Mungkin Dia Menyesal (?)
Satu notifikasi memberitahukan bahwa ada pesan masuk di akun instagramku. Saat melihat pengirimnya, aku bingung. Saat membaca pesannya aku lebih terperangah. Ternyata, kisah saat aku belasan tahun itu baru terasa padanya setelah usiaku hampir 30 dan dia sudah 30.
"Kamu menikah?" Tanyanya membalas unggahan storyku.
"Iya, mas. Aku menikah."
"Kok gak bilang?"
"Buat apa ya? Kamu lamaran juga aku gak masalah kok."
"Aku batal menikah sama dia." Katanya yang sontak membuatku tertegun.
Satu tahun yang lalu, saat aku sedang patah hati hebat dengan mantan kekasihku yang terakhir, aku mendapati dia mengunggah acara lamarannya. Aku kirimkan selamat tanpa ada tendensi apa-apa.
Dia kembali mengirimiku pesan karena mungkin aku hanya membaca pesannya sebelumnya.
"Tapi gak apa-apa. Belum jodohnya aja. Malah aku pikir aku terlalu banyak muter-muter dan akhirnya sama kamu. Tapi ternyata dugaanku juga salah ya."
Kembali, aku membaca pesannya dengan penuh kebingungan. Meski harusnya tenagaku bisa disimpan untuk hal lain, tapi aku memilih meladeni pesannya, berharap tidak ada lagi hal membingungkan di antara kita.
"Aku pikir juga sama. Sayangnya, setiap kali aku memikirkan itu, aku langsung teringat sama kata-katamu saat aku masih belasan dulu. Katamu aku gak sama seperti mantan kekasihmu yang smart itu. Jadi aku gak merasa perlu memperpanjang anganku. Toh itu sudah berlalu jauh sekali. Sekarang aku sudah mau 30, kamu bahkan sudah mencapai angka itu, jadi aku pikir kita gak perlu bergulat pada hal-hal yang aku tau kamu sendiri pasti ragu."
"Lagipula, kalau memang mau mencoba denganku, gak perlu pakai pembukaan 'kamu udah tumbuh sejauh ini'. Kamu bisa langsung aja mas mengutarakan maksudmu. Kita kan sudah gak belia juga. Kecuali memang aku sebenarnya hanya opsi terakhir yang mau kamu coba karena gak kunjung mendapat yang kamu mau."
Aku sengaja mengirimkan pesan panjang karena aku merasa perlu melakukannya.
Ternyata tidak perlu menunggu waktu lama sampai dia membalasnya.
"Aku pikir, gak sebegitunya sih."
"Lalu?"
Tidak ada balasan dan aku sama sekali tidak mengharap balasan apapun juga darinya.
Perasaanku padanya sudah kuutarakan sejak aku belum ada 20 tahun. Sesaat setelah dia mengajak makan bakso yang ternyata itu jadi kali pertama dan terakhir aku pergi bersama dia.
Katanya waktu itu, dia belum bisa. Ya sudah aku juga tahu diri sebagai adik tingkat yang memang hanya bisa jadi pengagumnya.
Tahun berganti tahun, aku bahkan tidak lagi berharap bisa hidup sama dia.
Tapi ada di suatu waktu, tiba-tiba dia muncul dan menjalin lagi komunikasi yang walau ala kadarnya.
Sebentar datang, lama menghilang. Begitu terus sampai-sampai teman-temanku bilang, jangan-jangan dia jodohku.
Namun, saat aku melihat unggahan lamarannya, aku semakin yakin bahwa hidupku dan hidupnya tidak lebih dari pertemuan yang dihasilkan dari ketidaksengajaan semesta. Bahkan mungkin tidak lebih dari seorang pengagum rahasia yang ditolak mentah-mentah karena alasan yang bisa kupahami maksudnya.
Lalu di hari pernikahanku, seolah dia tidak terima?
Bukankah kita tidak lagi remaja belasan yang perlu banyak basa-basi? Lagipula, kalau ketidakterimaannya atas pernikahanku lantaran dia batal menikah lebih dulu, aku semakin yakin kalau sebenarnya aku tidak pernah ada dalam hidupnya, meski hanya seujung kuku saja.
"Sudah ya mas, harusnya kita sudah menjalani hidup masing-masing seperti yang kita lakukan selama ini. Semoga kamu mendapatkan bahagia yang selalu kamu semogakan. Aku senang bisa tahu kamu ada di dunia ini."
"Dulu, anganku pernah banyak sekali kamu di dalamnya. Tapi setelah malam itu, aku memutuskan untuk membubarkan segala harapku "
Dia membacanya, bahkan tidak berselang detik. Aku tahu dia masih ada di percakapan kita. Tapi dia memilih untuk mengabaikannya. Sama seperti dulu-dulu, aku selalu jadi yang terakhir setiap kali kita selalu berbalas pesan.
Bedanya, sekarang mungkin dia yang kesal. Dan mungkin menyesal.

