!dkk

2017 nin hangi en bloğuyum sizce

1- en naif bloksun

2- en anonimli bloksun

3- en gereksiz bloksun.

4-en hüzünlü bloksun.

5- en mutlu bloksun.

6- en anlayışlı bloksun

7- en saçma blokun.

8- en kafası çorum olan bloksun.

9- en sinirli bloksun.

10- en dert dinleyen bloksun.

11- en şiir bloksun.

12- en resim bloksun.

13- en kedili bloksun.

14- en çiçek bloksun.

15- en bilmişlik taslayan bloksun.

16-en babacan bloksun.

17- en yemeğe düşkün bloksun.

18- en işsiz bloksun.

19- en anlaşılmaz bloksun.

20- siz bulun bunu da

clubbin’ 

doodled more miami and innocent morty in the cluub (continuation of this)

also added manbun rick and his (goth?? idk) friend smokin cause HHHH LOOK AT MY INNOCENT BOY’S FACE 

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.



Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story - Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky - Launching Airbnb and the Challenges of Scale
  3. Joe Gebbia - How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk - The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!

Being stuck in an elevator with Seventeen

S.Coups: “don’t be afraid, I got this” - mental breakdown

Jeonghan: stuck in an elevator - still fabulous, taking selfies 

Joshua: prays to god

Jun: insults the elevator in chinese

Hoshi: starts playing games on his mobile phone

Wonwoo: “In order to stay alive, we all have to take our clothes off

Woozi: prepares his last words for the world

DK: “well.. you remember what they did in the movie we watched recently?”  

Mingyu: whispers “eat or be eaten..”

The8: starts crying, you hold him in your arms

Seungkwan: panically pressing all the buttons

Vernon: starts flirting with you 

Dino: tries to call his mom, realises Jeonghan is right next to him

Woozi’s farewell letter is coming soon, check out our blog ;)

Bukannya Saya Anti

Sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya baru benar benar dibukakan mata tentang kesenjangan yang nyata. Tentang bagaimana kekuatan modal yang didukung pemerintah menggerus hidup rakyat kecil yang tidak mampu bersuara. Sederhana, karena mereka bukan “siapa-siapa”

Ya, penggusuran pedagang di stasiun se-Jabodetabek. Yang dilakukan oleh Jonan dkk dgn iming iming untuk merapihkan stasiun. Kami sepakat dgn ide modernitas stasiun. Kami sepakat dgn peningkatan pelayanan kereta api. Kami jg sepakat dgn pembaharuan KAI di sana sini

Namun, yang kami tidak bisa bersepakat adalah menggusur hidup dan pencaharian manusia, tanpa komunikasi dan ganti rugi yang layak. Dan dengan dalih tidak adanya gerai/pemodal besar yang akan menggantikan peran pedagang, alasannya “stasiun akan steril”

Nyatanya sekarang apa? Di foto ini, apa yang kami perjuangkan dgn kawan2 bertahun lalu kejadian, adanya gerai ****mare* di stasiun UI. Sedih sekali rasanya karena masih terpampang nyata di ingatan kami bagaimana penggusuran dgn kekerasan yang dilakukan kepada para pedagang. Bagaimana kawan-kawan kami juga “dihajar” oleh tentara ketika membela pedagang kecil.

Penggusuran tanpa komunikasi yg baik, dilakukan dgn menggunakan militer, serta tidak memberi ganti rugi yg pas? Apakah itu tujuan pemerintah?

Sekali lagi, bukannya saya anti dgn pembaharuan. Saya justru mendukung perubahan. Saya pendukung #SpiritBaru kok. Itu visi perubahan yg saya usung. Namun tolong, wahai para penguasa, jgnlah korbankan rakyat kecil dan rakyat miskin kota demi ambisi pembaharuan yang Anda kejar.

Anda mungkin mendapat dampak sekarang atas kerja kerja kekerasan yang dilakukan. Mungkin Anda bisa punya karir baik, promosi bahkan bisa menjadi MENTERI BERKALI-KALI. Namun pernahkah terlintas di kepala?

“Bagaimana nasib pedagang yg pernah saya gusur?”

Semoga menjadi refleksi bersama, khususnya nasehat bagi diri saya sendiri. Salam

I just got tipped 7 bucks for gift-wrapping something for a customer. He insisted on tipping me because he hadn’t bought the thing in the store, and I insisted he didn’t have to because it’s part of the service because he bought a card in the store.

He tipped me nonetheless, and gave me 7 US dollars.

We don’t even use US dollars here.

Meskipun udah hampir 1 tahun, tapi di Gramedia masih masuk top 4.

Aiiiihhh… senang sekaleeee~

Monggo yang belum baca, buku #merayakanKehilangan emang paling cocok buat yang follow tumblr ini gara-gara seneng tulisan galau. Bisa kalian dapatkan di seluruh toko buku online maupun ofline kaya gramedia, gunung agung, togamas, pasar ikan, dkk

"Zombies, Run!" - the app that changes lives

Did an app ever change your life? Did an app ever make you laugh, cry, yell - while making you healthier? Did an app ever get you so caught up in a story that you forgot the world around you while listening to it?
The app “Zombies, Run!” does all of those things for me on a weekly basis.

Seeing how my favorite app ever is currently celebrating its fifth anniversary, I thought I would tell you once again just why you should try “Zombies, Run!”

I have been running on and off for ten years. Back in early 2007, I think, I began because I wanted to lose weight. It did help. And I did get in much better shape. But I never really made it past 5 km runs. I got bored.

Soon to be three years ago, in May 2014, I saw a Tumblr post describing an app in which you ran from zombies while being a part of an awesome story line. Having been more off than on running for a couple of years at the time, I decided to give it a try.

I have never regretted it.

I remember it vividly. The first time I played “Zombies, Run!”. It was May 29, 2014, at 10.06 AM. I pressed that “Start mission” button, and then I wasn’t in Copenhagen anymore. I was on a helicopter, making my way over an apocalyptic England towards a small settlement called Abel Township.

Only before I reached the township, my helicopter was shot down by an unknown party. Having survived the crash, I had to run through a zombie-infested area to get to safety, with a stranger named Sam talking to me in my headset, guiding my way.
“I’m gonna call you Runner 5,” he told me. I have been Runner 5 ever since. And now I have even managed to finish a 25 km run. That’s quite a bit more than the 5 km ones I began with.

The glory of this app is that YOU are Runner 5, and Runner 5 can be ANYONE. The characters talk to you, but they never indicate gender, age, or looks. It also doesn’t matter whether you go on short or long runs, or even whether you run or not - you can also walk the missions, if you want. What the characters do tell you, however, is how important you are to Abel Township. That what you do matter. You become a hero.

As you run, you make your way through an amazing story line: Each mission is an episode in a season, as if you’re running a tv show. There are currently five seasons. The writers are working on a sixth. I am continuously amazed at the twist and turns of the story, the character development, the “ohfuckingshitthatdidnotjusthappen” moments … And that’s saying something, because I can be a picky skeptic.

You can use your own music playlist for your runs. Every mission has music breaks between the sound clips. During these breaks, you also pick up items to expand your base in the app. And (if you choose to put that setting on) you can get zombie chases - which means that when the app tells you that zombies are approaching, you have to speed up to get away from them. It’s great for interval training, and it’s completely optional; you can turn it on and off.

All in all, I want to recommend this app to anyone who needs motivation to get out there and move your body - or to anyone who wants to listen to a well-written and exciting post-apocalypse story with zombies and lovable people. And if you’re just starting out and would like a training program to follow, you can also check out their “Zombies, Run! 5k” app, which guides you through eight weeks of training, from couch to 5 km runs. The story line is not as “on the edge of your seat” as the original app, but still very captivating.

So what are you waiting for? Go find it where you usually buy your apps! The first season is free, the rest costs less than 200 DKK a year, and it is money well spent.
And then let me know how much you enjoyed it!

viceskwad  asked:

Soooo bak how was your showing for IT hmmm ;)

Well as I said I really loved the movie, one of the greatest movies I’ve seen in cinema :)

But I also had the  worst movie experience:

Spent most of the time shushing on people, and tell them not to fucking snapchat during the movie… 
Like WTF I didn’t pay 120 DKK (20 USD) for a movie I’ve been waiting for a long time just so you can ruin the experience!

Like shit, I thought everyone knew how to behave when in a cinema, but I guess most people just want to be an ass and ruin it for others…

I’ve considered to watch the movie again, just so I at least can get a better movie experience. Still love the movie.

Kids Jaman Now


Adik-adik sekalian, di jaman kalian, tantangan hidup akan semakin berat. Kalian memang sudah tidak disuruh nonton film G30S/PKI yang katanya horor itu, tapi kalian, wuah, kalian malah nonton film Annabelle, Conjuring, yang lima menit lagi adegan seramnya datang, eh, musiknya sudah seram duluan. Yang lima menit lagi adegan horonya keluar, eh, kalian sudah kaget duluan sama sesuatu yg mendadak muncul. Berat, kan?

Maka, oleh karena itu, mungkin catatan berikut bermanfaat buat kalian untuk menghadapi tantangan tersebut, menjadi kids jaman now:

1. Sekolah yang serius

Itu betul, banyak orang sukses macam Bill Gate, Mark Zuckerberg, Ibu Susi yang bisa sukses tanpa lulus sekolah formal. Tapi ketahuilah, Bill Gate dan Zuckerberg misalnya, dia DO dari Harvard. Sementara Ibu Susi, dia berhenti dari SMAN 1 Yogya. Itu sekolah/kampus top semua. Itu bukti, mereka memang sekolah serius setidaknya diterima di tempat2 top tersebut. Lah kita? Sekolah di mana sih? Sampai PD banget bilang: sekolah tidak penting. Mereka juga DO karena sudah punya passion, atau tuntutan hidup lain. Kita? Cuma karena malas, ngeles, pengangguran tiada daya. Jadi, sekolahlah yang serius. Hormati guru2 kalian.

2. Banyaklah baca-baca buku

Ayo, di usia kalian, membaca seharusnya menjadi hobi yang sangat menyenangkan. Berhentilah main gagdet tidak jelas, tidak ada habis2nya. Ganti dengan membaca buku. Baik, kalau mau baca lewat gagdet silahkan (karena sekarang banyak buku di dalam gagdet), tapi kongkret, baca, bukan main. Buat yg tidak suka baca, sukanya nonton, perbanyaklah menonton video yang bermanfaat, seperti National Geographic, dkk, ilmu pengetahuan. Bukan hanya nonton video yang tidak jelas manfaatnya. Kan nggak lucu, saat kalian ditanya apa hewan terbesar di dunia, kalian jawab: gajah. Itu jelas tanda kids jaman now yang kepalanya jarang diisi pengetahuan.

3. Jangan keluyuran, kelayapan

Saya tahu, sebagian kids jaman now itu suka keluyuran. Naik motor bahkan belum punya SIM, nongkrong di flyover, ngebut2an berasa sudah kayak Valentino Rossi, padahal aslinya cuma Ujang. Rossi itu yang nyium tanah dengkulnya. Lah, kids jaman now, yg nyium tanah malah pipi dan jidatnya. Aduh. Juga nongkrong dimanalah, ngabisin waktu seolah sudah jadi manusia tersukses di dunia. Berhenti. Sana Ujang, pulang, bantu Mamaknya dirumah angkat jemuran kasur. Itu kasur bahkan bekas ngompolmu semalam.

4. Tidak perlu pacaran

Ampun dah. Sebagian Kids jaman now itu, bahkan SMP saja pacarannya sudah ngalah2in Romeo & Juliet dikali dua, kuadrat pula. Lihatlah di facebook, twitter, instagram, baru SMP, baru pacaran sehari, sudah manggil Papa-Mama. Itu sangat over sekali. Super-duper over. Kita kira itu keren? Kagak. Kita kira itu tanda hebat? Kagak. Kita sih sudah merasa paling oke sedunia, tapi justeru orang sedunia lihatnya aneh sekali. Lagian, nanti pas putus, langsung deh lebay banget di media sosialnya. Seolah besok kiamat, hidupnya nelangsa tak terkira. Tidak perlu pacaran itu.

5. Mulailah tahu tanggung-jawab kalian

Kids jaman now itu kadang lupa, seusia kalian, tanggung-jawab itu sudah ada. Bukan cuma bisa teriak minta uang pulsa, teriak minta belikan motor, teriak minta belikan HP. Kapan sih kalian akan teriak: Papa, ini rapot saya, pontennya 10 semua. Mama, ini piala yg saya bawa dari olimpiade Fisika. Well, baik, tidak semua orang jenius dan bisa begitu. Iya, itu betul, tapi kita selalu bisa mencari bentuk tanggung-jawab lain. Membantu pekerjaan rumah, nyapu, ngepel. Bukan cuma bisa makan doang, bukan cuma bisa tidur2an doang.

6. Berhenti coba-coba hal buruk.

Merokok? Ew, itu tidak keren. Kalian tidak perlu mencoba-coba hal tersebut. Karena orang dewasa sekarang yg perokok, mereka bahkan mati2an mau berhenti tapi tidak bisa. Jangan ikuti jalan itu. Bikin tato di badan? Apalagi. Minuman keras? Apalagi yang ini. Narkoba? Ampun dah, itu benar2 tipuan sesat. Ada teman ngajak keluyuran malam2 ke tempat2 buruk, jangan mau. Ada teman ngajak duel, gladiator, jangan mau. Tidak apa di bilang tidak jantan. Karena sebenarnya, sssttt… justeru yg bilang tidak jantan itulah yang sangat2 tidak jantan. Mereka tidak bisa melawan dirinya sendiri–itulah ketidakjantanan nomor 1.

7. Tidak perlu ikut2an trend

Hanya karena teman kalian sedang suka pakai lipstik (misalnya), maka tidak perlu ikut2an pakai. Apalagi Bambang, Ujang, Agus, Joko, aduh, kamu ngapain ikut2an pakai lisptik emaknya? Kita itu sudah cantik/tampan apa-adanya. Tidak perlu ikut definisi orang lain. Biarin saja orang lain sibuk dengan trend-nya, kita tahu persis mau ngapain, dan itu lebih bermanfaat. Ini termasuk idola masa remaja. Hanya karena artis idola kalian putih, maka kalian tidak perlu maksa jadi putih. Hanya karena artis kalian suka posting selfie di akun medsosnya, nggak usah ikut2an begitu. Mereka mah enak, wajah sudah dioplos kosmetik, perawatan muahal, jadi keren. Lah kita? Ikutan selfie, ngeliatin gigi koneng di sana, kan nggak lucu.

8. Perbanyaklah belajar agama

Sebagian kids jaman now itu mungkin menganggap agama itu tidak relevan lagi. Jangankan kids jaman now, yang kids jaman old saja banyak yang menyepelekan agama. Tapi ketahuilah, saat hidup kita jatuh dalam sekali, agama adalah lampu penerang yg baik. Belajarlah agama. Minimal punya pemahaman baik.

9. Perbanyaklah aktivitas yang bermanfaat dan positif.

Yang suka menjahit, jahit. Yang suka main futsal, main futsal. Yang suka menulis, nulis. Semua orang itu pada dasarnya cenderung pada hobi yang baik. Maka jangan malas. Justeru perbanyak. Boleh jadi, besok lusa, itu jadi jalan kalian untuk berbuat baik, jalan rezeki, bahkan pencapaian dan prestasi2 kalian.

10. Terakhir, milikilah teman yang oke

Kids jaman now, penting sekali kalian punya teman2 yang baik. Apa itu teman yg baik? Gampang lihatnya, apakah dia rajin sekolah, apakah dia mengajak ke hal2 baik, apakah dia asyik dan menyenangkan. Bukan malah berteman ke anak2 yg suka nongkrong malam2, berteman ke anak2 yg langganan bikin kasus di sekolah. Kita jadinya malahan ikutan bermasalah. Milikilah teman2 yang baik, maka insya Allah, kalian juga akan ikut baik.

*Tere Liye

**saya tahu, kids jaman now malas baca; itulah kenapa kita harus terus menulis, menulis dan menulis. kalian juga bisa bantu share, share dan share. Entah pd tulisan ke berapa mereka akhirnya baca, dan nasihat itu masuk di kepala mereka. kita semua ikut bertanggungjawab mendidik kids jaman now.

2

Demon Killer Kira (post 1  /  2)

Here’s what I pitched for my character design pitch this last semester!

It’s about a Kirako Miyano, the sukeban boss of her local high school, that finds out she’s been chosen by a star goddess (Hoshi) to be destined to become a great demon hunter. At first, she’s uninterested, only caring about her school and turf until the new rival gang, the Hell’s teeth prove to be demons in disguise and threaten to take over.

Here’s some colored versions of the characters with some more concept sketches

saknyuk #1

saknyuk, dalam bahasa jawa, khususnya bahasa malangan, artinya ‘sangat sebentar’. Biasa digunakan untuk menunjukkan dimensi waktu yang sangat sangat sebentar.

Jadi, dengan judul ini saya akan mencoba berbagi tutorial atau tips dan semacamnya tentang hand lettering dan kaligrafi. Sesuai dengan judulnya, jadi ya yang saya tulis disini nantinya cuma saknyuk aja. Tapi semoga walopun saknyuk bisa ngefek sauwwe ya. *harah opo maneh ‘sauwwe’ iku?

TJARA TJEPAT MEMBUAT HAND LETTERING YANG ASYIK

Sebelum bikin desain hand lettering, alat-alat yang perlu dipersiapkan sebenernya sangat sederhana dan bisa didapatkan di toko-toko terdekat di sekitar kalian. Buat kali ini, yang diperlukan cuma : kertas, pensil, penghapus, drawing pen atau spidol seribuan juga boleh. Untuk editing, yang diperlukan itu scanner/kamera, dan software yang saya pakai biasanya itu PS & Ai. Kalo semuanya itu udah siap, yuk bismillah dulu sebelum mulai eksekusi. jirolu ~

1. Step pertama jelas bikin desain hand letteringnya. Kalo misal gak ada desainnya, terus buat apa tulisan ini? :(

Karena ini saknyuk, makanya gak perlu bikin yang gede-gede, segini aja cukup. Gak perlu bikin yang terlalu rapi, nanti malah dikomen, “itu pake font apa ya kak?”, mbuh. Yang paling perlu diperhatikan waktu bikin hand lettering sih komposisi & pemilihan jenis huruf yang dipakai. Gimana caranya? kalian bisa browsing sendiri lah ya :) *kuota tuh dipake buat browsing” yang berfaedah, jangan buat stalking baper-baperan aja*.

2. Nah, setelah proses manual selesai, waktunya masuk ke proses dijitalisasyen. Untuk dijital, biasanya saya sih pake scanner. Atau kalo gak ada scanner, difoto pake kamera hape atau yang lainnya juga udah cukup kok. Asal pencahayaannya bagus dan posisinya dari atas tegak lurus sama gambar yang tadi kita bikin.

Gak perlu dikasih tau caranya pake scanner kan? Cara menyodrek yang baik dan benar juga gak perlu saya tuliskan disini kan ya? *duh mid menyodrek iku opo coba* :(

3. Step berikutnya, masuk ke Ai (Adobe Illustrator) buat proses vector. Tinggal drag and drop file ke Ai, terus pake fitur auto trace yang udah tjiamik sekali hasilnya. 

Nah, itu tinggal geser-geser aja sampe menemukan hasil yang sesuai keinginan kalian. Kenapa auto trace? kok gak di trace manual? Plis, judulnya kan saknyuk, kalo mau trace manual itu lamanya minta anak, eh minta ampun. Lagipula, hasilnya auto trace ini udah wasik kok. Tinggal dirapiin dikit udah oke. 

Di proses ini, hasil dari auto trace tadi sudah berupa vector. Itu artinya, bisa di edit lagi posisinya, besar kecilnya, kerningnya, dkk. Contohnya kayak gambar di atas. Garis yang tadinya miring, diedit lagi, di rotate dikit biar jadi lurus. Terus teks “HIDUPMU”, kerningnya dibenerin lagi biar enak dibaca.

4. Step terakhir. Kalo hasil vector di Ai tadi dirasa udah oke, tinggal copy/drag aja ke PS, bisa langsung kok. Setelah itu, tinggal atur aja komposisi antara hand lettering kalian dengan foto yang akan dijadikan background. Simpel kok.

Klak klik, gesar geser, edit warna foto, geser lagi, hapus dikit-dikit, opacity dikurangi, kasih solid layer warna gelap, multiply, opacity dikurangi, kasih teks ole ole, kasih watermark. Saknyuk!

Jadilah sebuah hasta karya hand lettering yang asyik. Tinggal kasih kepsyen quote quote oke, upload, scrolling-refresh-scrolling notif, enaq banget hidupmu. :)

Jadi begitulah rekan-rekan sejawat, tutorial saknyuk dari saya. Semoga gampang dimengerti dan bermanfaat. Amiin. Kalo semisal masih bingung atau ada yang gak paham, silahkan tanyakan ke saya gak usah sungkan. :)

See ya!

dimazfakhr, 16 Januari 2017

why are you awake?

I am because you are. how can I sleep knowing you’re there, watching, shining? it’s impossible.

you smiling with tears in your eyes, that’s impossible. why are you doing that?

oh. that’s easy. I’m crying because you disappeared and I didn’t know if I’d ever see you again.

but I’m right here. I don’t understand.

you see, that’s why I’m smiling. I’m smiling because I’d lost almost all hope of seeing you again, except for that tiny sliver in the canyons of my heart. I’m smiling because that tiny sliver of you rooted inside me is the reason i dreamed about you coming back through the clouds. I’m smiling because you’re back.

but my dear you’re sadly mistaken, for I never left.

- a conversation with the stars

|dkk|