Pilu
Jam dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB, penghuni rumah sudah pergi beristirahat di kamar masing-masing. Ayah, mama, dan kedua adikku. Sejak sore tadi langit mendung tapi hujan nggak juga kunjung turun. Aku mengambil ponsel yang kuletakkan sembarangan di atas kasur, melihat notifikasi dan melemparnya kembali.
Aku kembali melihat jam dinding. Belum ada jam sembilan. Aku pun memutuskan untuk merapikan lemari pakaianku karena hal tersebut jadi kebiasaanku saat sedang gusar.
Setelah membereskan semuanya, akhirnya aku kembali melihat notifikasi di ponsel. Masih belum ada pesan darinya, kekasihku yang sudah hampir satu tahun lebih menjalani hunbungan denganku.
Ragu, akhirnya aku buka kolom chat kekasihku, dan aku kirimkan sebuah pesan untuknya. “Fan, kamu kenapa?”
Pertanyaanku tentu bukan nggak berdasar. Sudah beberapa hari ini, dia sama sekali nggak menghubungiku tanpa memberi kabar sebelumnya. Sungguh di luar kebiasannya.
Ternyata, pesanku dijawab dengan cepat olehnya.
“Nggak apa-apa.” cuma itu yang dia katakan. Aneh. Biasanya yang bilang nggak apa-apa itu kan cewek ya.
“Yakin?” tanyaku masih ragu dengan jawaban yang ia sampaikan.
Aku anggap jawabannya sungguhan. Tapi sehari dua hari masih sama, akhirnya pertanyaan yang sama aku tanyakan ulang. Dan jawabannya pun masih belum berubah juga, nggak apa-apa.
“Kamu mau kita udahan apa gimana?” akhirnya kalimat itu yang justru muncul. Mungkin karena aku sendiri udah merasa semuanya terlalu melelahkan.
“Kamu mau gitu?” jawabnya, balik bertanya.
“Aku sih nggak mau ya, kamu?”
“Aku tiba-tiba nggak yakin sama kamu, Za.” Jawaban yang sama sekali nggak pernah aku prediksikan akan terlontar.
Nggak yakin? Apaan tiba-tiba nggak yakin? tanyaku dalam hati.
“Ya dari kemarin aku ngerasa makin nggak yakin sama kamu.”
“Kurangku yang mana yang bikin kamu nggak yakin?”
“Nggak tau, Za.” Mulai terbaca bau-bau alasan dari balasannya.
“Kamu butuh waktu buat mikir?”
“Boleh, take your time. Berapa lama yang kamu butuhin?”
“Satu bulan?” Wow lama juga ya. Tapi okelah, daripada hubungan yang udah terbangun ini harus berakhir di kata udahan.
“Oke, aku kasih kamu waktu kamu satu bulan. Selama satu bulan itu kita saling instrospeksi diri ya.”
Oke doang nih? Biasanya panjangan. Padahal nggak bayar loh per karakternya.
“Selama satu bulan aku nggak boleh sama sekali hubungin kamu?” tanyaku lagi.
“Iya, nggak usah aja ya, Za. Biar aku juga bisa mikir jernih.”
“Oke, deal. See you satu bulan lagi. Jaga diri baik-baik ya. Aku sayang kamu.”
Nggak ada balasan dari dia. Sekadar “aku sayang kamu juga” aja nggak.
Satu bulan yang tiba-tiba rasanya lama banget. Notifikasi handphone yang biasanya nyala dari bangun sampai tidur lagi, yang biasanya selalu ada setiap hari, saat itu nggak ada. Hening. Cuma sesekali aja liat instastory-nya, padahal dia sendiri jarang banget bikin story. Arrrggg bisa gila nih!
Satu bulan satu minggu. Belum juga ada kabar. Karena udah nggak tahan akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya duluan.
“Hai, Fan. Apa kabar? Anyway udah satu bulan lebih nih.” begitu pesanku yang aku kirimkan padanya.
Nggak perlu waktu lama, aku melihat notifikasi typing. Cepet juga nih.
“Hai, Za. Baik.” begitu balasnya.
Udah gitu aja. Nggak ada kalimat kangen atau semacamnya. Wow sungguh menakjubkan.
“Bisa kita bicara malem nanti? Agak malem sih, nunggu orang rumah tidur.”
Apaan sih ini? Hai? Boleh? Apa kita adalah orang asing?
Pukul 23.00 WIB di bulan Januari. Diiringi rintik hujan di luar kamar, aku memanggil satu kontak yang masih setia ada di paling atas.
“Halo.” ucapku dengan nada suara yang sedikit bergetar. Maklum grogi.
“Hai, Za. Apa kabar?” jawabnya dengan nada yang lebih santai. Kok bisa santai sih?
“Sekarang lagi di rumah atau di Jogja?”
Dan setelah itu suasana hening.
Nggak ada inisiatif membuka obrolan apa gitu? Oke nunggu dia kelamaan, maka mari aku yang buka.
“By the way, Fan. Ini udah sebulan lebih sejak kamu minta waktu sih, Fan.”
“Terus? Kalau aku nggak hubungi kamu, kamu bakal diam aja? Nggak akan hubungi aku balik?”
“Akan, tapi belum dalam waktu dekat.”
Wow! Bener-bener agak lain ini cowok satu ya. Oke inhale exhale, rileks.
“Perjanjiannya kan satu bulan, Fan.” aku memilih mengeluarkan kalimat itu.
“Iya aku tau, tapi aku masih bingung.”
“Dapet apa aja kamu selama sebulan?”
“Nggak ada, Za. Aku cuma kerja, main game, sama pergi jalan buat refreshing. Udah gitu-gitu aja.”
Bener-bener pengen ngamuk banget nih. Satu bulan aku muhasabah diri dan dia cuma kayak gitu? Ada gila-gilanya sih ini orang.
“Yang lain? Berdoa, cari petunjuk yang di atas, or something? Tentang hubungan kita gitu, Fan?”
Dia terdiam, nggak menjawab.
“Jadi gimana, Fan?” tanyaku lagi akhirnya.
“Keputusanku masih sama, Za. Aku nggak bisa sama kamu.”
Oke, tahan. Nafas dulu, tapi ternyata susah buat nggak marah.
“You don’t make sense, Fan! Kita nggak pernah ada bahasan apapun sebelumnya. Kamu nggak pernah protes apapun. Kita baik-baik aja, bahkan teramat baik tapi tiba-tiba kamu bilang nggak bisa?”
“Ada orang lain?” cecarku.
“Nggak, Za. Aku cuma nggak bisa aja sama kamu.”
“Ya tapi nggak bisanya kenapa, Fan? Give me explanation dong.”
“Aku ngerasa bukan kamu orangnya. Kita tuh nggak cocok.”
What a jsadhzhd. Nggak cocok dia bilang? Kenapa selama ini diam aja seolah nggak ada apa-apa?
Aku kembali mengatur nafasku sebelum melanjutkan. “Nggak ada pasangan yang 100% cocok, kan, Fan?”
“Iya, tapi aku nggak bisa sama kamu.”
“Kenapa?” aku masih terus bertanya. Masih belum terima dengan jawabannya.
“Kita sama-sama keras kepala, Za. Dan aku nggak bisa sama hal itu.”
“Ya aku udah ngamatin sendiri gimana kita saling pegang ego masing-masing dan itu yang buat aku nggak bisa.”
“Tapi kamu nggak pernah ngomong, Fan. Aku nggak pernah tau kamu ada masalah di hal itu. Coba kamu ngomong, semuanya bisa kita bicarakan, kan? Nggak tiba-tiba pergi kayak gini.”
“Aku nggak mau nyakitin kamu, Za.”
“Terus ini apa? Kamu udah nyakitin aku, Fan.” jawabku sembari menahan air mata.
“Kamu tuh perempuan yang menyenangkan dan aku nggak bisa nggak setuju sama itu. Tapi aku nggak bisa sama kamu, Za. Aku nggak bisa bangun rumah tangga sama kamu”
I hope it’s not real! Berkali-kali aku menepuk pipiku bergantian tapi ternyata ini nyata.
“Kamu masih sayang nggak sama aku?”
Lagi-lagi dia terdiam. Oh fix nggak sayang lagi sih ini.
“Pokoknya aku nggak bisa sama kamu, Za. Kamu berhak dapet yang lebih baik dan itu bukan aku.”
“Kamu beneran udah nggak sayang sama aku?”
“Anggap aja iya supaya kamu lebih mudah buat move on ya.”
Aku mulai menangis, bingung harus menanggapi kalimatnya dengan jawaban apa.
“Za, please stop. Aku nggak suka denger kamu nangis gini.”
“Tapi kamu yang bikin aku nangis, kan?”
“Maaf ya, Za. Aku tau aku nyakitin kamu banget.” ucapnya dengan suara lemas. Entah sungguhan menyesal, atau hanya pura-pura.
“Kita kasih kesempatan buat hubungan ini sekali lagi ya, Fan? Kita coba lagi?” aku masih belum menyerah dengan usahaku.
“Aku udah tau endingnya pasti nggak sama-sama.”
Wow dia sudah seyakin itu. Apa perpisahan ini juga sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari? Ke mana kalimatnya yang nggak ingin lagi main-main itu? Mana kalimatnya yang nggak akan ganti aku sama sosok lain lagi?
“Ya udah ya, Za. Pokoknya kamu harus bahagia. Jangan sedih-sedih terus. Cari orang yang lebih baik dari aku ya. Udah malem, kamu istirahat ya. Makasih buat selama ini.”
Klik. Telepon dimatikan sepihak.
Hubungan yang dibangun dengan susah payah ini cuma berakhir dengan makasih? Mbak kasir indomaret juga bisa bilang makasih.
Aku ingin sekali berteriak, tapi sadar ini di rumah dan sudah tengah malam.
Dan malam itu aku sama sekali nggak tidur. Seseorang yang sudah aku daftarkan untuk menemaniku melakukan apa saja mendadak pergi. Semua mimpi yang sudah aku hidupkan, diredupkan hanya karena keraguan yang nggak mendasar karena nggak pernah dibicarakan.
Satu tahun setelahnya, hidupku mendadak berubah. Aku yang sebelum putus dengannya harus memutuskan resign dari kantor lama seolah dapat kesedihan beruntun yang tak terkira. kalau kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula!
Dan setelah segala upaya dan banyaknya air mata yang turun di pipi, mantan kekasihku mendadak menghubungiku.
Sebenarnya nggak bisa dibilang mendadak juga. Sebab kali itu bukan kali pertama. Semenjak putus, dia masih beberapa kali me-reply story juga minta maaf saat lebaran.
Dan malam itu, dia kembali datang mengirimkan sebuah pesan.
Semoga bukan undangan. Doaku dalam hati. Ya gimana ya, aku juga belum siap kalau harus tau dia nikah duluan.
Tanyanya to the point. Aku memicingkan mata. Ada apa lagi sih?
“Aku mau ngajak kamu ketemu kalau berkenan.”
Oh My God! Ketemuan! Kenapa mendadak? Apa dia menyesal? Apa akan ada adegan balikan?
“Boleh.” dan anehnya tanpa babibu aku jawab pesannya dengan jawaban boleh. Aduh bego!
“Beneran, Za? Kalau besok malam bisa?”
“Oke, besok aku jemput ya.”
Aduh kalau dipikir-pikir gila juga ya aku iyain ajakannya. Mana pakai dijemput segala. Tapi ya emang masih ngarep sih, jadi gimana dong.
Dan malam itu pun datang. Dia menjemputku dengan mobilnya di ujung gang indekosku. Aku membuka pintu, melihat wajahnya dengan jelas meski saat itu gelap. Aku tersenyum dan mengajaknya bersalaman.
“Apa kabar, Za?” tanyanya lengkap dengan senyumnya
“As you can see, baik. Kamu?”
“Mau makan di mana?” tanyanya sembari mengganti playlist.
Dan suasana kembali hening. Untung ada suara Tiara Andini yang mengalun, ya walau jadinya dapet banget sih galaunya HAHAHA.
“By the way kamu dapet kerja di Jogja lagi? Di mana?” tanyanya membuka pembicaraan. Mungkin dia juga menyadari kecanggungan di antara kami yang harusnya nggak perlu ada kalau setahun yang lalu dia nggak mutusin aku.
“Iya, tapi kayaknya kamu nggak perlu tau ya.”
“Oke deh, kalau aku nggak boleh tau.”
Dan setelah kecanggungan itu, nggak tau kenapa aku tiba-tiba bisa lancar bercerita. Semacam ketemu kekasih setelah LDR setahun lamanya. Rasanya seperti pulang.
Aku dan dia tiba di sebuah tempat makan. Nggak terlalu ramai karena mungkin kita datang di hari rabu.
“Sampai kapan di Jogja, Fan?” tanyaku padanya. Pertanyaan yang dulu selalu aku tanyakan setiap kali sedang pulang ke Jogja.
“Akhir minggu ini kalau nggak ada halangan.”
Aku menganggukkan kepala tepat ketika pramusaji datang menawarkan menu. Kami pun memilih menu kami masing-masing.
Sepanjang makan malam, nggak ada percakapan penting yang berarti. Hanya basa-basi yang nggak tau kenapa justru bisa menyenangkan sekali.
Setelah makan, dia mengajakku pulang. Aku yang masih ingin tau maksud ajakannya bertanya-tanya. Ini beneran nggak mau ngomong apa-apa?
Benar saja, ia langsung mengarahkan mobilnya menuju indekosku. Karena nggak ingin penasaran, saat mobil berhenti di lampu merah, akhirnya aku buka suara.
“Nggak mau ngomong apa-apa gitu, Fan?” Hhhhh kenapa selalu aku yang mulai lebih dulu?
“Nggak mungkin dong beberapa kali kamu ngajakin aku ketemu tapi cuma basa-basi sama makan aja?”
Dia menggaruk kepalanya yang aku yakin nggak gatal.
“Ya itu sih, Za. Mau ngajak ketemu aja, mau minta maaf. Terakhir kan udahannya cuma lewat telepon, terus kayaknya kamu kecewa banget sama aku.”
Ya iyalah kecewa banget. Pernyataan apaan sih. Beneran udah nggak bener nih orang.
“Kamu nyesel udahan sama aku?” bodo amat dengan rasa malu. Aku butuh tau apa perasaannya saat ini.
“Nggak sih, Za. Kamu memang lebih baik tanpa aku. Sebaliknya aku.”
Damn! Please mau tenggelam aja rasanya! Tolong, jangan nangis sekarang Za!
Dan setelahnya nggak ada percakapan di antara kami hingga mobilnya berhenti di depan gang indekosku. Sepanjang jalan pulang, aku nggak berniat mengajaknya berbicara lebih dulu, sebaliknya dia pun sepertinya begitu.
“Udah sampai, Za.” katanya ketika mobil berhenti tepat di depan gang indekosku. Aku sempat melihat jam dan ternyata baru pukul 20.30 WIB. Biasanya jalan sama dia itu minimal 2 jam. Nah ini, satu setengah jam aja nih? Udah kayak durasi les private.
Aku melepaskan seatbelt dan bersiap turun, namun kemudian ia mengucapkan sebuah kata-kata.
“Makasih ya, Za. Pokoknya, kamu harus hidup bahagia ya!”
Aku hanya tersenyum dan turun dari mobil. Namun belum sempat melangkah, aku kembali menengok ke dalam mobi.
“Ada yang ketinggalan, Za?” tanyanya saat menyadari aku melongok ke dalam mobilnya.
“Nggak sih, cuma kayaknya ini jadi kali terakhir kita ketemu secara sengaja kayak gini ya.”
Dia terdiam sebentar, lalu melanjutkan “Oh gitu?” Terdengar nada kecewa dari suaranya.
“Iya, soalnya mau ketemu lagi buat apa juga.”
“Oke, deh kalau itu mau kamu. Tapi kita masih temenan kan?
Aku tersenyum yang juga dibalas senyum olehnya. “Memangnya sebelum jadian kita pernah temenan?”
“Hati-hati, Fan.” ucapku kemudian.
“Iya, aku duluan ya. Sekalian ijin mau balik Jakarta.”
Aku nggak menanggapi ucapannya dan langsung menuju indekos. nggak perlu waktu lama, air mataku tumpah seketika. Ternyata dia benar-benar udah bisa hidup tanpa aku. Sedangkan aku masih berharap dia kembali(?)
Pertemuan itu menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena aku seperti pulang ke rumah. Menyebalkan karena ternyata harapanku nggak pernah jadi nyata. Tapi setidaknya aku jadi lega. Aku nggak perlu bertanya-tanya perihal kehadirannnya tempo hari yang masih suka membalas story dan menanyakan kabar. Ya ternyata dia hanya ingin mengakhiri dengan caranya, bukan mau kembali menjalin hubungan.
Mengetahui ini, setidaknya aku tau bahwa memang sudah nggak ada yang perlu diharapkan lagi. Semua memang sudah selesai, yang harusnya aku sadari sejak satu tahun sebelumnya. Tapi ya udah lah ya. Hidup nggak berhenti meski dia udah nggak sama aku.
Agaknya mungkin itu tanda semesta untuk aku supaya menjemput kisah cinta berikutnya.