Pinned
Coba tanya ke diri sendiri, deh. Lebih sering mana? Kamu yang membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain atau orang lain yang membandingkanmu dengan orang lain?
Jahatan siapa? Kamu ke dirimu sendiri atau mereka ke kamu?

Yang kusesali dari jatuh cinta adalah aku tak pernah memperhitungkan apakah kau akan benar menetap atau hanya singgah lalu pergi dalam sekejap. Aku lalai karena membiarkan dirimu mengambil banyak bagian dalam diriku. Entah memang begitulah cara cinta bekerja, membodohkan, atau akulah satu-satunya manusia yang tak piawai mengendalikan cinta. Dalam benakku, kita akan bersama sebagaimana takdir yang telah ditulis olehNya. Indah laksana cerita romansa yang sering kubaca. Namun, rupanya percaya diri yang terlalu tinggi tak pernah baik ujungnya. Itu hanya menciptakan angkuh yang kukuh.
Kenaifanku menjadi-jadi tatkala takdir tersaji tak sesuai dengan yang kuingini. Sama halnya saat kau datang tanpa permisi, pergimu pun tanpa basa-basi. Kejam, begitu pikirku. Lalu, dalam sekejap marah itu menjelma benci, padamu, padaku.
Apa yang salah dari diriku? Atau mungkin memang benar kata penghuni kepalaku, aku tak cukup baik di matamu. Tak ada hal baik dalam diriku yang bisa dilihat olehmu. Kelebihanku terkubur oleh masifnya kekuranganku. Aku hampir gila dihantui gagasan-gagasan yang kuciptakan sendiri.
Tak hentinya aku bertanya, bagaimana bisa ada manusia sejahat itu? Datang sesuka hati, membawa keindahan yang sejak lama kunanti, lantas pergi begitu saja tanpa sudi berpikir apakah aku mengizknkannya? apakah aku akan baik-baik saja?
Kau mana tahu, selepas pergimu ada bagian diriku yang juga ikut pergi, menyisakan ruang kosong yang sunyi sekaligus ngeri. Ruang yang sewaktu-waktu bisa dihantui oleh kebaikanmu yang tak tertandingi, perhatianmu yang melemahkan hati, tatapanmu yang meneduhkan, tawa renyahmu yang menghidupkan, lelucon yang sebenarnya tak begitu lucu, tapi anehnya aku selalu mau sukarela memberikan tawaku. Mati, kini semuanya telah mati.
Tidak! Aku tak akan membiarkan diriku terbunuh oleh luka yang dicipta oleh manusia yang kucinta.
Cinta? Benarkah selama ini kunamai semua itu dengan cinta? Apakah itu layak disebut cinta saat aku tak merasa dicinta bahkan oleh diriku sendiri?
Aku tak pernah dicium hangat yang begitu asing. Air panas, nyala api dalam tungku, atau sengatan genit sang surya, hanya mereka yang terasa akrab.
Aku masih jelas mengingatnya, tatkala pandanganku tanpa sengaja membingkai satu manusia, membiarkannya menyelinap dalam memori, terus berputar tanpa henti. Menyebalkan, tapi aku menyukainya.
Suara beratmu terdengar merdu sekaligus menggetarkan hati. Gelak tawamu memecah sunyi. Senyummu membekukan kedua kelopak ini. Tatapan teduh manik cokelat pekat itu meniupkan rasa hangat, pekat, memikat.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah juga ada desiran hangat yang mengalir dalam nadimu? Pernahkah namaku terlintas dalam riuhnya benakmu? Adakah kau dibuat kesal akibat menahan rindu, sepertiku?
Sejak itu, aku tahu ada yang lebih sulit dari Matematika, lebih rumit dari grammar Bahasa Inggris. Rasaku, rasamu yang tak jelas apakah satu.
menjelma rasa berbagai rupa
melukis warna mencipta tawa
bukan raksasa, tapi jejaknya sukar dilupa
mudah sekali pipiku dibuat merona
kacau, detak jantung hilang irama
hanya lewat tatapan mata
hadirmu sudah kudamba sejak episode pertama
bahkan setelah episode terakhirnya
bosan tak menyentuhku walau terus mengulanginya
aku memohon supaya kau juga ada di sana
dengan cerita kita yang sama
tak ada beda, tak boleh sirna
tak pernah luput dari do'a
supaya kau dan aku berkahir bersama
bahagia tanpa saling mengukir luka
Punya segudang ide di kepala? Saatnya tuangkan jadi karya!
Halo para penulis, pecinta prosa dan penikmat kata! 💫
Februari ini, kami @jejaringbiru @komunitaspuanberaksara dan @tadikamesra menantang kamu, seluruh warga tumblr untuk menulis prosa selama 28 hari penuh! 🖋️✨
Kenapa harus ikutan?
🌟 Bisa menang hadiah keren!
Tiga penulis terbaik yang konsisten menulis (min. 25 hari) akan dibuatkan buku digital pribadi dari karya mereka.
Seluruh peserta juga akan dibuatkan buku digital bersama yang memuat tulisan terbaik dari masing-masing peserta.
🌟 Eksis bareng komunitas!
Tulisanmu berkesempatan di-reblog oleh Komunitas Puan Beraksara, Tadika Mesra, dan Jejaring Biru—bikin nama kamu makin dikenal!
🌟 Ekspresikan gaya bebas tulisanmu!
Boleh pakai ilustrasi, gambar, atau GIF.
Panjang tulisan? Sebebas kamu!
Nulisnya kolaborasi? Boleh juga kok. Yuk, ajak temanmu!
✨ Syaratnya simpel banget!
1. Posting tulisan di akun tumblr kamu setiap hari selama Februari.
2. Gunakan tagar wajib: #28hariberprosa #puanberaksara #tadikamesra #jejaringbiru #tema (tema perharinya akan dibicarakan bersama di grup)
3. Kumpulkan minimal 25 postingan buat jadi kandidat juara.
🚀 Tunggu apa lagi?
Tantangan ini bukan cuma soal menulis, tapi soal mengekspresikan diri dan jadi bagian dari gerakan kreatif yang seru. Yuk, bikin Februari jadi bulan paling produktifmu!
Ayo gabung dan ramaikan #28HariBerprosa
Boleh langsung join di grup ini ya!
Atau silakan DM ke akun @komunitaspuanberaksara @tadikamesra atau @jejaringbiru
Takut ya? Lebih menakutkan daripada bertahun yang lalu? Saat mimpi dibenturkan sama realita dewasa, bekerja dari pagi hingga petang, bahkan kadang jarang pulang. Harus membiayai diri sendiri, sebagian yang lain ikut membiayai keluarga, adik-adik, bahkan saudara jaug. Saat tanggungan diri seolah-olah hanya bertumpu pada diri kita. Mimpi kita terasa semakin tak nyata, jauh tak tergapai. Takut untuk mengubah lajur hidup, karena penuh ketidakpastian. Takut mengubah arah, karena takut ditertawakan.
"Buat apa susah-susah ke sana, padahal yang sekarang sudah pasti. Cari yang pasti-pasti saja!" Ujar mereka.
Aku tahu hatiku bilang apa, tapi otakku tak bisa menerima. Bahwa hidup yang sementara ini, jangan hanya memikirkan diri sendiri, katanya. Tapi hatiku bilang, kalau tidak bahagia, tiada ketenangan, buat apa dipertahankan?
Aku ingin sekali mengikuti kata hatiku. Tapi aku sangat takut tak bisa membeli makan besok. Takut tak bisa hidup nyaman. Takut sekali seperti tak bertuhan. Astaghfirullah hal adzim.
Kalau aku meniliki diriku berpuluh tahun lalu, aku tak sebahagia itu. Apakah aku bisa hidup dengan pilihanku? Apakah aku bisa menjalani hidup ini tanpa harus berpikir materialistik? Ya Allah, anugerahkan kepadaku rasa cukup, anugerahkan kepadaku keberanian. Anugerahkan kepadaku rasa aman. Bahwa menjadi hambamu, aku tahu takkan Kau biarkan kekurangan, takkan kau biarkan tersesat di jalan. Sebagaimana Engkau anugerahkan kepadaku saat aku kecil dulu, untuk berani bermimpi, mudah bahagia, dan tak melihat dunia ini dari sudut pandang uang. Sehingga aku merasa sangat berkecukupan :) (c)kurniawangunadi
Jangan pernah menganggap keahlian dan pengalaman yang kamu pelajari sekarang, itu sia-sia dan buang-waktu.
Barangkali memang tidak bisa membuatmu bertahan dan menghidupimu saat ini.
Perjalanan yang membuatmu diremehkan. Perjalanan membosankan yang membuatmu hampir menyerah.
Bisa jadi suatu hari nanti akan menjadi bekal yang membanggakanmu.
Lanjutkan, jangan dulu merasa rendah diri meskipun selalu direndahkan.
Hari-hari yang hebat selalu dimulai oleh hal-hal yang remeh.
Jangan dulu berkecil hati.
Bukan kah kita akan memanen apa yang kita tanam?
Kalau sekarang selalu merasa gagal panen, tidak apa-apa, kita coba tanam lagi.
—ibnufir
Selamat menikmati air mata, untuk siapapun yang sedang bergemuruh hati dan jiwanya. Semoga Allah tenangkan dan lapangkan hatinya.
Kamu lebih bisa powerful justru ketika tidak semua hal kamu share di media sosial.
When you build in silence, people don't know what to attack. Oversharing bisa terlalu membuka dirimu sehingga banyak celah lemahmu dipelajari dengan baik oleh mereka yang tak suka padamu.
Maka lagi-lagi saatnya mengingatkan diri saya dan kita tentang nasihat Imam Asy Syafi'i...
"Terlalu membuka diri bisa membuatmu berkawan dengan circle buruk. Menutup diri total bisa mencipta permusuhan. Maka, jadilah orang yang tahu kapan membuka diri, kapan punya privasi." (Hilyatul Auliya)