Minggu, 30 Mei 2021
Hari ini pas lagi di motor perjalanan nganter bu Nani ke pangkalan angkot, tiba-tiba aja kepikiran sesuatu yang random banget yang menghasilkan sekumpulan kata ini

Hari ini pas lagi di motor perjalanan nganter bu Nani ke pangkalan angkot, tiba-tiba aja kepikiran sesuatu yang random banget yang menghasilkan sekumpulan kata ini
Aku sedih ketika dia bilang “ yok cepet jangan di bisu in, gua lagi ngerjain tugas nih, gua sempet sempetin nih, yuk buruan.” Ini hari ulang tahun ku dan sepi. Mereka yang harus nya menghibur ku, sibuk dengan yang lain, dan mungkin mereka lupa. Iya, aku sedih. Apakah aku selalu ada di ingatan terbelakang mereka? Apa aku ini tidak sepenting itu?
Maaf jika kelihatannya aku terlalu baper. Tapi aku butuh juga mereka. Apa sekadar mengetik “selamat ulang tahun” atau “ Happy Birthday” selama dan se rumit itu sampai tidak sempat. Kadang aku berfikir aku ini sebenarnya benar-benar ada di dalam hidup mereka atau hanya mereka ingat ketika mereka membutuh kan aku?:’
Gapapa, maaf aku hanya terbawa perasaan. Tenang, semuanya akan baik baik saja:)
Sahur pertama dengan formasi yang ga lengkap
Gapapa, Dia memang udah ga disini lagi
Tapi Dia akan selalu ada di hati ku selamanya
Mengawasi ku dari tempat terindah
Dan aku percaya menemaniku setiap waktu
1. Karena tidak ada konsep waktu pada kontennya. Buat saya ini ada sisi positifnya, sih, yaitu bikin saya enggak merasa fear of missing out (FOMO). Enggak merasa ketinggalan karena baru baca tulisan yang padahal udah dipos 14 jam yang lalu—seolah 14 jam itu waktu yang lama banget. Sampai sekarang, tulisan saya dari lima tahun yang lalu masih aja ada yang nge-like atau nge-reblog. Wkwkwkwk.
2. Jenis kontennya bukan konten yang muncul berdasarkan tren semata. Ini beda kayak Twitter yang tiap hari tren obrolannya berubah-ubah. Atau Instagram yang kalau ada filter baru, tantangan yang ngetren, atau fitur baru, semua langsung nyobain. Facebook juga sama, kayaknya. Intinya, kontennya seiring dengan isu atau fenomena yang lagi ngetren di dunia nyata. Dan, menurut saya, itu bikin cepet bosan (dan capek). Ya, bayangin aja kalau lagi rame soal nikahan Atta-Aurel, semua ngomongin. Prinsip abundance of information. Sebuah informasi kalau terlalu banyak diunjukin malah bikin yang liat ngerasa jengah. Kalau Tumblr, menurut pengalamanku isinya ya begini-begini aja. Ya, random aja. Mungkin dipengaruhi sama akun yang saya ikuti juga, ya. Buatku itulah yang bikin Tumblr jadi timeless. Enggak bikin cepat bosan.
3. Adem. Sejauh ini (sejak 2010), saya belum pernah lihat konten yang isinya ngajak ribut, spall-spill aib orang, atau komentar netizen yang akhlakless. Enggak tahu apa memang begitu atau perasaanku saja. Baca tulisan-tulisan di sini berasa lagi duduk-duduk di tengah perkebunan teh sambil minum teh kotak.
4. There's a boundary. Baca tulisan-tulisan di sini kayak nyimak buku diari. Tapi, saya hanya tahu ceritanya saja, saya enggak tahu orangnya. Jadi tetep kayak ada batas, tiap orang punya alam semestanya sendiri-sendiri. Dan, saya rasa kita sama-sama menghargai batas itu. Enggak berani masuk terlalu jauh ke semesta lain, kecuali sekadar lewat untuk say hello. Enggak pengin sok-sok ngerespons biar edgy, atau ngebantah pakai argumen enggak setuju biar beda. Gara-gara ini kali, ya, anak Tumblr enggak demen ribut.
5. Ini Tumblr banget. Tumblr itu enak buat ngomongin sesuatu yang deep. Apa karena di sini banyak filsuf? Hehehe. Yang saya rasakan, di Tumblr ada space pribadi yang luas buat para pengguna, engga sumuk. Beda dengan media lain yang padat merayap, bikin capek mikir dalem-dalem.
Eh, lagian, Tumblr emang bukan media sosial, sih, ya, melainkan hybrid antara blog dan media sosial. Jadi, maaf kalau perbandingan dariku ini tidak apple-to-apple. Hehe.
Btw, kalau menurutmu gimana? Ada yang mau berbagi?
Setuju iihh 😆😆
Bagiku tumblr itu seperti rumah; yg isinya sama berantakannya kek isi kepala 😂😂😂
Cuma di sini aku bisa pergi sesuka ku dan kembali lagi sesuka ku. Menuliskan apa yang aku ingin tulis tanpa orang-orang tau siapa aku, takut di bilang lebay atau alay karna mereka ga tau siapa aku. Mencurahkan isi hati tanpa orang-orang terdekat ku tau bahwa akun ini milik ku. Walau aku jarang buka akun ini dan kadang aku juga tidak tau mau di isi tulisan dan foto seperti apa akun ku ini. Well, yang penting aku suka ada di sini :)
Ini untuk siapapun yang merasa dirinya tak cukup baik, atau mereka yang tidak pernah menemukan apa yang mereka cari baik dalam hidup, dalam usaha, ataupun dalam cinta.
Ini untuk siapapun yang merasa kurang dari apapun, berdasarkan masa lalunya.
Ini untuk siapa saja yang merasa patah hati, takut percaya, atau menutup hatinya lagi.
Percayalah, bahwa ada lebih banyak cara untuk menikmati hidup daripada berpegang teguh pada penderitaan masa lalumu, daripada berkeliaran dengan rasa putus asa dan rasa takutmu.
Percayalah, bahwa akan ada kesembuhan yang mungkin kadang-kadang butuh waktu lebih lama dari yang kamu harapkan.
Kita semua pernah dikalahkan sebelumnya.
Kita semua pernah mengambil belokan yang salah.
Kita semua pernah mencintai orang-orang yang pernah menyakiti kita.
Kita semua pernah berharap untuk jalan yang berbeda, cerita yang berbeda, dan bahagia selamanya.
Tetapi yang sebenarnya adalah, kita memimpin jalan ini karena suatu alasan. Mungkin untuk menemukan kekuatan, mungkin untuk memimpin orang lain untuk tumbuh dari momen-momen ini dan mengubah lintasan dimana kita berada dan dimana kita berakhir.
Jadi jika kamu berada di tempat yang membuatmu merasa takut dan kesepian, bertahanlah.
Orang yang tepat akan datang, kesempatan yang dimaksudkan untuk kamu ambil akan menemukan jalannya menuju kamu.
Akan ada harapan, kegembiraan, dan kesembuhan.
Mari berharap pada Tuhan, bukan kepada tahun.
Syukuri jadi kata penutup tahun kemarin, dan bertumbuhlah menjadi tunas bahkan pohon yang kokoh untuk tahun ini.
Dan untuk yang sedang menikmati euforia semoga senantiasa tak lupa batas kenyamanan bersama.
Selamat terbentur untuk terbentuk.
Selamat patah untuk tumbuh.🌹
Siap ga siap HARUS siap:)
Ga berasa ya, rasanya baru aja masuk kuliah beberapa bulan lalu. Eh, besok nih beneran besok banget hari Senin tgl 7 Desember udah mulai UAS.
Bukan waktu nya yang terlalu cepat. Cuma emang aku nya aja yang masih hidup dengan setengah sadar setelah semua yang udah terjadi di 2020 ini. Dan tiba-tiba udah masuk akhir tahun aja.
Ini tahun yang cukup banyak rasa hambar cenderung ke pahit buat aku:)
Yap gapapa yuk bisa yuk. SEMANGATT untuk aku dan kita semua✨
Kemana aku bisa pulang selain kepada rumah milik tubuhku?
Sementara; pintu masih rapat terkunci, tak membuka diri kepada diri sendiri
Tak menyambut tuannya datang dengan rupa berseri.
"Jangan kesini, jangan!"
Lalu aku kembali melarikan diri sejauh-jauhnya
Menumpangi tubuh lain yang dikira amigdala sebagai rumah
Padahal hanya pelengkap rasa bersalah atas deru nafas pun langkah kaki
Yang tak juga berakhir enyah,
Patah dan musnah.
Aku tahu, kau tak perlu kata atau kalimat selamat dariku. Karena jelas, ini bukan tanggal dimana kau mengulangi tahun lahirmu.
Aku pun tahu, sehebat apa aku merangkai kata, seindah apa aku menulis kalimat-kalimat penyejuk hati, ku rasa, kau lebih menyukai anak lelakimu tumbuh dengan tanggung jawab seperti yang kau ajarkan, tumbuh terbentuk menjadi pohon kokoh seperti harapan awal kau pupuk dulu.
Kau tahu, sekeras apapun didikanmu, sekasar apapun cara bicaramu, kau tetap menjadi cinta pertama bagi setiap anak perempuan, pun menjadi panutan bagi setiap anak lelaki yang mengagumimu.
Dariku, tidak banyak. Aku tahu kita tak pernah punya waktu layaknya ayah dan anak, aku tahu kita seperti sepasang asing yang saling menunjukan peduli dengan diam. Tapi satu hal yang pasti, bahkan setelah aku dilahirkan kembali, aku akan tetap memilihmu sebagai ayahku.
Terima kasih sebab tak pernah menuntut balas jasa, dan tak pernah kurang membuatku memahami rasa.
Teruntuk Ayah
Setiap aku merasa lelah dengan segala tugas. Setiap aku merasa lelah dengan segala rutinitas. Setiap aku merasa ingin menyerah dengan keadaan yang ada. Aku selalu mengingat perjuanganmu, Ayah.
Malu rasanya jika aku harus menyerah begitu saja. Menyerah dengan keadaan yang tidak sebanding dengan jerih payahmu, Ayah.
Kau tidak pernah mengucap kata lelah. Kau juga tidak pernah mengeluh jika setiap hari harus bekerja. Kau sangat lihai dalam menyembunyikan rasa lelah dan keluh kesah. Kau selalu tersenyum ketika pulang ke rumah. Padahal aku tahu, betapa lelahnya ayah di luar sana.
Mungkin, ucapan terimakasihku pun tidak cukup untuk membalas semua pengorbananmu, usahamu dan segala yang kau lakukan demi anak-anakmu. Aku akan terus berusaha dengan segala kemampuan yang aku miliki untuk membuatmu bangga karena telah membesarkan aku sebagai putra jagoanmu.
Dear Papa I miss you and I wish you that someday you will say that you are proud of what you have taught to your first daughter in your previous life… Allahummaghfirlahu Warhamhu waafihi wa'fuanhu….
Teruntuk ayah...
Maaf karna aku sering sekali menentang mu
Maaf karna kita tak punya banyak momen menyenangkan
Maaf karna kita tidak pernah sama sekali foto bersama layaknya seorang ayah dan anaknya
Sampai pada akhirnya Tuhan meminta mu kembali padanya
dan tidak memberikan ku kesempatan lagi untuk membuat momen indah bersama mu
Aku kangennn :’)
Kak boleh ngga minta bikinin sajak tentang rasa kangen sama ayah?
Terimakasih:)
"Ayah, bisakah kau bawa aku sore ini ke pantai?"
Bisik anak perempuan itu, berharap angin mengirimkan suaranya
Melewati beberapa musim, membiarkan kalimat tersebut tak pernah sampai pada yang dituju.
"Ayah, bisakah kau bawa aku sore ini ke pantai?"
Kali ini, anak itu tak lagi berbisik
Ia berteriak,
Agar sang ayah mendengar jelas permintaannya.
"Ayah, aku ingin ke pantai. Ke pantai bersamamu."
Kini dia tak lagi berbisik, tak lagi berteriak
Melainkan terisak menahan sesak
Menahan gemuruh rindu
Menahan tiap pilu di relung yang paling palung
Menahan segala rasa, pada kalender waktu yang tak lagi sama.
🥀 :’)
Akan ada masa, dimana kau merasa sepi dan ditinggal. Bukan karena pergeseranmu, lambat ataupun kurang cekatan dalam menyikapi pergantian. Ialah waktu, makin hari kau makin menua. Usiamu makin hari makin berjumlah. Sebab keharusan itulah yang memaksamu menelan mentah-mentah kenyataan bahwa, semakin lama, kau akan kehilangan sosok-sosok yang dulu membersamaimu.
Bisa dari mana saja, mulai dari sahabatmu, rekan-rekanmu, bahkan, kekasihmu yang sejak lama kau perjuangkan tanpa kau sadari perlahan meninggalkan. Hanya secuil janji, dan sepotong cerita masa lampau yang terpaksa kau gerogoti.
Memang begitu, seleksi alam. Kadang kau merasa tidak punya siapa-siapa selain dirimu sendiri. Merasa jauh dan terisolasikan oleh sebuah pemahaman bahwa, segala bentuk kebahagiaan terletak di pusat-pusat kota. Eksistensi mengaharuskan kita menyelami sudut-sudut keriuhan. Sedang pencapaian ditengok oleh berapa banyaknya gedung-gedung tinggi.
Beberapa kali kau merasa didustai oleh sekumpulan orang yang mengaku siap merangkul, membarengi dalam segala prahara, menemui jika kau tak mampu berdiri. Hanya saja, mereka tidak tahu. Kota, hingar bingar, gedung, ialah kata lain dari kumpulan-kumpulan dusta. Mudah berjanji, pun mudah mengingkari. Bahkan hal itu tak berani mereka pikul.
Berhenti. Jangan dulu melangkah, kemudian lihat kembali mereka. Lirik sekelilingmu, banyak yang sudah kau lewatkan.
Sebab, orang yang sama, kisah yang sama, tidak akan ada pada waktu yang berbeda.
“Overthinking is the biggest cause of our unhappiness. Keep yourself occupied. Keep your mind off things that don’t help you.”
— Unknown
“Syarat bahagia menjadi panjang dan berliku. Padahal bahagia begitu sederhana, tanpa syarat dan ketentuan berlaku.”
— Sastrasa
Song by: Nadin Amizah
Bun, hidup berjalan seperti bajingan Seperti landak yang tak punya teman Ia menggonggong bak suara hujan Dan kau pangeranku, mengambil peran
Bun, kalau saat hancur ku disayang Apalagi saat ku jadi juara Saat tak tahu arah kau di sana Menjadi gagah saat ku tak bisa
Sedikit ku jelaskan tentangku dan kamu Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu Caraku marah, caraku tersenyum Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini Melihatmu kuat setengah mati Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Bun, aku masih tak mengerti banyak hal Semuanya berenang di kepala Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya Menjadi jawab saat ku bertanya
Sedikit ku jelaskan tentangku dan kamu Agar seisi dunia tahuKeras kepalaku sama denganmu Caraku marah, caraku tersenyum Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini Melihatmu kuat setengah mati Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Semoga lama hidupmu di sini Melihatku berjuang sampai akhir Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Takut ini, takut itu. Takut begini, takut begitu. Takut. Takut. Takut. Sampe akhirnya tau, takut bikin diri ngga ke mana-mana. Sampe akhirnya tau, takut buang-buat waktu.
Kalau memang cinta harus memiliki
Kenapa setiap bahagia mu bukan aku alasannya?
Kenapa setiap sedih mu bukan aku sandarannya?
Jika cinta memang harus memiliki
Lalu kenapa hanya sakit yang ku rasa?
Bukankah cinta tentang bahagia dan sedih bersama?
Bukan hanya sepi dan sendirian
Aku mundur bukan karna menyerah
Aku mundur karna aku tau
Aku tau bahwa bukan kamu orangnya
Bukan kamu yang harus bersama ku