Avatar

Kopihitamtanpagula_

@kopihitamtanpagulaa

Writers Instagram : @kopihitamtanpagula_

Tiga Puluh Dua

Umur 30 akan dilalui dengan cara yang berbeda di setiap orang, fasenya nggak sama, apa yang jadi hambatan serta tantangan juga berbeda, sumber takutnya berbeda, dan cara pandangnya juga berbeda. Yang sedang di fase sama, berkumpul untuk saling menguatkan, berbagi informasi, serta menjalin relasi dengan tujuan beragam. Transaksional maupun tulus, sama-sama memberikan manfaat sesuai dengan tujuan relasinya. Apa yang dipikirkan juga berbeda-beda. Dan yang menjadi pusat pikirannya juga berbeda. Hal-hal yang menyita perhatian begitu besar, mendapatkan ruang dan waktu yang lebih. Hal yang membuat bagaimana kita melihat umur 30 sebagai sebuah dimensi waktu yang lebih fokus ke urusan tertentu. Keluarga, pekerjaan, kesehatan, kebahagiaan diri, ketenangan, dan urusan lainnya yang terasa lebih prioritas. Saat ini, rasanya lebih mencari ketenangan, kemampuan untuk melihat dunia lebih positif, tidak mudah iri dan hasad, tidak menghitung-hitung rezeki orang lain, tidak mudah membicarakan orang lain, berhati-hati dalam berbicara, lebih meluangkan waktu untuk menjalin silaturahmi, dan juga semakin menyisikan pendapatan untuk pos-pos pengeluaran yang lebih penting.  Tantangannya berbeda, sumber ketakutannya berbeda. Kita mungkin saling melihat satu sama lain, barangkali ada yang jatuh pada membanding-bandingkan, ada yang jatuh pada rasa iri, ada yang jatuh pada doa-doa baik dan ikut bahagia atas apa yang ditempuh dan dicapai orang lain.
Semoga kita bisa berada dalam cara pandang yang baik, cara pandang yang membuat hidup kita lebih mudah tenang dan bahagia, bahagia atas diri sendiri dan juga bahagia atas orang lain.  Nggak mudah ternyata menjadi orang dewasa, padahal ini adalah hal yang dulu kutunggu sekali waktu kecil.

Axelleo Kayandra Wahyu Natanegara

Bismillahirrahmanirrahim, Dengan ini ayah dan ibu memberimu nama engkau Axelleo Kayandra Wahyu Natanegara sebagai bentuk rasa cinta dan harapan besar kami berdua nak...Kami ingin engkau senantiasa menjadi pribadi bersahaja, baik, cerdas, sehat, ceria dan berguna untuk sesama. Terima kasih sudah menerima kami yang sedang belajar ini. Terima kasih sudah tumbuh jadi anak yang kuat. Semoga Tuhan selalu memberkahi setiap langkahmu, memudahkan semua inginmu, dan melingkupimu dengan segala kebaikan hingga masa tuamu. Aku tau banyak yang harus kulakukan, kusiapkan, Semoga Allah memampukan kami yang sudah dipilih menjadi orang tuamu ya nak...🥰🥰

Anakku...

Muhammad

Dengan ini kuberi nama engkau Muhammad sebagai bentuk rasa cinta kami pada baginda Rasulullah. Muhammad yg tidak semata-mata nama yg terpuji tetapi benar benar telah menunjukkan kepada dunia betapa terpujinya beliau. Kami ingin engkau senantiasa mengikuti seluruh laku laku Rasulullah yang bersahaja.

Kuberi nama engkau Syahmi yang artinya Mulia, bijaksana dan berani. besar harapan dan doa kami agar kelak di puncak kemuliaan yang engkau capai sebagai buah dari cemerlangnya pikiranmu itu hendaknya engkau gunakan untuk senantiasa berbuat baik terhadap sesama. Sehingga kelak engkau menjadi sebaik baik manusia. Sebagaimana yg disabdakan baginda Rasulullah SAW, Khairunnas anfauhum linnas (sebaik baik manusia adalah yg bermanfaat terhadap sesama.)

Adapaun Atharrazqa adalah yang beruntung. kami berharap kamu menjadi manusia yang dipenuhi dengan keberkahan dan keberuntungan dalam hidup.

Demikian anakku untuk engkau camkan dengan seksama akan impian impian kami dibalik nama yg kami sematkan untukmu

MUHAMMAD SYAHMI ATHARRAZQA.

Melihatnya tertidur pulas adalah cinta. Bayi mungil lelah setelah seharian bermain, setelah puas menuntaskan penasarannya akan banyak hal.

Sekarang ia tertidur pulas.

Aku memandanginya dari dekat, aku menyayanginya yang entah bagaimana agar cukup untuk mengungkapkannya.

Ia melengkapiku, melengkapi kami.

Bahagia yang tak pernah terlintas dulu, tapi memenuhi relung hati.

Segala puji bagi Allaah yang atas seluruh nikmat-Nya kebaikan kebaikan menjadi sempurna.

Aku ingin menulis lagi, untukmu, Banyak sekali untukmu, anakku.

Agar kelak kau tak hanya mengenalku dari aku yang setiap hari kau temui, tapi kau juga akan memahamiku, menemukan bahasa cintaku, dari apa yang bunda tuliskan disini.

Menyayangimu saja tak pernah cukup,

Aku tau banyak yang harus kulakukan, kusiapkan, kami semoga Allaah memampukan kami yang sudah dipilih menjadi orang tuamu.

Baarakallaahu fiik Nak ~

@menyapamentari

Surat untuk Anakku di Masa Depan

Nak. Ketika kamu besar nanti. Terus lah berbuat baik pada bunda. Terus lah berada di sisinya.

Nak. Bunda selalu ada di sisimu. Ketika kau sakit. Ketika sedih maupun bahagia.

Nak. Suapilah bunda seperti dia menyuapimu. Bahkan dia tidak makan sebelum kamu selesai makan. Tidak mandi sebelum kau mandi. Begitu pun juga tidur.

Nak. Bundamu telah memberikan seluruhnya untukmu. Ayah tahu itu dan akan selalu seperti itu. Jangan pernah membentak atau membencinya. Karena dia akan sedih sesedih-sedihnya.

Nak. Pesan ayah untukmu kelak. Bunda, bunda, dan bunda. Ayah akan menopangmu dari belakang untuk bisa menjadikan itu kenyataan.

SANGAT MENGHARUKAN: PESAN ORANGTUA UNTUK ANAKNYA

Anakku.. suatu hari nanti, engkau akan melihatku tua renta, dengan polah yang tidak logis..

Jika hari itu datang, aku mohon berikan sebagian waktumu untuk memperhatikanku.. berikan pula sebagian kesabaranmu untuk memahamiku..

Saat tanganku mulai bergetar-getar, sehingga seringkali makananku jatuh ke dadaku.. saat aku tidak kuat lagi memakai bajuku sendiri.. maka hiasilah sikapmu dengan kesabaran mengurusku..

Ingatlah dahulu ketika aku bertahun-tahun lamanya mengajarimu hal-hal yang tidak bisa kulakukan di hari ini..

Jika aku tidak lagi rapi dan wangi, jangan salahkan aku.. Tapi ingatlah di masa kecilmu, bagaimana aku selalu berusaha menjadikanmu rapi dan wangi..

Janganlah mentertawakanku, bila engkau melihat aku tidak tahu atau tidak paham tentang perkembangan zamanmu.. tapi jadilah engkau sebagai mata dan pikiranku, agar aku bisa menutupi ketertinggalanku..

Aku dahulu yang mendidikmu, aku dahulu yang mengajarimu bagaimana menghadapi hidup ini.. Akulah yang dahulu mengajarimu apa yang harus aku lakukan hari ini, dan apa harusnya tidak aku lakukan hari ini..

Janganlah engkau bosan dengan lemahnya ingatanku, lambatnya kata-kata dan pikiranku saat berbicara denganmu.. karena yang membahagiakanku saat berbicara denganmu sekarang ini, adalah kebersamaanku denganmu saja.. Bantulah aku untuk mendapatkan keinginanku, karena aku masih tahu apa yang kuinginkan..

Saat kedua kakiku tidak patuh lagi untuk membawaku ke tempat yang kuinginkan, jadilah engkau sebagai seorang yang penyayang.. ingatlah bahwa aku dahulu menuntunmu berkali-kali agar engkau mampu berjalan.. maka janganlah engkau malu untuk menuntunku saat ini, karena nanti juga engkau akan mencari orang untuk menuntunmu..

Ingatlah, di umurku ini aku tidaklah menginginkan kehidupan sepertimu.. tapi sederhananya, aku hanya menunggu kematian.. maka temanilah aku.. jangan engkau campakkan aku..

Saat engkau ingat kesalahan-kesalahanku, ingatlah bahwa tidak ada yang kuinginkan darinya kecuali kebaikan untukmu.. maka, sesuatu yang paling baik yang engkau lakukan untukku saat ini adalah memaafkanku, menutupi aibku.. semoga Allah memaafkanmu dan menutupi aibmu..

Sungguh tawa dan senyumanmu masih terus membuatku bahagia seperti dahulu.. oleh karena itu, janganlah halangi aku untuk menemanimu..

Aku dahulu bersamamu saat engkau dilahirkan.. maka, hendaklah engkau bersamaku saat aku mendekati kematian..

Ya Robb, ampunilah aku dan kedua orang tuaku.. Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidikku (dengan kasih sayang) saat aku kecil..

Diterjemahkan oleh Ustaz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Mencari Ketenangan
Yang paling bernilai dalam hidup adalah ketenangan, dan rasa tenang tidak dapat dibeli dengan uang, ia hanya dapat diperoleh dengan ilmu.
Esensi dari ilmu nafi adalah rasa takut kepada Allah. Semakin berilmu semakin seseorang takut kepada Allah dan anehnya semakin takut kepada Allah semakin tenang hidup seseorang.
Karenanya mereka yang Paling Takut kepada Allah adalah para Ulama (Orang2 yang berilmu)
Mereka yang takut pada Allah tidak akan bermaksiat, tidak akan melanggar syariat, tidak akan bergibah, tidak akan lalai dalam ibadah, tidak akan curang dan menyulut perang, tidak akan berdusta dan berprasangka...
Sebaliknya semakin tidak takut kepada Allah semakin seseorang berani berbuat dosa sehingga efeknya semakin tidak tenang dan aman hidupnya, hatinya gelisah dan senantiasa diliputi duka cita, penuh coba yang tiada henti2nya.
(Ust. Nuzul Zikri, Lc Hafidzahullah)
Avatar
Sehebat apapun manusia berusaha melupa, ia tidak akan pernah betul-betul bisa menghapus kenangannya. 

Ada perasaan tak biasa, ketika Nala kembali mengunjungi kota tempatnya sepuluh tahun lalu pernah menetap. 

Sebelum kesibukan kini membawanya harus pindah ke kota lain, yang membuatnya tenggelam oleh rutinitas. 

Suara peringatan dari petugas kereta sudah terdengar memberi pertanda bahwa sebentar lagi kota tujuannya akan tiba. 

Tidak ada yang berubah dengan suasana kotanya yang mudah akrab, membuat ingatannya melayang jauh ke sepuluh tahun lalu. 

Gedung-gedung tinggi yang membuat wajah kota ini tampak berbeda tidak membuatnya lupa dengan raut wajah orang-orangnya. 

Wangi kota, udara, lampu jalan, dan suara bising kendaraan yang mengantri di lampu merah, masih persis seperti yang pernah Nala rasakan. 

Seperti mimpi-mimpi yang akhirnya ia kubur dalam-dalam di kota ini. Nala masih hapal betul. 

"Hmmmm" Nala hanya bisa menghela napas panjang. 

Ternyata skenario Tuhan, memang tidak selalu seperti apa yang manusia harapkan. Sebaik apapun mereka memperjuangkan. 

Ada kepercayaan yang mesti hacur. Ada perasaan yang mesti gugur dan dibiarkan saja melupa dengan sendirinya. 

Meskipun pada akhirnya sehebat apapun manusia berusaha melupa, ia tidak akan pernah betul-betul bisa menghapus kenangannya. 

Sahutan klakson kendaraan pertanda lampu hijau menyala, memecah lamunannya. Nala kembali melangkah, menelusuri cerita masa lalunya. 

Tidak ada yang bisa ia salahkan. Tidak ada yang mengingkan perjuangannya terhenti. 

Kegagalan milik semua orang yang pernah begitu keras kepala mempertahankan.

Tetapi waktu selalu memberi peringatan, bahwa segala sesuatu tidak selalu selamanya. Segala sesuatu ada ujung dan akhirnya. 

—ibnufir

“Mereka yang meremehkanmu, barangkali belum tahu pengorbanan dan perjuanganmu sampai titik ini. Mereka mungkin hanya melihat kulitnya saja, hanya melihat hasilnya saja. Padahal proses yang kamu lakukan hingga titik ini, jika diingat-ingat lagi, bisa membuatmu menangis haru. Benar-benar penuh perjuangan. Rasanya tidak mungkin, tapi atas izin-Nya kamu sampai juga di titik ini. Biarkan saja mereka yang meremehkan, ada banyak yang lain yang lebih penting untuk kamu bahagiakan. Orang tuamu, saudaramu, dan orang-orang yang kamu cintai.”

— Robi Afrizan Saputra

Avatar

Puasa yang Berbeda

Tahun kemarin rumah ini riuh. Penuh tawa. Sekarang lampunya mati dan hanya menyala di satu ruang saja. Tahun kemarin, jauh sebelum imsak, wangi masakan mengepul memenuhi ruangan. Sekarang, rasanya untuk bangun sahur saja malas sekali.

Sekarang aku berharap perjalanan pulang jauh lebih lama ketimbang di rumah lama-lama. Sekarang, aku berharap ajakan berbuka teman-teman riuh berdatangan ketimbang harus pulang dan berbuka di rumah.

Rumah ini sudah berbeda. Nyawanya sudah hilang. Gema tawanya meredup seperti lampu teras menjelang pukul enam. Mendadak, rumah yang dulu selalu menjadi tempat ternyaman untuk pulang, kini menjadi satu-satunya tempat yang tidak ingin kudatangi tiap malam.

Puasa tahun ini, rasanya berbeda sekali.

Barangkali, salah satu hal berharga yang seseorang berikan kepada kita adalah waktu mereka...

Sehingga semakin dewasa aku semakin mengerti bahwa waktu dan tenaga adalah dua hal yang seiring bertambahnya usia kita, ia menjadi sesuatu yang semakin berharga dan juga semakin terbatas.

Oleh karenanya, aku berusaha untuk belajar memilah dengan baik kepada apa, dan kepada siapa saja dua hal tersebut aku gunakan, habiskan, dan juga korbankan.

Aku tak perlu menemui semua orang.

Aku tak perlu mengetahui kabar semua orang. Apa yang terjadi di hidup mereka, bagaimana keadaan mereka sekarang, dan aku juga tidak perlu tetap berusaha mempertahankan sebuah hubungan yang tidak membawaku ke mana-mana. Melepas beberapa orang dan juga kawan yang tidak berdampak apa-apa pada perkembangan hidupku ke depan ternyata sungguh melegakan dan membuatku tidak perlu repot menghabiskan waktu dan tenagaku yang semakin terbatas ini pada orang-orang yang tidak worth it.

Dan ternyata itu nggak papa. Karena semakin ke sini aku semakin belajar bahwa aku tidak perlu memedulikan semua orang, karena sebenarnya..., tak semua dari mereka pun benar-benar peduli padaku.

Melalui itu pula, aku juga perlahan belajar untuk lebih menghargai orang-orang yang telah bersedia mengorbankan waktu dan juga tenaga mereka untukku. Orang-orang yang bersedia berlelah-lelah untukku, orang-orang yang bersedia untuk kurepotkan akan urusan dan keperluanku, orang-orang yang bersedia meminjamkan telinga untuk semua keluh dan tangisku, orang-orang yang bersedia menjadi tempat aku berbagi akan banyak hal. Karena tidak semua orang bersedia akan hal itu.

Dewasa ini juga aku belajar bahwa menjadikan ketenangan batinku sebagai prioritas kebahagiaanku bukanlah sebagai sebuah bentuk keegoisan. Aku sayang orang yang aku sayang, tetapi itu bukan berarti menyayangi mereka berarti harus menyakiti diriku sendiri. Semua orang akan pergi, jika aku tak belajar untuk menjadikan diriku sendiri sebagai sebaik-baik teman untukku, lalu siapa lagi yang akan tetap tinggal bersamaku?

Aku belajar untuk lebih mengenali apa yang baik dan buruk untuk ketenangan hati dan kebahagiaanku ke depan, sehingga bisa lebih mudah memilih langkah apa yang aku jalani.

Ya Allah, aku mungkin belum berada pada keadaan di mana mimpi-mimpiku telah terwujud, tetapi setelah apa yang kulewati selama ini, aku bangga karena telah mampu mengambil banyak pelajaran dan juga memetik hikmah, yang berguna sebagai petunjuk langkah apa yang harus kupilih.
Dalam haru yang terus bertambah 27 April 2023

Setiap Hari Punya Jalannya Sendiri

Aku baru saja ingin mengeluh dan mungkin sedikit lagi ingin menyerah.Sampai Allah menegurku dengan gambar yang tiba tiba muncul di feed Instagram.

"Jangan menyerah,meski hari ini kau babak belur dan penuh kegagalan.Masing masing hari punya kesulitannya sendiri dan masing masing hari punya jalan keluarnya sendiri.Tuhanmu,Allah tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu padahal kau telah berjuang mati matian.Jalan penuh kesulitan ini bisa jadi tidak banyak yang melewati.Dan siapa yang mampu bertahan hingga akhir,dialah orang orang yang beruntung.Aku,kau,kita semua.Lewati saja dengan penuh kesabaran dan pengharapan akan keberhasilan dan keselamatan.Bismillahirrahmanirrahim."

Foto:Instagram @Jogja24jam

Avatar

Sukses dalam Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i, rahimahullah, berkata :

“Tidak ada satupun orang yang menuntut ilmu agama ini dengan kekayaan, kekuasaan, harga diri yang tinggi, lalu sukses dengannya. Namun, seseorang yang mempelajari ilmu dengan merendahkan hati dan kehidupan yang sempit, lalu dia berkhidmat kepada ahli ilmu, merekalah yang akan sukses.”

Dinukilkan oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu' Syarah Muhadzdzab 1/35.

Sumber : Majalah HSI Edisi 023 Pdf, halaman 11

Avatar

Mengapa harus menjadi kaya raya?

Kalian pernah melewati sebuah jalan lalu melihat lelaki paruh baya menggotong tirai bambu besar, tangga, dipan, dengan bahunya maupun dengan sepeda tua yang tentunya sangat berat dan belum tentu tiap hari orang butuh barang tersebut—singkatnya tidak terlalu dibutuhkan sehari-hari.

Kalian pernah melihat ibu-ibu mendorong gerobak rongsokan penuh dengan penuh semangat, hasil mengais tempat-tempat pembuangan?

Kalian pernah melihat lansia mendorong gerobaknya di jalan tanjakan, lalu lalang namun sepi pembeli?

Atau kalian pernah melihat tukang service payung, tukang semir sepatu, porter, tukang koran, yang menjajakan jasa dan barangnya tanpa memperdulikan rasa malu walaupun selalu ditolak?

Mereka adalah lelaki, ayah, kakek, bahkan ibu dari anak-anak seperti kita. Berjuang demi kelangsungan hidup keluarga kecil mereka.

Tidak semua orang bekerja untuk gaya hidup, bahkan untuk makan esok hari pun masih bingung harus mengais rezeki dimana lagi? Pekerjaan mereka amat mulia, keringat bukan hasil meminta-minta maupun mengambil yang bukan hak—sungguh jauh lebih mulia dari pejabat koruptor dengan rumah gedong.

Ya, terkadang kita tidak memerlukan dagangan maupun jasa mereka. Ketika nurani ingin sekali membantu perekonomian mereka, lalu kita masih harus berpikir tentang keuangan dan kebutuhan hidup yang pas-pas-an, entah merasa selalu kurang atau gaya hidup terlalu tinggi. Uang sudah menjadi berhala kehidupan, yang selalu bergantung dengannya—makan, minum, sandang, sekolah, tiket jalan-jalan, apapun ditukar dengan uang.

Andaikata menjadi kaya raya membuka jalan-jalan menolong kemanusiaan, jadilah kaya raya. Hisabnya memang berat, tapi membuat ladang amal kebaikan dengan harta sungguh sangat mulia dan berat timbangan kebaikannya di sisi Sang Pencipta. Saling memberilah bukan hanya karena mengharap harta ingin dilipat gandakan, namun bersedekahlah Lillahi ta’ala mengharap keridhoan-Nya.

—فاطمة الزهراء

Kadang, kamu berpikir perlu menaklukkan hal besar sebagai definisi kesuksesan, hingga belum apa-apa rasanya sudah kehabisan tenaga. Padahal, hal kecil yang berhasil diselesaikan satu-satu akan lebih sering memberimu kekuatan baru.
Avatar

"Hidup itu penuh resiko" Katanya.

Setelah kalimat itu dilontarkan sampai pada hari ini pun masih tetap terngiang-ngiang di telinga dan menjadi buah pikiran di kepala. Benarlah adanya bahwa hidup memang penuh dengan resiko, baik yang sudah kita ketahui bentuknya ataupun yang sama sekali tidak kita tahu.
Apapun yang kita pilih, maka disitu pula ada resiko karena pada akhirnya tidak ada pilihan tanpa pertanggungjawaban. Ada pertanggungjawaban artinya ada resiko yang siap tidak siap harus kita terima.
Kalimat di awal tadi cukup menamparku berkali-kali karena sifat ketakutanku untuk salah, kalah, dan bentuk kegagalan lainnya sehingga tidak berani untuk melangkah, tidak rela untuk keluar dari zona nyaman. Nyatanya ketakutan mengambil resiko membuat macet jalan menuju 'puncak', stagnan. Kita tak akan pernah mendapatkan apa-apa yang kita ingin jika 'takut' melangkah masih menjadi hantu dalam diri.
_____
Sungai Rengit, 23 Juni 2022
18.03 WIB

Nanti akan seperti langit biru.

Nanti akan ada waktunya kamu indah seperti cakrawala. Seperti langit biru, yang kalau memandang sangat mempesona. Saat ini mungkin serasa kelam, jalan-jalan yang dilalui membuat kepingan, menjatuhkan berkali-kali, bahkan rasanya ingin sekali mati. Tetap ayunkan tanganmu, langkahkan kakimu.

Nanti ada saatnya kamu akan seperti langit biru. :)

Avatar
Menulis adalah bagian dari; memahat sejarah dan melipat waktu—
Agar tak terlupakan apa yang begitu terbatas untuk di tampung dalam ingatan.
Agar tak terlupakan...bahwa pada beberapa lika-liku kehidupan yang penuh kesulitan, kau pernah begitu ingin menyerah namun tetap berhasil bertahan dan melaluinya dengan pertolongan Allah.
Agar tak terlupakan...bahwa ada banyak sekali peristiwa hidup yang begitu manis dan berharga diantara rasa sedih yang sering datang mendera tanpa aba-aba.
Agar tak terlupakan...bahwa begitu banyak manusia berhati malaikat yang Allah hadirkan dalam hidupmu untuk mengukir cerita indah dengan warna-warni guratan tawa, deraian haru syukur air mata, hangatnya pelukan yang menenangkan dan genggaman tangan yang menguatkan.
Semoga tatkala duniamu sedang suntuk dan cahaya masa depan tampak redup, tulisan-tulisan disini menjadi salah satu alasan untukmu tetap tersenyum dan terus melanjutkan perjalanan kehidupan.
Kamar kos, 10 Desember 2022 16.51 wita
Avatar

Menikmati Proses.

Ini soal tekad, ini soal ketulusan, ini juga soal penerimaan atas segala keputusan yang telah digariskan. Disetiap proses kehidupan, pasti ada pembelajaran. Jika dipercepat, artinya Allah ingin kita lekas bersyukur, namun jika diperlambat, artinya Ia meminta untuk kita lebih sedikit bersabar.