Hello!

Tumblr is where tens of millions of creative people around the world share and follow the things they love.

Sign up to find more cool stuff to follow

Rada Beda : Imajinasi Melebihi Fungsi

image

Foto : Salah satu pengunjung pemeran beserta karya Volker Albus berjudul “Sikat Sepatu”.

“ANDERS AL IMMER (RADA BEDA) adalah pameran terbaru dalam serangkaian pameran Institut für Auslandsbeziehungen e.V. (ifa),  yang membuka wawasan mengenai sejumlah perkembangan khusus di bidang desain. Berbeda dari biasanya, proyek aktual ini tidak menyoroti fungsi suatu objek desain beserta bentuknya, melainkan menyajikan penyimpangan-penyimpangan dari norma pemberian bentuk sebagaimana ditetapkan kebiasaan.”

Tulisan di atas merupakan paragraf pertama pengantar pameran RADA BEDA – Desain Kontemporer dan Kuasa Kebiasaan,  diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia,  16-27 Juni 2011. RADA BEDA adalah satu pameran keliling internasional dari Institut für Auslandbeziehungen (ifa) dan kurator Volker Albus, bekerjasama dengan Goethe-Institut Indonesien, Galeri Nasional Indonesia, dan Kurator dari Indonesia Enin Supriyanto. Karya  dipamerkan pada pameran ini berjumlah 106,  dihasilkan oleh 67 desainer individual dan studio, 47 desainer diantaranya berasal dari Jerman dan selebihnya berasal dari negara Eropa lainnya.

Dengan sekilas membaca tulisan pembuka diatas, setidaknya kita bisa menebak apa  akan kita lihat dalam pameran ini, sebuah pameran  menampilkan benda-benda fungsional berbentuk tidak sesuai bentuk biasanya dan menyimpang. Ketika kita menuju pintu utama Galeri Nasional Indonesia,  kita telah disambut oleh hiasan berwarna hijau menyerupai akar-akar terbuat dari plastik. Tepat di depan pintu utama kita bisa melihat sebuah karya terbuat dari besi, berbentuk seperti jarring-jaring gawang untuk permainan sepakbola. Namun karya ini memiliki fungsi sebagai tempat duduk, mungkin untuk ukuran sebuah taman, berbeda sekali dengan bentuk biasa yang sering kita jumpai sehari-hari.

Pada tembok sebelah utara, kita bisa menemukan barisan raket terbuat dari berbagai benda-benda sehari-hari,  dipasangi tali raket.  Deretan benda tersebut ialah wajan penggorengan, mug, kacamata dan sendok sayur. Berjalan ke arah timur, kita akan melihat seperangkat permainan tenis meja dengan meja berbentuk bulat lengkap dengan sepasang bat dan bola pingpong. Namun yang unik dari karya ini bukan hanya mejanya  berbentuk bulat berwarna biru dengan garis putih, tetapi net di atas meja tenis tersebut bisa diputar mengikuti bentuk mejanya. Pada beberapa tempat, karya-karya di pameran ini disusun berkelompok, menyerupai sebuah interior kamar dengan berbagai macam benda di dalamnya.

Di ruangan lainnya, sebuah karya Konstantin Gricic dengan judul Rak Buku, biasanya : rak stabil, rada beda : rak labil.  Karya ini menampilkan sebuah rak terbuat dari kayu empat tingkat dengan kemiringan  terlihat jelas, berbeda dengan bentuk rak  biasanya kita temui.  Masih di ruangan  sama, ada sebuah tangga dengan salah satu anak tangganya bisa dijadikan sandaran untuk duduk. Karya Cecilie Manz ini dibuat pada tahun 2000 dengan judul Tangga, biasanya: tangga untuk naik, tangga untuk duduk, rada beda: tangga untuk naik, anak tangga untuk duduk. Terlihat jelas Cecilie Manz dalam karya ingin menambahan fungsi pada tangga  biasanya hanya digunakan untuk naik, namun juga bisa digunakan untuk duduk.

Pada ruangan tengah, ada sebuah karya berbentuk bulat seperti sebuah bola berwarna hitam dan putih, namun permukaan benda tersebut dilapisi bulu-bulu sikat terbuat dari plastik. Karya ini berjudul Sikat Sepatu, immer (biasanya): kick and rush, anders (rada beda): kick and brush, dibuat tahun 2003 oleh Volker Albus. Dalam karya ini, disainernya sama sekali tidak memperdulikan fungsi, lebih kepada eksplorasi bentuk. Meskipun sebuah sikat, namun susah untuk menggunakannya sebagai sikat sepatu sebagaimana mestinya dengan bentuk bola tersebut. Tepat di sebelah utara karya Sikat Sepatu, terdapat karya Volker Albus  lainnya dengan judul Lampu Lantai, biasanya: lampu di atas, sakelar di bawah, rada beda: sakelar di atas, lampu di bawah. Karya ini dibuat pada tahun 2004, terlihat membalikan realitas  terdapat pada sebuah lampu pada umumnya,  menempatkan sakelar di bagian bawah lampu. Namun pada karya ini Volker Albus membalikannya sehingga lampu  berada di bawah sakelar  menjulur panjang setinggi kurang lebih satu meter di atas lampu berbentuk bulat berwarna kuning redup.

Jika kita lihat secara keseluruhan, eksplorasi karya  dilakukan oleh semua disainer produk  berpameran kali ini bisa digolongkan kepada dua macam. Pertama, ialah desainer  melakukan eksplorasi bentuk berdasarkan pada bentuk awal benda tersebut. Bisa kita ambil contoh pada karya di tembok sebelah utara  menampilkan berbagai macam raket. Raket-raket tersebut dibuat berdasarkan bentuk benda  memungkinkan pemasangan tali raket pada benda-benda  ditampilkan yaitu kacamata pada bagian kacanya, wajan penggorengan pada bibir wajan serta mug pada bagian atas mug. Kedua, ialah disainer  melakukan eksplorasi berdasarkan kata-kata  berkaitan dengan benda tersebut. Kita bisa melihat contoh pada karya Konstantin Gricic dengan judul Rak Buku, biasanya : rak stabil, rada beda : rak labil dan karya Volker Albus  berjudul Sikat Sepatu, immer (biasanya): kick and rush, anders (rada beda): kick and brush. Dari kedua karya tersebut bisa kita lihat bahwa ide eksplorasi bentuk berawal dari kata-kata  biasa terdengar kemudian di pelesetin dan kemudian menjadi acuan dalam proses eksplorasi benda-benda pakai tersebut.

Selain persediaan katalog pameran  sangat terbatas, hal  sangat disayangkan dalam pameran ini, diantaranya ialah tidak diguanakannya caption seperti biasanya dalam sebuah pameran. Dalam pameran ini, caption  dibuat dengan tulisan tangan dari kapur putih pada permukaan kotak dicat hitam  juga berfugsi sebagai alas karya-karya pada pameran ini. Ini menjadi masalah karena tulisan-tulisan kapur tersebut sebagian besar telah terhapus, sehingga pada beberapa karya kita tidak bisa mengetahui siapa desainer, judul serta tahun pembuatan karyanya. Sebenarnya masalah ini bisa tertutupi jika saja persediaan katalog pameran masih ada, namun ketika pameran masih berlangsung dan belum resmi ditutup, tidak ada lagi katalog pameran  yang masih tersedia. Setidaknya, jika saja masih tersedia selama pameran berlangsung, katalog pameran ini sangat berguna bagi siapapun  pengunjung pameran untuk mengetahui lebih banyak tentang desainer  berpameran kali ini beserta karyanya.

Dalam keseluruhan pameran ini kita dapat melihat kebebasan membentuk atau mengubah bentuk  sangat luas pada diri setiap desainernya sehingga menghasilkan benda-benda pakai  berbeda dari biasanya dan mengejutkan kita sebagai apresiator. Meskipun terbentuk dari benda-benda fungsional, akan tetapi nilai fungsi pada benda-benda  ditampilkan pada pameran ini sama sekali atau hanya sedikit sekali menjadi bahan pertimbangan para desainer dalam menciptakan benda-benda tersebut. Inilah  membuat pameran ini bisa dikatakan sebuah “penyegaran” bagi kita dalam melihat benda-benda pakai setiap hari  meskipun tidak atau hanya sedikit memiliki nilai fungsi, namun dibentuk dengan sedemikian rupa dengan menggunakan imajinasi luar biasa dari para desainernya sehingga terlihat Rada Beda atau mungkin sangat beda?

Asep Topan, 2011.

Opening: OK. Video – FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011

image

Lebih kurang jam setengah sembilan malam, Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia membuka pameran 

OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 tepat di depan pintu masuk gedung A (gedung utama) Galeri Nasional Indonesia. Sebelumnya, acara telah dimulai dengan visual mapping oleh Flicker Screen & Ricky ‘Baybay’ Janitra dan lantunan lagu-lagu dangdut gerobak ibukota yang mampu mencuri perhatian sekitar 700-an orang pengunjung di sisi kanan gedung utama Galeri Nasional Indonesia.

Dengan latar visual mapping, MC pada malam ini yaitu oomleo dan Nastasha Abigail memulai acara pembukaan OK. Video FLESH. Penyampaian ucapan terimakasih kepada beberapa pendukung acara dan media partner dilanjutkan dengan sambutan pameran OK. Video FLESH oleh Hafiz selaku kurator dan Artistic Director. Dalam sambutan kuratorialnya, Hafiz menyampaikan bahwa dalam konteks estetika seni video, metafora daging (flesh) secara material, ia terjemahkan dengan ‘melihat daging sejarah seni video’. Untuk itu pada gelaran OK. Video kali ini dimensi sejarah estetika seni video dimunculkan. Dengan demikian, bagaimana ‘daging’ seni video ini tumbuh dalam peta seni rupa dunia dapat dibaca dalam festival kali ini. Di dalamnya ada persinggungan antara seni video dengan film, seni konseptual, seni performans, dan praktik-praktik seni lainnya. Setelah selesai menyampaikan sambutannya, Hafiz kemudian memperkenalkan kurator lainnya yaitu Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, Mahardhika Yudha & Rizki Lazuardi serta semua seniman video yang berpartisipasi dalam festival kali ini kepada para pengunjung.

Adapun pengumuman tiga karya terbaik dari Open Submission festival kali ini disampaikan oleh Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana, dilanjutkan dengan pembukaan pameran untuk mempersilahkan pengunjung memasuki Galeri Nasional Indonesia dan menikmati gelaran OK. Video FLESH. Tiga karya yang dinyatakan terbaik dari Open Submission OK. Video ke-5 ini berjudul Seven Shorts (Bryan Lauch dan Petra Pokos/Slovenia), Newly Risen Decay (Giada Ghiringhelli/Switzerland) sertaOne Evening at NY Gentleman’s Club (M.R. Adytama Pranada/Indonesia).

Dalam pembukaan hari ini, 6 Oktober 2011, Galeri Nasional Indonesia membuka semua gedung yang digunakan untuk OK. Video FLESH ini –meliputi gedung A (utama), gedung B, gedung C serta gedung serba guna– hingga jam sepuluh malam. Namun acara masih berlanjut hingga pukul 12 tengah malam dengan music performances oleh DJ Keke (The Secret Agents), Racun Kota, Rharharha, DJ Adder, Jalan Surabaya (DJ Danger Dope with MC Billal), dan VJ Ijul.

– Asep Topan, 7 Oktober 2011

Raden Saleh Exhibition, 17 Juni 2012

Raden Saleh Exhibition

Pertama kali dengar nama Raden Saleh mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, atau lebih. Yang saya ingat di bangku SD/SMP ketika pelajaran sejarah. Dan tanggal 17 Juni 2012  kemarin, saya diajak di Dia nemenin ke Pameran Lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional. Mungkin ajakan dia saya baru dengar nama “Raden Saleh”. Setelah bertahun-tahun kemudian.

Pameran Lukisan Raden Saleh ini diselenggarakan Galeri Nasional dari tanggl 3-17 Juni 2012 kemarin. Pameran ini berupa kumpulan lukisan Raden Saleh yang mulai dari koleksi Pribadi hingga koleksi istana kepresidenan. Dia dan saya mulai berangkat naik KRL menuju stasiun Gambir. Dari google map katanya Galeri Nasional ini persis di seberangnya Stasiun Gambir. Kita berangkat sekitar jam 3an, karena pikir ini hari terakhir pameran, pasti bakalan rame. Eh bener aja dong ya. Yaaa… berhubung saya belum pernah dateng ke Pameran Lukisan yang serius gitu (biasanya cuma Pameran yang di Mol-mol ituh) kaget juga, ternyata antusiasnya gila-gilaan. Ini dia penampakan antrian masuk Pameran Lukisan Raden Saleh

image

Kita antri sampai sejam-an cuma buat masuk. Dari pihak panitia menyampaikan biar di dalam ga rame2 dan desak-desakan, maka masuknya pun diatur sedemikian rupa. Sebenarnya sih bingung juga kenapa panitia bisa membiarkan antrian sepanjang ini, tapi pas nyampe di dalem Museum baru ngerti tujuannya, karena sampai di dalam kita benar2 ada space buat liat semua lukisan2nya. Ga rame, ga desak-desakan juga.

Jadi sampai di dalam, udah terpampang pengumuman kalau ga boleh bawa tas. Jadi harus penitipan tas dulu di lokernya museum. Pas masuk, ada banyak, saya ulangi… banyaaak banget security, hampir tiap lukisan ada kali yah. ya ngerti sih, secara itu harga lukisannya pasti bertriliun-triliun. iiihh serem.

Eh lupa, selagi nunggu pintu masuk kita sempet foto-foto di dalam museum. ihiy :P

image

image

Suka banget sama quotenya Raden Saleh di atas.

Hormatilah Tuhan dan Cintailah Manusia.

“Give glory to God and love the people”


mungkin hal ini yang lagi pas banget sama kondisi pertanah-air-an Indonesia (tsaaahhh, brb panggil bang Ruhut dulu biar rusuh) Terkadang kita, manusia suka lupa menghormati Tuhannya. Merasa paling benar, berkoar-koar tentang keadilan dan kebenaran tanpa tau apa sebenarnya yang dibutuhkan manusia, yang diinginkan rakyatnya. Merasa paham akan Tuhannya, merasa sudah sangat mencintai manusia, namun semuanya balik pada mencintai diri sendiri. Huffttt banget yah ceman cemaannn (mulai ngelantur). Oke, udah ah masalah yang berat-berat, cukup masalah hidup aja yang berat. Curcol detected.

Yang jelas saya tau dari si Dia, bahwa ada Masterpiece dari lukisannya Raden Saleh yang tentang Singa yang lukisannya 3D gitu,kayak keluar dari lukisannya. Pas nyampe sini, untung lukisan itu ada, dan bener aja loh. Di tahun 1840-an di jaman dulu, belum ada laptop dan photoshp, seorang Raden Saleh sudah membuat karyanya yang melebihi editan Photoshop manapun. Ini dia beberapa karya dari Raden Saleh.

image

Singa Memamerkan Taringnya (1838) - Raden Saleh

image

Potret Pasangan Jawa - 1857 - Raden Saleh

image

image

image

image

Penangkapan Pangeran Diponegoro - 1857

image

The most breathtaking Picture from Raden Saleh : Ships in Storm - Raden Saleh.


Yang mengagumkan dari semua lukisan Raden Saleh ini menurut saya adalah bagaimana hal-hal kecil dibuat secara detil olehnya di tahun 1840-an. Bagaimana ia berimajinasi, membuat semua lukisannya benar-benar kelihatan real. Pengaplikasian warna, bayangan serta detil seperti kain batik dari lukisan Potret Pasangan Jawa,atau Singa yang Memamerkan Taringnya. Im so amazed. Menurut saya, di jaman sekarangpun mungkin belum ada yang bisa membuat seindah Raden Saleh.

Jika diperhatikan, semua lukisannya kebanyakan mengenai binatang, dimana Ia melukis banyak lukisan Singa dan Kuda, juga mengenai peperangan orang Arab, lengkap dengan Kuda dan Singa, juga berbagai Self Portrait dari beberapa orang penting di kerajaan Belanda. Setengah hidupnya, Raden Saleh memang hidup di Belanda dan melakukan perjalanan sekitar Eropa. Darisini terlihat banyak pengaruh Eropa dalam tiap lukisannya. Seperti lukisan yang satu ini :

image

maafkan atas gangguan pemandangan punggung mas-mas, gilak ini rame mulu yang liat lukisannya -____-

Selain pameran Lukisan Raden Saleh, disini juga ada pemutaran film biografi Raden Saleh. Filmnya sekitar 25 menitan, menceritakan riwayat hidupnya Raden Saleh, dimana umur 11 tahun Ia sudah sangat pandai menggambar, sampai akhirnya menjadi muris Pelukis Belanda terkenal, umur 14 tahun Ia sudah di Belanda, dan menjadi bagian kerajaan Belanda, hingga 22 tahun kmudian ia baru pulang ke Tanah Airnya.

Ada satu hal yang menarik mengenai sejarah Raden Saleh ini, dimana ia melukis Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Sejarah mengenai lukisan ini juga sempat kontraversi. Cerita lengkapnya dapat dibaca disini

Akhir kata (halah) saya adalah orang yang beruntung sempat melihat karya besarnya Raden Saleh. Selama ini saya, yang 23 tahun ini ga begitu ngeh sama hasil lukisannya ini, sekarang dapat menjadi pengalaman berharga yang nantinya bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu saya :)

Yang belum sempat lihat lukisan-lukisannya ini ada Gallery Onlinenya Raden Saleh

Sebelum kita tutup, saya persembahkan hasil foto-foto narsis di Pameran Raden Saleh ( buahahahahahahah *evilgrin*)

image

image

image

image

Si @Sardiansyah yang sempet ketemu @AparatMati ( Arian13 - Seringai) di Pameran Lukisan Raden Saleh

image

image

Foto diambil sekitar jam 18.30 dan yang mau masuk masih ngantri

Loading more posts...