Avatar

Askara Aksara

@rayanyagenduk

ingatan yang sedang mengabadi

Lahirmu hanya sekali tapi kau bertumbuh setiap hari. Tidak ada satu langkah yang tak berharga, segala proses menguatkanmu, semesta memgamini setiap doamu, Tuhan mengabulkan inginmu pada waktu yang tepat.

Lahirmu hanya sekali, kau terjatuh berkali kali tapi kau sanggup bangkit lagi. Tidak mudah menghadapi dirimu sendiri. Egois, sombong, angkuh, kekanakan, malas, penakut, dan hal-hal yang membuatmu sadar ada yang salah dengan isi kepalamu. Tapi kamu bertumbuh, kamu berproses dengan begitu hebatnya dan sedikit demi sedikit kamu mampu menghadapi dirimu sendiri.

Lahirmu hanya sekali, usiamu berkurang berkali kali. Seperti yang akan kamu lewati beberapa saat lagi. Bertumbuhlah terus hingga kamu bisa menghadapi dirimu sendiri dengan sepenuh hati. Bertumbuhlah selalu semampumu. Dan belajarlah untuk terus bertumbuh dengan baik.

Selamat merayakan berkurangnya usiamu sekali lagi. Selamat bertumbuh lagi.

Bogor, 20 Oktober 2019, 21.35 WIB

PS: kepada diriku sekarang dan 22 tahun lalu, terimakasih sudah menjaga, mendewasa, dan berbaik hati bertumbuh juga menyempurna

Malam ini senang sekali rasanya. Bisa napak tilas jalanan paling terkenal di kampus dulu. Sudah banyak yang berubah, ada yg jadi makin besar, ada yg tutup. Tapi tadi ada satu momen yang membuat senyum-senyum sendiri.

Ketika makan mi goreng kuah di warkop dan melihat lalu lalang mahasiswa baru dengan tugas orientasinya, aku senyum sembari membatin "Dulu aku tidak seramai dan semeriah itu. Tapi senang rasany bisa sampai disini"

Ternyata aku sudah sangat lama di kota ini. Kota tempatku pulang.

Jadi, gimana rasanya babak belur dengan permintaan orang tua yang masih sama sementara di situ, kamu sedang berusaha sekuat yang kamu bisa?

Hahaha, aku tertawa dulu sebentar. Hah, ya begini-begini saja. Seperti memulai dari awal, padahal bangkit-tumbuhnya sesusah ini. Masih saja ya. Berbalut kata "mengingatkan". Ah sial, aku masih takut dengan semua kalimat penekanan yang mereka lontarkan tapi aku tidak mau melakukan. Bukankah hobi masih begini-begini saja. Babak belur diobrak-abrik kelakuan sendiri.

Tapi orang tuamu tidak salah-salah amat. Tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya.

Iya, sepakat. Tapi kadang mereka lupa kalau mereka bukan Tuhan yang bisa mengatur hidup anaknya. Meskipun belum tentu pilihan masing-masing adalah benar dan mulus jalannya.

Orang tuamu adalah produk boomer, sedang kamu punya kemewahan untuk bertumbuh dengan cepatnya laju zaman.

Benar, tapi aku hanya mau kompromi. Bukan memaksakan dengan balutan "kami tidak memaksa. Kami memikirkan yang terbaik buatmu". Benarkah demikian? Lalu kenapa aku tidak pernah dipertimbangkan?
Tumbuhku mungkin tidak secepat yang lain. Proses berkembangku yang sangat lambat inipun aku tau dengan baik. Makanya aku berusaha untuk tetap bangkit, berjalan meskipun dengan menyalahkan diriku lebih sering. Tapi rupanya semua itu cuma diukur dengan angka. Pantas saja akhir-akhir ini aku begitu terobsesi dengan uang. Rupanya tanpa sadar, aku membutuhkan validasi mereka. Menunjukkan bahwa aku baik-baik saja bahkan dengan posisiku sekarang.
Aku bisa bertahan hidup dengan aman sampai tua.
Hahahahaha,
Komedi apa lagi ini
Aku capek.

Aku tau, aku sadar, aku sangat paham bahwa kemampuan menulisku semakin menurun. Ilmiah maupun fiksi. Aku sadar betul dengan ini. Mau menyalahkan diriku yang terlalu berfokus pada teknis dan membuat kepala ini tumpul.

Tapi aku mau mulai lagi. Belajar menulis lagi. Belajar memanggil dan mencintai duniaku lagi. Membaca sangat menyenangkan, melakukan hal teknis pun sama, tapi niatku untuk berkembang dalam tulisan terputis karena.

Jadi SEMESTA dan seluruhNya, aku akan belajar lagi. Dampingi aku ya, sampai aku muak dan Kau mengingatkan aku untuk terus berkarya di sana.

Yuk mulai lagi

Siklusnya masih sama: banyak yang dimau, belum selesai satu tanggung jawab lain datang dan terlupakan, ada sesuatu yang hilang, semuanya berantakan dan tidak selesai, kepalaku sangat ramai, hati sangat keruh dan maunya marah terus. Begitu saja terus.

Kalau kata Mas Kun, "Rehat, hidup bukan cuma soal angka!"

Disambung Akar Bambu, "Diam sejenak! Mengosongkan yang telah penuh, mengendapkan yang telah keruh. Melewatkan yang tak perlu..."

Kadang lupa bahwa diam dan melihat langit-langit kamar bisa menjadi jalan menuju tenang dan kembali waras

Ada banyak raungan di kepala. Kalimat yg sama diulang dan berujung sama.

Terlalu.

Semua rasa memiliki imbuhan terlalu.

Ujungnya akan berakhir bagaimana?

Dalam sekelebat yang baru saja terpikirkan tentang "Apasih yang dicari dan diupayakan sampai jungkir balik dan sebegitunya?", jawabannya terlampau lirih untuk bisa kudengarkan sebelumnya.

Tenang.

Tenang tanpa beban harus mencari penghidupan, tanpa memilih mau makan apa tapi menu makan yang itu-itu saja pun tetap nikmat. Tenang tanpa harus berpikir 'dulu aku tidak atau belum....'. Tenang yang semuanya cukup.

Tapi tenang yang tanpa syarat belum masuk dalam logikaku. Seperti tenang yang tanpa uang, aku belum bisa. Sesederhana kalau tidak punya uang, aku tidak bisa makan besok. Mau semunafik apa kamu? Slow living atau hidup dengan minimal tetap butuh uang kan. Yasudah, ketemu kan jawabannya. Tinggal bagaimana diatur sedemikian rupa saja.

Tugasmu membuatnya tenang dan sesuai pada tempatnya

Kalau kamu kayak gitu-gitu aja, orang akan bosen sama kamu.

Gimana-gimana? Aku hidup untukku sendiri kok, bukan menjadi bahan hiburan mereka. Jadi nggak masalah mereka akan bosan atau nggak.

Aku cuma mengingatkan. Hidup bukan tentang dirimu sendiri. Kita makhluk sosial yang punya tugas untuk berinteraksi dengan manusia lain. Berubah dan menyesuaikan lingkungan juga salah satu cara bertahan.

Iya, aku paham dengan hal itu. Tapi apa mereka memikirkan aku juga? Sederhana saja, apa mereka sudah melakukan interaksi itu? Sudahlah, mereka dan bahkan kamu tidak penting-penting amat dalam hidupku. Kenapa sok tau sekali, atau jangan-jangan, dengan bicara seperti itu denganku adalah satu bentuk interaksi dan menyesuaikan lingkungan yang kamu maksud? Kalau iya, sepertinya kamu tidak perlu lagi demikian, karena aku bukan bagian dari lingkungan itu.

"Kalau bisa pergi atau berganti peran, emangnya mau jadi apa?"

Pesan itu masih belum terbuka meski sudah terbaca dan enggan dijawab dengan sejujurnya.

Rumahku pulang ternyata ada di sini.

Aku cukup beruntung karena rajin mengabadikan apa-apa yang ada dalam pikiranku di dunia biru dongker ini. Pada kondisi seperti saat ini, saat aku hilang rasa, aku bisa kembali kesini dan membaca, lalu menemukan satu masa dimana aku pernah mengalaminya juga.

Seperti buku harian yang jujur, aku berterima kasih pada diriku yang rajin memuseumkan perasaannya. Setidaknya, aku bisa menangis sekaligus berbahagia sepuasnya

Terima kasih dunia biru dongker, terima kasih Raya

Barusan lewat konten dengan tulisan begini, "katanya kalau rekan lelakimu meminta untuk dikenalkan pada teman perempuanmu, lelaki itu sebenarny menginginkan dirimu." Untuk aku, kalimat ini tidak benar. Karena teman lelaki itu benar bertanya. Meskipun aku yang suka.

Jadi mari berpikir jernih untuk kedepannya. Aku masih bisa melakukan segala sesuatuny sendirian meskipun kadang ingin diurus jugaaa

Senandung musim,

Nggak hanya bumi yang musimnya beda-beda, manusia juga. Malah lebih banyak

Galau karena kisah hidup sendiri❌️

Galau dan makin galau setelah mendengar lagu dan atau kisah orang lain✅️

Sekomedi itu memang hidup saya. Bisa lebih galau, sedih, marah, senang, bingung dan perasaan lainnya hanya karena mendengar cerita orang lain atau sekedar mendengar lagu selewat lalu. Kadang mau menegarkan diri untuk tidak terseret arus tapi kok ya lemah sekali hati ini. Suka sekali memang menyusahkan diri sendiri dengan hal yang tidak perlu, mau memberikan justifikasi pembenaran kok udah kelewatan.

Kalau sudah begini harus gimana coba?

That song and the epic scene. Perfect and romantic public confession. Can't stop watching and listen to that haiku's Cherry read out loud.

Lights in the summer night,
make a false start in the evening sunset
In my seventeenth July
I met you
Hey sunflower,
I ask my dictionary the definition of "cute"
Words bubble up
like soda pop
A thousand roar
Words exist for the sake of expression
An evening rainbow
I have something to tell you
A piece of my great passion
Sent into your hand
I'll scream with all of my might
To you, during summers end
Yamazakura, I like the leaves that you've hidden
Yamazakura, I like those cute teeth of yours
Yamazakura, I like the leaves that you've hidden
Yamazakura, I like those cute teeth of yours
Yamazakura, I like cute words, too
Yamazakura, I like fireworks, too
Yamazakura, I like the cute smile of yours
Yamazakura, I like you, Smile
I like you!!

Remember this ya Ge, for your stupid mistake in the future:

Kalau salah minta maaf. Ngeyel nggak mengubah apapun.

Kalau temanmu marah karena kamu tapi kamu merasa tidak punya salah, coba tanya. Kalau dia tetap diam, biarkan. Kamu bukan cenayang yang bisa menebak pikiran dan hati orang lain.

Nanti, kalau jatuh cinta, jangan bodoh ya. Ingat, cinta saja tidak cukup membuatmu menjadi manusia seutuhnya.

Tertarik aja nggak cukup membuatmu bertahan. Membaca buku lebih dari tertarik untuk bisa menghabisinya dengan khidmat. Dan ini yang baru aku temukan. Terkesan pilih-pilih dan sesuai musim yang sedang dirasakan hati.

Berkenalan dengan tokoh baru yang punya cerita entah apa sementara seringnya cukup membosankan di awal perkenalan kami -- atau aku yang tidak sabaran (?) -- tetapi ketika menginjak pertengahan dan tokoh-tokoh baru muncul, cerita yang lebih rumit, rasa tertarik itu menjadi penasaran yang kuat.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana nasih tokoh-tokoh ini nanti? Apakah akhirnya akan sesuai dengan mauku? Dan lainya dan sebagainya.

Buku yang aku baca sekarang dan buku yang sebelumnya memiliki pola yang mirip: perkenalan tokoh yang lambat dan membosankan, ada banyak tokoh, dan ada satu tokoh kunci yang jika aku lupa dipertengahan cerita perkenalan, maka aku harus kembali ke awal. Tapi, kedua buku ini mempunyai pesan yang sangat dalam. Sebagai pecinta aliran slice of life dan pencari jalan hidup, dua novel ini sanggup membuatku bertahan.

1. The door to door bookstore: Schasha adalah favorit dan Carl yang menyebalkan tapi aku berharap di sini juga ada Carl

2. What you are looking for is in the library: aku belum selesai membaca ini tapi sepanjang halamanya terbalik dan bertemu Ms. Komachi, aku sangat menunggu apa yang akan terjadi pada mereka. Tidak selalu menyenangkan dalam jalannya tapi mereka menemukan yang seharusnya ditemukan. Dan aku lebih tertarik plus penasaran siapa Ms. Komachi sesungguhnya.

Tidak sabar untuk segera selesai.