!dkk

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.



Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story - Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky - Launching Airbnb and the Challenges of Scale
  3. Joe Gebbia - How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk - The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

Bukannya Saya Anti

Sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya baru benar benar dibukakan mata tentang kesenjangan yang nyata. Tentang bagaimana kekuatan modal yang didukung pemerintah menggerus hidup rakyat kecil yang tidak mampu bersuara. Sederhana, karena mereka bukan “siapa-siapa”

Ya, penggusuran pedagang di stasiun se-Jabodetabek. Yang dilakukan oleh Jonan dkk dgn iming iming untuk merapihkan stasiun. Kami sepakat dgn ide modernitas stasiun. Kami sepakat dgn peningkatan pelayanan kereta api. Kami jg sepakat dgn pembaharuan KAI di sana sini

Namun, yang kami tidak bisa bersepakat adalah menggusur hidup dan pencaharian manusia, tanpa komunikasi dan ganti rugi yang layak. Dan dengan dalih tidak adanya gerai/pemodal besar yang akan menggantikan peran pedagang, alasannya “stasiun akan steril”

Nyatanya sekarang apa? Di foto ini, apa yang kami perjuangkan dgn kawan2 bertahun lalu kejadian, adanya gerai ****mare* di stasiun UI. Sedih sekali rasanya karena masih terpampang nyata di ingatan kami bagaimana penggusuran dgn kekerasan yang dilakukan kepada para pedagang. Bagaimana kawan-kawan kami juga “dihajar” oleh tentara ketika membela pedagang kecil.

Penggusuran tanpa komunikasi yg baik, dilakukan dgn menggunakan militer, serta tidak memberi ganti rugi yg pas? Apakah itu tujuan pemerintah?

Sekali lagi, bukannya saya anti dgn pembaharuan. Saya justru mendukung perubahan. Saya pendukung #SpiritBaru kok. Itu visi perubahan yg saya usung. Namun tolong, wahai para penguasa, jgnlah korbankan rakyat kecil dan rakyat miskin kota demi ambisi pembaharuan yang Anda kejar.

Anda mungkin mendapat dampak sekarang atas kerja kerja kekerasan yang dilakukan. Mungkin Anda bisa punya karir baik, promosi bahkan bisa menjadi MENTERI BERKALI-KALI. Namun pernahkah terlintas di kepala?

“Bagaimana nasib pedagang yg pernah saya gusur?”

Semoga menjadi refleksi bersama, khususnya nasehat bagi diri saya sendiri. Salam

Being stuck in an elevator with Seventeen

S.Coups: “don’t be afraid, I got this” - mental breakdown

Jeonghan: stuck in an elevator - still fabulous, taking selfies 

Joshua: prays to god

Jun: insults the elevator in chinese

Hoshi: starts playing games on his mobile phone

Wonwoo: “In order to stay alive, we all have to take our clothes off

Woozi: prepares his last words for the world

DK: “well.. you remember what they did in the movie we watched recently?”  

Mingyu: whispers “eat or be eaten..”

The8: starts crying, you hold him in your arms

Seungkwan: panically pressing all the buttons

Vernon: starts flirting with you 

Dino: tries to call his mom, realises Jeonghan is right next to him

Woozi’s farewell letter is coming soon, check out our blog ;)

"Zombies, Run!" - the app that changes lives

Did an app ever change your life? Did an app ever make you laugh, cry, yell - while making you healthier? Did an app ever get you so caught up in a story that you forgot the world around you while listening to it?
The app “Zombies, Run!” does all of those things for me on a weekly basis.

Seeing how my favorite app ever is currently celebrating its fifth anniversary, I thought I would tell you once again just why you should try “Zombies, Run!”

I have been running on and off for ten years. Back in early 2007, I think, I began because I wanted to lose weight. It did help. And I did get in much better shape. But I never really made it past 5 km runs. I got bored.

Soon to be three years ago, in May 2014, I saw a Tumblr post describing an app in which you ran from zombies while being a part of an awesome story line. Having been more off than on running for a couple of years at the time, I decided to give it a try.

I have never regretted it.

I remember it vividly. The first time I played “Zombies, Run!”. It was May 29, 2014, at 10.06 AM. I pressed that “Start mission” button, and then I wasn’t in Copenhagen anymore. I was on a helicopter, making my way over an apocalyptic England towards a small settlement called Abel Township.

Only before I reached the township, my helicopter was shot down by an unknown party. Having survived the crash, I had to run through a zombie-infested area to get to safety, with a stranger named Sam talking to me in my headset, guiding my way.
“I’m gonna call you Runner 5,” he told me. I have been Runner 5 ever since. And now I have even managed to finish a 25 km run. That’s quite a bit more than the 5 km ones I began with.

The glory of this app is that YOU are Runner 5, and Runner 5 can be ANYONE. The characters talk to you, but they never indicate gender, age, or looks. It also doesn’t matter whether you go on short or long runs, or even whether you run or not - you can also walk the missions, if you want. What the characters do tell you, however, is how important you are to Abel Township. That what you do matter. You become a hero.

As you run, you make your way through an amazing story line: Each mission is an episode in a season, as if you’re running a tv show. There are currently five seasons. The writers are working on a sixth. I am continuously amazed at the twist and turns of the story, the character development, the “ohfuckingshitthatdidnotjusthappen” moments … And that’s saying something, because I can be a picky skeptic.

You can use your own music playlist for your runs. Every mission has music breaks between the sound clips. During these breaks, you also pick up items to expand your base in the app. And (if you choose to put that setting on) you can get zombie chases - which means that when the app tells you that zombies are approaching, you have to speed up to get away from them. It’s great for interval training, and it’s completely optional; you can turn it on and off.

All in all, I want to recommend this app to anyone who needs motivation to get out there and move your body - or to anyone who wants to listen to a well-written and exciting post-apocalypse story with zombies and lovable people. And if you’re just starting out and would like a training program to follow, you can also check out their “Zombies, Run! 5k” app, which guides you through eight weeks of training, from couch to 5 km runs. The story line is not as “on the edge of your seat” as the original app, but still very captivating.

So what are you waiting for? Go find it where you usually buy your apps! The first season is free, the rest costs less than 200 DKK a year, and it is money well spent.
And then let me know how much you enjoyed it!

Maap ya, disensor, demi kelangsungan hidup yang lebih baik. 😂😂

Aku bersyukur, sangat bersyukur menemukan dia. Atau aku ditemukan? Atau kita dipertemukan? Apapun. Aku bersyukur.

Dia adalah seseorang yang sangat menghargai komunikasi. Atau karena kita LDR ya? Tapi tak apa, yang penting komunikasiku dengan dia alhamdulillah lancar.

Setiap bangun pagi, sampai mau tidur lagi komunikasi kami selalu lancar. Selama ada pulsa, ada internet, dan ada batre tentunya. :))
Tapi karena kami mengetahui batre, internet dkk mampu menghambat komunikasi dan bisa menjadi salah paham, kami setidaknya mengabari. Seperti, batreku lowbat dan aku tidak bisa mengecharge. Atau, di tempatnya sinyal buruk, tidak ada wifi. Sebelum ia berangkat ke tempat itu ia mengabari dulu setidaknya.

Begitulah, hal-hal yang sepele sebenarnya, tapi untuk para kaum LDR pasti komunikasi sangat penting. Hanya kabar kamu mau tidur, mau makan, mau cari makan atau kamu tidak membalas pesan 10 menit saja tanpa kabar, bisa membuat pasangan bertanya-tanya. Dia kemana? Dia ngapain? Atau itu hanya aku saja ya? :)) ah tidak. Akui, kamu juga pasti begitu. 😂

Dan ya, aku bersyukur dia adalah seseorang yang mau mengerti, kalau kabar dari dia adalah hal yang sangat penting buatku. Dan dia mau mengabari setiap halnya. Bahkan dia melihat kucing lucu saja, dia mengabari. 😂 Dan di saat ia berada di tempat yang sangat jauh, dengan perbedaan waktu yang cukup banyak, kabar darinya tetap aku dapat. Walau di saat dia bangun, aku sudah tidur, dan saat dia masih tidur aku baru bangun. Tapi tak apa, dengan seseorang yang tepat dan mau mengerti keadaan, hal itu bukan halangan.

Kadang dengan adanya jarak ini, lebih banyak cerita yang kami tukar. Memang, kadang sekedar kabar, cerita, suara juga saling memandang lewat video call tidaklah cukup. Tapi ketika saatnya kami bertemu nanti, senang dan lega luar biasa. Setiap waktu yang dihabiskan saat bertemu akan sangat berarti, dan yang pasti sangat menyenangkan.

LDR bukan sesuatu yang mudah, bukan pula untuk seseorang yang tidak bisa bersabar, tidak mau menunggu, dan yang kemana-mana harus ditemani. Hubungan ini untuk orang yang benar-benar saling mencintai dan menghargai pasangannya. Di mana harus menjaga hati juga diri di saat kapan saja kamu punya pilihan untuk mencurangi, tetapi kamu lebih memilih untuk tidak.

Dan aku bersyukur (semoga) ia orang yang seperti itu. Yang tetap memilihku, walau di sekitarnya banyak wanita yang mau menemani, tapi ia lebih memilih ditemaniku, pada jarak yang jauh.

saknyuk #1

saknyuk, dalam bahasa jawa, khususnya bahasa malangan, artinya ‘sangat sebentar’. Biasa digunakan untuk menunjukkan dimensi waktu yang sangat sangat sebentar.

Jadi, dengan judul ini saya akan mencoba berbagi tutorial atau tips dan semacamnya tentang hand lettering dan kaligrafi. Sesuai dengan judulnya, jadi ya yang saya tulis disini nantinya cuma saknyuk aja. Tapi semoga walopun saknyuk bisa ngefek sauwwe ya. *harah opo maneh ‘sauwwe’ iku?

TJARA TJEPAT MEMBUAT HAND LETTERING YANG ASYIK

Sebelum bikin desain hand lettering, alat-alat yang perlu dipersiapkan sebenernya sangat sederhana dan bisa didapatkan di toko-toko terdekat di sekitar kalian. Buat kali ini, yang diperlukan cuma : kertas, pensil, penghapus, drawing pen atau spidol seribuan juga boleh. Untuk editing, yang diperlukan itu scanner/kamera, dan software yang saya pakai biasanya itu PS & Ai. Kalo semuanya itu udah siap, yuk bismillah dulu sebelum mulai eksekusi. jirolu ~

1. Step pertama jelas bikin desain hand letteringnya. Kalo misal gak ada desainnya, terus buat apa tulisan ini? :(

Karena ini saknyuk, makanya gak perlu bikin yang gede-gede, segini aja cukup. Gak perlu bikin yang terlalu rapi, nanti malah dikomen, “itu pake font apa ya kak?”, mbuh. Yang paling perlu diperhatikan waktu bikin hand lettering sih komposisi & pemilihan jenis huruf yang dipakai. Gimana caranya? kalian bisa browsing sendiri lah ya :) *kuota tuh dipake buat browsing” yang berfaedah, jangan buat stalking baper-baperan aja*.

2. Nah, setelah proses manual selesai, waktunya masuk ke proses dijitalisasyen. Untuk dijital, biasanya saya sih pake scanner. Atau kalo gak ada scanner, difoto pake kamera hape atau yang lainnya juga udah cukup kok. Asal pencahayaannya bagus dan posisinya dari atas tegak lurus sama gambar yang tadi kita bikin.

Gak perlu dikasih tau caranya pake scanner kan? Cara menyodrek yang baik dan benar juga gak perlu saya tuliskan disini kan ya? *duh mid menyodrek iku opo coba* :(

3. Step berikutnya, masuk ke Ai (Adobe Illustrator) buat proses vector. Tinggal drag and drop file ke Ai, terus pake fitur auto trace yang udah tjiamik sekali hasilnya. 

Nah, itu tinggal geser-geser aja sampe menemukan hasil yang sesuai keinginan kalian. Kenapa auto trace? kok gak di trace manual? Plis, judulnya kan saknyuk, kalo mau trace manual itu lamanya minta anak, eh minta ampun. Lagipula, hasilnya auto trace ini udah wasik kok. Tinggal dirapiin dikit udah oke. 

Di proses ini, hasil dari auto trace tadi sudah berupa vector. Itu artinya, bisa di edit lagi posisinya, besar kecilnya, kerningnya, dkk. Contohnya kayak gambar di atas. Garis yang tadinya miring, diedit lagi, di rotate dikit biar jadi lurus. Terus teks “HIDUPMU”, kerningnya dibenerin lagi biar enak dibaca.

4. Step terakhir. Kalo hasil vector di Ai tadi dirasa udah oke, tinggal copy/drag aja ke PS, bisa langsung kok. Setelah itu, tinggal atur aja komposisi antara hand lettering kalian dengan foto yang akan dijadikan background. Simpel kok.

Klak klik, gesar geser, edit warna foto, geser lagi, hapus dikit-dikit, opacity dikurangi, kasih solid layer warna gelap, multiply, opacity dikurangi, kasih teks ole ole, kasih watermark. Saknyuk!

Jadilah sebuah hasta karya hand lettering yang asyik. Tinggal kasih kepsyen quote quote oke, upload, scrolling-refresh-scrolling notif, enaq banget hidupmu. :)

Jadi begitulah rekan-rekan sejawat, tutorial saknyuk dari saya. Semoga gampang dimengerti dan bermanfaat. Amiin. Kalo semisal masih bingung atau ada yang gak paham, silahkan tanyakan ke saya gak usah sungkan. :)

See ya!

dimazfakhr, 16 Januari 2017

MASJID SALMAN, RADIKAL SEKALIGUS LIBERAL. (?)

Masjid Salman ITB dikata radikal. Begitu ujar ketua PBNU, Said Aqil Siroj.

Aku tidak lekas percaya jika ia bilang persis begitu. Atau mungkin ia memang bilang begitu, tapi ada konteks yang menyertai. Misal “Hati-hati paham radikal hendak masuk ke Salman. Karena…”,

Salman adalah salah satu pemisalan dan ia tahu jika Salman tidak sepenuhnya seperti itu. Namun konteks obrolannya adalah ‘paham radikal’. Jadi memang tidak ada waktu untuk menjelaskan jika Salman ini ada sisi moderat dan tolerannya…

Kemudian media pun membuat judul cetar: Radikalisme Merambat ke Kampus TERUTAMA Masjid Salman. Mungkin jurnalis media tersebut tidak kenal Salman dan sedang trauma pada insiden bom Manchester saban hari..

Hehe. Mencoba khusnuzon.

But anyway, pemberitaan itu berpotensi membuat Salmanku ini dipandang menyeramkan.

Lucunya, beberapa tahun silam, Salman pernah dilabeli terlalu moderat, liberal..mungkin gara-gara Salman pernah undang dialog dengan pentolan JIL, atau pernah undang pastor untuk sharing filsafat ilmu.

Gila, ya. Pelabelannya bertolak belakang pisan, coi.

Yang jelas, selama 7 tahun jadi 'marbot’ medianya masjid ini, aku ingin memaparkan kenyataan yang aku alami di Masjid Salman.

Bahwa Salman mengajarkanku RADIKAL sekaligus LIBERAL. Yep. IN A GOOD WAY.

Mengapa Salman mengajarkanku radikal? Karena pertama, Salman membuatku berpikir mengajar soal pandanganku terhadap banyak hal.

Radikal, jika kau telusuri di kamus adalah cara berpikir yang mengakar terhadap sesuatu. Radikal bukanlah paham yang mudah mengkafirkan orang lain, radikal bukanlah soal bom di konser Ariana Grande dan whatsoever.

Kata radikal telah disalahkaprahi.

Aku jadi mempertanyakan kemurnian keislamanku, apa aku sudah berislam secara benar? Atau apa makna dari shalat? Apa hikmah dari tidak bolehnya meminum minuman keras?

Atau: Ketimbang berkoar-koar soal kejayaan Islam, mengapa kita tidak mencicil peradaban rahmatan lil 'alamin dari sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan yang krusial, berikut pembahasannya ialah dialog tidak tabu di masjid ini. Beragam orang di Salman, baik dari yang anaknya 'aktivis dakwah look a like banget’ atau anak 'hepi hepi’ syar'i kayak si Tristia pun bisa berkomunikasi dan berkolaborasi di sini.

We sometimes debate a bit, tapi kita bisa makan cuankie bareng terus ketawa ketiwi liat foto kucing. Serius.

Sampai ngeplesetin lagu Kesempurnaan Cintanya Rizky Fabian untuk menggambarkan susah payah tapi berkesan jadi anak asrama Salman juga sabi.

Satu hal yang menarik lagi di Salman, udah nggak kaget lagi menemukan anak majelis ta'lim baca buku Noam Chomsky, nonton film Senyap, terus rajin ngapalin Quran.

Ini dia. Karena mengalirnya diskusi dan iklim keterbukaan ini, keimanan pun makin teruji…dan ini menggiringku untuk..

Liberal.

Liberal, bagiku bukan aku muslim terus aku klabing. Atau aku berfree sex. Naudzubillah ya kali. Berpikir liberal adalah pembebasan diri dari berhala-berhala lain selain Allah. Dalam kata lain, liberal adalah cara berpikir merdeka.

Aku belajar untuk berani berbeda di sini. Di Salman, masing-masing individu atau unit digiring untuk berkontribusi.

Memang perkataan ulama dan senior aktivis sangat penting untuk diresap. Namun itu tidak menghalangi kita untuk melengkapi dan mengoreksi pendapat yang sudah ada, sekaligus berkarya sesuai potensi kita.

Kita mengenal alm Bang Imad sang ahli pidato, alm Achmad Noeman sebagai arsitek handal, Feny Mustafa founder Shafira, Busyro Muqoddas, Hatta Radjasa, kawan-kawanku yang rutin bikin pengobatan gratis, kang Iqbal Alfajri dkk yang bikin film layar lebar, astronom Thomas Djamaluddin, jurnalis Farid Gaban, dede-dede seni rupa yang 'nyasar ke masjid’ terus bikin karya-karya audiovisial yang ucul, si Tristia Riskawati yang suka nulis terus kesamber jadi entrepreneur, dann masih banyak lagi–

Akhirul kalam, tulisan ini tidak semata-mata dibuat untuk melawan Pak Said Aqil atau membela buta Salman.

Mungkin benar ada pihak-pihak yang punya pandangan Islam agak setreng, tapi itu bukan representasi Salman menurutku.

Wallahu'alam. Hanya menceritakan apa yang kualami, kupikiri, dan kurasai tentang Salman, untuk menawarkan perspektif yang lebih jernih.

Yuk main ke Salman deh. Ketemu akika and da gank. Ada teh manis gratis sembari keterbukaan diskusi bareng soal Islam yang barangkali masih ngganjel di hati!

#tehmanissalman
#aingradikalyeuh
#liberalsyari
#tersesatdijalandakwah
#maenkemesjidyuk

Concert Prices

This is what has been released so far:


Basel, St. Jakobshalle on March 11, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General: June, 16 - 9 AM
Price: (to be announced)


Amsterdam, Ziggo Dome on March 14, 2018

Pre-Sale: June 14, 9 AM CEST
General: June 16, 9 AM
Price: 50.60€ - 72.60€


Antwerp, Sportpaleis on March 16, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 41€ - 71€


-Copenhagen, Royal Arena on March 19, 2018

Pre-Sale: June 14, 9 AM CEST
General: June 16, 9 AM
Price: 380 - 600 DKK


- Oslo, Oslo Spektrum on March 21, 2018

Pre-Sale: June 14, 9 AM CEST
General Sale: June 16, 9 AM
Price: 495 - 695 NOK


Oberhausen, König-Pilsener-Arena on March 24, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General: June, 16 - 9 AM
Price: TBA..


Munich, Olympiahalle on March 27, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General: June, 16 - 9 AM
Price: 57.40€ - 80.40€


- Barcelona, Palau Sant Jordi on March 30, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General: June, 16 - 9 AM
Price: 40€ - 65€


Madrid, Wizink Center on March 31, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 40€ - 65€


Milan, Mediolanum Forum on April 2, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 51€ - 66€*


Casalecchio .., Unipol Arena on April 4, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM CEST
General: June, 16 - 9 AM
Price: 56€ - 66€*


Birmingham, Genting Arena on April 7, 2018

*Pre-sale: June, 14 - 9 AM
General: June, 16 - 9 AM
Price: 52.75£ - 64.05£


Manchester, Manchester Arena on April 9, 2018

*Pre-sale: June, 14 - 9 AM
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 45£- 55£+


Glasgow, The SSE Hydro on April 14, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 50.50£ - 61.50£


Dublin, 3Arena on April 16, 2018

Pre-sale: June, 14 - 9 AM
General sale: June, 16 - 9 AM
Price: 50.50€ - 70.50€


Perth, Perth Arena on April 21, 2018

Pre-sale: June, 13 - 1 PM AWST
General: June, 15 - 1 PM
Price: $101.75 - $152.65


Melbourne, Hisense Arena on April 24, 2018

Pre-sale: June, 13 - 5PM AEST
General: June, 15 - 5PM
Price: $99.90 - $149.90


Sydney, Qudos Bank Arena on April 27, 2018

Pre-sale: June, 13 - 2PM AEST
General: June, 15 - 2PM
Price: $99.90 - $149.90


Brisbane, Brisbane Centre on April 28, 2018

Presale: June, 13 - 4PM AEST
General: June, 15 - 4PM
Price: $99.90 - $149.90


Not all prices and information has been posted yet, I will try and post the rest as soon as I can. 

Credit: TheHarryNews Via Twitter.


Much love, x.


-CTU

anonymous asked:

Assalamu'alaikum teh. Bagaimana menghilangkan rasa bersalah dari pernah menyukai seorang laki-laki? Atau mungkin dulu pernah pacaran.. Bagaimana cara bertubatnya dan cara menghilangkan rasa bersalahnya.

Wa'alaikumsalam warahmatullah..

Seseorang di masa lalu memang memiliki ruang tersendiri dalam kehidupan kita. Allah menghadirkan mereka sebagai pembelajar dalam menjalan setiap fase kehidupan kita. Ada yang membahagiakan dan ada pula yang begitu menyesakkan.

Bagian dari menyesakkan memang selalu menanggalkan bekas yang cukup menggoreskan luka di ingatan. Jika hal itu adalah kebaikan mah gpp, kita bisa membalasnya dengan kebaikan. Tapi kalau luka disitulah kita buat sebagai pembelajar terbaik.

Hal wajar jika di masa lalu, kita memiliki segudang kisah kelam. Semisal kehidupan hitam, mulai dari pacaran dkk. Dan setiap kali mengingatnya selalu perih yang tersisa.

Ketika menapaki jalan hijrah, maka ingatan-ingatan itu akan selalu hadir di tengah proses kita.

Maka dalam menapaki setiap proses Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan umatnya untuk tidak berhenti-hentinya, agar kita meminta untuk ditetapkan hati.

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'alaa diinik” (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Doa ini adalah upaya kita untuk diberi keteguhan dalam menapaki jalan baru kita.

Perasaan bersalah saat jatuh dalam mencintai ataupun pacaran di masa lalu adalah hal wajar. Itu artinya hati kamu masih berfungsi dengan baik, hati kamu tidak suka dengan kemaksiatan yang kamu lakukan di masa lalu.

Maka mohonlah ampunan dengan sebenar-benarnya ampunan, berjanjilah untuk tidak mengulanginya kembali. Dan satu hal yang paling penting yaitu, maafkanlah dirimu sendiri. Berdamailah..

ya, berdamailah dengan dirimu sendiri, berilah maaf dan sediakan ruang untuk kehidupannya yang baru.

Setiap orang pasti punya masa lalu, dan setiap masa lalu punya kesempatan untuk di maafkan di masa depan.

Bagi saya meminta ampunan-Nya dan memaafkan diri adalah cara terbaik untuk pulang menjadi pribadi yang Dia ridhoi. Lakukanlah semua karna lillah.. Biidznillah..

Semoga menjawab ya kak anon, punten jika dirasa asknya lama baru terjawab.. Barakallahu fiik..:))

hrtskipped-abeat  asked:

Por la chucha:( el anterior se me envió sin terminar dkks ya, la cosa es que he bajado mucho por tu blog pa cachar cuales son los marcianitos de los que todos hablan y no cacho:( me podrías decir cuales son tus marcianitos? Deben ser la raja:c eso ññ

LKASJLA aquí te dejo el link

beduuul  asked:

Bang, gimana caranya jadi cowo brengsek?

Cowok brengsek yang benar adalah dia yang nggak ngaku2 kalau dia brengsek. Sama kaya playboy. Playboy beneran mah gak ngaku2 kaya cowok-cowok jaman sekarang yang so-so brengsek so-so playboy biar terlihat nakal.

Playboy dan brengsek yang sesungguhnya itu silent. Cuma segelintir orang yang tau. Dia dibilang baik oleh semua cewek. Dia gak pernah bilang dia orang brengsek atau playboy. The Real Playmaker never attack in a rush.

Cewek-cewek anggap dia baik. Terus pas dah jadian lalu putus terus curhat sama cewek lainnya, mereka kaget karena mereka punya kisah yang sama dengan cowok yang sama pula.

ITU BARU BRENGSEK!

Jadi kalau sekarang ada cowok ngaku2 playboy, or pengen dibilang brengsek dkk. Doi mah cuma nyari perhatian aja. Aslinya pathetic.

“Semakin kamu bilang kamu A, semakin orang-orang gak percaya kalau kamu itu A. - someone on twitter.”