!editane

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.

indriww  asked:

Mau nanya kak, kalo ngrasa lagi penuh banget isi kepala pengen nulis, tapi setelah satu kata tetiba buntu, kudu gimana?

Berarti sempet nulis kan? Kalau aku, udah nulis agak panjang, terus tetiba buntu, save di draft wkwkwk gitu terus sampai draftku 50 files wkwk. Tapi kalau misalnya mau tetep di post tapi buntu gitu, ya…post aja. Penutupnya kata-kata jujur kayak “eh…apa ni…ya gitulah” hahaha duh, gak berujung ya? Wkwk

Mungkin jawabannya beda kalau misalnya kamu nanya ke penulis yang mengharuskan dia memang menghasilkan karya.
Kalau aku kan nulis karena emang pengen aja. Kalau misalnya udah nulis panjang terus ternyata ditengah buntu, berakhirlah dia di dratf yang nasibnya terombang ambing. Kadang dipost dengan sedikit editan dan setelah datang ide untuk melanjutkan cerita, atau ya gak kemana-mana. Buat dibaca sendiri nanti-nanti. Hehe MANGAT YA!!! KAMU HARUS SEMANGAT TERUS! Jangan kayak aku. WQWQ.

Cuando era pequeña era gorda pero ami nunca me intereso me daba igual estarlo o no en 3 grado de la escuela una compañeras me decían gorda fea jirafa… pero nunc lo tomé enserio. A mis 10 años pesaba 135 y media 1.68 las mismas compañeras de clase me decían gorda,cabello de trapeador,me decían que ellas eran mucho más lindas que yo presumian todo y me hacían sentir del asco. llega a primer año de la secundaria pensé que todo cambiaría per no fue así mis propias amigas sí es que se le puede llamar así me decían gorda,obesa, ballena cada momento que recordaba eso decía que algún día sería hermosa y me vengaria … el año pasado ya terminando la secundaria precisamente en mayo comense a ver paginas de ana y mía no sabía que era, me aventure en un mundo distinto comense con los ejercicios perdía peso pero no tanto hasta que deje de comer como lo hacia en ves de servirme 2 platos por comida me servía la mitad de uno pequeño fue difícil muy difícil, poco a poco deje de comer estuve días sin comer me daba frío mareos, en 5 meses rebaja 24 libras. pensé e n dejar a ana pero no pude actualmente la eh controlado pero no puedo del todo ahora es difícil seguir con esta enfermedad recuerdo cuando no me importaba subir de peso o cuantas calorías comía está es mi cadena algún día la rompere. Nunca dejes que nadie bajé tú autoestima o cambie tú forma de ser Nadie es perfecto ni las modelos que aparecen en revista recuerda a ellas la editan primero en las computadoras no sigas haciendo algo que te puede terminar dañando tú vida eres hermosa única, eres el cambio de este mundo no agas caso a las personas que quieren lastimarte ellos se alimentan de tú debilidad sonríe vive la vida al máximo es sólo una sí quieres cambiar aslo para conplacerte a ti, quiereteprimero a ti valorate cuando crees que ya no puedes más recuerda hay alguien que verdad te quiere.

Una colaboración para el día del autoestima.

Karena Aku Engga Cantik

“Semua perempuan itu cantik” kata-kata itu terdengar sebagai kalimat penghibur saja buatku. Aku terbuka saja. Menurutku, tidak semua perempuan diberi kelebihan berupa kecantikan pada fisiknya. Kalau ya, pasti tidak ada istilah cantik. Istilah cantik ada karena kita, manusia, membuat perbandingan antara yang diberi kelebihan pada fisiknya dan yang diberi kelebihan pada aspek lain. Ada yang kulitnya putih dan tidak. Ada yang hidungnya mancung ada yang tidak. Ada yang rambutnya hitam lebat ada yang tidak. Ada yang tubuhnya ramping ada yang tidak.


Dari perbandingan itu dibuatlah kesimpulan yang berpedoman pada stereotip rekaan media dan industri kecantikan yang diam-diam tertanam di alam unconscious (bawah sadar), bahwa yang cantik itu yang kulitnya putih, mancung, berambut hitam panjang lebat, dan bertubuh ramping. Singkatnya, istilah ‘cantik’ ada karena ada istilah ‘jelek’. Sama seperti, istilah 'gelap’ ada karena ada terang.


Tidak satu pun dari kriteria itu ada pada diriku. Aku tidak menganggap masalah. Aku tipe perempuan yang lebih suka nulis daripada ke salon. Well, walau setelah nikah di tahun 2013, aku jadi lebih sering ke salon juga. Buat merawat yang mesti dirawat. Untuk suami sih ceritanya.


Aku juga merasa punya konsep diri yang bagus. Orang tuaku mungkin tanpa aku sadari telah menanamkan akar kuat bernama rasa percaya diri dalam diriku.


Hal itu telah membuatku sadar diri sejak lama. Sadar bahwa aku bukan perempuan cantik menurut iklan shampoo, lotion, dan pelembab. Karenanya, supaya tahu diri, aku pun berusaha menyeimbangkan dengan mengasah kelebihanku dalam aspek lain. Aku belajar dengan giat supaya jadi perempuan pintar. Katanya kepintaran itu lebih 'hot’ dan 'seksi’ daripada kecantikan fisik. Aku juga berusaha untuk lebih taat beribadah. Katanya yang cantik akan tua, keriput, dan membosankan, sementara yang taat dan shalihah akan menenangkan selamanya.


Sebelum ada media sosial, kepercayaan diri dan konsep diri terbilang mudah dipertahankan. Namun, setelah ada media sosial, sesekali aku merasa minder dan tidak percaya diri. Pasalnya, di media sosial aku melihat banyak sekali foto selfie perempuan-perempuan bening yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman-temanku sendiri. Wallahu a'lam itu foto editan atau asli. Tapi tetep saja bagiku yang bertampang pas-pasan, itu terlihat 'wow’. Apalagi melihat komentar-komentarnya. “Cantik aneeet kaka” ; “Subhanallah.. Bidadari”.


Jika iman sedang lemah, pemandangan seperti itu sering membuat lupa bahwa Allah tidak memandang makhluk-Nya berdasarkan rupa, tetapi berdasarkan apa yang ada di dalam dada.


Apalagi sekarang alhamdulillah semakin banyak orang berhijab dan mereka jadi makin cantik! Dengan model hijab yang beraneka rupa dan riasan wajah yang 'sederhana’, para hijaber telah berhasil me-rebranding citra muslimah. Di luar rasa bersyukur melihat tren positif ini, ada saja bisikan-bisikan yang lahir dari rasa minder dan tidak percaya diri tadi.

Keep reading

Review minidrama AADC versi Arham (Pasti ngakak :D)

Ditulis oleh: Arham Kendari yang banyak followersnya di facebook

Ciiie.. yang lagi dengerin lagu “Bimbang"nya Melly Goeslaw.

Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw, sama.. 

Indonesia akhirnya kena demam AADC juga, seperti yang udah gw prediksi. Film yang jadi awal kebangkitan film nasional ini memang luar biasa. Gak hanya industri film, sastra Indonesia juga jadi naik daun. Efeknya berimbas ke musik hingga desain. Bahkan seingat gw karya editan foto pertama kali saat gw belajar sotosop ya parodi poster AADC ini.

Well, dalam seminggu ke depan, gw pastikan timeline masih akan dipenuhi Cinta dan Rangga KW yang berseliweran. Celakanya, gw juga kena demamnya. Huuuft..
Yang biasanya hobi nongkrong hunting buku-buku baru di gramed, sekarang ada kecenderungan gw lebih tertarik dengan toko buku-buku bekas dan perpustakaan.
Kalo diajak ngomong bini, jawabannya jadi lebih ringkas biar feel Rangga-nya dapet.
Kalo lagi di dalam kloset trus ditanya sama bini, gw jawabnya sambil ngetok-ngetok aja, tapi kalo yang ini kesannya malah jadi kayak mistery guest di kuis Siapa Dia.

Sempat gw usul ke bini untuk mengganti sementara panggilan Mama-Papa dengan Rangga-Cinta, biar lebih romantis. Tapi bini nolak mentah-mentah. Alasannya selain norak juga gak bagus bagi perkembangan anak. Kalo anak gw sampe kehilangan nafsu makan mendengarnya kan gw juga yang repot.

Ada teman yang bilang pendalaman karakter gw lumayan berhasil. Segi karakter udah mirip Rangga. Tapi kesingnya lebih mirip Racun Serangga. Buset..
Lagian iseng banget katanya. Orang seganteng Rangga mau sok cool juga gak masalah. Lah gw? Katanya mending masuk dalem kulkas. Hiks..
Tapi gw masih mending sebenarnya. Ada temen di Path gw malah jadi punya kebiasaan baru, sebelum tidur cek find alumni dulu, kali aja Rangga dulunya kakak kelasnya. Kesian..

Ngebahas film pendek edisi reuni AADC ini memang seru. Entah kenapa fokus gw pertama kali ke Dian sastro dan Ladya Cheryl. Ini mpok-mpok dua orang gw curiga luluran pake formalin sampe awet. Muka tetep kenceng kayak senar raket, tetap seger kayak buah kaleng. Tapi tetap lebih cakep bini gw ke mana-mana lah. Selain bini gw punya inner beauty, doi juga kadang stalking postingan suami. Wkwk..

Rangga masih tetap cool, keren, walau rada kaku kayak kanebo kering. Untuk ukuran 12 tahun gak keliatan, Rangga lumayan masih ganteng, gak terlihat kayak om-om. Perut gak buncit, rambut gak jarang-jarang, dan gak sambil bawa sisir di kantong belakang.
Hanya saja yang bikin gw heran, orang segagah dan semapan Rangga ini 12 tahun di New York dan masih single? oh, please.. jangan salahkan penonton kalo jadi suudzon bahwa ia berubah orientasi jadi sukses, alias suka sesama.
Pengalaman gw, teman SMA gw aja yang 12 tahun gak ketemu, sekarang jadi bencong.

Jujur, di film ini yang bikin gemes gw saat melihat adegan Cinta yang hanya mempersoalkan beda purnama atas balasan 12 tahun di PHP. Reaksinya hanya sebatas itu. Padahal bang Toyib yang cuma dua kali lebaran aja ninggalin istri sampe bela-belain dibuatin lagu.
Andai gw penulis script film-nya, adegannya gw bongkar. Dialog Cinta akan gw panjangin jadi begini:

"Lo mau ke mana lagi? masih betah jadi DPO? mau ngambil salinan kitab suci di barat? atau belum finish lari ke hutan belok ke pantainya?
Butuh berapa lusin lagi gelas duralex yang harus gw pecahkan biar ramai, kalo lagi galau nungguin elu?
asal lo tau ye, malaikat yang dulu menyulam jaring laba-laba di tembok keraton putih, sekarang nyulamnya di hati gw. Hati gw udah penuh jaring laba-laba. Gw sendiri udah laleran gara-gara dipehape. Nah ini salah siapa? salah gw? salah teman-teman gw?
Lu kira enak 12 tahun nunggu orang?
kredit perumahan aja paling banter sepuluh tahun cuy! kredit motor apalagi! paling cuma lima tahun! malah kalo DP-nya tinggi, ada potongan angsuran dan bonus cashback. Nah elu, kasih jaminan aja kagak!
Ibaratnya selama ini orang-orang makan apel, gw makan anggur. Orang-orang diapelin, gw dianggurin!

Trus Rangga menjawab:

"Maaf, Cinta. Lo tau sendiri lah jaman kita dulu belum ada hape. Gw ngekos di New York mesti ngirit kiriman bulanan. Jangankan nelpon elu, untuk lauk makan aja gw minta dikirimkan abon dan ikan teri kacang dari Indonesia yang diselundupkan dalam kaleng Khong Guan. Lagian nelpon dari New York gak kayak nelpon di wartel Indonesia, goceng setengah jam. Please, ngertiin gw”

Trus Cinta nanya lagi:

“lah, trus di jaman friendster dan multiply ke mana aja? jangan bilang lo diumpetin jin ifrit!”

Rangga cuma keki. “Gw harus pergi, Cinta!”

“Ntar! gw belum selesai! atau gw sumpahin pesawat lo delay dua hari!” Cinta jadi sewot.

“Gw harus pergi!!” Rangga ngotot.

“Ya udah, Kalo mau pergi lagi mending sekalian aja lo jangan pulang sampe kiamat qubro..!” ujar cinta sambil gak lupa melayangkan tendangan maegeri ke ulu hati Rangga.

Sekian.

Atau kalo mau adegannya lebih singkat lagi tanpa dialog, saat Rangga baru landing di Indonesia dan keluar dari pesawat tiba-tiba langsung dijemput paksa polsek Bekasi, dengan kasus dugaan pemalsuan surat tanah. Cerita pun berakhir.
Plakk! ini Rangga woy, bukan Vicky Prasetyo!

Hehe.. abis kesal juga gw sama Rangga ini, seenaknya mempermainkan perasaan wanita. Katanya akan kembali dalam satu purnama. Itu satu purnama maksudnya dalam itungan planet luar tata surya atau kalender suku Maya ya? Jangan-jangan purnama di New York ini sebenarnya memang gak ada, karena purnama sesungguhnya cuma ada di Jakarta, yaitu Basuki Cahaya Purnama.
Lagian, janjian kok mesti pake nunggu purnama. Ini sebenarnya Rangga AADC atau Digo GGS?

Awalnya gw coba ambil kesimpulan sederhana kalo ketidaksepahaman Cinta dan Rangga dalam memaknai satu purnama ini hanya masalah khilafiyah. Ada perbedaan dalam melihat hilal. Tapi setelah gw pikir-pikir lagi ini susah masuk nalar, ini keterlaluan.

Tapi ya sudahlah.. daripada kurang kerjaan mikirin ini, mari kita sudahi aja.
Loh, trus poinnya di mana? Hehe.. Sorry. Gak selamanya gw nulis harus ada poin. Kalo mau ngejar poin, silakan ke provider seluler.

Okeh, kita sudahi review ngawur ini dengan mengutip puisi Rangga:

“Waktu tidak pernah berjalan mundur, dan hari tidak pernah terulang, tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru.
Waktu tidak pernah berjalan mundur, dan juga tidak pernah maju lalu mundur. Yang berjalan maju mundur itu bukan waktu namanya, tapi Syahrini..”

Bulek? (2)

Hujan lagi.

Aku dan dua temanku memutuskan makan di Rempah Asia Jakal.

Nah, ada tiga gadis duduk gak jauh dari tempat kami duduk. Awalnya satu menatap ke arah kami, disusul dua orang lainnya. Kemudian bisik-bisik. Aku lagi makan sama anak hits Muhi di masanya, kejadian kayak gitu udah beberapa kali terjadi.
“Temenmu Thi?”
“Bukan tuh.”
“Adik kelasmu kalik”
“Mbuh ya.”

Kemudian salah satu dari mereka menghampiri. “Mbak Sundarihana?”

Hening tiga detik.

“Ya?”

Ternyata mereka dari Hipwee dan emang pernah ngeDM aku, titip pesan ke Mbak No. Akhirnya si mbak tadi ngajak ngobrol sebentar.

Dan

Mereka

Ngajak foto bareng.

Gurlzz, itu hujan, muka lusuh, kerudung basah. Dah lah. Tapi mau gimana lagi.

Akhir kata aku sampaikan, “Mbak, semisal mau di post, jangan lupa full edit dan filter ya mbak.”

Kemudian mbaknya ngepost tanpa editan dan tanpa filteran.

Tapi aku tetap cantik.
Soalnya aku cewek………..

Cih, apasih Han.