Avatar

teksfromsamudra

@fendyaliffsblog

Setelah semalam berefleksi atas segala hal yang terjadi lima tahun lalu, saya ingin menyimpulkan pikiran saya.

Bahwa ketika kita sudah berikhtiar dan ikhtiar kita buntu, tidak menghasilkan apapun, yang perlu kita tata adalah hati kita agar senantiasa sabar. Masa depan itu tidak terprediksi. Kita selalu berharap pertolongan Allah. Tapi kapan pertolongan itu datang, kita sama sekali tidak punya kendali. Hanya Allah yang punya kuasa menentukan.

Kalau kamu ingin beramal shalih di tengah musibah, lakukan saja. Karena manusia ada di bumi memang untuk beramal shalih. Tapi jika kita beramal hanya karena harapan masalah lekas selesai, kembali lagi......yang perlu kita siapkan tetaplah kesabaran agar tetap waras di masa-masa sulit.

Bahwa ketika Allah memudahkan urusan kita sehingga kita bisa menggapai sesuatu tanpa banyak usaha, jangan berleha-leha. Karena bisa jadi, pencapaian-pencapaian itu adalah amanah. Bisa jadi pencapaian itu adalah cara Allah menyiapkan ladang amal bagi kita. Bisa jadi lewat pencapaian itu, Allah menitipkan rezeki bagi sesama makhluk lewat tangan kita.

Dalam setiap episode hidup, baik lapang ataupun sempit, semoga Allah selalu hadir dalam hati kita. Sehingga kita bisa selalu menjadi hamba yang berjalan menuju Allah dalam kondisi apapun.

Avatar

BERSYUKUR DAN BERSABAR

Satu satunya yang membuat pekerjaan mu mulia di sisi Allah adalah karena halal.

Bukan karena penghasilan, jabatan, atau lamanya kamu bekerja.

Islam tidak meminta kamu untuk berpenghasilan sekian dan sekian..

Tapi Islam meminta agak kamu bersabar atas halal nya pekerjaan mu dan bersyukur atas halal nya pekerjaan mu.

InsyaAllah...

“Belajarlah untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada di dalam piring makanmu setiap saat. Begitupun dengan hidup ini, melangkahlah dalam garis yang telah diatur; jangan menjadi melebar karena serakah.”

— Ferliana Harman

Jika suatu saat, kau mendapati dirimu sedang berada di garis kehidupan yang paling rendah, lalu kau dihina, dicaci, difitnah, dan segala keburukanmu diceritakan oleh banyak orang. Sampai tak ada yang ingin mendekat. Sampai keluargamu pun ikut menghujat. Ketahuilah, itu sinyal dari Allah bahwa suatu saat kau akan menjadi orang yang hebat.
Dan saat ini, Allah sedang mendidikmu, membentuk karaktermu menjadi pemberani dan kuat.
Bersiaplah.

gadisturatea

Lelah

Saya pernah berada di fase dimana saya nggak tahu lagi bagaimana menjelaskan apa yang saya rasakan. Rasanya begitu kosong, badan dan pikiran terasa lelah. Padahal, secara fisik saya tidak begitu banyak aktivitias.
Hal itu terjadi selepas saya berkali-kali berbenturan pada hal yang sama, seolah hidup saya berputar-putar di tempat yang sama tanpa beranjak sama sekali. Masalah yang sama, saya hadapi dengan berbagai macam cara, tak kunjung selesai. Itu, salah satunya.
Tapi lebih dari itu, saya benar-benar tidak bisa merasakan bagaimana caranya bahagia, tentram, semuanya terasa semu. Mungkin, saya bisa merasakan senang saat bertemu teman, tapi lepas pulang ke rumah, semuanya kembali seperti sedia kala. Bahkan, rasanya lebih lelah dari sebelumnya.
Pernah di momen itu, saya kembali ke kota rantau saya, Bandung, selama lebih dari 10 hari dengan harapan saya bisa menemukan kembali kebahagiaan itu. Saya mengunjungi semua tempat yang dulu memberikan energi yang begitu besar, kampus, masjid salman, reading lights yang sekarang sudah tidak ada lagi, kineruku, dan semua tempat yang pernah memberikan sebagian kisahnya.
Rasanya tetap sama saja, kosong, bahkan semakin lelah. Pada saat itu, saya gagal mengidentifikasi sebenarnya masalah apa yang saya hadapi sehingga mungkin saya keliru dalam memutuskan solusi untuk diri saya sendiri. 
Dan kondisi itu, berada di saat pekerjaan berjalan dengan baik, tidak pernah kekurangan uang bahkan sangat mencukupi, dan semua hal yang nampak baik-baik saja bahkan layak untuk disyukuri.
Tapi, kekosongan itu tak kunjung menemukan isinya. Saya sering menghabiskan waktu dengan mengendarai mobil tanpa tujuan, berharap badan ini menjadi lelah sehingga saya segera tertidur setibanya di rumah tanpa berpikir ke sana kemari. Nyatanya, sama. Saya sulit tidur, pikiran ini tak mau berhenti memikirkan hal-hal yang sudah terjadi, menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan akan terjadi.
Saya tahu persis kapan semua itu selesai. Saat saya bisa berada di fase ikhlas, menerima diri, dan bersedia untuk memaafkan. Sayangnya tidak ada rumus pasti untuk bagaimana seseorang bisa memiliki kemampuan untuk bisa ikhlas, menerima diri sendiri,dan memaafkan diri sendiri. Semua itu, butuh waktu lebih dari 9 tahun, waktu yang bukan sebentar.
Terima kasih, kepada diriku sendiri, yang dulu bersedia bertahan dan sedikit lebih bersabar. Kalau saja, waktu itu saya menyerah karena sudah begitu lelah. Mungkin, saya tidak akan pernah bisa sampai di tahap ini.
Tahap dimana, bersyukur atas diri sendiri, memaafkan diri, dan menerima serta menghargai diri sudah menjadi sesuatu yang amat mudah untuk kulakukan. Sesuatu yang amat berharga sebagai bekal untukku menjalani sisa hidup ini dengan berarti.
©kurniawangunadi | 3 September 2019

Jadikan aku seorang yang sabar.

Janganlah bersedih hati dengan kata maki dan tuduhan nista yang manusia lemparkan kepadamu, sesungguhnya ianya tidak menghinakan dirimu, tetapi sebaliknya ia telah menghina mereka sendiri.

Seseorang berkata kepada Wahb ibn Munabbih -rahimahullah-, bahwa ada seseorang yang mencelanya.

Wahb kemudian menjawab, “Apakah setan tidak memiliki utusan (untukku) selainmu?”

Seseorang berkata kepada temannya, “Fulan mencelamu!”

Kemudian temannya menjawab, “Orang itu melemparku dengan panah, akan tetapi panah itu tidak mengenaiku. Lantas kenapa engkau datang kepadaku membawa panah itu, dan menancapkannya di hatiku?”

Seseorang berkata kepada Imam Syafi'i -rahimahullah-, “Seseorang telah menggunjingmu dengan hal yang buruk.”

Imam Syafi'i menjawab, “Jika engkau benar, maka engkau adalah nammam (pengadu domba), dan jika engkau berdusta, maka engkau adalah orang fasik!”

Dari sebuah video di whatsapp yang saya tonton pagi ini

Indahnya Melihat Dunia dari Sudut Pandang Muslim…

@edgarhamas

Gedung-gedung tinggi yang ia lewati mengingatkannya tentang betapa hebatnya manusia, namun ia kemudian ingat bahwa kehebatan ini tanpa tawadhu’ akan berubah jadi keangkuhan. Seperti bangsa Iram yang kufur setelah membangun gedung-gedung tinggi dan mengira bahwa mereka bisa melawan Tuhan.

Gunung-gunung yang berubah jadi tambang dan rumah-rumah megah, membuatnya tahu bahwa Mahabenar Allah telah menaklukkan bumi untuk kita supaya leluasalah kita menghamba pada-Nya. Tapi lagi-lagi ia ingat, keleluasaan ini tanpa diiringi iman, akan berubah jadi kecongkakan. Seperti Tsamud yang dihempaskan setelah sombong mengukir gunung jadi vila-vila megah.

Lautan tenang yang sesekali berbadai, disana kapal pesiar berlayar tenang dan gagah, membuatnya takjub betapa kasih sayangnya Allah menenangkan samudera agar manusia bisa mengapung di atasnya. Namun samudera inilah pula yang menenggelamkan Firaun beserta kedengkian dan angkara murkanya. Allah Mahakuasa menjadikan apapun sebagai peringatan.

Alam perlu kita peluk dan sayangi. Karena mereka juga hamba Allah, tentara Allah. Tenangnya jadikan alasan untuk bersyukur, guncangannya jadikan untuk bersabar, serta menghitung diri; mudah-mudahan menambah keimanan dan kesiagaan kita.

Sembari berdoa, semoga saudara dan sahabat kita di NTB dalam rahmat dan kasih sayang-Nya, diberi kesabaran dan dibalas dengan nikmat yang lebih besar setelah datang musibah gempa.

Nature is not a place to visit. It is home.

—Gary Snyder, The Practice of the Wild

Tentang kapal dan berlabuh

Aku tau bagaimana kapalmu berlabuh dan dimana jangkarmu akan jatuh dan menetap. Aku sebagai pelabuhan mu hanya bisa menatap kepergianmu dengan ikhlas, selain harus melupakan mu aku juga harus ikhlas melihat mu berlabuh ditempat yang kamu tuju. Semoga selalu disertai lindungan Tuhan dalam perjalanmu, Aku menyayangi mu.

Aku tidak pandai bercerita tentang hidupku kepada orang lain, apalagi jika menyangkut tentang keluarga. Tapi, satu hal yang jauh di lubuk hati yang paling dalam, aku ingin semua orang tau. Betapa aku, sungguh ingin keluar dari rumah ini.

Aku bersyukur bahwa aku ditakdirkan untuk tidak dapat memiliki semuanya. Aku sadar bahwa dadaku tidak cukup lapang untuk satu-persatu menyebutnya dalam doa syukur yang seringkali alpa kupanjatkan. 

Aku juga menyadari kalau aku sudah tak lagi ‘begitu ingin’ hidup seperti orang lain, alih-alih perlahan mengetahui bahwa jalan hidupku sudah seperti ini. Hendak menanggung apa aku nanti, sedangkan kemarin sudah berlalu dan esok hari belumlah terjelang.

Semoga saja, keinginan-keinginan itu akan tereduksi dengan sendirinya, seiring makin rapuhnya hati ini untuk menghamba pada yang sewaktu-waktu biasa tiada. Semoga pula, pundi-pundi sadarku makin bertambah untuk menjalani waktu yang kian detiknya gugur tanpa disadari.

_

©miftahulfikri

“Belajarlah dari dirimu sendiri untuk berhenti mengomentari penampilan orang lain, berhentilah menanyakan sesuatu yang sekiranya hanya basa basi dan jawaban darinya sebenarnya tidak penting bagimu. Berhentilah membuat orang sakit hati dengan komentar yang tidak sepatutnya kamu ucapkan. Karena kita tidak hidup di jalan yang dia tempuh, karena kita punya perjalanan hidup masing-masing. Jika pun menurutmu ada yang salah pada mereka, dan kamu ingin mengingatkan sampaikanlah dengan baik. Sebab, kita tidak tahu bagaimana seseorang harus memperbaiki keadaan hatinya yang sudah terlanjur kita komentari dengan kata-kata tidak sepatutnya. Belajarlah untuk lebih bijak.”

— Nasehat diri!

““Kamu udah berubah, aku merindukan kamu yang dulu”, katamu. Sadarkah kamu kalau yang menyebabkan aku berubah itu kamu?”

You break me. // Andira W.

Bandung, 28 Maret 2019.

Menjadi Kuat

Apapun yang menjadi tanggungjawabmu saat ini, seberapa besar beban yang harus kamu selesaikan, aku harap bahu dan punggungmu semakin bertambah kuat. Meski sekelilingmu tidak ada yang menyadari, menanyakan, terlebih menawarkan bantuan.
Saat kamu sendiri, maupun saat ada yang membersamai nanti, tetaplah kuat seperti yang saat ini aku lihat. Karena cepat atau lambat, akan ada yang memerlukan kuatmu sebagai perlindungan, ada yang butuh kebijaksanaanmu untuk mengambil keputusan. Badai tidak akan datang hanya sekali, teruslah menguatkan diri.

- Danny Dzul Fikri, Surabaya.

Avatar

—–

Aku bukan orang yang paling baik, bukan yang paling cerdas sehingga berani membuat aturan tandingan dari apa yang sudah Tuhan gariskan, bukan pula orang suci yang hidupnya hanya dipenuhi dengan kebaikan.

Kadang emosi menghampiri, kadang kesal, kadang kecewa, banyak bahagia yang begitu diupayakan. Tapi justru dengan begitu aku ingin menjadi sebenar benarnya manusia. Dengan paketan keburukannya, berusaha melakukan kebaikan, berusaha jadi orang baik. Karena di situlah letak ujian kita. Pernah mengalami tersakiti, tapi tak ingin menyakiti. Pernah merasa takdir tak adil, tapi tak pernah berani menggugat Tuhan. Karena saat itu yang salah hanyalah hatiku belum sempurna memahami, sebab kuasaNya selalu sempurna. Dan aku selalu percaya itu, tanpa tapi.

Itu alasannya aku terus menulis, menulis sebagai manusia yang kesehariannya tak hanya datang hal hal baik. Yang kesehariannya tak hanya mengerjakan hal hal hebat. Yang kesehariannya tak hanya di kelilingi oleh orang orang baik. Aku ingin berbagi, bahwa setiap dari kita sedang berjuang, apapun masa lalu dan latar belakang kita. Semua itu tak seharusnya menghalangi semangat kita untuk terus berusaha belajar jadi orang baik. Jika hari ini gagal, mari kita coba lagi dengan sabar :)

Alizeti, Jakarta

“Untuk notifikasi darimu, sengaja aku pasang dering yang berbeda agar aku bisa membedakan pesan yang masuk ke ponselku. Kini, sudah dua minggu lamanya sejak aku pasang dering itu, nada dering itu justru tidak pernah terdengar sekalipun.”

That ringtone. // A.W.

Bandung, 12 Oktober 2018.

Avatar

Perempuan yang kurang cantik, tapi agamanya baik, maka ia akan nampak manis.

Perempuan yang tidak kaya, tapi karena agamanya baik, maka ia akan nampak ridha.

Perempuan yang dipandang tidak punya derajat, tapi karena agamanya baik, maka ia akan nampak seorang yang rendah hati.

Perempuan yang tidak pandai, tapi karena agamanya baik, maka ia akan nampak seorang yang berilmu.

Teruntuk para perempuan, siapapun kamu saat ini. Semoga engkau adalah perempuan yang memahami hakikat manisnya iman itu seperti apa..

- Ibn Syams

dear perempuan ..

Adakah aku sebagai lelaki sejati? Yang lebih mengkhawatirkan jodoh daripada maut?

Adakah aku sebagai lelaki sejati? Yang lebih mengkhawatirkan kematian badanku daripada kematian hatiku?

Adakah aku sebagai lelaki sejati? Yang memuliakan wanita dengan menjaganya dalam doa daripada memandangnya penuh dosa?

Sudah layakkah aku disebut lelaki sejati?

Teruntuk ikhwa diluar sana, Jangan menebar pesona akan solehnya dirimu demi mendapat pujian dari akhwat.

Jangan menebar janji untuk memintanya menunggumu, lantas sampai kapan ia akan menunggumu? Yang sudah jelas belum pasti

Mari memperbaiki diri bukan untuk mendapatkan jodoh yang taat namun karena semata-mata meraih ridha Allah. . Kontribusi oleh @husnulhoy

#duniajilbab @husnulhoy #dakwahdaily #dakwahislam #dakwahmakassar #dakwahmuslimah #ikhwansejati