Rumah

"I’m only happy when I’m with you.
Home for me is where you are.
I try to smile and push on through.
But home for me is where you are.”

image

Aku menyebutmu rumah, bukan tempat singgah. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan. Kamu adalah alasan dibalik segala kepulanganku. Melewati malam-malam sulit, dengan menemukanmu ada disana saja sudah meringkankan bebanku meski hanya sedikit. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal-hal yang tak pernah bisa kutolak darimu.

Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu kamu? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

Karena di dekatmu, kesedihanku tidur dengan lelap. Di ninabobokan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit kugambarkan. Senyummu, sudah memasuki dosis manis yang paling kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa kucegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya. Perlakuanmu, dengan magis mengubah tangis jadi tawa paling manis. Semakin hari, semakin aku dibuatmu jatuh cinta. Aku terlalu bahagia. Sampai lupa mempertanyakan satu hal yang paling fatal membuat segala luka jadi kekal.

Termasuk apakah aku buatmu?

Rumah ataukah tempat singgah?

Karena aku terlalu takut, bukan hanya aku saja yang mencicipi manis yang kau ciptakan. Karena aku terlalu takut untuk terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati. Jika nanti ada jarak yang menggagalkan kita untuk bersama, bolehkah aku tetap memanggilmu rumah? Tempat ketetapan kemana hati ini menetap. Tempat kemana aku mengirimkan rindu meski jauhnya jarak memisahkan.

Dan tempat kemana hati yang lelah ini ingin selalu pulang.

Hey, objek kesukaanku.

Hati sedang liar pertengahan hari ini. Aku si pemiliknya tak bisa apa-apa selain membantu mengutarakannya. Bolehkan kau ikut andil bagian dalam membaca dan mendengarkan?

Aku sedang iri. Iri dengan orang-orang di sekelilingmu yang bisa leluasa menikmati sosok nomor satu yang memenuhi pelosok hatiku. Iri dengan mereka yang ketika membuka mata langsung melihat kau ada. Iri dengan mereka yang bahagianya tersponsori karena kau tertawa. Iri dengan mereka yang tanpa malu-malu menyapamu dengan merangkul bahu, bermanja padamu, dan bercerita segalanya. Rasanya aku ingin berada di posisi itu.

Aku iri. Salahkah perasaan ini?

Kubentak hati agar tak seperti ini, tapi lagi-lagi butir-butir perasaan itu lahir dengan sendiri. Bukannya iri itu berhenti, malah menjalar menjadi rasa rindu yang kuat sekali.

Aku ingin terus bersama, tapi atas dasar apa? Bagaimana bisa, jika hanya aku yang terus memperjuangkan kita, jika hanya aku yang membayangkan segalanya, jika hanya aku yang memelihara cinta. Bagaimana aku bisa pelihara cinta, jika ia tak pernah tumbuh ditengah-tengah kita? Aku tak ingin menyalahkan siapapun, mungkin cinta memang bukan milik kita. Tapi kuharap Tuhan ingin meralat rencana untuk menyatukan kita dengan pasangan lainnya. Karena hanya bersamamulah kurasakan keunikan satu rasa bernama cinta yang mengandung sejuta rasa lainnya. Karena hanya bersamamulah semuanya kujalani tanpa beban, meski hati sudah luka-luka diperban. Jika nanti ada satu tanya keluar dari mulutmu tentang mengapa bisa semudah itu melakukan segalanya untukmu, jawabanku hanya satu. Karena tak semudah itu jika bukan kamu objeknya.

Rumah

"I’m only happy when I’m with you. 
Home for me is where you are. 
I try to smile and push on through. 
But home for me is where you are.”

Aku menyebutmu rumah, bukan tempat singgah. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan. Kamu adalah alasan dibalik segala kepulanganku. Melewati malam-malam sulit, dengan menemukanmu ada disana saja sudah meringkankan bebanku meski hanya sedikit. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal-hal yang tak pernah bisa kutolak darimu.

Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu kamu? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

Karena di dekatmu, kesedihanku tidur dengan lelap. Di ninabobokan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit kugambarkan. Senyummu, sudah memasuki dosis manis yang paling kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa kucegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya. Perlakuanmu, dengan magis mengubah tangis jadi tawa paling manis. Semakin hari, semakin aku dibuatmu jatuh cinta. Aku terlalu bahagia. Sampai lupa mempertanyakan satu hal yang paling fatal membuat segala luka jadi kekal.

Termasuk apakah aku buatmu?

Rumah ataukah tempat singgah?

Karena aku terlalu takut, bukan hanya aku saja yang mencicipi manis yang kau ciptakan. Karena aku terlalu takut untuk terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati. Jika nanti ada jarak yang menggagalkan kita untuk bersama, bolehkah aku tetap memanggilmu rumah? Tempat ketetapan kemana hati ini menetap. Tempat kemana aku mengirimkan rindu meski jauhnya jarak memisahkan.

Dan tempat kemana hati yang lelah ini ingin selalu pulang.

lovepathie.tumblr.com

Suatu kali dalam hidup, aku pernah merasa begitu jatuh, hilang jejak, tapak tak lagi dapat berharap. Hingga kemudian aku bertemu kamu. Lugu senyummu yang merona merah malu-malu. Ceria suaramu kala tertawa, begitu menggoda. Dan aku, kembali jatuh, lebih dalam, tak kuat untuk bangkit. Ingin lebih lama lelap pada hatimu. Aku jatuh cinta dan tak lagi bisa berbuat apa-apa, selain berjuang dengan kesabaran yang sungguh. Lalu kau mulai menoleh, membuka hati, mempersilakan cinta menelusup pelan-pelan, membiarkan bunga-bunga perasaan bermekaran, kemudian kita saling bergenggaman erat seutuh kesetiaan yang terjaga rapat. Aku cinta kamu. Sesederhana kamu mencintaiku. Aku cinta, kamu cinta. Cukup aku kamu cinta cukup kita. I Love You..

Sia-sia

Mereka bilang ribuan hal terbuang sia-sia ketika hatiku mulai memperioritaskanmu. Tanya mereka mengudara.

“Untuk apa?

Tatapan-tatapan sinis mengusirku untuk pergi mengeluarkan tangis. Kini aku dihujani kata-kata yang membuatku seperti dilempari batu bata. Posisi terlemah mampu membuat diriku terlihat jadi yang paling salah. Sia-sia? Lagi-lagi dua kata kembar itu menyambar, seketika rasanya hambar. Tapi hati mencoba tetap tegar dan kokoh seperti pilar. Sia-sia? Mereka tahu apa? Hatiku yang memperjuangkan ini itu. Mengapa tiba-tiba mereka jadi merasa yang paling tahu? Menurutku, kesia-siaan itu justru lahir di detik pertama jika aku mendengarkan mentah-mentah kata mereka. Karena aku rela melakukannya. Rela pun didasari lapisan termanis bernama cinta. Jadi persetanlah dengan segala kata sia-sia. Musnahlah dari surga dan dunia.

Karena aku yang merasa, bukan mereka. Tutuplah telinga dan juga mata, sia-sia hanya berlaku bagi mereka yang suka memposisikan diri jadi korban cinta yang paling terluka.

Sederhana - Rumit (Bersama @idrchi)
  • @idrchi: sederhananya, kita sedang saling menunggu. rumitnya, kita tak pernah saling tahu.
  • @lovepathie: sederhananya, kita sedang saling menunggu. rumitnya, tak pernah ada yang menghampiri lebih dahulu.
  • @idrchi: sederhananya, kita saling menunggu. rumitnya, siapa tahu kita tak sedang saling menuju.
  • @lovepathie: sederhananya, kita saling menunggu. rumitnya, kita berpikir telah saling mengganggu.
  • @idrchi: sederhananya, kita sedang saling menunggu. rumitnya, bukan hanya aku yang kamu tunggu.
Bersiaplah Untuk Ini

Tentang hal-hal sulit yang telah kamu lalui, mereka bicara banyak tentang pelajaran. Mendewasa adalah pilihan, mau diproses atau tidak. Mungkin sakit, mungkin ini jauh dari ekspektasi dan mungkin rasanya sudah ingin menyerah lebih awal. Tapi percayalah bahwa ini hanya sementara dan suatu hari kamu akan tersenyum karena berhasil melaluinya dengan baik.

Tentang orang-orang yang biasa kamu andalkan, mungkin pada masa-masa terberat, mereka akan meninggalkan. Tenang dan tetaplah kuat. Ini adalah pelajaran bahwa manusia selalu mengecewakan, maka andalkanlah Tuhan. Jika mereka melangkahkan kaki dari arena tempurmu, hadapilah sendiri. Mungkin itu cara Tuhan menyeleksi, nanti juga kau akan dapatkan pengganti.

Tentang peristiwa-peristiwa yang susah kau mengerti. Lakukanlah bagianmu sesuai porsi, biar nanti bagian Tuhan yang akan melengkapi. Ingatlah, kacamatamu berbeda dengan kacamata Tuhan. Apa yang tidak kelihatan, belum tentu tidak ada kan? Tetaplah kuat, selagi menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan.

Mungkin, menerima keadaan adalah hal yang sulit. Bahkan merelakan bagian-bagian yang hilang, mengikhlaskan kepergian, pun juga mengobati luka hati juga tak kalah sulitnya. Tapi jangan perlama penyembuhanmu. Cepatlah bangun dan bertindaklah, jangan sampai kamu dililit oleh keadaan sulit.

Jika kini diijinkan mengalami, mungkin karena kita juga dimampukan untuk melalui. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin supaya kita bisa mencegah orang lain agar tak berada di posisi ini. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin agar tak jatuh dua kali. Jika kini diijinkan mengalami, mungkin agar lebih dulu miliki ‘obat’ untuk esok hari. Kehilangan adalah jembatan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Bersiaplah.

Cara Luka Bekerja

Pernah menjejakkan kaki saat luka terlalu suka memuntahkan ‘perihnya’ disana? Kamu takkan bisa berlari, karena mereka akan mengikatmu dengan simpul mati. Kamu takkan bisa mendapatkan pertolongan untuk keluar, karena semua pintu tak punya arah tuju. Mereka buntu.

Satu-satunya cara untuk keluar adalah menghadapinya. Satu-satunya jembatan tercepat untuk bangun dari mimpi buruk ini adalah jangan banyak meronta, cukuplah miliki sebuah rela. Pikirmu akan penuh dengan peristiwa reka ulang dimana pasukan luka belum menyerang. Dimana harapan masih menyamar jadi ibu peri yang baik, yang mampu mengabulkan seluruh pintamu hingga kenyataan disulap serupa mimpi buruk.

Luka terlalu berbahaya untuk menginap di hatimu, menyewa ruang tanpa jangka waktu. Menghapus luka adalah dengan berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya. Kalau seluruh ruang pikir mengingatkanmu, berlagaklah kau perasa yang amnesia dan pemaaf yang luarbiasa. Jangan karena satu luka terakhir yang kau miliki membuat hati menutup pintunya pada yang sebenarnya ingin menjadi penghuni.

Jika luka masih terasa begitu sakit, mungkin karena kamu pernah jatuh dengan terlalu kencang. Semakin dalam jatuhnya, semakin dalam lukanya, semakin lama sembuhnya. Sembunyikan lukamu dengan perban, tutupi agar tak tersentuh oleh kenangan-kenangan lama. Pergi sejauh yang kau bisa dari arena yang mengingatkanmu akan luka, setidaknya jangan biarkan masa lalu menyentuhmu dan membuat luka baru untuk sementara waktu. Sampai kamu siap, sampai kamu sembuh.

Segala peristiwa pertama kali adalah penentu yang paling ahli. Terutama bagaimana saat kamu menanggapi luka. Berusaha mengobati atau hanya diam sampai goresan itu menginfeksi dengan sendiri? Jangan takut akan tanda seusai sembuhnya luka. Ia hanya akan mengingatkanmu, untuk tak jatuh ke muara yang sama. Maaf adalah obat penyembuh yang paling ampuh. Meskipun kamu disakiti berulang kali, maafkanlah untuk kesembuhan masing-masing hati.

Mungkin kamu tak pernah meminta, tapi beginilah cara Tuhan mengajarkanmu caranya untuk mendewasa dengan sukarela lewat sebuah luka.

Yang Akhir-Akhir Ini Mengganggu Kepala

Untuk yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.

Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru. Aku. Memikirkanmu. Kepala menerka-nerka apa yang sedang disajikan realita. Namun, aku tak mengerti. Aku tak bisa mengerti lelucon ini, atau memang selera humorku yang tidak terlalu tinggi. Mengapa kamu? Sejak kapan? Benarkah? 

Pertemuan - Perpisahan - Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?

Tiba-tiba saja, aku terbiasa dengan adamu. Ketika hampa memenjarakanku, setepat itu kamu tiba. Bukankah dulu kita tak pernah bersentuhan dengan perasaan? Benarkah kita sudah memasuki arena ini? Rasa yang saling berpapasan, lalu nyaman dan memilih tinggal. Sebuah kosong yang dinyamankan oleh sebuah kehadiran. Namun satu sama lain tidak pernah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Atau memang hanya aku yang terjebak dalam jerat rasa yang kuperankan sendirian? 

Semua tentangmu jadi sentimentil. Aku tak mengerti mengapa aku jadi takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan. Mengapa aku ingin telingamu mendengar sesuatu yang berisikan perasaan malu-malu yang kini menjadi pencipta rona pipiku. Tapi aku begitu takut kalau-kalau kamu tak miliki perasaan yang sama. Kalau-kalau harapanku saja yang terlalu tinggi. Sementara rasa semakin menebal, semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal, takut-takut kalau kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Ternyata mengingkari tak semudah ini. Aku terlalu takut jika suatu hari ada pengakuan yang nantinya akan membuat kita menjadi berjauhan. Kalau-kalau kita hanya akan jadi bahan tertawaan semesta, aku yang terlalu mudah jatuh hati dan kamu yang belum mampu mencintai. 

Seperti yang sudah-sudah, resiko bertemu adalah berpisah. Entah kapan, entah lusa, entah beberapa pekan lagi. Entah bagaimana untuk membuat segalanya baik-baik saja. Karena melangkah, takut membuat segalanya berubah dan mundur pun takut seperti mengabaikan kesempatan yang sudah ditawari. Tapi segala rasa takut hanya mimpi buruk yang bisa kau atasi dengan mempercayai segalanya saat kamu terbangun nanti. Semoga segalanya di waktu yang tepat, tanpa perlu ada yang berubah menjadi asing. Semoga segalanya tiba di waktu yang tepat, tanpa ada yang menyesali karena sudah terlambat. Semoga pertemuan kita waktu itu, bukan berujung pisah. Semoga tidak ada yang mengingkari atau saling menyakiti.

Aku-kamu, satu. 

Saling menemukan, saling menjaga, saling tak ingin berpisah

Selamat membaca, selamat merasa

image

Ajari

Ajari aku untuk memelukmu lebih lama, sampai aku lupa cara melepaskannya. Ajari aku untuk menyadari bahwa kebahagiaan telah tersedia sesuai porsinya, sebelum kesedihan melahap berpuluh suap. Ajari aku caranya bertahan jika hatimu sudah bersikeras untuk melepaskan. Ajari aku caranya menghafal segala pertanda, jika ‘usai’ atas kita akan segera tiba.

Ajari aku untuk tetap tersenyum disaat pencipta senyumanku pergi menciptakan senyuman untuk orang lain. Ajari aku caranya percaya pada ikrarmu untuk membahagiakanku. Karena nyatanya, tindakanmu selalu terbentur oleh dia. Ajari aku caranya bersikap saat di depanku kalian menyodorkan sepiring cemburu. Ajari aku caranya menyeimbangkan angan-angan dan kenyataan.

Ajari aku menyeleksi mana yang termasuk tingginya ekspektasi dan kesungguhan isi hati. Ajari aku menuliskan kelanjutan cerita-cerita kita tanpa harus sambil menitikan airmata. Ajari aku untuk menutup telinga dari berita yang mencairkan luka. Ajari aku untuk mengeliminasi sesal dan kecewa yang mulai berjejal. Ajari aku untuk menjelaskan siapa sejujurnya, saat kau bertanya penyebabku ber-airmata.

Ajari aku memilih terus atau berhenti memperjuangkan saat hanya aku satu-satunya yang berjuang. Ajari aku untuk tetap menatapmu saat yang kau tatap bukan lagi aku. Ajari aku cara menyadarkanmu bahwa memang bukan aku yang paling sempurna, tapi untukmu akulah yang terbaik. Ajari aku untuk memutar rekaman peristiwa, dimana waktu berhenti disana, disaat kita masih bersama.

Ajari aku merencanakan kepergian saat lukalah satu-satunya yang kau suguhkan. Ajari aku mencelikkan mata pada yang hanya berniat menyakiti saja. Ajari aku merakit maaf dan tulus mengirimkannya untukmu. Ajari aku harus bagaimana meladeni ucapan manismu yang meninabobokanku ke dunia mimpi. Ajari aku untuk tahu kapan batasnya berhenti atau meneruskan seracik rasa lagi. Ajari aku menghapus airmata secepat kilat saat kamu merangkul tangannya dan menghampiriku.

Ajari aku untuk berhati-hati saat senyummu menghiasi tiap temu, sapamu jadi penambah nyawa bahagiaku dan percakapan kita meninggalkan rona. Ajari aku untuk tidak lagi memanggilmu tempat singgah, tapi rumah. Ajari aku untuk mengantisipasi rindu setiap selesainya sebuah temu. Ajari aku menemukan pintu keluar dari labirin kehilangan ini. Ajari aku untuk sabar menunggu, disela-sela ketidakpastian begitu erat merangkulku.

Ajari aku untuk menyudahi rasa yang masih rahasia.

Terus Seperti Itu

Aku akan lebih banyak diam. Lebih banyak menerima. Lebih banyak rela. Lebih banyak kehilangan dan lebih banyak terluka. Aku akan lebih banyak diam, sementara kamu tak perlu tahu apa-apa. Aku akan lebih banyak mengadu pada Penciptaku. Aku akan bicara soalmu sebebas-bebasnya, cukup dengan Dia. Aku akan lebih banyak terlihat baik-baik saja di depanmu. Agar bahagiamu bebas berkeliaran, sementara milikku terpenjara pada kehilangan yang paling sunyi. Aku akan lebih banyak menunduk untuk mengacuhkanmu, meski dengan menatapmu itu nyawa terbesarku. Aku takkan tega membiarkan wajahku terlihat penuh airmata saat melepasmu tanpa aba-aba. Ketidaktahuanmu itu sungguh mericuhkan duniaku yang rasanya ingin bersuara menunjukkan semua. Tapi tak semuanya harus terlihat, tak semuanya harus terungkap, meski harus tahunan atau selamanya dijaga. Tak apa, mungkin begini seharusnya cinta diperankan. Padamu, olehku.

Tidak ada yang tahu sebesar itu perasaanku. Tidak ada yang tahu bahwa sebegitu berharganya satu pertemuan yang menghadirkan kamu. Tidak ada yang tahu bahwa bersebelahan denganmu, itulah yang kutunggu. Kamu asing dengan duniaku dan duniamulah yang membiasakanku dengan keberisikan akan dia. Mungkin ini saatnya menutup telinga dari suara-suara yang menggoreskan luka baru, ini saatnya kepergianku. Ini saatnya aku membawa pergi hati dan seisinya agar terobati. Lebih cepat angkat kaki, lebih baik. Aku tak ingin membiarkan perulangan ini melukaiku berulang-ulang dan aku hanya akan menanggapinya dengan sebuah ‘kembali’. Semoga ini tidak akan terjadi.

Jika

Jika tanganmu memang harus terlepas, janganlah sampai ada luka yang membekas. Jika kau memang seharusnya pergi, janganlah menarik tanganku kembali. Jika ingin memilih dia, janganlah ajak aku untuk hadir juga dalam sebuah segitiga. Jika memang cerita tentang kita seharusnya berhenti, berikan saja waktu untuk mengerti. Jika aku sudah tak sepenuhnya kau perlukan, bisakan jangan hadirkan sebuah pelukan?

Sebatas jika, aku tidak sepenuhnya suka. Tapi untuk mengatasi luka, jika kamu tidak bisa memberikan hati tolonglah menurutinya.

Kamu menjauh, aku akan memproses hati agar sembuh.

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video