Sindiran

Untuk kamu yang memiliki kebiasaan menyindir X, manusia mblo, aku ingin sedikit berbicara.

Hei, kamu yang entah memiliki nama apa.

Kamu tahu bahwa hati memiliki suatu kandungan yang sangat fatal hubungannya dengan logika? Iya, perasaan. Perasaan diciptakan bukan untuk dijadikan sebagai bahan dasar bercandaan. Salah. Salah besar jika kamu beranggapan seperti itu. Karena perasaan diciptakan oleh-Nya untuk merasakan berbagai macam rasa yang ada di dunia ini… rasa kepada makhluk-Nya, rasa kepada ciptaannya, dan rasa kepada-Nya. Dari sini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan. Jika kamu telah mempermainkan sebuah atau bahkan beberapa perasaan, berarti kamu telah mempermainkan… ciptaan-Nya. Ini hal yang berat, bukan?

Aku seringkali melihatmu mempermainkan hati X sebagai bahan bercandaan kamu dengan yang lain. Dengan mudahnya kamu menyatu-nyatukan hati X dengan yang sejenisnya. Tahukah kamu? Yang kamu main-mainkan itu hati, bukan mainan yang dengan mudahnya dapat kamu mainkan tanpa aturan.

X menetapkan dirinya untuk ‘sendiri’ bukan karena dia tidak laku atau parahnya karena dia menyukai sesama jenis—seperti yang sering sekali kamu ucapkan, tetapi karena ia berani berkomitmen. Iya, ko-mit-men.

Di era sekarang, komitmen mahal sekali harganya, layaknya kejujuran. Untuk melakukan sebuah komitmen, dibutuhkan suatu kombinasi yang sempurna antara hati dan logika. Tidak mudah bukan? Tetapi dengan mudahnya, kamu mempermainkan komitmennya sebagai bahan bercandaan. Kamu tahu bagaimana rasanya?

Bukannya aku ingin membela X, tetapi… aku tidak bisa tinggal diam melihat X diperlakukan seperti itu oleh kamu, yang merasa memiliki hak VVIP untuk mempermainkan hati orang-orang yang memiliki nasib seperti X. Aku prihatin dan kagum dengan X, tepatnya dengan hati X.

Ia berbeda dengan kamu. Kamu tidak paham maksud pengertian dari hati yang sebenarnya. Mungkin yang kamu tahu hanya mainan yang sering sekali kamu mainkan setiap senja itu. Aku jadi ragu apakah kamu mampu membedakan hati dan mainan.

Atau jangan-jangan, kamu juga merasakan hal yang sama dengan X? Kamu sudah berkomitmen. Tetapi sayang, komitmenmu tidak sekokoh X. Kamu tidak bisa mengendalikan perasaan kamu, sehingga perasaan itu lah yang justru mengendalikan kamu. Ia tumbuh liar—tidak beraturan, di seluruh tubuh hati kamu.

Berhati-hatilah. Jangan biarkan ia tumbuh menjadi benalu.

Bandung, 7 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Sesuatu yang sudah ‘terbakar’ tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk bertransformasi kembali menjadi bentuk semula. Iya, tidak akan pernah. Layaknya logika dan tindakan. Apapun bentuk harmoni lingkungan, mereka selalu saja saling ‘membakar’ satu sama lain. Bagaimana cara menyelaraskan mereka berdua agar mereka mampu berjalan dengan mesra di dalam tubuh manusia?

Menjadi perempuan

Saya tidak menggunakan kata ‘wanita’ di sini, melainkan perempuan. Mengapa demikian? Karena wanita pada hakikatnya ialah seorang perempuan yang sudah mapan, seorang perempuan yang sudah siap untuk menjadi panutan bagi penerusnya, dan seorang perempuan yang sudah konsisten akan perasaannya. Bagi yang merasa dirinya perempuan, mari kita sedikit berjalan-jalan.

Perempuan memiliki sebuah harta yang sangat berharga bagi dirinya sendiri, yakni hati. Sifatnya sangat lentur dan sedikit rapuh. Untuk menjadi perempuan tidaklah mudah, karena untuk menjaga hati dibutuhkan suatu benteng keyakinan yang sangat kuat.

Hati perempuan mengandung sebuah inti yang sangat fatal hubungannya dengan logika. Inti ini bernama perasaan. Bentuk fisik perasaan tidak dapat digambarkan secara detail. Yang aku tahu, perasaan seorang perempuan itu sangatlah labil. Tidak seperti ovum yang hanya menerima satu sperma dari jutaan sperma yang ada. Perasaan tidaklah demikian. Walaupun perasaan memiliki sifat selektif yang sangat ketat, tetapi tetap saja ia selalu memilih lebih dari satu jenis perasaan yang lain untuk berhak menjadi teman hidupnya. Jadi istilah lainnya, teman hidup seorang perasaan itu tidak bersifat permanen layaknya ovum dengan sperma.

Iya, menjaga sebuah perasaan itu tidaklah mudah. Apalagi jika ada ‘jenis perasaan lain’ yang mulai ‘menyenggol’ perasaan. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Menjaga kekonsistenan perasaan itu sulit. Sulit sekali.

Jatuh cinta merupakan salah satu jenis fenomena yang terjadi pada seluruh tubuh perasaan. Fenomena ini terkadang terjadi secara sempurna, namun tak jarang juga yang terjadi secara tak sempurna. Layaknya jatuh cinta diam-diam.

Aku jadi ingat salah satu kalimat yang ditulis oleh Mbak Dee pada salah satu novelnya, Rectoverso. “Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang aku sanggup menikmati bayangannya dan tidak akan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang… sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat… sehalus udara, langit awan atau hujan.”

Iya benar. Entah mengapa, sulit sekali membedakan mana yang namanya jatuh cinta dan mana yang namanya kagum. Perbedaannya tipis sekali bukan? Aku salut pada manusia yang mampu membedakan secara jelas perbedaan tersebut.

Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku, wahai perempuan? Saat dimana perasaan kita tidak memiliki hak untuk mendobrak ‘jenis perasaan lain’—kita sebut ini sebagai perasaan kaum adam.

Entah reaksi perasaan kita yang terlalu cepat merespon atau apa sampai-sampai tak jarang dari kita yang merasa jenis perasaan lain memang merespon balik sinyal perasaan yang kita kirimkan. Geer. Iya, istilah lainnya geer—salah satu jenis penyakit hati perempuan dan ini dapat dengan mudahnya kambuh jika ‘jenis perasaan lain’ sedikit mengirimkan virus kepada hati perempuan. Akibat dari stadium empat penyakit ini ialah menjadi korban PHP. Tak jarang kaum perempuan yang menjadi korban stadium empat penyakit geer ini.

Jadi, kita sebagai perempuan harus pandai membedakan pelabuhan mana yang pantas ataupun tidak pantas menjadi tempat peristirahatan perasaan kita. Kalau kita merasa belum menemukan pelabuhan yang cocok dan sreg, alangkah lebih baiknya untuk kita menitipkan hati kita kepada Sang Pencipta. Ingatkah kamu akan janji-Nya? Bahwa semakin tinggi kualitas diri kita, semakin tinggi pula kualitas pasangan kita.

Untuk menjadi perempuan memang tidak mudah. Untuk menjaga hati seorang perempuan juga tidak lah mudah. Jadi untuk kamu, kaum perempuan (dan kaum adam), jika ingin saling menjaga namun tak ingin saling menyakiti… alangkah lebih baiknya untuk menitipkan kembali perasaan yang telah muncul kepada-Nya. Karena Dia lah yang telah menciptakan bunga-bunga perasaan tersebut. Tenang saja. Tidak perlu kuatir. Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar kok. :)

Bogor, 3 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Ipebe

Siapa yang tidak tahu ipebe? Sebuah kampus rakyat yang terletak di kota hujan ini merupakan salah satu kampus favorit di Indonesia.

Jujur. Dulu, saya sama sekali tidak terlalu tertarik dengan ipebe. Mungkin banyak dari teman-teman yang membaca post saya ini juga merasakan hal yang sama dengan saya. Kebanyakan dari mayoritas orang lebih tertarik dengan kampus yang ‘sampul’nya terlihat bagus, seperti ITB, UI, UPI, Undip ataupun UGM.

Tetapi entah mengapa, ketika saya menginjak kelas 12, ada secuil hati saya yang menyangkut di kampus rakyat ini. Yaaaa… sreg saja dibandingkan dengan kampus lain. Alhasil, saya memilih kampus rakyat ini di SNMPTN undangan dan SBMPTN, walaupun di pilihan terakhir. Dan ternyata feeling saya benar. Nama saya ‘nyangkut’ di kampus rakyat ini. Antara senang atau sedih, saya harus menerima kenyataan ini. Yaaa akhirnya mulai dari 18 Agustus 2013, saya mulai menginjakkan kaki saya di Bogor. Ini menjadi pengalaman pertama saya merantau ke kota asing. Walaupun nggak jauh-jauh amat sih dari Bandung. Tapi ya sama saja, bukan di tanah kelahiran. -_-

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki saya di ipebe, tiba-tiba salah satu kampus terbesit di pikiran saya. Suasananya sama. Mungkin situasi di saat itu lagi sepi kali ya, jadi suasananya agak mirip.

Asrama. Asrama menjadi tempat tinggal saya selama hampir satu tahun kemarin. Pertamanya sih was-was saya bakalan dapet teman dari mana, orangnya kayak bagaimana, bakalan betah nggak ya nanti di kamar, dan blablabla, yang pasti bayangan saya tentang asrama masih mengambang. Dan ternyata, dugaan saya meleset 360 derajat. Saya mendapatkan teman-teman sekamar yang super duper kompak, kocak, walaupun kadang-kadang nyebelin sih… tapi bikin kangen. Yap. Kamar 126 lorong 10 gedung A1 sudah menjadi salah satu tempat bersejarah bagi saya. Saat malam terakhir di asrama, di saat penghuni kamar lain sudah banyak pindah ke kostan ataupun kontrakan, kamar saya menjadi satu-satunya kamar yang mengadakan farewell kamar. Walaupun agak sedikit sedih dan garing, tapi… terima kasih banyak ya, kamar 126. :’)

Tidak hanya itu, di sini saya dapat bertemu dengan berbagai macam jenis manusia. Mulai dari manusia jenis Aceh, Padang, Medan, Riau, NTT, Papua, dan juga pulau-pulau yang entah saya lupa lagi namanya. Salah satu impian saya terwujud di sini, yakni memiliki teman dari seluruh penjuru Indonesia. Pokoknya beneran nggak nyesel deh tinggal di asrama. Walaupun ada jam malam, kucing dimana-mana, apel pagi, dan kegiatan wajib asrama lainnya, tapi waktu mau keluar tuh… sedihnya ituloh nggak nahan.

Selain asrama, ipebe juga mewajibkan TPB untuk mahasiswa barunya. Yayaya, pasti teman-teman sudah tahu apa itu pengertian TPB dan TPB itu ngapain aja. Jadi saya skip ya paragraf ini.

Sekarang beralih ke organisasi-organisasi yang ada di sini. Nah, ipebe juga memiliki banyak jenis organisasi. Ada UKM, LS, komunitas, himpro, BEM, DPM, MPM, omda, dan lain sebagainya. Dan seleksi masuk beberapa jenis organisasi itu tidak semudah kampus yang lain. Mayoritas tahap penyeleksiannya tuh: seleksi berkas, wawancara, magang, lalu diakhiri dengan pengumuman kelolosan. Agak sedikit ribet sih, tapi jenis seleksi ini bener-bener menghasilkan mana mahasiswa yang mau kerja dan memikul amanah dan mana mahasiswa yang cuma sekedar cari eksis.

Saat saya menginjak TPB, banyak sekali jenis-jenis organisasi yang saya daftar. Tapi apa daya jika Allah tidak meridhai, saya gagal hampir di semua jenis penyeleksian. Awalnya saya sedikit putus asa dan ada sedikit niat untuk mengulang SBMPTN. Karena salah satu alasan saya betah di kampus itu ya kegiatan-kegiatan di luar perkuliahannya, bukan kuliahnya. ._.

Takdir berkata lain. Pada akhir tahun 2013, alhamdulillah Allah meridhai saya untuk bergabung dengan beberapa tempat. Dan mulai dari situlah, manajemen waktu, kamampuan dan keterbatasan saya pun mulai diasah. Saya tidak hanya mendapatkan kenalan baru, tetapi saya juga mendapatkan sebuah pengalaman yang super duper ketjeh. Iya benar, Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Adil. Tidak ada usaha yang sia-sia.

Oh iya. Balik lagi ke awal. Sebelum resmi menjadi bagian dari ipebe, maba harus menjalani dulu yang namanya MPKMB—sejenis dengan ospek kampus. Walaupun MPKMB tidak se-‘wah’ kampus lain, tapi keren juga loh. Lewat MPKMB inilah, pola pikir saya tentang pertanian ‘sedikit’ terbuka. Ternyata pertanian itu tidak hanya berputar dari sawah hingga konsumen, tetapi peternakan, perikanan, kehutanan, ekologi manusia dan lain sebagainya itu juga termasuk ke dalam pertanian. Dan lewat MPKMB juga, saya baru tahu ternyata alumni-alumni ipebe itu banyak sekali orang-orang hebatnya, tjoy. Nggak kalah dengan kampus lain. Menurut analisis nih ya, mayoritas lulusan ipebe itu jadi entrepreuneur. Baik itu entrepreneur di bidang sosial, maupun pertanian. Nah jadi buat temen-temen yang mau jadi entrepreuner, nggak salah deh masuk ipebe. Karena pola pikir mahasiswa ipebe memang wajib dibentuk menjadi pola pikir entrepreuneur. Dan yang bikin salutnya itu, kebanyakan orang-orang hebat lulusan ipebe itu dulunya bukan siapa-siapa, selalu direndahin, yaaa pokoknya nothing deh. Kampus rakyat benar-benar teruji di sini. From nothing, to be something.

Ckckck, ipebe ipebe….

…memang, bungkusnya kurang menarik. Tapi kalo bungkusnya udah dibuka, wuiiih… bikin mata silau meeen!

…tempatnya di pedalaman. Jauh dari kota. Jadi tidak banyak mahasiswa ipebe yang mainnya ke kota.

…terletak di Bogor. Bogor kalau udah sekalinya hujan, seremnya nggak nahan. Mungkin karena Bogor menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara yang memiliki petir dan kilat terbanyak kali ya. -_-

…merakyat. Banyak kalangan bawah yang menjadi orang-orang sukses dan hebat di sini. Jadi jika ada orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang ‘cukup’ bisa sukses dan hebat, itu akan menjadi sesuatu yang ‘wah’ di sini.

…gudangnya PKM. Jaman gini nggak tau PKM? Browsing saja ya di google. Hm. Kenapa IPB menjadi gudangnya PKM? IPB menjadi satu-satunya kampus yang terbanyak mengirim mahasiswa untuk mengikuti PKM loh. Jadi di sini, mahasiswa yang mengikuti PKM pasti disebut sebagai mahasiwa keren.

…rektornya ketjeh abiez. Rektor mana coba yang mau karaokean dengan mahasiswa barunya dan itu lebih dari satu lagu? Cuma di ipebe, meeeen! Pokoknya petjah abiez lah suaranya bapak rektor.

…tempatnya mahasiswa banyak yang bertaubat. Mayoritas nih ya, 90% mahasiswa ipebe yang muslim menggunakan hijab. Baik itu panjang, maupun ada yang cuma sebagai gaya-gayan doang. Tapi ya… tetep saja banyak sekali yang menggunakan hijab. Gara-gara masuk ke IPB, teman-teman saya yang awalnya tidak menggunakan hijab juga banyak yang langsung menggunakan hijab. Kurang ketje apa coba ini.

…mahasiswanya banyak sekali yang mentoring. #YukMentoring sudah menjadi hashtag yang biasa di telinga-telinga para mahasiswa. Di mentoring ini, kita tidak hanya diingatkan tentang amal rohaniyahnya, tetapi juga kita dapat sharing tentang pengalaman ataupun sekedar curhat. Tidak hanya itu, kita juga disuguhkan cemilan oleh kakak murabbinya. Kurang enak apa coba ini, hahaha. Menurut analisis saya nih ya, mahasiswa-mahasiwa ipebe yang sukses itu kebanyakan dulunya pernah ikutan mentoring loh. Jadi, temen-temen…. #YukMentoring. :3

…kekeluargaan dan kekompakannya kuat banget. Mungkin ini karena kita dulunya diwajibin untuk tinggal di asrama kali ya, jadi sifat ini menempel pada setiap insan mahasiswa ipebe.

…markasnya para jargon dan singkatan. Setiap kegiatan yang diadakan di ipebe, PASTI selalu memiliki jargon. Walaupun itu cuma sekedar seminar, ospek, ataupun kegiatan yang notabene nya cuma setengah hari… pasti punya jargon-_- Nah, beralih ke singkatan. Untuk maba ipebe, pasti pusing banget ngapalin singkatan-singkatan yang ada di ipebe. Ya, bagaimana tidak? Mulai dari jurusan hingga setiap detail tempat ipebe itu pasti memiliki singkatan. Seperti korpin, kortan, GKA, konoha, berlin, gladiator, yaaa aneh-aneh deh singkatannya. Entah bagaimana sejarah awalnya kenapa ipebe begitu banyak memiliki jargon dan singkatan. -_-

…banyak yang nikah muda, haha. Nah, yang ini nggak bisa dipungkiri. Mungkin karena ipebe punya jurusan yang langsung bergerak di bidang kekeluargaan kali ya. ._.

…surganya para pengguna sandal crocs. Sifatnya yang multifungsi menyebabkan banyak sekali mahasiswa ipebe yang menggunakan sandal ini untuk kuliah ataupun sekedar pergi ke bara. Tapi kalau lagi UTS atau UAS jangan pakai sandal ini ya. Nanti malah disuruh keluar oleh pengawasnya. :))

…mewajibkan mahasiswa tingkat 2 dan seterusnya untuk KRS-an. Tahu KRS-an itu apa kan? Jadi kita itu wajib milih mata kuliah, dan ini sangatlah tidak mudah. Karena saya belum mengalami yang namanya KRS-an, jadi saya skip dulu ya bagian ini.

…mahasiswanya banyak sekali yang danusan. Ini pasti karena pola pikir mahasiswa ipebe yang dibentuk untuk menjadi entrepreneur. Bahkan ya, di TPB juga ada matkul kewirausahaan. Walaupun matkul ini agak geje, tapi lumayan sih mampu membuka wawasan tentang semua hal yang berbau entrepreuneur.

…tempatnya para pejuang 100 mimpi yang tertulis di atas kertas. #IfYouKnowWhatIMean

…punya masjid yang namanya Masjid Al-Huriyyah. Masjidnya adeeem, besar, tempat wudhunya banyak, dan wc serta kamar mandi yang dilengkapi dengan sabun dan juga air yang bersih. Tak jarang banyak mahasiswa yang mandi di sini.

…gedungnya serba berbentuk segitiga. Ini bukan karena ipebe penganut illuminati ya, tapi karena segitiga merupakan lambang dari pertanian. -,-

…mengarahkan mahasiswanya untuk langsung terjun ke dalam masyarakat. Tujuan mahasiswa kuliah tiada lain adalah untuk melakukan kontribusi kepada masyarakat, baik itu masyarakat sekitar ataupun masyarakat luas. Kemarin baru saja ipebe mengadakan sebuah kegiatan yang bernama BCL (Bina Cinta Lingkungan). Jadi di sini, seluruh mahasiswa TPB diwajibkan untuk turun ke desa-desa lingkar kampus secara langsung. Kami diberi peralatan bersih-bersih, lengkap. Kegiatan wajib ini sebenarnya cuma sehari, tetapi ada juga mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini sebanyak tiga hari. Menginap di rumah kepala desa, lalu mengabdi secara langsung kepada masyarakat. Tapi kalau menurut saya sih, kegiatan BCL yang tiga hari ini bukan Bina Cinta Lingkungan, tapi Bina Cinta Liburan. Hahaha, bagaimana tidak? Kami makan tiga kali sehari dengan lauk ayam, ikan, sayur, dan lain sebagainya. Bener-bener perbaikan gizi. :”)

…luas sekaleeeeh. Ada peternakan berbagai macam jenis hewan, lahan pertanian yang luasnya super duper, danau, tambak, hutan, bus serta sepeda gratis, dan lain sebagainya.

…dilihat sebelah mata oleh siswa-siswa sekolah, tapi bener-bener dilihat oleh masyarakat.

…favorit, tetapi tetap sederhana. Meroket, tetapi tetap membumi.

…diam-diam menghanyutkan.

Iya awalnya saya nggak begitu puas saya lolos ke sini. Tapi lama-lama, saya baru sadar… apa alasan Allah menempatkan saya di kampus ini. Mungkin kalau saya ditempatkan di kampus lain, saya tidak akan mengemban amanah-amanah ini kali ya dan bertemu dengan banyak pengalaman dan juga orang-orang hebat. Terima kasih banyak ya Allah. :”)

Semoga tulisan ini dapat sedikit bermanfaat dan membuka pikiran teman-teman tentang ipebe ya. Walaupun tulisan ini (sepertinya) nggak nyambung dengan paragraf awal, haha~


Bogor, 3 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Alur

Inilah sandiwara. Ikuti saja alurnya, maka kamu akan mengetahui maksud dan tujuan dari pelaku-pelaku utama. Dan pelaku utama itu tidak selamanya akan menjadi pelaku utama. Ada kalanya, pelaku utama akan lengser bahkan pensiun. Dan digantikan oleh para pemain baru, atau pemain pembantu.

Kopo Malam, 17 November 2012.

Pernah ada hadits yang mengatakan bahwa manusia sudah ditentukan rezeki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya sejak malaikat meniupkan ruh ke dalam diri manusia tersebut. Ikuti saja alurnya, maka kamu akan menemukan jawaban dari tandatanya-tandatanya yang selalu kamu berikan kepada Tuhan. Katanya, hidup akan berakhir dengan kebahagiaan, kalau belum bahagia berarti hidupmu masih menjadi wayang di dalam sandiwara ini. Katanya.

Ikuti saja alurnya, jangan dilawanKarena Tuhan Maha Pandai… dalam memainkan wayang-wayangnya.

—Naafi F. Harwanti

Memang, kita diajarkan untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Apalagi dengan membuka mata… mimpi itu bisa jauh lebih tinggi dari tinggi badan kamu sendiri, jauh lebih tinggi dari pohon yang ada di depan rumah kamu, jauh lebih tinggi dari awan-awan yang mampu dilewati oleh pesawat.

Tapi hati-hati ya, saking tingginya, mimpi-mimpi itu bukan hanya akan membuka mata kamu, tapi juga mampu untuk membutakan mata kamu. Hati-hati.

Tahu diri

harusnya aku, tahu diri.

Titik ini, tidak akan bisa menjadi garis.
Abu ini, tidak akan bisa menjadi tanah. 
Hayat ini, tidak akan bisa menjadi raga. 
Urat ini, tidak akan bisa menjadi nadi.

Daun gugur pun tahu,
Iba sekali makhluk jenis homo sapiens ini.
Rimba, bahkan, telah mengeluarkan nadanya, 
inikah rasanya… ikhlas?

Bandung, 2013.

Naafi Fatimah Harwanti

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video