The Orange Girl

2 jam yang lalu dihitung dari saat saya menulis post ini, saya baru saja menamatkan novel berjudul “Gadis Jeruk” - Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan. Novel asli nya berjudul “The Orange Girl” karangan Jostein Gaardor. Penulis nya mungkin dirasa asing di dengar, saya juga pada awal nya gak ngeuh siapa dia. Dan ternyata, dia adalah pengarang dari novel Dunia Sophie. Pantes rasa nya cukup familiar..

Untuk pencinta novel sejati pasti tau Dunia Sophie, walaupun hanya sekedar tau dan belum membaca. Novel fiksi filsafat yang sangat laris manis menjadi best seller international. Sebenernya setelah selesai membaca saya semangat sekali ingin langsung menulis di Tumblr, tapi apa daya paket internet gak ngedukung. Kuota yang bisa di pakai hanya berlaku dari jam 12 malam-6 pagi.

Gadis Jeruk ini memiliki 242 halaman. Ukurannya cukup kecil bila di bandingkan dengan ukuran novel umumnya. Makanya saya cukup cepat membaca nya, baru sore dibaca malam nya sudah tamat. Itu pun banyak terpotong jam tidur siang dan taraweh.

Well, satu kata yang tepat setelah menamatkan novel ini adalah; Brilliant. Pantas untuk di masukkan ke dalam label novel “You Should Read It”. Terutama bagi pecinta novel kelas berat yang mengharuskan sedikit mikir saat membaca nya.

Saya ga mau review atau resensi lebih dalam karena takutnya nanti malah terlalu bersemangat dan ujung-ujung nya spoiler. Di post ini saya mau kutip isi cerita dari beberapa halaman. Yang menurut saya adalah bagian terbaik-nya, walaupun banyak kalimat-kalimat lain yang juga mengesankan. Semoga ini ga termasuk spoiler. Anggep aja ini kutipan dari sebuah novel, cuman agak panjang… sedikit.


——————————————————————————————————————————————

Bayangkan kamu berada di awal sebuah dongeng, suatu waktu miliaran tahun yang lalu ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak tahu kapan di lahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun.

Yang kamu ketahui hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir pada tempat tertentu di dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu waktu dan pergi meninggalkan segalanya. Ini mungkin akan menimbulkan duka yang dalam pada dirimu karena banyak orang berpikir bahwa kehidupan di dalam dongengan besar ini begitu indah sehingga sekedar memikirkan bahwa ini akan berakhir saja pun bisa membuat mereka mengucurkan air mata.

Segala nya begitu menyenangkan di sini sehingga sangat pedih untuk membayangkan bahwa pada suatu ketika hari-hari tiada akan ada lagi…

Apa yang akan kamu pilih? Jika ada sebuah kekuatan yang lebih tinggi memberimu pilihan? Barangkali kita bisa membayangkan semacam peri kosmik dalam dongengan besar yang aneh ini. Akankah kamu memilih untuk tinggal di bumi pada suatu tempat tertentu, entah untuk waktu yang singkat atau panjang, dalam seratus ribu atau seratus juta tahun?

Atau akankah kamu menolak untuk ikut dalam permainan ini karena kamu tak menyukai peraturannya?

Aku telah mengajukan pertanyaan yang sama beberapa kali selama pekan-pekan yang lalu. Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku akan tiba-tiba dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini? Kita datang ke dunia ini hanya sekali. Kita masuk ke dalam dongeng besar ini hanya untuk melihat cerita nya berakhir.

Ya, aku tidak yakin apa yang akan kupilih. Kupikir aku akan menolak untuk menerima persyaratannya. Jika ini hanya sebuah kunjungan singkat, barangkali aku akan dengan sopan menolak untuk mengunjungi dongeng besar ini dan mungkin aku bahkan tidak akan bersikap sopan. Mungkin aku akan membentak, mengatakan bahwa dilema ini sendiri adalah sebuah omong kosong besar yang tidak ingin kudengar lagi.

Aku bertanya lagi: apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicabut lagi dari semua itu, tak pernah kembali lagi? Atau, apakah kamu akan berkata “tidak, terima kasih”?

Kamu hanya punya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.”

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video