rinaldy

i used to think i fell in love with him because he’s beautiful, then i realised i fell in love with him because he’s light - and that is all the beauty anyone needs and more. 

[thinking maybe come 22nd of July i’ll write our tumblr love story]

the whole week has been this incessant rain, the kind that takes a grip of the body because nature and i, we’re connected like that. the sky shifts from the sun and glory to the darkest of clouds heavy with some kind of unknown and uncertain burden. so it spills and washes at things, feet get wet, people run for cover, hiding until the momentary moodiness is done. sometimes thunder cuts at it, it trembles against the echo of an uncontained sky. it has become an unreliable cycle. my whole heart has looked like that, my whole body has wept with it too. 

when you fall in love, you give into things - the crevices and deep of a person. often reason obscures itself, it unravels and reveals only with time and weight. the spatio-temporal of the place you both occupy expands and retracts and moves in unknown ways. we are guided by our spirits in this communion, by this thrust that pushes love head on into the fate of things. 

when i thought about you one stormy mid-afternoon, i thought: the way your body moves is like the flow of a wave, it is this eternal pull of things determined only by the glory of God. and then i thought: if a mountain, that steady and solid thing, could crescendo, your body would be like that too. but it does, and it moves ever so gradually growing or sinking in movements unbeknownst to the naked eye. and then i thought of us, and then i thought of us in this moment, and then i thought about how  easy it is to love someone and how difficult it is to love that person (the doing of the word, not the falling of it).

i had nothing to liken us to, no monumental nature of things, no declaration other than perhaps the most important of them all: God brought us here… pour toujours et a jamais.

only

there hasn’t been a moment for weeks where i’ve been physically alone. you have enveloped yourself into all of me - the bed i sleep in, how my mother slices fruit for lunch, the car that fell apart so you’d stay, the birds that sing into their rest. i watched you leave because i had to, my arm didn’t even have the strength to lift and wave. i spent the whole afternoon reading because after the last few days i know that’s what we would have done - read, and watched lectures, and listened to things and sat silently. i cried making prayer in yoga, sending my body into the universe, realigning my spirit in a way that i hope you can hear. 

i want to say “come home”: the only reasons i have are that i know your blue/black skin the dark, how your curls knot themselves straight in individual strands, and how your body comes ever so tenderly alive next to me (there have never been any i’m sorry’s there, in that one place, reserved just for you). your scent scattered in everything i own/that matters and the only thing playing on my mind is how you confessed to how this feels like home. i had nothing to say, who wants to admit to the glaring moment you begin breathing together, in unison, in magic?

but the sky was burdened with a kind of heavy when you left, i’ve been echoing your return since. all we have is a “soon come” and an ocean…

Rinaldy, Desainer Aksesoris Kalangan Atas

Tuesday, January 19th, 2010
oleh : Ahmad Yasir

Latar belakang pendidikan tidak selalu mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Simak saja kisah Rinaldy Arviano Yunardi, desainer aksesoris yang namanya tidak asing lagi di kalangan selebritas. Karyanya banyak dipakai artis, misalnya Krisdayanti, Titi DJ, Connie Constantia, Melly Goeslaw, dan Sandra Dewi.

Rinaldy mengaku belajar desain belajar secara otodidak. “Dulu saya tidak bisa menggambar. Tapi, sekarang sudah bisa membuat desain-desain dari gambaran yang ada di kepala saya,” tutur pria kelahiran 13 Desember 1970 itu. Bakat ini diwarisi dari ibunya, seorang pembuat bunga dari kertas krep. Ayahnya juga seorang pembuat tas anak-anak. Kebetulan, bungsu dari tiga bersudara ini suka sekali dengan segala sesuatu yang glamor, extravaganza, couture, dan unik.

Dia membuat karya-karyanya dari kawat, kristal, plat, batu alam, semi precious stone, dan American diamond yang diimpornya dari Perancis, Cina, Hong Kong, Thailand, dan beberapa negara lainnya. Tidak heran, sebagian besar peminat karyanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Meski demikian, aksesoris-aksesoris yang dipajang showroom-nya dijual dengan harga bervarias, mulaii dari Rp 500 ribu hingga puluhan juta rupiah. Satu jenis barang itu bisa hanya diproduksi satu  potong.

Setelah menematkan SMA di tahun 1990, Rinaldy memutuskan untuk langsung bekerja. “Saya tidak terlalu suka belajar,” ungkapnya. Kemudian, dia bekerja di perusahaan di milik kakaknya. Lalu, sempat juga bekerja di sebuah perusahaan ban. Tidak lama kemudian, dia berkenalan dengan desainer gaun pengantin kenamaan di Indonesia Kim Tong yang menawarkan pekerjaan kepadanya sebagai marketing. Setelah menerima tawaran tersebut, Rinaldy bolak balik menawarkan berbagai aksesoris, termasuk kepada beberapa desainer fashion seperti Sebastian Gunawan dan Eddy Betty. Meski hanya setahun, di sinilah titik awal dia berkenalan dengan dunia aksesoris.

Tahun berikutnya, Rinaldy kembali bekerja di perusahaan kakaknya, di sebuah pabrik elektronik. Justru di sinilah dia mulai membuat beberapa aksesoris sederhana di sela-sela waktu istirahat kerja. Kemudian ‘coba-coba’ ini dilanjutkannya dengan menggunakan kristal Swarovski hingga berhasil membuat 3 buah crown. Kemudian, crown ini dijualnya seharga Rp 75 -100 ribu kepada beberapa teman dekatnya.

Sejak itu, Rinaldy mulai menekuni bidang produksi aksesoris. Niatnya ini ternyata didukung sang kakak. Mula-mula dia mempekerjakan dua orang karyawan sembari tetap bekerja di tempat kakaknya. Akhirnya, tahun 1997 Rinaldy memutuskan untuk mundur dari perusahaan kakaknya dan memulai usahanya sendiri. Seiring bertambahnya pesanan, dia menambah 3 karyawan lagi dan menyewa sebuah ruko di depan rumahnya untuk disulap menjadi bengkel (workshop). Kini setidaknya Rinaldy mempekerjakan sekitar 50 orang karyawan di bengkel danshowroom-nya.

Kini, Rinaldy sudah dikenal sebagai seorang desainer aksesoris di Indonesia. Selain crown, Rinaldy membuat aksesoris seperti kalung, cincin, gelang, tas, dan sebagainya. Tidak hanya berkolaborasi dengan desainer fashion, Rinaldy pernah menggelar show-nya tahun 2000, 2002 dan 2009. Meski demikian, Rinaldy mengaku tidak terlalu berminat go international. Menurutnya, go international itu menuntut komitmen yang besar untuk bisa memenunhi jumlah pesanan yang datang.

Menurut Rinaldy, kebanyakan pelanggannya datang untuk memesan karyanya secara eksklusif, misalnya calon pengantin yang ingin memesan crown atau aksesoris lainnya khusus untuk hari pernikahan itu saja. Ini juga yang menjadi alasan baginya untuk tidak membuka cabang atau showroom khusus untuk karya-karyanya. Selama ini, dia hanya memajang beberapa produknya di beberapa butik Sebastian di Grand Indonesia dan Plaza Senayan yang menjadi asesoris pendukung pada gaun karya Sebastian. Satu-satunya showroom Rinaldy terletak di Jalan Gedong Panjang.

“Showroom dan workshop (bengkel) ini saya buat di satu tempat biar efektif dan efisien. Membuka showroom khusus tidak akan membantu banyak. Pelanggan juga biasanya mencari saya untuk berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memesan. Kalau ada dua tempat saja, ya saya tidak bisa melayani konsultasi sekaligus,” ujar Rinaldy yang suka mencari inspirasi kreasi di malam hari ini.