sama kak Hana ye? Wulan? atau ada yang lain lagi?” Tanyanya heran.

Mendengar pertanyaan Ikhsan yang to the point seperti itu, gue jadi terkejut. Kenapa pertanyaan nih anak bisa sesuai dengan masalah yang sedang gue pikirkan sekarang ini? Ah tapi orang dengan IQ rendahan kaya Ikhsan pasti cuma nebak-nebak sih. Tapi kok tebakannya hampir tepat begini. Gue terpaku sebentar, kemudian sadar dan menjawab pertanyaanya.

“Gak tau bro.. berat nih huhu..”

“Kenapa? Penasaran nih. Cerita kek sama gue” Ucapnya lagi sambil terus menyedot Jus Alpukatnya.

Gue diam sebentar. Gue itu bukan tipe orang yang bisa begitu saja bercerita tentang masalah gue. Gue lebih suka memendam semuanya sendirian. Apalagi sama orang baru, buat apa juga gue cerita. Tapi ntah kenapa di dekat Ikhsan, gue merasa agak nyaman untuk bercerita. Berbeda dengan Mirza. Namun karena memang pada dasarnya gue belum terlalu kenal, akhirnya gue mengurungkan niat gue tersebut.

“Masalah cewek sih. Tapi males cerita ah gue.” Gue kembali menatap rerumputan.

“Oh yaudah sih. Btw ada cemilan kaga? Belon makan siang nih gue Dim. Laper.” Balasnya enteng.

Ini nih sifat yang gue suka dari Ikhsan, orangnya tidak suka memaksa. Kalau memang itu bukan urusan dia dan orang yang bersangkutan menolak untuk berbagi, dia tak ambil pusing untuk penasaran. Dia malah mengajak orang itu untuk membicarakan hal yang lain.

“Ada noh di kulkas. Cari aja” Jawab gue.

Mendengar jawaban gue, Ikhsan pun bergegas pergi menuju kulkas yang ada di dapur. Ia membukanya lalu kemudian sedikit terkejut.

“BONO-BONO!! GUE NEMU HARTA HARUN!! PUCUK DICINTA ULAM PUN TIBA!! Dim! gue harus ambil yang mana nih? Banyak pilihannya kaya di supermarket.” Ikhsan berteriak kegirangan dari arah dapur.

Gue yang pada dasarnya emang lagi males nanggapin setiap pertanyaanya, akhirnya menjawab enteng, “yang mana aja, anggap aja kulkas sendiri.”

.

Dan ya. Itu adalah kesalahan besar yang paling gue sesalkan saat itu. Statement bercandaan yang gue keluarkan siang itu tampak menjadi statement yang paling gue sesali selama masa hidup gue dari jaman SMA sampe sekarang. Tanpa gue sadari, ucapan gue tadi menjadi awal dari terbukanya masa-masa diktatorisasi Ikhsan atas kulkas tercinta gue.

Mungkin kalau gue punya mesin waktu, gue bakal datang ke masa itu lagi dan ngejejelin mulut gue sendiri pake kanebo bekas ngelap mobil yang tergeletak di sebelah kursi bambu.

.

                                                              ===

.

Ikhsan kembali ke halaman belakang sambil membawa setoples penuh biskuit sereal milo yang bulat-bulat. Cemilan ini memang selalu menjadi favorite kita berdua. Di tangan kanannya ada setoples sereal milo, di tangan kirinya ada susu milo coklat. Kulkas gue benar-benar langsung dianggap seperti kulkas dia sendiri.

“Rumah lo enak ye. Mana di sebelah rumah ada warnet pula. Bener-bener anak yang beruntung ya lo.” Tukasnya sambil konsentrasi ngunyah sereal milo.

“Yaelah itu kan dari sudut pandang lo doang. Ke atas yuk nyet, bosen.”

“Ke atas?”

“Iya, ada tempat nongkrong lagi di lantai dua. Yuk.” Gue pun pergi ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju lantai dua.

Ketika gue buka gerbang dari kaca yang menghubungkan antara beranda luar dan lantai dua, Ikhsan terkejut. Tak henti-hentinya ia berjalan berkililing di beranda atap rumah gue yang nggak begitu besar.

Lantainya terbuat dari kayu, dan bagian tengah ditutupi oleh karpet bulu. Ada sofa satu di sana, dan meja di depannya. Di setiap pojok beranda ini nyokap selalu menaruh beberapa tanaman penghias. Lumayan kesannya jadi sedikit hijau.

Ikhsan yang sedari tadi berjalan mengitari beranda gue meneliti setiap detail yang ada di sana mendadak terhenti di atas karpet bulu gue. Dia terdiam menunduk.

“Nape lo nyet? Baru pertama liat karpet ya?” Tanya gue.

Ikhsan menoleh ke arah gue. “Gilaaaa brooooo… enak banget di kaki yak..” Ucapnya sambil terus menggoyang-goyangkan telapak kakinya.

“Hahahaha yoi, gue juga suka banget sama nih karpet. Sini duduk lah temenin gue nongkrong-nongkrong”

“Anjir gini caranya sih gue bisa tiap hari ke sini”

“Hahaha anggap aja rumah sendiri deh.”

“Kapan-kapan ajak anak-anak maen ke sini lah. Asik nih kayaknya kalau nongkrong sampe malem.” Ucapnya.

“Wuih jangan salah bro, kalau malem dan nggak hujan, ini tempat cocok banget buat ngegalau bareng-bareng.”

“Mantap deh, btw gitar di pojok punya siapa?”

“Punya bokap sih. Dulu itu dipake jadi Emas Kawin waktu doi ngelamar nyokap.”

“Anjir gahol beudh. Rhoma Irama banget bokap lo. Gue pinjem yak?”

“Ambil gih.. Gue mau tiduran dulu. Capek”

“Oke oke sip”

.

Ikhsan kemudian pergi mengambil gitar Yamaha kepunyaan bokap yang mejeng di samping tembok, kemudian memainkannya sambil terduduk di karpet.

Gue yang sedang terlelap di atas sofa mendadak sedikit terkesima ketika nada gitar yang ia mainkan benar-benar nyaman untuk di dengarkan. Gila nih anak, padahal tampangnya kaga nunjukin bisa main alat musik sama sekali. Ntah lagu apa yang sedang ia mainkan siang itu, namun yang jelas itu adalah lagu paling bagus yang pernah gue dengar dari petikan gitar seseorang yang ada di sebelah gue itu.

Dan sekarang waktu gue tanya itu lagu apa, dia sendiri sudah lupa sama apa yang dia mainkan waktu pertama kali berkunjung ke rumah gue. Ikhsan yang tengah serius dengan gitarnya, cemilan sereal milo, 2 gelas alpukat di atas meja, beranda dengan angin Bandung yang benar-benar segar, semua hal itu membuat segala kerisauan gue semakin bergejolak.

Gue menarik nafas panjang sekali lagi.

“San..”

Mendadak gue memutuskan untuk membicarakan sebuah hal yang ternyata tanpa gue sangka-sangka ini menjadi awal dari keakraban gue dengan Ikhsan.

“Hmm?” Jawabnya sambil terus terpaku sama permainan gitarnya tanpa menoleh sedikitpun ke gue.

“Pantes nggak sih junior pacaran sama senior?” Tanya gue lagi

Ikhsan menoleh sebentar. “Hmm.. pantes aja kok. Bapak gue aja lebih tua 6 taun dari emak gue. Waktu bapak gue SD kelas 1, emak gue baru brojol lahir. Bener-bener phedopil dah.”

“Serius ih nyet!”

“Iya serius gue! Emang kenapa?”

“Lha terus itu bapak lo naksir bayi dong kalau gitu namanya?”

“Eh setan kaga usah dibahas lah. Itu jawab pertanyaan gue kenapa lo nanya hal begituan.”

“Gue jadi penasaran, gue sama kak Hana cocok gak?” Tanya gue memberanikan diri.

Mendengar ini, mendadak permainan gitar Ikhsan terhenti. Ia melihat ke arah gue sebentar. Memandang dari kaki sampai ujung kepala.

“Nggak cocok” Jawabnya sambil melanjutkan permainan gitarnya lagi.

“Lha, atas dasar apa gue nggak cocok?!”

“Udahlah Dim, jangan ngerusak keturunan keluarga bagus. Kasian kalau lo kawin sama dia. Anak lo nggak jauh ujung-ujungnya malah mirip sama centong opor.”

“Alah ngomong lo sok tinggi. Muka kaya standar motor bebek aja belagu.”

“Tapi dim..” Ikhsan mendadak berhenti memainkan gitar dan menaruhnya di lantai. “Jangan pernah ngasih harapan sama cewek yang nggak mau lo seriusin.” Tambahnya lagi.

“Maksudnya? Emang gue ngasih harapan apaan?”

“Ya gue ngeliatnya sih gitu. Ngebuat cewek jatuh cinta itu gampang Dim. Lo bisa ngebuat dia nyaman cerita aja ujung-ujungnya dia juga jatuh cinta sama lo.”

“Buset ngomong lo keren banget, makanan sehari-harinya rumput aja so-so pake bahasa keren.”

“Yeeee serius gue. Btw awal kenal sama kak Hana gimana ceritanya emang?” Jawabnya mendekat dan duduk di samping gue.

“Panjang ah kalau diceritain.” Sifat tertutup gue kembali muncul.

“Kebetulan cemilannya masih banyak kok. Gimana?”

“Males ah…”

“Tapi kalau gue nggak salah denger dari senior, bukanya kak Hana tuh udah punya pacar ya?”

DEG!!
Ada perasaan terkejut mendengar apa yang Ikhsan ucapkan.

“Lo mau deketin cewek yang udah punya pacar?” Tanya Ikhsan lagi.

“…”

“Lo punya modal apa emang sampe berani begitu?”

“…”

“Pacarnya anak kuliahan loh. Kalau ketawan lo bisa dikebiri terus nggak bisa pipis lurus lagi kaya sekarang.”

“…”

Ikhsan mengambil toples sereal milo di depannya. “Udahlah lepasin aja kak Hana mah. Mending sama Wulan aja, Dim.”

DEG!!
Gue kembali terkejut mendengar apa yang Ikhsan bicarakan. Dia tidak tau apa yang sudah terjadi hari ini di antara 2 orang itu. Kak Hana yang mencium bibir gue. dan Wulan yang mendadak tak mengenali gue lagi.

Gue terdiam tak menjawab. Sesekali gue menarik nafas karena terlalu banyak beban yang pengen gue ceritakan sekali-sekali. Kadang gue bosan mendengar. Kadang gue pengen dimengerti sekali. Kadang gue ingin ada seseorang yang hadir hanya untuk mendengar dan bukan menghakimi dari sudut pandang yang mereka terka.

“Semua berawal dari waktu gue ngeliat ada cewek duduk di kursi bambu di warnet sebelah rumah gue itu..”

Akhirnya siang itu gue menceritakan semua kepada Ikhsan. Pertama kalinya dalam hidup gue bercerita kepada seseorang yang baru gue kenal. Tentang kak Hana, tentang kejadian di Warnet, tentang perihal dada, tentang insiden di kelas sehabis tanding basket, dan juga gue memutuskan untuk menceritakan tentang semua seluk beluk kejadian yang terjadi di ruangan UKS.

Gue banyak menemukan raut terkejut pada rona muka Ikhsan. Gue sendiri kayaknya kalau diceritakan kejadian kemarin lagi akan benar-benar terkejut juga. “Kok Bisa?” Mungkin itu pertanyaan yang ingin Ikhsan tanyakan setiap gue bercerita tentang kak Hana.

Berkali-kali Ikhsan memberhentikan cerita gue hanya untuk bertanya “Serius itu nyet?!” “Ah yang bener?” “Cerita ini nyata kan?!”. Dan gue pun menjelaskan semua dengan benar-benar detail. Hingga perlahan segala rasa kelam yang tengah mengisi hati ini dengan warna hitam pelan-pelan luruh dan kembali tentram.

Apalagi ketika kejadian di UKS. Mendengar penjelasan gue, Ikhsan terpaku dalam duduknya. Gelas jus Alpukat hanya ia pegang tanpa ia minum lagi. Ikhsan tak menyangka teman sebangkunya mempunyai cerita seperti ini di belakangnya.

Hari itu gue nggak menceritakan tentang Wulan. Biarkan masalah Wulan ini gue selesaikan sendiri dulu. Gue nggak pengen ada kesalah-pahaman. Gue nggak mau dengan bercerita tentang Wulan, maka Ikhsan menganggap Wulan jahat. Saat ini Ikhsan hanya sebatas boleh tau tentang kak Hana.

Gue menarik nafas panjang dan mengehembuskannya tepat ketika semua cerita ini berakhir. Wajah Ikhsan masih sedikit ada rasa tak percaya. Dia terdiam sebentar, berpikir matang-matang, lalu menyenggol lengan gue.

.

“Baru aja masuk SMA, lo udah bikin banyak drama, Dim” Ucapnya.

“Gue juga nggak tau, san. Gue yang jadi korban di sini. pffft”

“Elo nggak jadi korban sih kalau kata gue. Elo malah tersangka utamanya.”

“Lha? Kok bisa?” Perasaan sinis gue mulai muncul lagi. Gue nggak terlalu suka bercerita tentang masalah gue sama orang-orang, karena jarang dari mereka yang mau mengerti dari sudut pandang gue. Mereka kebanyakan menjudge menurut sudut pandang mereka sendiri.

“Sekarang coba lo bayangin, kalau lo ada dalam posisi kak Hana sekarang, apa lo tetap merasa bahwa Dimas adalah seorang korban?”

Mendengar pernyataan Ikhsan itu, gue terkejut. Ini nggak seperti yang gue pikirkan sebelumnya!

“Gini deh, lo mungkin merasa diri lo korban sekarang. Tapi itu dari sudut pandang diri lo sendiri. Lo cowok kan?” Tanya Ikhsan lagi.

“Iya gue cowok, kenapa emang? nggak perlu gue buktiin kan?” Gue nurunin resleting celana.

“Anjir tutup-tutup. Gue lagi berwibawa nih, lagi wise. Please jangan ngerusak ke-wise-an gue.”

“Ya terus?”

“Kalau seorang wanita jatuh cinta karena kebaikan pria. Apa itu wajar?”

“Ngg.. Wajar sih.”

“Nah sekarang, apakah wajar seorang wanita jatuh cinta ketika air mata yang tercipta gara-gara pacarnya diseka oleh orang yang selalu ada?”

“…”

“Apakah wajar jika seorang wanita tak bisa menahan perasaan mereka sendiri?”

“…”

“Lo sendiri yang cerita sama gue. Kak Hana mengatakan bahwa lo datang di saat yang tepat. Ah Dim, cewek mana sih yang bisa menahan pintu hatinya ketika ada seseorang yang dengan begitu baik selalu memperlakukan dia dengan baik?

Sehebat apapun ia tak ingin ada pihak ketiga hadir, Wanita tak bisa disalahkan ketika ada pria lain yang datang meyeka air matanya. Yang korban itu bukan lo. Elo malah yang jadi tersangka utamanya.”

“Eh bentar, gue kan cuma mau bantu. Cowok mana yang tega melihat seorang cewek nangis begitu aja di depannya.”

“Apalagi cewek cakep ya Dim”

“Nah iya karena itu juga sih..” Dengan sigap gue langsung setuju sama perkataan anak monyet yang satu itu.

“Ah elo nggak peka sih. Ati-ati loh Dim, niat baik yang lo lakukan itu bisa jadi bumerang buat diri lo sendiri. Juga buat orang-orang yang lo bantu itu.”

“Maksudnya?”

“Kadang wanita menganggap kebaikan seorang pria adalah tanda bahwa pria tersebut sedang mendekatinya. Itu wajar. Maka tak jarang ada pria baik-baik namun selalu dibilang brengsek oleh banyak wanita. Karena ia baik pada mereka, dan mereka menganggap ia sedang PDKT.

Lantas ketika cowok itu pergi, si cewek merasa kecewa. Ia merasa dibohongi. Padahal kan emang pada dasarnya aja si cewek yang ke-GR-an. Tul gak?”

“Betul sih.. Terus terus?”

“Jus Alupket lo mau diminum kaga?”

“Kaga ah, jadi kaga nafsu lagi.”

“Buat gue yak. Haus”

“Ambil gih.”

Ikhsan menyeruput jus Alupket gue. Dia meneguknya semua isinya dalam 2x tegukkan.

“Nah gue lanjut. Sekarang anggap aja kak Hana lagi ke-GR-an gara-gara sifat lo yang baik seperti ini. Terus dia pada akhirnya menaruh harap sama lo, karena pacarnya nggak bisa ngasih apa yang ternyata lo bisa kasih.”

“Lha gue dimanfaatin doang dong jadinya?!”

“Terus lo mau nyalahin siapa? Kak Hana?”

“Ngg..”

“Mau nyalahin siapa? Siapa yang salah? Lo mungkin bisa milih lo mau suka sama siapa. Tapi lo nggak bisa menentukan lo bakal jatuh cinta sama siapa!”

JLEB!!
Kata-kata Ikhsan membuat gue nggak bisa membalas lagi segala ucapannya.

“Lo harus milih. Pergi, atau perjuangin dia. Walaupun gue tau lo nggak akan milih pilihan kedua.”

“Nggak ada pilihan lain apa? 50:50 gitu, atau phone a friend deh.”

“Lo sangka lagi kuis?!”

Ikhsan beranjak dari kursi dan mengambil gitar yang tengah tergeletak di atas karpet bulu. “Lo pikirin dulu deh.” ucapnya seraya kembali memainkan melody gitarnya.

.

                                                              ====

.

Matahari kini kian terbenam, hari jumat hampir berakhir. Senja sekarang hampir menyelimuti seluruh Bandung. Sedangkan gue di sini masih saja berkutat dengan pikiran yang itu-itu saja. Sore di beranda ini begitu nyaman dan agak berbeda ketimbang sore-sore sebelumnya. Sore hari ini galau gue lebih elegan, ada suara musik yang dari tadi dimainkan oleh teman baru gue.

Ikhsan tampak tidak jenuh sama sekali. Ini adalah toples ke 2 yang telah dia bawa dari dalem kulkas. Benar-benar teman yang nggak belajar budi pekerti sama sekali!

Apakah gue salah telah berlaku seperti ini? Apakah kak Hana keberatan dengan sikap gue yang seperti ini? Namun pemikiran rasa tidak tega gue terhadap kak Hana perlahan tertepis ketika sekelebat nama Wulan muncul dalam pikiran. Pening yang gue rasakan kini kembali lagi.

Gue mencoba rebah di atas sofa, sebelum pada akhirnya sedikit teralihkan pandangannya oleh Ikhsan yang lagi senyum-senyum sendiri menatap layar HP-nya.

“Kenape lo nyet, girang amat kayaknya. Bagi-bagi kek.” Gue mencoba mendekatinya.

“Dih apaan sih lo, privacy please.”

“Alah sms-an sama siapa sih? Nyokap?”

“Ah tai, lo kira gue nggak bisa punya pacar apa?”

“Loh elo punya pacar toh? Serius?”

“Nggak usah so-soan terkejut gitu juga kali.”

“Dih nggak bilang lo, gue kira jomblo. Anak mana anak mana?”

“Temen SMP gue dulu, gue udah jalan setaun ama dia. Sekarang kita beda sekolah.”

“Hooo, LDR dong ya?”

“Ya bisa dibilang begitu sih.”

“Tapi nyet, kepikiran gak sih kalau semisal pacar lo ini jadi kak Hana, dan ternyata di luar sana ada Dimas yang lain” Gue menakut-nakuti.

“Ah tai lo. Jangan dooong.”

“Eh serius. Lo pikir kalau di kelas gitu apa dia nggak ada yang deketin pas ospek? Atau jangan-jangan dia itu Wulan dan ternyata di kelas ospeknya ada Dimas yang lain.”

“Anjir nyet ah seriusan. Jangan bikin gue galau”

Asik taktik gue berhasil. Lumayan ada hiburan. Gue buat galau aja deh sekalian, biar gantian.

“Sekarang coba lo tanya deh. Lo sms dia, tanyain gimana ospeknya hari ini? Kalau dia jawab ‘biasa aja’ berarti emang lagi ada yang ngedeketin dia tuh San.” Rayu gue.

“Ah masa sih. Bentar gue sms deh.” Dengan polosnya Ikhsan mengetikkan kata-kata seperti apa yang gue ucapkan tadi.

Selang 1 menit, ada sms masuk dari pacar Ikhsan.

“Ospeknya biasa aja sih..”

Bhahahahahahahahak riset ngasal gue ternyata bener. Tuhan emang lagi berbaik hati sama gue, akhirnya gue ada temen galau.

“Tuh kan nyet, nah loh gimana kalau kaya gini!” Gue semakin bersemangat.

“Ih anjing gimana dong ini?! Ah gue nggak percaya ah Dim. Siapa tau ospeknya emang biasa aja.”

“Sebagai pacar yang baik, dia harusnya cerita dong ada kejadian apa gitu hari ini walaupun hari ini biasa aja”

“Iya juga sih”

ASIK UMPAN GUE KEMAKAN LAGI SAMA SI MONYET.

“Sekarang lo coba sms dia lagi, lo bilang mau jemput besok di hari terakhir ospeknya. Kalau dia nolak berarti dia mau kencan sama orang lain!”

“Ah yang bener? Bentar gue sms lagi deh..” Ikhsan kembali mengetikkan sms itu kepada pacarnya.

Selang 1 menit, ada sms lain masuk.

“Nggak usah ya sayang. Aku bisa pulang sendiri kok, kamu kan baru beres ospek, istirahat aja ya yang banyak.”

BHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAK..
Senangnya hatiku turun panas demamku~ Gue bernyanyi riang dalam hati.

“ANJING DIM INI GIMANA?!” Ikhsan mulai terlihat kalut. Ada raut takut, sedih, dan bingung dalam satu wajah ancurnya itu.

“Sabar bro sabar… Seperti kata lo tadi, kita nggak bisa nyalahin wanita kalau ada pihak ketiga yang tiba-tiba hadir. Nah jadi, sekarang yang salah siapa kalau kata lo?”

“ANJIR ITU KAN KATA-KATA GUE SETAN!!”

“Bhahahahak… Coba sms lagi, besok acara dia ke mana, gue rasa doi pasti pergi keluar sama temen-temen ospeknya deh. Terus nanti dia melakukan kayak apa yang Wulan lakukan sama gue waktu jalan sama temen-temen ospek kemarin loh san. Sama 'Dimas’ barunya itu.” Jawab gue sok pasang tampang serius sambil ngemil sereal milo.

Mendengar penjelasan itu, dengan cepat Ikhsan melakukan apa yang gue suruh. Ia menunggu sms balasan dengan wajah yang benar-benar pucat.

Ting-tong!

Satu sms masuk. Dengan sigap Ikhsan langsung membacanya.

“Temen-temen ospek aku besok mau ngajak keluar. Soalnya besok kan penutupan ospek juga..”

Membaca hal ini, Ikhsan loncat dan melepas HPnya hingga terjatuh ke karpet. Ia teriak-teriak, jerit-jerit, dan terus menggenggam tangan gue.

“DIMAAAAAS GUE HARUS APAAAAA???” Mata Ikhsan berkaca-kaca.

“Hmmm bro.. Lo harus pilih, Pergi, atau perjuangin dia.” Ucap gue

Gue beranjak dari kursi dan mengambil gitar yang tengah tergeletak di atas karpet bulu. “Lo pikirin dulu deh.” ucap gue seraya kembali memainkan melody gitarnya persis seperti apa yang Ikhsan lakukan tadi.

“ANJING!!! TAI KUDA!!!” Jawab Ikhsan yang dengan terburu-buru langsung turun ke bawah dan menyalakan motornya.

“Lo mau kemana nyet?” Gue bertanya dari lantai dua.

“MAU KERUMAH DIA!!! PUAS LO?!” Jawabnya sambil memacu motor bututnya pergi meninggalkan rumah gue.

Bhahahahahaahak..
Gue cuma ketawa-ketawa sendiri di dalam hati. Gue habiskan sisa makanan yang masih ada di meja dan duduk-duduk sebentar di beranda. Padahal wajar aja sih cewek jawab 'biasa aja’ ketika ditanya tentang hari yang telah dia laluin. Toh hubungannya udah berjalan setahun, pasti udah agak renggang, dan juga sekarang hari jumat, pasti ospek doi juga setengah hari dan nggak begitu rame. Maka wajar aja sih jika dia berkata ospek hari ini biasa aja.

Terus kalau misal temen-temen ospeknya ngajak jalan sehabis bubaran ospek juga wajar sih. Semua orang juga melakukan hal itu. Emang pada dasarnya bego aja si Ikhsan.

Hari ini cukup panjang, kepala gue pening, mulut gue tak henti-hentinya tertawa. Karena lelah, gue putuskan untuk tidur cepat menutup hari Jumat pertama gue sebagai anak SMA.

.

                                                         ===

.

Sabtu.
05.45

Pagi-pagi buta.
Ayam jago aja masih pada sahur.

Lagi enak-enaknya tidur, mendadak pintu gerbang gue digedor-gedor orang. Sontak gue terkejut, gue langsung bangun, cuci muka sebentar dan pergi melihat ke arah halaman depan.

Gue melihat ada sosok motor merah terparkir di luar gerbang. Dan ada sosok yang gue kenal lagi mencetin bel terus-menerus dan sesekali menggedor gerbang rumah dengan membabi buta.

“Oi oi oi!! Bisa rusak pintu gerbang gue kalau lo gedor kaya gitu. Ada apaan sih pagi-pagi buta udah ke sini lagi?” Tanya gue sambil buru-buru membuka gerbang.

Ikhsan terlihat tak menjawab. Ia menatap gue dengan tatapan berkaca-kaca. Setelah pintu gerbangnya gue buka, Ikhsan langsung masuk ke dalam dan menggenggam tangan gue.

Ia menggenggamnya erat.

“DIMAAAAASSS!!! GUE PUTUUSSSS!!! :(( ”

.

.

.

.

                                                     Bersambung

nengdewikecil

Wuih jangan tanya. Sesuai rumus sahur syariah ala-ala mbeeer, beginilah fase sahur yang sering terjadi dikalangan umat manusia.

Minggu pertama, Rendang, ayam, ikan, otak, semur, gulai kakap, dan segala makanan laut beserta nelayan-nelayannya.

Minggu kedua, ayam goreng, nasi goreng, dan abon sapi.

Minggu ketiga, Rendang, Gulai, Kari, Soto, tapi dalam bentuk indomie.

Minggu keempat, Energen sereal, kalau beruntung mungkin sahurnya bablas.

Begitulah..