Aku berpikir, hidup ini seumpama duduk di tengah kereta yang melaju kencang menghadap jendela. Ketika kita mengeluarkan pandangan, setiap halnya selalu berubah dengan cepat tanpa kita sadari.
Dan kereta yang sedang kutumpangi ini melaju dengan cepat tanpa pemberhentian di setiap fasenya. Sehingga mau tak mau, siap tak siap, membawa badanku ke berbagai kota selanjutnya tanpa peduli hatiku masih di mana. Memaksaku untuk menerima, bahwa ada banyak hal yang hanya sempat tertangkap mata tapi tak diizinkan untuk menetap lama-lama.
Namun, apa kereta ini peduli aku siap atau tidak?
Apa ia mau berhenti sejenak saja bila aku meminta?
Memangnya dia peduli bahwa aku belum cukup siap menerima?
Toh, ia akan tetap melaju kencang tanpa peduli bahwa keberanian belum kubawa, dan hatiku masih tertinggal di sana.



