Ini doa terakhirku untukmu. Sepaket dengan perasaan dan harapan yang harus kusudahi.
Selamat berbahagia, aku.

Ini doa terakhirku untukmu. Sepaket dengan perasaan dan harapan yang harus kusudahi.
Selamat berbahagia, aku.
Jujur ini pertama kali post rekaman nyanyi, karena disini gak ada temen yang kenal gw nii, yaudah gw post ditumblr deh. Judul "gelisah" yang di bawakan oleh Bapak Ahmad Jais, idola nyokap waktu kecil.
Kemarin gw dengerin kenyokap, katanya bagus trus disuruh post di facebook, jujur aku gak sepede itu belum (untuk saat ini ya, gatau nanti hehe).
Suatu ketika Rasulullah, Abu Bakar dan Umar pernah dijamu suatu makanan dan setelah kenyang Rasulullah berkata “Demi Allah kalian sungguh akan ditanyai pada hari kiamat tentang nikmat ini”
Kata ulama mengomentari, “hanya satu kali kenyang saja kita akan diminta pertanggungjawaban syukurnya, apalagi kita yang kenyangnya dalam sehari bisa sampai lima kali
Demi Allah, begitu banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi apa yang kita kerjakan? hanya berkeluh kesah, menyebut-nyebut hal buruk saja”
Sejak kecil, saya memang terlahir dengan suara yang sengau, ketika sudah pandai berbicara, awalnya memang keluarga mengira saya memang cadel, sama seperti anak anak yang baru pandai berbicara, tapi setelah masuk sekolah dasar, kalau ngomong tetap kaya anak kecil yang ga bisa R dan huruf huruf yang kalau saya menyebutnya pasti ke hidung.
Bukannya ga bersyukur, alhamdulillah masih bisa ngomong, masih bisa komunikasi sama orang-orang. Tapi tetap aja, sampe sekarang masih ada perasaan malu, minder untuk berkenalan sama orang baru, apalagi soal wanita. Salah satu alasan saya sampai saat sekarang ini, tidak punya pacar atau istri, saya malu untuk berkenalan atau dekat sama wanita.
Btw sori yaa, yang baca tulisan ini, kalau penulisan saya kurang baik, karna saya emang bukan penulis heheh cuma mau cerita aja gitchu, karna cuma di Tumblr, saya berasa enak kalau cerita. Ga kaya di Twitter, facebook maupun instagram.
Oke, balik ketidakPedean saya karna punya suara sengau ni ya, dari kecil mulai dari sekolah, kuliah sampe sekarang pun masih di ejek atau bully, tentang suara saya ini, dari niruin ketika saya berbicara sampai di bilang CACAT. Sedih? Pasti, tapi mau gimana lagi, emang udah begini dari lahir, emang udah begini dikasih sama Allah.
Apalagi sekarang, alhamdulillah udah keterima kerja di Salah satu lembaga yang ngawasan Pemilu, selalu ngadepin masyarakat, atau pun orang orang kecamatan yang sering ketemu sama saya, selalu malu selalu minder untuk buat komunikasi sama mereka.
Selain masalah pekerjaan, yang kaya aku singgung diatas tadi ( apasih formal bet) masalah asmara saya yang sampai sekarang ga berujung. Pernah si beberapa kali pacaran, mereka nerima saya apa adanya, walaupun kadang kalau lagi ngobrol atau telponan selalu bilang gini "apa bang ga kedengeran, atau sinyal jelek" padahal aku tau mereka ga ngerti apa yang aku bilang. Tapi makin kesini makin berumur, semakin krisis kepercayaan diri saya semakin menuru , untuk deketin wanita yang saya suka aja, malunya nauzubillah hehehe
Akh yaudah de ngeluh mulu kaga ada bersyukur bersyukurnya. Walaupun ngomongnya saya gajelas atau dibilang cacat, saya tetap sabar kok, walaupun hati saya meringis sii huhuhuhu
Saya perhatikan Anies Baswedan ini tidak pernah menyebut dirinya di tiap pekerjaan Pemprov DKI. Padahal dia sanggup dan bisa saja mengaku-ngaku. Kemampuan dia menyusun narasi bisa jadi jauh lebih terselubung untuk menyisipkan “Saya”.
Ada dua aktor yang paling sering disebut olehnya. Pertama adalah Pemprov sebagai entitas eksekutif yang komunal. Pemprov berarti berisi seluruh jajaran di dalamnya, tidak hanya seorang Gubernur. Kedua, pekerja, baik dari jajaran pemprov atau jajaran di luar eksekutif yang terlibat. Pekerja, yang jumlahnya ribuan tapi tak mendapatkan panggung dibandingkan elit yang segelintiran. Anies, terlalu sering mengapresiasi aktor yang kedua.
Tidak pernah saya melihat atau mendengar seorang Anies menggunakan kata “Saya” untuk pekerjaan atau hasil tertentu–apalagi sampai mengklaim. Termasuk hari ini, dalam momen krusial di mana bisa saja dia mengklaim hasil kerja. Atau setidaknya berupaya menjadi jagoan sendirian dengan narasi-narasi halus metaforik. Tapi dia tidak lakukan. Saya kesal sendiri sebab rasanya ingin menampar bedebah yang gemar mengklaim sesuatu lalu memunculkan diri seolah hanya dia yang mampu melakukannya.
Dia tidak sempat menyatakan “Saya yang menyelesaikan Tahap I”. Tapi justru berterima kasih kepada seluruh gubernur yang terlibat. Dia tidak sempat selfie dan memamerkannya di sosial media. Tapi dia justru mengapresiasi para pekerja yang jarang diperhatikan oleh para penguasa.
Ketinggian akhlak seorang pemimpin itu tidak muncul dari jargon-jargon. Ketinggian akhlak itu muncul dari jiwa yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Tanpa make up, tanpa kepalsuan.
Terima kasih karena mengajarkan saya dan kami cara mengapresiasi.
Sumber foto: klik.
Hadiigani
Karena ilmu agama ku masih cetek banget jadi kalau untuk proses taaruf masih banyak gataunya. Tapi ngebayangin aja, ntar aku nikah sama dia bakalan cinta ga ya? Bakalan nyaman ga ya? Bakalan bla bla bla bla terlalu banyak hal negatif menyerang pikiran saya. Trus ngebayangin juga, tidurnya biasanya sendiri ntar ada yang nemenin, ada yang ngurusin, pokoknya yang indah indah deh, tapi itu dia masih aja pikiran negatif menyerang, gimana kalau sifatnya jelek? Gimana kalau dia pemalas? Gimana kalau dia ini itu ini itu. Tapi intinya, saya mau nyenengin emak saya, bahagia emak saya dengan pilihan dia, saya pun bahagia. Terserah orang luar sana mau ngomongin apa, yang penting emak aku bahagia.
Sebenernya si aku emang ga suka nulis, tapi berhubung permasalahan yang saya hadapi ini lumayan rumit ( bagi saya) jadi yaudah pengen cerita aja gitu disini. Sekarang umur saya udah 26 Januari nanti 27, umur umur segini emang paling rentan dengan pertanyaan " Kapan Nikah?!!" Siapa si ya ga kepengen nikah, saya normal ini, sama kaya orang-orang pengen membina rumah tangga sama pasangan yang halal. Tapi berhubung cewe yang deket sama saya, ga mau diajak nikah, maka saya putuskan minta dicarikan jodoh yang sesuai dengan pilihan Emak saya. Jadiiii akhirnya nyokap nyari sama temennya, sodaranya sampe tetangga sebelah, daaan saya disodori beberapa pilihan. Sebenernya lucu si yaa, tapi ya mau gimana lagi. Disodori beberapa wanita, akupun ga ada memilih wanita mana yang mau diajakin serius, tapi nyokap ada satu yang paling kecantol banget, saya si cuma senyum tersipu malu hehe Saya percayakan nyokap untuk perihal jodoh saya. Nyokap pasti tau yang terbaik buat anaknya.
“…(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu..”
Tulus - Tukar Jiwa
Datangnya era teknologi masa kini berhasil mendorong segalanya menjadi lebih cepat, pun lebih mudah. Manusia dibuatnya makin tangkas. Lewat smartphone contohnya, segalanya jadi mudah untuk dilakukan : Pesan makanan lewat GoJek, bertukar kabar via grup Whatsapp keluarga, mengabadikan momen lewat Boomerang hingga memicu keributan di media sosial.
Kemajuan tersebut seperti anak panah yang siap untuk dilepaskan. Bisa nyasar, bisa tepat sasaran. Tergantung siapa yang memegang panahnya. Sadar atau tidak, para anak muda nya pun jadi bagian dari kemajuan tersebut. Mereka adalah para agen perubahan (katanya).
Namun di era yang serba maju ini, nyatanya tidak diikuti dengan kemajuan pada kedewasaan pikir di kalangan anak mudanya, dalam hal ini adalah mahasiswa. Banyak kegaduhan dan perdebatan sesama mahasiswa yang nampaknya semakin tak berujung. Perdebatan di warung-warung kopi, sekretariat lembaga mahasiswa hingga kolom komen postingan yang sedang viral.
Perdebatannya tak jauh-jauh dari saling tuduh, saling menyalahkan, saling merasa benar, dan berbagai hal-hal yang melukai solidaritas dan nilai-nilai intelektual di antara mahasiswa itu sendiri. Momentum yang terbaru adalah Aksi Nasional 20 Oktober lalu dalam rangka menyampaikan Evaluasi Kinerja Presiden Jokowi selama 3 tahun. Niat yang luar biasa luhur, namun tercederai oleh kericuhan di ujungnya, hingga penangkapan beberapa teman mahasiswa yang disinyalir bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
Melewati batas waktu aksi yang diperbolehkan berdasar Undang-undang yang berlaku kata beberapa orang.
Presiden merakyat kok takut sama rakyatnya sendiri yang mau menyampaikan aspirasi kata sebagian orang lainnya.
Pelik.
……Begitu terus tanpa ada habisnya
Mendebat masalah teknis tentang aksi kemarin tak ubahnya perdebatan mana yang duluan antara ayam dulu atau telur dulu. Ra uwis uwis.
Karenanya, ada hal yang sesungguhnya jauh lebih besar dari perdebatan akan aksi minggu lalu yaitu tentang bagaimana perjuangan ini setelahnya?
Memperjuangkan teman-teman yang “dihabisi” saat aksi kemarin?
Boleh.
Terus mendesak Presiden untuk memenuhi poin tuntutan pada aksi yang lalu?
Bisa juga (bahkan wajib dilakukan rasanya).
Tapi coba lihat lah dengan kacamata yang jauh lebih besar dan hati yang lebih lapang. Memandang lah lebih luas bahwa banyak hal lain di belakang itu semua.
Ada yang aneh saat gerakan mahasiswa terlihat sepi-sepi saja, padahal gerakan tersebut memperjuangkan keadilan sesama.
Ada yang salah rasanya saat ada mahasiswa yang sedang bergerak demi kebenaran sementara kelompok lainnya habis-habisan mencela.
Ada yang membingungkan tatkala tiba-tiba muncul sebuah aksi yang mengatasnamakan mahasiswa dan membela keadilan, namun hati kecil berbisik, “Apaan sih ini? Gue gak merasa terwakili sama sekali.”
Mahasiswa bergerak tak lagi seperti lidi-lidi rapuh yang bersatu menjadi sebuah kekuatan yang lebih besar, tapi tak lebih dari pecahan kaca yang berserakan. Sendiri-sendiri.
Ada yang lebih besar daripada itu.
Lembaga mahasiswa dan berbagai gerakan mahasiswa lainnya yang eksis sampai hari ini nyatanya telah melewati berbagai macam tempaan dan ujian di setiap masanya. Orde Lama, Orde Baru hingga masa Reformasi pada hari ini. Berhasil lolos dari ujian tersebut, tapi kebanyakan justru jadi susah move on. Terjebak nostalgia kalo kata Mbak Raisa. Akhirnya apapun yang dilakukan lembaga mahasiswa, seolah ada sebuah kiblat paten yang “Harus seperti ini banget biar kaya dulu-dulu.”.
Padahal tidak hanya yang sepemikiran denganmu yang perlu kau perjuangkan dan kau naungi. Ada bermacam kids jaman now dan children yesterday afternoon yang perlu diakomodasi agar terwakili juga kepentingannya.
Jangan-jangan kita lupa bahwa setiap 1 orang yang mendukung, akan selalu ada 5 orang yang menolak. Begitu kata guru saya. Bukan hanya jadi mati-matian memperjuangkan yang 1 saja, lalu kemudian melupakan 5 lainnya. Namun pilih lah jalan yang mampu memudahkan semuanya.
Sulit, tapi bukan ndak mungkin.
Apatisme juga sedang asoy merasuk sendi-sendi perjuangan mahasiswa. Lu lu, gua gua. Dewe dewe ae. Apatisme layaknya ulat yang siap menggerogoti dan membuatmu membusuk. Ruang-ruang diskusi semakin sepi karena segalanya sudah tersedia di Line Today. Inovasi ajakan bergerak kreatif kekinian hanya dipandang sinis. Kegiatan mahasiswa dilihat sebatas formalitas menggugurkan program kerja. Mahasiswa kan tugas nya kuliah, lalu lulus, lalu bekerja. Kegelisahan mahasiswa aktipis kebanyakan dirasa bukan menjadi sebuah masalah. Tidak mewakili suara hati katanya. Ngeri.
Mahasiswa semestinya secerdas namanya. Jangan mudah emosi atau terpantik.
Mahasiswa harus menunjukkan kelasnya sebagai kaum intelektual yang punya tanggung jawab besar akan masa depan bangsanya. Lebih peduli.
Mahasiswa sebagai role model orang-orang terdidik dengan segala harapan orang banyak yang menggantung di pundaknya.
Mahasiswa bukan kaum sumbu pendek. Mahasiswa harus paham medan tempurnya. Keras, panas, penuh dengan intrik dan tipu-tipu.
Atau jangan-jangan,
Ada yang lebih besar daripada itu?
Sadar kah bahwa mungkin mahasiswa hanya lah domba yang sedang dibentur-benturkan kepalanya? Kesakitan tanpa tau apa yang dilakukan.
Atau mahasiswa hanya lah gundu yang coba ditabrak-tabrakkan kepentingannya? Supaya saling menyalahkan dan saling tak peduli. Sadar kah bahwa sesungguhnya ada yang lebih besar daripada itu?
Bahwa kita sepertinya kehilangan musuh yang sama? Langkah perjuangan yang sejalan? Pilihan bergerak yang seirama?
1928. Pemuda-pemuda sepakat bahwa kolonialisme adalah musuh dan tidak akan membawa bangsanya menjadi besar. Mereka perjuangkan kemerdekaan lewat deklarasi Sumpah Pemuda.
1966. Ketidakadilan hanya lah masa lalu, maka perjuangan atas nama keadilan adalah segalanya. Mereka sepaham untuk perjuangkan keadilan lewat Tritura.
1998. Tiada rasa yang lebih nikmat dari pada kebebasan. Terkekang puluhan tahun ternyata tidak membuat bangsa ini semakin dewasa. Bersama-sama mereka lakukan pendudukan gedung-gedung sentral di Ibukota sebagai wujud perlawanan. Penembakan beberapa aktivis hingga turunnya Presiden tercinta adalah tanda perjuangan bersama.
2017? Ternyata tak lebih dari perdebatan tak bermutu di dunia maya.
Jangan-jangan kita sedang melawan musuh yang tak nyata.
Kita sedang melawan musuh yang tak ada?
Jangan-jangan kita bingung sehingga hanya cela dan cemooh saja?
Kita bimbang hingga kesulitan mencerna keadaan?
Sadar kah?
Atau jangan-jangan hanya saya yang salah?
Ah, bodo amat lah.
Urusan pribadi saya juga masih banyak kok! Huft.
Another good point of view.
Cool, Aul!!!
— Taufik Aulia
African Proverb.