renungan

Tentang Memantaskan Diri

Beberapa hari belakang saya cukup bimbang. Tentang satu hal. Tentang memantaskan diri. Banyak teman terus mengingatkan. “fif, luruskan niat” “fif, benerin dulu niatnya” “fif, tujuan kamu begitu untuk apa” dan berbagai redaksi maupun diksi lain

Membaca ini juga http://www.hipwee.com/hubungan/untukmu-tujuan-akhirku-memantaskan-diri/ rasanya ada segenggam rasa akan ketidaksetujuan. Atau mungkin mutlak ketidaksetujuan (!)

Puncaknya saya juga teringat terkait gambar yang pernah di share teman di salah satu group whatsapp, dan ternyata mencari nama pengutipnya, saya menemukan bacaan menarik disini: https://febriantialmeera.wordpress.com/

Jleb. Tulisan di gambar tersebut benar-benar menusuk hingga saraf hati paling dalam. 

Benar itulah salah satu ujian tertinggi iman. Ketika Allah sudah bukan lagi menjadi yang tertinggi di hati. Ketika memantaskan diri bukan lagi untukNya tapi untuknya.

Tapi setelah dipikir-pikir. Allah pasti Maha Tahu isi hati kita. Allah pasti tahu bahwa hamba Nya ini lemah. Dan niat pun juga Allah lah yang paling tahu. 

Sangat disayangkan jika kita menghentikan suatu kebaikan bila takut karena salah niat. Berhenti memantaskan diri karena takut bukan lagi untukNya. Sangat disayangkan. Perbuatan baik yang seharusnya bisa kita perbanyak, bisa hilang begitu saja.

Toh bukankah berhenti melakukan suatu amal/ kebaikan karena takut dibilang riya, adalah riya itu sendiri ??

Jadi teman-teman yang mungkin merasakan hal yg sama (terutama saya), jangan lah berhenti berbuat kebaikan atau membina diri karena ketakutan-ketakutan tersebut. Jalani saja, dan tetap terus memantaskan diri. Allah pasti Maha Tahu. Tetap istiqomah dan terus perbaiki niat. Bahwa segalanya Allah lah yang menentukan. Jadi sudah sepantasnya Allah yang menjadi tujuan utama kita. Allahu ghoyatuna. 

***

Saya teringat juga salah satu hal yang saya baca dari buku lapis-lapis keberkahan, karya Salim A Fillah. Tentang betapa indahnya pemilihan diksi yang Rosul SAW gunakan dalam sabdanya, diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

Sesungguhnya,” kata beliau, “setiap amal tergantung pada niatnya. Dan sungguh tiap-tiap diri akan memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, dia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka ….

Santai kita potong dulu. Kebayang ga kira-kira apa kelanjutannya? seharusnya secara logika, diksi lanjutan hadits tersebut langsung menyatakan, tentunya, jika hanya niat hanya mengejar dunia & wanita, maka tentunya ia hanya akan mendapat dunia & wanita itu saja (sementara). Begitu sebakdanya.

Namun inilah Nabi pembawa rahmat, yang tak ingin sedikit pun memutus harapan orang-orang tersalah. Ia bentangkan kalimatnya, meluas menjadi harapan yang memenuhi timur dan barat. Sabdanya:

"…. dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan untuk berhijrah

Alangkah indahnya kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbarui niat, dan mengganti motivasi ketika awalan terlanjur tercemar. Apa yang dia niatkan untuk berhijrah. Betapa terbukanya kalimat ini. Betapa sejuknya, hingga diri-diri yang alpa ketika berangkat bisa memperbaiki niat dan menata kembali keikhlasannya. 

begitu juga Allah yang juga mengfirmankan dalam kalimat terbuka:

Dan ingatlah tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’ (Q.S Ibrahim 14:7)

Allah tidak langsung menklaim orang-orang yang ingkar langsung diadzab pedih. Tidak! sama sekali tidak. Namun Allah memberi kesempatan untuk manusia memperbaiki diri, yaitu dengan mengfirmankan sebuah kalimat terbuka sebagai tanda kasih sayang-Nya.

***

Jadi teman-teman. Teruslah memantaskan diri. Membina diri. Dan berbuat sebanyak mungkin amal kebaikan. Terus perbaiki niat. Dikala ada nafsu yang mulai menguasai, tetap terus memperbaiki niat. Tetaplah selalu diam dalam taatmu. Allah pasti tahu kita lemah. Dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha, dan terus menempatkan Allah sebagai tempat tertinggi dihati. Memantaskan diri bukan hanya untuk jodoh, tapi harus terus berlanjut pun pasca pernikahan nanti. Karena tujuan kita sebagai manusia bukan hanya sebatas separuh agama. Masih ada separuhnya lagi untuk terus dilengkapi hingga kita dipanggil Illahi.[]

Setiap orang memiliki masa lalu. Termasuk aku.

Aku memiliki segudang piringan hitam yang merekam suara kejadian, memiliki sekamar gulungan film yang meyimpan potongan gambar peristiwa, memiliki seruang penyimpan digital yang memuat video kenangan. Ada yang ingin kubiarkan berkeliaran, agar aku dapat kembali menuai hikmah darinya. Ada yang ingin kupendam, kukubur, kutenggelamkan sedalam-dalamnya, agar tidak menuai emosi tak perlu atau memunculkan sesuatu yang aku rasa.. pahit di hati.

Masa lalu memang ajaib.

Satu waktu, ia mampu menyalakan api semangat dalam diri. Mengajarkan bahwa aku-masa-lalu pernah melakukan sesuatu yang aku-masa-kini anggap itu adalah hal yang -sepertinya- sulit untuk dilakukan. Saat potongan cerita dan rekaman suara di masa itu muncul, serasa aku menemukan sebuah saklar. Saklar yang jika aku menekannya, aku bisa membuat terang kembali ruang potensiku. Bahwa sebenarnya aku bisa dan mampu untuk memiliki kembali semua yang kuanggap luar biasa di waktu dulu.

Namun di waktu yang lain, ia terlihat tak bersahabat, menurutku. Mengajakku untuk kembali mengingat memori yang tak mau aku ingat. Tentang ketidakmampuan, pengkhianatan, perpisahan, dan hal lain yang jika aku mengingatnya, aku ingin segera mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang menyenagkan. Mungkin terkesan berlebihan. Apa dikata, itu yang kurasakan. Pada sisi masa lalu yang ini, tak ada hal yang bisa kulakukan selain -memaksaku- mentransformasikan energi negatif yang -biasa kubiarkan- masuk, menjadi energi positif yang bisa kuserap. Agar tidak sia-sia. Agar berbuah hikmah yang membangun.

Masa lalu adalah sebuah keniscayaan. Hadirnya, tak mampu kita kendalikan. Karena bagaimanapun, ia buah dari apa yang dilakukan di masa lalu. Untuk masa lalu yang berisikan motivasi, tak sulit untuk berdamai dengannya. Tapi untuk masa lalu yang bersuasanakan mendung, sepertinya hak pilih ada di tangan, apakah membiarkannya menguasai diri, melupakan dan membuang sejauh mungkin, atau mentransformasikannya menjadi sesuatu yang bisa diserap dan dijadikan api dalam hidup.

Aku mencoba untuk memilih menjadikannya api dalam hidup. Kuharap kamu pun begitu.

Foto

Bismillaah

BERAT_BElajaR_taAT
SelasaBerasa


Foto Dirimu di-Display?

Mencoba mencari sisi positif dari para Fotomaniac (yang hobi upload foto diri di jejaring sosial), satu pun tidak saya temukan sisi positifnya.

1. Agar Dikenal
Alasan klasik ini sering dikemukanan. Pertanyaannya, “agar dikenal siapa?” Dikenal orang yang mana? Teman masa kecil? Teman zaman SD, SMP, SMA?
Sebegitunya ingin dikenal? Atau sebegitu ingin terkenal? Mari kita cari titik terangnya, ingin dikenal oleh teman lama agar bisa bersilaturrahim lagi. Ma syaa Allaah, perjuangannya. Sudahkah menjalin silaturrahim lagi setelah sekian lama fotonya dipajang? Jika untuk menjalin silaturrahim lagi maka cukup satu foto, tidak perlu ganti tiap hari kan? Dan agar Anda dikenal oleh kawan lama, jujurlah dalam memasukkan data diri.
2. Agar Tidak Disangka Akun Palsu
Anda tidak mau disangka palsu? Bersikaplah yang asli, yang biasa saja, apa adanya. Semuanya dimulai dari nama Akun Anda, pakai nama asli Anda. Informasi umum tentang Anda itu benar dan jelas, seperti kota asal, kota sekarang. Riwayat pendidikan Anda jelas dan benar, bila perlu TK Anda dicantumkan. In syaa Allaah, Anda tidak akan disangka palsu meskipun tanpa foto 3x4 di profil Anda.
3. Itu Hak Saya
Iya memang itu hak Anda mengunggah foto diri, tapi ini mata saya yang memandangnya. Sebagai sesama muslim saya berkewajiban menasehati.
4. Iseng
SubhaanAllaah, wajah Anda, tubuh Anda, adalah amanah Allaah Ta’ala mari dijaga, mari digunkan untuk beramal shalih bukan untuk menarik syahwat lelaki dengan alasan “Iseng”, apalagi yang fotonya tidak menutup aurat dengan syar’i, aurat dan urat kelihatan semua. Iseng itu yang berpahala loh, iseng nyimak kajian, iseng ikut pengajian, iseng dengarin kajian, kan lama-lama jadi butuh sama pengajian.
5. Salah Satu Cara Dakwah
SubhaanAllaah, dakwah apa itu shalihah? Dakwahnya dengan jadi model hijab? Dakwahnya dengan berpose anggun berbalut busana secerah pelangi bertabur kerudung taman bunga?
Apa iya? Sebelum berdakwah coba tanya diri sendiri, “sudah syar’ikah pakaian saya? Sudah bebas dari tabarrujkah saya?”
Ada juga yang pakaiannya syar’i tapi selalu wara-wiri di TL. Buat apa? Untuk apa? Demi apa? Lebih ekstrim lagi yang bercadar justru hobi gonta-ganti Foto Profil setiap jam dengan alasan dakwah. Agar orang terbiasa dengan pakaian syar’i dan cadar. Masih banyak cara sesuai syariat dalam membumikan pakaian syar’i, syariat Allaah Ta’ala itu baik dan membaikkan, jadi mari gunakan cara yang baik dalam berdakwah.
Dari sekian alasan yang paling sering dikemukakan, alasanmu masuk nomor berapa?
Saya tahu Anda Shalihah, jadi tidak perlu Anda pajang foto siluet, foto closeup entah wajahnya jelas atau diblur, entah bercadar atau berslayer, mari upgrade rasa malu Anda.
Saya tahu Anda wanita yang taat, jadi mari taat sekali lagi untuk tidak turut serta menebar pesona.
Saya tahu Anda cantik, jadi mari dirapikan kecantikan Anda, eksklusifkan diri Anda, Anda bukan barang dagangan yang dipajang.
Anda adalah perhiasan dunia (in syaa Allaah), layaknya perhiasan maka Anda sangat berharga, jagalah keindahan Anda khusus bagi yang layak mendapatlannya.
Tubuh Anda, wajah Anda, jangan sering dinampakkan pada lelaki non mahram. Itulah sebabnya Anda diperintahkan untuk berdiam diri di rumah dan keluar jika keperluan penting saja.
Hargai diri Anda, maka Anda akan dihargai.
Milikilah malu sebagai kontrol diri.
Pakaian syar’imu hendaknya menjadi langkah awal perbaikan menjaga iffah dan izzah.
Yuk stop Unggah foto diri dengan berbagai pose, bantu kaum Adam jaga pandangannya.
In syaa Allaah bisa!!!
Allaahua’lam Semoga Bermanfaat Silakan saudariku Bantu JIC berdakwah dengan share atau copy. Semoga Allah Ta’ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan.
Aamiin

Sumber: FP Jilbab ITU Cantik

Jalan Kaki Harusnya Bikin Iri Pengendara

Jalan kaki selalu bisa memberikan perspektif, inspirasi, atau temuan yang mungkin tidak akan terlintas saat kita naik kendaraan bermotor pribadi, kendaraan umum, dan bahkan saat mengayuh sepeda sekalipun.

Manusia ini dulu pemburu sebelum mengenal cocok tanam. Katanya, insting dan otak manusia bekerja optimal saat berjalan. Klaim ini sangat masuk akal.

Ketika bergerak, seyogyanya kita berada pada ground state—keadaan dasar. Saya percaya diam sendiri bukan ground state manusia. Karena saat diam kaku—saat tidak mengantuk atau tidak sedang beristirahat—banyak otot bekerja untuk meniadakan dorongan untuk bergerak. Beda halnya dengan tidur atau istirahat, kita tidak bergerak karena organ dan pikiran sedang isi ulang tenaga.

Berjalan sendiri meneruskan dorongan bergerak ini dengan baik. Saat berjalan, saya merasakan bahwa itulah saat dimana otak membutuhkan konsentrasi paling minimal perihal keseimbangan. Akibatnya, otak bisa memikirkan banyak hal lain, bahkan yang liar sekalipun. Akan beda halnya saat membawa sepeda, sepeda motor, apalagi mobil, konsentrasi habis untuk menakar jarak aman, melihat “lawan” di depan, dan melihat ke belakang lewat kaca spion, mengatur gas, kopling, dan perseneling. Pernahkah kamu mengalami ide besar muncul saat kamu berjalan? Somehow we think without borders and pressure while walking.

Bagaimanapun, berjalan adalah cara paling lambat untuk sampai ke tujuan. Zaman sudah canggih. Waktu bisa “dibeli” dengan uang dalam bentuk mesin bakar dan BBM. Kemudahan ini membuat kita kadang hanya memedulikan dua hal, yaitu asal dan tujuan. Jarang kita sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menikmati “proses” dari asal ke tujuan, seperti melihat menjamurnya franchise dan toko kelontong—pemilik modal semacam kehabisan ide dan malas berpikir, yang penting margin—dan kafe buat nongkrong anak muda, rumah-rumah warga yang makin terhimpit oleh tembok dan pagar yang menjulang, selokan yang dangkal, warung makan yang sepi, lauk-pauk di etalase yang dihinggapi lalat hijau sebesar ruas kelingking. Semua cuma sempat jadi perhatian saat kita berjalan kaki.

Begitu juga indahnya horizon dan pemandangan langit. Saat berkendara, kita terlalu fokus pada jalan berlubang dan pengendara sepeda motor yang punya kecenderungan tinggi menyalip di sisi kanan. Pada titik tertentu, lanskap jalan menawarkan sudut yang pas untuk melihat puncak bukit yang memerah di ujung sore atau atap-atap rumah yang saling berlomba ditinggikan namun tidak sengaja membentuk corak yang sedap dipandang mata. Apalagi saat dalam mobil yang beratap—berapa orang yang mampu membeli mobil tidak beratap, haha—pengendara tidak bisa melihat keindahan alam seperti gulungan awan seperti pacuan kuda perang dan kerlip bintang di malam tanpa awan yang sudah jarang. Siapa yang punya keistimewaan untuk menikmati semua itu? Pejalan kaki.

Saya tidak bermaksud bermelankoli dalam tulisan ini. Saya hanya ingin berbagi bahwa dalam laju kendaraan yang kita pacu, ada banyak hal yang kita lewatkan. Jadi, sekali-kali berjalanlah.

Berjalan membuat kita tahu bahwa kita hanya manusia yang banyak keterbatasan dan membuat kita lebih bersyukur atas sekian rupiah yang membantu kita cepat sampai tujuan. Berjalan membuat kita punya jeda untuk memikirkan hal-hal yang tak sempat dipikirkan. Berjalan membuat kita lebih peka karena kita bisa melihat kenyataan di jalanan dari dekat. Berjalan kaki juga bisa jadi parameter kebugaran tubuhmu. Berjalanlah yang jauh.

Banyak manfaat berjalan kaki, bukan? Dan yang terpentig, berjalanlah maka kita akan lebih menghargai waktu. Lebih menghargai waktu, berarti lebih menghargai hidup.

Jemputlah hidayah. Tak perlu selalu dinantikan.

Inilah salah satu jalan menjadi lebih baik lagi di hadapan Allah. Buat apa menunda lagi?

Yuk, berhijrah, ukhti. :). #kutipan #renungan #jilbab #hijab #hijabers #hijaber #hijabchic #muslim #dakwahislam #hijabsyari #jilbabsyari #muslimah #islam #muslimin #quote #duniajilbab #dakwah #islamicquotes 😊😇 (at tag mereka yg ukhti sayangi. 😊😇)

~ Dengan 3 Hal, Engkau Adalah Raja ~

Oleh : Ustadz DR. Syafiq Reza Basalamah حفظه الله

Ada tiga perkara, bila kau memilikinya, kau bagaikan Raja yang paling kaya di dunia ini.

1. Aman

Perasaan aman yang meliputi jiwa dan membalut hati, aman karena kau beriman dan takut pada Ilahi, hingga Allah menjagamu.

Ia merasa aman, karena ia tidak suka menyakiti tetangganya, temannya, orang-orang Islam, tidak suka mengadu domba, bahkan menjaga lisannya dengan baik maka jiwanya aman.

Bukan aman karena rumah dijaga oleh 4 satpam 5 anjing galak atau aman, karena pasang CCTV dan alarm yang setiap saat bisa berbunyi,

Bukan itu, justru itu semua tanda-tanda jika kau tidak aman.

2. Afiah

Tubuhmu sehat wal’afiat
Tak penyakitan, tak ada pantangan, tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal cari duit ‘tuk makan ini dan itu.

Sekarang, tak boleh di gunakan tuk makan ini dan itu.

3. Memiliki makanan hari itu

Bukan brangkas yang berisi fulus.
Bukan ATM yang penuh.
Bukan tabungan yang cukup untuk 7 keturunan.
Cukup memiliki makanan hari ini.

Besok gimana?

Serahkan pada Allah.

Yang tiada bisa diadakan, kalau Allah berkehendak dan kita mau berusaha.
Yang ada bisa hilang dan musnah dalam sekejap mata.

Maka yakinlah dengan apa yang berada disisi Allah dari pada dengan yang ada di tanganmu.

Bila 3 hal itu kau miliki, kau adalah Raja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بأسرها

“Siapa diantara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya”.

(HR Bukhari)

Masya Allah…

Jagalah Allah, niscaya kau akan aman.
Jagalah hubunganmu dengan hamba Allah.
Niscaya hidupmu tentram.

Sayangi tubuhmu dengan hidup sehat dan olahraga teratur..
Jangan menanti sakit.

Berdo’alah minta sehat pagi sore..sepanjang hari..
Bunuh ambisimu mengejar dunia, semakin dikejar ia semakin jauh.

Bersyukurlah dengan yang ada.

Kebutuhanmu sebenarnya tak banyak, tapi nafsu yang selalu mendikte…….

Kosong

Mengisi angan ku yang kosong dengan ketikan nurani yang berbicara melalui tarian jari-jari. Bergumul menjadi satu kesatuan tak terencana. Melainkan spontanitas intuisi dalam berkata. Berekspresi dalam kekosongan. 

Menumbuhkan ego dikala persaingan. Meninggalkan dusta diantara teman. Hal terbaik bagai daun di musim gugur. Lemah tak berdaya, diterpa angin di kala senja. Hal tak berguna yang diabaikan. Dilihat sebagai pengotor alam.

Jiwa raga tak kosong. Semua terisi dengan anugerah. Sepintas tak terlihat. Hanya menjaga kecantikan dalam agar tak terkotori pemikiran biadab. Nafsu harus terbelenggu. Kadang memang meluap. Waktu yang harus mengatur semua.

Hidup tidak hampa. Semua bercerita dari hingga sampai. Skema luar biasa tergambar dalam perilaku makhluk. Susah ditebak dikala senja tenggelam. Hati yang berkata terbiasa diam. Semua berpadu dalam kisah logika keindahan.

Hal tak terbayangkan muncul perlahan. Menakjubkan ketika tiba-tiba datang. Mengenal siapa diri. Menamai perbuatan dengan melodi. Menjadi diri berpribadi epik. Menjaga kebaikan dengan hina. Mempertahankan kedudukan sepihak. Kosong tak berisi, tak bermakna, tak begitu berarti.

Jodoh

Jodoh (n) adalah sebuah sosok yang membawa kita ke sebuah awal kehidupan baru penuh kemandirian, dimana kita yang jadi sang pemikir. Dan kamu akan sadar bagaimana rasanya jadi “orang tua” dari diri kamu sendiri.

Dulu, sering kali aku berpikir “Seandainya” penuh penyesalan. Dan sekarang aku bisa berpikir “Seandainya” dengan rasa percaya yang tinggi akan takdir Tuhan.

————————————————

Seandainya aku berani menyapa dia (1), mungkin sekarang aku bersama laki-laki yang tidak suka keramaian dan susah diajak jalan-jalan. Padahal aku suka sekali jalan-jalan.

Seandainya aku jadian dengan dia (2), mungkin saja aku yang saat ini diceraikannya. Itu satu hal yang paling ditakuti semua orang, terutama perempuan.

Seandainya aku bersama dia (3), mungkin akan sering melihat gelagat sok dewasa dibalik kechildisan sifatnya.Tidak menerima diriku apa adanya. DImana aku tidak bisa jadi diriku sendiri.

Seandainya aku terus bersama dia (4), mungkin aku akan tersiksa oleh bau asap rokoknya dan pergaulan lingkungannya yang kurang baik. Kadang “cinta” bikin kita buta.

Seandainya aku tidak menangkap basah dia (5) bersama perempuan lain, mungkin saat ini aku bersama laki-laki yang selalu membuatku cemas akan kegenitannya.

————————————————

Dan masih banyak lagi “seandainya” yang bisa kusebutkan di dalam pikiranku dan aku terus bersyukur kepada Tuhan karena Dia menjagaku dengan baik.

Mungkin kamu juga harus mulai berprasangka baik kepada Tuhan-mu. Karena jika saatnya sudah tepat, Dia akan memberikan kepercayaan-Nya untuk menjagamu kepada seseorang yang kamu sebut dengan Jodoh :)

Salam hangat penuh cinta.

[63] Catatan Akhir Waktu di Awal Waktu

Waktu mungkin dimensi yang paling melar sekaligus yang paling kaku, mengingat berbagai macam kejadian bisa terjadi dalam kejapan mata atau dalam perasaan ribuan hari. Ketika lari melewati waktu, sesungguhnya kita tak pernah tahu apakah kita menyusulnya atau mungkin selama ini ia hanya berlari bersama kita. Menemani kita bahkan di saat tergelapnya dan tanpa sadar… sudah banyak langkah kaki yang kita tinggalkan di belakang. Jumlahnya tidak ada yang tahu pasti, karena perhitungan manusia adalah yang paling buruk, seburuk jika kita lupa bahwa diri kita ada Yang Memiliki…

Adalah tugas kita untuk terus melangkah maju, walau waktu terus bergulir tanpa ada yang meminta. Gak kerasa men akhir semester udah berganti aja dan kurang dari seminggu semester baru akan dimulai. Perjalanan setahun kemarin mungkin salah satu yang paling epic dan WAJIB untuk disyukuri walau asem-asemnya lebih banyak dirasa. Tapi toh rasa asam memang ada untuk menguatkan rasa manis yang pasti akan kita rasakan. “Banyak hal yang udah terjadi” pasti udah jadi kata-kata paling mainstream diutarakan di jagad penulisan jurnal akhir tahun.

Awal Januari dimulai dengan menginap di Surabaya dan Malang, menjadi salah satu backpacking yang menarik karena tidak mengeluarkan biaya sepersen pun untuk akomodasi. Bertemu dengan teman seperjalan baru menjadi bekal untuk backpacking ke depannya.

Januari – April tahun lalu menjadi salah satu awal titik balik dari kehidupan gw. Gw gak pernah lupa ketika ketua UKM gw bernaung mengajak ngobrol sebentar dan dalam sekejap gw diserahi amanah untuk jadi Ketua Acara Tahunan proker BPHnya. Ibarat main game ketika gw masih level picik macem level 1 tiba-tiba dari misi untuk level 100. Semudah membalik telapak tangan memang, maksudnya telapak tangannya gajah. Susah banget kampret, berkali-kali gw miskomunikasi sama anggota, lalu ketika biaya tidak kunjung memadai,  kuliah gw pun sejujurnya berantakan sekali (ya gw sering menghilang dari kelas dan menjadi anggota terhormat Klub Telat Kumpul Tugas) hingga akhirnya ketika hari H ada kejadian yang membuat semuanya kacau. Akhirnya kami harus ngutang. Ya acara yang saya komandoi itu menurut saya pribadi merupakan kegagalan paling indah yang gw alami, karena dari situ akhirnya gw malah kenal banyak orang dan belajar banyak hal. Baru bulan Desember kemarin akhirnya dana dari kampus turun dan akhirnya gw bisa melunasi hutang. 

Pada bulan Maret akhirnya bisa juga keluar kota denga sponsor orang lain bersama seorang teman karena memenangi sebuah lomba < cerita detil menyusul

Juli tak lupa gw atas perjalanan bersama keluarga Tante gw yang merupakan adik dari bapak. Bagaimana akhirnya gw mengetahui asal usul keluarga dan tak lupa sepak terjang eyang gw dulu. Ditambah memperkaya pemandangan dengan mengunjungi 6 kota (Jakarta, Bandung, Pacitan, Purworejo, Solo, Yogyakarta) dalam seminggu. Ya men, Abah memang tidak salah kalau bilang

“ Permata yang paling berharga adalah keluarga , Istana yang paling indah adalah keluarga. Ada cerita di antah berantah, tuyul sedang bersidang. Si Ucil Tuyul yang suka melawan, mencuri tak mau dia” eh kayaknya kecampur sama lagu lain -__-

Candi Ratu Boko, Yogyakarta

Pantai di Pacitan

Padi, Purworejo

Agustus adalah awal semester kemarin, dimulainya kehectican acara 4 tahun sekali. Pasar Seni ITB 2014. Selama 3-4 bulan merasakan ketika mendesain “tidak selamanya menyenangkan”. Disinilah ketika ego, keinginan, dan kebutuhan ditempa agar semua keluar sesuai takarannya. Ini momentum yang menurut saya membuat lebih mengenal arus kerjaan di dunia desain. Gak akan pernah lupa ketika sms dan line bersahut2an nanyain gawean yang udah tenggat deadline.

Ya, bau keringatnya menempel hingga sekarang

September. Katanya orang yang tepat akan selalu datang di hadapan kita ketika dibutuhkan. Ya Kang Erwan mungkin jadi pemandu serta jawaban ketika hidup dirasa mulai membelok dari jalur yang seharusnya. Semua dimulai ketika saya mencari seorang mentor untuk mengingatkan kembali untuk apa sih sebenarnya kita hidup di dunia ini. Bukan terhitung jalan yang lumrah untuk sebagian orang, karena saya bersama 5 orang lainnya menghabiskan Selasa malam tiap minggunya untuk belajar lebih dalam soal agama atau sekedar berbincang soal hidup sehari-hari.

Desember. Ditutup dengan serangkaian UAS terpanjang mungkin dalam hidup yang baru gw alami. Satu setengah bulan penuh bukan waktu yang sedikit ketika ngerjain ujian seharian penuh. Untuk sebagian orang, amanah dan tanggung jawab hanyalah panggilan untuk sekedar menyelesaikan kewajiban. Namun untuk sebagian orang yang lain, amanah bisa jadi kesempatan untuk membuat karya ketika mimpi tidak lagi menawarkan jawaban nyata. Hanya sekarang celahnya untuk menciptakan sesuatu melewati batas normal orang lain, mendorong kekuatan batas diri sendiri.

UAS yang dikerjakan 5 hari 5 malam (trus mabok)

Ya waktu akhir tahun ini memang agak berbeda dengan tahun sebelumnya, gw habiskan dengan belajar agar pandai dan pintar supaya bisa s4 dalam waktu setahun ngerjain UAS ketika yang lain sedang berlibur dan pulang ke rumah untuk main gundu dan barbie ketemu orangtuanya. Tapi syukur alhamdullilah bisa menyempatkan pulang ke rumah karena paksaan dari orangtua dengan perasaan damai dan sukacita perasaan tidak tenang karena UAS belum berakhir sodara sodara. Ada obrolan yang paling gw ingat ketika pulang kemarin …

Bapak : Mas, kamu udah semester berapa ya? (ya bapak saya memang pelupa kalau urusan sekolah)

Saya : Enng, mau masuk semester 6, pak (sambil ngusap2 jendela biar jinnya keluar biar kinclong)

Bapak : Wah gak kerasa ya udah mau tiga tahun kamu di Bandung. Kayaknya baru kemarin bapak nganterin kamu ke Bandung

Gw : Ya iyalah pak, orang Bapak aja cuman sekali itu nengokin ke kostan ku di Bandung

Bapak : Hahaha, iya ya? Eh itu ada ikan Koi terbang! (pura-pura lupa dan mengalihkan pembicaraan, gak deng yang terakhir itu bohong kok.)

Gw merasa perubahan semakin hari semakin terasa nyata. Rambut yang mulai memutih serta kulitnya yang semakin keriput pada diri bapak saya sudah tidak bisa disangkal. Tubuh gw yang kini lebih tinggi daripada bapak saya sudah menjadi tanda bahwa gw tumbuh dalam banyak arti. Dulu waktu kecil masih ingat gw bagaimana bapak mengangkat koper bawaannya sendiri dengan gagah. Masih ingat gw ketika beliau yang kerap mengingatkan gw untuk tidak lupa menyimpan kunci rumah ketika berpergian. Kini semuanya terbalik. Sekarang gw yang lebih banyak membantu berperan dalam mengangkat barang bawaan yang berat. Gw lah orang yang selalu tenang dan santai mengingatkan dimana beliau menyimpan kunci rumah ketika beliau kalap dan lupa dimana ia menyimpan kunci rumah.

Terkadang waktu adalah mantra ajaib yang bisa merubah semuanya. Jangan sampai kita terbius dengan pelannya waktu padahal ia berjalan cepat, hingga kita tanpa sadar telah menua tanpa berbuat apa-apa.

Ini sekedar catatan super kecil dari kilas balik atas tapak hidup yang sudah dilangkahi.

Dibuat untuk dikenang bukan untuk dikekang.

Untuk dipelajari bukan untuk disesali.

Untuk disyukuri bukan untuk sekedar mengalami.