sayyidina

On such a blessed night, I, Fadhilah Wahid, would like to seek your forgiveness for any wrong I might have done to you, whether big or small, whether I know it or not, whether you know it or not.

May Allāh Subḥānahu Wa Ta'Ala forgive all our past deeds, and fill our new book with nothing but goodness and love for Allāh Subḥānahu Wa Ta'Ala and His Messenger Sayyidina Muhammad ṣalla Allāhu ʿalay-hi wa-sallam 😘

Bolehkah Menambahkan kata “Sayyidina” dalam Shalat?

Ada sebagian anggapan bahwa menambahkan kata “Sayyidina” dalam shalat tidak diperbolehkan karena hanya boleh diucapkan diluar shalat. Benarkah mengucapkan kata Sayidina dalam shalat(tasyahud awal/akhir) tidak boleh? Yang boleh dan benar diucapkan hanya diluar shalat? Menyertakan kalimat “SAYYIDINA” dalam sighat shalawat atas Nabi ketika shalat tidak membatalkan shalat bahkan sebaliknya mayoritas ulama seperti Ibn Dhahirah, Ibn http://dlvr.it/2x6yx9 http://www.sarkub.com/

Aku mengagumimu.

Kontribusi @duniajilbab bareng febryanarinda

Aku mengagumi saat kau kumandangkan adzan.
Aku mengagumi saat kau sedang berdiri tegak mendirikan sholat.

Aku mengagumi saat kau lantunkan ayat suci Al Quran
.

Aku mengagumi saat kau tinggalkan duniamu demi akhirat.

Namun aku takut, aku takut melupakan Dia yang memberi rasa ini.
Aku takut melupakan Dia yang menitipkan rasa ini.
Aku takut melupakanNya dan menomor duakanNya.
.

Aku takut rasa kagumku pada Rasululullah memudar.
Aku takut rasa cintaku pada Allah meluntur.
Aku takut rasa kagumku padamu meruntuhkan semuanya.
.

Akhirnya kusimpan rasa ini.
Aku tak ingin seperti mereka yang pada akhirnya menodai kesucian cinta.
Kusimpan namamu dalam doaku.
Beri aku waktu untuk memantaskan diri. Pun denganmu.
.

Aku ingin kelak kau bisa menjadi seperti Sayyidina Umar bin Khattab. Sebagai pemimpin dia tegas, sebagai suami dia lembut pada istri, sebagai ayah dia paling menyayangi anak-anaknya.
.

Biarkan rasa ini mengalir apa adanya. Jika kau memang untukku, inshaa Allah kelak kita dipertemukan dalam ikatan halal, tanpa melalui jalan yang haram. #duniajilbab 😇😊🙏 (at tag sahabatmu ^^)

PANTASKAN : PEMIMPIN MUDA

Secara naluri, manusia ingin dipuji dan dihormati setinggi-tingginya serta ingin berada diposisi teratas dalam karir, status dan pendidikan, namun tidak ingin dihina apalagi dijatuhkan martabatnya.

Kalau begitu mari pantaskan diri!.

Membangun nilai-nilai kebaikan dan menyampaikannya dengan cara yang baik, dimulai dari perbuatan praktis terhadap semua prinsip, ide dan tingkah laku. Maka pantaslah jika Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata :

“Barang siapa yang menampilkan dirinya menjadi pemimpin orang ramai, hendaklah ia mulai mengajar dirinya sendiri lebih dahulu sebelum mengajar orang lain, hendaklah menjaga tingkah lakunya lebih dahulu sebelum menjaga lidahnya. Orang yang mengajar dan menjaga diri sendiri lebih patut diberi penghormatan daripada orang yang mengajar dan menjaga orang lain.”

If I desired, i could write enough commentary on the Fātiha to load the backs of forty camels.

- Sayyidina Imam Ali ibn Abi Talib رضي الله عنه‎

Cara Membaca Shalawat Yang Benar

Para ulama kita menegaskan bahwa dalam membaca shalawat kepada Raslullah harus dengan bacaan yang benar, agar terhasilkan pahala dan mafaat dari bacaan tersebut. Misalkan, dalam melafazhkan huruf “shad” pada kalimat “Shalli” harus jelas dan benar sesuai makhraj-nya, jangan sampai tertukar dengan huruf “sin”. Karena bila demikian maka maknanya akan berubah total.  Kemudian dalam melafazhkan “Shalli” http://dlvr.it/2Wby8z http://www.sarkub.com/

Believers Must Know The Seerah Of The Holy Prophet (asws)

BismillahirRahmanirRahim


O Believers! This month of Rajab is flying away from us- we should not let it pass without putting our names in the book of those who are successful in this month. Do not forget that Awliyaullah are saying, ‘Rajab is a month of planting, Shaban is a month of irrigating the fields, and the month of Ramazan is a month of reaping and harvesting.’
O Believers! We must know our history. We must know the lives and events of those who came before us. Not the histories of our nations. Not the histories of our tribes. Not the histories of our jahiliyah days and jahiliyah nations. Not malayani history. We must know the history of those who were Beloved to Allah (swt). And the most important history that a believer must know, that a believer must be connected to, is the history of the Beloved of Allah, the history of Sayyidal Awwalin wal Akhirin, Sayyidina Muhammad (asws). The believers must know the Seerah of the Holy Prophet (asws). The son of Hz. Saad ibn Abi Waqas is saying: Our father would teach us the battles of Rasulullah, he would teach us the seerah of Rasulullah, and he would tell us that these are the traditions of your fathers, so study them.
And Hz Ali ibn Huseyin, the grandson of Hz. Ali is saying, ‘We were taught the Seerah of Rasulallah like we were taught the Quran.’

-Sheykh Lokman Effendi (Hazretleri)

Sannah helwah buat Tuan Guru, Al-Allamah Habib Umar bin Muhammad bin Salim ben Hafidz yg ke 52 tahun.
.
Moga-moga Habibuna dipanjangkan usia. Halalkan segala ilmu yg diturunkan kepada kami. Moga Allah سبحانه وتعالى memperluaskan ilmu Habibuna, moga majlis majlis yg pernah bersama sama kami hadiri bersamamu menjadi asbab kami dibangkitkan bersama samamu serta ulama’ lain di akhirat kelak.
.
Al-Alim Al Allamah Al Hafiz Al Arifbillah Syeikh Habib Umar bin Hafiz merupakan seorang ulama & wali Allah. Keturunan Rasulullah saw yang ke 39 daripada Sayyidina Husein.
.
Diberi gelaran hafiz hadith kerana beliau menghafaz 100 000 hadith berserta sanad & matan. Dari kecil menuntut ilmu dan menghafaz matan-matan dengan guru-gurunya dikalangan para wali Allah.
.
Moga dengan ilmu yg telah dikongsikan kepada kami semua menjadi asbab lurusnya jalan utk kami ke Syurga bersama-sama.
.
Aamiin Allahumma Aamiin. Insya Allah.

tentang

perjalanan di bumi ini
tentang memperbaiki diri
tentang menjagahati
tentang manfaat bagi sekitar
sejenak demi sejenak
meluruhkan ke AKU an
mendekat ke pemilik cahaya
ALLAH SWT dan kekasih NYA , SAYYIDINA MUHAMMAD SAW ~

blogspot , juli 2013 | khoirunnisa m. sirri
Umar ibn Khattab (R.A)

Some of the best quotes by “Ameerul Mu'mineen” SAYYIDINA UMAR IBNUL KHATTAB (R.A), the second Khalifah of Islam


“Get used to a tough life, for luxury does not last forever”
— Umar ibnul Khattab (R.A)

“I have never regretted my silence. As for my speech I’ve regretted it many times”
—Umar ibnul Khattab (R.A)

“ALLAH SUBHANA TA'ALA loves moderation and hates extravagance and excess.”
—Umar Ibn Al-Khattab (RA)

“I thought of all types of wealth, but couldn’t find a better wealth than contentment in a little”
— Umar ibnul Khattab (R.A)

“Let not your love become attachment, nor your hate become destruction.”
—  Umar ibn al-khattab {Radi’Allahu anhu}

“May ALLAH TA'ALA bless the man who says less and does more.”
—  ‘Umar ibn al Khattab (Radhiullahu ‘anhu)

“Patience is the healthiest ingredient of our life.”
—  Umar Ibn Al-Khattab (R.A)

“Doing good for a good done to you is simply repayment, whereas doing good for an evil done to you is a tremendous virtue.”
—  ‘Umar ibn al Khattab (R.A)

Umar ibn al Khattab (R.A) said: ”Invite people to Islam even without words” They asked ”How?” He replied ”WITH YOUR MANNERS.”

“I fear the day where disbelievers are proud of their falsehood and Muslims are shy of their faith.”
—  Umar ibn al-Khattab (R.A)

"The biggest gift after IMAAN (Faith) is your WIVES.”
— Umar ibnul Khattab (R.A)

Saya mencintai Ka'bah bukan kerana batunya, saya mencintainya (Ka'bah) kerana ia adalah ‘Rumah Allah’

Saya mencintai Kota Madinah bukan saja kerana tanahnya, saya mencintai Madinah kerana tanah yang ada disana adalah Kota nya Rasulullah SAW

Saya mencintai Al Quran bukan kerana keindahan mushafnya tetapi kerana itu Kalam Allah

Saya mencintai Sayyidina Nabi SAw kerana beliau adalah KEKASIH ALLAH

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

barang siapa yang tidak dimenangkan oleh kesabaran , maka ia akan dihancurkan oleh keluhan
—  sayyidina Ali bin Abi Thalib ra
Thought via Path

NABI MUHAMMAD SAW adalah SAYYIDUN-NAS
(Pemimpin semua ummat Manusia)
Penyertaan kata Sayyidina pada nama Nabi
Muhammad ialah sangat layak dan pantas, baik
dalam redaksi sholawat atau redaksi lainnya,
karena memang beliau memiliki martabat mulia
dan agung seperti itu.. coba simak ini..!!
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺃُﺗِﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑِﻠَﺤْﻢٍ ﻓَﺮُﻓِﻊَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉُ ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ
ﺗُﻌْﺠِﺒُﻪُ ﻓَﻨَﻬَﺲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﻬْﺴَﺔً ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻡَ
ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻫَﻞْ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﻣِﻢَّ ﺫَﻟِﻚَ؟ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻷَﻭَّﻟِﻴﻦَ
ﻭَﺍﻵﺧِﺮِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﺻَﻌِﻴﺪٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻳُﺴْﻤِﻌُﻬُﻢُ ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻲ ﻭَﻳَﻨْﻔُﺬُﻫُﻢُ
ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﻭَﺗَﺪْﻧُﻮ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻓَﻴَﺒْﻠُﻎُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻢِّ ﻭَﺍﻟْﻜَﺮْﺏِ ﻣَﺎ ﻻَ
ﻳُﻄِﻴﻘُﻮﻥَ
===================
Hadits ini diterima dari Abu Hurairoh ra, ia
berkata ; Suatu hari Rasulullah Saw di jamu
makan daging, ketika beliau dihidangkan daging
bagian lengan, bagian daging yang membuat
Rasul takjub, Rasul mencicipiny sedikit.
Kemudian beliau bersabda ; AKU ADALAH
SAYYIDUN-NAS (PEMIMPIN SEMUA UMMAT
MANUSIA) DI HARI QIYAMAH … dan seterusnya…
(HR. Soheh Bukhor)

Soheh Bukhori Juz 6 Hal 105, Hadits
ke-4712

Allohumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad
wa'alaa alihi washohbihi wasallim – Read on Path.

aku telah mencari kenyamanan untuk diriku , maka aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih nyaman daripada meninggalkan apa yang bukan merupakan urusanku
—  sayyidina Ali bin Abi Thalib ra

#Repost @ainunmazlan
・・・
Dari sayyidina Ali :
Baginda Rasulullah SAW maksudnya :

Apabila datang malam nisfu sya’ban maka Beribadahlah Di Malamnya(Qiamullai) dan puasalah di siang harinya sesungguhnya Allah menurunkan rahmatNya dan para Malaikatnya pada malam itu dan berkata siapa yang minta rezeki ku beri, siapa meminta keselamatan aku pelihara, siapa yang Hendak Sesuatu maka akan Ku Kabulkan sampai terbit fajar.

Insyaallah 1/3 malam ni sama sama kita bangun sekejap bermunajat kepada Pencipta kita walaupun sekali seumur hidup at least pernah buat . Sebab kita pendosa yg tak haus dari dosa dosa . Maafkan saya jika ada salah silap mengumpat mengata dan sewaktu dengannya .

Ahlan Wasahlan Ramadhan 😊

Menyoal Fenomena Aktivis Dakwah Kampus

Rasulullah telah menyabdakan bahwa tiap seratus tahun akan ada seorang laki-laki, ada yang dari keturunannya juga ada dari lainnya, yang akan menjadi pembaharu dalam agama Islam. Dalam perjalanannya, ada beberapa nama yang diajukan bahwa beliau-beliaulah yang menjadi pembaharu Islam. Nama-nama itu diperkirakan oleh para ulama pula, karena Rasul tidak menyebutkan pembaharunya. Kita tentu tidak asing dengan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dan Imam Al Ghazali, nama yang kusebutkan adalah yang ditenggarai sebagai pembaharu. Beliau-beliau itulah yang oleh para ulama ditenggarai sebagai pembaharu Islam. Tentu banyak nama lain yang ditenggarai sebagai pembaharu, tapi masih ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Yang jelas, meski diperdebatkan, jangkauan para pembaharu ini global, tidak lokal lagi.

Secara global pula, Islam penganut Ahlussunah wal Jama’ah (Sunni), melandaskan fiqh pada Mahdzab empat, antara lain Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi’i, dan Imam Hanafi. Beliau-beliau sanad ilmunya saling berhubungan, dan jika dirunut sampai Rasulullah. Hafalan hadisnya tidak main-main. Metode yang digunakan, meski berbeda, tapi sama-sama punya landasan. Sanad ilmu ini tidak putus insyaAllah. Jika tidak percaya, lihatlah di pesantren salaf, yang kesehariannya melulu berhadapan dengan kitab kuning (tulisan arab gundul). Ulama, yang biasa disebut Kyai, diberi ijazah oleh Gurunya, bahwa Sang Kyai telah memiliki ilmu yang pas sehingga apa yang disampaikan pada muridnya nanti tidak melenceng dari pakem ilmu. Penganut ahlussunah bermahdzab dipersilakan untuk menganut satu mahdzab, tapi dipersilakan apabila dalam keadaan darurat mengaplikasikan mahdzab lain.

Aktivis dakwah kampus makin merebak di seluruh penjuru Universitas di Indonesia yang bernaung di bawah Lembaga Dakwah Kampus. Gerakannya amat sistematis dan memiliki corak yang cenderung sama. Bahkan, pada skala nasional sudah ada Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Sistem pengajaran agamanya, ada sebuah forum yang di dalamnya terdapat mentor yang mengawasi kira-kira sepuluh muridnya. Biasanya mentor itu pula memiliki forum lanjutan, dan mereka menjadi murid. Analoginya seperti piramida Multi Level Marketing (MLM). Permasalahan muncul pada kapasitas mentor tersebut. Seberapa luas kepahaman terhadap apa yang diajarkan? Padahal, setahuku tidak semudah itu mengajarkan agama.

Sistem mentoring memiliki beberapa kelemahan dibalik pelaksanaanya yang penuh gegap gempita. Kelebihannya jelas, penyampaian materi bisa dilakukan secara reli, pengawasan pada para murid lebih mudah karena kelas kecil, juga cenderung instan (kalau bisa dibilang kelebihan). Tapi, ada kekurangan yang tak pernah terbahas, padahal ini cukup fundamental. Adalah kualitas ilmu, serta yang lebih fundamental, sanadnya pada Rasulullah yang menjadi pertanyaan. Penulis tidak pernah tahu, siapa guru mentor itu dan bagaimana kualitasnya. Apakah bisa bahasa arab fushah lengkap dengan nahwu sarafnya? Berapakah khatam kitab fiqh? Bagaimana pemahamannya terhadap teologi Islam? Pertanyaan ini amat sulit Penulis jawab dalam pengamatan pada aktivis dakwah kampus.

Pelajaran yang diterima, ketika Penulis memasuki LDK, entah kenapa banyak mengganjal di hati. Pembahasan sangat sedikit yang membahas tentang akidah dan fiqh, padahal keduanya adalah komponen yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pun membahas, kadarnya amat sedikit. Lalu, apa bahasan utama dari LDK? Karakter Islami? Bahkan, tidak pernah kutahu pendidikan berbasis karakter islami yang benar-benar mantap berdasar tassawuf. Kalau mau contoh, generasi Al Fatih yang kita banggakan itulah salah satunya. Juga beberapa isu lain, seperti Ikhwanul Muslimin, Palestina, Syiah, dan yang lainnya. Penulis bukannya menyalahkan, namun Penulis memertanyakan, mengapa mengajarkan hal yang bersifat politis daripada hal yang fundamental?

Perasaan mengganjal juga muncul ketika kita menelaah kembali teologi mereka. Setahuku, Sunni jika tidak Asyariah, maka Maturidiah. Bagaimana dengan teman-teman aktivis dakwah sekalian? Penulis tak pernah mendengar. Namun, kenapa banyak diantara rekan-rekan aktivis dakwah berkoar-koar tentang penyimpangan Syi’ah, kegilaan Liberalisme, jika yang mendasarpun kesulitan, atau bahkan tak pernah mendengar kedua nama aliran teologi diatas? Sepertinya, karena “salah didik” ini pulalah banyak yang melakukan penghakiman yang tidak sepatutnya, yang paling menggemparkan adalah ketika Prof. Quraish Shihab dikatakan syi’ah, ada pula yang bilang Liberal. Padahal, menurut banyak orang, Prof. Quraish adalah mufassir paling kondang saat ini, meski ada satu perkara dalam Tafsir Al Misbah karyanya kontroversial.

Persoalan juga menyeruak ketika musim politik tiba. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa LDK memiliki kecenderungan untuk memihak salah satu Partai Politik. Ketika masa ini datang, “keributan” tak terelakan. Ada kecondongan untuk menggerakan masa pula, bahkan di Masjid Kampus cenderung politis dakwahnya. Jangankan Masjid Kampus, ketika Madrasah Mentor diselenggarakan pun ada indoktrinasi paham Partai Politik. Saat Penulis menyadari hal tersebut, Penulis menyatakan CUKUP DAN BERHENTI dari kegiatan dakwah kampus, setidaknya sampai musim politik selesai, sebagai dampak kekecawaan mendalam Penulis.

Penulis menyarankan, bagi rekan-rekan sekalian yang membaca, untuk sekedar berintrospeksi. Belajarlah hal yang fundamental yang terlebih dahulu, dengan guru yang sanad ilmunya jelas. Agama tidak seperti mie instan memang, perlu waktu yang lama untuk belajar. Jangan baru dua minggu mentoring lalu hakimi kanan kiri. Jika Rasulullah adalah mata air, yang kemudian para sahabat, tabi’in, dan seterusnya adalah sungai, maka kita ini sudah keruh airnya, saking jauhnya perjalanan. Perlukah kita memerkeruh airnya? Tentu tidak. Penulis manusia yang berlumur dosa pula, tapi Penulis mengajak berintrospeksi bersama adalah salah satu usah Penulis untuk menjadi baik, bukan karena Penulis sudah sempurna, bukan.

catatan: sebagian besar ditulis berdasar pengalaman di internal kampus