Tulisan : Aku (Tidak) Peduli

Aku bohong sebenarnya.

Aku bohong ketika aku bilang aku peduli. Peduli kepada anak yatim dan anak jalanan. Toh setiap mereka mendekatiku -dengan nyanyi pilu diiringi ketukan pintu angkot- aku menghindarinya.

Aku bohong ketika aku bilang aku peduli kepada lingkungan. Seusai rapat membahas isu lingkungan aku tetap membuang sampah sembarang. Apa itu kantong belanja, ribet sekali, dan aku tetap memilih kantong plastik yang ringkas dan bisa aku buang. Toh gratis.

Aku bohong ketika aku bilang aku peduli pemerintahan. Sebobrok dan sekorup apapun, seusai demo sana sini, aku tetap menyeduh kopi dan menikmati film dari VCD bajakan pinjaman. Di kamar yang menyenangkan. Aku tetap menerima uang bulanan.

Aku bohong ketika aku bilang peduli rakyat kecil. Mau BBM naik atau turun, aku tidak begitu merasakan dampaknya. Seusai demo berserak-serak, aku tetap pulang dengan sepeda motor keluaran terbaru. Tidak perlu pusing harga BBM naik yang penting harga rokok tidak naik. Aku tetap menerima uang bulanan, justru bertambah, alasannya BBM naik. Pulang ke kosan tetap tidur nyaman di kasur empuk dan internet sepanjang hari. Tak perlu pusing memikirkan esok makan apa. Aku tidak peduli.

Aku bohong ketika aku bilang aku peduli, aku hanya ingin tampil disana sini. Kalau pun aku mati saat berdemonstrasi. Aku akan dipanggil pahlawan suci, tak peduli aku sedang berlari menghindar, atau sambil merokok di samping-samping, atau hanya sekedar numpang nampang. Asal ada peluru nyasar atau pentungan salah alamat dan aku mati. Aku tetaplah dijuluki “pahlawan”.

Aku bohong ketika aku bilang peduli, karena aku tidak pernah merasakan apa-apa, hidupku baik-baik saja. Jika aku ribut saat ini, itu hanya karena situasi yang memberiku kesempatan untuk beraksi. Selain itu, dihari-hari biasa. Aku tidak peduli.

Bandung, 18 Juni 2013

Cerpen : Pengembara

Apa yang ibu bicarakan semalam terasa asing sekaligus terasa sangat benar. Aku hidup ditengah-tengah keluarga perempuan. Saudariku sepupuku semua perempuan. Di rumah sebesar ini pun, ayah ku adalah laki-laki satu-satunya ditengah-tengah 4 orang perempuan, aku-ibu-adiku-dan satu orang pembantu.

Ibarat buah, akan tiba saatnya dia masak. Hendak dimakan binatang malam, tinggal membusuk, jatuh tak terabaikan, atau dipetik dan diranumkan dengan baik. Buah tidaklah bisa memilih kapan dia harus ranum, ada waktunya.

“Kau sudah ranum, gadis seusiamu tentu harus belajar tentang laki-laki meskipun kau bersikeras menolak kehadirannya Nak”, Ibu berkata lembut sembari melanjutkan rajutannya. Sebuah syal dengan benang terbaik. Untuk ayah.

“Semakin kau menghindar, kau akan semakin tersesat dan itu akan membahayakan dirimu sendiri. Mengenalnya tidak harus dengan berdekatan. Sejak Adam hingga saat ini, laki-laki itu sama. Ya seperti-seperti itu saja. Baik juga seperti itu dan yang buruk pun juga seperti itu. Perubahan yang ada tidak begitu signifikan. Istilahnya belajar dari sejarah”

Ibu tetap asik dengan bicaranya sementara aku malas-malasan mendengarkannya sambil membaca buku. Hanya disambut dengan sedikit gumaman.

“Daridulu, laki-laki itu pengelana anakku. Dia adalah pengembara yang selalu berjalan kesana kemari. Singgah sebentar untuk menikmati suasana tempat ia singgah, mencari minum, atau beristirahat. Selebihnya dia akan melanjutkan perjalanan. Dan yang bisa memutuskan perjalanan itu hanya satu : pernikahan. Kitalah yang memutuskan perjalanan mereka, membuat mereka menetap pada satu tempat dan menikmati kehidupan bersama-sama. Sebelum ada ikatan pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi pengembara meskipun mulutnya bicara ingin tinggal menetap. Kau harus hati-hati, jangan sampai menjadi tempat persinggahan”


Ibu menghentikan rajutannya dan memperhatikanku. Aku tersenyum terpaksa. Mungkin ibu putus asa, ceritanya tak lagi berlanjut dan itu membuatku memikirkan kata-katanya. Pengembara, tempat singgah, pernikahan.

Bandung, 18 Juni 2013

Loading more posts...