The Sunnah Prayers Explained by Shaykh 'Abd Al 'Aziz bin Baaz (rahimahullaah)

Question:
What are the Rawatib (Sunnah Prayers associated with Obligatory Prayers) which can be made up if the person misses them?

Answer:
The Rawatib which the Prophet, peace be upon him, used to preserve are twelve Rakats, these are the Rawatib; for the resident not the traveler. Twelve Rakats; four before Thur prayer with two tasleems, and two after Thur prayer; this is six. Two after Magrib prayer and two after Isha prayer; this is ten. And two before the morning (Fajr) prayer; this is twelve. The Prophet, peace be upon him, used to practice these consistently while present at his residence. And he, peace be upon him, said:

“Whoever preserves four Rakats before Thur and four after it, Allah will make him forbidden for the Fire.”

If the person prays four after Thur, thus adding two Rakat then this is better, but it is not Rawatib. The Rawatib is two Rakats. If he prays four after Thur prayer then this has in it virtue and a tremendous amount of good.

In a similar fashion before Asr prayer it is recommended for the person to pray four Rakats, but these are not Rawatib, rather they are recommended. This is based upon the statement of the Messenger of Allah, peace be upon him:

“May Allah have mercy upon the person who prays four Rakats before Asr prayer”.

Likewise if he prays two Rakats before Magrib prayer and two Rakats before Isha prayer, between the Athan and the Iqamah, this is recommended; but these are not Rawatib. Rather it is recommended after the Athan to pray two Rakats, after the Athan for Maghrib and after the Athan for Isha the person prays two Rakats; two Rakats which are different than the two Rakats to greet the Masjid.

As for greeting the Masjid, if the person enters the Masjid even before the Athan then he greets the Masjid with two Rakats of prayer. And if he enters after the Athan, the Athan of Maghrib or after the Athan of Isha, then he greets the Masjid with two Rakats of prayer and this will suffice him from the two Rakats between the Athan and the Iqamah.

As for travel - then it is only prescribed to pray the Sunnah prayers of Fajr and the Witr prayer. During travel the person only prays the Witr and Tahajjud prayers during the night, and he prays the Sunnah prayers of Fajr. As for the Sunnah prayers of Thur, Maghrib, and Isha, then it is better to leave them during travel. But as it relates to the Sunnah prayers of Fajr, then the Prophet, peace be upon him, used to preserve then during travel and while he was a resident.

And if the person misses the Sunnah prayer for Fajr he prays them after the Fajr prayer or after the sun has risen. As for the other Rawatib, for Thur, Maghrib, and Isha, then they are not made up after the time has passed; if the time passed they are not made up. Therefore one would not make up the Sunnah prayers for Thur after Asr, nor the Sunnah prayers for Maghrib after Isha, nor the Sunnah prayers for Isha after Fajr. These prayers are not made up. As for the Sunnah prayer for Fajr then it is made up. If he prays it after the Fajr prayer then there is no problem with this. And if he prays it after the sun has risen and reached its height then this is better.

As for the Sunnah prayer of Duha and Tahajjud prayers at night then they are prescribed for the travel and the resident. Likewise is the Sunnah prayer after completing Wudu; after the person completes Wudu it is recommended (for him to pray) whether he is on a journey or a resident.

Likewise if a person enters a Masjid while upon a journey he also prays two Rakats of prayer, even if he is travelling. May Allah reward you with good.

Therefore we will summarize the answer once again, if you will allow me; the Sunnah prayers which are recommended to make up.

First the summary of the answer: The twelve Rawatib which are specific to the resident are: Four Rakats before Thur with two tasleems, two Rakats after Thur with one tasleem; two Rakats after Maghrib with one tasleem; two Rakats after Isha with one tasleem, and two Rakats before the morning prayer after the rising of the Fajr. These are the Rawatib that the Prophet, peace be upon him, used to preserve.

As for those that are made up then it is only the Sunnah prayer for Fajr, if it is missed then it is made up after Fajr or after the rising of the sun. Likewise the Sunnah prayers that come before Thur can be made up after Thur. If the four Sunnah prayer that come before Thur are missed they are prayed after Thur, then he prays the two Rakats after Thur; thus praying six Rakats. The four that come before Thur, and the two Rawatib that come after Thur. May Allah reward you with good.

— Shaykh ‘Abd Al ‘Aziz bin Baaz (rahimahullaah)

Translated by Rasheed ibn Estes Barbee

(Source)

Sholat Sunnah Rawatib

Bismillah,

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba’diyah.
Di antara tujuan disyari’atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu.

Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sana-sini ketika melakukannya.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

♥ Pertama: Shalat adalah sebaik-baik amalan

“Ketahuilah, sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat.”
[HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

♥ Kedua: Akan meninggikan derajat di surga karena banyaknya shalat tathowwu’ (shalat sunnah) yang dilakukan

Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanyakan mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah.
Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu.”
[HR. Muslim no. 488]

Ini baru sekali sujud.
Lantas bagaimanakah dengan banyak sujud atau banyak shalat yang dilakukan?

♥ Ketiga: Menutup kekurangan dalam shalat wajib

Seseorang dalam shalat lima waktunya seringkali mendapatkan kekurangan di sana-sini sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”
[HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Untuk menutup kekurangan ini, disyari’atkanlah shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”
[HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

♥ Keempat: Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka’at dalam sehari akan dibangunkan rumah di surga.

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah
empat raka’at sebelum zhuhur,
dua raka’at sesudah zhuhur,
dua raka’at sesudah maghrib,
dua raka’at sesudah Isya
dan dua raka’at sebelum shubuh.”
[HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

─ Lakukan amalan ini terus-menerus lebih baik ─

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.”
[HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.]

Jadi:
Qobliyah (Sebelum):
Subuh 2 rakaat
Dzuhur 4 rakaat

Ba’diyah (Sesudah)
Dzuhur 2 rakaat
Magrib 2 rakaat
Isya 2 rakaat


Wallahua’lam.

Semoga bermanfaat :)


Sumber: Fanspage Jilbab ITU Cantik

Bacaan Surah Pendek Sholat Sunat Rawatib Sebelum Sholat Subuh.

Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu
Abbas mengkhabarkan kepadanya:
“Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh
dirakaat pertamanya membaca: ( ﻗﻮﻟﻮﺍ ﺁﻣﻨﺎ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻣﺎ
ﺃﻧﺰﻝ ﺇﻟﻴﻨﺎ ) (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat
keduanya membaca: ( ﺁﻣﻨﺎ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﺷﻬﺪ ﺑﺄﻧﺎ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ )
(QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727)

Sultan Muhammad Al-Fateh Penakluk Kota Konstantinopel

Sultan Muhammad Al-Fateh Penakluk Kota Konstantinopel

Sultan Muhammad Al-Fateh Penakluk Kota Konstantinopel

http://mselim3.blogspot.com | 12 Ogos 2014.

Sultan Muhammad Al-Fateh Penakluk Kota Konstantinopel Hadis Nabi Saw direalisasikan hampir 600 tahun kemudiannya oleh Sultan Muhammad Al-Fateh, Khalifah ke-7 Kerajaan Uthmaniyyah dengan 150,000 orang tenteranya. Siapakah Sultan Muhammad Al-Fateh? Apakah kehebatan baginda dan tentera-tenteranya…

View On WordPress

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yg begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yg lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankam ayyaamul baith, jangan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyu dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk. 😰

Tuhan, #Maafkamisedangsibuk - Ahmad Rifa’i Rif’an..

Istirahatkan dirimu dgn Shalat.. Selamat shalat dzuhur.. – View on Path.

Untuk kamu di masa depan

Entahlah apa sekarang sudah jadi tenggat yang tepat atau belum. Tidak ada salahnya mencoba menulis pemikiran yang luar biasa abstrak. Judul awalnya to the dearest. Tapi nggak jadi. Kesannya menye -_-. Anyway, let’s start it !

Untuk masa depan.

Hai, suami masa depan. Lagi apa sekarang ? Udah shalat isya ? Tadi shalat jum’at nggak ? Udah ngaji belum malam ini ? Gimana shalat sunnah dhuha, tahajjud, rawatib nya? Yang rajin usaha dan belajarnya buat masa depan kita yaa.
Heem aku nggak nuntut itu semua kok. Allah yang nuntut.

Waah maaf yaa aku belum nunjukin progress besar, tapi aku usaha kok. Jadi, nanti kalo kita ketemu insyaallah aku udah jadi istri yang baik. Mungkin nanti aku bakal jadi istri yang juga bekerja. Tapi, aku harus melaksanakan tugas utama sebagai istri, mengabdi pada keluarga. Maaf atas segala ketidakmampuan kelak yaa. Semoga kamu akan menyayangi keluarga kecil kita dan keluarga besar aku. Semoga pernikahan kita awet dan sekali seumur hidup. Aamin:)

Hai, anak masa depan. Waah enak yaa. Masih main di surga. Bunda (maunya dipanggil bunda biar imut) salam yaa buat yang di sana semua. Oh iya, nanti kalo kamu diselak waktu ngantri hidung. Kamu harus berani bilang “mas/mbak, bebek aja ngantri” hehe. Becanda ! Bunda kan baik :)

Nanti jadi anak yang shaleh. Jadi sesuai doa bunda, ayah, sama orang tersayang di sekitar kamu. Buat kami bangga ya, nak. Bunda sama ayah insyaallah usaha untuk masa depan dan kebaikan kamu dengan halal :)

Hai, mama dan bapak masa depan.
Makasih yaa udah nganterin aku sampai gerbang kesuksesan. Makasih atas doa dan segala jerih payah kalian. Janji dan usaha aku buat terus bahagiain kalian, merawat kalian, menjaga dan menemani kalian, mungkin nggak bakal cukup buat bisa nutup segala utang aku sama kalian. Semoga aku sudah cukup membuat kalian bangga.

Insyaallah nanti kita liburan sekeluarga. Sesuai janji aku buat kalian. Insyaallah cita-cita besar kalian di hari tua aku bantu wujudkan. Aamin. Doakan semoga keluarga kecil aku bisa mengarungi samudra lebih baik dari kalian dan mengantarkan cucu-cucu ke kehidupan yang lebih layak. Aamin. :’))

Hai, adik masa depan.
Makasih loh udah jadi temen main dan berantem yang baik. Untung sepatu, baju, tas, dan celana kita ukuran dan seleranya sama. Kan jadi bisa gantian.

Semoga keluarga kamu juga baik. Semoga anak kita berteman akrab ya. Semoga masa depan kita sama sama cerah. Salam buat keluarga kamu.

Hai, teman masa depan.
Makasih sudah menjadi pelipur lara. Ada saat suka maupun duka. A6 haha. Nggak kebayang seberapa aib dan konyolnya perilaku gue. Belum lagi kalo gue pms yang ngefek gue pundungan dan yang lebih parah kalo gue kenyang yang ngefek….. (kalo lu temen gue pasti tau apa yang terjadi) makasih atas kebahagiaan yang diberi A6666 hahaha.

Semoga kita awet dan langgeng selamanya aamin. Pesen kalo anak sist ada yang ganteng atau cantik, mohon dijaga, siapa tahu anak saya berminat. Kan enak punya besan temen sendiri. Hahaha

Dan itulah segelintir doa buat penduduk dalam kehidupan ini. Bismillah, mari kita raih masa depan yang cemerlang. Aamin.

Janji aku : aku akan berusaha semaksimal, seikhlas, sehalal mungkin buat kebahagian kalian

P.S : gue tahu ini super duper intermezzo. Percayalah gue pun getek. Tapi ini dari hati kok :)

anonymous said:

Asalamu'alaikum, I'm sorry to bother you, I've tried looking for an answer myself but I couldn't find anything from an authentic source. My question is about the 4 rakats sunnah before dhur, 'asr and 'isha. In the last two rakats of the 4 rakats, do we recite another surah after alfatihah? I've been reading another surah during these rakats all my life and I'm hearing that may be incorrect? JazakAllah khair for your time!

Walaikum Assalaam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu,

I hope this finds you in an excellent state of health & of iman Inshaa’ Allah.

I appreciate your consideration, however please don’t apologize. It is important to seek answers, granted they are from the appropriate sources, and I would be more than happy to help within my capacity Inshaa’ Allah.

Based upon my limited knowledge from what I have read, there is a difference in opinion between the madhahib in regard to reciting another Surah after Al Fatiha in the Sunaan Al Rawaatib (that is the supererogatory Salah before & after the Fard). According to the most correct opinion, it is Sunnah for one to recite a Surah in all rak’ah of the Rawaatib prayers.

It is sunnah for the person to recite a section of the Qur’an after al-Fatihah during the two rak’ah of the morning prayer and the Friday prayer, and the first two rak’ah of the noon, afternoon, sunset and night prayers, and in all of the rak’ah of the supererogatory prayers.

Abu Qatadah reported that the Prophet (sallAllahu ‘alayhi wa sallam) would recite al-Fatihah and some surah in the first two rak’ah of the noon prayer, and only al-Fatihah in the last two rak’ah. Sometimes he would recite some verses. The first rak’ah’s recital would be longer than the second. That was how it was done in the afternoon and morning prayers.

[Sahih Bukhari, Muslim and Abu Dawud]

(Source)

In the abridged version of The Prophet’s Prayer Described, Shaykh Al Albani (rahimahullaah) stated:

“It is from the Sunnah that he sometimes recites something in addition to it [Al Fatiha] in the last two rak’ahs also.”

Though the statement of Shaykh Al Albani (rahimahullah) is in reference to the Fard Salah, it may be practiced in the Rawatib, as indicated by the Hadith above. In regard to the four rak’ah for the Sunan Al Rawatib of Dhuhr and Asr, evidence from the Sunnah supports that they may either be performed together (as four) or in pairs of rak’ahs. And Allah knows best.

The supererogatory Salah is to be performed in pairs of Rak’ahs, that is, two Rak’ahs ending with Taslim (salutation of peace ending the Prayer), and then another two Rak’ahs ending with Taslim. The Prophet (peace be upon him) said: “The (optional) Salah by night and day should consist of pairs of Rak’ahs.”

(Source)

There is no need for concern as what you’re doing is not incorrect. I hope this helped, wa iyyak(i). May Allah subhanahu wa ta’ala increase us all in knowledge and grant us the ability to implement what we learn, Ameen.

Take care & have a lovely night!

anonymous said:

AsalamuAlaikum what are the sunnah prayers? I'm very confused :/ Many ppl tell me one thing and others say another thing. I want the legit answer, I'm sorry if this was an easy question but I honestly can't trust websites I go to cuz Idk if they are upon the Salaf.. get me? >_<

Walaikum Assalaam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu ukhti/akhi,

I pray you’re well and in the best of health & iman by the grace of Allah.

Please never hesitate when asking a question about the deen as we’re all working to increase upon our knowledge and seek the truth. I believe this response regarding the supererogatory prayers by the lovely sister Allaa’ (nonchalante) should answer your question.

Please remember that it is highly important to pray the supererogatory Salah (Sunaan Al Rawatib), and indicates a deficiency in one’s deen to consistently abdandon them.

Ibn Taymiyyah (rahimahullâhu) was asked, “What is said concerning a person who is inconsistent with the supererogatory Sunnah prayers?”

He (rahimahullâhu ta’ala) responded, “Whoever continuously abandons the Sunnah prayers, then this shows a weakness in his Religion. In the madhab of Ahmad (d.241H), Ash Shafi’î (d.204H) and others, his witness is rejected.”

[Majmû’ ul Fatâwâ (23/127)]

I hope the above answers your query Inshaa’ Allah. Also, if you are looking for websites upon the way of the Salaf, I encourage you to visit my Resources page, which lists authentic websites for a large number of subject areas.

Finally, please do not hesitate to ask if you have further questions or concerns.

Take care & have a beautiful evening/afternoon/morning!

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video