Pemintal Kata

@pemintalkata

On my way 🚶‍♀️ Ebook pertama "Susah Tapi Belum Mau Nyerah" available om Google Play Book!!! Bisa ditemui juga di Instagram: azzaismuannisa dan Wattpad: pemintalkata

Kemungkinan yang Akan Datang

Pernah nggak kepikiran kalau kamu dan aku akan ketemu saat nanti udah punya keluarga masing-masing?

Mungkin kamu akan berpapasan saat aku sedang menggandeng suamiku dan aku melihat kamu sedang menggenggam tangan istrimu.

Saat itu mungkin nggak aku dan kamu akan saling sapa? Atau paling nggak saling lempar senyum lewat sorot mata. 

Jawabannya tentu bisa iya dan sangat mungkin nggak.

Atau aku dan kamu justru akan berpapasan saat sedang menemani anak bermain di playground atau nganterin anak sekolah karena kebetulan anakku dan anakmu satu sekolah.

Mungkin nggak anakku dan anakmu akan jadi teman akrab yang memaksa kita untuk saling sapa bahkan saling bicara? 

Bisa iya dan sangat mungkin nggak.

Kemungkinan itu sangat mungkin terjadi mengingat jarak kita yang dulu sedekat nadi jadi sejauh ini.

Kalau soalan letak geografis, masih bisa diakalin pakai teknologi. Tapi kalau yang udah nggak mau itu hati?

Kemungkinan berjarak dengan seseorang yang dulu dianggap dekat itu 50:50. Bisa semakin dekat atau sebaliknya.

Dan dari kemungkinan itu, jarak paling tabah adalah membiarkan sebuah kisah berjalan sesuai takdirnya hingga kedua titiknya merenggang begitu jauhnya, walau mungkin secara geografis masih bisa disebut dekat.

Jarak yang pernah dipaksa untuk terus dekat sampai lupa bahwa semesta tidak pernah beri restunya. Di saat itu, marah pada jarak adalah hal yang begitu ingin dilakukan.

Bagaimana bisa? Orang-orang yang tidak saling kenal, berkenalan, lantas dipisahkan dengan hal-hal yang seringnya tidak masuk akal?

Apa kalau bukan karena maunya semesta?

Atas jawaban paling masuk akal, biarkan dekat jauhnya jarak jadi hal paling abu-abu karena sekuat apapun diusahakan dekat, jika jauh adalah jawaban, maka mau apa juga?

Ya seperti saat kita udahan, aku juga nggak akan marah kalau kita nggak sengaja ketemu.

Terlebih setelah semuanya udah kehapus sama jejak-jejak baru.

Mungkin nggak, besok aku akan kamu ceritakan sebagai seorang yang berarti di hidup kamu kepada anak kamu?

Sebab ya mungkin saja aku akan menceritakan bagaimana pertemuan dan perpisahan kita supaya anakku nggak akan mengulang yang sama.

Gimana ya seseorang bisa disayangi dan dibenci dalam satu waktu? Gimana seseorang bisa dikecewakam dan dibuat bahagia dalam situasi yang sama? Iya, aku pernah sayang sekaligus benci kamu di satu waktu. Sayang, karena kamu pernah bikin aku sehidup itu, dan benci karena kamu juga yang meredupkannya.

Kecewa karena kenapa harus ketemu kamu tapi nggak bisa jadi punyamu. Bahagia karena aku punya banyak kenangan indah sama kamu.

Nggak pantes ya rasanya saat berumah tangga nanti, kita, atau aku, masih harus ingat-ingat tentang kita.

Tapi kan aku memang udah bilang, kalo cerita aku sama kamu nggak pernah bisa aku hapus gitu aja.

Aku nulis semuanya dan itu yang akan jadi pengingat kalau kita akan jadi sejarah meskipun kita udah jalan jauh meninggalkan.

Aku menuliskan semua bukan perkara belum mampu move on atau masih sesayang itu sama kamu. Bukan dan jelas bukan.

Aku menulis ini sebagai pengingat bahwa persimpangan kita di hari lalu sangat mungkin terulang dengan kita yang telah terlahir baru.

Good Bye, Biru!

“Ternyata akhirnya gini ya. Aku harus lihat kamu nikah tapi bukan sama aku.”

“Aku juga harus lihat kamu dinikahi sama orang lain yang bukan aku.”

Sepasang kekasih itu saling menunduk. Iya, kisah cinta tragis itu milik mereka, Biru dan Diandra.

Mereka yang sudah hampir 7 tahun menjalin kasih, melewati beragam halang rintang, namun ternyata takdir tidak mempersilakan mereka untuk bersama. Selama 7 tahun pula, Diandra mati-matian menunggu restu mama Biru.

“Aku udah nggak bisa Bi.” ucap Diandra pada suatu waktu.

“Kamu nyerah?”

“7 tahun Bi aku coba ambil hati mama kamu dan nggak berhasil. Kamu juga nggak pernah bisa kan luluhin mama kamu? Kalo kamu aja nggak bisa, gimana aku yang cuma orang asing buat mama kamu?”

“Di.”

“Aku tau ini berat. Tapi lebih berat lagi kalau aku tetep lanjut sama kamu. Kamu jadi anak durhaka dan aku akan selalu seperti ini sepanjang hidup aku. Aku nggak mau kamu lawan mama kamu hanya karena aku. Seumur hidup terlalu lama buat menggadaikan ini semua Bi.” ucap Diandra terisak.

Biru memeluk Diandra erat. Air mata mereka tumpah membanjiri pipi masing-masing. Biru yang selama terkenal tegar bahkan dihadapan Diandra sekalipun, kini tidak mampu membendung rasa kecewa dan patah hatinya.

“Kita coba sekali lagi gimana, Di?”

Diandra melepas pelukan Biru pelan.

“Aku bukan nggak mau Bi. Tapi bukannya kita udah selalu coba kata ‘sekali lagi’ itu sampai 7 tahun?”

Biru kembali terdiam, tidak mengelak karena apa yang diucapkan Diandra memang benar.

“Terus kita udah gini aja?” tanya Biru kemudian.

“Mau diperpanjang sampai kapan lagi? Hubungan kita udah masuk masa kadaluwarsanya. Udah nggak akan enak dan nyaman buat dijalanin. Kamu juga pasti ngerti kan Bi. Kalaupun kita jalan sampai salah satu dari kita menikah, terus buat apa? Bukannya itu justru bikin kita makin sakit?”

Agaknya Diandra sudah mulai menggunakan sisi rasionalnya. Ia merasa perlu mengambil sikap tegas terhadap hubungannya dengan Biru. Selama ini mereka hanya berjalan tanpa tahu tujuan yang jelas. Dan itu hanya membuat mereka saling terluka dan kesakitan.

Akhirnya, Biru pun setuju dengan keputusan yang diambil Diandra. Hubungan yang mereka bangun sejak 7 tahun lalu harus berhenti karena tidak adanya restu dari mama Biru.

***

“Pada akhirnya memang aku kan yang harus lihat kamu nikah dulu, selamat ya Bi. Akhirnya kamu nemuin perempuan yang bisa jadi teman buat mama kamu. Kamu anak yang baik, aku yakin kamu juga bisa jadi suami dan ayah yang baik. Sama baiknya dengan yang selalu aku impikan tentang kamu di masa depan.”

Sebuah pesan masuk ke direct message Biru. Diandra membalas unggahan Biru yang baru saja mengucap kata sah dengan laki-laki yang bukan ayah Diandra.

Ya Biru dan Diandra memang sepakat untuk tidak saling mengundang satu sama lain ketika menikah. Mereka hanya saling berjanji untuk tidak unfollow atau block akun sosial media satu sama lain.

“Di, aku minta maaf karena bukan kamu yang harus aku bahagiakan seumur hidup aku. Aku berharap akan ada laki-laki dari keluarga baik yang mau menerima dan menyayangi kamu sepenuhnya.”

Diandra tersenyum membaca balasan dari Biru. 

Di depan ratusan foto dan barang kenangan yang sudah siap ia bakar, Diandra terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Dan dengan satu jentik korek gas, api menyembul mengahanguskan seluruh kenangan Biru dan Diandra. Tidak ada yang tersisa selain ingatan yang meski ingin dihapuskan namun akan terus tertanam.

Source: pemintalkata

Aku tuh masih suka kaget tiap ada yang like, reblog, atau komen tulisanku di sini. Bahkan masih ada aja follower baru. Aku pikir ya udah tumblr sekarang udah nggak gitu rame. Aku nulis juga karena mau keluarin uneg-uneg aja. Jadi atas semua apresianya, aku mau mengucapkan terima kasih banyak.

Yuk kita tetap temenan di sosial media yang ramah itu. Saling sharing saling caing.

Avatar
Tidak semua yang ditargetkan harus tercapai tepat pada waktunya, beberapa harus ada yang mundur terlambat atau datang lebih cepat. Agar kita sadar bahwa masa depan itu mutlak milik Tuhan. Dan agar syukur kita bisa lebih membumi dan sabar kita bisa lebih melangit. Sabar dan syukur.
@jndmmsyhd

Di sini tuh sepi, enak banget buat pulang setelah menjelajah media sosial lain. Meski udah mulai sepi, tapi justru rasanya makin tenang. Makin nggak ada yang tau makin mudah menyampaikan perasaan-perasaan kecil yang kadang cuma mau ditumpahkan.

Dituliskan, supaya akal tetap panjang.

Tanpa Kamu tidak Seburuk Itu

Makasih ya karena telah berdoa untuk kebaikanku saat kamu pergi dulu.

Syukurnya, sekarang aku memang lebih baik.

Tanpa kamu ternyata tidak sesedih itu. Justru aku bisa lepas dan menemukan orang lain yang katamu lebih baik darimu.

Maaf kalau kamu harus menelan cerita bahagia yang aku bagikan.

Bukan apa-apa, tapi semoga kamu tidak menyesal, sama dengan kalimatmu yang selalu kamu ulang-ulang.

Ditinggal kamu ternyata memang bukan suatu hal buruk yang harus aku ratapi terus-menerus.

Source: pemintalkata

Mau produktif nulis lagi, kudu dimulai dari mana ya? wkwk. Ada aja sekarang alasannya. Ada masukan nggak kudu nulis apa? Atau blabbering ajaaa yaaaa????

Curhatan Hati Seorang Istri

Setelah menikah, aku banyak melakukan adaptasi termasuk perihal menulis.

Aku masih meraba ingin menulis yang seperti apa. Kepala berisik tapi sulit untuk ditumpahkan. Awalnya kesal, tapi makin ke sini ya udah mungkin fasenya begitu. Memasuki waktu bagian banyak bingungnya. Penyesuaian diri dan mimpi-mimpi sendiri yang masih banyak yang belum tergapai.

Tiap hari pertanyaannya sama, ini gimana ya meraihnya, rasanya kok udah sulit. Tapi terus sadar, oh alhamdulillah dapat peran kayak gini. Bingung dan nggak ngerti itu wajar kok. Lagipula udah sering kan ketemu bingung sebelum menikah pun?

Mungkin memang mimpi-mimpinya harus disubstitusi jadi cerita-cerita lain. Kalau belum hari ini, mungkin nanti kalau sudah waktunya tiba. Sekarang ya menjalani proses yang ada dulu. Berusaha atur ritme sama suami. Biar sama-sama bisa berkarya. Aku dukung mimpinya dulu, baru setelahnya aku.

Mungkin mimpi-mimpiku yang akan terwujud di masa depan bisa berubah bentuknya atau bahkan diberi yang lebih luar biasa. Who knows?

belum sekarang nggak apa-apa, nggak harus sesuai timeline yang dibuat kan? Biar Allah yang atur. Saat ini melakukan peran luar biasa dengan penuh suka cita.

Yang penting jangan dikubur mimpinya, harus tetap nyala!

Semangat untuk teman-teman di luar sana yang masih setia menghidupkan mimpinya, meski banyak hal lain yang perlu dikejar dan dijalankan lebih dulu.

Source: pemintalkata

Kengen nulisssss

Saking penuhnya isi kepala, bingung mau tulis yang mana dulu.

Gapapa ya kalau harus dimulai dari nyampah-nyampah dulu.

Itung-itung biasain lagi nulis di sini, KANGENNNNNN!!!!

Selamat Hari Azza Sedunia!

Aku pernah membuat renungan 30 hari sebelum pergantian usiaku. Aku juga pernah tidak membuat apa-apa di hari ulang tahunku.

Dan di 17 desember kali ini, aku ingin mencoba membuat cerita yang lain lagi.

Dua tahun terakhir di tanggal 17 desember rasanya benar-benar nano-nano. 17 desember 2020, 5 hari setelahnya seseorang yang aku kira akan menemani setiap ulang tahunku berikutnya memilih pamit. Satu tahun setelahnya aku kesulitan menata hidupku hingga akhirnya aku bertemu dengan 17 desember berikutnya. Dan nahasnya, 2 hari sebelum 17 desember 2021 seseorang yang sama hadir lagi, entah disengaja atau tidak. Aku kira akan ada kabar baik namun ternyata harapanku tidak lebih dari harapan. Namun kali itu, meski langkahku gontai aku tau bahwa tidak akan aku bawa lagi namanya dalam mimpi di masa depanku. Namanya mungkin abadi, namun kisahnya sudah memang harus selesai.

Merapikan hidup jadi pekerjaan rumah yang tidak lagi bisa aku hindari. Dan 6 bulan berselang, aku tidak pernah menyangka bahwa 17 desember 2022 jadi ulang tahun dengan kado paling indah dalam hidupku. Begitu baiknya Tuhan. Menukar tuntas rasa pedih yang sempat aku rasakan dengan seorang laki-laki yang dipenuhi rasa cinta dan kasih yang luar biasa besar.

Apa lagi yang harus aku kufuri saat kehadirannya mampu membuatku menjadi lebih hidup. Kedatangannya seperti mewujudkan tujuan menikahku. Mulai sejak ia mengucapkan ijab, kita akan sama-sama jadi saksi proses bertumbuh yang selama ini kita lakukan sendirian.

Untuk penciptaku, terima kasih sudah menghadirkan ia sebagai kado paling indah di chapter baru hidupku. Sekarang, merangkai cerita tidak hanya aku lakukan sendiri, karena setiap halamannya, akan selalu ada dia.

Untuk partner hidupku, terima kasih sudah datang di waktu paling tepat. Untuk cinta dan kasih yang luar biasa besar. Untuk sabar yang rasanya semakin hari semakin luas. Makasih untuk selalu ngingetin supaya kita nggak perlu memproyeksikan keluarga kita ke keluarga orang lain, karena kita selalu punya cara sendiri memaknai dan menjalani hidup. I'm so blessed punya kamu yang meski baru satu bulan, tapi aku tidak henti meminta agar perasaan sayang ini tidak henti ditumbuhkan.

Untuk mama, ayah, dan dua adik perempuanku, terima kasih tetap jadi supporter terbaik hingga detik ini.

Untuk seluruh orang-orang yang berlalu lalang di hidupku, terima kasih telah menjadi teman tumbuh yang baik. Meski beberapa harus memilih untuk tidak lagi bersinggungan, aku harap kalian menjalani hidup dengan senang. Dan untuk yang masih sudi berteman, semoga kita bisa terus saling menghidupkan.

Source: pemintalkata

Ban Serep

Hujan baru saja berhenti ketika Chaira masuk ke dalam sebuah kafe di kawasan condong catur. Ia celingak-celinguk mencari satu sosok yang akan ditemuinya sore itu.

Ia buka ponselnya, mengetuk aplikasi Instagram, dan mencari satu nama. Ketemu.

“Aku pakai kemeja hawai warna biru motif bunga ya, Cha. Pasti gampang nemunya.”

Dan benar, sedetik setelah membaca, Chaira pun menemukan sosok itu. Ia pun langsung menuju meja di mana laki-laki itu duduk.

“Hai, mas sorry i’m late.” ucap Chaira ketika sampai di depan laki-laki itu.

Laki-laki itu nampak kaget dengan suara Chaira yang tiba-tiba.

“Oh hai, Cha. Its okey. Aku juga baru sampe 10 menit lalu. Hujan ya Cha?” tanyanya ketika mengetahui baju Chaira sedikit basah terkena hujan.

“Iya tadi mas, tapi udah reda sih pas aku nyampe sini.” jawab Chaira sembari mengibaskan tangan untuk mengeringkan bajunya.

“Duduk, Cha.” ucap si laki-laki mempersilahkan.

“Thank you mas, udah pesen?”

“Belum, sengaja tunggu kamu.”

Chaira tersenyum. “Ya udah yuk pesen.” Chaira mengajak laki-laki itu berdiri menuju meja pemesanan.

“Hot chocolate no sugar satu ya mas.” pesan Chaira cepat.

“Nggak ngopi, Cha?”

“No mas, nggak bisa minum kopi. Nggak suka juga sih.”

“Harus cobain racikanku sih kapan-kapan. Americano satu ya mas.”

Setelah memesan, mereka pun kembali duduk.

“Tapi pernah coba kopi?” laki-laki itu membuka percakapan.

“Pernah, but i dont like haha. Mas Rifky pasti suka banget ya sama kopi?”

“Suka aja sih, nggak suka banget juga.”

“Suka aja tapi storynya tiap hari minum kopi.”

“Haha, iya juga ya.”

Pesanan mereka datang dan mendarat tepat di depan masing-masing.

“Kenapa no sugar?”

“Karena sejatinya cokelat itu pahit, dan aku suka pahitnya cokelat.”

“Menarik.” mas Rifky tersenyum. “Anyway thank you ya udah mau ketemu. Tau hujan, aku jemput kamu sih.” lanjutnya.

“It’s okey mas. Aku nggak biasa dijemput di pertemuan pertama. Takut diculik.” ucap Chaira jail.

“Emang cewek semenarik kamu sayang sih kalau ngga diculik.” wow mulai flirting nih si mas Rifky.

“Haha, bisa aja.” jawab Chaira sekenanya. “Tapi kita kudu makasih nggak sih ke Sita karena udah ngenalin satu sama lain?”

Ya benar. Chaira dan Rifky memang dikenalkan oleh seorang teman yang kebetulan mengenal mereka berdua. Mereka saling follow di instagram, ngobrol panjang lebar, hingga akhirnya ketemuan.

“Haha, nanti aja kali ya.” jawab mas Rifky dengan senyum jailnya.

“Nanti kapan?” tanya Chaira polos.

“Nanti kalau aku berhasil jalan lebih satu kali sama kamu.”

Yak, flirting lagi nih mas-mas. Ucap Chaira dalam hati.

“Kok diem Cha. Apa udah nggak berkenan ketemu aku lagi?”

“Oh nope, bukan bukan. Lagi mikir aja, kenapa aku harus mau jalan sama mas Rifky lagi.”

“Oke aku akan kasih alasannya ya, soon ya Cha.”

Tapi sayang, nasib baik sedang tidak berpihak ke Chaira. Setelah pertemuan pertama itu, mas Rifky justru menghilang sampai akhirnya Chaira melihat story yang berisi gambar seorang perempuan dan minuman boba dengan caption “Boba Date.”

“Anjir!” ucap Chaira refleks menggebrak meja. Untung saja kafe malam itu sedang sepi. Kalau tidak, seluruh mata pasti sudah mengarah ke Chaira.

“Apaan sih, Cha. Kaget tau.” Kata Sita yang sedang merapikan riasannya.

“Temen kamu nih, udah gila!.”

“Temen aku siapa?”

“Mas Rifky.”

“Kenapa dia?”

“Setelah nggak kasih kabar apa-apa abis ketemu, sekarang dia posting foto sama cewenya.”

Sita bergegas meraih ponsel Chaira yang masih menampilkan laman yang dimaksud.

“Nggak mungkin sih.”

“Nggak mungkin gimana? Itu instagram siapa? Mas Rifky kan? Captionnya dan fotonya apa? Pacarnya kan?”

“Rifky tuh nggak punya pacar Cha.”

“Ya kali aku ban serepnya doang, who knows?”

“Nggak, nggak mungkin. Rifky nggak kayak gitu orangnya.”

“Nyatanya?” Chaira menandaskan gelas es tehnya dan beranjak pergi meninggalkan Sita yang masih tidak percaya.

“Cha, tunggu.” panggil Sita sembari tergopoh-gopoh mengejar Chaira.

Chaira sudah berada di atas motor saat Sita sampai.

“Cha, tega banget sih ninggalin gitu aja.”

“Jujur ya, Sit. Aku bukan sakit hati karena mas Rifky punya cewek. Tapi kaalu aku emang cuma jadi ban serepnya dia, beneran nggak terima sih.”

“Tapi Rifky emang cari yang high spec sih, Cha.”

Chaira menoleh dan melotot pada Sita.

“Maksud kamu? Aku rendahan? Aku nggak lebih dari cewek yan ddia traktir boba itu? Denger ya, aku juga bisa cari yang lebih dari dia. Sorry Sit, but i dont respect to you again. Bye.”

Sita menepuk kepalaya tanda menyesal telah mengucapkan hal yang kurang tepat kepada Chaira. Dan Chaira pun sudah jauh meninggalkan Sita.

Sepanjang jalan, ia mengumpat dengan perasaan kesal.

“High spec? Apa maksudnya? Aku murah? Dih sok iye bangettt sih tuh orang. Mas Rifky kampret!” teriak Chaira ketika melewati jalanan sepi.

Dan sejak malam itu, hubungan Chaira dengan Sita pun merenggang. Meski Chaira sudah sempat minta maaf atas kesalahannya meninggalkan Sita dan marah-marah pada perempuan itu. Namun Sita sangat mengerti apa yang dirasakan Chaira.

“Sorry ya Cha, aku nggak tau rifky kayak gitu orangnya.”

Dan setelah kalimat itu, Chaira tidak lagi berhubungan dengan Sita ataupun mas Rifky.

***

Chaira sedang menunggu hujan saat satu foto baru saja diunggah di instagram story.

“Nunggu hujan reda juga, Cha?” sebuah suara mengagetkan Chaira.

Ia yang sedang duduk pun refleks menoleh ke sumber suara. Pemilik suara itu tersenyum pada Chaira.

“Mas Rifky?”

Chaira hampir tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya. Sudah hampir tiga bulan dan ia harus bertemu dengan laki-laki yang sempat ia maki habis-habisan?

“I’m sorry ya, Cha buat kesalahan aku ke kamu.”

“Yang mana ya?” jawab Chaira ketus.

“Boleh aku duduk sini?”

“Silakan, tapi aku mau pulang.”

“Masih hujan, Cha.”

“It’s okey, aku bawa jas hujan.” Chaira berdiri dan tangan Rifky sudah lebih dulu menahan tangannya sebelum berjalan lebih jauh.

“Please, let me tell you.”

Chaira menghela nafas dan kembali duduk.

“Mau jelasin apa? Cepet.” Ucap Chaira tanpa melihat wajah Rifky.

“Yang kemarin itu aku dijodohin sama mama.”

“Terus?”

“Ya aku nyoba aja karena mau nyenengin mama, tapi ternyata aku nggak bisa sama dia.”

“Terus hubungannya sama aku?”

“Ya karena hal itu aku harus jauhin kamu.”

“Oke, udah kan?”

“Cha.”

“Apalagi sih mas?”

“I’m sorry.”

“Oke, udah aku maafin juga kok.”

“Tapi kita masih bisa coba lagi kan?”

Chaira tersenyum sinis. “Setelah semua ini mas bilang mau coba? Apa yang harus dicoba? Aku rasa mas sangat bisa buat nolak permintaan untuk dijodohkan terlebih mas sedang dekat sama aku saat itu. Tapi mas nggak lakuin dan memilih mencoba dengan perempuan itu. Terus apa yang harus dicoba sama aku?”

Nah kan diem juga!

Mas Rifky tidak menjawab pernyataan Chaira. Entah karena tidak punya jawaban atau justru sedang mengaminkan apa yang Chaira katakan.

Chaira pergi meninggalkan mas Rifky yang masih duduk di kursi tempatnya tadi.

Namun baru saja Chaira hendak mengenakan helm, Mas Rifky sudah memeluknya dari belakang. Chaira kaget dan langsung melihat sekitar. Dengan cepat Chaira melepas pelukan mas Rifky.

“Apaan sih mas, nggak sopan!”

“Aku serius mau coba sama kamu Cha. You’re so addorable.”

“Ya setelah kamu tahu perempuan yang dijodohkan sama kamu nggak se-addorable aku, kan?”

Mas Rifky terhenyak kaget dengan perkataan Chaira.

“Kenapa? Kaget? Semua kalimat aku benar?”

Mas Rifky masih terdiam.

“Kata Sita mas Rifky laki-laki dengan high value dan nyari yang setara. Tapi lihat kelakuan mas Rifky buat aku mikir ulang kenapa dulu aku bisa kagum sama laki-laki yang cuma smart dari luar. I’m sorry but your attitude is so bad!”

Chaira buru-buru mengenakan helm dan pergi meninggalkan mas Rifky.

Perasaan Chaira benar-benar lega. Akhirnya ia bisa mengeluarkan perasaannya kepada mas Rifky secara langsung tepat di depannya. Meski setelah itu air mata jatuh membasahi pipinya.

Kenapa sih mau ketemu jodoh aja gini banget jalannya. aaarrggghhhhh

Source: pemintalkata

Pilu

Jam dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB, penghuni rumah sudah pergi beristirahat di kamar masing-masing. Ayah, mama, dan kedua adikku. Sejak sore tadi langit mendung tapi hujan nggak juga kunjung turun. Aku mengambil ponsel yang kuletakkan sembarangan di atas kasur, melihat notifikasi dan melemparnya kembali.

Aku kembali melihat jam dinding. Belum ada jam sembilan. Aku pun memutuskan untuk merapikan lemari pakaianku karena hal tersebut jadi kebiasaanku saat sedang gusar.

Setelah membereskan semuanya, akhirnya aku kembali melihat notifikasi di ponsel. Masih belum ada pesan darinya, kekasihku yang sudah hampir satu tahun lebih menjalani hunbungan denganku.

Ragu, akhirnya aku buka kolom chat kekasihku, dan aku kirimkan sebuah pesan untuknya. “Fan, kamu kenapa?”

Pertanyaanku tentu bukan nggak berdasar. Sudah beberapa hari ini, dia sama sekali nggak menghubungiku tanpa memberi kabar sebelumnya. Sungguh di luar kebiasannya.

Ternyata, pesanku dijawab dengan cepat olehnya.

“Nggak apa-apa.” cuma itu yang dia katakan. Aneh. Biasanya yang bilang nggak apa-apa itu kan cewek ya.

“Yakin?” tanyaku masih ragu dengan jawaban yang ia sampaikan.

“Iya, Za.”

Aku anggap jawabannya sungguhan. Tapi sehari dua hari masih sama, akhirnya pertanyaan yang sama aku tanyakan ulang. Dan jawabannya pun masih belum berubah juga, nggak apa-apa.

“Kamu mau kita udahan apa gimana?” akhirnya kalimat itu yang justru muncul. Mungkin karena aku sendiri udah merasa semuanya terlalu melelahkan.

“Kamu mau gitu?” jawabnya, balik bertanya.

“Aku sih nggak mau ya, kamu?”

“Aku tiba-tiba nggak yakin sama kamu, Za.” Jawaban yang sama sekali nggak pernah aku prediksikan akan terlontar. 

Nggak yakin? Apaan tiba-tiba nggak yakin? tanyaku dalam hati.

“Kenapa, Fan?”

“Ya dari kemarin aku ngerasa makin nggak yakin sama kamu.”

“Kurangku yang mana yang bikin kamu nggak yakin?”

“Nggak tau, Za.” Mulai terbaca bau-bau alasan dari balasannya.

“Kamu butuh waktu buat mikir?”

“Boleh?”

“Boleh, take your time. Berapa lama yang kamu butuhin?”

“Satu bulan?” Wow lama juga ya. Tapi okelah, daripada hubungan yang udah terbangun ini harus berakhir di kata udahan.

“Oke, aku kasih kamu waktu kamu satu bulan. Selama satu bulan itu kita saling instrospeksi diri ya.”

“Oke, Za.” 

Oke doang nih? Biasanya panjangan. Padahal nggak bayar loh per karakternya.

“Selama satu bulan aku nggak boleh sama sekali hubungin kamu?” tanyaku lagi.

“Iya, nggak usah aja ya, Za. Biar aku juga bisa mikir jernih.”

air kali ah, jernih.

“Oke, deal. See you satu bulan lagi. Jaga diri baik-baik ya. Aku sayang kamu.”

Nggak ada balasan dari dia. Sekadar “aku sayang kamu juga” aja nggak.

Satu bulan yang tiba-tiba rasanya lama banget. Notifikasi handphone yang biasanya nyala dari bangun sampai tidur lagi, yang biasanya selalu ada setiap hari, saat itu nggak ada. Hening. Cuma sesekali aja liat instastory-nya, padahal dia sendiri jarang banget bikin story. Arrrggg bisa gila nih!

Satu bulan satu minggu. Belum juga ada kabar. Karena udah nggak tahan akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya duluan.

“Hai, Fan. Apa kabar? Anyway udah satu bulan lebih nih.” begitu pesanku yang aku kirimkan padanya.

Nggak perlu waktu lama, aku melihat notifikasi typing. Cepet juga nih.

“Hai, Za. Baik.” begitu balasnya.

Udah gitu aja. Nggak ada kalimat kangen atau semacamnya. Wow sungguh menakjubkan.

“Bisa kita bicara malem nanti? Agak malem sih, nunggu orang rumah tidur.”

“Oke boleh.” 

Apaan sih ini? Hai? Boleh? Apa kita adalah orang asing?

Pukul 23.00 WIB di bulan Januari. Diiringi rintik hujan di luar kamar, aku memanggil satu kontak yang masih setia ada di paling atas.

“Halo.” ucapku dengan nada suara yang sedikit bergetar. Maklum grogi.

“Hai, Za. Apa kabar?” jawabnya dengan nada yang lebih santai. Kok bisa santai sih?

“Baik juga, Fan.”

“Sekarang lagi di rumah atau di Jogja?”

“Di rumah nih.”

“Syukurlah.”

Dan setelah itu suasana hening.

Nggak ada inisiatif membuka obrolan apa gitu? Oke nunggu dia kelamaan, maka mari aku yang buka.

By the way, Fan. Ini udah sebulan lebih sejak kamu minta waktu sih, Fan.”

“Iya aku tau.” 

Tau dan diam aja?

“Terus? Kalau aku nggak hubungi kamu, kamu bakal diam aja? Nggak akan hubungi aku balik?”

“Akan, tapi belum dalam waktu dekat.”

Wow! Bener-bener agak lain ini cowok satu ya. Oke inhale exhale, rileks.

“Perjanjiannya kan satu bulan, Fan.” aku memilih mengeluarkan kalimat itu.

“Iya aku tau, tapi aku masih bingung.”

Bingung apa ya?

“Dapet apa aja kamu selama sebulan?”

“Nggak ada, Za. Aku cuma kerja, main game, sama pergi jalan buat refreshing. Udah gitu-gitu aja.” 

Bener-bener pengen ngamuk banget nih. Satu bulan aku muhasabah diri dan dia cuma kayak gitu? Ada gila-gilanya sih ini orang.

“Yang lain? Berdoa, cari petunjuk yang di atas, or something? Tentang hubungan kita gitu, Fan?”

Dia terdiam, nggak menjawab.

“Jadi gimana, Fan?” tanyaku lagi akhirnya. 

“Keputusanku masih sama, Za. Aku nggak bisa sama kamu.”

Oke, tahan. Nafas dulu, tapi ternyata susah buat nggak marah.

You don’t make sense, Fan! Kita nggak pernah ada bahasan apapun sebelumnya. Kamu nggak pernah protes apapun. Kita baik-baik aja, bahkan teramat baik tapi tiba-tiba kamu bilang nggak bisa?”

Dia masih terdiam.

“Ada orang lain?” cecarku.

“Nggak, Za. Aku cuma nggak bisa aja sama kamu.”

“Ya tapi nggak bisanya kenapa, Fan? Give me explanation dong.”

“Aku ngerasa bukan kamu orangnya. Kita tuh nggak cocok.”

What a jsadhzhd. Nggak cocok dia bilang? Kenapa selama ini diam aja seolah nggak ada apa-apa?

Aku kembali mengatur nafasku sebelum melanjutkan. “Nggak ada pasangan yang 100% cocok, kan, Fan?”

“Iya, tapi aku nggak bisa sama kamu.”

“Kenapa?” aku masih terus bertanya. Masih belum terima dengan jawabannya.

“Kita sama-sama keras kepala, Za. Dan aku nggak bisa sama hal itu.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Ya aku udah ngamatin sendiri gimana kita saling pegang ego masing-masing dan itu yang buat aku nggak bisa.”

“Tapi kamu nggak pernah ngomong, Fan. Aku nggak pernah tau kamu ada masalah di hal itu. Coba kamu ngomong, semuanya bisa kita bicarakan, kan? Nggak tiba-tiba pergi kayak gini.”

“Aku nggak mau nyakitin kamu, Za.”

“Terus ini apa? Kamu udah nyakitin aku, Fan.” jawabku sembari menahan air mata.

“Kamu tuh perempuan yang menyenangkan dan aku nggak bisa nggak setuju sama itu. Tapi aku nggak bisa sama kamu, Za. Aku nggak bisa bangun rumah tangga sama kamu”

I hope it’s not real! Berkali-kali aku menepuk pipiku bergantian tapi ternyata ini nyata.

“Kamu masih sayang nggak sama aku?”

Lagi-lagi dia terdiam. Oh fix nggak sayang lagi sih ini.

“Kenapa diam?”

“Pokoknya aku nggak bisa sama kamu, Za. Kamu berhak dapet yang lebih baik dan itu bukan aku.”

“Kamu beneran udah nggak sayang sama aku?”

“Anggap aja iya supaya kamu lebih mudah buat move on ya.”

Aku mulai menangis, bingung harus menanggapi kalimatnya dengan jawaban apa.

“Za, please stop. Aku nggak suka denger kamu nangis gini.”

“Tapi kamu yang bikin aku nangis, kan?”

“Maaf ya, Za. Aku tau aku nyakitin kamu banget.” ucapnya dengan suara lemas. Entah sungguhan menyesal, atau hanya pura-pura.

“Kita kasih kesempatan buat hubungan ini sekali lagi ya, Fan? Kita coba lagi?” aku masih belum menyerah dengan usahaku.

“Nggak bisa, Za.”

“Kita belum coba.”

“Aku udah tau endingnya pasti nggak sama-sama.”

Wow dia sudah seyakin itu. Apa perpisahan ini juga sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari? Ke mana kalimatnya yang nggak ingin lagi main-main itu? Mana kalimatnya yang nggak akan ganti aku sama sosok lain lagi?

“Ya udah ya, Za. Pokoknya kamu harus bahagia. Jangan sedih-sedih terus. Cari orang yang lebih baik dari aku ya. Udah malem, kamu istirahat ya. Makasih buat selama ini.”

Klik. Telepon dimatikan sepihak.

Hubungan yang dibangun dengan susah payah ini cuma berakhir dengan makasih? Mbak kasir indomaret juga bisa bilang makasih.

Aku ingin sekali berteriak, tapi sadar ini di rumah dan sudah tengah malam.

Dan malam itu aku sama sekali nggak tidur. Seseorang yang sudah aku daftarkan untuk menemaniku melakukan apa saja mendadak pergi. Semua mimpi yang sudah aku hidupkan, diredupkan hanya karena keraguan yang nggak mendasar karena nggak pernah dibicarakan.

***

Satu tahun setelahnya, hidupku mendadak berubah. Aku yang sebelum putus dengannya harus memutuskan resign dari kantor lama seolah dapat kesedihan beruntun yang tak terkira. kalau kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula!

Dan setelah segala upaya dan banyaknya air mata yang turun di pipi, mantan kekasihku mendadak menghubungiku.

Sebenarnya nggak bisa dibilang mendadak juga. Sebab kali itu bukan kali pertama. Semenjak putus, dia masih beberapa kali me-reply story juga minta maaf saat lebaran.

Dan malam itu, dia kembali datang mengirimkan sebuah pesan.

Semoga bukan undangan. Doaku dalam hati. Ya gimana ya, aku juga belum siap kalau harus tau dia nikah duluan.

“Hai, Za. Di Jogja?”

Tanyanya to the point. Aku memicingkan mata. Ada apa lagi sih?

“Iya, kenapa lagi?”

“Aku mau ngajak kamu ketemu kalau berkenan.”

Oh My God! Ketemuan! Kenapa mendadak? Apa dia menyesal? Apa akan ada adegan balikan?

“Boleh.” dan anehnya tanpa babibu aku jawab pesannya dengan jawaban boleh. Aduh bego!

“Beneran, Za? Kalau besok malam bisa?”

“Bisa.”

“Oke, besok aku jemput ya.”

“Oke.”

See you, Za.”

Aduh kalau dipikir-pikir gila juga ya aku iyain ajakannya. Mana pakai dijemput segala. Tapi ya emang masih ngarep sih, jadi gimana dong.

Dan malam itu pun datang. Dia menjemputku dengan mobilnya di ujung gang indekosku. Aku membuka pintu, melihat wajahnya dengan jelas meski saat itu gelap. Aku tersenyum dan mengajaknya bersalaman.

“Apa kabar, Za?” tanyanya lengkap dengan senyumnya

As you can see, baik. Kamu?”

“Aku juga baik.”

Aku hanya mengangguk.

“Mau makan di mana?” tanyanya sembari mengganti playlist.

“Mana aja, aku ngikut.”

“Oke.”

Dan suasana kembali hening. Untung ada suara Tiara Andini yang mengalun, ya walau jadinya dapet banget sih galaunya HAHAHA.

By the way kamu dapet kerja di Jogja lagi? Di mana?” tanyanya membuka pembicaraan. Mungkin dia juga menyadari kecanggungan di antara kami yang harusnya nggak perlu ada kalau setahun yang lalu dia nggak mutusin aku.

“Iya, tapi kayaknya kamu nggak perlu tau ya.”

“Oke deh, kalau aku nggak boleh tau.”

Dan setelah kecanggungan itu, nggak tau kenapa aku tiba-tiba bisa lancar bercerita. Semacam ketemu kekasih setelah LDR setahun lamanya. Rasanya seperti pulang.

Aku dan dia tiba di sebuah tempat makan. Nggak terlalu ramai karena mungkin kita datang di hari rabu.

“Sampai kapan di Jogja, Fan?” tanyaku padanya. Pertanyaan yang dulu selalu aku tanyakan setiap kali sedang pulang ke Jogja.

“Akhir minggu ini kalau nggak ada halangan.”

Aku menganggukkan kepala tepat ketika pramusaji datang menawarkan menu. Kami pun memilih menu kami masing-masing.

Sepanjang makan malam, nggak ada percakapan penting yang berarti. Hanya basa-basi yang nggak tau kenapa justru bisa menyenangkan sekali.

Setelah makan, dia mengajakku pulang. Aku yang masih ingin tau maksud ajakannya bertanya-tanya. Ini beneran nggak mau ngomong apa-apa?

Benar saja, ia langsung mengarahkan mobilnya menuju indekosku. Karena nggak ingin penasaran, saat mobil berhenti di lampu merah, akhirnya aku buka suara.

“Nggak mau ngomong apa-apa gitu, Fan?” Hhhhh kenapa selalu aku yang mulai lebih dulu?

“Ngomong apa ya, Za.”

“Nggak mungkin dong beberapa kali kamu ngajakin aku ketemu tapi cuma basa-basi sama makan aja?”

Dia menggaruk kepalanya yang aku yakin nggak gatal.

“Ngomong aja, Fan.”

“Ya itu sih, Za. Mau ngajak ketemu aja, mau minta maaf. Terakhir kan udahannya cuma lewat telepon, terus kayaknya kamu kecewa banget sama aku.”

Ya iyalah kecewa banget. Pernyataan apaan sih. Beneran udah nggak bener nih orang.

“Kamu nyesel udahan sama aku?” bodo amat dengan rasa malu. Aku butuh tau apa perasaannya saat ini.

“Nggak sih, Za. Kamu memang lebih baik tanpa aku. Sebaliknya aku.”

Damn! Please mau tenggelam aja rasanya! Tolong, jangan nangis sekarang Za! 

Dan setelahnya nggak ada percakapan di antara kami hingga mobilnya berhenti di depan gang indekosku. Sepanjang jalan pulang, aku nggak berniat mengajaknya berbicara lebih dulu, sebaliknya dia pun sepertinya begitu.

“Udah sampai, Za.” katanya ketika mobil berhenti tepat di depan gang indekosku. Aku sempat melihat jam dan ternyata baru pukul 20.30 WIB. Biasanya jalan sama dia itu minimal 2 jam. Nah ini, satu setengah jam aja nih? Udah kayak durasi les private.

Aku melepaskan seatbelt dan bersiap turun, namun kemudian ia mengucapkan sebuah kata-kata.

“Makasih ya, Za. Pokoknya, kamu harus hidup bahagia ya!” 

Gimana coba caranya?

Aku hanya tersenyum dan turun dari mobil. Namun belum sempat melangkah, aku kembali menengok ke dalam mobi.

“Ada yang ketinggalan, Za?” tanyanya saat menyadari aku melongok ke dalam mobilnya.

“Nggak sih, cuma kayaknya ini jadi kali terakhir kita ketemu secara sengaja kayak gini ya.”

Dia terdiam sebentar, lalu melanjutkan  “Oh gitu?” Terdengar nada kecewa dari suaranya.

“Iya, soalnya mau ketemu lagi buat apa juga.”

“Oke, deh kalau itu mau kamu. Tapi kita masih temenan kan?

Aku tersenyum yang juga dibalas senyum olehnya. “Memangnya sebelum jadian kita pernah temenan?”

Ia pun terdiam.

“Hati-hati, Fan.” ucapku kemudian.

“Iya, aku duluan ya. Sekalian ijin mau balik Jakarta.”

Aku nggak menanggapi ucapannya dan langsung menuju indekos. nggak perlu waktu lama, air mataku tumpah seketika. Ternyata dia benar-benar udah bisa hidup tanpa aku. Sedangkan aku masih berharap dia kembali(?)

Pertemuan itu menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena aku seperti pulang ke rumah. Menyebalkan karena ternyata harapanku nggak pernah jadi nyata. Tapi setidaknya aku jadi lega. Aku nggak perlu bertanya-tanya perihal kehadirannnya tempo hari yang masih suka membalas story dan menanyakan kabar. Ya ternyata dia hanya ingin mengakhiri dengan caranya, bukan mau kembali menjalin hubungan.

Mengetahui ini, setidaknya aku tau bahwa memang sudah nggak ada yang perlu diharapkan lagi. Semua memang sudah selesai, yang harusnya aku sadari sejak satu tahun sebelumnya. Tapi ya udah lah ya. Hidup nggak berhenti meski dia udah nggak sama aku.

Agaknya mungkin itu tanda semesta untuk aku supaya menjemput kisah cinta berikutnya.

“Gimana rasanya hidup setelah kehilangan orang yang ingin sekali kamu ajak hidup bersama?”

Satu pertanyaan dari salah satu pengguna sosmed, yang ketika aku membacanya langsung flashbacknya ke kejadian itu. 

Nggak tau kenapa ya, tapi kalau pertanyaannya ini jawabannya bisa panjang atau sekalian nggak bisa jawabannya karena terlalu membingungkan.

Kenapa ada seseroang yang nggak pernah diminta, datang tiba-tiba, membuat semua kriteria jadi nggak ada, lantas pergi begitu saja.

Mungkin itu yang kata orang datang cepat hilangnya pun cepat.

Pertama dia pergi, yang ada dipikiran langsung di mana aku harus mencari penggantinya? Sedang dulu aku nggak pernah mencarinya. Ia datang sendiri tanpa aku tau maksud kedatangannya.

Lalu, setelahnya bagaimana dengan hidupku? Dengan mimpi yang aku bangun selalu berdua dengan dia? Bagaimana aku bisa mewujudkannya jika hanya sendirian saja?

Selanjutnya, terus bertanya-tanya yang kemarin itu sebenarnya apa? Khayalanku saja? Atau memang dia yang terlalu pandai susun rencana?

Selepas kepergiannya, hidupku benar-benar kacau dan berantakan. Tidak ada satu malam pun yang tenang tanpa tangisan.

Jalanan sepulang aku bekerja jadi saksi air mata ini turun tanpa permisi. Ada satu titik tepat di salah satu lampu merah yang bahkan aku masih bisa jelas melihat ada dia yang mengelus kepalaku.

Rasanya terlalu berat.

Dulu, tanpa perlu aku minta, aku akan jadi yang pertama mendengar kabarnya. Setelah kepergiannya, aku harus sabar menunggu dia mengunggah kabar melalui laman media sosialnya.

Nada dering pesan khusus untuknya tidak lagi bisa aku dengar karena memang dia sudah tidak mengirimiku pesan.

Dan satu tahun setelah kepergiannya yang sungguh tiba-tiba, dia mengajakku bertemu untuk berbicara.

Aku kira ini akan jadi akhir dari seluruh penderitaan. Harapan untuk kembali aku kira akan ada lagi. Aku sudah membayangkan rasanya pulang dan memeluk rindu yang sudah satu tahun aku simpan.

Namun manusia memang jangan gantungkan ekspektasi berlebihan. Sebab seringnya sakit saat gagal. Dan benar. Jangankan ajakan untuk berbaikan, alih-alih dia justru aku yang membuka pembicaraan.

Aku tanya apa maksudnya dan katanya hanya ingin bertemu saja, sebab dulu pamitnya hanya sempat melalui panggilan telepon karena terhalang jarak Jogja-Jakarta.

Aku menahan air mataku agar tidak tumpah di depannya. Walau aku sangat ingin melakukannya. Aku tau dia sangat membenci melihatku menangis. tapi sayang, air mataku justru akrab bersekongkol dengannya.

Ceritaku malam itu tumpah. Aku benar-benar seperti pulang namun saat aku lihat lagi rumah itu ternyatanya semuanya semu.

Dia yang aku kira rumah sudah rata dengan tanah. Pergi tanpa menyisakan pesan apa-apa kecuali berharap aku bisa selalu bahagia.

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Bagaimana bisa seseorang yang sudah lebih dulu menyakiti berharap kebahagiaan datang ke dalam hidupku?

Padahal dia jelas tahu, salah satu kebahagiaanku adalah tumbuh dan hidup dengan dia.

Setelah pintu mobil aku tutup rapat, setelah aku memutuskan berjabat tangan dengannya, aku berkata bahwa tidak ada lagi pertemuan sengaja di antara kita. Tidak untuk satu kali, dua kali, atau seterusnya.

Sebab sebelum dengannya, kita bukanlah siapa-siapa. Dan aku lebih nyaman saat kita kembali melakukannya. Bukan menjadi teman seperti harapannya.

Dan setelah malam itu, aku sadar bahwa di antara kita memang tidak lagi ada hubungan apa-apa. Hubunganku dengannya memang sudah berakhir satu tahun lamanya. 

Tangisanku kembali pecah malam itu. Membayangkan dia melakukan hal-hal yang sempat kita lakukan berdua bersama perempuan barunya.

Sungguh rasanya menyakitkan.

Tapi nyatanya Tuhan tidak ijinkan kita untuk kembali bersama. Tuhan mau kita berpisah. Tuhan hanya menghadirkan hampir yang hanya berujung mampir.

Mari mencari circle yang lebih positif dan suportif. Karena yang supportif nggak sesuportif itu ternyata :') wkwkwk ngeluh muluuu

Aku baru saja melihat archive story satu tahun lalu. Ternyata hampir semuanya tentang kamu. Bukan, bukan tentang kebersamaan aku sama kamu. Tapi tentang perpisahan kita.

Semua tulisanku, tulisan orang lain, hal-hal yang berbau tentang kamu, semuanya tumpah dalam satu tahun itu.

Sampai puncaknya ya kamu ngajakin aku ketemu. Katamu karena mau minta maaf karena pamitan sama aku cuma lewat telepon dan belum sempat ketemuan.

Ternyata upayamu membalas semua unggahanku adalah untuk mengajak itu. Tapi aku memang belum siap sampai dua hari sebelum ulang tahunku entah kenapa aku merasa lebih siap walau sampai sekarang kalau harus ketemu kamu secara tiba-tiba, aku pasti nggak mampu.

Dan setelah pertemuan itu rasanya campur aduk. Ya senang tapi banyak sedihnya.

Di malam itu akhirya aku tau bahwa seluruh harapanku tentang kita yang mungkin saja bisa kembali bersama runtuh seketika. Memang harusnya aku sudah tau dari satu tahun yang lalu, tapi ya mencoba berpikiran baik sama semesta. Yang ternyata hasilnya memang nggak berubah juga.

Kamu tetap memilih melanjutkan perjalananmu tanpa aku di sebelahmu. Kamu memang hanya ingin menyampaikan maaf dan salam perpisahan. Nggak lebih dari itu. Dan aku yang sudah bersiap mendapat kabar senang harus menggantinya jadi tangisan paling panjang.

Sakit sekali rasanya saat itu. Mungkin itu adalah patah hati terberat karena banyak sekali semoga yang aku langitkan untuk bisa hidup sama kamu.

Tapi setelah setahun berlalu, saat akhirnya aku bisa terima bahwa memang ini jalannya, aku percaya bahwa kepergianmu jadi hal baik yang nggak perlu aku sesali.

Kita memang hanya dua orang yang sama-sama menjadi persinggahan karena kebetulan sama-sama kelelahan. Dan saat waktunya habis, kita akan kembali melanjutkan perjalanan sebagaimana di awal, sebelum kita berkenalan. Kita nggak lebih dari sebatas hampir yang cuma mampir.

Source: pemintalkata
Jangan Lihat Satu Sisi

Saat kita merasa capek, lihat orang lain enak, buru-buru ingat kalimat “jangan cuma lihat satu sisi.”

Enak, nyaman, menurut orang bisa jadi nggak seperti itu menurut kita. Jadi ingat, “jangan cuma lihat satu sisi.”

Hidup orang yang terlihat mewah nggak selamanya seperti itu. Kita nggak tau berapa beban yang ditanggung dan perasaan apa yang dirasakan setiap kali kemewahannya bertambah. Jadi, “jangan cuma lihat satu sisi.”

Mereka yang kita anggap kaya karena punya barang mewah sebenarnya sedang kehilangan kekayaannya, jadi “jangan cuma lihat satu sisi.”

Kalau yang kita lihat hanya apa yang terekam dalam gambar maka sudut pandang menilainya pun akan jadi kurang luas. Jadi “jangan cuma lihat satu sisi.”

Merasa capek ngikutin update kehidupan orang lain, makanya banyakin aja lihat hidup sendiri. Benahi apa yang perlu diperbaiki. Nggak perlu bandingin sama hidup mereka yang dari awal memang beda.

“Jangan cuma lihat satu sisi” akan bantu kita untuk nggak perlu membandingkan diri sama urusan orang lain, karena yang harus dipikirkan memang diri sendiri aja.

Nggak perlu ngitung berapa pendapatan orang lain sampai bisa beli ini dan itu. Nggak perlu kepo apa yang bikin dia sampai terlihat beruntung seperti di sosial media.

Tetap berjalanlah di garis sendiri dan berpikiran positif kepada yang memberikan hidup. Mungkin nggak langsung tau maknanya. Tapi setidaknya bisa lebih tenang dengan berpikiran, “Nggak mungkin nggak ada jalan keluar dan banyak hal baik di depan.”

Hidup nggak serta merta mudah, makanya lahir kata berjuang.

Semangat berproses teman-teman 🤎

Source: pemintalkata

Pertanyaan Tanpa Jawaban

Tidak semua tanya punya jawabannya. 

Tidak harus menunggu kemarin, hari ini, atau besok. 

Kalau tidak ada jawabannya ya memang tidak ada. Mungkin salah pertanyaannya, mungkin kurang tepat waktu tanyanya, atau kemungkinan lainnya.

Sama halnya seperti perasaan. Yang sempat aku tanyakan padamu. Apakah kamu punya perasaan yang sama atau tidak, tapi berujung tidak ada jawaban.

Jadi mau tanya atau disimpan saja, jawabannya tetap akan sama. 

Pertanyaanku akan selamanya berbentuk pertanyaan sebab kamu enggan menjawabnya. 

Dan atas ketidakmampuanmu menjawab, aku juga tidak serta merta bisa menyimpulkan apa-apa.

Tidak berarti iya, atau bukan berarti bukan.

Semuanya abu-abu, akan seperti itu sepanjang hidupku. Dari pertama kenal sampai akhirnya pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Dan aku sama sekali tidak menyesal sudah bertanya padamu. Sebab dari pertanyaan itu, setidaknya kamu juga memiliki beban yang sama yaitu tidak menjawabnya seumur hidupmu, meski tau ada pertanyaan itu.

Kamu dan aku akan sama-sama melanjutkan hidup dengan menyimpan itu semua.

Dan atas semua yang pernah kita lalui, kamu menganggapnya atau tidak, kamu mengakuinya atau tidak, bagiku itu akan tetap nyata dan pernah kita lakukan berdua.

Maaf jika pertanyaanku yang terlalu terlambat harus mengusik hidupmu. Maaf jika kamu jadi tidak nyaman atas tanya tiba-tiba yang aku lontarkan.

Tapi nyatanya, memang baru sekarang aku punya keberanian. Yang entah kenapa rasanya minta untuk disampaikan.

Namun jika kamu memilih tidak menjawab, maka aku hargai keputusanmu.

Terima kasih pernah mengajakku membuat kenangan menyenangkan. Semoga kamu selalu bertemu hal-hal baik di depan!

Source: pemintalkata

Aku anggap ketidakmampuanmu menjawab pertanyaanku sebagai sebuah jawaban iya.

Iya kalau kamu pernah sama sayangnya sama aku. Meski aku sendiri juga nggak pernah tau kapan peraaan itu muncul.

Mungkin saat pertama bertemu. Mungkin saat kamu kerap kali mengajakku makan. Mungkin saat kamu membawakan oleh-oleh dari liburanmu. Mungkin saat kamu mengantarkan bingkisan sebagai temanku mengerjakan laporan. Mungkin saat kamu mengajakku menonton pertandingan bola. Mungkin saat kamu membelikanku harum manis di pasar malam. Mungkin saat kamu menjadikan fotoku sebagai wallpaper di handpone-mu. Mungkin saat kamu berusaha cari tau kabarku. Atau mungkin justru di saat kamu meminta aku bertemu kamu untuk kali terakhir.

Entah yang mana tapi perasaan itu nyata. Sayang, dari awal aku tau kita nggak akan bisa sama-sama. Karena seperti yang selalu aku bilang, aku akan tetap jadi yang nomor dua atau bahkan nomor sekian di hidup kamu.

Saat kamu akhirnya mengirimkan kabar itu, aku senang, karena aku jadi tau kalau kamu memang nggak pernah main-main dengan dia. Dan sejak saat itu juga aku tau bahwa sudah seharusnya aku menutup seluruh akses untuk menjalin komunikasi denganmu.

Dan seiring berjalannya waktu, selamanya aku membiarkan seluruh pertanyaanku berakhir sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang nggak perlu punya jawaban karena dari awal memang seharusnya nggak ada kita yang perlu dikisahkan.

Sejak awal, harapan membangun kisah ini sepertinya memang hanya punyaku saja. Kisah ini memang nggak seharusnya jadi cerita panjang karena waktu dan keadaan yang serba nggak memungkinkan.

Aku memang hanya sebatas figuran yang nggak akan pernah jadi pemeran utama perempuan di hidup kamu. Iya, cuma berlalu lalang. Sekadar mampir dan bahkan nggak sempat menyentuh kata hampir.

Tapi untuk semua kebaikan yang pernah kamu berikan, aku sampaikan terima kasih. Mari melanjutkan perjalanan tanpa saling kasih kabar.

Source: pemintalkata

Hari yang harusnya jadi hari perjuangan, tapi harus direlakan karena banyaknya pertimbangan. Belajar ikhlas nggak udah-udah :')

Hidup selalu tentang keputusan-keputusan yang harus diambil

Di satu keadaan rasanya ingin sekali mengambil semua kesempatan sebab takut di depan nanti nggak ketemu sama kesempatan yang sama lagi

Setengah mati bimbang memilih mana yang harus dijalani

Meski ingin semua, nyatanya nggak bisa jadi punya semuanya

Memang ada yang harus direlakan dengan menghidupkan doa dan harapan supaya dapat kesempatan yang lebih baik kemudian

Dan dalam perjalanannya, meski rasanya akan nggak nyaman, perlahan bisa ambil makna bahwa apapun yang diputuskan di hari lalu selalu punya konsekuensi yang nggak terhindarkan

Alih-alih menyesal, semesta minta supaya jalani hidup hari ini dengan sebaik-sebaik perjuangan dan menata hari depan dengan bijak meski nanti harus bertemu dengan persimpangan-persimpangan lain yang nggak kalah memusingkan

Ya, agaknya memang begitu kan seni menjalani kehidupan?

Source: pemintalkata