Jatuh cintalah dengan kesadaran bahwa setiap orang bisa melukai sewaktu-waktu. Dan sembuhlah dengan keyakinan bahwa akan ada seseorang yang sungguh sungguh memahami bahwa kamu layak untuk dibahagiakan.
Dari setiap detik yang kita habiskan bersama waktu itu, katakan bahwa kau menemukan sedikit diriku di dalam dirinya.
Katakan bahwa ada secuil diriku dari apa-apa yang kau cari di dirinya.
Sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi diri sendiri pun masih saja di teriaki untuk sadar diri.
Kau mau aku berubah bagaimana lagi?
Bukankah sudah semua lautan minat mu telah aku arungi. Jika tidak, lalu aku tersesat di pulau mana?
Tanganku sudah lelah mendayung, aku sudah medambakan daratan luas, dimana orang-orang sibuk lalu lalang, tapi aku hanya berdiam.
Aku terpaku padamu, di ujung jalan aku memelas. Tapi kau? Tetap saja memberhentikan orang-orang sibuk yang sibuknya bukan untukmu.
Menyaksikan orang datang dan pergi, ternyata masih menyakitkan. Seterbiasa apapun kita dengan keadaannya, ditinggalkan selalu menjadi luka. Meski kita tahu pada akhirnya kelak kita juga akan ditemukan.
Ketika nanti langit sedang tidak cerah, maukah kamu tetap menjadi rumah bagiku menenangkan perasaan resah dan gelisah dalam dadaku?
Aku tidak menginginkanmu menjadi seseorang yang sempurna. Cukup jadilah rumah yang menenangkan diriku yang dilingkupi perasaan gundah.
Dan dekap aku dengan erat ketika hidup terasa berat. Jadilah tempat bernaung yang memberikan kekuatan agar tidak menyerah kala aku mengalami kekalahan.
βIwan Widi. @hardkryptoniteheart
karena aku telah terbiasa jatuh, kehilangan, dan memaafkan.
β fitri nganthi wani
Jika semua "semoga hari-mu menyenangkan." -mu telah kau beri semua. Lantas nanti apa yang aku dapat?
"if i don't deserve love, then i don't deserve life."
Benar kalau manusia itu adalah makhluk sosial, tapi sejatinya, manusia hanya akan bersosial dengan manusia manusia yang lain yang mereka anggap menarik.
Sebagai seorang yang mudah sekali jatuh cinta dan menyukai orang lain, saya kesusahan untuk mencari kebenaran atau validasi perihal orang lain akan mencintai saya.
Tampaknya ego saya terlalu besar untuk hal kecil seperti ini, mulai dari kata-kata afirmasi sampai act of service yang padahal sudah begitu banyak mereka lontarkan ke saya, tapi tetap, saya merasa tidak pernah dicintai.
Karena apa? Ya kembali lagi, mungkin karena ego saya. Saya memupuk ego saya begitu banyak, karena ketika saya mencintai seseorang, saya akan memberikan segalanya untuknya, dan bodohnya saya, saya mengharapkan situasi timbal balik atas hal itu. Padahal, tak semua orang memiliki pikiran dan pandangan yang sama seperti saya perihal "mencintai".
If what you give is the same with what you give to others, then i don't want it.
Ego saya selalu berkata, "saya mau lebih!" padahal dengan kesadaran yang sempurna, saya tahu kalau hal itu akan menjadi senjata paling mematikan yang akan membunuh saya. Sang tokoh utama yang bisa-bisa menaklukan hubungan tak berpendirian.
Kamu
Oleh : Kevin setyawan
Hanya dirimu yang berhasil membuat diriku menjadi kepingan kecil yang enggan di rindukan. Kamu pula yang bisa menancapkan rindu paling dalam dihatiku.
Sejak hadirmu mulai sirna bolehkah aku meminta sedikit kebahagiaan yang dahulu sering kita rasakan bersama?. Untuk membuat hatiku kembali pulih dari hempasan masa lalu tentangmu.
Bolehkah kuputar kenangan bak sebuah lagu yang tak pernah bosan untuk aku dengar sementara potret dirimu masih terlukis dengan jelas bak sebuah sajak yang belum sempurna.
Dan aku hanya ingin membuatnya sempurna abadi dan tak akan pernah terganti didalam ingatan.
Belakangan aku sibuk dengan beberapa rintangan yang sedang ku hadapi.
Sampai-sampai aku lupa, kalau dirimu adalah salah satu hal yang harusnya aku tangisi.
Bila nanti aku sudah berbaik diri, aku harap kisah mu mati, bersama dirinya sang putri.
Yang sudah pasti, tak akan bisa kutandingi.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga, perihal kemana kalimat "Diatas langit, masih ada langit." membawa kita.
Beberapa ada yang bersyukur karenanya, sebab bukan lagi bumi, langit-pun sudah ia genggam.
Tapi sebagian lagi, mendambakan apa-apa yang ada diatas langit-nya langit. Padahal dari kalimatnya saja, objek ini sendiri saja, sudah bersifat tak tertabatas.
Pun- tanpa adanya gambaran tentang apa yang ia dambakan, hasrat hatinya kokoh, seakan besok, ia sudah bisa melangkah di udara.
Langit tak lagi ia gapai, ia injak, ia berjalan diatasnya.
Bayangkan jika ada pujangga yang menulis tentangmu.
Tentang ucapanmu yang terus-menerus menyihir sudut pandangnya.
Atau tentang tatapan hangatmu yang membuatnya merasa aman.
Tak ada yang tahu, kalau pujangga kecil itu diam-diam menyukaimu.
Dibalik kusut-kusut bajunya ada perasaan salah tingkah yang tertutupi.
Kemudian dipipinya, ada rona yang menghiasi.
Sedang dirimu tak pernah tahu kalau kau dicintai. Kau sibuk kesana kemari memikirkan siapa pendampingmu, seakan-akan kau mati esok.
Padahal pujangga itu menunggumu melihatnya, ia ada di kolong-kolong meja, juga disudut-sudut persimpangan.
Dia tegak disana, tapi matamu melihatnya semu. Dirinya utuh disana, tapi jiwamu menganggapnya kasat.
Demikianlah pujangga itu bertahan. Dibalik bayang-bayang ramainya kerumunan.
Sejatinya, yang paling dekat denganmu, belum tentu yang paling mengerti kamu.
Yang paling sering bertemu denganmu, belum tentu yang paling peduli denganmu.
Sakit memang, mengetahui kalau tidak semua hal di dunia ini, berjalan sinkron sesuai poros mereka. Ada juga yang beraturan, tapi tak searah.
11 Januari 2023
Siang ini, saya duduk disalah satu kursi di tempat makan yang sering kita kunjungi, bedanya hari ini saya sendiri. Ada lantunan musik piano dari rekaman yang mereka keraskan suaranya.
Nada-nada itu adalah "City of Starts", yang sudah kamu pelajari dulu, kalau lagu ini yang sempat populer karena salah satu film favorite ku.
"City of stars - are you shining just for me?" Yes, lagu ini mendefinisikan "kita", perihal kamu yang ternyata tidak dan tidak akan pernah bersinar hanya untuk-ku.
You shines for me, but shines even brighter for anyone else. Apa yang saya dapatkan hanya percikan-percikan kecil yang tersisa dari usahamu bersinar untuk orang lain. AND THAT'S OKAY.
Perihal bagaimana kamu menyinari insan lain yang lebih cocok dan masuk akal untuk disinari. Karena dengan begitupun, saya masih bisa melihat sinarmu.
Mungkin ini terjadi karena kau merasa kalau langit mereka lebih gelap, tanpa tahu kalau satu-satu nya cahaya yang ada dilangitku, adalah kamu.
Sebab itu saya tak membencimu, karena jika cahaya itu pergi, gulita pasti menyelimutiku. Kau berharga.
Di hampar lautan ini kita adalah sepasang biduk yang terusir. Terjerat sifat perayaan penuh delusi bernama cinta. Kita terapung, sara bara, mengharapkan asmaraloka yang hanya pernah tertulis dalam karangan khayal seorang pujangga. Tanpa tahu bahwa alasan sebenarnya kita mendayung hanyalah sekadar untuk menunda waktu tenggelam.
Pengabaian bukan penyelesaian, yang tak tampak lagi, belum tentu serta-merta menghilang.
Kau tidak bahagia bagaimana? Bukankah senyum lebar yang sedang terlukis di wajahmu itu? Bukankah tawa besar yang ku dengar dari arah dirimu itu?
Tapi bukannya hal-hal kecil bisa membuat hatimu senang? Seperti canda kecil dari orang disebelah mu, atau sesederhana anak kecil yang melompat-lompat kegirangan, atau bahkan pesawat kertas yang kau terbangkan malam itu.
Lalu, kau ingin bahagia yang seperti apa? Jikalau bukan sorak meriah dari kumpulan badut di kepala mu, dan gemerlap gelap yang menghitami pikiranmu.
Kau mau apa? Kau pilih yang bagaimana?
It's okay, semua orang punya rasa takutnya. Semua tau gimana cemasnya, capeknya overthinking, it's tiring but it feels fun. Artinya kamu benar - benar punya perasaan, dan perasaanmu valid, kamu sesayang itu. Kamu secinta itu dengannya. But, i want to tell you this.
Dunia ini fana, semua bisa hilang, bisa pergi kapanpun. People come and go. Kita bisa kehilangan siapapun, don't ruin yourself with excessive anxiety
Jangan merusak apa yang ada dalam dirimu dengan isi kepalamu sendiri.
Pada penghujung rasa.
Dimana saya tak mampu lagi menahan resah dan dahaga. Saya mundur, saya sadar diri.
Dirimu memang tak dapat ku gapai, satu dua atau bahkan beribu alasan membenteng ditengah kita.
Di sisi lain itu, saya ingin kamu tahu kalau saya sedang berjuang, mendapati mata-mata hangat, yang bisa meredam kesengsaraan saya.
Jikalau nanti saya mendapatkan seseorang yang mengerti saya layaknya kamu, saya ingin kamu tahu, kalau kamu pernah menjadinya.
Jika nanti saya berhasil menemukan tempat singgah dihati seseorang selain dirimu, percayalah kamu pernah menjadi yang tak terganti, yang selalu ada di hari-hari mati.
Yang pernah menjadi alasan saya untuk tidak menginginkan siapapun lagi.
Sangkin seringnya memendam hal apapun sendiri.
Saya jadi lupa mana yang sejatinya yang lebih jahat, menyalahkan diri sendiri, atau membebankan segala salah pada orang lain.
Saya sudah coba menyalahkan diri ini, karena saya sadar, kalau semua hal yang terjadi, mutlak karena tindakan ataupun keputusan saya. Tapi lama kelamaan, kenapa diri rasanya tidak nyaman ya? Saya terlalu mengasihani orang lain, sampai lupa kalau ternyata, diri sayalah yang patut dikasihani.
Lalu saya berubah, banyak kesalahan yang saya yakini kalau itu adalah salah orang lain, tapi malah ego saya yang terkoyak, jika benar itu salah mereka, kenapa tak satupun dari mereka yang meminta maaf? Mereka bahkan terlihat tak peduli, bahkan diantaranya tak sadar kalau mereka sedang dalam posisi "salah".
Terus harus bagaimana?
Jika kau temukan dirimu ingin membuat mereka bahagia, suguhi mereka telingamu sebelum hatimu.
Setengah dari utuh kebahagiaan dan rasa lega adalah menemukan seseorang yang mampu pula mau mendengarkan kita.




