Agar Lebih khusyu' Ketika Berdoa "اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ"
👤 Dr. Firanda Andirja
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ “Ya Allah berilah kepada kami hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus”
Sungguh merupakan perkara yang merugikan jika doa yang sangat agung ini, yang harus kita ucapkan berulang-ulang, ternyata kita ucapkan dengan hambar tanpa penghayatan yang dalam…
Agar kita lebih khusyu’ tatkala mengutarakan doa yang agung ini, maka hendaknya kita merenungkan 2 perkara, (1) keutamaan doa ini, (2) Kandungan doa ini yang sangat dalam
Pertama : Keutamaan doa ini :
1) Doa ini termaktub dalam surat teragung dalam al-qur'an yaitu surat al-fatihah yang dikenal dengan ummul qur'an (induknya/intisari al-qur'an)
2) Doa ini diucapkan dalam sholat yang merupakan ibadah yang sangat agung
3) Bahkan doa ini minimal harus dibaca dalam sehari 17 kali dalam sholat 5 waktu
4) Bagaimana lagi jika seorang hamba memperbanyak sholat sunnah, dalam setiap rakaat ia harus membaca doa ini, jika tidak maka raka'atnya tidak sah
5) Barangsiapa yang memperhatikan posisi doa ini dalam surat al-fatihah, maka ia akan dapatkan bahwa doa ini tidaklah terucapkan kecuali setelah melalui muqoddimah-muqoddimah yang sangat dahsyat :
- muqoddimah pertama : dalam ucapan الحمد لله رب العالمين “Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta”,… mengandung pujian yang sangat tinggi kepada Allah…
- muqoddimah kedua: dalam ucapan الرحمن الرحيم “Yang maha pengasih lagi maha penyayang”,… berisi pengakuan hamba akan luasnya kasih sayang Allah terhadap sang hamba, bahkan kasih sayang Allah lebih dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya…
- muqoddimah ketiga: dalam ucapan مالك يوم الدين “Penguasa hari pembalasan”,… mengingatkan kepada hamba bahwasanya ada hari akhirat, hari persidangan dan pembalasan amal perbuatan,
tidak seorang raja dunia yang berkutik pada hari tersebut, Hanya Allah yang mengusai hari tersebut…
- muqoddimah keempat : dalan ucapan إياك نعبد “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah”,… mengandung pengakuan dan pengikraran sang hamba bahwasanya ia hanya beribadah ikhlas kepada Allah,
jauh dari riyaa dan sum'ah, sama sekali tidak mengharapkan pujian dan sanjungan manusia…
- muqoddimah kelima: dalam ucapan وإياك نستعين “Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”,… mengandung pengakuan hamba bahwasanya segala upaya, usaha, dan keberhasilan semata-mata karunia Allah,
hamba hanya melakukan sebab, akan tetapi tidak memiliki peran sama sekali dalam keberhasilan…
Bahkan usaha hamba itupun karunia Allah, kecerdasannya, tenaganya, kepiawaiannya, pengalamannya, semuanya karunia dari Allah…
Jika demikian lantas apa yang hendak ia banggakan??. Maka terjauhkanlah sang hamba dari penyakit ujub…
Setelah lima muqoddimah ini lalu terbukalah hati sang hamba tatkala mengucapkan doa yang agung ini اهدنا الصراط المستقيم Seluruh muqoddimah ini menunjukkan akan agungnya inti pembicaraan, jika setiap muqoddimahnya/pembukanya agung, maka bagaimana lagi agungnya isi kandungan utamanya…
KEDUA : Kandungan doa agung ini :
Mungkin ada yang bertanya, kenapa kita terus mengucapkan doa ini (meminta ditunjukkan kepada jalan yang lurus),
sementara kita sudah berada di atas jalan yang lurus? Kita sudah berada di atas agama Islam? Barangsiapa yang merenungkan kandungan doa ini, maka ia akan mengetahui jawaban pertanyaan ini…
Sesungguhnya hidayah / petunjuk yang kita minta dalam doa ini memiliki kandungan yang dalam, diantaranya:
1) Meskipun kita telah berada di atas agama Islam, akan tetapi ternyata masih ada praktek-praktek yang keliru yang disandarkan kepada Islam, padahal ia bukan bagian dari Islam…
Karenanya kita meminta petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus yang benar-benar bagian dari Islam dan mengantarkan ke surga…
2) Jika ternyata kita telah berada di atas jalan yang lurus, ternyata masih terlalu banyak kebaikan yang belum kita ketahui yang akan memperindah perjalanan kita di atas jalan yang lurus tersebut…
Karenanya kita butuh petunjuk dan hidayah dari Allah agar ditunjukkan dan dijelaskan bagi kita kebaikan-kebaikan tersebut…
3) Setelah mengetahui kebaikan-kebaikan, kita masih butuh hidayah Allah dan taufiqNya agar menjadikan kita mengamalkan dan mencintai kebaikan-kebaikan tersebut…
4) Terkadang kita telah mengetahui suatu kebaikan secara global, maka kita butuh hidayah dari Allah agar kita ditunjuki sisi-sisi keindahan kebaikan tersebut secara detail dan rinci agar kita semakin sabar dan tegar dalam menjalankan kebaikan tersebut…
Tentu berbeda antara seseorang yang mengetahui ibadah sholat itu baik, dengan seseorang yang mengetahui dengan rinci indahnya ibadah sholat serta hikmah-hikmah yang terkandung dalam sholat…
5) Masih banyak keburukan dan jalan yang miring dan menyimpang yang menggoda kita dalam menempuh jalan yang lurus,
karenanya kita butuh petunjuk Allah agar menunjukkan batilnya keburukan dan menyimpangnya jalan-jalan tersebut, yang senantiasa mengancam, dan sewaktu-waktu bisa menggelincirkan kita tanpa kita sadari…
6) Setelah kita mengetahui kebaikan dan menjalankannya, juga telah mengetahui keburukan dan menjauhinya,
maka ketahuilah kita masih terus senantiasa butuh kepada hidayah Allah agar kita bisa istiqomah di atas jalan yang lurus…
Terlalu banyak orang yang di awal perjalanan berada di atas jalan yang lurus, akan tetapi menyimpang dipenghujung jalan… Kita butuh istiqomah terus hingga detik nafas terakhir….
Dari kandungan-kandungan di atas, kita mengetahui hikmah kenapa Allah di akhir surat al-fatihah mencela kaum nasrani dan yahudi…
Karena diantara jalan yang menyimpang adalah jalannya kaum nasrani yang semangat beribadah namun tanpa ilmu, jadilah mereka dicap sesat oleh Allah…
Demikian juga jalannya kaum yahudi yang berilmu namun enggan mengamalkannya…
Semoga penuturan singkat ini membantu dalam meraih kekhusyu'an dalam mengucapkan doa yang agung ini…
(kandungan-kandungan doa ini telah disinggung oleh ibnul qoyyim rahimahullah dalam kitabnya badaaiul fawaaid 2/35-38
