KATAMU DAN KATAKU (REVISI)
Bila harus kuungkapkan penyesalan paling dalam yang kurasakan selama ini, adalah sesal karena aku menyelesaikan hafalanku sedemikian cepat.
Mereka sering berkata padaku, “Kamu hebat, bisa menyelesaikan 30 juz dengan waktu yang sedemikian singkat.” Padahal kita seharusnya sadar, bahwa di tiap ayat yang dihafal, ada tanggung jawab yang terus bertambah.
Namun, setidaknya kamu melalui hari-hari bersama Al Qur'an lebih intens ketimbang diri ini yang belum jua selesai menghafalnya.
Mungkin semasa Sekolah Menengah Pertamamu dulu, kamu habiskan waktu sore dengan Halaqoh Qur'an. Sedangkan aku?
Mereka juga sering bertanya padaku, “Adakah cara untuk menghafal kalam-Nya dengan cepat?”
Aku hanya mengelus dada, lalu membatin, “Ah, aku iri pada kalian. Aku ingin merasakan menghafal lagi seperti kalian. Aku ingin, sungguh ingin.”
Tidakkah kita menoleh ke belakang, bagaimana dahulu para sahabat menghafal? Mereka tak beranjak dari satu ayat, melainkan mereka telah memahami, dan mengamalkan ayat yang dihafalnya.
Sudahkah kita merenung kala membaca ayat-Nya, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya”?
Sudahkah pula kita tadabburi ayat-Nya, “… dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu …”?
Bukan tak mengakui anjuran mempelajari Al Qur'an secara perlahan. Tapi, sesal karena tak kunjung jua usai menghafal Al Qur'an adalah tangis yang tak habis.
Sebab, betapa bahagianya ketika kita mampu membaca semua arti ayat Al Qur'an sembari menghafalnya. Setidaknya, kita mengetahui apa yang dibahas di tiap surat yang kita baca. Bukankah ia begitu menghibur?
Sedang, jika “hanya” mengandalkan tilawah, misalnya, siapa yang akan menjamin ia akan menyisakan kesan tentang surat ini dan itu, juz sekian dan sekian? Nihil.
Al Qur'an, adalah hidangan dari-Nya. Bahkan, ia adalah hidangan yang terbaik. Akankah kita coba berpikir, ketika kita disuguhi hidangan nan nikmat; bagaimana kita akan memakannya? Langsung menelannya bulat-bulat, atau mengunyahnya sedikit demi sedikit?
Sedikit demi sedikit, tapi jangan pula sampai hidangan itu terlalu lama habis, atau bahkan membuat kita lebih dulu kenyang sebelum menghabiskannya. Di mana pun, hidangan yang baru saja disajikan jauh lebih nikmat daripada yang sudah berjam-jam. Demikian kiranya.
Pada akhirnya, suara-suara itu berpadu dalam satu harap. Ya Allah, jadikanlah kami di antara keluarga-Mu, dan orang-orang terdekat-Mu. Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an penolong kami, dan bukan penuntut kami di Hari Akhir kelak.
Sebuah kolaborasi dari @mehmetfath dan @fauziaazzahra, tentang suka dan duka masing-masing dengan Al Qur'an yang tiap hari dibaca, dihafal, dan diulang-ulang. Moga Al Qur'an menjadi pelipur lara, penghapus duka, dan penyelamat di alam baka.


