!journey

After light washes color from the day,
time crystallizes its memory in sepia tones;
years of wrinkled reflection left in the wake
for a journey to placid unknowns.
All of life is this subtle becoming,
a solitary wanderer searching
for deeper meaning held within
the folds of lofty mountains in dappled skies.


Landscaped mind // Rhapsodyinblue45


Image:: W. Forbes Boyd- Loch Duich

I am on the look-out for jobs after graduation for data science or science writing.

My advisor urged me that skill in writing for the sciences is NOT trivial. And proceeded to compliment me (with the warning for it not to get to my head haha) that my proposals were clearly on a different level than any of the other research students he’s had.

I’ve always liked the idea of being an editor for a journal or something. Not so much being a science journalist. But it’s something I could do to pay the bills, I guess. Since I suspect I can’t be too choosy on my first job post-grad. And I don’t expect to be making an ideal salary my first job.

On a related post-grad note, ideas about the remainder of my education have been swirling around my head. I’ve read some articles about how getting a master’s is not always worth it for data scientists. But if it is, should I even pursue a data science program directly? Or computer science?

I’m still a bit on the fence between data scientist and software engineer. I’m leaning toward data scientist but honestly, I’m not sure. I have time.

Another thing I’ve read or heard on podcasts in that a bunch of people have utilized free online courses to get into data science within 6 months. So that’s also an idea. Free is good.

I haven’t talked to my dad about it yet. As far as he’s concerned, I’m still gonna be a physicist. But maybe he’ll like the idea that I’ll start to make money sooner and not accrue more student loan debt? Obvious considerations for an accountant dad.

Hello Tuesday. What a great day. 

Nulis ini sambil minum kopi nikmatin cuaca Bandung yang lagi mendung manja. Alhamdulillaah…

Salah satu yang suka dari diri saya sendiri adalah saya gak punya obsesi berlebihan terhadap sesuatu. Ya mungkin orang lihatnya saya itu useless… Seonggok manusia yang gak ngelakuin apa-apa. Kuliah mandek, kerja gak jelas, status di bawah garis kemiskinan, belum nikah lagi. Duhhh… Mau jadi apa kamu, Ni? hehe…

Setiap orang punya hidupnya masing-masing. Selama saya gak ganggu orang, saya gak pusingin pendapat orang tentang saya. Tapi memang syaratnya jangan bandingin saya dengan si A, B, C. Abang saya, satu-satunya saudara  kandung yang ngertiin saya banget (semuanya ngertiin kok, tapi gak pakek banget) bilang gini : “kalau ini udah kejadian sama orang lain, mungkin udah pulang dia ke rumah. ga tahan. Tapi kamu, hebat!”

Abang saya bukan orang yang mudah memberi pujian apalagi ke saya. Tapi saya bisa rasain dia itu sayaaaaaaaangggg banget sama saya. Moga Allaah menjaga keluarganya. Dan kalimat dia itu, udah cukup buat saya bertahan. Walau sering babak belur sama hidup. halah.

Sedikit banget orang yang tahu keadaan saya sekarang. Selain Ibu, Bapak, Abang, yang tahu cuma ada beberapa makhluk Allaah yang diuji oleh keadaan saya. wkw 

Ada yang tahu, lalu menjudge ini semua karena dosa-dosa saya. Saya gak menyangkal, toh emang saya masih banyak dosa. Banyak banget. Tapi, kalau ini hanya semata karena itu menurut pandangan mereka, itu salah. Saya gak bermaksud menjajarkan diri dengan Sahabat Rasulullaah atau bahkan Rasulullaah sendiri. Tapi bagaimana mereka menjalani hidupnya? Dan apa yang Allaah beri di dunia? Cobaan yang mereka terima jauh lebih susah dari saya. Tapi apakah mereka punya dosa lebih banyak dari saya?

Ridho Allah bukan terletak di bagian mudah atau sulitnya kita menjalani kehidupan. Namun ridho Nya ada di bagian walau hidup ini mudah dan susah kita masih berada di jalanNya. Menjalankan perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangNya.

Contoh yang paling gampang, ya masalah jodoh. Kalau sampai sekarang kita belum menikah, itu bukan semata karena kita banyak dosa, bukan semata kita belum siap. Tapi, ketika kita belum dipersatukan dengan seseorang itu, bagaimana cara kita menjalani kesendirian kita? Jangan-jangan kesendirian kita lebih Allaah ridhoi daripada kita bersama seseorang. Allaah mau kita berhusnudzon padaNya dalam keadaan apapun, dan ini ujian kecintaan kita pada Nya. Ujian keimanan kita pada takdirNya. Rukun iman yang kita hafal saat SD. Jangan-jangan takdir jodoh kita diumur 40an, namun karena rahmatNYa Allaah ngasih kita jodoh di umur 20-30an. Jadi, tolonglah jangan rusak ridho Allaah itu dengan berpacaran atau sejenisnya. Sudahlah ridhoNya tercabut, kita malah gemar menimbun dosa. Nah…

Selama saya masih berusaha di koridornya Allaah. Saya masih bisa bertahan dan berusaha menerima keadaan saya. Menikmati ibadah-ibadah yang mungkin gakkan saya lakuin kalau saya dikasih kemudahan. Padahal kemudahan beribadah adalah kenikmatan yang gakkan bisa digantikan dengan apapun.

Salah satu dari banyak nikmat yang lagi dikasih Allaah ke saya adalah kelapangan waktu. Kelapangan waktu untuk memperbaiki ibadah saya yang berantakan, perbaiki iman yang timpang, perbaiki akhlak yang masih buruk. So, nikmat mana lagi yang mau saya dustakan?

Saya gak bohong lah kalau saya sering nangis di pojokan. Tapi sampai di situ saja, kok. Tahu diri tak ingin mengeluh lebih dari itu. Allaah sudah sangat baik sama saya. 

Semoga Allaah ridho dengan apa yang kita lakukan. Agar kita pun ridho dengan apa yang Allah berikan… :)

Bandung. 2017