!editane

Jika kamu ingin hijrah menjadi muslimah berhijab syar'i, maka carilah guru/pembimbing yang punya akhlak yang baik dan ilmu yang benar. Karena kalau hanya mengandalkan akhlak yang baik, namun ilmunya tidak benar, maka akan banyak yang melenceng yang kamu temukan dalam proses hijrahmu. Salah satunya selfie beralasan dakwah…
— 

Ammah Farihana

“Muka itu dirawat, dek. Bukan diedit. Nangis abang ketika nadzhor kamu.”
- mas ilham disuatu diskusi keluargaperihal fenomena selfie akhwat di sosial media.

“Buat kalian nih ya yang mau proses, please jangan pernah deh pasang pp kalian dengan foto selfie kalian. Apalagi sampai di edit dengan aplikasi. Sumpah ini nyesek banget loh. Di foto kalian terlihat imut, cantik, anggun tapi hasil editan. Pas ketemu rupanya tidak sesuai dengan realita. Ya Allah, penipuan ini namanya.”

“detail banget liat wajah akhwat haha” celetukku

Sejurus kemudian sebuah bolpoin mendarat mengenai catatanku.

“Hee nis, wajarlah. Namanya juga lagi proses. Ya musti detail melihat seperti apa calon pasangan kita natinya. Kaupun juga harus begitu, cek sosial medianya, cek muamalah dia, cek komen-komen dia. Bla bla bla bla”

“Terus, setelah nadzhor ternyata wajah gak sesuai seperti fotonya gimana mas?” lanjutku

“Ya batal nis, gak lanjut. Di biodataku tertera kok kalau aku ingin istri yang cantik. Cantik disini foto sama kenyataannya sama. Yang fotonya gak bertebaran di media sosial. Saat tahu dia pasang foto selfie di akun sosial medianya, saat itu sudah ilfeel ((kok gini ya)). Tapi aku pikir, hal itu bisa ditarbiyah asal kita bisa sabar terhadapnya. Qadarullah, hasil akhirnya berkata lain.”

“Laki-laki selalu menang ya mas kalau masalah cantik gak cantik” sahut sepupuku yang lain.

“Fitrah, dek. Itu fitrahnya seorang laki-laki.”

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Dua hikmah dari dua nasihat ini. Dan saya paham sekarang..

Menurutmu wanita cantik itu yang seperti apa sih, dek?

Ia yang selalu menjaga dirinya, yang sangat takut seseorang memujinya cantik terutama laki-laki yang bukan mahramnya. (Adik laki-laki saya)

Perjalanan pulang || 15 Ramadhan 1438 || 11.16

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.

  • Temen : kenapa ya banyak Ustadz yang mengolok-olok agama lain di ceramahnya. Itu lebih menistakan agama menurutku. Mana yang katanya Islam toleransi, mana yang cinta damai? Ini buktinya. Agama aku dihina-hina. *Nunjukin video
  • Gue (dalam hati) : yaelah baru segitu doank! Agama kami, Kitabnya dibakar, diinjak, diludahi. Belum lagi cara sholatnya ditiru dan dipleseti sambil telanjang, belum lagi saudara kami dibantai. Gak usah deh jauh-jauh ke Palestina n Rohingya, di Poso juga pada dibantai tuh muslimnya, ada yang dibacok, dibakar dan diusir. Mirisnya gak ada satupun media yang meliput. Malah dibilang cuma konflik suku. Nah kalian baru dibilangin gitu aja udah kebakaran jenggot. Yaelah.
  • Gue (yang dikeluarin) : coba kamu dengerin dulu isi ceramah penuhnya. Itu cuma semenit doang. Dari judul ceramahnya aja beda sama yang diposting. Mungkin kalimat itu cuma selingan, bukan inti dari ceramahnya. Dan kalau masih gak terima sama isi ceramahnya, tanya kebenarannya sama tokoh agama kamu. Jangan mau terprovokasi sama video editan. Apalagi bawa-bawa menistakan agama. Dia ceramah di Masjid, bukan di tempat agama lain. Beliau menyampaikan apa yang beliau fahami.
  • Ini yang disebut pepatah "daun yang jatuh tak pernah membenci angin".
  • Pengen teriak, tapi gak bisa. Soalnya bawa nama agama. Harus banyak-banyak sabar dan santun. -____-"

indriww  asked:

Mau nanya kak, kalo ngrasa lagi penuh banget isi kepala pengen nulis, tapi setelah satu kata tetiba buntu, kudu gimana?

Berarti sempet nulis kan? Kalau aku, udah nulis agak panjang, terus tetiba buntu, save di draft wkwkwk gitu terus sampai draftku 50 files wkwk. Tapi kalau misalnya mau tetep di post tapi buntu gitu, ya…post aja. Penutupnya kata-kata jujur kayak “eh…apa ni…ya gitulah” hahaha duh, gak berujung ya? Wkwk

Mungkin jawabannya beda kalau misalnya kamu nanya ke penulis yang mengharuskan dia memang menghasilkan karya.
Kalau aku kan nulis karena emang pengen aja. Kalau misalnya udah nulis panjang terus ternyata ditengah buntu, berakhirlah dia di dratf yang nasibnya terombang ambing. Kadang dipost dengan sedikit editan dan setelah datang ide untuk melanjutkan cerita, atau ya gak kemana-mana. Buat dibaca sendiri nanti-nanti. Hehe MANGAT YA!!! KAMU HARUS SEMANGAT TERUS! Jangan kayak aku. WQWQ.

Cuando era pequeña era gorda pero ami nunca me intereso me daba igual estarlo o no en 3 grado de la escuela una compañeras me decían gorda fea jirafa… pero nunc lo tomé enserio. A mis 10 años pesaba 135 y media 1.68 las mismas compañeras de clase me decían gorda,cabello de trapeador,me decían que ellas eran mucho más lindas que yo presumian todo y me hacían sentir del asco. llega a primer año de la secundaria pensé que todo cambiaría per no fue así mis propias amigas sí es que se le puede llamar así me decían gorda,obesa, ballena cada momento que recordaba eso decía que algún día sería hermosa y me vengaria … el año pasado ya terminando la secundaria precisamente en mayo comense a ver paginas de ana y mía no sabía que era, me aventure en un mundo distinto comense con los ejercicios perdía peso pero no tanto hasta que deje de comer como lo hacia en ves de servirme 2 platos por comida me servía la mitad de uno pequeño fue difícil muy difícil, poco a poco deje de comer estuve días sin comer me daba frío mareos, en 5 meses rebaja 24 libras. pensé e n dejar a ana pero no pude actualmente la eh controlado pero no puedo del todo ahora es difícil seguir con esta enfermedad recuerdo cuando no me importaba subir de peso o cuantas calorías comía está es mi cadena algún día la rompere. Nunca dejes que nadie bajé tú autoestima o cambie tú forma de ser Nadie es perfecto ni las modelos que aparecen en revista recuerda a ellas la editan primero en las computadoras no sigas haciendo algo que te puede terminar dañando tú vida eres hermosa única, eres el cambio de este mundo no agas caso a las personas que quieren lastimarte ellos se alimentan de tú debilidad sonríe vive la vida al máximo es sólo una sí quieres cambiar aslo para conplacerte a ti, quiereteprimero a ti valorate cuando crees que ya no puedes más recuerda hay alguien que verdad te quiere.

Una colaboración para el día del autoestima.

Karena Aku Engga Cantik

“Semua perempuan itu cantik” kata-kata itu terdengar sebagai kalimat penghibur saja buatku. Aku terbuka saja. Menurutku, tidak semua perempuan diberi kelebihan berupa kecantikan pada fisiknya. Kalau ya, pasti tidak ada istilah cantik. Istilah cantik ada karena kita, manusia, membuat perbandingan antara yang diberi kelebihan pada fisiknya dan yang diberi kelebihan pada aspek lain. Ada yang kulitnya putih dan tidak. Ada yang hidungnya mancung ada yang tidak. Ada yang rambutnya hitam lebat ada yang tidak. Ada yang tubuhnya ramping ada yang tidak.


Dari perbandingan itu dibuatlah kesimpulan yang berpedoman pada stereotip rekaan media dan industri kecantikan yang diam-diam tertanam di alam unconscious (bawah sadar), bahwa yang cantik itu yang kulitnya putih, mancung, berambut hitam panjang lebat, dan bertubuh ramping. Singkatnya, istilah ‘cantik’ ada karena ada istilah ‘jelek’. Sama seperti, istilah 'gelap’ ada karena ada terang.


Tidak satu pun dari kriteria itu ada pada diriku. Aku tidak menganggap masalah. Aku tipe perempuan yang lebih suka nulis daripada ke salon. Well, walau setelah nikah di tahun 2013, aku jadi lebih sering ke salon juga. Buat merawat yang mesti dirawat. Untuk suami sih ceritanya.


Aku juga merasa punya konsep diri yang bagus. Orang tuaku mungkin tanpa aku sadari telah menanamkan akar kuat bernama rasa percaya diri dalam diriku.


Hal itu telah membuatku sadar diri sejak lama. Sadar bahwa aku bukan perempuan cantik menurut iklan shampoo, lotion, dan pelembab. Karenanya, supaya tahu diri, aku pun berusaha menyeimbangkan dengan mengasah kelebihanku dalam aspek lain. Aku belajar dengan giat supaya jadi perempuan pintar. Katanya kepintaran itu lebih 'hot’ dan 'seksi’ daripada kecantikan fisik. Aku juga berusaha untuk lebih taat beribadah. Katanya yang cantik akan tua, keriput, dan membosankan, sementara yang taat dan shalihah akan menenangkan selamanya.


Sebelum ada media sosial, kepercayaan diri dan konsep diri terbilang mudah dipertahankan. Namun, setelah ada media sosial, sesekali aku merasa minder dan tidak percaya diri. Pasalnya, di media sosial aku melihat banyak sekali foto selfie perempuan-perempuan bening yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman-temanku sendiri. Wallahu a'lam itu foto editan atau asli. Tapi tetep saja bagiku yang bertampang pas-pasan, itu terlihat 'wow’. Apalagi melihat komentar-komentarnya. “Cantik aneeet kaka” ; “Subhanallah.. Bidadari”.


Jika iman sedang lemah, pemandangan seperti itu sering membuat lupa bahwa Allah tidak memandang makhluk-Nya berdasarkan rupa, tetapi berdasarkan apa yang ada di dalam dada.


Apalagi sekarang alhamdulillah semakin banyak orang berhijab dan mereka jadi makin cantik! Dengan model hijab yang beraneka rupa dan riasan wajah yang 'sederhana’, para hijaber telah berhasil me-rebranding citra muslimah. Di luar rasa bersyukur melihat tren positif ini, ada saja bisikan-bisikan yang lahir dari rasa minder dan tidak percaya diri tadi.

Keep reading

Así es Caracas:
Hay cuatro canales de televisión, 67 salas de cine, diez autocines y 21 emisoras de radio, incluida una de frecuencia modulada y de programación estrictamente cultural. Hay cuatro editoriales venezolanas y seis filiales de grandes sellos extranjeros que editan un promedio de doscientos títulos al año. Hay diez diarios y 36 revistas. Hay 40 galerías de arte que los domingos se inflaman de público, con una ronda ya clásica de la que ningún caraqueño con ínfulas de culto se atrevería a sustraerse”.
— 

Tomás Eloy Martínez (década de los 80′s)

-Volverán esos tiempos en que mi amada ciudad natal es, sin duda alguna, referente de cultura y progreso en todo el mundo-

CARACAS!!

Bulek? (2)

Hujan lagi.

Aku dan dua temanku memutuskan makan di Rempah Asia Jakal.

Nah, ada tiga gadis duduk gak jauh dari tempat kami duduk. Awalnya satu menatap ke arah kami, disusul dua orang lainnya. Kemudian bisik-bisik. Aku lagi makan sama anak hits Muhi di masanya, kejadian kayak gitu udah beberapa kali terjadi.
“Temenmu Thi?”
“Bukan tuh.”
“Adik kelasmu kalik”
“Mbuh ya.”

Kemudian salah satu dari mereka menghampiri. “Mbak Sundarihana?”

Hening tiga detik.

“Ya?”

Ternyata mereka dari Hipwee dan emang pernah ngeDM aku, titip pesan ke Mbak No. Akhirnya si mbak tadi ngajak ngobrol sebentar.

Dan

Mereka

Ngajak foto bareng.

Gurlzz, itu hujan, muka lusuh, kerudung basah. Dah lah. Tapi mau gimana lagi.

Akhir kata aku sampaikan, “Mbak, semisal mau di post, jangan lupa full edit dan filter ya mbak.”

Kemudian mbaknya ngepost tanpa editan dan tanpa filteran.

Tapi aku tetap cantik.
Soalnya aku cewek………..

Cih, apasih Han.

4

You’ll never too old for stuffed toys. ❤

Yung half day akong gumawa ng advertisement para sa classified ads para sa sunday ng manila bulletin dahil maagang uuwi si boss, so maaga akong pumasok sa office mga 6:15 am palang nandun na ko, pero 8 am pa naman ang start ng office hours. After breakfast ng mga 7 am, nagsimula na kong magedit. Daming tumatawag kaya naistress talaga ko dahil 12pm ang deadline ko. Tapos uutusan ka pa lumabas para magpa encash. Tapos naglunch ako oatmeal lang, edi wow di ba. Breakfast feels. Haha. Buti na lang isang editan lang approved na agad. Haaaaays, after ng stressful day sa office, pumunta ko sa worlds of fun sa may SM para maglaro. Hahaha. Ciao!