Avatar

tebarkan ilmu, tumbuhkan amal,petiklah ridho ilahi

@dimaswidyatama

Salah satu amal jariyah (amalan yang pahalanya akan terus menerus mengalir hingga hari kiamat, walaupun orang tersebut telah meninggal dunia) adalah dengan menyebarluaskan ilmu. So, rajinlah menulis ataupun copas ataupun mereblog tulisan-tulisan yang...
Avatar
reblogged

Agar Lebih khusyu' Ketika Berdoa "اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ"

👤 Dr. Firanda Andirja

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ “Ya Allah berilah kepada kami hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus”

Sungguh merupakan perkara yang merugikan jika doa yang sangat agung ini, yang harus kita ucapkan berulang-ulang, ternyata kita ucapkan dengan hambar tanpa penghayatan yang dalam…

Agar kita lebih khusyu’ tatkala mengutarakan doa yang agung ini, maka hendaknya kita merenungkan 2 perkara, (1) keutamaan doa ini, (2) Kandungan doa ini yang sangat dalam

Pertama : Keutamaan doa ini :

1) Doa ini termaktub dalam surat teragung dalam al-qur'an yaitu surat al-fatihah yang dikenal dengan ummul qur'an (induknya/intisari al-qur'an)

2) Doa ini diucapkan dalam sholat yang merupakan ibadah yang sangat agung

3) Bahkan doa ini minimal harus dibaca dalam sehari 17 kali dalam sholat 5 waktu

4) Bagaimana lagi jika seorang hamba memperbanyak sholat sunnah, dalam setiap rakaat ia harus membaca doa ini, jika tidak maka raka'atnya tidak sah

5) Barangsiapa yang memperhatikan posisi doa ini dalam surat al-fatihah, maka ia akan dapatkan bahwa doa ini tidaklah terucapkan kecuali setelah melalui muqoddimah-muqoddimah yang sangat dahsyat :

- muqoddimah pertama : dalam ucapan الحمد لله رب العالمين “Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta”,… mengandung pujian yang sangat tinggi kepada Allah…

- muqoddimah kedua: dalam ucapan الرحمن الرحيم “Yang maha pengasih lagi maha penyayang”,… berisi pengakuan hamba akan luasnya kasih sayang Allah terhadap sang hamba, bahkan kasih sayang Allah lebih dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya…

- muqoddimah ketiga: dalam ucapan مالك يوم الدين “Penguasa hari pembalasan”,… mengingatkan kepada hamba bahwasanya ada hari akhirat, hari persidangan dan pembalasan amal perbuatan,

tidak seorang raja dunia yang berkutik pada hari tersebut, Hanya Allah yang mengusai hari tersebut…

- muqoddimah keempat : dalan ucapan إياك نعبد “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah”,… mengandung pengakuan dan pengikraran sang hamba bahwasanya ia hanya beribadah ikhlas kepada Allah,

jauh dari riyaa dan sum'ah, sama sekali tidak mengharapkan pujian dan sanjungan manusia…

- muqoddimah kelima: dalam ucapan وإياك نستعين “Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”,… mengandung pengakuan hamba bahwasanya segala upaya, usaha, dan keberhasilan semata-mata karunia Allah,

hamba hanya melakukan sebab, akan tetapi tidak memiliki peran sama sekali dalam keberhasilan…

Bahkan usaha hamba itupun karunia Allah, kecerdasannya, tenaganya, kepiawaiannya, pengalamannya, semuanya karunia dari Allah…

Jika demikian lantas apa yang hendak ia banggakan??. Maka terjauhkanlah sang hamba dari penyakit ujub…

Setelah lima muqoddimah ini lalu terbukalah hati sang hamba tatkala mengucapkan doa yang agung ini اهدنا الصراط المستقيم Seluruh muqoddimah ini menunjukkan akan agungnya inti pembicaraan, jika setiap muqoddimahnya/pembukanya agung, maka bagaimana lagi agungnya isi kandungan utamanya…

KEDUA : Kandungan doa agung ini :

Mungkin ada yang bertanya, kenapa kita terus mengucapkan doa ini (meminta ditunjukkan kepada jalan yang lurus),

sementara kita sudah berada di atas jalan yang lurus? Kita sudah berada di atas agama Islam? Barangsiapa yang merenungkan kandungan doa ini, maka ia akan mengetahui jawaban pertanyaan ini…

Sesungguhnya hidayah / petunjuk yang kita minta dalam doa ini memiliki kandungan yang dalam, diantaranya:

1) Meskipun kita telah berada di atas agama Islam, akan tetapi ternyata masih ada praktek-praktek yang keliru yang disandarkan kepada Islam, padahal ia bukan bagian dari Islam…

Karenanya kita meminta petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus yang benar-benar bagian dari Islam dan mengantarkan ke surga…

2) Jika ternyata kita telah berada di atas jalan yang lurus, ternyata masih terlalu banyak kebaikan yang belum kita ketahui yang akan memperindah perjalanan kita di atas jalan yang lurus tersebut…

Karenanya kita butuh petunjuk dan hidayah dari Allah agar ditunjukkan dan dijelaskan bagi kita kebaikan-kebaikan tersebut…

3) Setelah mengetahui kebaikan-kebaikan, kita masih butuh hidayah Allah dan taufiqNya agar menjadikan kita mengamalkan dan mencintai kebaikan-kebaikan tersebut…

4) Terkadang kita telah mengetahui suatu kebaikan secara global, maka kita butuh hidayah dari Allah agar kita ditunjuki sisi-sisi keindahan kebaikan tersebut secara detail dan rinci agar kita semakin sabar dan tegar dalam menjalankan kebaikan tersebut…

Tentu berbeda antara seseorang yang mengetahui ibadah sholat itu baik, dengan seseorang yang mengetahui dengan rinci indahnya ibadah sholat serta hikmah-hikmah yang terkandung dalam sholat…

5) Masih banyak keburukan dan jalan yang miring dan menyimpang yang menggoda kita dalam menempuh jalan yang lurus,

karenanya kita butuh petunjuk Allah agar menunjukkan batilnya keburukan dan menyimpangnya jalan-jalan tersebut, yang senantiasa mengancam, dan sewaktu-waktu bisa menggelincirkan kita tanpa kita sadari…

6) Setelah kita mengetahui kebaikan dan menjalankannya, juga telah mengetahui keburukan dan menjauhinya,

maka ketahuilah kita masih terus senantiasa butuh kepada hidayah Allah agar kita bisa istiqomah di atas jalan yang lurus…

Terlalu banyak orang yang di awal perjalanan berada di atas jalan yang lurus, akan tetapi menyimpang dipenghujung jalan… Kita butuh istiqomah terus hingga detik nafas terakhir….

Dari kandungan-kandungan di atas, kita mengetahui hikmah kenapa Allah di akhir surat al-fatihah mencela kaum nasrani dan yahudi…

Karena diantara jalan yang menyimpang adalah jalannya kaum nasrani yang semangat beribadah namun tanpa ilmu, jadilah mereka dicap sesat oleh Allah…

Demikian juga jalannya kaum yahudi yang berilmu namun enggan mengamalkannya…

Semoga penuturan singkat ini membantu dalam meraih kekhusyu'an dalam mengucapkan doa yang agung ini…

(kandungan-kandungan doa ini telah disinggung oleh ibnul qoyyim rahimahullah dalam kitabnya badaaiul fawaaid 2/35-38

Avatar

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 06 DARI 08)

Khadījah radhiyallāhu 'anhā memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya :

⑴ Dalam hadīts disebutkan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

خير نساء العالمين أربع: مريم بنت عمران، و خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، وآسية امرأة فرعون

"Sebaik-baik wanita di alam semesta itu ada empat orang, yaitu Maryam putri 'Imrān, Khadījah binti Khuwailid, Fāthimah bintu Muhammad, Āsiyah istri Fir’aun." (HR Bukhāri dan Muslim)

⇒Menurut para ulamā adalah yang terbaik di zamannya.

Tentang Maryam bintu 'Imrān, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (٤٢)

Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata: "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allāh telah memilihmu dan menyucikanmu dan melebihkanmu diatas segala wanita di dunia."

(QS Āli 'Imrān: 42)

Tentang 'Āisyah juga disebutkan dalam hadīts:

وإن فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام. (رواه البخاري ومسلم)

"Dan sesungguhnya keutamaan 'Āisyah atas wanita-wanita seperti keutamaan tsarīd (roti yang diremuk dan direndam di dalam kuah) atas seluruh makanan." (Diriwayatkan oleh Al Bukhāri dan Muslim dari Abū Mūsā)

⇒Tsarīd adalah makanan yang dikenal di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai makanan yang lezat yang ada daging dan kuahnya dan makanan favorit.

Kata para ulamā, ini adalah dalīl bahwa 'Āisyah merupakan wanita terbaik di zamannya.

⑵ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sering mengingat Khadījah, walaupun Khadījah sudah meninggal dunia.

Ini menunjukkan betapa cintanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Khadījah, yang selama 25 tahun hidup bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Nabi saat itu tidak berpoligami, diantara alasannya adalah karena Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat cinta kepada Khadījah, dan tidak ingin menyinggung hati Khadījah radhiyallāhu 'anhā.

Setelah Khadījah meninggal, lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah lagi dan baru berpoligami.

Ini merupakan bantahan kepada orang-orang orientalis barat yang mengatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam seorang yang mengikuti syahwat (syahwaniy), ini tidak benar!

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun tidak poligami selama 25 tahun.

Dan meskipun poligami, wanita yang dinikahi rata-rata sudah tua dan janda, kecuali hanya satu yang masih gadis yaitu 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, itupun karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menikahi 'Āisyah karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mimpi didatangi oleh malāikat Jibrīl 2 kali atau 3 kali membawa gambar 'Āisyah,

dan Jibrīl mengatakan kepada Nabi:

أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Bahwasannya Jibrīl datang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama gambar 'Āisyah dalam secarik kain sutera hijau,

lalu berkata: "Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat." (Jāmi’ At Tirmidziy nomor 3880)

⇒Kita tahu bahwa mimpi para Nabi adalah wahyu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada asalnya, istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam semua adalah janda.

Jikalau Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengikuti hawa nafsu belaka, niscaya beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam akan menikahi gadis perawan.

Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berpoligami karena ada mashlahat di dalamnya.

Diantara dalīl Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sering mengingat Khadījah adalah hadīts 'Āisyah :

عَنْ عائشة، قالت: ما غرت على امرأة من نساء النبي صلى الله عليه وآله الا على خديجة، واني لم أدركها، قالت: وكان رسول الله صلى الله عليه وآله إذا ذبح الشاة يقول: أرسلوا بها الى أصدقاء خديجة، قالت: فأغضبت يوما فقلت: خديجة ؟ قال: اني قد رزقت حبها

Suatu ketika 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā berkata: "Tidaklah aku lebih cemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadījah, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.”

'Āisyah pun menceritakan ketika Nabi menyembelih seekor kambing,

Nabi pun berkata: “Berikanlah sebagian sembelihan ini kepada teman-temannya Khadījah.”

Maka aku pun kesal dan berkata: “Khadījah lagi!?”

Nabi lalu menjawab: “Sesungguhnya aku diberikan anugerah yang lebih untuk mencintai Khadījah.” (HR. Muslim)

Ini adalah diantara bentuk inshafnya (obyektifnya) 'Āisyah, walaupun beliau melakukan beberapa kesalahan (yaitu merasa kesal), namun beliau tetap meriwayatkannya,

tidak beliau sembunyikan kesalahannya, karena di dalamnya terdapat ilmu.

Tidak seperti orang-orang syi'ah yang mencaci maki 'Āisyah, kata mereka 'Āisyah itu lisannya kotor.

Kita katakan, "Tidak", namun lisan orang-orang syiah itu sendirilah yang kotor.

Dalam riwayat lain, 'Āisyah pernah membicarakan salah seorang istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu Shafiyyah.

Kata 'Āisyah: "Shafiyyah adalah wanita yang pendek."

Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam marah. Kalau seandainya kesalahan 'Āisyah adalah masalah duniawi, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak marah dan mengalah.

Akan tetapi kalau kesalahan 'Āisyah sudah sampai derajat ghībah dan menyangkut masalah agama,

maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menegur dengan berkata: "Wahai 'Āisyah, kau telah mengucapkan sesuatu yang buruk, kau mengghībah Shafiyyah,

Kalau seandainya ucapan kotor ini dicampur dengan air laut, maka akan merubah air laut tersebut."

Jika kita perhatikan, hadīts ini diriwayatkan oleh 'Āisyah sendiri, dan beliau sampaikan apa adanya.

⇒Ini menunjukkan bagaimana inshafnya beliau.

Sungguh mencela dan mencaci ibunda 'Āisyah sebagaimana tuduhan kaum syiah, bahwa 'Āisyah itu bermulut kotor adalah ucapan yang keji.

Bagaimana kita mencaci 'Āisyah, sementara:

- 'Āisyah adalah kekasih yang sangat dicintai oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

- Yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat di pangkuan 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā.

- Yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dikuburkan dirumah 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā.

Hadīts ini adalah sekedar isyarat yang menunjukkan bahwa 'Āisyah itu sebagaimana wanita lainnya, yaitu bersifat pencemburu.

Suatu hal yang wajar apabila seorang istri cemburu dengan wanita lain. Khadījah bukanlah istri biasa, beliau memiliki peran dalam perkembangan Islam.

Bagaimana beliau berkorban dengan segala hal, termasuk harta untuk mendukung dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Karena itu tidak heran jika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membanggakan kecintaan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Khadījah dengan mengatakan: "Aku telah di anugerahi Allāh untuk cinta kepada Khadījah."

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

____________________________

Avatar
reblogged

KHUTBAH IBLIS YANG SANGAT MENYENTUH HATI…

👤 Dr. Firanda Andirja

Iblis berkhutbah…??,

benar… ia berkhutbah…

bahkan khutbah yang paling menyentuh hati… tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini…

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

“Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…” (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

“Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam.

Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan….” (Tafsiir Al-Qur'an Al-‘Adziim 4/489)

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan…

tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam… tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut… Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis…, Khutbah yang mengalirkan air mata mereka…

khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan-kesalahan mereka… Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin… sang khotiib… Iblis la’natullah 'alaihi…

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (٢٣)

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku,  

oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih".

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut…. setelah ia menggoda manusia… setelah menipu mereka… setelah menjerumuskan mereka dalam neraka… setelah tercapai cita-citanya…

lalu… iapun berlepas diri dari para pengikutnya… ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya…

Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela… akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri… Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya…

Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa “Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih"…

lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!!

Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…

Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis… jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tersentuh karena kutbah Iblis ini…. orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah…

hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis…. wal'iyaadzu billah…

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 14-02-1434 H / 27 Desember2012 M Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja www.firanda.com

Avatar

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 05 DARI 08)

In syā Allāh, kita akan membahas poin tentang pernikahan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sayyidah Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Umur Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika menikah dengan Khadījah adalah 25 tahun.

Sedangkan umur Khadījah saat menikah dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diperselisihkan oleh para ulamā dalam 2 pendapat:

⑴ Pendapat pertama

Yang disebutkan oleh Al Waqidiy dalam Musnadnya dan Ibnu Sa'd dalam Thabaqatnya, bahwa umur Khadījah adalah 40 tahun.

Tetapi menurut Al Waqidiy bahwa hadītsnya tidak diterima (matrūkul hadīts).

⑵ Pendapat kedua

Adapun Ibnu Ishāq menyebutkan bahwasanya umur Khadījah tatkala menikah dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah 28 tahun.

Kedua pendapat diatas tidak didukung dengan dalīl yang kuat.

Yang pertama, didalam sanadnya ada perawi yang ditinggalkan riwayatnya (matrūkul hadīts).

Sedangkan yang kedua, tidak ada sanadnya.

Oleh Karena itu, usia Khadījah menikah dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bisa jadi berusia 40 tahun atau 28 tahun.

Sebagian ulamā merājihkan bahwa umur Khadījah 28 tahun.

Dalīlnya adalah karena setelah menikah dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau melahirkan 6 orang anak, yaitu:

⑴ 'Abdullāh

⑵ Qāsim

⑶ Ummu Kultsūm

⑷ Ruqayyah

⑸ Zainab dan

⑹ Fāthimah

Dan sulit terbayangkan seorang wanita berumur 40 tahun masih bisa produktif melahirkan 6 orang anak.

Wallāhu A'lam bishshawāb, inilah yang rājih menurut sejumlah ulamā.

Namun ada dalīl yang menguatkan bahwasanya Khadījah waktu menikah adalah 40 tahun, karena Khadījah hidup bersama Nabi selama 25 tahun.

Kalau Khadījah menikah umur 28 tahun, maka Khadījah akan meninggal sekitar 53 tahun.

Dan umur 53 tahun, seorang wanita masih terlihat cantik.

Padahal ada sebuah hadīts 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jika menyebut tentang Khadījah, maka iapun memujinya, dengan pujian yang sangat indah,

Maka pada suatu hari aku pun cemburu,

maka aku berkata: "Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua (ompong),

Allāh telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya."

Maka Nabi berkata: "Allāh tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih darinya,

Ia telah berimān kepadaku, tatkala orang-orang telah kāfir kepadaku, ia telah membenarkan aku, tatkala orang-orang mendustakan aku,

ia telah membantuku dengan hartanya, tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku,

dan Allāh telah menganugerahkan darinya anak-anak, tatkala Allāh tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain."

(HR. Ahmad no 24864 dan dishahīkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)

Jadi, Khadījah ketika meninggal dalam keadaan giginya telah ompong.

Ini menguatkan bahwa saat meninggal Khadījah umurnya sudah 60 tahun lebih. Sehingga menikah dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam saat berumur 40 tahun.

Dan wanita 40 tahun mungkin saja masih bisa melahirkan, apalagi orang-orang Arab. Wallāhu A'lam bishshawāb.

Setelah menikah dengan Khadijah, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjalani kehidupan yang luar biasa,

yang penuh dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan takkan bisa diraih kecuali dari istri yang shālihah.

Karena kalau hanya sekedar cantik, kaya, dan keindahan tubuh dari seorang wanita,

maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan, tapi mungkin hanya mendatangkan kelezatan sesaat.

Kebahagiaan adalah sesuatu keindahan yang tertanam didalam hati seseorang, dan ini tidak bisa didapatkan kecuali dari istri yang shālihah.

Khadījah radhiyallāhu 'anhā adalah wanita yang sangat mencintai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Beliau benar-benar membela suaminya dengan pembelaan yang luar biasa.

Seluruh hartanya diberikan kepada suaminya untuk berdakwah, dan inilah pentingnya kerjasama antara seorang yang berilmu, dan seorang yang berharta dalam berdakwah.

Dan 2 orang ini yang patut kita cemburu, kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadītsnya:

Dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu 'anhu, ia berkata

bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtah) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allāh anugerahkan padanya harta, lalu ia infāqkan pada jalan kebaikan,

dan orang yang Allāh beri karunia ilmu (Al Qurān dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya." (HR. Bukhāri nomor 73 dan Muslim nomor 816)

Karena dakwah sangatlah sulit bisa berjalan jika hanya mengandalkan ilmu, tanpa dibantu dari sisi dana.

Inilah diantara hikmah Allāh menikahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Khadījah, saudagar yang kaya raya dan benar-benar mendukung dakwah nabi secara totalitas.

Selain Khadijah, Abū Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu termasuk saudagar kaya raya yang juga mensupport dakwah Nabi.

Oleh karenanya, tatkala Bilāl disiksa oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf, Abū Bakr radhiyallāhu 'anhu membebaskannya dan memerdekakannya dengan hartanya.

Karena saat itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak memiliki harta, sehingga tidak mampu memerdekakan Bilāl.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah seorang yang miskin,

sampai-sampai beliau bekerja menggembalakan kambing orang lain untuk mendapat upah, dan kemudian diberikan kepada pamannya Abū Thālib.

Namun Allāh taqdirkan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan Khadījah, saudagar wanita kaya raya yang seluruh hartanya diberikan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk berdakwah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki 6 orang anak, dan semuanya diurus oleh Khadījah radhiyallāhu 'anhā,

karena Khadījah ingin suaminya bisa konsentrasi untuk berdakwah, sehingga seluruh urusan rumah tangga diurus oleh Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

____________________________

Avatar

Kutipan dari Ceramah:

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

Imām Ahmad berkata, tatkala beliau ditanya tentang orang-orang yang berkata, Allāh berbicara dengan nabi Mūsā tanpa suara, Imām Ahmad membantah.

بلى إن ربك عزّ وجل تكلم بصوت

Kata Imām Ahmad: "Justru Allāh (Rabb kalian) berbicara dengan suara."

Terlalu banyak hadīts yang mengatakan Allāh berbicara dengan suara.

√ Berbicara dengan malāikat dengan suara.

√ Berbicara dengan nabi dengan suara.

√ Terjadi dialog antara Allāh dengan nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Terjadi dialog antara Allāh dengan nabi Mūsā 'alayhissalām.

√ Terjadi dialog antara Allāh dengan nabi Ibrāhīm.

Dengan suara yang didengar, Allāh berkata kepada nabi Mūsā 'alayhissalām:

فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ

"Wahai Mūsā, dengarkanlah wahyu yang akan disampaikan kepada engkau." (QS Thahā: 13)

⇒Allāh berbicara, tetapi suara Allāh tidak sama dengan suara makhluk.

Lihat perkataan Imām Bukhāri:

Disebutkan tentang hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,

وأن الله ـ عز وجـل ـ ينادي بصوت يسمعه من بَعُدَ كما يسمعه من قَرُبَ

"Bahwasanya pada hari kiamat kelak Allāh berseru dengan suara, orang yang dekat maupun yang jauh mendengarnya sama saja."

Kata Imām Bukhāri dalam kitābnya خلق أفعال العباد (Khalqu Af'ālil 'Ibād):

وفي هذا دليل على أن صوت الله لا يشبه أصوات الخلق ؛ لان صوته جل ذكره يسمع من بعد كما يسمع من قرب وأن الملائكة يصعقون من صوته

“Dan ini merupakan dalīl, bahwasanya suara Allāh tidak sama dengan suara makhluk,

karena suara Allāh itu mendengar dekat atau jauh sama saja, dan malāikat bisa pingsan gara-gara mendengar suara Allāh Subhānahu wa Ta'āla.”

Kemudian kata beliau:

فإذا تتاند الملائكة لم يصعقوا

"Adapun tatkala malāikat saling berbicara diantara mereka, mereka tidak saling pingsan."

Malāikat dengan suara malāikat tidak jadi masalah. Tatkala malāikat mendengar suara Allāh Subhānahu wa Ta'āla mereka bisa pingsan.

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Oleh karenanya, janganlah kalian menyamakan Allāh dengan yang lainnya." (QS Al Baqarah: 22)

==> Tidak ada satupun yang sama dengan sifat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Disini Imām Bukhāri menetapkan Allāh mempunyai suara, tetapi suara Allāh tidak sama dengan suara makhluk.

Orang-orang liberal mengikuti orang-orang Asysyāirah, mengatakan, "Allāh tidak mempunyai suara", berarti Allāh berbicara tanpa huruf tanpa suara.

Lalu bagaimana?

Al Qurān bagaimana?

Al Qurān kan ada hurufnya.

Alif Lam min dan seterusnya ?

Kata mereka, itu bukan firman Allāh, melainkan terjemahan Muhammad terhadap firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini bahaya!

(In syā Allāh akan kita jelaskan tatkala pembahasan tentang pluralisme).

Kalau kita katakan, "Allāh berbicara dengan suara, dengan huruf, dengan bahasa yang Allāh kehendaki,

mau berbicara dengan bahasa Arab terserah Allāh, mau berbicara dengan bahasa Ibrāni terserah Allāh.

Lalu kenapa anda mengatakan Allāh tidak boleh mempunyai suara ? Mana dalīlnya ?

Oleh karenanya yang benar pendapat Imām Bukhāri, Imām Ahmad, pendapat Ahlu sunnah wal jama'ah, bahwasanya Allāh berbicara dengan suaranya.

Dikutip di Pucang Gading

Avatar

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 04 DARI 08)

Disebutkan oleh beberapa ahli tarikh,

Khadījah melakukan pinangan melalui sebagian kenalannya dengan cara memberi isyarat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar menikahi Khadījah.

Yaitu tidak langsung, karena seorang wanita harus tetap menjaga dirinya.

Dan ini juga sebagai dalīl, sebagaimana dijelaskan para ulamā, bahwa seseorang ketika memiliki anak atau adik perempuan,

tidak mengapa jika dia menawarkan anak atau adik perempuannya tersebut kepada seorang lelaki yang shālih.

Tentunya dengan cara yang baik dan tidak merendahkan.

Karena mencari suami yang shālih tidak mudah, sebagaimana tidak mudah pula mencari wanita yang shālihah, terlebih di zaman sekarang ini.

Kalau dikenal ada seorang yang berakhlaq mulia, ibadahnya baik, maka jika sudah terkumpul 2 perkara ini (ibadah dan akhlaq yang baik), jangan dilepaskan.

Sampai-sampai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengancam orang yang menolak lelaki seperti ini:

عَنْ أَبِى حَاتِمٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ « إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

"Dari Abū Hātim Al Mizany radhiyallahu ‘anhu berkata:

Rasulullah shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Jika telah datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhāi agama dan akhlaknya,

maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika tidak, maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi."

Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, meskipun ia mempunyai sesuatu (aib)?"

Beliau bersabda: "Jika telah datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhāi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian)."

Beliau mengatakan itu tiga kali.

(HR. Tirmidzi dan dishahīhkan oleh Al Syaikh Albāniy rahimahullāh didalam shahīh At Tirmidzi, nomor 1084)

Disini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membedakan antara akhlaq dengan agama.

Ada orang yang nampaknya agamanya bagus (misal rajin shalāt, puasa sunnah), namun akhlaqnya belum tentu bagus.

Misalnya punya hutang tidak dibayar, padahal mampu untuk membayar, tidak amanah, mulutnya kotor/kasar, tidak menghargai orang lain dan yang semisal.

Jika telah terkumpul pada seorang lelaki agama dan akhlaqnya, maka jangan kita tolak, selama anak atau adik perempuan kita menyukainya, namun juga jangan dipaksa.

Dengan harapan suami yang shālih ini akan menghasilkan keturunan yang shālihīn.

Para salaf dahulu mereka tidak ragu untuk menawarkan anak atau adik perempuan mereka kepada orang-orang yang shālih.

Contohnya, 'Umar bin Khaththab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu. Bukankah beliau telah menawarkan putrinya Hafshah kepada Abū Bakr dan 'Utsmān?

'Umar mengetahui siapa Abū Bakr dan siapa 'Utsmān, yaitu orang-orang yang dikenal shālih.

Umar menawarkan tanpa malu, karena ini mashlahah bagi kita dan anak-anak kita.

Jangan kita biarkan anak kita menikah dengan sembarang orang yang hanya tampan, tetapi akhlaqnya tidak baik, yang berpotensi malah merusak anak kita.

Begitu juga Nabi Mūsā ditawarkan untuk menikah. Ketika sampai di negri Madyan, kemudian beliau menolong 2 wanita,

sebagaimana Allāh kisahkan dalam surat Al Qashash.

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖفَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖوَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚسَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ الَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu'āib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini,

atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu,

Dan kamu in syā Allāh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik."

(Al Qashash: 25)

Akhirnya, Khadījah melalui temannya memberi isyarat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk menikahi Khadījah.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun maju untuk melamar Khadījah.

Akhirnya terjadilah pernikahan antara lelaki yang sangat shālih dan mulia yang mengatakan:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ وَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ.

"Aku adalah pemimpin anak Ādam pada hari kiamat dan bukannya sombong. Di tanganku bendera Al Hamd dan bukannya sombong,

dan tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Ādam, juga yang lainnya ketika itu kecuali semua dibawah benderaku,

dan aku orang pertama yang keluar dari tanah/kubur dan bukannya sombong." (HR. Ahmad, Muslim, Abū Dāwūd , Tirmidzi, Ibnu Mājah )

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan seorang wanita yang 'afīfah (menjaga kehormatan), suci, mulia dan cerdas.

Semua sifat baik ini berkumpul pada Khadijah.

Termasuk juga berbagai macam keindahan, kecantikan wajah, kecantikan akal, akhlaq yang mulia, serta harta yang banyak.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

____________________________

Avatar
reblogged

PENCEGAH BERMAKSIAT

👤 Dr. Firanda Andirja

Allah berfirman :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (٢٣)

Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.”

Yusuf berkata: (1) “Aku berlindung kepada Allah, (2) sungguh Robku (Tuanku) telah memperlakukan aku dengan baik.” (3) Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS Yusuf : 23)

Sesungguhnya Nabi Yusuf ‘alaihis salam tatkala dirayu untuk berzina dengan istri pembesar Mesir maka beliau telah menghadapi banyak ujian yang sangat berat, diantaranya :

- Ia seorang pemuda, tentunya gejolak syahwat seorang pemuda lebih bergelora daripada seseorang yang telah tua.

- Pintu-pintu telah ditutup, sehingga jika terjadi perzinaan tidak ada orang lain yang mengetahuinya

- Yusuf adalah orang asing, asal beliau adalah dari Palestina (tempat tinggal ayah beliau Nabi Ya'qub dan saudara-saudara beliau). Dan sebagaimana dimaklumi bahwasanya orang yang berada di tempat yang asing lebih berani bermaksiat daripada jika di kampung sendiri.

Betapa banyak pencuri yang hanya berani mencuri di kampung tetangga, adapun untuk mencuri di kampung sendiri maka harus berfikir seribu kali, karena kalau ketahuan maka akan memalukan orang tua dan kerabat. Seandainya Yusuf bermaksiat maka keluarganya tidak ada yang tahu dan tidak ada yang dipermalukan karena ia jauh dari kampung halamannya.

- Yusuf sudah bertahun-tahun tinggal di rumah wanita tersebut, sehingga keberadaan dia bersama sang wanita adalah perkara yang tidak mencurigakan, karena memang Yusuf seperti anggota keluarga di situ atau sebagai pekerja di rumah tersebut.

- Sang wanitalah yang merayu Yusuf 'alaihis salam. Dan banyak lelaki yang imannya goyah jika ternyata yang memulai menggoda adalah sang wanita. Karena seharusnya wanitalah yang digoda dan dicari, namun tatkala wanitanyalah yang mulai menggoda maka ini merupakan ujian tersendiri.

- Sang wanita yang menggoda bukanlah seorang wanita biasa, akan tetapi wanita yang cantik. Karena kita tahu bahwa kebiasaan para pembesar adalah mencari istri yang cantik.

- Wanita tersebut telah memperhias dirinya untuk menggoda Yusuf, maka jadilah kecantikannya bertambah-tambah dengan riasan kecantikan.

Tentu ini adalah kumpulan ujian dan godaan yang sangat berat yang dihadapi oleh Nabi Yusuf 'alaihis salam. Akan tetapi ternyata Nabi Yusuf bisa terhindar dari godaan yang sangat berat tersebut. Ini merupakan kemuliaan Nabi Yusuf yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an.

Yang menjadi pertanyaan : Langkah-langkah apa yang ditempuh oleh Nabi Yusuf sehingga terhalangi dari bermaksiat tersebut??

Tatkala Nabi Yusuf dirayu untuk berzina maka beliau melakukan beberapa  perkara, (1) Berlindung kepada Allah (2) Mengingat kebaikan dan nikmat Allah kepadanya, (3) Mengingat bahwa pelaku kemaksiatan tidak akan beruntung, dan (4) Segera pergi meninggalkan lokasi maksiat

Pertama : Berlindung kepada Allah.

Ini adalah penghalang yang terkuat, karena jika Allah tidak melindungi kita maka tidak seorangpun yang bisa terhindar dari kemaksiatan. Janganlah kita pernah PeDe dengan keimanan yang kita miliki, sesungguhnya betapa banyak orang yang kuat imannya dalam menghadapi banyak kemaksiatan akan tetapi ia luluh dan bertekuk lutut dalam beberapa hal.

Ada orang yang tidak mungkin untuk disogok dengan uang sebesar apapun, akan tetapi jika disodori seorang wanita cantik maka iapun bertekuk lutut di bawah kerling mata wanita tersebut.

Sebaliknya ada orang yang disodorkan wanita cantik ia bisa menghindar, akan tetapi bertekuk lutut di bawah uang, karena ternyata kondisinya yang penuh kebutuhan dan terlilit hutang. Ada juga orang yang tidak tergoda dengan wanita atau uang akan tetapi ia bertekuk lutut dengan jabatan dan kekuasaan karena ia memiliki ambisi untuk dihormati.

Dan demikianlah kondisi manusia, ada perkara-perkara yang ia lemah dihadapannya. Karenanya janganlah pernah PeDe dengan iman yang kita miliki, hendaknya kita meminta perlindungan kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢١)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.

Sekiranya bukan karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS An-Nuur : 21)

Kedua : Mengingat kebaikan Allah kepada kita

Perkataan Yusuf “Sesungguhnya Robku/Tuanku”, ada dua penafsiran dikalangan para ulama, jumhur ulama menyatakan yang dimaksud dengan “Tuanku” adalah suami sang wanita –seorang petinggi kerajaan Mesir (sebagian mufassir menyebutnya adalah seorang bendaharawan Mesir)- yang telah memelihara Yusuf di rumahnya dengan baik. Maka tidak layak bagi Yusuf untuk mengkhianatinya dengan menzinahi istrinya.

Pendapat kedua –yang dipilih oleh Abu Hayyan (lihat Tafsir Al-Bahr Al-Muhiith 6/257)- bahwa yang dimaksud dengan Robku/Tuanku adalah Allah, sehingga Yusuf tidak mau bermaksiat mengingat Allah telah memberikan kepadanya berbagai macam kenikmatan dan telah berbuat baik kepadanya, diantaranya Allah telah menyelamatkannya dari sumur, dan telah menempatkan ia tinggal di Mesir di rumah seorang majikan yang baik, telah diajari ilmu menafsirkan mimpi, dll.

Dengan mengingat kebaikan-kebaikan Allah kepada kita, merupakan salah satu hal yang bisa menghalangi kita dari bermaksiat. Betapa baiknya Rob kita kepada kita, kita telah diberi harta, kesehatan, dll, lantas kita gunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepadaNya?

Apakah kenikmatan mata kita gunakan untuk melihat hal yang haram, berlezat-lezat memandang aurot wanita yang setiap kelezatan yang kita rasakan semakin mendatangkan kemurkaan Allah !!!

Apakah kenikmatan pendengaran yang Allah berikan, kita gunakan untuk mendengarkan hal yang haram?, musik, ghibah, dll?. Semakin kita berlezat-lezat mendengarkan musik atau berlezat mendengarkan ghibah/ngerumpi maka semakin memperdekat kemurkaan Allah kepada kita !!

Bukankah jika kita bersyukur maka Allah akan menambah kenikmatan kita??. Jika kenikmatan yang kita peroleh ternyata tidak bertambah-tambah maka sebabnya sangatlah mungkin adalah karena kita tidak pandai bersyukur.

Ketiga : Mengingat bahwa pelaku dosa yang telah menzolimi dirinya sendiri tidak akan pernah beruntung

Sungguh pelaku dosa hanya mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri. Tidak ada kesulitan dan musibah apapun kecuali disebabkan oleh dosa-dosa kita.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (٣٠) Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy-Syuroo : 30)

Dosa, bagaimanapun juga pasti dan pasti dan pasti akan ada dampak buruknya, cepat atau lambat, baik di dunia, terlebih di akhirat. Maka sungguh pelaku maksiat telah menzolimi dirinya sendiri.

Bahkan terkadang ia menzolimi istri dan anak-anaknya, karena akibat maksiat yang ia lakukan terkadang merembet pada keluarganya !! Maka janganlah ia egois hanya ingin memuaskan syahwat dan hawa nafsunya dengan mengorbankan istri dan anak-anaknya !!

Terlalu beranikah kita bermaksiat kepada Allah. Tidak takutkah kita sewaktu-waktu tatkala kita terus bermaksiat maka Allah akan mencabut anugerahNya dari kita, mencabut hartaNya dari kita, mencabut ilmu kita atau menguranginya, atau menjadikannya tidak berkah?, dipersulit urusan kita??

Seorang penyair berkata :

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها…فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم Jika engkau berada dalam kenikmatan maka jagalah kenikmatan tersebut… Sesungguhnya kemaksiatan akan menghilangkan kenikmatan…

وَحافِظ عَلَيها بِتَقوى الإِلَهِ….فَإِنَّ الإِلَهَ سَريعُ النِّقَم Jagalah kenikmatan tersebut dengan bertakwa kepada Allah… Sesungguhnya Allah sangat cepat balasanNya (kepada pelaku maksiat)…

فَإِن تَعطِ نَفسَكَ آمالَها…فَعِندَ مُناها يَحِلُّ النَدَم Jika engkau menuruti angan-angan hawa nafsu jiwamu…. Maka (ingatlah) tatkala tiba kematian maka disitulah datang penyesalan…

فَأَينَ القُرونَ وَمَن حَولَهُم…تَفانوا جَميعاً وَرَبّي الحَكَم Dimanakah generasi-generasi lampau dan sekitar mereka… Mereka semua telah fana dan Robku yang akan Mengadili mereka…

Keempat : Menjauh dari lokasi maksiat

Nabi Yusuf 'alaihi salam selalu berusaha menjauhkan dirinya dari lokasi dan sumber kemaksiatan. Karena beliau tidak pernah PeDe dengan imannya, karena bagaimanapun seseorang kuat imannya akan tetapi jika ia terus berada di lokasi dan sumber-sumber maksiat maka ada saatnya  suatu waktu ia terjatuh dan tersungkur dalam kemaksiatan tersebut.

Nabi Yusuf menghindar dari maksiat dua kali :

(1) Tatkala ia dirayu oleh sang wanita tersebut maka beliaupun lari menuju pintu dan membuka pintu untuk kabur. Allah telah berfirman dalam ayatnya

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak (QS Yusuf : 25)

Nabi Yusuf terus berlari menjauh meskipun sang wanita menarik bajunya, ia menjauh dari lokasi kemaksiatan.

(2) Nabi Yusuf berdoa kepada Allah agar dipenjara sehingga terhindar dari wanita yang terus tidak pernah lelah untuk merayunya.

Allah berfirman :

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusus : 33)

Lihatlah ketidak-PeDe-an Nabi Yusuf di hadapan maksiat. Beliau berkata, “Jika Engkau wahai Robku tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, maka tentu aku akan condong untuk memenuhi keinginan mereka"…

Nabi Yusuf mengakui di hadapan Robnya akan ketidakmampuan dirinya jika terus digoda dengan rayuan para wanita cantik tersebut. Nabi Yusuf lebih suka dipenjara dari pada bermaksiat. Ternyata kelezatan beribadah di penjara lebih ia sukai daripada kelezatan bermaksiat yaitu berzina dengan wanita cantik.

Maka janganlah seseorang mendekatkan dirinya kepada sebab-sebab dan lokasi-lokasi kemaksiatan. Bagaimana seseorang hendak tidak bermaksiat sementara kakinya ia langkahkan ke lokasi dan sarana maksiat?!.

Bagaimana seorang hendak menahan pandangannya, sementara jarinya ia arahkan untuk meng"klik” foto-foto dan video-video yang mengumbar kemaksiatan??, apalagi syaitan datang berbisik kepadanya, “Tidak mengapa, hanya sekedar untuk cari tahu…” !!!

Ya Allah ampuni dosa-dosa kami, lindungilah kami dari dampak-dampak buruk kemaksiatan kami… jangan Engkau berikan dampak maksiat kami kepada anak-anak kami yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu…

Ya Allah tutuplah aib-aib dan dosa-dosa kami di dunia terlebih lagi di akhirat… Janganlah Engkau hinakan kami di hari kebangkitan, hari yang tidak bermanfaat harta benda…

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 26-01-1436 H / 19 November 2013 M Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com

Avatar
reblogged

Sedekah Senyum vs Sedekah Harta

25 April 2015

👤 Dr. Firanda Andirja

Banyak istri yang lebih membutuhkan sedekah senyuman dan kata-kata lembut suaminya daripada sedekah hartanya…

Dalam hadits:

((Kata-kata yang baik adalah sedekah)),…

((Senyum kepada saudaramu adalah sedekah))…

Avatar

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 03 DARI 08)

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kita kesempatan untuk bersua kembali,

dalam rangka untuk mempelajari perjalanan sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang sarat dan penuh dengan faedah-faedah.

Faedah-faedah itu bisa kita jadikan sebagai bekal kita dalam menjalani kehidupan kita.

In syā Allāh kita akan membahas tentang "Pernikahan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sayyidah Khadījah radhiyallāhu 'anhā".

Khadījah radhiyallāhu 'anhā bernama Khadījah bintu Khuwailid bin As'ad bin Abdil 'Uzza bin Qushay bin Kilāb.

Sedangkan nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Muhammad bin 'Abdillāh bin 'Abdil Muththalib bin Hāsyim bin 'Abdi Manaf bin Qushay bin Kilāb.

Keduanya bertemu pada Qushay.

Abdi Manaf, kakek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki saudara yang bernama 'Abdi 'Uzza dan 'Abdi Syamsy.

Jadi, Khadījah sendiri masih seorang wanita Quraisy dan juga memiliki nasab yang tinggi.

Khadījah merupakan keturunan yang spesial dan terkenal di kalangan orang Arab tatkala itu.

Disebutkan didalam sejarah, bahwa diantara laqab (gelar)-nya ibunda Khadījah adalah Thāhirah (wanita yang suci),

karena beliau tidak mengikuti adat-adat jāhilīyyah, dan tidak pernah terjerumus ke dalam perzinahan dan hal-hal buruk lainnya.

Karena itu beliau dikenal sebagai wanita yang 'afīfah (menjaga kehormatan).

Selain itu, Ibunda Khadijah juga terkenal akan kecantikannya dan kekayaannya.

Beliau banyak memperkerjakan kaum lelaki dengan sistem mudhārabah untuk memperdagangkan hartanya.

Padahal Khadījah adalah seorang wanita janda.

Disebutkan bahwa sebelum beliau menikah dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Khadījah sudah menikah dua kali yaitu dengan:

⑴ Atiq bin Makhzumiy

⑵ Abū Halah ibnu Zurarah At Tamimiy

⇒ Jadi, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah suami beliau yang ke-3.

Meskipun beliau wanita janda,

karena kesucian, akhlaqnya yang mulia, kekayaan hartanya, dan kecerdasannya, banyak lelaki yang datang melamarnya.

Namun Khadījah radhiyallāhu 'anhā menolak semua lamaran itu. Beliau tidak terburu-buru untuk menikah.

Sampai akhirnya Khadījah mendengar tentang seorang pemuda yang bernama Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam yang terkenal dengan amanahnya, akhlaqnya.

Maka Khadījah ingin agar Muhammad bekerja sebagai pekerjanya.

Inilah cerdasnya Khadījah, beliau sudah tertarik dengan Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, namun tidak terburu-buru minta dilamarkan kepada Muhammad.

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bekerja dengan Khadījah sebagai pekerjanya.

Akhirnya berangkatlah Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam memperdagangkan barang dagangan Khadījah radhiyallāhu 'anhā.

Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berangkat berdagang,

beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ditemani oleh budaknya Khadījah radhiyallāhu 'anhā yang bernama Maysarah.

Khadījah radhiyallāhu 'anhā memiliki maksud dengan memerintahkan Maysarah menemani Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, yaitu untuk meneliti Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ini diantara indikasi yang menunjukkan bagaimana cerdasnya Khadījah radhiyallāhu 'anhā, dimana beliau memiliki sifat tidak terburu-buru dan al anat (tenang).

Khadījah radhiyallāhu 'anhā sebenarnya sudah tertarik kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam,

namun beliau ingin menguji Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terlebih dahulu.

Ujian ini dilakukan bukan saat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdagang di Mekkah, melainkan saat safar,

karena sebagaimana perkataan para ulamā bahwa safar itu akan membuka tabir akhlaq seseorang yang sebenarnya.

Diriwayatkan ketika ada seseorang yang hadir didepan 'Umar bin Khaththab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu,

maka 'Umar berkata kepada khayalak: "Siapa yang mentazkiah/merekomendasikan/mengatakan engkau orang baik?"

Maka ada seorang yang menjawab: "Saya, wahai 'Umar."

Maka 'Umar bertanya kepada orang yang ingin mentazkiah lelaki ini: "Apakah engkau pernah bersafar bersama dia?"

Jawab orang ini: "Tidak pernah."

Lalu kata 'Umar: "Engkau pernah berhubungan dengannya tentang masalah uang?"

Jawabnya: "Tidak."

Lalu 'Umar bertanya: "Apakah engkau tetangganya sehingga mengetahui kapan masuknya dan keluarnya?"

Jawabnya: "Saya bukan tetangganya."

Kata 'Umar: "Demi Allāh yang tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, engkau tidak kenal laki-laki ini."

Demikianlah, jika seseorang ingin mengetahui bagaimana hakikat orang lain, maka ajaklah bersafar atau bertransaksi uang dengannya,

sehingga dapat diketahui orang tersebut orang yang amanah atau gemar berdusta.

Untuk itulah, Khadījah menguji Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam 2 perkara yang penting, yaitu:

⑴ Safar

⑵ Masalah keuangan

Inilah mungkin alasan kenapa safar disebut yusfir (membuka tabir seseorang).

Karena saat safar akan nampak akhlaq seseorang, apalagi jika safar dilakukan bersama orang-orang lain secara berkelompok.

Dari Abū Hurairah, dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika salah seorang dari kalian melakukan safar, maka ia akan sulit makan, minum dan tidur,

Jika urusannya telah selesai, maka bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhāri nomor 1804 dan Muslim nomor 1927)

Setelah Maysarah kembali selepas safar bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan melihat cara berdagang Beliau,

Maysarah pun segera mengabarkan kepada Khadījah tentang bagaimana hakikat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Setelah mendengar testimony Masyarah, maka semakin bertambah ketertarikan Khadījah kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Akhirnya Khadījah radhiyallāhu 'anhā pun bermaksud meminang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

_____________________

Avatar
reblogged

Salah Satu Adab Minum

26 April 2015

👤 Dr. Firanda Andirja

Diantara adab minum :

Sunnahnya adalah minum dalam kondisi duduk,

akan tetapi jika ada keperluan, sesekali boleh minum berdiri,

karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minum air zamzam dalam kondisi berdiri…

Demikian juga Ali bin Abi Tholib -semoga Allah meridoinya- pernah minum sambil berdiri…

Avatar

26 Juni 2023

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 02 DARI 08)

Disini ada 2 perkara penting yang dijelaskan oleh para ulamā berkaitan dengan hadīts ini,

tatkala 'Āisyah bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang 'Abdullāh bin Jud'ān.

Yaitu:

⑴ Hendaknya seseorang bersikap adil dan obyektif.

Jangan sampai dia memandang sebelah mata kepada orang lain, meskipun itu musuhnya.

Jika memang dia memiliki kebaikan, maka harus diakui dan tidak boleh dibuang.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa." (QS Al Māidah: 8)

Meskipun Rasūlullāh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dimusuhi oleh orang-orang musyrikin Arab,

akan tetapi Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tetap mengakui kebaikan mereka.

Oleh karenanya, ketika ada seorang Yahūdi datang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian berkata:

أن يهودياً أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إنكم تشركون، تقولون ما شاء الله وشئت، وتقولون: والكعبة، فأمرهم النبي صلى الله عليه وسلم إذا أرادوا أن يحلفوا أن يقولوا: (ورب الكعبة، وأن يقولوا: ما شاء ثم شئت)

Bahwa ada seorang Yahūdi datang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik,

kamu mengucapkan, 'Atas kehendak Allāh dan kehendakmu,' dan mengucapkan, 'Demi Ka'bah'."

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan para shahābat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan: "Demi Tuhan Pemilik Ka'bah,"

dan mengucapkan, "Atas kehendak Allāh, kemudian atas kehendakmu."

(HR Nasāi' dan dinyatakan shahīh dari Qutailah radhiyallāhu 'anhu).

Hadīts ini dijadikan dalīl oleh para ulamā, bahwa orang Yahūdi yang merupakan musuh Islām namun tatkala mereka datang membawa kebenaran,

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak menolak dan membenarkan pernyataan orang Yahūdi tersebut.

Dari sini dapat dipetik faidah bahwa, sesungguhnya harus dibedakan antara menghukumi seseorang (taqwim) dengan memperingatkan seseorang (tahdzir).

Dalam menghukumi atau menilai seseorang, maka harus mengetahui kebaikan dan keburukannya.

Sedangkan di dalam memperingatkan kesalahan orang lain, maka cukup disebutkan kesalahannya saja, tidak perlu disebut kebaikannya.

Jika memang harus menyebut kebaikannya, maka perlu dilihat mashalat dan madharatnya,

karena sesungguhnya "Bab Tahdzir" itu termasuk kedalam "Nahyu 'anil Munkar",

dan para ulamā sepakat bahwa amar ma'ruf nahi munkar kembali kepada kemashlahatan.

Misalnya ada seorang pencuri,

maka kita katakan, "Hati-hati, si fulan pencuri!"

Maka orang-orang pun akan mengejarnya dan berusaha menangkapnya.

Ini namanya tahdzir (peringatan),

karena itu tidak perlu kita sebutkan, "Si pencuri itu rajin shalāt dan bersedekah."

Dalam kondisi seperti ini, tidak perlu disebutkan kebaikan si pencuri tersebut, karena disini kita sedang memperingatkan orang dari bahaya orang tersebut.

Namun, apabila dalam rangka untuk menilai, maka harus dibandingkan antara kebaikan dan keburukan.

⑵ Faidah kedua,

sebagaimana kata Ibnul Qayyim, bahwa hadīts ini merupakan dalīl bahwasanya seseorang boleh bekerja sama dengan orang-orang yang sesat dan kāfir,

dalam kondisi-kondisi tertentu yang dibutuhkan dan memang bisa menimbulkan kemashlahatan.

Tidak semua orang hidup diatas kebenaran, banyak orang terjerumus kedalam kesesatan dengan bertingkat-tingkat.

Namun terkadang kita terpaksa bekerja sama dengan mereka dalam ruang lingkup tertentu jika memang mendatangkan kemashlahatan.

Adapun perkataan, "Tidak boleh seseorang secara mutlak berinteraksi dengan orang yang sesat," maka ini anggapan tidak benar.

Apalagi orang-orang yang memiliki kesesatan tersebut masih Muslim. Ini kaidah umum, namun butuh perincian yang lebih dalam lagi.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

______________________

Avatar

26 Juni 2023

Dr. Firanda Andirja

(bimbinganislam.com)

PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH (BAGIAN 01 DARI 08)

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kita kesempatan untuk bersua kembali dalam rangka untuk mempelajari perjalanan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang sarat dan penuh dengan faedah-faedah.

Faedah-faedah itu bisa kita jadikan sebagai bekal kita dalam menjalani kehidupan kita.

In syā Allāh, kita akan membahas tentang "Pernikahan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Khadijah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā".

Akan tetapi, sebelumnya ada satu peristiwa yang dialami oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu yang dikenal dengan peristiwa "halful fudhūl".

Halful fudhūl adalah peristiwa dimana orang-orang Quraisy di zaman jāhilīyyah pernah berkumpul di rumah 'Abdullāh bin Jud'ān,

dan mereka bersepakat untuk menolong orang yang dizhālimi.

Pertemuan ini dihadiri oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang dikenal dengan halful fudhūl.

Dikisahkan bahwasanya ada seorang dari kabilah Zabīd (dari Yaman) datang ke kota Mekkah membawa sejumlah barang dagangan,

lalu dijual-lah barang dagangan tersebut kepada Al 'Ash bin Wāil As Sahmi.

Akan tetapi Al 'Ash bin Wāil As Sahmi mengambil barang dagangan tersebut tanpa membayar.

Akhirnya dia (orang Yaman) naik diatas gunung Jabal Abi Qubais yang ada di sekitar Ka'bah. Saat itu orang-orang Quraisy sedang berkumpul.

Maka diapun berteriak dengan suara yang lantang menuntut haknya dan agar dia ditolong.

Salah satu paman Nabi yang bernama Zubair bin 'Abdil Muththalib mengatakan bahwa orang ini tidak boleh ditinggalkan, (maksudnya) dia harus ditolong.

Akhirnya Banu Hāsyim, Banu Zahrah, dan Banu Tamīm berkumpul di rumah 'Abdullāh bin Jud'ān, dan mereka bersepakat untuk bersatu padu menolong orang ini.

Akhirnya mereka berhasil meminta Al 'Ash bin Wāil As Sahmi untuk membayar uang kepada orang Yaman Az Zabidiy penjual yang tidak dibayar uangnya.

Yang menjadi perhatian kita, dalam pertemuan tersebut Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga hadir.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam belum diangkat menjadi seorang nabi saat itu.

Setelah beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam diangkat menjadi seorang nabi,

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) masih mengingat pertemuan ini,

yaitu pertemuan yang baik antara orang-orang kāfir Quraisy untuk meninggikan keadilan, menolong seorang yang dizhālimi.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الإِسْلامِ لأَجَبْتُ

"Sungguh Aku pernah menghadiri sebuah perjajian di rumah 'Abdullāh bin Jud’ān. Saya lebih senang dengan perjanjian ini daripada unta merah,

Sekiranya aku diundang lagi (untuk menyepakati perjanjian ini) di masa Islām, niscaya aku akan memenuhinya." (Hadīts riwayat Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra no 12110, dihasankan oleh Al Syaikh Albāniy rahimahullāh dalam Silsilah Ash Shahīhah no.1900)

Ini adalah pengakuan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terhadap sebagian kebaikan yang masih ada didalam zaman jāhilīyyah.

Walaupun demikian, tidaklah bermanfaat kebaikan 'Abdullāh bin Jud’ān, karena dia masuk neraka Jahannam,

sebagaimana dalam Shahīh Muslim tatkala 'Āisyah bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يا رسول الله ابن جدعان كان في الجاهلية يصل الرحم ويطعم المسكين فهل ذاك نافعه ؟ قال لا ينفعه إنه لم يقل يوما رب اغفر لي خطيئتي يوم الدين

"Wahai Rasulullāh, Ibnu Jud’ān pada masa jāhilīyyah menyambung silaturrahīm dan memberi makan orang-orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?"_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Tidak akan bermanfaat untuknya, (sebab) seharipun dia tidak pernah mengatakan, 'Wahai Rabbku, ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat nanti'."

Oleh karenanya, kebaikan Ibnu Jud’ān tidaklah bermanfaat sedikitpun, karena dia terjerumus dalam kesyirikan.

Dan siapa saja yang terjerumus ke dalam kesyirikan, maka seluruh amalannya tidaklah bermanfaat.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan hapus amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."

(Az Zumār: 65)

Maksudnya, merugi di akhirat kelak, dan akan masuk neraka Jahannam.

Meskipun kaum musyrik Quraisy bergelimang didalam kesyirikan dan menyembah berhala,

namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sifat obyektif dan keadilannya,

tetap menyatakan bahwa biar bagaimanapun mereka punya kebaikan. Tidak boleh tutup mata terhadap kebaikan yang ada ini.

Oleh karenanya, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadītsnya bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."

(Hadīts riwayat Baihaqiy)

Para ulamā telah menjelaskan tentang maksud hadīts ini, yaitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika berdakwah kepada orang-orang Quraisy, sudah ada akhlaq-akhlaq mulia disitu.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tinggal menyempurnakannya saja.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bukan memperbarui akhlaq, namun segala akhlaq yang buruk dibuang, dan akhlaq yang sudah baik dipertahankan.

Orang-orang Arab jāhilīyyah dan musyrikin Quraisy memiliki sejumlah akhlaq dan perangai mulia, sebagaimana telah dipaparkan di bab sebelumnya, diantaranya:

√ Mereka senang menjamu tamu,

√ Mereka memberi makan kepada faqīr miskin,

√ Mereka membela orang yang dianiaya,

√ Dan lain-lain.

Namun sejatinya amalan mereka itu sia-sia di sisi Allāh, tidak bernilai dan berharga di akhirat, karena mereka terjerumus kedalam kesyirikan.

Namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengakui bahwa orang-orang Quraisy dahulu, mereka memiliki akhlaq yang mulia,

karenanya beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk menyempurnakan akhlak​ yang mulia.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak menafikan kebaikan yang ada pada musuh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bahkan perkataan beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Andai aku diajak untuk menyepakati perjanjian ini di masa Islām, aku pun akan mendatanginya."

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

______________________

Avatar
reblogged

Kutipan Dari Tausiyah: Dr. Firanda Andirja 

Wahai para perokok… berusahalah untuk kembali kepada Allah Subhanallahu wa taala… 

tinggalkan rokokmu karena Allah… niscaya Allah akan memberikan secercah iman dalam hatimu dan menambahkan ketakwaanmu..

Dan Semoga Allah menambahkan rizkimu.. karena engkau telah meninggalkan sesuatu (yang buruk), karena Allah…

Avatar
reblogged

Barangsiapa yang Sedikit Dunianya Maka Sedikit Pula Hisabnya...

👤 Dr. Firanda Andirja

Barangsiapa yang sedikit dunianya maka sedikit pula hisabnya..,

lantas kenapa engkau terlalu bersedih jika kurang hartamu?

Carilah harta secukupnya…, tumbuhkan sifat qona'ah (merasa cukup-pen)…, jangan terlalu ambisi dengan berlimpahnya harta yang hanya memperpanjang dan menyulitkan hisabmu…

Kebanyakan orang celaka bukan karena kurang harta, sebenarnya hartanya sudah cukup baginya untuk menjalani kehidupannya, akan tetapi kebanyakan orang tidak puas dan tidak qona'ah… inilah yang membuat mereka celaka dan tenggelam dalam dunia serta berlomba-lomba mengejarnya…

Akhirnya kehidupannya diatur oleh hartanya, ibadahnya pun diatur oleh hartanya, jadilah ia milik hartanya bukan ia pemilik hartanya…

Engkau terpesona dengan rumah mewah sahabatmu… engkau tergiur dengan banyaknya dan mewahnya mobil sahabatmu…

Apakah engkau tergiur untuk dihisab lebih lama oleh Allah?? Syukurilah apa yang kau miliki… Apa yang kau miliki itupun sudah akan merepotkanmu untuk mempersiapkan jawabannya tatkala hisab kelak…!!

Avatar
reblogged

PROYEK GAGAL??

21 April 2015

👤 Dr. Firanda Andirja

Penyair berkata :

قد يقطع الثوب غيرُ لابسه*ويلبس الثوب غيرُ من قطعه

Bisa jadi yang menjahit baju bukanlah orang yang akan memakainya…

Dan yang memakai baju bukanlah orang yang menjahitnya…

ويجمع المال غير آكله*ويأكل المال غير من جمعه

Dan bisa jadi yang mengumpulkan harta bukanlah orang yang memakannya…

Dan yang memakan harta bukanlah orang yang mengumpulkannya…

ويرفع البيت غير ساكنه*ويسكن البيت غير من رفعه

Dan bisa jadi yang membangun rumah bukanlah orang yang akan menempatinya…

Dan rumah ditempati oleh bukan pembangunnya….

Faidah….:

Kematian datang tidak terduga…,

terlalu banyak pemilik proyek yang meninggal sebelum proyeknya selesai…

Dan banyak juga yang proyeknya sudah selesai atau pembangunan rumahnya sudah selesai akan tetapi pemilik proyek atau pemilik rumah sudah keburu meninggal dan belum sempat menikmati hasil kerjaannya, yang menikmati adalah orang lain…

Karenanya jika sedang bekerja atau membangun atau membuka proyek maka niatkanlah karena Allah,

karena belum tentu engkau bisa menikmati hasil kerjaanmu,

tapi engkau jelas bisa menikmati hasil pahalanya di akhirat…

Avatar
reblogged

BEGINILAH MEREKA BERBAKTI…

7 Januari 2016

👤 Ustadz ‘Abdullāh Zaen, MA

Kisah Pertama

الحمدلله ربّ العالمين

والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أم بعد

Sebuah kisah tentang seorang yang bernama Khālid bin Yahya Al Burmuki.

Diceritakan oleh Imam Ibnu Qutaibah dalam 'Uyūnul Akhbār bahwa di zaman Khalid bin Yahya Al Burmuki, penguasanya saat itu sangat memusuhi orang-orang Burmuk (orang-orang yang berasal dari daerahnya Khalid bin Yahya)

Penguasa yang lalim tersebut, mereka membunuhi orang-orang yang berasal dari Burmuk dan merampas harta mereka.

Adapun yang selamat maka dipenjarakan.

Diantara yang dijebloskan ke dalam penjara adalah Khālid bin Yahya dan juga bapaknya yaitu Yahya.

Keduanya dimasukkan ke dalam penjara yang gelap, dingin dan pengap sebagai bentuk penyiksaan terhadap mereka berdua.

⇒ Kebetulan bapaknya (yaitu Yahya) adalah seorang yang rajin beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla; rajin untuk menunaikan shalat, puasa dan sekian ibadah-ibadah yang lainnya.

Karena dia adalah orang yang rajin shalat (termasuk bangun malam), maka tentunya dia membutuhkan air untuk berwudhū’..

Padahal yang tersedia di dalam penjara hanyalah seember air yang begitu dingin sedangkan bapaknya adalah seorang yang sudah lanjut usia, sehingga manakala dia menyentuh air yang dingin itu bisa jadi dia akan jatuh sakit.

Maka Khālid pun berpikir; bagaimana caranya supaya saya bisa membuat air yang dingin ini menjadi hangat?

Ketika bapaknya sudah tidur di malam hari, Khālid memeras otaknya.

Kemudian dia berbaring sambil berpikir mencari ide bagaimana caranya supaya air yang ada di dalam ember ini menjadi air yang hangat.

Ketika dia sedang berbaring, dia melihat ke langit-langit penjara, ternyata di situ ada penerangan (lampu).

Kata dia: “Nah, ini idenya !”

⇒ Bagaimana caranya supaya cahaya lampu dan hawa hangat yang ada di langit-langit bisa berpindah ke ember ini.

Setelah bapaknya tidur terlelap, maka Khālid pun mengambil ember tadi, kemudian dia dekatkan ember tersebut dengan tangan kanannya, dia dekatkan menuju ke lampu tadi.

Berapa menit kira-kira?

Ember, bukan gelas (dan) bukan pula mangkok, tapi ember yang berat diangkat dengan tangan kanannya, semenit, dua menit paling lima menit tangannya sudah kesemutan.

Akhirnya diganti ke tangan yang kiri, dia angkat dengan tangan kirinya.

Kemudian setelah capek dia angkat lagi diganti dengan tangan kanannya, begitu dia ganti tangan kanan ke kiri, kanan ke kiri sampai ayam jantan berkokok.

Ketika ayam jantan berkokok dia bangunkan bapaknya.

“Pak, silahkan air hangat sudah siap.”

Bapaknya tidak tahu bahwa air hangat yang ada dihadapan dia merupakan hasil kerja Khālid semalam suntuk.

Malam kedua, Khālid melakukan hal yang serupa dan malam ketiga pun melakukan hal yang serupa.

Sampai ketahuan oleh penjaga-penjaga, dan itu dianggap sebuah pelanggaran.

Apa hukumannya?

Hukuman nya lampu tadi dicabut.

Khālid tambah binggung:

“Bagaimana caranya supaya saya bisa menghangatkan air ini, padahal saya ingin berbakti kepada bapak saya.”

Yang dilakukan Khalid ketika bapaknya sudah terlelap tidur (adalah) dia berpikir lagi memeras otaknya mencari cara bagaimana caranya supaya air ini menjadi hangat.

Sampai terbetiklah sebuah ide yang barangkali menurut sebagian orang ide ini adalah ide gila.

Apa ide tersebut?

Dia pikir yang namanya tubuh kita (manusia) memiliki hawa hangat, bagaimana caranya supaya hawa hangat yang ada di dalam tubuh kita ini bisa dipindahkan ke air yang ada didalam ember tadi.

Dia berpikir….

“Oh, ada caranya !”

Ketika bapaknya sudah tertidur lelap, Khālid melepas kaosnya kemudian merunduk, perutnya ditempelkan ke air yang ada di dalam ember tadi, dengan harapan hawa hangat yang ada di dalam tubuhnya bisa ditransfer (berpindah) ke dalam air.

Sedikit demi sedikit hawa hangat yang ada di dalam tubuhnya diserap oleh air dingin itu dan Khalid mengigil kedinginan karena hawa hangat yang ada didalam tubuhnya diserap masuk habis ke dalam air tadi.

Semalam suntuk dia merunduk kedinginan, sampai adzan subuh dikumandangkan.

Ketika adzan subuh dikumandangkan, air sudah agak hangat (kemudian) dia bangunkan sang ayah dan berkata:

“Silahkan Bapak, air hangat sudah siap.”

Siapa kiranya, diantara anak-anak di zaman kita ini yang berbakti kepada orang tuanya sedemikian rupa?

Apa yang diharapkan oleh Khalid dari bapaknya?

Apakah dia melakukan itu semua untuk mendapatkan harta warisan orang tuanya?

Ataukah dia punya keinginan duniawi yang lain?

Apa yang bisa diwariskan oleh bapaknya yang sangat miskin tadi?

Dia melakukan itu semua karena dia meyakini betul bahwa keridhan orang tua adalah merupakan kunci dari keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sebaliknya kemurkaan orangtua merupakan penyebab utama kemurkaan nya Allāh Aza wa Jalla.

رضاء الله في رضاء الوالدين وسخط الله في سخط الوالدين

“Keridhaan Allāh itu tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allāh itu tergantung kepada kemurkaan orang tua.”

(HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, dari shahābat Abdullāh bin Amr bin Al 'Ash)

Beginilah para ulama kita memberikan contoh untuk berbakti kepada orang tua.

Kisah Kedua

Kisah yang lainnya yaitu Ibnu Mas'ūd Radhiyallāhu 'anhu, salah seorang shahābat Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Diceritakan bahwa andaikan malam  telah tiba, ketika ibunya beristirahat maka Ibnu Mas'ūd pun duduk dan berbaring disamping ibunya.

Dengan tujuan apa?

Dengan tujuan, manakala ibunya membutuhkan sesuatu maka Ibnu Mas'ūd pun siap untuk memenuhi permintaan ibunya.

Begitulah Ibnu Mas'ūd setiap malamnya tidur disamping ibunya demi untuk berbakti dan membantu apapun yang di inginkan oleh sang Ibu.

Diceritakan suatu malam…

Ibnu Mas'ūd dibangunkan oleh ibunya dan berkata:

“Ibnu Mas'ūd, saya haus, tolong carikan air.”

Maka Ibnu Mas'ūd pun mencari air di rumahnya, ternyata tidak ada.

Akhirnya dia membawa ceret dan keluar dari rumahnya (untuk) mencari air.

Sekembalinya mencari air ternyata ibunya sudah tertidur karena mungkin Ibnu Mas'ūd agak lama mencari airnya.

Maka dilematis saat itu, apakah dia akan bangunkan ibunya? Ataukah dia akan biarkan?

Kalau dibangunkan Ibnu Mas'ūd khawatir bila nanti ibunya akan terganggu tidurnya. Tapi kalau tidak dibangunkan, nanti malam (saat) ibunya kehausan terus bagaimana dia mencari Ibnu Mas'ūd dalam keadaan sudah tertidur?

Dia khawatir ibunya tidak tahu kalau Ibnu Mas'ud sudah datang karena suasananya gelap.

Akhirnya dia mencari jalan tengah, apa yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ud?

Dia berdiri di samping ibunya sambil membawa ceret, menunggu ibunya sampai dia bangun karena khawatir malam-malam ibunya bangun.

Dia berdiri terus karena capek, kadang-kadang dia duduk. Ketika duduk dan datang rasa kantuk maka dia berdiri lagi untuk menghilangkan rasa kantuk.

Ketika capek lalu dia duduk, begitu duduk lalu berdiri lalu duduk lagi berdiri lagi. Dan ternyata semalaman ibunya tidak bangun.

Ketika shubuh, Ibnu Mas'ūd menyerahkan air itu kepada ibunya untuk diminum oleh ibunya.

Luar biasa bukan ?!

Ibnu Mas'ūd telah mempraktekkan nasehat yang disampaikan oleh Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam, (yaitu) ketika salah seorang dari shahābat bertanya kepada Beliau,

“Wahai Rasūl, siapakah manusia yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik? Untuk saya muamalahi dengan baik, siapakah orang yang paling berhak tersebut?”

Kata Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam: “Ibumu.”

Kemudian siapa lagi wahai Rasūl?“

Nabi mengulangi kedua: "Ibumu.”

Kemudian siapa lagi wahai Rasūl?“

Nabi mengulangi ketiga kalinya, "Ibumu.”

Tiga kali disebutkan ibunya, kemudian setelah (itu) keempatnya Nabi mengatakan: “Bapakmu.”

(HR Bukhāri no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadits ini sering kita dengar tapi belum tentu kita sudah mempraktekannya.

Hadits ini tidak sedang menjelaskan bahwa kita itu tidak boleh bergaul dengan baik (kepada) selain orang tua, bukan!

Tapi yang jadi pertanyaan adalah:

“Siapakah dari sekian banyak manusia yang ada di muka bumi, yang paling berhak untuk kita pergauli dengan baik?”

Jawabannya adalah ibu kita, kemudian baru bapak kita.

Nah, sekarang sudahkah kita menjadikan orang tua kita sebagai prioritas kita yang paling tinggi untuk kita pergauli dengan baik?

Jawabannya, banyak diantara kita yang cara bergaulnya kepada kolega bisnisnya atau bosnya atau (maaf) pacarnya atau tetangganya atau teman akrabnya, lebih baik daripada cara bergaul dia kepada orang tuanya.

Apakah dia sudah mempraktekan hadits Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam tadi?

Kenapa dia bisa bermuka senyum, bermuka manis, berkata lembut kepada kolega bisnisnya?

Sedangkan ketika bertemu dengan orangtuanya dia bermuka masam, membentak orang tuanya.

Seakan-akan (maaf) seperti membentak seekor binatang yang hina.

Apakah itu praktek dari hadits Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Kisah Ketiga

Kisah yang ketiga tentang seorang ulama yang bernama Haywah bin Suraih

Diceritakan bahwa Haywah adalah seorang ulama besar di zamannya.

Dia memiliki seorang ibu yang sudah renta dan sangat disayangkan ibunya agak kurang sehat akalnya (kurang waras).

Seperti biasa Haywah memberikan pengajian di depan jamaahnya di masjid yang dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan jamaah.

Ketika beliau sedang menyampaikan pengajian tadi, tiba-tiba sang ibu pergi ke masjid kemudian membuka jendela masjid, dari jendela itu ibunya melongok kemudian dia memanggil-manggil anaknya:

“Haywah… Haiywah….!”

Jamaah pada kaget:

“Siapa (wanita) ini (yang) memanggil gurunya dengan namanya sendiri?”

⇒ Biasanya orang kalau memanggil gurunya dengan ustadz, syaikh, tuan guru (di daerah Lombok), kyai (di Jawa).

Kira-kira apa yang Anda pikirkan? Apa yang di inginkan sang ibu?

(Seseorang) sedang mengisi pengajian besar kemudian di panggil-panggil. Meskinya ada sesuatu yang besar (misal rumahnya kecolongan, kebakaran, dll).

Ternyata apa?

Wanita itu berkata:

“Haywah, itu ayam-ayam di rumah belum kamu kasih makan, kenapa tidak kamu kasih makan dulu?! ”

Subhanallāh…..

Lagi tengah-tengah mengisi pengajian besar tahu-tahu dipanggil oleh ibunya yang kurang sehat Untuk memberi makan anak ayam yang ada dirumahnya.

Lalu Apa yang dilakukan Haywah? Apa dia merasa malu?

“Wah, masa seorang kyai ditengah-tengah pengajian nya diputus hanya untuk ngasih makan ayam?”

Lalu Haywah memandang kepada jama'ahnya dia sapa jama'ahnya tersebut, kemudian dia berkata:

“Wahai para jama'ahku, saya mengajar kalian hukumnya sunnah, adapun saya berbakti kepada ibu saya hukumnya wajib, maka maaf saya mau melakukan yang wajib dulu.”

Kemudian ditutup kitabnya dan dia keluar menggandeng tangan ibunya dengan penuh tunduk.

Lalu dia kasih ayam itu makan. Setelah selesai memberi makan ayam, dia kembali ke masjid untuk memulai pelajarannya lagi.

Haywah mempraktekan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Dan merendahlah diri kalian dihadapan orang tua kalian karena kasih sayang.”

(QS Al Isrā: 24)

Banyak diantara kita tidak merendahkan dirinya di hadapan orangtuanya.

Merasa sarjana sedangkan ibunya tamat SD saja tidak…

Merasa dia sudah menjadi pejabat sedangkan ibunya adalah orang yang biasa…

Merasa bahwa dirinya telah memiliki kedudukan yang tinggi sedangkan ibunya adalah manusia yang biasa-biasa saja…

Kemudian dia merasa lebih tinggi dari ibunya, merasa ini dan itu, bahkan merasa malu untuk berjalan beserta ibunya.

Apakah ini praktek dari berbakti kepada orang tua?

Kita masih perlu untuk terus menggali kisah-kisah para ulama kita, dalam berbakti kepada orang tua, agar kita bisa meneladani mereka.

Beginilah mereka berbakti kepada orang tua…

Semoga kita bisa mempraktekan ini semua dalam kehidupan kita.

والله تعالى أعلى و أعلم

وصلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه أجمعين

__________________________

⬇️ Download Audio: https://goo.gl/zFLkQ7Sumber:

➖➖➖➖➖➖➖

🌐 Website:  

👥 Facebook Page:  

Fb.com/TausiyahBimbinganIslam

📣 Telegram Channel:

📺 TV Channel:

Avatar
reblogged

KANTUNG BERLUBANG (ilustrasi penggugah...)

Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang.

Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu.

Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Teman-teman… Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita… Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi…

Namun sayang sekali… masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik!

Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati)… Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup…

Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang, jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian)…

Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat…

Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur'an)

Avatar

Dr. Firanda Andirja

‎Tidak ada yang seperti ayah,

meski di waktu-waktu kesedihan...

‎"لاشيء كالأبْ، رغم الحـزن" .

‎Jangan lupa doain ayah....

tentu ibu juga...

Karena sebagian orang begitu berbakti kepada ibunya, terkadang ayahnya "agak sedikit" terlupakan...

Ya Allah, ampuni dosa-dosa kedua orang tua kami, dan kumpulkanlah kami bersama di surgaMu...

Avatar

Dr. Firanda Andirja

Betapa jauhnya langit...

Betapa dekatnya Pencipta langit...

How far is the sky...

and how close is Allah...

ما أبعد السّماء، وما أقرب الله" .

Avatar

Dr. Firanda Andirja

Perasaan sepi menyendiri itu muncul tatkala engkau lupa bahwa Allah bersamamu...

Loneliness comes when you forget that Allah is with you...

‏"الوِحدة تأتيك عندما تنسى بِأن الله معك" .