Tuhan tidak menjanjikan perjalanan yang indah, tapi Akhir yang indah.
Perjalanannya penuh liku, terjal, berkelok-kelok, menanjak, berlubang, bahkan seringkali terjatuh.
Semua akan berakhir indah tergantung bagaimana sikap yang diambil selama durasi perjalanan yang di sediakan.
Banyak jatuhnya bukan berarti gagal, tidak di sayang atau bahkan tidak di tolong.
Semua akan berakhir indah; jika dilandaskan apa yang telah dianjurkannya.
Sini aku bisiki; Al-Quran dan Hadist.
Orang Tua yang Sempurna
Memahami orang tua jadi bab esensial dari pendewasaan diri.
-
Awalnya gue gagal paham kenapa di setiap maaf-maafan, nyokap selalu bilang, “Maafin mama ya, nak. Maaf kalau belum jadi ibu yang baik”.
Kalimat itu sering terulang, tapi gue masih ngerasain keharuan yang sama. Biar bahasanya nyokap begitu, gue sadar kalau beliau selalu berjuang untuk jadi sosok ibu terbaik bagi kami.
Tiba-tiba, kalimat itu relevan pas gue jadi orang tua baru. Pas merhatiin Bara & Emir di waktu tertentu, timbul kegelisahan serupa yang khas aja gitu.
Yakni keresahan kalau gue belum jadi ayah sempurna buat mereka berdua yang udah berkembang dengan luar biasa. Baru gue tersadar makna di balik permintaan maaf khas nyokap tadi.
Beliau meresapi keresahan itu sebagai orang tua lalu menyatakannya dalam bentuk permohonan maaf yang tulus, walau sayangnya kami gagal menyikapi hal tersebut dengan cukup sesuai.
Terlebih, selepas gue mendewasa dan berusaha hidup dengan lebih mandiri, muncul anggapan bahwa kita udah layak untuk “mendakwa” orang tua.
Merasa lebih unggul sebagai manusia dewasa yang belum mandiri-mandiri betul. Merasa lebih cerdas, modern, produktif & tangkas dibanding mereka.
Terbit penilaian tentang figur ibu-bapak kita. “Nyokap gue tuh ya kurangnya gini. Nah, kalau bokap tuh…”. Semua hal dikritisi dan dijadikan amunisi untuk menghujat. Begitu kontra-produktif.
Kita yang awalnya tak berkuasa, dididik berpayah-payah. Setelah jadi lebih berdaya kemudian merasa layak memandang mereka sebelah mata?
Mestinya, kita bisa menjadikan kematangan diri sebagai modal untuk menerima & memaklumi semua kekurangan dari keduanya, sebagai manusia yang bercela - selayaknya kita.
Ketika kita mendapati kekurangan orang tua kita, di saat yang sama sebetulnya kita mendapatkan alasan tambahan untuk menjadi calon orang tua dalam versi yang lebih baik lagi.
“Karena bokap/nyokap gue begini, artinya nanti gue jangan berbuat hal yang sama ke anak-anak”. Cenderung lebih konstruktif dan produktif bukan?
Pemaknaan yang adil tentang orang tua jadi landasan penting supaya kita bisa lebih utuh dalam menata diri. Kita memang enggak sempurna, tapi harus lebih baik dari kedua orang tua kita.
Atas nama perbaikan berkelanjutan, pergiliran generasi terjadi. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi penggugat, melainkan pembawa perubahan :)
"Memang berat melepaskan sesuatu yang sudah diperjuangkan sedari dulu. Tapi kalau kamu ingat kenapa Allah memilihkanmu jalan lain, maka beratmu akan meringan dengan sendirinya.
Bukankah Allah lebih tau yang terbaik untukmu?"
- quranads
100 PERINTAH ALLAH PADA MANUSIA YANG TERCATAT DI DALAM QURAN
- Jangan berkata kasar. (QS 3 – Ali Imran : 159)
- Tahanlah marah. (QS 3 – Ali Imran : 134)
- Berbaiklah kepada orang lain. (QS 4 – An Nisaa’ : 36)
- Jangan sombong dan congkak. (QS 7 – Al A’raaf : 13)
- Maafkanlah kesalahan orang lain. (QS 7 – Al A’raaf : 199)
- Berbicaralah dengan nada halus dan bersopan. (QS 20 – Thaahaa : 44)
- Rendahkanlah suaramu. (QS 31 - Luqman : 19)
- Jangan mengejek orang lain. (QS 49 – Al Hujuraat : 11)
- Berbaktilah pada orang tua (ibu bapak). (QS 17 – Al Israa’ : 23)
- Jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua ( ibu bapak). (QS 17 – Al Israa’ : 23)
- Jangan memasuki kamar pribadi ibu bapak tanpa izin. (QS 24 – An Nuur : 58)
- Catatlah hutang-hutangmu. (QS 2 – Al Baqarah : 282)
- Jangan mengikuti orang secara membabi buta. (QS 2 – Al Baqarah : 170)
- Berikanlah lanjutan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesempitan. (QS 2 – Al Baqarah : 280)
- Jangan makan riba’/membungakan uang (QS 2 – Al Baqarah : 1)
- Jangan melakukan korupsi) (QS 2 – Al Baqarah : 188)
- Jangan ingkar atau melanggar janji (QS 2 – Al Baqarah : 177)
- Jagalah kepercayaan orang lain kepadamu (QS 2 – Al Baqarah : 283)
- Jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan (QS 2 – Al Baqarah : 42)
- Berlakulah adil terhadap semua orang (QS 4 – An Nisaa’ : 58)
- Tegakkanlah keadilan dengan tegas (QS 4 – An Nisaa’ : 135)
- Harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga (QS 4 – An Nisaa’ : 7)
- Wanita memiliki hak waris (QS 4 – An Nisaa’ : 7)
- Jangan memakan harta anak yatim (QS 4 – An Nisaa’ : 10)
- Lindungi anak yatim (QS 2 – Al Baqarah : 220)
- Jangan memboroskan harta dengan sewenang-wenangnya (QS 4 – An Nisaa’ : 29)
- Damaikanlah orang yang berselisih (QS 49 – Al Hujuraat : 9)
- Hindari perasangka buruk (QS 49 – Al Hujuraat : 12)
- Jangan memfitnah orang (QS 2 – Al Baqarah : 283)t
- Jangan memfitnah orang (QS 49 – Al Hujuraat : 12)
- Gunakan harta untuk kegiatan social (QS 57 – Al Hadid : 7)
- Biasakan memberi makan orang miskin (QS 107 – Al Maa’uun : 3)
- Bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah (QS 2 – Al Baqarah : 273)
- Jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah (QS 17 – Al Israa’ : 29)
- Jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu (QS 2 – Al Baqarah : 264)
- Hormatilah tamu anda (QS51AdzDzaariyaat26)
- Perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri (QS 2 – Al Baqarah : 44)
- Jangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS 2 – Al Baqarah : 60)
- Jangan menghalangi orang datang ke masjid (QS 2 – Al Baqarah : 114)
- Perangilah mereka yang memerangi mu (QS 2 – Al Baqarah : 190)
- Jagalah etika perang (QS 2 – Al Baqarah : 191)
- Jangan lari dari peperangan (QS 8 – Al Anfaal : 15)
- Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) (QS 2 – Al Baqarah : 256)
- Berimanlah kepada para Nabi (QS 2 – Al Baqarah : 285)
- Jangan melakukan hubungan intim di saat haid (QS 2 – Al Baqarah : 222)
- Susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh (QS 2 – Al Baqarah : 233)
- Jauhilah hubungan intim di luar nikah (QS 17 – Al Israa’ : 32)
- Pilihlah pemimpin yg pantas. Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya (QS 2 – AlBaqarah : 247)
- Jangan membebani orang di luar kesanggupannya (QS 2 – Al Baqarah : 286)
- Jangan mau dipecah belah (QS 3 – Ali Imran : 103)
- Renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini (QS 3 – Ali Imran 3 :191)
- Lelaki maupun wanita mendapat balasan yang sama sesuai perbuatannya (QS 3 – Ali Imran: 195)
- Jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu (QS 4 – An Nisaa’ : 23)
- Keluarga harus di-imami oleh seorang lelaki (QS 4 – An Nisaa’ : 34)
- Jangan pelit (QS 4 – An Nisaa’ : 37)
- Jangan iri hati (QS 4 – An Nisaa’ : 54)
- Jangan saling membunuh (QS 4 – An Nisaa’ : 92)
- Jangan membela ketidakjujuran atau kebohongan (QS 4 – An Nisaa’ : 105)
- Jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan (QS 5 – Al Maa-idah : 2)
- Bekerja samalah dalam kebenaran (QS 5 – Al Maa-idah : 2)
- Mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran (QS 6 – Al An’aam : 116)
- Berlaku adil (QS 5 – Al Maa-idah:8)
- Berikan hukuman untuk setiap kejahatan (QS 5 – Al Maa-idah : 38)
- Berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum (QS 5 – Al Maa-idah : 63)
- Dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi (QS 5 – Al Maa-idah : 3)
- Hindari minum racun dan alkohol (QS 5 – Al Maa-idah : 90)
- Jangan berjudi (QS 5 – Al Maa-idah : 90)
- Jangan menghina keyakinan atau agama orang lain (QS 6 – Al An’aam : 108)
- Jangan mengurangi timbangan untuk menipu (QS 6 – Al An’aam : 152)
- Makan dan minumlah secukupnya (QS 7 – Al A’raaf : 31)
- Kenakanlah pakaian yang bagus di saat sholat (QS 7 – Al A’raaf : 31)
- Lindungi dan bantulah mereka yang meminta perlindungan (QS 9 – At Taubah:6)
- Jagalah kemurnian (QS 9 – At Taubah : 108)
- Jangan pernah putus asa akan pertolongan Allah (QS 12 – Yusuf : 87)
- Allah mengampuni orang yang berbuat dosa kerana kebodohannya (QS 16 – An Nahl : 119)
- Berserulah/ajaklah kepada jalan Allah dengan cara yang baik dan bijaksana (QS 16 – AnNahl : 125)
- Tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain (QS 17 – Al Israa’ : 15)
- Jangan membunuh anak-anakmu kerana takut akan kemiskinan (QS 17 – Al Israa’ : 31)
- Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya (QS 17 – AIsraa’ : 36)
- Jauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanafaat (QS23–Al Mu’minuun:3)
- Jangan memasuki rumah orang lain tanpa izin pemilik rumah (QS 24 – An Nuur : 27)
- Allah menjamin balasan kebaikan hanya kepada mereka yang percaya kepada Allah (QS 24 – An Nuur : 55)
- Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati (QS 25 – Al Furqaan : 63)
- Jangan melupakan kenikmatan dunia yang telah Allah berikan (QS 28–Al Qashash : 77)
- Jangan menyembah Tuhan selain Allah (QS 28 – Al Qashash:88)
- Jangan terlibat dalam homosexual (QS29–Al ‘Ankabuut : 29)
- Berbuat baik dan cegahlah perbuatan munkar (QS 31 - Luqman : 17)
- Janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong (QS 31 - Luqman : 18)
- Wanita dilarang memamerkan diri (QS 33 – Al Ahzab : 33)
- Allah mengampuni semua dosa-dosa kita (QS 39 – Az Zumar : 53)
- Jangan berputus asa akan keampunan dari Allah (QS 39 – Az Zumar : 53)
- Balaslah kejahatan dengan kebaikan (QS 41 – Fushshilat : 34)
- Selesaikan persoalan dengan bermusyawarah (QS 42–Asy Syuura : 38)
- Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa (QS 49 – Al Hujuraat : 13)
- Tidak ada dikenal biara dalam agama (Islam) (QS 57 – Al Hadid : 27)
- Allah akan meninggikan darjat mereka yang berilmu (QS58–Al Mujaadilah11)
- Perlakukan kaum bukan Islam dengan baik dan adil (QS60-Al Mumtahanah:
- Hindari diri dari sifat kikir (QS64–AtTaghaabun:16)
- Mohon keampunan kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS73 Al Muzzammil;20)
- Jangan menghardik orang yang meminta-minta (QS 93–Adh Dhuhaa: 10)
Kuliah Persiapan Nikah (Salim A Fillah)
Ngomongin NIKAH itu bukan tentang galau tapi tentang Ibadah tentang Langkah Membangun Peradaban, jadi perlu persiapan yg panjang dan matang.
Kuliah WhatsApp : #NIKAH
1. Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.
2. Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.
4. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah.
6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.
7. Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
8. Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah: a. Ruhiyah, b. ‘Ilmiyah, c. Jasadiyah (Fisik), d. Maaliyah (Finansial), e. Ijtima’iyah (Sosial)
9. Persiapan perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.
10. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini.
12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan.
13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.
14. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.
15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.
16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya.
17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.
18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu
19. Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.
20. Jika masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”
22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?
23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga & masalah-masalahnya.
24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga
26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah
27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah
29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja.
30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
31. Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.
33. Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.” Suami: “OK, kita cari pembantu. “ Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.” Suami: “Lho?! “
34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.
35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Istri:” Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”
36. -> Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”
37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar)
38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius.
39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu
40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).
41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa.
42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?”
43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.
44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar.
45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P
46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9)
47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk . Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.
48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi
49. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.
50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang.
51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus
52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah
53. Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan; a.PRIMER: sehat & aman penyakit, b.SEKUNDER: bugar & tangkas, c.TERSIER: beauty & charm;)
54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ia sederhana.
55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal
56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami.
57. Ingat & catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.
58. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.
59. Maka memulai pernikahan, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.
60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.
61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)
63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu.
64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.
65. Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)
66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)
67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta
68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup.
69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS
70. Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.
71. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.
72. Untuk itu, mereka yang akan menikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.
73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.
-Salim A Fillah-
Kenapa takut menunggu? Adakah rasa tidak percaya dalam benakmu kalau-kalau Allah berlaku tak adil padamu? Kekhawatiranmu kamu biarkan terus tumbuh, tapi tak diiringi dengan upaya-upaya melayakkan diri. Kamu terus cemas tanpa ada upaya untuk meredakannya.
Pernah, berpikir melihat situasimu dari sisi lain? Sebab, Allah pasti merencanakan yang terbaik, sedang kamulah yang lemah menerka. Kamulah yang lemah pengetahuan perihal hidupmu ke depan akan seperti apa.
Sebenarnya Allah sedang banyak-banyak membuka kesempatan baik buatmu. Kesempatan yang seharusnya sudah kamu ambil sedari awal kalau saja kamu tak begitu mencemaskan perihal teman hidup. Dalam waktu yang kamu belum mampu menerka kapan akan dipertemukan, kenapa tak coba kamu isi dengan fokus memperbaiki dirimu? Fokus memperbaiki amal-amalmu? Fokus mempersiapkan bekalmu menuju pertemuan dengan-Nya suatu saat nanti? Memeriksa kembali apa-apa yang masih salah kemudian perbaiki dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kekhawatiran yang sedang tumbuh di hatimu mengalihkan fokus untuk ibadah semata-mata hanya karena Allah.
Bukankah ketika kita berupaya yang terbaik untuk memperbaiki ibadah kita, maka Allah akan memberikan apapun yang terbaik untuk kita? Termasuk perihal teman hidup. Semuanya amat mudah. Kitalah yang membuatnya rumit dan terlihat sulit, padahal tidak.
Selama ini kita terlalu fokus pada kekhawatiran tanpa mau coba lebih dalam melihat sisi lainnya. Padahal bisa jadi dari situ, Allah memberikan kita banyak kabaikan. Termasuk keinginan Allah untuk kita lebih dekat kepada-Nya.
Jadilah paling tenang dalam urusan menunggu. Sebab, terkaan terbaik menurut Allah tak mungkin meleset. Termasuk mempertemukanmu dengan teman perjalananmu nanti.
Tenang ya, InsyaAllah pasti akan bertemu :)
28 Mei 2019 | @quranads
Bukan dunia yang kejam, tapi kamu saja yang terlalu lemah. Dunia tak pernah peduli kamu menjerit kesakitan atau tertawa kegirangan. Satu-satunya yang dunia pedulikan adalah berapa banyak investasi waktu dan usahamu.
Dunia tak pernah peduli pada perasaanmu. Seperti bahagia, sedih, cemas, dan tenangmu. Itulah mengapa jika kamu mencari kebahagiaan hakiki, letakkan dunia hanya pada genggaman tanganmu dan akhirat dalam hatimu.
— Taufik Aulia
Ramadhan dan Ketidaktahuan Kita
@nuharobbaniyah
Sudah berapa hari berpuasa, dan sepertinya kita hanya berputar-putar di kebiasaan yang bukannya menambah kualitas ibadah. Malah makin ke sini, makin banyak saja godaan untuk beralasan sejenak berpaling dari shaf tarawih, berpaling dari mushaf dan rehat dari tahajud.
Sebenarnya, kita sudah menjalani Ramadhan berapa kali dalam hidup kita? Dan naasnya, sudahkah kita benar-benar tahu apa nilai Ramadhan bagi para orang-orang yang tahu betul mengapa ia ada untuk orang-orang beriman?
Anas bin Malik pernah bilang, “kamu melakukan sesuatu yang menurutmu senilai butiran tepung, namun di masa Rasulullah ﷺ ia merupakan sebuah pekerjaan yang senilai sebuah gunung besar.” Kita makin malas, kita makin berpaling dan makin lemas, barangkali karena kita ternyata tidak benar-benar tahu bagaimana generasi awal Islam memandang Ramadhan.
Ibaratnya seperti kita hidup di tengah tambang emas, tapi karena ketidakmampuan kita dan Ketidaktahuan kita tentang betapa berharganya emas, kita jadi menganggapnya seperti batu kali yang tak pernah sedikitpun terlintas bahwa dia bernilai.
Yuk kembali baca hadits-hadits tentang keutamaan Ramadhan, untuk mencharge lagi semangat kita menjalani Ramadhan. Kita sedang ada di tambang permata yang memiliki deadline 10 hari lagi sampai ia ditutup. Setidaknya kita perlu tahu dan yakin betul, bahwa nyatanya yang kita gali dan cari adalah permata, bukan hanya ikut-ikutan orang saja.
Untuk Apa, Bila Bukan Akhirat yang Selamat?
.
Untuk apa kiranya, bila bersama tak mengubah apa-apa menjadi pesona di mata-Nya? Sedang pijak kaki di dunia ini tak lebih dari satu setengah jam saja.
Untuk apa kiranya, bila kau jelajahi maya, kau sesapi kata demi kata, yang kau baca hanyalah imaji. Sedang kelak aku mati, puisi tak tampak indah lagi.
.
.
Untuk apa kiranya, bila kau bilang aku kawan, namun yang kaudapati hanyalah majas gelisah? Mengeja pilu yang direpetisi. Sesekali mainlah kemari demi pertemuan kekal di surga nanti.
.
Untuk apa kiranya?
.
.
Bila hanya remah-remah masa kini,
teknologi yang mumpuni,
logam-logam mulia yang disimpan tersembunyi,
dan sebaris bait rima yang kususun rapi.
.
.
Bila kau mencintaiku
dan aku pulang terlebih dulu.
.
.
Merumahlah,
dalam bekas-bekas sujud.
.
.
Tengadahlah,
pada mata yang basah
hanya agar memang Allah hadiahi surga,
tempat kita berjanji bertemu lagi.
.
©Fasih Radiana; teruntuk kamu - sepasang mata yang membacaku kata demi kata.
— Taufik Aulia
Genapi Urusan Kita Yang Kecil
Kalau kamu merasa bahwa urusan cinta-mencintai itu urusan yang ‘besar’, maka berserahlah pada Yang Maha Besar. Saya tidak bisa untuk tidak setuju. Sebab, perkara tertarik atau bahkan suka pun belum tentu kan membawa kita ke perasaan cinta. Mutlak, membolak-balikkan hati adalah urusan Tuhan. Siapa yang tak setuju? Kalaulah ada yang menyanggah, sebesar apa sih usaha manusia?
Sampai sejauh mana sih kita bisa memplot agar orang yang kita sukai bisa juga suka dengan kita? Kan tidak semudah itu. Benar kan? Kalau premisnya terkadang yang muncul justru Kita merasa cinta dengan seseorang, sementara orang itu tidak (sadar) bahwa kita mencintainya atau sebaliknya ketika kita merasa biasa saja, secara tak sadar kita tidak tahu bahwa ternyata ada orang yang mencintai kita.
Menjadikan dua belah pihak saling mencintai secara sadar, sulit betul. Apalagi manusia berbeda-beda preferensi. Tipe, segmen, bahkan fetish nya pun berbeda-beda. Sementara, jargon utama yang selalu kita dengungkan pada langit seperti kata ‘terimalah aku apa adanya’ adalah pemaknaan yang sebetulnya di kehidupan nyata tidak bisa digunakan seluas itu. Sebab, normalnya, kalau ada pilihan yang lebih baik lalu kenapa harus memilih yang ‘apa adanya’? Maka, disitulah Tuhan mengambil alih sehingga menjadi urusan-Nya yakni urusan menjatuh-cintakan dua insan yang awalnya tidak saling mengenal itu, terlepas apapun kondisinya dan bagaimanapun bentuknya. Sebab, kalau Tuhan sudah ambil bagian, maka hal yang terlihat tidak masuk akal menjadi akan sangat masuk akal.
Maka, apakah kita yang ‘kecil’ ini hanya bisa berserah diri sepenuhnya tanpa berpikir apa peran kita yang bisa kita lakukan? Atau jangan-jangan, kita hanya bisa mengerjai Tuhan karena justru kita hanya berdiam-diam saja tanpa usaha berarti sementara kita mengharapkan Ia mengabulkan pinta untuk memberikan yang terbaik?
Big no. That doesn’t work. Sebesar apapun bagian Tuhan, itu adalah bagian-Nya yang tak bisa kita otak-atik. Tetapi ingat, kita yang kecil inipun punya bagian yang harus dilakukan. Bahwa meminta padaNya untuk dipertemukan dengan seseorang yang terbaik, itu privilege dan boleh-boleh saja. Tapi mbok ya sadar diri, ada bagian kecil yang harus kita genapi sebagai bagian diri kita yang kecil di hadapanNya ini. Kita tidak pantas untuk meminta Tuhan mengerjakan seluruh bagian dari takdir itu sendirian. Lalu, apa yang mesti dilakukan?
Pertama, setidaknya buatlah dirimu mudah ditemukan. Itu adalah hal kecil yang jarang disadari oleh kita sendiri. Kalaulah dalam sepi dan sendiri itu, kita pernah berdoa padaNya agar mudah dipertemukan dengan seseorang yang diinginkan itu, maka ya… jangan buat dirimu terus bersembunyi di belakang tembok! Sebab, seorang pangeran atau permaisuri yang mencarimu diluar sana akan kesulitan ketika kau terus-menerus tidak memperlihatkan diri. Buatlah dirimu mudah ditemukan, buka pintumu, buka jendelamu! Itu adalah pengandaian dimana kau seharusnya membuka pikiranmu, mulai membuka diri untuk pergaulan yang sehat, juga menunjukkan karaktermu di depan orang banyak.
Kedua, setidaknya perbaiki dirimu sendiri. Kita mesti sudah tahu, lebih dan kurang dari diri kita itu apa. Jadi, tersenyumlah dan mulailah bekerja untuk terus memperbaiki diri. Itu adalah hal kecil yang berefek sangat besar, sebab barangkali ada sekat yang sekian lama tertutup karena kita tidak tahu harus mengubah apa. Coba ingat hukum tarik-menarik semesta ini, bukankah yang terbaik akan bertemu juga dengan yang terbaik? Maka, setidaknya perbaikilah dirimu untuk nantinya menemukan konsekuensi terbaik yang diaminkan semesta. Itu adalah hal kecil yang semestinya jadi bagian kita. Ingat kan, kalau Tuhan tak akan mengubahmu bila kau tak berinisiatif untuk memulainya terlebih dulu?
Ketiga, berusahalah. Berusahalah untuk mudah ditemukan dan memperbaiki dirimu, semampu yang kau bisa. Tapi kita juga harus menerima bahwa tidak semua usaha akan menemui hasil yang diinginkan. Sebesar apapun usaha yang kita buat, kita tidak akan pernah mampu membuat semua orang menjadi suka dengan kita. Kita tidak akan pernah mendapatkan semua hal, ataupun banyak hal sekaligus. Tapi, yang kita harus fokuskan adalah apa yang kita butuhkan. Kalaulah bertemu dan dijatuh-cintakan pada satu orang saja sepanjang hidup itu sudah cukup, lalu buat apa harus berusaha keras agar disukai banyak orang? Toh, itu takkan pernah terjadi.
Jangan lantas kecewa kalau standarmu tidak signifikan meninggi. Sebab, cinta-mencintai itu tidak lagi menggunakan standar apapun bila takdir Tuhan sudah mencampuri. Cukuplah berusaha, semampu yang kita bisa. Jadilah baik sebagaimana itu yang dianjurkan, mintalah bantuan Tuhan agar memudahkan dirimu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Terakhir, berserah dirilah setelah kau benar-benar berusaha. Berusaha dulu, baru berserah. Sebab diluar sana, ada yang cuma berserah diri tanpa melakukan hal kecil dari bagiannya yang berarti. Bahkan bila disuruh berusaha, ia sangat mudah menyerah dan bermental kalah. Tragis.
Cinta-mencintai itu mutlak rahasia terbesar Tuhan, yang skenarionya mutlak sudah tercatat di langit sebagaimana satu persatu plot takdir itu akan kita jalani juga. Tapi ada bagian kecil kita di bumi yang mesti jadi titik demi titik simpul takdir itu akan terjalani.
Mulailah genapi bagian-bagian kecil yang menjadi urusan kita.
miftahulfk
@m.ilham2511
Let’s Heal Yourself This Ramadhan!
“Teh Novie nulis lagi selama 30 hari di Ramadhan ini, enggak?” Pertanyaan bernada serupa ditanyakan oleh teman-teman belakangan ini, tapi belum saya jawab karena sebelumnya masih bingung. Hehe. Saya pun berkontemplasi dan menyusun strategi, hingga post ini yang akan menjadi jawabannya. Bismillah, setelah memulai project ini sejak 2015 dan sempat berhenti di tahun kemarin, tahun ini saya akan kembali menulis di sepanjang bulan Ramadhan. InsyaAllah.
Meneruskan tema di 2016-2017 tentang Selfie: Let’s Look Into Yourself, tahun ini saya masih ingin bercerita tentang self, tentang kita sebagai manusia dan juga hamba. Bedanya, tema spesifik yang tahun ini saya ambil adalah HEAL YOURSELF dengan genre Islamic Self-Help. Saya berharap tulisan-tulisan di serial ini dapat membantu diri saya dan para pembaca untuk mengenali diri, mengenali konflik yang sedang atau pernah dialami, serta belajar berdamai dengan konflik-konflik itu. Tapi, bagaimanapun, tulisan-tulisan di serial ini bukanlah tools untuk melakukan terapi, ia hanyalah insight dan ajakan agar kita semua tergerak untuk menyelami diri dan mendekat kepada Allah sebagai sebaik-baik tempat kembali.
Serial HEAL YOURSELF ini tidak hadir karena khayalan atau terkaan. Atas seizin-Nya, saya terlebih dahulu mengumpulkan berbagai ide, baik itu dari perjalanan ke Istanbul tahun lalu untuk mempelajari Islamic Psychology, dari kelas-kelas atau workshop yang saya ikuti, dari riset-riset literatur, dan tentunya pengalaman pribadi. Mohon doanya, semoga Allah memudahkan saya untuk konsisten dalam menyampaikan dan menuliskannya, juga agar kita semua dimudahkan untuk belajar bersama-sama.
Untuk membaca tulisan-tulisan dalam serial ini, silahkan berkunjung ke bit.ly/healyourselframadhan ya! InsyaAllah akan ada tulisan baru setiap harinya pada pukul 21.30 WIB.
__
PS. Untuk teman-teman Psikologi (atau yang suka dengan keilmuan ini), yuk menulis dengan tema yang sama! Tuliskan tulisanmu di blog atau Instagram selama 30 hari di bulan Ramadhan lalu beri tagar #healyourselframadhan dan #30daysramadhanwriting :)
“Entah aku yang bodoh, atau sandiwaramu yang terlalu berwarna? Jika memang bukan aku yang kau inginkan, kenapa tak kau bilang saja dari awal? Kita sudah terlanjur jauh, orang tua kita sudah terlanjur dekat, kenapa harus berakhir seperti ini?”
—
Perempuan dan Malamnya
Disuatu tempat, di tepian kota. Ada seorang perempuan yang selalu setia untuk sekadar menunggu malam. Dia menunggu malam bukan karena seseorang, tapi menunggu untuk dirinya sendiri.
Dari empat waktu yang ada, perempuan itu hanya memilih malam hari. Karena dari semua fase waktu yang ada dalam satu hari, ia rasa, malam harilah yang paling tepat untuk mengenal dirinya sendiri.
Di malam hari, langit menjadi gelap, tidak ada panas matahari yang membakar, sehingga perempuan itu tidak perlu atap untuk sekadar berlindung. Gelapnya malam juga menjadi pilihan banyak orang untuk beristirahat, sehingga tidak begitu bising seperti halnya siang hari. Hanya ada suara ombak, angin, dan serangga-serangga kecil. Perempuan itu menikmatinya.
Ditengah sepi, perempuan itu berbicara dengan jiwanya sendiri. Membicarakan tentang keputusan-keputusan yang harus ia ambil untuk hidupnya kedepan. Keputusan yang tidak hanya untuk dunia, tapi juga akhiratnya.
Keputusan dan pilihan hidup yang tidak lagi sederhana, membuat perempuan itu merasa kebingungan. Merasa tidak yakin kalau ia sudah cukup pantas untuk bisa menerimanya. Beranggapan kalau diluar sana ada lebih banyak perempuan lain yang jauh lebih layak, lebih pantas, dan juga sudah lebih dulu bersiap. Karena sebentar lagi, akan ada orang lain yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Orang asing yang beberapa waktu sebelumnya tiba-tiba saja datang mengetuk pintu. Seseorang yang tidak pernah ia perkirakan akan datang begitu cepat, sekaligus mengutarakan niat.
Perempuan itu masih terdiam. Pandangannya mengarah ke atas menatap langit. Langit yang menjadi lebih gelap dari sebelumnya, membuat milyaran bintang terhampar semakin jelas untuk ia lihat. Sampai sejenak kemudian, pipi perempuan itu mulai basah oleh airmata. Memandangi kebesaran ciptaan-Nya, membuatnya merasa seakan ada yang memeluk hatinya erat-erat. Sambil berbisik dengan perlahan,
“Aku telah mengabulkan apa yang engkau minta, maka terimalah. Lalu percayakan pada-Ku sepenuhnya.”
Perempuan itu menyeka air matanya, lalu perlahan mulai tersenyum, sudah tidak lagi merasa sendirian.
© Danny Dzul Fikri
Ketika kamu sudah mulai bisa tersenyum melihat sesuatu yang kamu lepaskan, perjuanganmu merelakan sedikit lagi akan sampai menemui ujungnya; puncak ikhlas yang paling tinggi.
—ibnufir





