deadly deadline

Belakangan ini topik yang betebaran di sekitar saya adalah seputar deadline. Mau mati dikejar deadline tulisan, garuk-garuk tanah dikejar deadline editan, deadline acara, report, skripsi, riset, tugas, ujian, sampe….. (mungkin) jodoh juga ada deadlinenya buat beberapa orang. Yah, sekarang deadline mungkin memang udah menjelma jadi Justin Bieber versi nggak terlalu bule :P

Deadline biasanya jadi hal menakutkan, posesif, agresif, atau otoriter. Intinya deadline bisa bikin hidup jadi nggak menentu, lebih nggak menentu dari hidup orang yang nungguin ditembak gebetan atau berharap bisa walk out dari kegemukan padahal segala macam alat fitness udah dijamah (?).

Derita kah? Menurut saya, nggak segitunya juga. Toh, deadline adalah hal yang biasanya kita sudah tau dari awal kan? Bahkan (kalau dalam kasus saya dan tim kerja saya) deadline adalah batas waktu yang kita tentuin sendiri, kapan-nya. Seharusnya, nggak perlu takut-takut amat dong? Toh, kita kan bisa mengatur ritme kerja kita dan disesuaikan sama deadline itu? Bisa lebih cepat dari deadline ya baguuuuus, lewat dari deadline ya gapapa juga mungkin baiknya begitu jadi kurang bagus.

Baik, saya akui deadline adalah bagian dari beban yang makin mau dekat makin terasa berat. Isn’t it? Paling nggak, itu yang saya kadang rasain terutama selama november-desember ini. Membuat saya makin bersyukur akan jeda nafas yang masih bisa saya hela disela hal-hal disamping kanan kiri depan belakang lainnya yang mesti cepet selesai, mesti diprioritasin, udah ditungguin, udah nggak bisa ditunda-tunda lagi, mesti-harus-kudu-wajib. Tapi, saya akhirnya nemu alasan kenapa ketakutan itu jadi semakin menakutkan. 

Dalam beberapa kisah teman lain yang juga pencumbu deadline, saya melihat ada ketakutan baru yang membuat mereka jadi semakin kayak nggak bisa nikmatin hidup. Yaitu:

Ketakutan akan anggapan orang atas pekerjaan/deadline yang lagi dikerjakan.

Bingung? Sama! Haha. Ya contoh gampangnya tuh kayak gini:

Lo bertanggung jawab menyelesaikan sebuah proposal 3 hari lagi. lo sebenernya udah biasa ngerjain proposal dalam kurun waktu 1 hari atau mungkin sejam. Tapi lo bener-bener ketakutan akan deadline yang 3 hari mendatang itu, karena kalo sampe lo nggak berhasil menyelesaikan, lo akan dicap nggak profesional, dianggap lalai tanggung jawab, nggak berkredibilitas, dikeluarin dari organisasi, foto lo dipajang di mading buat ditusuk bareng-bareng, diputusin, dan lain sebagainya. Praduga-praduga akan apa yang ada di benak orang lain terhadap pekerjaan kita lah, yang kadang menyumbang ketakutan LEBIH BESAR dari pekerjaan atau deadline itu sendiri. Ouch!

Menurut saya, ketika kita bisa mengurangi ketakutan kita akan apa yang terjadi kalau deadline itu tidak tercapai, akan mengurangi beban kita dalam mengerjakan hal yang udah deadline tersebut. Beban berkurang means lebih tenang dan senang :)

Oya, saya jadi keingetan sama kata-katanya pak Thamrin Amagola (Dosen Sosiologi UI):

“Kita memang nggak selalu bisa membuat masalah jadi berubah lebih baik. Seringnya, kita yang harus mengubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Masalah ada untuk di manage”

Hmm.. Mungkin deadline memang nggak bisa diundur, mepet nggak bisa dipelet, atau kemampuan kita udah bener-bener keabisan cadangan. Tapi…. mungkin ada banyak “mungkin-mungkin” yang lain yang jauh lebih berpengaruh buat perjalanan kita kesana, daripada ngabisin waktu mikirin “mungkin-mungkin” nya ke-tidak-mungkin-an. Jangan sampai, ketidak-mungkinan atau ketidak-suksesan ada deadlinenya juga yah! *nyengir kuda*

Salam deadliner!

-Ninies



Extended homework deadlines

image

Holy shit! I've done it!

Once I finish the cover, otherXcore #3 is done!

This means that it should be totally done tomorrow, which is great because I plan to be in the Bay Area on either Friday or Saturday to see Fifteen.

Loading more posts...