naafifatimah

Menjadi hati-hati dengan hati (perempuan)

Hei, kamu. Ingin tahu sedikit rahasia perempuan? Bukannya aku ingin membongkar rahasia mereka, tetapi sepertinya rahasia ini sudah menjadi sesuatu yang ramai dibicarakan oleh khalayak umum. Sebelumnya, sudahkah kamu membaca cerita yang aku tulis sebelumnya? Sepertinya mereka saling berkaitan. Baik, mari kita sedikit berpetualang pada hati (perempuan).

Perempuan menyimpan banyak sekali rahasia. Dan hati lah yang memiliki wewenang eksklusif untuk menjaga rahasia-rahasia tersebut.

Pada tulisan sebelumnya, aku bercerita bahwa ada sebuah fenomena yang sering sekali terjadi pada hati perempuan, yakni jatuh cinta.

Asal kamu tahu, perempuan itu mudah sekali jatuh cinta. Entah itu yang namanya jatuh cinta, atau hanya rasa kagum yang berlebihan. Karena kebiasaan inilah, mereka sering menderita penyakit kegeeran.

Iya, geer. Disenyumin, ngiranya suka. Disapa di dunia nyata dan dunia maya, ngiranya ngasih kode. Melihat dia on, deg-degannya setengahnya jiwa, padahal di-chat saja tidak. Walaupun di-chat cuma nanya ataupun say ‘hai’ doang, hati rasanya udah kayak diajak terbang dengan balon-balon yang ada pada kartun “Up”. Takut merasa kehilangan dan cemburu melihat dia dekat dengan yang lain, padahal belum resmi jadi siapa-siapanya. Tiap hari stalking blog dan media sosialnya, siapa tahu dia ngetik status ataupun nulis sebuah tulisan tentang dirinya. Padahal tidak sama sekali.

Geer. Yayaya, namanya juga perempuan.

Perasaan geer inilah yang menyebabkan perempuan selalu merasa menjadi layang-layang. Tarik… Ulur… Tarik… Ulur… Mereka selalu merasa laki-laki lah yang bersalah. Memainkan hati mereka dengan seenaknya, layaknya layang-layang. Tidak merasa bahwa dirinya juga salah. Kalau bukan karena kegeeran, babak ceritanya pasti akan berbeda lagi.

Menjaga sebuah rasa itu memang tidak mudah, bagi perempuan.

Jadi…

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Asal kamu tahu, perempuan adalah makhluk yang menyukai kepastian. Bukan kepastian masa depan, harta, ataupun keamanan. Tetapi ini… *nunjuk hati*.

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Jagalah ia dengan sebuah jarak. Jarak yang memungkinkan kamu (dan ia) untuk bermetamorfosa, menjadi seorang makhluk Tuhan yang sesuai dengan sunnah-Nya. Jarak yang mematangkan jejak, sikap dan hati kamu. Jarak yang menjaga kehormatan(nya). Iya, jarak—menjadi satu-satunya cara untuk menjaga hati (perempuan). 

Hei, kamu yang entah sekarang sedang memiliki rasa apa… selamat berhati-hati ya, dengan hati (perempuan). :)

Bogor Malam, 2 September 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Sadarkah engkau bahwa hidup ini pada hakikatnya sedang mengambang? Setengah tenggelam. Setengah muncul ke permukaan. Mengambang… Terus mengambang… Hingga akhirnya, sampai di sebuah tempat. Penuh dengan fluktuasi. Terlalu sadis untuk diresapi, dan terlalu lembut untuk dimurkai.

Menjadi sebuah peran

Banyak orang yang bilang, hal-hal kecil justru memiliki dampak yang paling esensial di dalam hidup ini. Apakah kamu percaya? Iya, aku percaya.

Aku senang sekali memperhatikan hal-hal kecil yang keberadaannya tidak diperhatikan orang lain. Hal-hal yang mungkin banyak diabaikan oleh manusia-manusia lain. Di saat mereka sibuk (masing-masing) dengan aktivitasnya, aku malah sibuk memperhatikan. Mungkin banyak yang mengira aku orangnya tidak sehebat A yang aktif di mana-mana, B yang senang mengajar anak-anak kecil, atau C yang multi-talent. Apapun pendapatmu, aku memang bukan siapa-siapa, seperti mereka. Mereka terbit, aku tenggelam.

Tenggelam… memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari pandangan orang-orang, melakukan sesuatu tanpa ada yang mengetahui, atau berkelana ke mana-mana sendiri. Aku nikmati peran yang aku punya.

Bukankah setiap makhluk Tuhan memiliki perannya masing-masing di alam semesta ini?

* * *

Pohon, menyerap polusi.

* * *

Awan, membantu proses fenomena alam.

* * *

Matahari, memancarkan cahaya.

* * *

Bulan, men-satelit bumi.

* * *

Tanah, menopang pohon serta makhluk lain.

* * *

Gunung, mencegah guncangan.

* * *

Kerikil, salah satu unsur utama penyusun jalan.

* * *

Bunga, membantu proses penyerbukan.

* * *

Semut, memangsa hama.

* * *

Iya, setiap makhluk Tuhan pasti memiliki perannya masing-masing. Dan dengan perbedaan peran itulah, keseimbangan alam semesta dapat terjadi.

Pun dengan manusia. Walaupun manusia memiliki banyak kelemahan, Tuhan tetap memberikan mereka perannya masing-masing. 

Tidak perlu lah berlebih-lebihan kagum dengan kelebihan peran orang lain sampai melupakan peran yang dipunya. Nikmati saja peran yang Tuhan telah anugerahkan kepadamu. Hayati. Fokus. Kembangkan. Konsisten.

Don’t compare your path with anybody else’s. Your path is unique to you.

-Ram Dass

Bogor, dengan langit mendung.

24 Oktober 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Prolog: Embrio

Turangga, 1993.


Aku kagum dengannya, sosok bayangan yang tak pernah aku ketahui wujud nyatanya. Layaknya senja, tenggelam dalam keindahan. 

***

Matahari tampak malu bila dilihat dari sebuah rumah sakit berbasis swasta di Turangga. Nyatanya ada seorang bayi perempuan lahir dari rahim wanita yang tubuhnya sedang lemah tak berdaya di atas ranjang kasur. Cantik sekali. Ayah bayi tersebut menganugerahinya dengan nama Senja. Satu kata saja, tanpa ekor sedikitpun.

***  

25 November 1993, sebuah pena kehidupan mulai bekerja menggoreskan tintanya di atas buku kematian. Untuk yang pertama kalinya aku menghirup zat kimia tak berbau, tak berasa, dan tak berwujud. 

Berbeda dengan bayi pada umumnya, aku lahir dalam keadaan tidak sempurna. Maksud dari ketidaksempurnaan di sini bukan dalam bentuk fisik, tidak bisa dilihat. Ini berkaitan dengan salah satu panca indera manusia yang biasa digunakan untuk mengecap berbagai macam jenis makanan ataupun minuman—-mulut.

Mulutku sempurna dengan warna yang merah merona, tetapi tidak dengan suaranya. Setelah aku menangis sebanyak tiga kali seperti bayi-bayi lain, aku tidak kuasa menggerakan lidahku untuk mengucapkan sebuah abjad pun. Umurku hampir mencapai tiga tahun, tetap saja aku tidak mampu mengucapkan A-I-U-E-O seperti balita-balita lain. Ibu sempat cemas melihat kondisi diriku. Rasanya ingin dibawa ke dokter, tetapi untuk apa? Lebih baik uangnya dipakai untuk makan. Mau tidak mau, aku dilatih untuk berbicara oleh ibuku.

Aku sadar bahwa kekuranganku inibukanlah kekurangan seorang disabilitas. Aku anggap ini sebagai… anugerah Tuhan.

Kini aku duduk di bangku TK, kelas nol besar. Saat teman-teman aktif berlarian dan bercanda satu dengan yang lain, aku sendiri. Aku tidak mampu bergabung dengan mereka. Aku merasa terpenjara. Aku lancar menulis dan berhitung, tetapi tidak dengan membaca. Masa yang harusnya digunakan untuk bermain riang dengan teman-teman, hanya dapat aku nikmati sendiri. Aku tidak memiliki teman seorang pun.

Setiap pagi, lidahku selalu dikerok ibu menggunakan cincin. Cincin nikah, sepertinya. Karena aku melihat nama ayahku tertera pada cincin yang ibu pakai. Tak hanya itu, aku selalu dilatih mengucapkan berbagai macam kata oleh ibu.

Selimun. Harusnya selimut.
Nyaen. Harusnya mobil.
Toman. Harusnya tomat.

Entah mengapa, rasanya sulit sekali mengucapkan kata-kata tersebut. Apalagi kata-kata yang mengandung huruf T, P, R, dan C. Beruntungnya, setelah sekian lama akhirnya aku sanggup untuk membaca dan mengucapkan berbagai macam kata benda. Walaupun tidak lancar. Mungkin karena alasan inilah, aku menjadi ‘berbeda’ dengan yang lain. Culun. Cupu. Jauh dari kata gaul.

Pengaruh sosial semakin membuatku terpuruk ketika aku duduk di bangku SD. Ibu menyekolahkanku di SD terdekat, jaraknya hanya 23 langkah dari rumah. Semakin naik kelas, semakin banyak tekanan-tekanan yang aku terima. Diajak bercengkrama, hanya saat mereka ada butuhnya saja. Diajak diskusi, hanya saat mereka diberi perintah oleh guru saja. Diajak satu kelompok, hanya karena mereka terpaksa. Saat istirahat sekolah, yang bisa aku lakukan hanya duduk di pojok kelas sembari melihat teman-teman bermain dengan riangnya. Aku tidak sanggup bergabung dengan mereka. Pahit.

Akhirnya hal yang aku tunggu telah tiba. Hari kelulusan. Setelah enam tahun menikmati bangku SD dengan penuh keterpaksaan, aku mengambil jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi, yakni SMP. Aku sengaja memilih SMP yang jauh dari SD. Iya, sengaja. Aku tidak ingin bertemu dengan pola sosial yang lama (lagi). Namun nyatanya tidak demikian. Ketika namaku disebutkan sebagai peraih ranking pertama di kelas, teman-teman satu kelas masih banyak yang tidak mengetahui wujudku. Sakit.

Aku selalu mendapat kelompok dengan orang yang itu-itu saja, bercengkrama dengan orang yang itu-itu saja, bermain dengan yang itu-itu saja, istirahat kelas dengan yang itu-itu saja, dan belajar bersama dengan yang itu-itu saja. Itu-itu saja—-kelompok yang terbuang.

Tak terasa, aku telah lulus SMP. Sebelas tahun sekolah, sebelas tahun juga aku tersiksa. Masa-masa SMA pun tiba. Kata orang, masa ini adalah masa yang paling indah diantara masa-masa yang lain. Itu kata orang, bukan kata yang keluar dari mulutku. 

***

Kikapa, 2008.

Aku sekarang tumbuh menjadi seorang remaja perempuan dan mulai tahu cara membedakan sesuatu yang baik, buruk, atau bahkan sakit hati. Sebuah perasaan yang menjamur di dalam hatiku selama empat belas tahun.


Bersambung.

Titik Senja, dalam 25 Februari 2015.

Senja: Menjadi perempuan

Aku tidak menggunakan kata ‘wanita’ di sini, melainkan perempuan. Mengapa demikian? Karena wanita pada hakikatnya ialah seorang perempuan yang sudah mapan, seorang perempuan yang sudah siap untuk menjadi panutan bagi penerusnya, dan seorang perempuan yang sudah konsisten akan perasaannya. Bagi yang merasa dirinya perempuan, mari kita sedikit berjalan-jalan.

Perempuan memiliki sebuah harta yang sangat berharga bagi dirinya sendiri, yakni hati. Sifatnya sangat lentur dan sedikit rapuh. Untuk menjadi perempuan tidaklah mudah, karena untuk menjaga hati dibutuhkan suatu benteng keyakinan yang sangat kuat.

Hati perempuan mengandung sebuah inti yang sangat fatal hubungannya dengan logika. Inti ini bernama perasaan. Bentuk fisik perasaan tidak dapat digambarkan secara detail. Yang aku tahu, perasaan seorang perempuan itu sangatlah labil. Tidak seperti ovum yang hanya menerima satu sperma dari jutaan sperma yang ada. Perasaan tidaklah demikian. Walaupun perasaan memiliki sifat selektif yang sangat ketat, tetapi tetap saja ia selalu memilih lebih dari satu jenis perasaan yang lain untuk berhak menjadi teman hidupnya. Jadi istilah lainnya, teman hidup seorang perasaan itu tidak bersifat permanen layaknya ovum dengan sperma.

Iya, menjaga sebuah perasaan itu tidaklah mudah. Apalagi jika ada ‘jenis perasaan lain’ yang mulai ‘menyenggol’ perasaan. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Menjaga kekonsistenan perasaan itu sulit. Sulit sekali.

Jatuh cinta merupakan salah satu jenis fenomena yang terjadi pada seluruh tubuh perasaan. Fenomena ini terkadang terjadi secara sempurna, namun tak jarang juga yang terjadi secara tak sempurna. Layaknya jatuh cinta diam-diam.

Aku jadi ingat salah satu kalimat yang ditulis oleh Mbak Dee pada salah satu novelnya, Rectoverso. “Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang aku sanggup menikmati bayangannya dan tidak akan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang… sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat… sehalus udara, langit awan atau hujan.”

Iya benar. Entah mengapa, sulit sekali membedakan mana yang namanya jatuh cinta dan mana yang namanya kagum. Perbedaannya tipis sekali bukan? Aku salut pada manusia yang mampu membedakan secara jelas perbedaan tersebut.

Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku, wahai perempuan? Saat dimana perasaan kita tidak memiliki hak untuk mendobrak ‘jenis perasaan lain’—kita sebut ini sebagai perasaan kaum adam.

Entah reaksi perasaan kita yang terlalu cepat merespon atau apa sampai-sampai tak jarang dari kita yang merasa jenis perasaan lain memang merespon balik sinyal perasaan yang kita kirimkan. Geer. Iya, istilah lainnya geer—salah satu jenis penyakit hati perempuan dan ini dapat dengan mudahnya kambuh jika ‘jenis perasaan lain’ sedikit mengirimkan virus kepada hati perempuan. Akibat dari stadium empat penyakit ini ialah menjadi korban PHP. Tak jarang kaum perempuan yang menjadi korban stadium empat penyakit geer ini.

Jadi, kita sebagai perempuan harus pandai membedakan pelabuhan mana yang pantas ataupun tidak pantas menjadi tempat peristirahatan perasaan kita. Kalau kita merasa belum menemukan pelabuhan yang cocok dan sreg, alangkah lebih baiknya untuk kita menitipkan hati kita kepada Sang Pencipta. Ingatkah kamu akan janji-Nya? Bahwa semakin tinggi kualitas diri kita, semakin tinggi pula kualitas pasangan kita.

Untuk menjadi perempuan memang tidak mudah. Untuk menjaga hati seorang perempuan juga tidak lah mudah. Jadi untuk kamu, kaum perempuan (dan kaum adam), jika ingin saling menjaga namun tak ingin saling menyakiti… alangkah lebih baiknya untuk menitipkan kembali perasaan yang telah muncul kepada-Nya. Karena Dia lah yang telah menciptakan bunga-bunga perasaan tersebut. Tenang saja. Tidak perlu kuatir. Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar kok. :)

Bogor, 3 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Titik mula

Ketidakpastian telah menghunjam banyak arwah manusia. 

Halo, tumblr. Sudah lama ya aku tidak menyapamu? Ah ya, kali ini aku ingin merubah jiwamu… sedikit saja. Boleh? 

Jahat? Menurutmu, aku jahat? Kamu bilang bahwa aku telah sekian lama tidak datang, tetiba hadir tanpa mengucapkan maaf dan permisi, mengambil alih seluruh kendali, lalu merubah seluruh sistem yang ada. Jahat? Aku jahat? Me-mang!

Apapun yang kamu pikirkan, mulai dari detik ini, aku akan mendirikan sebuah sistem baru pada daerah jajahan ini dengan tipe yang tidak pernah aku terapkan sebelumnya. Anggap saja ini sebagai percobaan. Aku akan melahirkan sebuah karya dengan kisah yang saling berkesinambungan. Maafkan aku…. aku akan menekan tombol restart sekarang juga.

Selamat datang, titik baru. Senja akan terbit, ia tidak akan selamanya tenggelam.

Bogor, sepi.

23 Februari 2015 | Naafi F. Harwanti

Senja: Lelah

Pikiran semakin kacau. Hati semakin campur aduk. Masalah semakin menumpuk. Waktu semakin terbengkalai.

Entah masalah, rasa, serta tanggung jawab apa yang sedang aku derita sekarang.

Dulu. Di saat sedang ada masalah, sedang bingung memutuskan sesuatu, atau sedang banyak pikiran, ada dua manusia yang setia merelakan waktunya untuk ku. Iya, itu dulu. Sekarang, aku tidak memiliki siapa-siapa, selain-Nya.

Aku merindukanMu.

Aku merindukan kalian.

Aku rindu melakukan hal-hal gila bersama kalian… rindu menceritakan berbagai masalah, rindu memberikan solusi, rindu merajut mimpi, rindu berbagi rasa senang ataupun sedih, rindu melakukan banyak hal-hal baru, rindu dipaksa keluar dari zona nyaman, rindu meminjam novel, rindu belajar bersama, rindu memikirkan hal-hal yang absurd, rindu berbagi kisah, rindu menjadi punggung ataupun kaki, rindu melakukan hal-hal bersama. Hei, aku rindu.

Aku rindu berbagi. Berbagi kisah… masalah… komitmen… cerita… keluh kesah… solusi… perjuangan… aku rindu. Sekarang, hanya Tuhan yang menjadi tempat satu-satunya berbagi cerita. 

Yaa Allah, hamba tidak sanggup menanggung semua ini… sendiri. Berat sekali rasanya.

Titik dua kurung buka.

Bogor, dengan senyap malam.

27 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi rasa ke-sendiri-an (II)

Sendiri, bukan lagi menjadi hal awam bagi manusia yang hidup pada era yang begitu penuh dengan kompleksibilitas ini.

Aku kira, hanya aku jenis manusia penikmat kesendirian. Ternyata tidak. Ketika aku berbagi pengalamanku dengannya, denganmu, dan dengan mereka… ternyata kita sama. Iya, kita sama. Sekelompok manusia penggemar kesendirian.

Aku kira, hanya manusia introvert lah yang mampu meresapi nikmatnya rasa kesendirian. Ternyata tidak. Ketika aku mengetahui hal tersebut, diam bukan lagi menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan.

Kamu tahu, melebur dengan tumpukan berbagai macam jenis benang merah itu hal yang begitu absurd.

Aku jadi ingat, pernah ada satu orang temanku yang meramal garis tanganku. Ah, aku tidak begitu percaya dengan ramalan. Sampai tiba pada rendetan pertanyaan yang tidak mampu aku jawab.

“Kamu pernah mengalami masa-masa pahit?”

“Iya, pernah.”

“Lama banget… ya?”

“….”

“Aku kagum dengan ketegaranmu.”

Tetiba, aku jadi ingat serangkaian masa-masa pahit yang mungkin (hanya) aku (yang mampu) (me)rasakan(nya) hingga sekarang. Bukan ekonomi. Bukan keluarga. Bukan kesehatan. Atau bahkan pendidikan.

Bogor, 19 November 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Cinta?

Aku mengenalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Anne. Seorang gadis biasa, berstatus mahasiswi di sebuah kampus tak bernama di Negeri antah berantah. Entah bagaimana awal cerita kami saling mengenal hingga saling percaya untuk berbagi cerita yang sifatnya sangat privat. Pulau yang berbeda tidak menjadikan kami untuk memutuskan tali silaturahmi. Betapa luar biasa indahnya skenario Tuhan.

***

Pagi itu, ketika aku sedang membaca novel online, notification inbox e-mail muncul pada ujung kanan bawah layar laptop. Dari Anne. Sepertinya ada yang tidak beres, ucapku di dalam hati. Karena biasanya cara silaturahmi kami bukanlah dengan surat online, melainkan surat pena. Segera aku klik notification tersebut, lalu membacanya dengan penuh penasaran.

 

To: senj@gmail.com

Message: Hai, Ja. Bagaimana kabarmu? Maaf sudah beberapa minggu ini aku tidak menghubungimu. Ada banyak sekali kejadian yang membuat pikiranku semakin berantakan. Aku membutuhkanmu di sini. Aku lelah dengan hidup, dengan segala kondisi yang terjadi di sini, dan juga dengan… hatiku sendiri.

Ini tentang hatiku, Ja. Aku mengalami hal yang serupa denganmu. Berulang kali jatuh cinta, berulang kali juga sakit yang didapatkan. Tuhan Maha Adil, ya? Bedanya, jenis jatuh cintamu berstatus, sedangkan aku tidak. Aku penasaran. Lebih sakit mana ya, sakit hati karena putus atau bertepuk sebelah tangan?

With love,

Anne.

Aku tersenyum-senyum sendiri ketika membaca e-mail tersebut. Anne, anne… kamu memang sahabat ter-aneh yang pernah aku miliki. Tak lama, aku menggerakan jari-jariku di atas keyboards.

To: annelist@rocketmail.com

Message: Tanpa aku beri tahu kabarku, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Tidak perlu basa-basi seperti itu. Garing.

Perlu kamu ketahui, Ne. Cinta ialah jarak yang saling menyempurnakan. Bukan cinta namanya bila hati tidak terpaut dengan waktu, tempat, serta cara yang tepat. Lantas, apakah benar jenis rasa tersebut yang selalu kita rasakan selama ini?

Dengan sejuta rasa rindu,

Senja.

Send. Close. Shut down.

Pandanganku beralih menuju langit yang sepertinya sangat mendukung rasa yang sedang aku idap sekarang. Mendung. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun.

***

Bogor, 01 Januari 2015.

Naafi Fatimah Harwanti