Clear your mind here
things that take time:
- loving yourself
- meaningful relationships
- accepting who you are
- recovery
- healing from heartbreak
- changing habits
- improving at a skill
- achieving your goals
Hadiah bersabar adalah pahala yang tanpa batas. Dimana sabar itu terbagi menjadi tiga; bersabar dalam taat, bersabar dalam menjauhi maksiat dan bersabar dalam ujian/musibah.
Puncaknya sabar hanya satu, yaitu Ikhlas.
Ikhlas yang tidak bersuara. Karena ketaatan itu tidaklah bersuara.
Mata Paling Pesimis
Sudah banyak orang bicara perihal pahitnya kehidupan. Bahkan tak sedikit yang bercerita sampai berbusa, seakan-akan dia orang paling sengsara di dunia.
Sudah banyak orang berbagi pengalaman, bagaimana ia pernah terjatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit lagi.
Kita pun, tak kurang referensi bagaimana kiat-kiat menghadapi sulitnya hidup, pahitnya kegagalan, atau beratnya perjuangan menggapai kesuksesan.
Tapi tahukah kamu, apa yang paling pilu dan menyakitkan di dunia ini tapi belum pernah ada satu orang pun yang berbagi pengalaman tentang itu sebelumnya?
SAKARATUL MAUT!
Jika mau lihat mata paling pesimis, lihatlah mata orang sakaratul maut.
Saat itulah dirasakan sakit yang teramat sakit. Mata membelalak, entah karena kesakitan, atau karena dipenuhi penyesalan. Lidah tercekat, tak sempat ada kata maaf dan terima kasih, atau sekadar ucapan selamat tinggal untuk orang-orang tersayang.
Datangnya tiba-tiba. Ingin teriak meminta tolong, tapi siapalah manusia yang bisa menolong. Dokter dan pengobatan terbaik pun, tak ada yang sanggup menolong.
Sebaik-baiknya manusia, tak ada satu pun yang luput dari perih dan sakitnya sakaratul maut.
Lantas bagaimana kita yang kurang ilmu, sedikit amal, banyak mau, dan banyak mengeluhnya ini?
Taufik Aulia
Thank you because you have amused me. So, i can forget some of them. Thank you so much. I hope we always can be fine each other. "Af"
19-12-19
Bandung, 8 Januari 2019
Karena aku tidak pernah tahu caranya pamit dan mengundurkan diri. Tapi aku tahu, pada hitungan ke berapa aku harus pergi dan berhenti.
12:12 a.m || 29 November 2019
Kau tak pernah benar-benar tahu, bukan?
*eh
Jakarta, 22 Agustus 2019
21:37
Ada Baiknya
Ada baiknya memang begini kan?
Aku disibukkan. Kau pun mungkin juga tengah tenggelam dengan seluruh urusanmu. Hingga pelan-pelan semua gemuruh itu luruh, menguap bersama angin
Lagi-lagi kita memang harus saling menyibukkan diri. Sibuk berbenah, sibuk menuntaskan tanggung jawab kita masing-masing. Agar tak semakin banyak harapan dan khayalan yang menggoda kita untuk melemahkan dan memaklumi diri sendiri
Sampai kapan? Entahlah
Kurasa, Allah memang sangat baik. Terus menjaga kita dalam kebaikan dan semoga akan terus mampu terjaga dalam keistiqomahan serta ketaatan.
Ya, ada baiknya memang begini kan?
Kita kembali saling asing. Saling sibuk dengan tanggung jawab masing-masing. Semakin jauh. Semakin saling melupa. Biarlah, jika memang ditakdirkan untuk dekat, akan selalu ada cerita terbaik yang dipilihkan-Nya. Tapi bukan sekarang. Bersabarlah
Bukankah katamu, semua manusia hanya punya satu kisah cinta utama? Yaitu, cinta antara dirinya dengan Rabbnya. Dan kisah cinta selain itu hanyalah pengantar, yang menjadi perantara makin kuatnya kisah cinta utama tadi.
Ya, ada baiknya memang begini. Saling jauh, agar tak mudah jatuh
“I’m with you. No matter what else you have in your head I’m with you and I love you.”
— Ernest Hemingway, The Garden of Eden (via books-n-quotes)
Book Recommendation: No One Ever Asked by Katie Ganshert
Memaksa dan dipaksa itu sama-sama tidak enak, apalagi yang kamu paksa adalah hati. Tapi tidak mengapa jika yang di tuju itu suatu kebaikan, untukmu dan untuknya. Semisal memaksa untuk menjaga diri dari berkomunikasi dengan lawan jenis pada perihal yang tidak penting. Menghindari fitnah dan pintu-pintu jatuh hati sebelum masanya.
Ada yang mengatakan naluri wanita itu lebih nyaman curhat dengan laki-laki, dan naluri laki-laki yang lebih nyaman curhat dengan wanita. Sob, yang benar adalah naluri setiap hamba untuk curhat pada Rabbnya, tapi jarang disadari karena memang yang lebih diutamakan kedekatan dengan manusia ketimbang Allah, benarkan ? Yang menghidupkanmu Allah, maka Allah pula yang akan menghidupimu, tapi semua akan buram jika yang dicari bukan Dia, tapi hati manusia yang tidak pernah mungkin kamu dapatkan selamanya.
Jika setiap hasil harus ada harga perjuangannya, maka untuk berhasil menjadi wanita yang terjaga izzahnya dan laki-laki yang terjaga pendiriannya apa tidak ada harganya ? Harga itu adalah perjuanganmu menjaga izzahmu, harga dirimu.
Selamat dan semangat menjaga hati juga harga diri.
@jndmmsyhd
Lagu cinta dari tereza itu adalah lagu favorit kami. Lagu yang sering ayah nyanyikan untuk ibu. yah, itulah ayahku salah satu lelaki yang sangat romantis yang aku kenal. Pantas saja ibu mudah terpikat oleh lelaki seperti ayah. Kami sangat menikmati liburan hingga menyaksikan sunset yang begitu indah merekah di langit. Kami pun tak lupa mengambil gambar. Ber swa foto bersama dan memotret pemandangan sekitar. Kami menciptakan banyak moment yang ceria. Aku menyaksikan ayah dan ibu tertawa lepas dan itu salah satu kebahagiaan terbesarku.
Banyak followers belum tentu kualitas tulisannya semakin baik
Kesalahanku, ingin selalu dibaca lebih banyak orang. Padahal belum tentu dengan tanggung jawab yang sebesar itu, apa yang aku sampaikan maanfaatnya lebih baik dari yang bisa mereka terima.
Fokusku bukan pada belajar menulisnya. Bukan pada membaca dan menyerap sebanyak-banyaknya ilmu kehidupan untuk memperbaiki kualitas tulisanku.
Aku semestinya bertanya pada diriku sendiri "aku ingin menulis apa, aku ingin menyampaikan pesan apa?" Tetapi aku lebih banyak memikirkan cara agar disukai, terlepas dari menjadi diri sendiri atau bukan.
"Tong yang paling nyaring bunyinya saja adalah tong yang kosong. Semakin banyak perkataanku, belum tentu isinya semakin baik. Selama ini aku salah mengukur, kedalaman sumur tidak bisa dilihat dari permukaannya saja."
Semakin banyak disukai bukan berarti kualitas tulisan semakin baik. Banyaknya followers tidak menjamin semakin berwawasan ilmu yang disampaikan. Tidak menjamin semakin dalam renungan yang bisa diambil hikmahnya.
Selama ini aku salah mengukur diri. Lebih baik aku menepi saja dari semua kegaduhan ini.
"Membacalah lebih banyak dari apa yang ingin kamu tulis"
—ibnufir



