!dkk

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

Bukannya Saya Anti

Sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya baru benar benar dibukakan mata tentang kesenjangan yang nyata. Tentang bagaimana kekuatan modal yang didukung pemerintah menggerus hidup rakyat kecil yang tidak mampu bersuara. Sederhana, karena mereka bukan “siapa-siapa”

Ya, penggusuran pedagang di stasiun se-Jabodetabek. Yang dilakukan oleh Jonan dkk dgn iming iming untuk merapihkan stasiun. Kami sepakat dgn ide modernitas stasiun. Kami sepakat dgn peningkatan pelayanan kereta api. Kami jg sepakat dgn pembaharuan KAI di sana sini

Namun, yang kami tidak bisa bersepakat adalah menggusur hidup dan pencaharian manusia, tanpa komunikasi dan ganti rugi yang layak. Dan dengan dalih tidak adanya gerai/pemodal besar yang akan menggantikan peran pedagang, alasannya “stasiun akan steril”

Nyatanya sekarang apa? Di foto ini, apa yang kami perjuangkan dgn kawan2 bertahun lalu kejadian, adanya gerai ****mare* di stasiun UI. Sedih sekali rasanya karena masih terpampang nyata di ingatan kami bagaimana penggusuran dgn kekerasan yang dilakukan kepada para pedagang. Bagaimana kawan-kawan kami juga “dihajar” oleh tentara ketika membela pedagang kecil.

Penggusuran tanpa komunikasi yg baik, dilakukan dgn menggunakan militer, serta tidak memberi ganti rugi yg pas? Apakah itu tujuan pemerintah?

Sekali lagi, bukannya saya anti dgn pembaharuan. Saya justru mendukung perubahan. Saya pendukung #SpiritBaru kok. Itu visi perubahan yg saya usung. Namun tolong, wahai para penguasa, jgnlah korbankan rakyat kecil dan rakyat miskin kota demi ambisi pembaharuan yang Anda kejar.

Anda mungkin mendapat dampak sekarang atas kerja kerja kekerasan yang dilakukan. Mungkin Anda bisa punya karir baik, promosi bahkan bisa menjadi MENTERI BERKALI-KALI. Namun pernahkah terlintas di kepala?

“Bagaimana nasib pedagang yg pernah saya gusur?”

Semoga menjadi refleksi bersama, khususnya nasehat bagi diri saya sendiri. Salam

Being stuck in an elevator with Seventeen

S.Coups: “don’t be afraid, I got this” - mental breakdown

Jeonghan: stuck in an elevator - still fabulous, taking selfies 

Joshua: prays to god

Jun: insults the elevator in chinese

Hoshi: starts playing games on his mobile phone

Wonwoo: “In order to stay alive, we all have to take our clothes off

Woozi: prepares his last words for the world

DK: “well.. you remember what they did in the movie we watched recently?”  

Mingyu: whispers “eat or be eaten..”

The8: starts crying, you hold him in your arms

Seungkwan: panically pressing all the buttons

Vernon: starts flirting with you 

Dino: tries to call his mom, realises Jeonghan is right next to him

Woozi’s farewell letter is coming soon, check out our blog ;)

TSK değil Silahlı Kuvvetler!

Son zamanlarda ortaya çıkmaya başlayan görseller ile Ordu içinde tüm disiplin kaybolmuş, ergen gibi pozlar veren subay ve astsubay adayları ortaya çıkmıştır. 170-180 senelik Subaylık okulları her daim disiplinli iken son zamanlarda “orduyu sivilleştirme” çabaları başlamıştır.

Harp Okulları, TSK bünyesinden alınmış, Milli Savunma Üniversitesi yapılmış ve başına general yerine Prof. Dr. Erhan Afyoncu atanmış ve Erhan Afyoncu'ya Korgeneral rütbesi verilmiştir.

TSK'ya ait şehirlerdeki arazilere el konulmuş şehirlerden ordu çıkarılmıştır.

Törenlerdeki protokollerden askerler çıkarıldı. 30 Ağustos'ta askeri geçitler yaptırılmadı.

Genelkurmay Başkanı'na bağlı olan KKK, HKK, DKK, Genelkurmay Başkanı'nın emrinden çıkarılıp, göbekli,kel ve badem bıyıklı MSB Fikri Işık emrine verilmiştir.

TSK'nın askeri hastaneleri elinden alınmıştır. Artık askeri yaralanmalardan anlamayan doktorlara asker emanet edildi. Hendek çatışmalarında, şehirdeki hastanelerde PKK'lılar çıktı, doktorlar kaçtı ve o çatışma alanına doktor gönderemediler bunun üzerine TSK askeri doktora emir verdi direk orada göreve başladı.

Askeri yargı kaldırıldı. Böylelikle savaşta esir öldüren asker cinayet ile yargılanabilecek.

Hatta lojman ve gazinoların kaldırıması da tartışıldı.

TSK'nın beli kırılmıştır. Artık her isteyen hükümet askeri istediği maceraya sokar. Ordu'ya siyaset tam olarak girdi.

Gözünü çizdireni bile kabul etmeyen Askeri okulların türban kabul etmesi bir trajikomiktir.

TSK'ya bir hezimet bile bunu yapamazdı. Teşekkür ederiz.

Maternity leave

Ugh it’s a pain to figure out how much I’ll get paid on maternity leave.

I think I’ll be paid 12.000 DKK ($1750) a month the entire year, but someone says I’ll be paid 80% of my usual salary the first 6 months - and that’s a bit more.

Also, what am I being paid the 8 weeks before I give birth?

😩I literally can’t even. This is harder than filling out taxes.

anonymous asked:

Hai kakak 🙋 tolong jelasin dengan warna dong rasanya ngeliat orang yg disuka malah suka sama temen sendiri, bahkan orang yg disuka dateng ke kita saat butuh aja :(

holaa, kamu :)

nng..jelasin dengan warna ini begimana ya maksudnya? apa saya kudu beranalogi begitu? wkwk (banyak tanya yik!)
mungkin kalo disuru ngasi warna ke perasaan seperti itu, warna abu-abu akan sangat cocok ya. kenapa? karena abu-abu katanya identik sekali dengan kesedihan. ya. karena jelas akan sedih sekali saat kita mengetahui bahwa orang yang kita sukai kemudian menyukai teman sendiri. jangan menyukai teman sendiri deh, bahkan kenyataan perasaan kita tak terbalas aja udah sedih bener rasanya :))
orang yang kita sukai datang saat butuh saja? ya udah, kalo bisa bantu ya bantu. kalau tidak mampu ya tidak usah. arti kalimat ‘tidak mampu’ ini terserah kita ya. mau tidak mampu dari segi perasaan, materi, pengetahuan, dkk. tergantung dia minta bantuan apa. kalau dia datang saja rasanya perasaan kita sudah tidak mampu, ya udah ga usah di bantu. gitu, menurut saya, hahah. saya ga pernah di datangin doi saat butuh aja sih, jadi gatau euy gimana rasanya. tapi kalo perasaan ‘bahkan didatangin pun ga pernah’ , nah itu saya tau jelas rasanya. hahahah. bersukur ajalah ya dia mau datengin kamu :))))
(yah kebiasaan jadinya pidato)

7 kali jatuh, 8 kali bangkit
— 

konsep tidak menyerahnya masyarakat Jepang

Yah, quote di atas merupakan arti harfiah dari sebuah pepatah tradisional jepang nanakorobi yaoki yang ternyata mampu menyihir masyarakatnya untuk tidak kenal menyerah.

Secara tidak sadar kita sering menemukan pesan-pesan seperti quote di atas dari beberapa animasi/film keluaran Jepang. Sebut saja, misalnya serial anime Captain Tsubasa.

Dalam beberapa kesempatan, Tsubasa dkk seringkali tertinggal lebih dahulu dari lawannya. Namun, selalu saja ada mantra yang diucapkan Tsubasa untuk mengangkat semangat rekan satu timnya, yaitu

pertandingan baru saja di mulai

Entah mengapa, kemudian Tsubasa dkk seperti terhipnotis untuk bermain lebih cantik dan rapi yang akhirnya kemudian selalu bisa mengembalikan kedudukan.

Gak sampai di situ,

Ada yang pernah nonton serial Tokyo Tower?

Cerita tentang sebuah keluarga kecil: Ibu, satu anak laki-laki dan ayahnya. Betapa Makun (nama anak laki-laki dalam film) merupakan sosok anak pemalu, tapi dengan gengsi yang sangat tinggi (typical anak laki-laki). 

Sering kali dalam kehidupannya jatuh terpuruk dalam berbagai kesempatan sampai divonis punya masa depan yang suram oleh kepala sekolah. Namun pengalaman hidup Ibunya dalam membesarkannya membuat Ia selalu bisa bangkit.

Seperti mantra ini …

Ganbaru! 

yang disampaikan ibunya saat scene perpisahan di stasiun untuk pergi ke Tokyo. Kurang lebih artinya do your best atau secara harfiah ayo kerja keras!. Bukan malah bermelankolis, tapi yang ditanamkan Ibunya adalah semangat.

Belum lagi peristiwa tentang Hiroshima dan Nagasaki. Betapa bom atom yang jatuh pada bulan Agustus ‘45 di kedua kota tersebut berhasil mematikan kota dan membuat Jepang akhirnya menyerah.

Namun, kurang dari 15 tahun Jepang kemudian bisa bangkit lagi karena resilient culture yang mereka miliki sebagai bangsa.


Betapa filosofi 7 kali jatuh, 8 kali bangkit-nya Jepang ini begitu magis. Bahwa keterperukan dan kegagalan bukanlah untuk diratapi. Tetapi yang terpenting adalah apa yang dilakukan setelahnya. Yaitu,

Bangkitnya. Bangkitnya. dan bangkitnya kita.

Terasa hambar dan normatif memang.

Namun percayalah dengan ini…

Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan

yang sampai dua kali diulang dalam surat Al Insyiraah. Dan ini bukan mantra biasa. Ini Janji-Nya.

Jadikan kegagalan sebagai pembelajaran untuk kemudian bangkit dan melesat.

Lalu masih adakah alasan kita untuk menyerah?


Jakarta, 27/3/17
© Ahmad Mujahid

Ketika gue sedang merasa fakir akan pertanyaan ‘lu gak papa?’ Dan terbayang kalimatnya rossi 'temen sejati itu ada saat susah dan senang’ dan biasanya gue tanggapin dengan 'iya, gue hebat berarti. Ada di saat paling down dalam hidup lu’ dan dia cuma ketawa ngakak yang seringnya ngelak.

Entahlah. Apa gue sedang mengalani masa pubertas di usia dua puluh plus plus, haus akan perhatian, semacam need an affection from other gender (halah), gak juga sih. Lebih kepada muak pengen pulang tapi belum bisa-bisa.

Mendadak dapat email undangan (actually it is wajib!) beasiswa. Buat evaluasi dan monev dkk dkk. Lalu dokter juga nyuruh kontrol minggu depan. Makin mundur lah jadwal pulang. Apakah memenuhi panggilan orang tua sedemikian susahnya? Padahal gue hanya berniat memenuhi syarat menjadi anak berbakti, dengan pulang ketika emak gue super kangen. Lalu dimana kalimat 'Ridho Allah tergantung ridho orang tua’ harus gue letakkan #dilema

Back to the statement 'gue sedang fakir kalimat lu gak papa?’, berawal dari pertanyaan kenapa itu orang gak ada nanya bahkan whatsapp pun gak. Seenggaknya nanya kek, 'operasi lu apa kabar?’ Atau 'lu bisa makan apa sekarang?’ Atau apa kek. I guess nama gue bahkan gak pernah lagi nongol dalam kepala dia sekarang ini. Udah ada nama lain (yang ini gak usah dibahaslah. Lelah dedek!!!).
Dan jadi mempertanyakan, jangan jangan kita sekarang hanya sekedar hubungan bisnis. Gak lebih, teman pun bukan.

Important info regarding charms

Hey. I realized that I made a mistake when calculating the shipping prices yesterday. I had set it to what i assumed was the Danish currency, but my stores currency is in dollars. 

So instead of having shipping set to 25 DKK (about 5 dollars) it was set to 25 Dollars.

It’s all fixed now tho. 

Sorry about that.

The expected net profit of playing the lottery

When you play the lottery, you’re betting against some very small probabilities, but since the prizes can be rather large sums of money, one could wonder what the net profit of playing would be on average.
In this post, I’ll explore that thought, using the Danish lottery (and DKK as currency) as an example, which works like this:

Every Saturday, 7 winner numbers and 1 bonus number are drawn from a fancy machine with 36 numbered balls (first the winner ones, then the bonus). When you play the lottery, you pay to bet on which numbers are drawn, and depending on how many you get right, you win some amount of money.


THE PROBABILITIES

The first thing we need is to work out the probabilities of matching the drawn numbers. For this, we will make use of the binomial coefficient (read “n choose k”) defined as binom(n, k), 

The binomial coefficient is the number of ways you can choose k out of n elements without regard to order (by convention, binom(n, 0) = 1).

The probability of getting k out of the 7 winner numbers right is thus:

where binom(7, k) is the number of ways we can have k out of 7 winner numbers, and it’s multiplied by the number of ways you can have the remaining 7-k out of 29 non-winner numbers, binom(29, 7-k), giving us the number of combinations of betting numbers that match k winner numbers. This is then divided by the number of ways the 7 winner numbers can be drawn from the pool of 36, giving us the probability of the event.

Note that the above equation doesn’t hold for k = 6, since that’s where the bonus number comes into play. Here, we have

and 

where in both cases we have binom(7, 6) ways to match 6 of the 7 winner numbers, and for each of those, we have 29 ways to miss the last winner number. Then, in the no bonus case, we have 28 ways to miss the bonus number (since for each combination of winner numbers, there are 29 leftover balls to draw a bonus ball from), whereas in the bonus right case, we have 1 way to match the drawn bonus number. Divided by the number of combinations of winner numbers and bonus number, this gives us the probabilities of the events.


THE EXPECTED VALUE OF A BET

For this part, we’re considering the payout of playing the lottery as a random variable, a real-valued variable that gets its value from the random ‘experiment’ of drawing the lottery numbers.

Formally, the expected value of a random variable X is

and it denotes an average of the values X can have, weighted by their corresponding probabilities. Letting X be the lottery payout, each xk is the payout corresponding to matching k winner numbers, and it’s weighted by the probability of getting said payout (when k goes above 7, the probabilities become 0 and those terms vanish).
Since we now know the probabilities, we just need some payout figures.

They vary from week to week, but for this example let’s use these figures (from the draw at 2015-09-05) as they are relatively average:

  • 7 winner numbers: 6,504,259 DKK
  • 6 winner + bonus number: 195,156 DKK 
  • 6 winner numbers: 2,247 DKK 
  • 5 winner numbers: 122 DKK
  • 4 winner numbers: 42 DKK
  • 0-3 winner numbers: 0 DKK

Evaluating the expected value with these figures yields E[X] = 1.69 DKK.
However, playing the lottery isn’t free, and in the Danish lottery it costs 4 DKK per bet. Thus, the theoretical average net profit given the figures used is

–2.30 DKK,

a negative number, and therefore a loss for the player.

5

Purple-Flowering Cranesbill Plants

60 DKK / $9 USD / 8 €

Perennial cranesbill plants are true geraniums – the annual plants sold in garden centres are actually pelargoniums!

A single cranesbill plant will spread to over 50cm in diameter in a single season: they are excellent for covering large areas of ground in mass plantings, and colonise an area rapidly.

The large purple blossoms on this cultivar are absolutely covered in bees and other pollinators every year, owing in no small part to their vibrant ultraviolet hue.

Once the blossoms have faded, the cucumber-like smell of the unique foliage lingers.

The dense foliage of these plants is excellent for holding down weeds: they are perfect for planting around the base of a tree.        

 Up in my shop →