Sak bejat bejat mu urip nang donyo jolali karo sing kuoso, jo lali nyelengi go surgo. Yen mlebu surgo jo lali BB-ne digowo. Ben iso ngabari BBm-an karo konco2. Yen mlebu neroko ra usah digowo, amargo sinyale ora ono.

Halal di Negeri Gajah

Festival Halal di Asiatique

Hayya alas sholah….

Hayya alas sholah….

Hayya alal falah….

Hayya alal falah….

Suara adzan menyadarkanku dari mati kecilku. Kurakit perlahan kesadaranku satu demi satu. Akhirnya ku menyadari, suara adzan itu adalah alarm handphoneku. Jelas tidak mungkin ada suara adzan menggema di kampusku ini. Berbeda sekali dengan di tanah kelahiranku. Jangankan adzan, masjidpun jarang sekali di negeri gajah putih ini. Sejak Syeikh islam, pemimpin islam di Thailand memutuskan hari pertama ramadhan senin lalu jatuh pada hari Rabu tanggal 10 Juli 2013, maka bunyi alarm itu sekaligus memaksaku untuk menyiapkan sahur.

Sore ini teman sekamarku mengajakku mengunjungi tempat bernama asiatique. Sebuah tempat bekas dermaga yang dipugar menjadi tempat berkumpulnya para turis. Sebenarnya tidak ada yang menarik di sana. Namun festival halal yang di adakan mulai tanggal 12 hingga 22 juli inilah yang menggoda hati kami untuk sekadar berkunjung kesana.

Asiatique, Sebuah dermaga yang tersulap

Untuk menuju ke lokasi, saya perlu menumpang kereta listrik dan menumpang sebuah kapal mengarungi sungai chao phraya. Tempat ini berada tepat di pinggir sungai chao phraya. Pengunjung didominasi oleh penduduk asli Thailand. Turis asia seperti china, jepang, dan korea juga dengan mudah ditemui dikenali. Berbagai macam makanan halal rasa Thailand selatan dijajakan di festival halal ini. Mulai dari snack pembuka selera seperti sosis, jamur, dan bakso ikan hingga makanan berat seperti nasi biryani, sticky rice (nasi ketan) dan ayam goreng. Bahkan penjual masakan yang tidak berlabel halal pun ikut meramaikan dan merasakan pula berkahnya ramadhan. Namun dengan mudah dapat dibedakan mana penjualan makanan dan minuman yang halal dan tidak dengan melihat label halal di atas stan.

Jamur bakar

Masakan khas Thailand Selatan

Berbicara soal halal, di Thailand saya lebih nyaman mengenai lembaga halal. Tidak sulit untuk menemukan label halal di produk-produk di makanan maupun minuman kemasan. Cucu dari KH. Ahmad Dahlan, Winai Dahlan inilah yang membantu sertifikasi halal di Thailand. Saat ini berhasil dibangun halal science center di universitas Chulalongkorn. Selengkapnya dapat di akses di: http://www.halalscience.org/. Karena merasa lebih terjamin, kabarnya saudara-saudara muslim kita di Australia mengimpor daging halal dari Negara Thailand.

Bahan-Bahan Nasi Kerabu

Pada kesempatan itu, saya manfaatkan untuk menjajal aneka kuliner khas Thailand yang belum pernah saya coba. Diantara yang saya coba waktu itu adalah nasi kerabu. Nasi kerabu ini adalah nasi yang dicampur dengan aneka bumbu dapur seperti bawang merah, wortel, kecambah serta dilengkapi dengan serundeng dan daun khas kuliner Thailand. Jangan ditanya rasanya, sangat asin dipadu dengan rasa segar. Agak sedikit berbeda dengan lidah Indonesia. Untuk snack tajil saya menjajal makanan roti goreng yang dicocol dengan saus krim susu. Serta es chayen (teh tarik) sebagai minuman pelengkapnya.

Suasana Festival Halal di Asiatique

Sebagian besar umat muslim di Thailand terkonsentrasi di Thailand selatan. Yala, Pattani dan Narathiwat adalah kota-kota dengan penduduk muslim yang berbatasan dengan Malaysia. Kebanyakan dari mereka “boleh cakap malay lah sikit-sikit” (bisa bahasa melayu sedikit-sedikit). Penjual nasi kerabu dan chayen ini bisa berbahasa melayu dengan saya, sehingga komunikasi diantara kami lebih harmonis.

“Mai khun Thai Kap” (bukan orang Thailand)

“Malaysia?”

“Bukan, Indonesia”

“Bolehlah cakap melayu?”

“Bolehlah”

Setelah menanyakan letak masjid, sayapun menuju ke arah yang dimaksud penjual nasi kerabu. Karena teman saya yang pernah kesana mengatakan bahwa ada masjid disekitar situ. Rupanya hanya 5 menit berjalan menyebrang jalan bertolak arah dari dermaga, saya menemukan masjid yang cukup besar.

Native Muslim Thai sedang berbuka puasa

Disana saya menjumpai saudara muslim yang berbuka puasa dengan cara makan berkelompok. Saat saya akan mengambil wudhu, salah satu pengurus masjid menghampiri kami dan mengajak kami bergabung.  “Kin” (Makan). Saya pun tak menolak ajakan mereka, namun saya berjanji akan bergabung selepas sholat maghrib. Salah seorang pengurus masjid yang lain pun mengundang kami. “Ayo makan-makan”. Sepertinya pengurus masjid yang dituakan ini mengetahui kami bukan penduduk asli Thailand. Muslim di Thailand adalah minoritas, sebesar 10 persen dari total 67 juta penduduk Thailand. Sehingga apabila mereka menemui saudara muslim, mereka merasa kita adalah bagian dari keluarga dekat mereka.

Sajian berbuka puasa dari Masjid

Selepas maghrib kami disuguhi sebuah nampan berisi nasi gulai, buah nanas, ikan asin, sup ayam dan minuman plethok yang sangat segar. Dan kebetulan disana kami juga bertemu dengan adik kandung dari ustadz Adhian Hussaini penulis novel KEMI yang terkenal. Adik kandung beliau bernama ustadz Riza Rahman Hakim yang kebetulan sedang mengambil studi di universitas Kasetsart. Kamipun menikmati hidangan buka bersama-sama.

Allahu akbar, Allahu akbar..

Suara adzan Isya bergema dari masjid ini.. Adzan ini bergema di langit mendung kota Bangkok. Menggetarkan sanubari yang terpanggil. Mengisi tiap ruang kosong di tempat umum sekelas Asiatique ini. Adzan ini mengobati rindu saya akan nuansa ramadhan di kampung halaman..

Bangkok, 21 Juli 2013

11 Ramadhan 1434

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video