Avatar

Ken nilam sari

@kennilamsari

(si)apapun yang sudah ditakdirkan untuk kita tidak akan menjadi milik orang lain , percayalah .
Ketika kesendirian menyergap, kepalamu dipenuhi tanya kenapa badai ini memilih kamu sebagai lahan yang harus disapu bersih?

Ruanganmu masih kau biarkan untuk berantakan. Aku tau tak mudah. Tak mudah sama sekali, tapi ayo kita berjuang. Kita takkan selamanya sendu.

Pelan-pelan aku ambil satu persatu puing-puing itu, memang terasa lama tapi aku pastikan tidak akan mengizinkan seseorang untuk masuk diruang yang masih berantakan.

Jika seseorang mengatakan aku baik, tentu saja karena Allah menutup aib ku

Jika seseorang selalu berkata sepertinya menyenangkan menjadi aku, itu pasti karena aku tidak pernah melihatkan kesedihanku

Jika saja mereka tahu, betapa banyak penyesalan yang tidak jarang aku tangisi.

Maka keinginan untuk menjadi aku pasti hilang, sebab aku adalah seseorang yang begitu banyak melewatkan banyak kesempatan.

Dulu aku pernah berfikir, jika memang untuk ku maka tidak akan menjadi milik orang lain, tapi stigma itu malah membuat ku berleha-leha santai hahahihi menjalani hidup.

Padahal tidak semua kesempatan datang kedua kali. ada banyak sekali hal yang hanya akan datang 1x. Dan aku melewatkan itu :)

Ini bukan tentang penyesalan, tulisan ini hanya untuk pengingat betapa sebuah kesempatan itu sangat sangat sangat berharga:D

Tak (Mungkin) Lagi Sama

Kita pernah melewati angka tahun yang sama, tahun saat kita masih remaja. Tahun yang sama, saat kita baru saja membuka mata bahwa dunia ini begitu luas dan tak menyangka bahwa kita akan bersisian garis takdirnya. Berkenalan, berbicara, saling bertukar pikiran. Tapi, tidak untuk bertukar perasaan.
Kita semua tumbuh tahun demi tahun, ada di antara kita yang garis takdirnya terus bersisian, ada yang berpisah jalan. Tapi, apa yang terjadi tidak akan pernah hilang begitu saja. Karena, bagaimanapun bentuk takdir hidup yang pernah kita lewati bersama, membentuk kita saat ini.
Pilihan kita pada jalan hidup, membuat diantara kita ada yang bersama, dan berpisah. Tak perlu menyesali pilihan, pilihan yang mungkin menjauhkan. Pilihan yang mungkin ingin kita ulang, jika bisa memutar waktu. Tidak perlu juga berharap semua akan kembali seperti semula, mau bagaimanapun, keadaan takkan pernah sama lagi. 
Kalau pilihan-pilihan yang dulu pernah dibuat ternyata membawa kita pada takdir yang paling ingin kita hindari, barangkali kita sedang diuji untuk bisa membuat pilihan baru yang lebih baik dan lebih berani. Kalau pilihan yang dulu pernah dibuat ternyata membawa kita pada takdir yang paling diinginkan, mungkin kita juga diminta belajar untuk bersyukur serta menghargai apa yang sudah digenggam.
Kita pernah melewati perjalanan hidup dalam irisan takdir yang saling bersinggungan. Bertemu di jalan, di sekolah, di bandara, di stasiun kereta, di toko buku, bahkan di dalam tulisan. Kita pernah merasa begitu saling mengenal dan pilihan hidup membuat kita kembali asing. Kita menjalani pilihan kita masing-masing. Dimanapun kamu berada, jangan pernah lupa bahwa apa yang sedang kita jalani saat ini adalah pilihan kita sendiri.  Tapi ingatkah waktu muda dulu kita pernah berujar,”Tidak apa-apa memutar balik, tidak apa-apa mengubah pilihan. Karena kita terus belajar, karena kita juga tahu mana yang lebih baik. Pilihan yang baik akan terus ada, hanya apakah kita berani atau tidak untuk mengambilnya, beserta segala risikonya.” Pilihan yang baik akan tetap ada, meski kita tidak melihatnya. ©kurniawangunadi

Aku tentu masih ingat jelas bagaimana aku begitu menanti-nanti hari sabtu, hari gajian buat bapakku.

Rumah sudah disapu, pel, lalu teh manis dengan air setengah gelas, baru ditambah air saat bapak sudah sampai rumah supaya teh tetap panas.

Disediakan dengan cemilan (kalau ada).

Setelah selesai diminum, inilah waktu yang ditunggu-tunggu..

Dapat uang dari bapak. Huuuaaa, senangnya hatiku..

--

3 tahun terakhir, bisa tau kegiatan perproyekan karena orangtua jualan disana.

Banyak orang yang ditemui,

Mulai dari bapak-bapak rantau yang rela tidak pulang supaya uangnya gak kepotong ongkos pulang pergi.

Ada juga yang minta tolong ditransferkan ke rekening istrinya dirumah, lalu kasih aku tunai.

Ada juga yang pulang dari proyek, beliau jadi ojol ( karena aku emang sempet liat pakai jaket ojol ditengah jalan)

--

Untuk itu, salam takzim untuk seluruh bapak-bapak dan tulang punggung harapan keluarga yang sudah seharian lelah bekerja, lalu masih pulang ke rumah dengan senyum hangat untuk keluarga.

--

Kalau waktu aku tanya,

Pak, lembur terus..gak ada liburnya..

"Alhamdulillah mbak, masih dapat rezeki buat bisa lembur...Lumayan bisa buat tambah-tambah"

Semoga Allah senantiasa memberkahi usaha kita dan Semoga sehat selalu 🤗

"sudah, tidak perlu disesali. Diam mu tadi juga jawaban baginya",

"tapi jawaban yang dia pikirkan salah , ta",

"lalu? Yang benar yang bagaimana? '

"tuh kan..km diem lagi"

"selama kamu gak ngerti apaa mau nya diri kamu, kamu akan kesusahan mengatakan keinginan dan mengungkapkan apa yang kamu rasain. Diem itu baik, tapi kalo lagi marah aja... Hehe" terang tata,

appreciate post for my self ❤️

Say thanks to my self,

Kamu kuat, lebih dari yang aku kira

Kamu bisa, lebih dari yang aku pikirkan.

Pada akhirnya, menjadi ikhlas adalah pilihan.

Beberapa orang mungkin senang ketika di perjuangkan oleh seseorang yang lain.

Karena merasa bahwa dia adalah orang yang berarti.

Tentu, hampir semua orang suka itu.

Dan belakangan aku baru paham,

Aku adalah orang yang memang senang diusahakan, diperjuangkan. Tapi ada hal lain yang membuat aku merasa lebih senang, yaitu ketika aku mengusahakan untuknya juga. Aku juga ingin, seseorang itu tahu bahwa dia juga seseorang yang penting. Sebab, aku tidak ingin seseorang itu merasa dia banyak berkorban tapi tidak ada yang dia dapatkan kembali.

Meskipun aku paham, orang baik tidak akan mengharapkan itu. Tapi aku juga paham, salah satu menjadi orang baik adalah membalas kebaikan oranglain, lebih, lebih dan lebih.

Kalau kata manager F.A.T ku

Give extramile~~~

Untuk perempuan seusiaku, urusan jodoh memang selalu pelik.

Ragam macamnya, beberapa orang ada yang terjebak dengan toxic relationshipnya, juga ada orang yang trauma untuk menjalani relationship, juga ada orang yang sedang ikhtiar memperbaiki diri untuk menjembatani sebaik-baiknya jodoh. Semoga itu adalah kita.

Aku tidak pernah benar-benar jadi seperti mu. Tapi sependek yang aku tau,

Setiap kita punya ujiannya masing-masing.

Lagi, dan lagi sabar adalah sebaik-baik penolong.

--

Menikah itu rumit sekali. Memilih seseorang yang akan jadi pasangan kita bukan hal mudah (untukku).

Aku kadang terlalu keraskepala, terlalu ingin yang begini dan begitu. Tapi kata salah satu kutipan yang pernah ku baca "kamu tidak perlu menurunkan standard, kamu hanya belum menemukan".

Sungguh, terlihat begitu "batu" tapi itulah aku.

Belum lagi, kita harus menyelaraskan dengan keinginan orangtua.

Sebagai anak pertama, ibuku ingin aku tidak memilih laki-laki yang juga anak pertama.

Karena alasan beliau dan keluarga besar, anak pertama tidak baik untuk anak pertama. Setelah ku bertanya apakah alasan yang mendasari, ternyata itu sudah otomatis diturunkan dari generasi ke generasi.

Dan ketika mendengar, dalam benakku "yang seperti ini tidak akan ku katakan kepada keturunan ku - kelak".

Entah bagaimana nanti aku dianggap, tapi ketika mendengar alasannya aku semakin yakin untuk mempertahankan pendapat ku.

Sebab, aku ingin tauhid adalah sesuatu yang selalu ada dalam diriku.

Aku tidak ingin, bergantung pada sesuatu selain Allah. Dan aku sadar benar, ini tidak mudah, juga aku harus bersiap ketika Allah menguji dengan apa yang aku yakini ini.

Sebenarnya, ketika keluarga memiliki alasan yang cukup masuk akal. (Mungkin) aku lebih bisa menerimanya. Bukan karena ada tradisi ini dan tradisi itu. Big no.

Belakangan, ibu sering bilang padaku..

"mbak, siapapun pilihan mu..in syaa Allah ibu Ridho.."

Aku yang mendengarnya, merasa senang dan terharu.

Tidak ada dalam diri merasa menang.

Namun, ada banyak sekali pertanyaan

Apakah Allah memberikan ibu hati yang luas untuk memahami pendapat ku?

Apakah Allah memberikan ibuku pemahaman-pemahaman tauhid?

Allah,

Semoga tauhid itu selalu ada dalam diriku, orangtuaku, dan saudara seimanku.

Semarang, 12 April 2021

Tumblr Bikin Nyaman Karena ....

1. Karena tidak ada konsep waktu pada kontennya. Buat saya ini ada sisi positifnya, sih, yaitu bikin saya enggak merasa fear of missing out (FOMO). Enggak merasa ketinggalan karena baru baca tulisan yang padahal udah dipos 14 jam yang lalu—seolah 14 jam itu waktu yang lama banget. Sampai sekarang, tulisan saya dari lima tahun yang lalu masih aja ada yang nge-like atau nge-reblog. Wkwkwkwk.

2. Jenis kontennya bukan konten yang muncul berdasarkan tren semata. Ini beda kayak Twitter yang tiap hari tren obrolannya berubah-ubah. Atau Instagram yang kalau ada filter baru, tantangan yang ngetren, atau fitur baru, semua langsung nyobain. Facebook juga sama, kayaknya. Intinya, kontennya seiring dengan isu atau fenomena yang lagi ngetren di dunia nyata. Dan, menurut saya, itu bikin cepet bosan (dan capek). Ya, bayangin aja kalau lagi rame soal nikahan Atta-Aurel, semua ngomongin. Prinsip abundance of information. Sebuah informasi kalau terlalu banyak diunjukin malah bikin yang liat ngerasa jengah. Kalau Tumblr, menurut pengalamanku isinya ya begini-begini aja. Ya, random aja. Mungkin dipengaruhi sama akun yang saya ikuti juga, ya. Buatku itulah yang bikin Tumblr jadi timeless. Enggak bikin cepat bosan.

3. Adem. Sejauh ini (sejak 2010), saya belum pernah lihat konten yang isinya ngajak ribut, spall-spill aib orang, atau komentar netizen yang akhlakless. Enggak tahu apa memang begitu atau perasaanku saja. Baca tulisan-tulisan di sini berasa lagi duduk-duduk di tengah perkebunan teh sambil minum teh kotak.

4. There's a boundary. Baca tulisan-tulisan di sini kayak nyimak buku diari. Tapi, saya hanya tahu ceritanya saja, saya enggak tahu orangnya. Jadi tetep kayak ada batas, tiap orang punya alam semestanya sendiri-sendiri. Dan, saya rasa kita sama-sama menghargai batas itu. Enggak berani masuk terlalu jauh ke semesta lain, kecuali sekadar lewat untuk say hello. Enggak pengin sok-sok ngerespons biar edgy, atau ngebantah pakai argumen enggak setuju biar beda. Gara-gara ini kali, ya, anak Tumblr enggak demen ribut.

5. Ini Tumblr banget. Tumblr itu enak buat ngomongin sesuatu yang deep. Apa karena di sini banyak filsuf? Hehehe. Yang saya rasakan, di Tumblr ada space pribadi yang luas buat para pengguna, engga sumuk. Beda dengan media lain yang padat merayap, bikin capek mikir dalem-dalem.

Eh, lagian, Tumblr emang bukan media sosial, sih, ya, melainkan hybrid antara blog dan media sosial. Jadi, maaf kalau perbandingan dariku ini tidak apple-to-apple. Hehe.

Btw, kalau menurutmu gimana? Ada yang mau berbagi?

Katakan padaku

Harus berapa hujan lagi yang harus aku habiskan untuk menguntai doa-doa ku untuk bisa bertemu denganmu?

Mereka bilang, waktu hujan adalah salah satu waktu mustajab agar doaku di dengar oleh-Nya.

Ada banyak prasangka

Kenapa kamu tak kunjung tiba ?

Ada banyak sekali khawatir

Haruskah aku menanti lebih lama lagi?

Di beberapa pertemuanku berujung gagal

Ada banyak hal yang membuatku tidak tertarik

Beberapa hal juga tidak sevisi

Aku begini, seolah-olah aku sedang menunggu mu

Padahal, aku tak tahu siapa kamu..

Semarang, hujan ke sekian di akhir bulan sepuluh

Menghargai waktu...

X : Pada bisa kapan?
Y : Anytime!
X : Lo kok kayaknya nyante banget sih. Ngga ada kerjaan?
Y : *Cengar-cengir*
Jika anda menemui percakapan serupa di atas, fakta yang terjadi adalah Y menempatkan agenda janjian tersebut pada prioritas kegiatannya. Sehingga, Y akan berusaha menyesuaikan agenda pribadinya agar agenda janjian dengan X dan kawan-kawan dapat terlaksana. Bukan berarti karena tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan oleh Y.
"No one is always busy. It just depends on what number you are on their priority list."
Saya sendiri selalu berusaha memperingatkan diri sendiri. Bahwa barangkali, hal yang paling berharga dari seorang manusia adalah waktunya. Maka, orang yang memberikan waktunya untukmu, maka ia telah memberikan sebagian dirinya padamu. Jangan pernah disia-siakan.

Dear, kinanthi mitayani Dek, di dunia sementara tapi sering dikejar mati-matian ini, semoga kamu jadi perempuan yang bisa menjaga diri. Semoga empati senantiasa tumbuh, karena dibumi ini kita hidup beriringan. Gakpapa kalau tidak jadi anak yang hebat di sekolah, yang gak boleh adalah jadi anak yang tidak menghargai gurumu. Ada banyak hal yang belum kamu tahu dan belum kamu coba. Selamat bertumbuh dan berpetualang. Aku suka kamu tambah besar karena sebagian pekerjaan rumah bisa didelegasikan ke kamu 🤣🤣🤣 https://www.instagram.com/p/CFTq5OMFuX-giVI8jKrxB2KP0o97GIfYL5sww40/?igshid=1qn8ebpz7qqbu

Mungkin banyak hal terjadi tidak sesuai yang kita inginkan, tapi banyak hal terjadi lebih dari keinginan kita

Semarang, 18 September 2020

Saat itu pukul 11 malam

Ibuku merintih kesakitan, sudah dua hari ini beliau ngerasa bagian lengan tangan kanannya sakit, mau apa-apa sakit, buat tidur juga gak nyaman.

Ditambah ibu tipe orang yang gak bisa sakit meskipun sedikit, dan tipe kalau sakit suka merintih..

Aku yang sudah terlelap dibangunkan adekku.

Dengan senjata minyak zaitun jadilah ku pijit semampuku. Setelah beberapa menit, lumayan udah bisa tidur.

Tanganku masih mijit pelan-pelan, sambil kutatap ibu.

Dalam hati berdoa, biar Allah angkat sakitnya. Pokoknya banyak doa lah,

Sampai akhirnya gak tau kenapa tiba-tiba nangis sendiri.

Aku yakin,

Dulu pasti beliau orang yang pertama khawatir saat aku sakit, terutama waktu bayi waktu belum bisa ngomong.

Aku juga ingat, gimana ibu mengusahakan uang untuk daftar tes SNMPTN. Qadarullah ternyata gagal :)

Aku pun masih ingat, waktu sekolah SD aku selalu pengen di jemput ibu, meskipun pulangnya sama-sama jalan kaki.

Dulu, tiap pulang jualan dari pelabuhan ada yang selalu ibu bawa pulang ; nasi goreng pakai kepala (yg jual temen dagang dipelabuhan juga)

Padahal waktu itu sama-sama ibu juga jualN nasi tapi rames.

Waktu aku sekolah, ibu selalu mastiin perutku kenyang. Seenggak-enggaknya kalau gak sempet masakin, ada telur dadar+caos atau tempura+caos.

Waktu deket-deket ujian sekolah, aku sering banget ketiduran didekat tempat belajar, nanti jam 3an bangun-bangun udah dipaakaiin selimut.

Bu, aku tau ibu gak bisa bilang "aku sayang kamu nak"

Tapi, aku tau yang ibu lakukan lebih dari sekedar ungkapan kata cinta.

Aku tahu, marahmu karena khawatir jika aku tidak sesuai kemauan mu, aku akan kesulitan.

Aku tau aku keras kepala, sebelum akhirnya aku mencoba lalu jika gagal. Ibu yang akan memegang erat tanganku seolah menenangkan.

Atas banyaknya hal yang belum bisa aku bantu mewujudkan nya, semoga doa mu tidak pernah berhenti menyertai anak perempuan pertama mu yang (sedikit) keras kepala ini :)

karena aku sangat mudah untukmu

karena aku sangat mudah untukmu.

kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.

kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.

kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.

kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.

karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.

semoga aku sangat berarti untukmu.

Aku tidak tau, arah jalan yang aku lalui ini akan berujung kemana..

Perlahan tujuan ku bias, seiring kerikil dan bebatuan yang kulalui.

Seringkali aku semangat untuk menyingkirkan, sesekali aku ingin menyerah.

Jika tidak ku ingat kembali apa tujuan awal semua ini, rasanya aku ingin berbalik arah.

Jika tidak ku ingat baik-baik pengorbanan apa saja yang sudah dilalui, rasanya aku ingin lari kembali ke jalan awal tadi.

Namanya mbak roh..begitu orang-orang memanggil, aku lebih suka memanggil dengan sebutan lek roh, bukan karena dia dagang sate tapi aku berasa dekat aja.

Aku tidak tau, hatinya terbuat dr apa

Hampir saban hari dia keliling mendorong gerobak sate keliling area rumah.

Tiap pagi datang ke rumah, menitipkan beberapa bungkus sate untuk dijual kembali oleh ibuk.

Sesekali sekitar pukul set6, aku menjumpainya di antrian penjual daging.

Juga sesekali memanggil namaku ketika berseberangan, dia hendak ke pasar aku mau pulang ke rmh.

Tidak sampai disitu, selesai belanja tugas lain sudah menanti, ada keponakan yang harus diurus keperluan sekolahnya.

Belum lagi pekerjaan rumah, bahkan tidak jarang pulang jualan, yang mana itu bisa sampai rmh jam 9 atau 9.30 dia masih menyempatkan untuk membantu mengerjakan PR keponakan nya itu.

Jangan ditanya apakah pernah main atu hangout, baginya punya waktu untuk tidur siang itu adalah nikmat.

Eh, tapi dia bahagia kalau bisa dapat kesempatan untuk diantar beli gamis di salah satu pasar tradisional deket rumah.

Sesederhana itu.

Juga dia bahagia, manakala ada tetangga yang punya hajat lalu dia bisa membantu.

Dia juga bahagia, kalo ada tetangga titip beli ayam dan kalau nitip dia pasti dapat harga yang lumayan lebih murah.

Iyya, sesederhana itu

Baginya itulah cara dia menambah rekening kebaikan.

Sampai sini aku mengerti, berbuat baik tidak harus dari hal yang superior, bisa dari hal kecil dan dimulai dari yang terdekat.

Satu lagi, aku selalu belajar dari beliau untuk tetap tersenyum..

Meski wajah letih memang tidak bisa disembunyikan.

Selalu semangat yaa lek,

Pada setiap tusukan sate, selain rasa semoga ada kebahagiaan penjualnya .

Cerpen : Tak Henti

“Kamu yakin sama keputusan kamu?”

“InsyaAllah. Kamu justru ragu sama jalan yang aku tempuh ini?”

“Enggak, apapun keputusan yang kamu ambil, aku doakan itu yang terbaik.”

“Makasih…”

“Makasih untuk apa?”

“Untuk nggak beralasan apa-apa yang bisa menahanku untuk nggak pergi kejar mimpi.”

“Aku suka lihat perempuan yang punya ambisi besar mewujudkan mimpinya, tandanya seorang pejuang.”

Dira tersenyum.

Akmal membalas senyum.

“Meskipun urusan perasaan ini nggak ada ujungnya, aku harap kita sama-sama paham kalau tidak ada yang bisa mengikat kita saat ini, sampai jelas segala sesuatunya.” Dira mencoba mengungkapkannya dengan lugas.

“Sudah jelas, saat ini tidak bisa. Tidak usah menunggu apa-apa. Satu titik kalau kita ditakdirkan bertemu ya bertemu. Kalau tidak, kita tetap berteman baik.”

“Salam buat ibu ya, Mal.”

“InsyaAllah…”

Dira menutup telpon. Menyeka air mata yang menyembul di ujung pelupuknya. Kembali meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang tepat.

Akmal di ujung sana, tak henti berusaha berada di tengah-tengah. Tak mau membenci ibunya karena Dira bukan dokter seperti persyaratan mutlak dari orang nomer satu yang dicintainya itu. Juga tak mau menjadi kesal kepada Dira karena berhenti berjuang. Akmal paham, jika diteruskan, pun sampai mereka menikah, nampaknya tak akan jadi baik tanpa ibu yang legawa anak laki-lakinya hidup bersama perempuan yang dasarnya tak beliau suka.

Mereka melanjutkan langkah, kemudian sama-sama paham. Bahwa ini adalah keputusan yang baik. Tak semua urusan perasaan harus berujung pada pernikahan. Sebagian besarnya memang harus larut dengan keikhlasan.

Mereka percaya, ada takdir baik yang menunggu di depan.

Kurangku

Aku tidak bisa mengukur seberapa berat pundakmu menjadi seorang imam; kepala keluarga dan memimpin anak-istri.

Aku juga tidak bisa mengira-ngira beban tanggungjawab yang besar dalam tiap langkahmu.

Dari ketidak mampuanku itu, maafkan aku jika seringkali aku luput...masih saja mendebatmu saat kau bilang jangan. Masih saja melobimu padahal kau bilang tidak.

Maafkan aku jika berulang kali membuatmu merasa kurang dihormati. Candaanku barangkali terlewat santai, omelanku bisa berujung sakit hati, ketidakpekaanku membuatmu berjalan lebih berat, keteledoranku membuat aibmu tersingkap.

Aku harus terus mengingatkan diriku sendiri, bukankah seharusnya yang membahagiakan untukku ialah ketika ridamu selalu membanjiri langkahku? Bukan hal-hal duniawi yang tak akan ada artinya jika terus kukejar...