renungan

Tentang Memantaskan Diri

Beberapa hari belakang saya cukup bimbang. Tentang satu hal. Tentang memantaskan diri. Banyak teman terus mengingatkan. “fif, luruskan niat” “fif, benerin dulu niatnya” “fif, tujuan kamu begitu untuk apa” dan berbagai redaksi maupun diksi lain

Membaca ini juga http://www.hipwee.com/hubungan/untukmu-tujuan-akhirku-memantaskan-diri/ rasanya ada segenggam rasa akan ketidaksetujuan. Atau mungkin mutlak ketidaksetujuan (!)

Puncaknya saya juga teringat terkait gambar yang pernah di share teman di salah satu group whatsapp, dan ternyata mencari nama pengutipnya, saya menemukan bacaan menarik disini: https://febriantialmeera.wordpress.com/

image

Jleb. Tulisan di gambar tersebut benar-benar menusuk hingga saraf hati paling dalam. 

Benar itulah salah satu ujian tertinggi iman. Ketika Allah sudah bukan lagi menjadi yang tertinggi di hati. Ketika memantaskan diri bukan lagi untukNya tapi untuknya.

Tapi setelah dipikir-pikir. Allah pasti Maha Tahu isi hati kita. Allah pasti tahu bahwa hamba Nya ini lemah. Dan niat pun juga Allah lah yang paling tahu. 

Sangat disayangkan jika kita menghentikan suatu kebaikan bila takut karena salah niat. Berhenti memantaskan diri karena takut bukan lagi untukNya. Sangat disayangkan. Perbuatan baik yang seharusnya bisa kita perbanyak, bisa hilang begitu saja.

Toh bukankah berhenti melakukan suatu amal/ kebaikan karena takut dibilang riya, adalah riya itu sendiri ??

Jadi teman-teman yang mungkin merasakan hal yg sama (terutama saya), jangan lah berhenti berbuat kebaikan atau membina diri karena ketakutan-ketakutan tersebut. Jalani saja, dan tetap terus memantaskan diri. Allah pasti Maha Tahu. Tetap istiqomah dan terus perbaiki niat. Bahwa segalanya Allah lah yang menentukan. Jadi sudah sepantasnya Allah yang menjadi tujuan utama kita. Allahu ghoyatuna. 

***

Saya teringat juga salah satu hal yang saya baca dari buku lapis-lapis keberkahan, karya Salim A Fillah. Tentang betapa indahnya pemilihan diksi yang Rosul SAW gunakan dalam sabdanya, diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

Sesungguhnya,” kata beliau, “setiap amal tergantung pada niatnya. Dan sungguh tiap-tiap diri akan memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, dia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka ….

Santai kita potong dulu. Kebayang ga kira-kira apa kelanjutannya? seharusnya secara logika, diksi lanjutan hadits tersebut langsung menyatakan, tentunya, jika hanya niat hanya mengejar dunia & wanita, maka tentunya ia hanya akan mendapat dunia & wanita itu saja (sementara). Begitu sebakdanya.

Namun inilah Nabi pembawa rahmat, yang tak ingin sedikit pun memutus harapan orang-orang tersalah. Ia bentangkan kalimatnya, meluas menjadi harapan yang memenuhi timur dan barat. Sabdanya:

"…. dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan untuk berhijrah

Alangkah indahnya kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbarui niat, dan mengganti motivasi ketika awalan terlanjur tercemar. Apa yang dia niatkan untuk berhijrah. Betapa terbukanya kalimat ini. Betapa sejuknya, hingga diri-diri yang alpa ketika berangkat bisa memperbaiki niat dan menata kembali keikhlasannya. 

begitu juga Allah yang juga mengfirmankan dalam kalimat terbuka:

Dan ingatlah tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’ (Q.S Ibrahim 14:7)

Allah tidak langsung menklaim orang-orang yang ingkar langsung diadzab pedih. Tidak! sama sekali tidak. Namun Allah memberi kesempatan untuk manusia memperbaiki diri, yaitu dengan mengfirmankan sebuah kalimat terbuka sebagai tanda kasih sayang-Nya.

***

Jadi teman-teman. Teruslah memantaskan diri. Membina diri. Dan berbuat sebanyak mungkin amal kebaikan. Terus perbaiki niat. Dikala ada nafsu yang mulai menguasai, tetap terus memperbaiki niat. Tetaplah selalu diam dalam taatmu. Allah pasti tahu kita lemah. Dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha, dan terus menempatkan Allah sebagai tempat tertinggi dihati. Memantaskan diri bukan hanya untuk jodoh, tapi harus terus berlanjut pun pasca pernikahan nanti. Karena tujuan kita sebagai manusia bukan hanya sebatas separuh agama. Masih ada separuhnya lagi untuk terus dilengkapi hingga kita dipanggil Illahi.[]

Perbaiki Cara Pandang

Keliru dalam cara memandang sesuatu, akan menjadikan kita salah dalam melangkah.

A. Dunia Ke Bawah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Apabila seseorang dari kalian melihat orang yang dilebihkan dalam harta dan bentuk tubuh,

Maka hendaklah ia memandang orang yang berada di bawahnya…” (HR. Bukhari: 6490)

Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya,

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam harta dan dunia) dan janganlah engkau melihat orang yang berada di atasmu.

Demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu…” (HR. al-Bukhari: 6490, Muslim: 2963)

B. Akhirat Ke Atas.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad melainkan kepada dua orang:

1. Seorang yang dikaruniakan Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebajikan.

2. Seorang yang Allah beri ilmu, maka ia memutuskan perkara dengan ilmu itu dan mengajarkannya..” (HR. Al-Bukhari: 73, Muslim: 816)

Pandanglah ke bawah dalam urusan dunia, agar kita bisa bersyukur…

Lihatlah ke atas dalam perkara akhirat, supaya kita tetap semangat…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka kalahkan ia dalam perkara akhirat…”

Sudah siap…?

@sahabatilmu

Setiap orang memiliki masa lalu. Termasuk aku.

Aku memiliki segudang piringan hitam yang merekam suara kejadian, memiliki sekamar gulungan film yang meyimpan potongan gambar peristiwa, memiliki seruang penyimpan digital yang memuat video kenangan. Ada yang ingin kubiarkan berkeliaran, agar aku dapat kembali menuai hikmah darinya. Ada yang ingin kupendam, kukubur, kutenggelamkan sedalam-dalamnya, agar tidak menuai emosi tak perlu atau memunculkan sesuatu yang aku rasa.. pahit di hati.

Masa lalu memang ajaib.

Satu waktu, ia mampu menyalakan api semangat dalam diri. Mengajarkan bahwa aku-masa-lalu pernah melakukan sesuatu yang aku-masa-kini anggap itu adalah hal yang -sepertinya- sulit untuk dilakukan. Saat potongan cerita dan rekaman suara di masa itu muncul, serasa aku menemukan sebuah saklar. Saklar yang jika aku menekannya, aku bisa membuat terang kembali ruang potensiku. Bahwa sebenarnya aku bisa dan mampu untuk memiliki kembali semua yang kuanggap luar biasa di waktu dulu.

Namun di waktu yang lain, ia terlihat tak bersahabat, menurutku. Mengajakku untuk kembali mengingat memori yang tak mau aku ingat. Tentang ketidakmampuan, pengkhianatan, perpisahan, dan hal lain yang jika aku mengingatnya, aku ingin segera mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang menyenagkan. Mungkin terkesan berlebihan. Apa dikata, itu yang kurasakan. Pada sisi masa lalu yang ini, tak ada hal yang bisa kulakukan selain -memaksaku- mentransformasikan energi negatif yang -biasa kubiarkan- masuk, menjadi energi positif yang bisa kuserap. Agar tidak sia-sia. Agar berbuah hikmah yang membangun.

Masa lalu adalah sebuah keniscayaan. Hadirnya, tak mampu kita kendalikan. Karena bagaimanapun, ia buah dari apa yang dilakukan di masa lalu. Untuk masa lalu yang berisikan motivasi, tak sulit untuk berdamai dengannya. Tapi untuk masa lalu yang bersuasanakan mendung, sepertinya hak pilih ada di tangan, apakah membiarkannya menguasai diri, melupakan dan membuang sejauh mungkin, atau mentransformasikannya menjadi sesuatu yang bisa diserap dan dijadikan api dalam hidup.

Aku mencoba untuk memilih menjadikannya api dalam hidup. Kuharap kamu pun begitu.

Selamat Hari Ibu dari Surga

image

Hari ini seharusnya kamu masih berada di perutku. Hari ini seharusnya kamu masih bergerak-gerak dalam perutku. Hari ini seharusnya kamu berumur 30 minggu 3 hari di perutku. Hari ini seharusnya aku tinggal menunggu 67 hari untuk bertemu kamu, melihat wajahmu, mendengar tangisanmu. Tapi hari ini aku mendapati kenyataan bahwa kamu sudah nyaman di surga, Azka. Sangat nyaman dan bahagia.

Hari ini satu tahun kemudian seharusnya aku sudah bisa mendengar suaramu. Hari ini satu tahun kemudian seharusnya aku sudah bisa melihat bibir mungilmu mengucap “ma…ma..” atau “bu…bu…”. Tapi kamu sudah memilih tidur panjang dan terlelap dalam surga. Seharusnya…dan terus seharusnya. Tapi ternyata hidup bukan kita yang menentukan ya, Azka.

Hari ini aku mengucapkan selamat hari ibu dari Jakarta, untuk ibuku di kampung sana. Aku tidak bisa memeluknya, aku tidak bisa mencium pipinya dan memberinya setangkai bunga. Tapi ibuku bisa mendengar suaraku dari ujung telepon. Membaca tiap kata pada smsku. Aku juga yakin hari ini, di hari yang sama Azka mengucapkan selamat hari ibu dari surga. Memetik setangkai bunga dari taman surga untukku. Tapi bedanya aku tidak bisa mendengar suaranya sekalipun. Aku tidak seperti ibuku. Aku ditinggal mati anakku.

Tapi hari ini Azka jugalah selalu mengingatkan aku untuk tetap berdoa. Untuk tetap memberikan kesejukan padanya di surga. Allah, titip Azka di surga ya.

Dan mungkin aku selalu berharap sekali saja bisa mendengar Azka berucap padaku “Selamat hari ibu, Azka selalu sayang ibu”. Tapi sepertinya sangat sulit dan bahkan tidak mungkin.

Selamat hari ibu. Peluk sayang ibu selalu untuk Azka di surga.

Ibu sayang Azka :*

*gambar dari sini

Serial Ayah Bunda #Kriteria 1

“Ayah, kayaknya aku lagi suka deh sama seseorang. Adik tingkat di fakultas. Sesuai banget dengan kriteria yang aku pengen. Baik, sederhana, cantik juga sholehah.”

Aku memulai pembicaraan dengan malu-malu. Sedari kecil, keuargaku emang sudah membiasakan untuk saling terbuka satu sama yang lainnya termasuk dalam hal perasaan. Walaupun untuk hal-hal tertentu, aku lebih seneng terbuka sama ayah daripada Bunda. Kak Putri juga sama, untuk hal-hal yang berhubungan dengan keperempuanan, biasanya doi lebih seneng ngobrol sama bunda di forum perempuan mereka yang ramenya masya allah, khas kaum hawa kalo lagi ngerumpi.

Ayah pernah bilang kalau dalam keluarga kami, setiap orang harus bertanggungjawab satu sama yang lainnya. Jika satu orang terkena masalah, maka itu akan jadi masalah keluarga bersama-sama. Tentu saja kami diberikan kewenangan untuk menentukan, mana masalah-masalah yang layak dikatagorikan masalah keluarga, mana yang cukup menjadi masalah pribadi. Yang menjadi masalah keluarga ya dimusywarahkan di forum keluarga. Yang masalah pribadi tapi butuh masukan, biasanya dibicarakan personal seperti yang sedang ku lakukan bersama ayah ini.

“So?” ayah menanggapi dengan mata penasaran sambil senyum-senyum gitu

“Akunya harus gimana dong? Di satu sisi aku tahu itu salah, belum saatnya. Belum siap nikah juga. Pasti enggak boleh juga sama bunda kalau pacaran, bisa diceramahin tiga hari tiga malam lebih kalau ketahuan bunda. Di sisi lain, enggak tahu kenapa susah banget buat ngelupain dia. Apalagi sering ketemu kalau ada di kampus. Any idea?”

Ayah hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.

“Coba tanya kepada orang yang sedang jatuh cinta, tentang apa yang membuatnya mencintai seseorang? Jawabannya boleh beraneka ragam, sesuai dengan selera, kriteria atau pengalaman masing-masing. Seperti yang kamu sampaikan tadi. Tapi segala jawaban selalu berujung pada kebaikan dan kelebihan orang yang dicintai. Tak pernah terdengar dalam kisah paling romantis sekalipun, kalau seseorang mencintai orang yang lainnya karena keburukan, kejelekan dan kekurangannya.”

“Lah iya lah, Ayah.” Aku tertawa mendengar penjelasan ayah.

“Artinya, cinta hanyalah ukuran suka kita terhadap seseorang. Cinta tidak mengukur tentang apa yang tidak kita suka. Padahal dalam diri seseorang, seberapa cintapun kita terhadapnya, pasti memiliki kekurangan selain kelebihan. Pasti memiliki sisi, yang kita enggak suka banget dengan sisi itu. Apakah cinta bisa mengatasinya?”

“Maksudnya, Yah?”

“Misalkan, kalau ada laki-laki yang mencintai perempuan karena kecantikannya. Apakah cinta itu masih ada kalau dia enggak cantik lagi? Apakah cinta itu akan membesar jika kecantikannya semakin berkurang? Atau kalau kamu mencintai seseorang karena orang itu baik, apakah cinta itu akan tetap sama kalau kamu mengetahui keburukan dari orang tersebut, apalagi jika keburukannya jauh lebih banyak daripada kebaikannya. Bahkan, kalau kamu mencintai seseorang karena kesholehan-nya, apa iya, kamu sudah siap jika ternyata suatu hari dia berubah, kemudian perubahnnya malah membuat kamu semakin jauh dari kebaikan. Semakin jauh dari kesholehan itu sendiri?”

“Iya juga ya, Yah?”

“Itulah kenapa banyak orang yang dulunya mengaku cinta setengah mati, tapi rumah tangganya berantakan dan berujung perpisahan. Itulah kenapa banyak orang terdahulu, yang jarang banget mengungkapkan cinta, tapi rumahtangganya langgeng sampai mati. Karena sebenarnya, dalam perkara ini ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar cinta, yang bisa menyelesaikan masalah seperti yang ayah tanyakan tadi.”

Ayah berhenti sejenak, memberiku kesempatan untuk mencerna maksud perkataannya. Tapi aku tak sabar untuk mendengar kelanjutannya.

“Terus, Yah?”

“Nah, karena cinta hanya berbicara tentang apa yang kita suka. Bisa jadi pada saat mencintai orang lain, sebenarnya kita hanya sedang mencintai sebagian diri kita yang hidup pada orang tersebut. Atau kita sedang menemukan sesuatu yang kita inginkan, tidak ada dalam diri kita dan ada dalam diri orang tersebut. Coba deh, kamu cek lagi perasaan kamu itu, bener nggak seperti itu. Kamu hanya melihat perempuan tadi, dari sisi kelebihannya saja. Dari sisi yang kebetulan, kelebihannya adalah apa yang kamu suka atau apa yang kamu inginkan tapi belum ada di diri kamu.”

“He„ he.. “ aku cuma tersenyum malu, sebagai bentuk pengakuan memang begitulah adanya. Ayah membalasnya dengan senyuman mengerti, lalu aku melanjutkan pertanyaanku:

“Terus, gimana dong caranya untuk melupakan perempuan tadi?”

“Cinta itu perasaan. Dan perasaan selalu bersifat relatif. Di setiap tempat, kamu akan menemukan siapa yang paling cantik, siapa yang paling baik, siapa yang paling sholehah, dan siapa yang paling-paling lainnya. Kamu memilih untuk mencintai perempuan tadi, itu karena secara tidak sadar, otak kamu membanding-bandingkan antara perempuan yang pernah kamu kenal, dekat dengan kamu, dan hasilnya perempuan tadilah yang paling sesuai dengan kriteria atau apa yang kamu inginkan.”

“Terus hubungannya apa ya, Ayah?”

“Karena sifatnya relatif, kalau tempatnya kamu perluas lagi, kalau kamu punya lingkungan baru, yang lebih banyak, kamu selalu bisa menemukan perempuan yang lebih baik darinya. Selalu saja begitu. Kalau kamu mau membuka hati dan tidak terjebak dalam perasaan yang sifatnya relatif tadi. Makanya, kalau mau berteman dengan perempuan, agar tidak terjebak pada perasaan-perasaan seperti itu, perasaan relatif yang belum pada tempat dan waktunya, dari awal harus tegas membuat batasan dengan hati kamu. Bilang ke hati kamu, siapapun perempuan yang dekat sama kamu, yang sering bertemu, berdiskusi dan sebagainya: hanya sebatas teman. Cukup. Tidak lebih. Kalaupun dia cantik, baik, juga sholehah, pasti ada perempuan lain di tempat yang lain, yang jauh cantik, lebih baik dan juga lebih sholehah daripada dirinya. Kalaupun separah-parahnya, kamu berjodoh dengan perempuan yang standarnya jauh lebih rendah daripada perempuan tadi; itu karena perempuan yang kelak akan menjadi jodoh kamu itu adalah yang terbaik buat kamu.”

“Tapi, hati kita kan enggak bisa bohong, Yah? Kalau kita suka, ya suka. Bukannya kita harus mengikuti kata hati ya?”

“Haha. Hati emang nggak bisa bohong. Tapi hati sangat bisa untuk salah. Misalanya, katakanlah perempuan yang kamu sukai tadi sudah menikah dengan orang lain, hati kamu mungkin tidak bisa bohong kalau kamu masih suka, kalau kamu masih berharap, kalau kamu merasa kecewa. Tapi apa dibenarkan mencintai perempuan yang sudah menjadi suami orang lain? Makanya, sebelum kamu mengikuti kata hatimu, jaga dulu hati kamu, lalu periksa apakah suara hati kamu itu udah bener atau belum. Kalau udah bener, baru boleh diikuti.”

Aku cuma senyum cengengasan, sambil manggut-manggut.

***

“Oh iya, Ayah, kenapa dulu Ayah memilih bunda sebagai pendamping hidup?”

Baru saja ayah mau menjawab, tapi keduluan sama teriakan keras seorang perempuan:
“Ayah, Putra, ayo makan malam dulu. Makanannya sudah siap. Sudah laper nih.”

Tentu saja itu suara kak Putri. Secerewet-cerewetnya bunda, enggak mungkin bunda teriak-teriak model begitu. Biasanya kalau bunda yang manggil, bunda akan langsung mendatangi kami, tersenyum lembut, basa-basi sebentar, baru mengajak makan. Tapi siapapun yang memanggil, kami harus segera menuju ruang makan. Pembicaraan pun harus ditunda sementara waktu.

… bersambung

___ Serial Ayah-Bunda, akan tayang di page ini selama bulan Desember, setiap hari jam 18.00

Serial dari Nazrul Anwar

Akan banyak hikmah yang bisa dipetik, saya habiskan semalam buat nylesein serial ini :)

Source : 

1. http://nazrulanwar.com/category/serial-ayah-bunda/page/2/

2. https://www.facebook.com/abinya.karel/posts/367937726710674

Akan Datang Yang 'Pas'

Suatu saat, akan datang pula seseorang yang ‘pas’ untuk kita. Untuk kita yang mungkin merasa tak terlalu rupawan, tak tinggi semampai, dan sejuta nilai relatif lain dari perbandingan sempurnanya manusia, akan ada yang menerima kita apa adanya.

Akan datang yang ‘pas’ sehingga kita yang gigih mencari memutuskan untuk berhenti mencari. Juga bagi kita yang senang berpetualang akan memutuskan untuk menetap. Dan bagi kita yang selama ini tidak pernah puas akan dengan lantang mengatakan semua ini sudah cukup.

Akan datang yang ‘pas’ sehingga apapun yang terjadi, pilihan itu sudah menjadi keseriusan kita untuk menjalaninya. Hilang sudah hitung-hitungan resiko dan pencarian nisbinya perbedaan. Bila hati sudah bilang ‘pas’, ya itulah dia. Dialah ‘dia’ yang kita cari.

Meski kita harus garisbawahi pula, bahwa yang ‘pas’ itu tidak selalu mencerminkan kesempurnaan. Karena kita tahu, bahwa kesempurnaan mutlak hanya milik Tuhan. Namun, justru ketidaksempurnaan itulah yang akan menyimpan hikmah yang besar. Setidaknya, percayalah, bahwa kita tetap bisa berbahagia.

Dan bila dalam pencarian kita belum menemukan yang ‘pas’, maka bersabarlah dalam dua sikap yaitu sabar dalam memperbaiki diri dan teruslah mencari. Ingat, segala yang belum ‘pas’ padanannya untuk kita bukan berarti dia itu jelek, karena mungkin ia ternyata ‘pas’ untuk orang lain. Bagi kita yang ukuran badannya S, maka menggunakan baju ukuran L memang tidak pas, tapi bukan berarti baju itu jelek karena ia pasti pas untuk orang yang ukuran badannya L. Simpel, bukan ? Karena itu, berkhusnudzanlah. Berbaik sangkalah.

Semoga yang ‘pas’ itu segera datang. Aamiin.

-

Renungan,

10 November 2014 4.08 AM

(c) miftahulfikri

~ Dengan 3 Hal, Engkau Adalah Raja ~

Oleh : Ustadz DR. Syafiq Reza Basalamah حفظه الله

Ada tiga perkara, bila kau memilikinya, kau bagaikan Raja yang paling kaya di dunia ini.

1. Aman

Perasaan aman yang meliputi jiwa dan membalut hati, aman karena kau beriman dan takut pada Ilahi, hingga Allah menjagamu.

Ia merasa aman, karena ia tidak suka menyakiti tetangganya, temannya, orang-orang Islam, tidak suka mengadu domba, bahkan menjaga lisannya dengan baik maka jiwanya aman.

Bukan aman karena rumah dijaga oleh 4 satpam 5 anjing galak atau aman, karena pasang CCTV dan alarm yang setiap saat bisa berbunyi,

Bukan itu, justru itu semua tanda-tanda jika kau tidak aman.

2. Afiah

Tubuhmu sehat wal’afiat
Tak penyakitan, tak ada pantangan, tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal cari duit ‘tuk makan ini dan itu.

Sekarang, tak boleh di gunakan tuk makan ini dan itu.

3. Memiliki makanan hari itu

Bukan brangkas yang berisi fulus.
Bukan ATM yang penuh.
Bukan tabungan yang cukup untuk 7 keturunan.
Cukup memiliki makanan hari ini.

Besok gimana?

Serahkan pada Allah.

Yang tiada bisa diadakan, kalau Allah berkehendak dan kita mau berusaha.
Yang ada bisa hilang dan musnah dalam sekejap mata.

Maka yakinlah dengan apa yang berada disisi Allah dari pada dengan yang ada di tanganmu.

Bila 3 hal itu kau miliki, kau adalah Raja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بأسرها

“Siapa diantara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya”.

(HR Bukhari)

Masya Allah…

Jagalah Allah, niscaya kau akan aman.
Jagalah hubunganmu dengan hamba Allah.
Niscaya hidupmu tentram.

Sayangi tubuhmu dengan hidup sehat dan olahraga teratur..
Jangan menanti sakit.

Berdo’alah minta sehat pagi sore..sepanjang hari..
Bunuh ambisimu mengejar dunia, semakin dikejar ia semakin jauh.

Bersyukurlah dengan yang ada.

Kebutuhanmu sebenarnya tak banyak, tapi nafsu yang selalu mendikte…….

Utamakan Allah dalam setiap langkah hidupmu, ukhti. Mintalah padanya dengan tulus & sertai keinginan untuk berbagi, maka akan dibukakannya pintu rejekimu.

Kejarlah akhirat maka dunia akan mengejarmu.

Renungan malam untuk kita bersama, ukhti.

#renungan #duniajilbab #islami #dakwah #muslim #istiqamah #istiqomah #dijers 😇😊 (at tag mereka yg ukhti sayangi. 😊😇)

[61] Om Betmen Berkata...

Alkisah gw sempet dan teringat, sama kucing yang kemarin ngencingin sandal gw, weh salah, salah topik…

Jadi ketika lagi merenung sembari bekerja, gw sempat berpikir kenapa gw udah kerja keras tapi kok kyknya gini2 aja?? Ya gw yakin golagokin banyak dari lo2 pada yang suka heran sekaligus iri ditambah pengen karena ngeliat temen2 lo yang udah pada sukses. Sukses yang gw maksud disini bisa apa aja, mungkin ada temen lo yang sukses kuliahnya jadi gak susah2 amat dapat IP tinggi, mungkin ada temen lo yang sukses memimpin sebuah acara/event di kampus, atau yang paling parah ngeliat berita ada aja orang seumuran kita tapi udah dapet Nobel (jangan coba-coba ganti huruf N dengan K, pokoknya jangan!) , masuk tipi lagi (gw rasa di Indonesia masuk tipi entah di acara dahsy*t atau Duni* Lain-lain rasanya menjadi indikator orang sukses).

Mungkin ada kalanya kita putus asa atau capek hati, karena berjuang sekeras apapun, berdoa sampai berbusa, atau banting tulang sambil jungkir balik sedangkan temen lo yang gitu2 aja tapi hasilnya maksimal, inilah yang tiba2 terlintas di pikiran gw yang kerutnya sudah melebihi cucian dikucek sampai butek :

image

doodling yang sudah lama tidak dilakukan selama semester ini

Entah bagaimana dengan kalian, tapi gw inget salah satu adegan ter-epic yang pernah gw tonton, yaitu dalam film Batman Begins arahan Christoper Nolan (bukan Christian Sugiono apalagi Chris John). Intinya tulisan di atas artinya begini:

"Dilarang Kencing sembarangan"

gak deeeeng

" Ini bukan soal siapa atau apa yang dibalik topengnya, tapi apa yang saya lakukan mendefinisikan saya "

Kurang lebih artinya jangan liat siapa kitanya atau apa bentuk kita atau bagaimana orang mandang kita secara kelihatannya aja, tapi kita adalah apa yang kita Lakukan dan kita Perbuat. 

Darisitu ibarat ada cahaya-cahaya surga yang seketika menerangi gw di kamar yang gelap, terumpet bersahut-sahutan, lalu sangkakala di tiup, berakhirlah kehidupan dunia~ Tamat

dan bersambung… di tulisan di bawah (naon)

Sebenarnya banyak relevansinya ketika hidup kita tidak sebaik atau sekeren orang-orang di sekitar kita atau bahkan dalam lingkup yang lebih luas. Entah memang belum saatnya untuk sukses, atau mungkin kita diminta untuk lebih bersyukur, mungkin itu cuman ujian agar kita bisa jadi orang yang lebih baik lagi, banyak banget kalau mau dipikir alasannya dan bisa-bisa tulisan jurnal ini malah jadi buku berjilid-jilid.

Hanya gw mau menyoroti satu hal, perbaiki niat kita dalam bertindak. Mungkin kita masih pamrih ketika kita mengerjakan tugas atau diminta untuk ikut andil sebuah tanggungjawab, bisa karena mengharapkan imbalan atau popularitas. Tapi kalau gw pribadi sebagai muslim, tentu sebaik-baiknya niat ialah untuk Tuhan dan orang lain yang membutuhkan.

Jadi buat maneh barudak sekalian yang masih merasa kenapa gak sukses2, mungkin masih ada yang salah dengan niat atau usaha kamu. Selebihnya, fokus ajalah pada usaha dan tindakan, gak usah peduliin orang lain mau lihat kita sebagai apa selama kita meyakini itu sebagai sesuatu yang benar menurut kepercayaan masing-masing. Urusan hasil entar dapet tambahan duit, sukses, atau tambah terkenal, gw rasa itu tambahan bonus aja~

Salam koprol,

ditulis di belakang kampus ditemani hujan yang lebat hingga kebasahan, tapi itu di luar entah di dalam. mungkin basah karena hal yang lain