Untuk perempuan seusiaku, urusan jodoh memang selalu pelik.
Ragam macamnya, beberapa orang ada yang terjebak dengan toxic relationshipnya, juga ada orang yang trauma untuk menjalani relationship, juga ada orang yang sedang ikhtiar memperbaiki diri untuk menjembatani sebaik-baiknya jodoh. Semoga itu adalah kita.
Aku tidak pernah benar-benar jadi seperti mu. Tapi sependek yang aku tau,
Setiap kita punya ujiannya masing-masing.
Lagi, dan lagi sabar adalah sebaik-baik penolong.
Menikah itu rumit sekali. Memilih seseorang yang akan jadi pasangan kita bukan hal mudah (untukku).
Aku kadang terlalu keraskepala, terlalu ingin yang begini dan begitu. Tapi kata salah satu kutipan yang pernah ku baca "kamu tidak perlu menurunkan standard, kamu hanya belum menemukan".
Sungguh, terlihat begitu "batu" tapi itulah aku.
Belum lagi, kita harus menyelaraskan dengan keinginan orangtua.
Sebagai anak pertama, ibuku ingin aku tidak memilih laki-laki yang juga anak pertama.
Karena alasan beliau dan keluarga besar, anak pertama tidak baik untuk anak pertama. Setelah ku bertanya apakah alasan yang mendasari, ternyata itu sudah otomatis diturunkan dari generasi ke generasi.
Dan ketika mendengar, dalam benakku "yang seperti ini tidak akan ku katakan kepada keturunan ku - kelak".
Entah bagaimana nanti aku dianggap, tapi ketika mendengar alasannya aku semakin yakin untuk mempertahankan pendapat ku.
Sebab, aku ingin tauhid adalah sesuatu yang selalu ada dalam diriku.
Aku tidak ingin, bergantung pada sesuatu selain Allah. Dan aku sadar benar, ini tidak mudah, juga aku harus bersiap ketika Allah menguji dengan apa yang aku yakini ini.
Sebenarnya, ketika keluarga memiliki alasan yang cukup masuk akal. (Mungkin) aku lebih bisa menerimanya. Bukan karena ada tradisi ini dan tradisi itu. Big no.
Belakangan, ibu sering bilang padaku..
"mbak, siapapun pilihan mu..in syaa Allah ibu Ridho.."
Aku yang mendengarnya, merasa senang dan terharu.
Tidak ada dalam diri merasa menang.
Namun, ada banyak sekali pertanyaan
Apakah Allah memberikan ibu hati yang luas untuk memahami pendapat ku?
Apakah Allah memberikan ibuku pemahaman-pemahaman tauhid?
Semoga tauhid itu selalu ada dalam diriku, orangtuaku, dan saudara seimanku.