padaku

Repost from @s4id_ramadhan 😊😊😊
.
.


Tak Terucap Namun Ingin Diungkap

Seseorang pernah bertanya padaku,
“Mengapa kau begitu suka menuliskan puisi?”
Kujawab,
“Karena aku tetap ingin berkata banyak, saat bibirku enggan berucap.” Beberapa orang tak pernah ingin memahami
Bahwa puisi bukan tentang keluhan hati
Yang meringis
Dan memaksa setiap mata untuk menangis
Bukan

Aku begitu ingat
Kali pertama aku suka menulisa kata demi kata
Yang pada akhirnya menjadi menjadi sesuatu yang biasa
Kala itu
Aku ingin berkata banyak ranpa perlu bersuara
Betapa banyak hal yang enggan kuucap namun tetap ingin kuungkap
Dan mereka adalah tentang kau

Maka,
Sampai kapanpun nanti
Jangan lagi sibuk bertanya
Mengapa tulisanku begitu puisi

Karena kau adalah tanya
Yang ingin kujawab dengan sederhana
Yang ingin kurindu dengan doa
Yang ingin kucinta lebih dari sekadar air mata.
____________________
Kutipan puisi dalam buku “Karenapuisiituindah”, karya @tiasetiawati2709

#KPIIjilid2 #instapoem

Undangan Untuk Mengundang

Komunikasi yang sempat terputus baru terjalin kembali. Semenjak pertemuan tidak disengaja itu, kita kembali akrab. Dan kini semuanya berjalan lebih indah. Bahkan kini aku sudah kenal dengan keluargamu begitupun kamu, walau memang perkenalan sebagai teman lama. Iya, hanya teman lama.

Aku menikmati setiap detik yang bergulir bersamamu saat ini, Mungkin juga melepas rindu yang telah lama terpendam. Setidaknya sekarang aku sudah pandai menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Walau sudah lama berpisah, walau sempat tak ada kabar berita, ternyata perasaan ini masih sama ketika pertama kali aku melihatmu kembali. 

Pertemuan itu membuatku kehilangan kata-kata. Jantungku masih berdegup kencang ketika melihat sosokmu yang berdiri di hadapanku dan menyapa “Hai hujan, apa kabar? Kamu hujan kan?” Ternyata waktu tak benar-benar meluruhkan perasaanku padamu. Sejak awal perjumpaan kita aku enggan mengetahui tentang asmaramu karena itu merupakan bagian paling riskan untuk hatiku. Aku juga tak akan menanyakannya karena kamu pun tak menanyakan apapun padaku seputar kehidupan percintaanku selepas kepergianmu. 

Aku juga tak ingin memanjakan hatiku dengan pengharapan padamu. Berulang kali aku menegaskan pada hatiku sendiri bahwa ini adalah persahabatan yang terjalin kembali, tak perlu ada unsur cinta di dalamnya.

Tiba-tiba saja hari ini kamu mengajakku makan siang bersama. Di sebuah restoran bergaya klasik di kota kelahiranmu. Kamu nampak dewasa dan semakin rupawan mengenakan kemeja biru muda itu. Aku sudah datang sedari tadi sebenarnya, hanya saja aku memilih untuk berkata aku terlambat dan duduk mengamatimu dari kejauhan. Hanya untuk melepaskan rinduku akan sosokmu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, aku segera menghampirimu

Hujan : Assalamualaikum langit, maaf aku terlambat

Langit : Waalaikumsalam. Ah iya tidak apa-apa. aku sudah memesan makanan tadi. Kita langsung makan saja ya :)

Hujan : Wah hebat, ingatan mu lumayan bagus, masih hapal saja kau dengan makanan kesukaanku

Langit : Jangan panggil aku langit kalau seperti ini saja aku lupa

Hujan : Haha baiklah

Sesekali aku mencuri pandang kearahmu. Menggulirkan beragam pertanyaan pada benakku. Wanita mana yang beruntung mendapatkan hatimu kini. Mendapatkan mata teduh dan senyum ikhlas yang sudah ku kagumi sejak lama itu. Ah dia pasti sangat beruntung.

Kamu memecah keheningan dan menghentikan lamunanku dengan memberikan gulungan perkamen berwarna biru. Aku terdiam menatapnya.

Langit : Oh ya, ini ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu

Hujan : Apa ini?

Langit : Buka saja :)

Sebenarnya aku enggan untuk membukanya, jantungku berdegup kencang, akankah semua mimpi burukku menjadi kenyataan. Lamat-lamat aku mengamati tulisan paling atas dari kertas ini, tak berani aku melanjutkan membukanya lagi hanya mampu lirih mengucap…

Hujan : Wedding Invitation?

Langit : Iya

Jantungku sepertinya sudah berhenti berdetak sejak membaca tulisan itu dan mendengar pengakuanmu. Entah harus berkata apa, aku tergugu. Hening selama beberapa detik, aku larut dalam seluruh pemikiran dan perasaanku. Memandang kosong ke arah undangan yang begitu indah di tanganku ini. Ah, andai saja ini undangan kita. Andai saja

Hujan : Selamat kalau begitu. Kapan acaranya?

Langit : Secepatnya. Tinggal membubuhkan tanggal saja jika kesepakatan antara dua keluarga sudah tercapai. Ini baru desain saja, aku ingin meminta pendapatmu. Bagaimana, bagus tidak?

Hujan : Indah, teramat indah. Desainnya bagus, warnanya pun bagus. Biru. Andai biru muda mungkin aku lebih suka. Eh, hmm maksudku mungkin jika biru muda kamu akan lebih menyukainya. Toh, kamu penggila biru muda

Langit : Rencananya aku memang akan merubah warnanya menjadi biru muda

Aku mencoba untuk tak menitikan air mata mengetahuinya. Aku mencoba tegar dengan menanyai mu tentang perhelatan bahagia itu

Hujan : Lalu sudah sejauh mana persiapannya?

Langit : Semuanya sudah siap, tinggal dari wanitanya saja sebenarnya, jika ia sudah setuju dengan semuanya. Maka semuanya akan segera terlaksana. Cetak undangan, sebar undangan, perihal katering dan segala macamnya tinggal ucap tanggal saja, semua sudah beres.

Hujan : Gerak cepat juga ya kamu. Lalu tinggal tunggu apalagi? Lagipula kenapa tak ada nama yang diundang diatas sini? Mengapa masih kosong? Kira-kira kapan acaranya? Aku harus mempersiapkan kado nampaknya.

Langit : Undangan ini belum cetak, masih menunggu siapa-siapa saja yang ingin kita undang

Baru saja aku ingin bertanya akan pernyataanmu pelayan restoran menghampiri dan menawarkan promosi hari ini. Sebuah kue pencuci mulut katanya. Fortune cookies. Ah semoga saja aku beruntung setelah memakannya.Aku memilih satu fortune cookies begitupun dengan kamu. Mengetukkannya pada piringku dan membaca tulisan di dalamnya. Aku hanya tertawa membaca gulungan di dalamnya. Koki di restoran ini pasti salah memasukkan tulisan pikirku.


Langit : Mengapa kamu tertawa?

Hujan : Kokinya sepertinya salah memasukkan kata-kata keberuntungan

Langit : Maksudmu? Memang apa tulisan yang kamu dapat? Coba-coba aku
ingin lihat

Hujan : Dengarkan ya, aku akan membacakannya

Langit : Tidak, aku ingin membacanya sendiri

Hujan : Baiklah, nih baca saja sendiri

Langit : Will you marry me?

Hujan : Hahaha, lucu kan

Langit : Apa nya yang lucu? Bukankah seharusnya kamu menjawabnya?

Hujan : Haha, iya seharusnya dijawab jika ada yang mengatakannya padaku. Tapi kan ini fortune cookies, seharusnya kalimat keberuntungan yang ada di dalamnya

Langit : Menurutmu ini bukan kalimat keberuntungan?

Hujan : Ayolah, kamu pasti mengerti rupa kalimat keberuntungan itu semacam apa. Kecuali jika …

Spekulasi apapula yang berlalu lalang di benakku. Enggan aku melanjutkan kalimatku
.

Langit : Kecuali apa?

Hujan : Kecuali, ah bukan apa-apa ayo lanjutkan lagi pembicaraan kita tadi, sudah sampai mana ya tadi?

Langit : Kecuali apa hujan? Kecuali jika aku melamarmu begitu?

Hujan : Hei, bicara apa kamu? Sudah mari bahas pernikahanmu saja

Jangan pernah memancingku untuk goyah lagi langit, aku mohon. Hari pernikahanmu sudah di depan mata


Langit : Kamu belum membaca undangan itu memangnya?

Hujan : Maksudmu? Sudah lah, buktinya aku tau itu undangan pernikahanmu

Langit : Kamu tahu maksudku mengundangmu kesini apa?

Hujan : Memberikan undangan ini untuk mengundangku

Langit : Lebih tepatnya adalah memberikan undangan untuk mengundang

Hujan : Maksudmu? Ah! Mengapa bahasamu jadi lebih rumit sekarang?

Kamu tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan mengambil perkamen undangan itu, membuka seluruhnya dan menyuruhku membacanya. Membaca tulisan yang membuat hujan bahagia memelukku seketika. Pada undangan itu terukir nama kedua insan yang sedang berbahagia.

Hujan Mimpi & Biru Langit

sembari menyodorkan tulisan keberuntungan itu diatas nama kedua mempelai kamu berujar …

Langit : Sudah jelas? Lalu jika aku berkata demikian bagaimana?  Will you marry me? Masihkah kamu berkata ini lucu? Aku melamarmu hujan. Aku melamarmu tepat pukul 12 siang di tanggal 12 hari ini.

Hujan : Kamu berniat merobohkan bentengku lagi? Permainan macam apapula ini?

Langit : Aku tidak sedang bermain, aku serius. Tidak juga sedang bercanda, karena pernikahan bukan bahan untuk bercanda. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Jadi, sudah cukup semuanya selama ini. Sudah cukup jarak yang memisahkan. Sudah cukup semua komunikasi yang tak menyatukan. Sudah, aku hanya ingin berlabuh. Kali ini langit ingin selalu bersama denganmu hujan. Sekali lagi aku tanya padamu, bersediakah kamu menjadi pelabuhan terakhirku? Bersediakah kamu menjadi pendampingku dan bersama-sama melakukan kebaikan demi menuju surga-Nya kelak?

Aku kehabisan kata-kata. Hanya airmata yang melukiskan kebahagiaanku siang ini. Langit itu tetap biru namun kini rintik hujan perlahan membasahi bumi. Aroma tanah basah kembali menyeruak. Inikah akhir dari segala penantian dan sakit yang selama ini aku rasakan?


Hujan : Kamu tidak becanda kan?

Langit : Untuk apa? Aku diawal pun sudah bilang ‘tinggal dari wanitanya saja sebenarnya, jika ia sudah setuju dengan semuanya. Maka semuanya akan segera terlaksana‘ tinggal menunggu kamu setuju tidak untuk aku jadikan pelabuhan terakhir. Aku juga sudah berkata ‘undangan ini belum cetak, masih menunggu siapa-siapa saja yang ingin kita undang‘ jelas aku berkata kita. Bukan aku dengan wanita lain. Bahkan aku sudah bertanya will you marry me, tapi kamu malah mengganggap kata-kataku sebagai lelucon.

Hujan : A…a…aku pikir kamu dengan wanita lain. Undangan ini undangan mu dengan wanita pilihanmu itu

Langit : Kamulah wanita pilihanku. Dari awal hingga saat ini dan untuk selamanya akan tetap kamu wanita pilihan untuk mendampingi hidupku. Tak ada yang lain. Bersediakah kamu menikah denganku?

Hujan : Apa airmataku dan rinai hujan siang ini belum cukup memberikan jawaban bahwa aku menerima lamaranmu?

Langit : Terima kasih. Terima kasih untuk penantian selama ini. Terima kasih untuk penjagaan diri selama ini. Terima kasih untuk doa-doa yang kamu haturkan selama ini, sehingga aku bisa kembali menemukan jalan pulang ke rumah hatimu. Terima kasih

Hujan : Terima kasih juga karena mau kembali dan menjadikan ini semua menjadi nyata, bukan hanya sekedar mimpi semata.

Langit : Kalau begitu, mari kita pulang dan aku akan mulai membicarakan ini dengan orang tuamu. Selanjutnya, tinggal membubuhkan nama pada undangan itu untuk mengundang mereka yang ingin kamu undang. Undangan ini untuk mengundang yang ingin kamu undang.


Memenuhi UNDANGAN gowithepict

Tangerang, 18 April 2015 13:22 WIB

By Hujan Mimpi

gambar diambil dari pinterest.com

Seharusnya aku sadar, aku adalah satu dari seribu penghibur yang menghibur hatimu.

Seharusnya aku sadar, bagimu, dicintai banyak orang hanya butuh waktu. 

Seharusnya aku sadar, nyaman yang kau berikan, tak mengartikan kau cinta padaku.
genggam tanganku jangan khawatir, masa depanmu percayakan padaku | sudah tunai t...

genggam tanganku jangan khawatir, masa depanmu percayakan padaku | sudah tunai tugas kedua orangtuamu, kini biarkan aku jadi ganti ayahmu

aku mungkin belum mampu berikan padamu nikmat dunia | namun aku bisa berusaha membawa kita ke surga

tatap mataku dan lihatlah, bahwa aku sejak awal serius bersamamu | untuk melindungimu, membimbingmu, sudah kusiapkan sedari dulu

bagi orang mapan itu harta, bagiku mapan itu ketaatan | karena harta tanpa ketaatan itu musibah dan ujian

aku tak tahu tantangan kedepan, namun aku tahu taat itu jalan keluar | aku tak minta banyak darimu, hanya taat pada Allah dengan sebenar

bicaralah padaku kapanpun engkau mau, seperti apapun engkau suka | jangan takut bila tersalah, tugas suami adalah membimbing istrinya

berjalanlah disampingku, temani aku, semangati aku, tetap disini | engkau kupilih agar ringan dakwah ini bersama dijalani

dari sekarang, maafkan aku bila satu saat aku marah dan menyakitimu | bagaimanapun aku bukan Nabi, hanya lelaki yang berusaha meniru

dan satu saat bila aku terjatuh hilang semangat dan lelah | bisikkan kepadaku “ingat, semua karena Allah”

“Bagaimana Aku Bisa Pergi?”

Bila suatu saat aku pergi
Itu hanya berarti satu
: Kau sudah tak ingin ada aku

Katakan satu hal padaku
Dengan terbuka dan apa adanya
Bagaimana aku bisa pergi
Bila kau masih memberi arti pada hati?
Sedangkan cinta juga menolak untuk amnesia
Pada sosok pria yang luar biasa.

Bagaimana aku bisa pergi
Bila setiap pagi, adalah suaramu yang paling pertama menyapa diri?
Mengingatkan untuk tak lupa sarapan
Dan mengajak untuk berdoa banyak kebaikan.

Bagaimana aku bisa pergi
Bila kau masih saja memberi hati dalam bentuk perhatian tanpa henti?
Acuhkan aku, kurasa kau tak mau.

Bagaimana aku bisa pergi
Bila aku masih saja berharap kau adalah satu yang ditakdirkan Tuhan untukku?
Bukan yang lain
Pun bukan masa lalu

Harapku belum lagi mati,
aku tak bisa pergi.

Tangerang, 18 September 2014

- Tia Setiawati

#tiasetiawati #instapoem

Aku Bosan...

Lagi, aku mencari tahu tentangmu. Aku cuma ingin menenangkan hatiku dengan perasaan tersisa, meski memang kamu tidak tau atau tidak mau tau. Jujur aku enggan terjebak, tapi aku sudah berada dalam labirin hatimu. Sulit untuk menemukan pintu keluar, sekali keluar ternyata menyesakkan dada 2x lipat. 

Aku jenuh terus berada di posisi itu. Aku tau aku capek dan aku pun tahu, kamu tidak akan pernah tau. Aku ingin menjadi penyebab di balik tawamu atau sekedar membuatmu tersenyum ketika melihatku. Aku ingin menghangatkan bayangan kosong di sampingmu.

Tapi yang mampu kuberikan hanyalah pelukan maya; yang mungkin tak pernah menjadi nyata.

Kamu selalu bercerita padaku. Masa lalumu. Akupun mencari tau, lewat dunia mayamu, temanmu, atau apa saja yang bisa aku introgasi. Ternyata masa lalumu sangat berharga. Sebuah rasa sakit menggedor jantungku. Sulit untuk dihentikan. Sulit untuk membuatmu melihat ada aku di depanmu. Hatimu tetap menginginkannya.

Jadi kapan kamu keluar dari masa lalumu? Dan melihatku? Sebentar lagi aku sudah tidak sanggup, kamu masih belum mau meninggalkannya?

Kembali. Aku lemah. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Hanya saja, aku tidak tau harus bagaimana membuatmu berhenti melihatnya. Lagi-lagi aku yang harus mengerti dan memperingatkan hatiku untuk bertahan. Lantas, kamu tak pernah tau pernyataan yang sebenarnya, bahwa;

Aku bosan hanya jadi tempat curhatmu.


This is for you, Anonim yang katanya sedang dilanda kegalauan karena seseorang itu tidak bisa berhenti menginginkan masa lalunya.

“Sampai Kau Menujuku”

Beberapa orang menganggap bahwa sebuah penolakan adalah pertanda kita harus lebih keras berusaha
: Aku salah satunya.

Pernyataan cintaku kala itu adalah sebuah pengakuan sederhana
Yang telah kusiapkan berhari-hari lamanya.

Tidak.
Jangan meminta maaf karena kau telah menolaknya.
Jangan meminta maaf.
Karena bila kau meminta maaf
Aku tahu aku tak punya kesempatan lainnya.

Berjalanlah terus seperti biasanya
Tertawalah lagi, karena dengan begitu kau tampak lebih indah
Tersenyumlah, karena dunia ini tidak akan kemana-mana
Berbahagialah…

Dan di mana pun kau berada nantinya
Kau tahu aku akan setia
Tetap akan menunggumu sampai kau bisa
Sampai kau siap
Sampai kau menerima

Karena aku akan menunggu
Sampai kau menuju padaku.

Tangerang, 2 Oktober 2014
- Tia Setiawati

#tiasetiawati #instapoem

Renungan Pagi

Apa yang kita bicarakan adalah cermin dari yg kita pikirkan.
Apa yang kita pikirkan adalah cermin dari kita rasakan.
Apa yang kita rasakan adalah apa yg ada di hati.
Apa yang ada di hati adalah cermin diri.
Dan cermin diri menunjukkan kualitas diri….di hadapan Allah dan di hadapan manusia…

Suatu saat, lukmanul hakim di perintahkan majikannya untuk menyembelih seekor kambing. Lalu disembelihlah kambing tsb. Kemudian majikannya mengatakan, “berikan padaku daging yg terbaik”. Lalu, Lukmanul hakim memberikan lidah dan hati kambing tsb.

Lalu majikannya memerintahkan kembali pada lukman untuk menyembelih seekor kambing lagi. Lalu disembelihlah kembali seekor kambing. Kemudian majikannya berkata, “berikan padaku daging yg paling buruk.”
Lalu Lukman memberikan Lidah dan Hati kambing tersebut.

Majikannya bertanya, “Mengapa saat aku minta daging terbaik, kau berikan lidah dan hati dan saat aku minta daging terburuk, kau berikan juga lidah dan hati. Apa maksudnya?”

Lalu Lukmanul Hakim berkata, “Sebaik-baik perkara adalah Lidah dan hati, jika keduanya baik. Dan seburuk-buruk perkara adalah Lidah dan Hati, jika keduanya buruk.”

Yang manakah kita?

Akhukum fillah,
Arsalsjah
Di grup MA 2

Bernilai Nol

Guyuran hujan menjadi badai, tetapi aku menemuimu tak gentar melangkah melawan basah. Menuju panggilan kemenangan yang selalu menggetarkan; penuh berkah kebaikan. Parasmu begitu mendamaikan hingga menjadikan semu merah pada pipiku. Tertunduk.

Hati merapal doa-doa. Menginginkanmu berpaling padaku yang tak berani melangkah lebih dulu. Hanya mampu menyebut keinginan-keinginan di dalam dada. Merangkai kata-kata harapan sebatas maya. Di dalam kepala, segala kenangan tentang perjumpaan terus berputar seperti rekaman usang.

Kenyataan bahwa aku mampu mengabaikan satu poin penting yang menjadi kurangmu, menurutku. Kenyataan bahwa aku hanya memegang satu kelebihanmu yang mampu meyakinkanku, tanpa mengenalmu lebih jauh. Kesadaran bahwa setiap manusia harus belajar memberi toleransi kelemahan orang lain dan melihat keunggulan yang juga dimilikinya untuk dapat hidup bersama dan berbahagia.

Setiap orang bernilai nol, ujar seorang teman. Artinya, setiap orang memiliki kelebihan yang bernilai plus satu, namun juga memiliki kekurangan yang bernilai minus satu. Kamu seperti itu. Aku juga sama. Jadi, tidak ada kondisi saling menuntut. Hanya ada proses bersama untuk saling menerima dan melangkah beriringan.

Semoga, harapanku sampai padamu. Sebagaimana kita sama-sama percaya, Dia adalah tujuan hidup kita. Bukan siapa-siapa atau apa-apa. Selamat bertemu di takdir-Nya!

Jangan terlalu percaya padaku. Sesekali aku pembual. Berlagak kuat dan kebal, padahal hati dirasuki beribu sesal.

aku tahu. kalaupun aku kembali ke tempat asal ku; semua rasa celaka itu takkan kembali padaku lagi.

kerana telah ku benam semua rasa jahanam hingga yang ke paling dalam di suatu tempat yang tak pernah aku kenal

Repost from @deeaura811

“Mungkin Setelah Kemarin

Mungkin setelah kemarin, kamu tak akan ada lagi.
Dan aku pun tidak akan menyebut namamu,dalam doa-doa di sepertiga malamku.

Mungkin setelah kemarin, aku tak akan pernah lagi bertanya-tanya.
Tentang mengapa kau mampu melepaskanku dan memberi kesedihan yang luar biasa.

Karena aku sungguh hanya wanita biasa saja.
Yang mampu sakit hati dan terluka luar biasa.

Dan ternyata, naluriku tak bisa dipaksa amnesia.
Mencintaimu dengan kadar yang jauh lebih besar dari cintamu padaku, adalah hal yang luar biasa menyakitiku.

Maka setelah kemarin, aku akan berjalan sendiri saja.
Tak akan ada lagi kasih untukmu, yang biasa ku taburi bunga dalam lingkaran cintaku.

Inilah hidup yang nyata kan, Tuan?
Terkadang kita mampu berjalan dengan tegap, setelah ada seseorang yang membuat hati kita pengap.

Salah satu puisi dari KPII jilid II #KPIIjilidII #puisi #kumpulanpuisi #poetry #Tiasetiawati ”

Insya Allah, kita akan terus saling mendukung dan saling menopang hingga kita masing-masing tak dapat menopang diri kita sendiri nantinya karena usia.

Aku tak dapat menjanjikanmu apa pun yang tak dapat kuberikan untuk diriku sendiri. Aku mencintaimu, karena aku mempunyai cinta yang cukup untuk kita berdua. Aku ingin merawat dan menjagamu, sebaik aku merawat dan menjaga diriku sendiri. Tak lebih, tak kurang.

Aku akan selalu setia padamu, sepanjang aku ingat bahwa kesetiaan adalah harga diri yang harus kujunjung tinggi. Dan sebagaimana aku bersetia, aku percaya bahwa Semesta juga akan membantu untuk menjaga hatimu untukku.

Kau tak perlu merasa malu ketika suatu hari nanti kau menggantungkan hidup padaku. Karena tak selalu aku akan kuat, dan pada saat itu, izinkan aku menggantungkan keseluruhanku padamu. Karena untuk apa menjalani hidup berdua, kalau segala kesusahan dan kesenangan tak dapat dibagi bersama?

Karena untuk apa kita saling mencintai, kalau bukan untuk saling menopang, merawat, menjaga, dan bersetia? Bukankah semua itu hakikat cinta?

Sampai bertemu lagi esok malam. Aku merindu, Kekasih. – View on Path.

Undangan Untuk Mengundang

Komunikasi yang sempat terputus baru terjalin kembali. Semenjak pertemuan tidak disengaja itu, kita kembali akrab. Dan kini semuanya berjalan lebih indah. Bahkan kini aku sudah kenal dengan keluargamu begitupun kamu, walau memang perkenalan sebagai teman lama. Iya, hanya teman lama.

Aku menikmati setiap detik yang bergulir bersamamu saat ini. Mungkin juga melepas rindu yang telah lama terpendam. Setidaknya sekarang aku sudah pandai menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Walau sudah lama berpisah, walau sempat tak ada kabar berita, ternyata perasaan ini masih sama ketika pertama kali aku melihatmu kembali.

Pertemuan itu membuatku kehilangan kata-kata. Jantungku masih berdegup kencang ketika melihat sosokmu yang berdiri di hadapanku dan menyapa “Hai hujan, apa kabar? Kamu hujan kan?” Ternyata waktu tak benar-benar meluruhkan perasaanku padamu. Sejak awal perjumpaan kita aku enggan mengetahui tentang asmaramu karena itu merupakan bagian paling riskan untuk hatiku. Aku juga tak akan menanyakannya karena kamu pun tak menanyakan apapun padaku seputar kehidupan percintaanku selepas kepergianmu.

Aku juga tak ingin memanjakan hatiku dengan pengharapan padamu. Berulang kali aku menegaskan pada hatiku sendiri bahwa ini adalah persahabatan yang terjalin kembali, tak perlu ada unsur cinta di dalamnya.

Tiba-tiba saja hari ini kamu mengajakku makan siang bersama. Di sebuah restoran bergaya klasik di kota kelahiranmu. Kamu nampak dewasa dan semakin rupawan mengenakan kemeja biru muda itu. Aku sudah datang sedari tadi sebenarnya, hanya saja aku memilih untuk berkata aku terlambat dan duduk mengamatimu dari kejauhan. Hanya untuk melepaskan rinduku akan sosokmu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, aku segera menghampirimu

Hujan : Assalamualaikum langit, maaf aku terlambat
Langit : Waalaikumsalam. Ah iya tidak apa-apa. aku sudah memesan makanan tadi. Kita langsung makan saja ya :)
Hujan : Wah hebat, ingatanmu lumayan bagus, masih hapal saja kau dengan makanan kesukaanku
Langit : Jangan panggil aku Langit kalau seperti ini saja aku lupa
Hujan : Haha baiklah

Sesekali aku mencuri pandang kearahmu. Menggulirkan beragam pertanyaan pada benakku. Wanita mana yang beruntung mendapatkan hatimu kini. Mendapatkan mata teduh dan senyum ikhlas yang sudah kukagumi sejak lama itu. Ah dia pasti sangat beruntung.

Kamu memecah keheningan dan menghentikan lamunanku dengan memberikan gulungan perkamen berwarna biru. Aku terdiam menatapnya.

Langit : Oh ya, ini ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu
Hujan : Apa ini?
Langit : Buka saja :)
Sebenarnya aku enggan untuk membukanya, jantungku berdegup kencang, akankah semua mimpi burukku menjadi kenyataan. Lamat-lamat aku mengamati tulisan paling atas dari kertas ini, tak berani aku melanjutkan membukanya lagi hanya mampu lirih mengucap…
Hujan : Wedding Invitation?
Langit : Iya
Jantungku sepertinya sudah berhenti berdetak sejak membaca tulisan itu dan mendengar pengakuanmu. Entah harus berkata apa, aku tergugu. Hening selama beberapa detik, aku larut dalam seluruh pemikiran dan perasaanku. Memandang kosong ke arah undangan yang begitu indah di tanganku ini. Ah, andai saja ini undangan kita. Andai saja
Hujan : Selamat kalau begitu. Kapan acaranya?
Langit : Secepatnya. Tinggal membubuhkan tanggal saja jika kesepakatan antara dua keluarga sudah tercapai. Ini baru desain saja, aku ingin meminta pendapatmu. Bagaimana, bagus tidak?
Hujan : Indah, teramat indah. Desainnya bagus, warnanya pun bagus. Biru. Andai biru muda mungkin aku lebih suka. Eh, hmm maksudku mungkin jika biru muda kamu akan lebih menyukainya. Toh, kamu penggila biru muda
Langit : Rencananya aku memang akan merubah warnanya menjadi biru muda.
Aku mencoba untuk tak menitikan air mata mengetahuinya. Aku mencoba tegar dengan menanyaimu tentang perhelatan bahagia itu
Hujan : Lalu sudah sejauh mana persiapannya?
Langit : Semuanya sudah siap, tinggal dari wanitanya saja sebenarnya, jika ia sudah setuju dengan semuanya. Maka semuanya akan segera terlaksana. Cetak undangan, sebar undangan, perihal katering dan segala macamnya tinggal ucap tanggal saja, semua sudah beres.
Hujan : Gerak cepat juga ya kamu. Lalu tinggal tunggu apalagi? Lagi pula kenapa tak ada nama yang di undang di atas sini? Mengapa masih kosong? Kira-kira kapan acaranya? Aku harus mempersiapkan kado nampaknya.
Langit : Undangan ini belum cetak, masih menunggu siapa-siapa saja yang ingin kita undang.
Baru saja aku ingin bertanya akan pernyataanmu pelayan restoran menghampiri dan menawarkan promosi hari ini. Sebuah kue pencuci mulut katanya. Fortune cookies. Ah semoga saja aku beruntung setelah memakannya.Aku memilih satu fortune cookies begitupun dengan kamu. Mengetukkannya pada piringku dan membaca tulisan di dalamnya. Aku hanya tertawa membaca gulungan di dalamnya. Koki di restoran ini pasti salah memasukkan tulisan pikirku.
Langit : Mengapa kamu tertawa?
Hujan : Kokinya sepertinya salah memasukkan kata-kata keberuntungan
Langit : Maksudmu? Memang apa tulisan yang kamu dapat? Coba-coba aku
ingin lihat.
Hujan : Dengarkan ya, aku akan membacakannya.
Langit : Tidak, aku ingin membacanya sendiri.
Hujan : Baiklah, nih baca saja sendiri.
Langit : Will you marry me?
Hujan : Hahaha, lucu kan
Langit : Apanya yang lucu? Bukankah seharusnya kamu menjawabnya?
Hujan : Haha, iya seharusnya dijawab jika ada yang mengatakannya padaku. Tapi kan ini fortune cookies, seharusnya kalimat keberuntungan yang ada di dalamnya.
Langit : Menurutmu ini bukan kalimat keberuntungan?
Hujan : Ayolah, kamu pasti mengerti rupa kalimat keberuntungan itu semacam apa. Kecuali jika …
Spekulasi apapula yang berlalu lalang di benakku. Enggan aku melanjutkan kalimatku.
Langit : Kecuali apa?
Hujan : Kecuali, ah bukan apa-apa ayo lanjutkan lagi pembicaraan kita tadi, sudah sampai mana ya tadi?
Langit : Kecuali apa Hujan? Kecuali jika aku melamarmu begitu?
Hujan : Hei, bicara apa kamu? Sudah mari bahas pernikahanmu saja.
Jangan pernah memancingku untuk goyah lagi langit, aku mohon. Hari pernikahanmu sudah di depan mata.
Langit : Kamu belum membaca undangan itu memangnya?
Hujan : Maksudmu? Sudah lah, buktinya aku tau itu undangan pernikahanmu
Langit : Kamu tahu maksudku mengundangmu kesini apa?
Hujan : Memberikan undangan ini untuk mengundangku.
Langit : Lebih tepatnya adalah memberikan undangan untuk mengundang.
Hujan : Maksudmu? Ah! Mengapa bahasamu jadi lebih rumit sekarang?
Kamu tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan mengambil perkamen undangan itu, membuka seluruhnya dan menyuruhku membacanya. Membaca tulisan yang membuat hujan bahagia memelukku seketika. Pada undangan itu terukir nama kedua insan yang sedang berbahagia.
Hujan Mimpi & Biru Langit
Sembari menyodorkan tulisan keberuntungan itu di atas nama kedua mempelai kamu berujar …
Langit : Sudah jelas? Lalu jika aku berkata demikian bagaimana?  Will you marry me? Masihkah kamu berkata ini lucu? Aku melamarmu Hujan. Aku melamarmu tepat pukul 12 siang di tanggal 12 hari ini.
Hujan : Kamu berniat merobohkan bentengku lagi? Permainan macam apapula ini?
Langit : Aku tidak sedang bermain, aku serius. Tidak juga sedang bercanda, karena pernikahan bukan bahan untuk bercanda. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Jadi, sudah cukup semuanya selama ini. Sudah cukup jarak yang memisahkan. Sudah cukup semua komunikasi yang tak menyatukan. Sudah, aku hanya ingin berlabuh. Kali ini langit ingin selalu bersama denganmu hujan. Sekali lagi aku tanya padamu, bersediakah kamu menjadi pelabuhan terakhirku? Bersediakah kamu menjadi pendampingku dan bersama-sama melakukan demi menuju surga-Nya kelak?
Aku kehabisan kata-kata. Hanya airmata yang melukiskan kebahagiaanku siang ini. Langit itu tetap biru namun kini rintik hujan perlahan membasahi bumi. Aroma tanah basah kembali menyeruak. Inikah akhir dari segala penantian dan sakit yang selama ini aku rasakan?
Hujan : Kamu tidak becanda kan?
Langit : Untuk apa? Aku di awal pun sudah bilang ‘tinggal dari wanitanya saja sebenarnya, jika ia sudah setuju dengan semuanya. Maka semuanya akan segera terlaksana‘ tinggal menunggu kamu setuju tidak untuk aku jadikan pelabuhan terakhir. Aku juga sudah berkata ‘undangan ini belum cetak, masih menunggu siapa-siapa saja yang ingin kita undang‘ jelas aku berkata kita. Bukan aku dengan wanita lain. Bahkan aku sudah bertanya will you marry me, tapi kamu malah mengganggap kata-kataku sebagai lelucon.
Hujan : A…a…aku pikir kamu dengan wanita lain. Undangan ini undanganmu dengan wanita pilihanmu itu
Langit : Kamulah wanita pilihanku. Dari awal hingga saat ini dan untuk selamanya akan tetap kamu wanita pilihan untuk mendampingi hidupku. Tak ada yang lain. Bersediakah kamu menikah denganku?
Hujan : Apa airmataku dan rinai hujan siang ini belum cukup memberikan jawaban bahwa aku menerima lamaranmu?
Langit : Terima kasih. Terima kasih untuk penantian selama ini. Terima kasih untuk penjagaan diri selama ini. Terima kasih untuk doa-doa yang kamu haturkan selama ini, sehingga aku bisa kembali menemukan jalan pulang ke rumah hatimu. Terima kasih
Hujan : Terima kasih juga karena mau kembali dan menjadikan ini semua menjadi nyata, bukan hanya sekedar mimpi semata.
Langit : Kalau begitu, mari kita pulang dan aku akan mulai membicarakan ini dengan orang tuamu. Selanjutnya, tinggal membubuhkan nama pada undangan itu untuk mengundang mereka yang ingin kamu undang. Undangan ini untuk mengundang yang ingin kamu undang.


gambar diambil dari pinterest.com

Memenuhi UNDANGAN gowithepict
Tangerang, 18 April 2015 13:22 WIB
By Hujan Mimpi


This is yours  hujanmimpi
Dari sini nih~

Ayah Terbaik

Begitu bahagianya aku ketika Allah menitipkanmu padaku. 

Aku harus mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku selalu berusaha merawatmu meski aku bukanlah perawat terbaik di dunia, dan aku pun wajib mendidikmu walaupun aku bukanlah guru terbaik bagimu.. itu semua ku lakukan bukan karena aku merasa harus terus menerus memilikimu, tapi karena aku berusaha menjaga titipan Allah padaku.

Aku mencintaimu, nak.. meski cintaku padamu tak sebesar cinta Allah terhadapmu.

Aku ingin menjagamu seumur hidupku, walaupun aku sadar kelak suamimu akan lebih pandai menjaga dan mengasihimu lebih dari aku. Sampai kapanpun kau tetap putri kecilku, maaf jika selama ini ayah tak bisa selalu bersamamu. Aku hanya berharap bisa menjadi yang terbaik bagimu meski tak akan pernah bisa sesempurna seperti inginmu.


  Satria Utama | Relationship Coach 

Mahukah Dia ampunkan aku
Mahukah Dia terima taubatku
Mahukah Dia mendengar rintihku
Mahukah Dia kasih lagi padaku
Allahu ampunkan diriku
Terimalah permohonanku
Terimalah taubatku
Dengarlah rintihanku
Kasihanilah hambamu ini

Priaku ini baik.

Mungkin priaku ini tak terlalu baik. Banyak hal darinya yang membuat mulutku diam bungkam. Iya, dia tak baik. Tapi kejujurannya akan sikap buruknya (yang masih dilakukan hingga kini) justru menunjukkan jika dia baik.

Mungkin benar dari segi pandang priaku tak baik. Tapi dibandingkan kamu, priaku lebih baik. Priaku masih mau membungkukkan badan penuh hormat tatkala bersalaman dengan kedua orang tuaku. Masih mau bertanya dimana bapak, ketika jam pulang dari rumahku tak ia temui sosok ayahku menemuinya.

Pria memang tak baik, tapi dia masih mau mengatakan sifat buruknya padaku. Tak sepertimu, meski kau berjalan setengah hati bersamaku, kau berpura seolah mencintaiku utuh.

Priaku mungkin tak baik, dia tak menyebut atau memposting tentang diriku pada akun Tumblr-nya. Tapi aku tahu dihatinya ada aku. Mungkin kau romantis, romantis pada wanita yang kau cintai. Bukan pada wanita yang kau miliki (dulu).

Priaku baik. Tak seperti dirimu yang senang melempar kesalahan untuk membuatmu tampak tak bersalah.

Priaku itu baik. Dia masih mau meminta maaf, padahal kesalahannya tak sebesar kesalahanmu padaku.

Priaku juga sama sepertimu. Dia seorang sarjana. Tapi sifat dan sopan santunnya jauh berbeda darimu.

Pria baikku memang tak selalu baik. Karena aku tahu dia adalah manusia biasa yang tak luput dari salah apalagi kata sempurna.

Pria baikku itu adalah dia;

PRASTIAN ILHAM AKBAR

Bandung, 2 Mei 2015
novelisnova