naafifatimah

Menjadi hati-hati dengan hati (perempuan)

Hei, kamu. Ingin tahu sedikit rahasia perempuan? Bukannya aku ingin membongkar rahasia mereka, tetapi sepertinya rahasia ini sudah menjadi sesuatu yang ramai dibicarakan oleh khalayak umum. Sebelumnya, sudahkah kamu membaca cerita yang aku tulis sebelumnya? Sepertinya mereka saling berkaitan. Baik, mari kita sedikit berpetualang pada hati (perempuan).

Perempuan menyimpan banyak sekali rahasia. Dan hati lah yang memiliki wewenang eksklusif untuk menjaga rahasia-rahasia tersebut.

Pada tulisan sebelumnya, aku bercerita bahwa ada sebuah fenomena yang sering sekali terjadi pada hati perempuan, yakni jatuh cinta.

Asal kamu tahu, perempuan itu mudah sekali jatuh cinta. Entah itu yang namanya jatuh cinta, atau hanya rasa kagum yang berlebihan. Karena kebiasaan inilah, mereka sering menderita penyakit kegeeran.

Iya, geer. Disenyumin, ngiranya suka. Disapa di dunia nyata dan dunia maya, ngiranya ngasih kode. Melihat dia on, deg-degannya setengahnya jiwa, padahal di-chat saja tidak. Walaupun di-chat cuma nanya ataupun say ‘hai’ doang, hati rasanya udah kayak diajak terbang dengan balon-balon yang ada pada kartun “Up”. Takut merasa kehilangan dan cemburu melihat dia dekat dengan yang lain, padahal belum resmi jadi siapa-siapanya. Tiap hari stalking blog dan media sosialnya, siapa tahu dia ngetik status ataupun nulis sebuah tulisan tentang dirinya. Padahal tidak sama sekali.

Geer. Yayaya, namanya juga perempuan.

Perasaan geer inilah yang menyebabkan perempuan selalu merasa menjadi layang-layang. Tarik… Ulur… Tarik… Ulur… Mereka selalu merasa laki-laki lah yang bersalah. Memainkan hati mereka dengan seenaknya, layaknya layang-layang. Tidak merasa bahwa dirinya juga salah. Kalau bukan karena kegeeran, babak ceritanya pasti akan berbeda lagi.

Menjaga sebuah rasa itu memang tidak mudah, bagi perempuan.

Jadi…

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Asal kamu tahu, perempuan adalah makhluk yang menyukai kepastian. Bukan kepastian masa depan, harta, ataupun keamanan. Tetapi ini… *nunjuk hati*.

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Jagalah ia dengan sebuah jarak. Jarak yang memungkinkan kamu (dan ia) untuk bermetamorfosa, menjadi seorang makhluk Tuhan yang sesuai dengan sunnah-Nya. Jarak yang mematangkan jejak, sikap dan hati kamu. Jarak yang menjaga kehormatan(nya). Iya, jarak—menjadi satu-satunya cara untuk menjaga hati (perempuan). 

Hei, kamu yang entah sekarang sedang memiliki rasa apa… selamat berhati-hati ya, dengan hati (perempuan). :)

Bogor Malam, 2 September 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Sadarkah engkau bahwa hidup ini pada hakikatnya sedang mengambang? Setengah tenggelam. Setengah muncul ke permukaan. Mengambang… Terus mengambang… Hingga akhirnya, sampai di sebuah tempat. Penuh dengan fluktuasi. Terlalu sadis untuk diresapi, dan terlalu lembut untuk dimurkai.

Menjadi sebuah peran

Banyak orang yang bilang, hal-hal kecil justru memiliki dampak yang paling esensial di dalam hidup ini. Apakah kamu percaya? Iya, aku percaya.

Aku senang sekali memperhatikan hal-hal kecil yang keberadaannya tidak diperhatikan orang lain. Hal-hal yang mungkin banyak diabaikan oleh manusia-manusia lain. Di saat mereka sibuk (masing-masing) dengan aktivitasnya, aku malah sibuk memperhatikan. Mungkin banyak yang mengira aku orangnya tidak sehebat A yang aktif di mana-mana, B yang senang mengajar anak-anak kecil, atau C yang multi-talent. Apapun pendapatmu, aku memang bukan siapa-siapa, seperti mereka. Mereka terbit, aku tenggelam.

Tenggelam… memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari pandangan orang-orang, melakukan sesuatu tanpa ada yang mengetahui, atau berkelana ke mana-mana sendiri. Aku nikmati peran yang aku punya.

Bukankah setiap makhluk Tuhan memiliki perannya masing-masing di alam semesta ini?

* * *

Pohon, menyerap polusi.

* * *

Awan, membantu proses fenomena alam.

* * *

Matahari, memancarkan cahaya.

* * *

Bulan, men-satelit bumi.

* * *

Tanah, menopang pohon serta makhluk lain.

* * *

Gunung, mencegah guncangan.

* * *

Kerikil, salah satu unsur utama penyusun jalan.

* * *

Bunga, membantu proses penyerbukan.

* * *

Semut, memangsa hama.

* * *

Iya, setiap makhluk Tuhan pasti memiliki perannya masing-masing. Dan dengan perbedaan peran itulah, keseimbangan alam semesta dapat terjadi.

Pun dengan manusia. Walaupun manusia memiliki banyak kelemahan, Tuhan tetap memberikan mereka perannya masing-masing. 

Tidak perlu lah berlebih-lebihan kagum dengan kelebihan peran orang lain sampai melupakan peran yang dipunya. Nikmati saja peran yang Tuhan telah anugerahkan kepadamu. Hayati. Fokus. Kembangkan. Konsisten.

Don’t compare your path with anybody else’s. Your path is unique to you.

-Ram Dass

Bogor, dengan langit mendung.

24 Oktober 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi perempuan

Saya tidak menggunakan kata ‘wanita’ di sini, melainkan perempuan. Mengapa demikian? Karena wanita pada hakikatnya ialah seorang perempuan yang sudah mapan, seorang perempuan yang sudah siap untuk menjadi panutan bagi penerusnya, dan seorang perempuan yang sudah konsisten akan perasaannya. Bagi yang merasa dirinya perempuan, mari kita sedikit berjalan-jalan.

Perempuan memiliki sebuah harta yang sangat berharga bagi dirinya sendiri, yakni hati. Sifatnya sangat lentur dan sedikit rapuh. Untuk menjadi perempuan tidaklah mudah, karena untuk menjaga hati dibutuhkan suatu benteng keyakinan yang sangat kuat.

Hati perempuan mengandung sebuah inti yang sangat fatal hubungannya dengan logika. Inti ini bernama perasaan. Bentuk fisik perasaan tidak dapat digambarkan secara detail. Yang aku tahu, perasaan seorang perempuan itu sangatlah labil. Tidak seperti ovum yang hanya menerima satu sperma dari jutaan sperma yang ada. Perasaan tidaklah demikian. Walaupun perasaan memiliki sifat selektif yang sangat ketat, tetapi tetap saja ia selalu memilih lebih dari satu jenis perasaan yang lain untuk berhak menjadi teman hidupnya. Jadi istilah lainnya, teman hidup seorang perasaan itu tidak bersifat permanen layaknya ovum dengan sperma.

Iya, menjaga sebuah perasaan itu tidaklah mudah. Apalagi jika ada ‘jenis perasaan lain’ yang mulai ‘menyenggol’ perasaan. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Menjaga kekonsistenan perasaan itu sulit. Sulit sekali.

Jatuh cinta merupakan salah satu jenis fenomena yang terjadi pada seluruh tubuh perasaan. Fenomena ini terkadang terjadi secara sempurna, namun tak jarang juga yang terjadi secara tak sempurna. Layaknya jatuh cinta diam-diam.

Aku jadi ingat salah satu kalimat yang ditulis oleh Mbak Dee pada salah satu novelnya, Rectoverso. “Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang aku sanggup menikmati bayangannya dan tidak akan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang… sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat… sehalus udara, langit awan atau hujan.”

Iya benar. Entah mengapa, sulit sekali membedakan mana yang namanya jatuh cinta dan mana yang namanya kagum. Perbedaannya tipis sekali bukan? Aku salut pada manusia yang mampu membedakan secara jelas perbedaan tersebut.

Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku, wahai perempuan? Saat dimana perasaan kita tidak memiliki hak untuk mendobrak ‘jenis perasaan lain’—kita sebut ini sebagai perasaan kaum adam.

Entah reaksi perasaan kita yang terlalu cepat merespon atau apa sampai-sampai tak jarang dari kita yang merasa jenis perasaan lain memang merespon balik sinyal perasaan yang kita kirimkan. Geer. Iya, istilah lainnya geer—salah satu jenis penyakit hati perempuan dan ini dapat dengan mudahnya kambuh jika ‘jenis perasaan lain’ sedikit mengirimkan virus kepada hati perempuan. Akibat dari stadium empat penyakit ini ialah menjadi korban PHP. Tak jarang kaum perempuan yang menjadi korban stadium empat penyakit geer ini.

Jadi, kita sebagai perempuan harus pandai membedakan pelabuhan mana yang pantas ataupun tidak pantas menjadi tempat peristirahatan perasaan kita. Kalau kita merasa belum menemukan pelabuhan yang cocok dan sreg, alangkah lebih baiknya untuk kita menitipkan hati kita kepada Sang Pencipta. Ingatkah kamu akan janji-Nya? Bahwa semakin tinggi kualitas diri kita, semakin tinggi pula kualitas pasangan kita.

Untuk menjadi perempuan memang tidak mudah. Untuk menjaga hati seorang perempuan juga tidak lah mudah. Jadi untuk kamu, kaum perempuan (dan kaum adam), jika ingin saling menjaga namun tak ingin saling menyakiti… alangkah lebih baiknya untuk menitipkan kembali perasaan yang telah muncul kepada-Nya. Karena Dia lah yang telah menciptakan bunga-bunga perasaan tersebut. Tenang saja. Tidak perlu kuatir. Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar kok. :)

Bogor, 3 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi lelah

Pikiran semakin kacau. Hati semakin campur aduk. Masalah semakin menumpuk. Waktu semakin terbengkalai.

Entah masalah, rasa, serta tanggung jawab apa yang sedang aku derita sekarang.

Dulu. Di saat sedang ada masalah, sedang bingung memutuskan sesuatu, atau sedang banyak pikiran, ada dua manusia yang setia merelakan waktunya untuk ku. Iya, itu dulu. Sekarang, aku tidak memiliki siapa-siapa, selain-Nya.

Aku merindukanMu.

Aku merindukan kalian.

Aku rindu melakukan hal-hal gila bersama kalian… rindu menceritakan berbagai masalah, rindu memberikan solusi, rindu merajut mimpi, rindu berbagi rasa senang ataupun sedih, rindu melakukan banyak hal-hal baru, rindu dipaksa keluar dari zona nyaman, rindu meminjam novel, rindu belajar bersama, rindu memikirkan hal-hal yang absurd, rindu berbagi kisah, rindu menjadi punggung ataupun kaki, rindu melakukan hal-hal bersama. Hei, aku rindu.

Aku rindu berbagi. Berbagi kisah… masalah… komitmen… cerita… keluh kesah… solusi… perjuangan… aku rindu. Sekarang, hanya Tuhan yang menjadi tempat satu-satunya berbagi cerita. 

Yaa Allah, hamba tidak sanggup menanggung semua ini… sendiri. Berat sekali rasanya.

Titik dua kurung buka.

Bogor, dengan senyap malam.

27 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi rasa ke-sendiri-an (II)

Sendiri, bukan lagi menjadi hal awam bagi manusia yang hidup pada era yang begitu penuh dengan kompleksibilitas ini.

Aku kira, hanya aku jenis manusia penikmat kesendirian. Ternyata tidak. Ketika aku berbagi pengalamanku dengannya, denganmu, dan dengan mereka… ternyata kita sama. Iya, kita sama. Sekelompok manusia penggemar kesendirian.

Aku kira, hanya manusia introvert lah yang mampu meresapi nikmatnya rasa kesendirian. Ternyata tidak. Ketika aku mengetahui hal tersebut, diam bukan lagi menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan.

Kamu tahu, melebur dengan tumpukan berbagai macam jenis benang merah itu hal yang begitu absurd.

Aku jadi ingat, pernah ada satu orang temanku yang meramal garis tanganku. Ah, aku tidak begitu percaya dengan ramalan. Sampai tiba pada rendetan pertanyaan yang tidak mampu aku jawab.

“Kamu pernah mengalami masa-masa pahit?”

“Iya, pernah.”

“Lama banget… ya?”

“….”

“Aku kagum dengan ketegaranmu.”

Tetiba, aku jadi ingat serangkaian masa-masa pahit yang mungkin (hanya) aku (yang mampu) (me)rasakan(nya) hingga sekarang. Bukan ekonomi. Bukan keluarga. Bukan kesehatan. Atau bahkan pendidikan.

Bogor, 19 November 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi Anak Muda: Cinta?

Aku mengenalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Anne. Seorang gadis biasa, berstatus mahasiswi di sebuah kampus tak bernama di Negeri antah berantah. Entah bagaimana awal cerita kami saling mengenal hingga saling percaya untuk berbagi cerita yang sifatnya sangat privat. Pulau yang berbeda tidak menjadikan kami untuk memutuskan tali silaturahmi. Betapa luar biasa indahnya skenario Tuhan.

***

Pagi itu, ketika aku sedang membaca novel online, notification inbox e-mail muncul pada ujung kanan bawah layar laptop. Dari Anne. Sepertinya ada yang tidak beres, ucapku di dalam hati. Karena biasanya cara silaturahmi kami bukanlah dengan surat online, melainkan surat pena. Segera aku klik notification tersebut, lalu membacanya dengan penuh penasaran.

To: senj@gmail.com

Message: Hai, Ja. Bagaimana kabarmu? Maaf sudah beberapa minggu ini aku tidak menghubungimu. Ada banyak sekali kejadian yang membuat pikiranku semakin berantakan. Aku membutuhkanmu di sini. Aku lelah dengan hidup, dengan segala kondisi yang terjadi di sini, dan juga dengan… hatiku sendiri.

Ini tentang hatiku, Ja. Aku mengalami hal yang serupa denganmu. Berulang kali jatuh cinta, berulang kali juga sakit yang didapatkan. Tuhan Maha Adil, ya? Bedanya, jenis jatuh cintamu berstatus, sedangkan aku tidak. Aku penasaran. Lebih sakit mana ya, sakit hati karena putus atau bertepuk sebelah tangan?

With love,

Anne.

Aku tersenyum-senyum sendiri ketika membaca e-mail tersebut. Anne, anne… kamu memang sahabat ter-aneh yang pernah aku miliki. Tak lama, aku menggerakan jari-jariku di atas keyboards.

To: annelist@rocketmail.com

Message: Tanpa aku beri tahu kabarku, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Tidak perlu basa-basi seperti itu. Garing.

Perlu kamu ketahui, Ne. Cinta ialah jarak yang saling menyempurnakan. Bukan cinta namanya bila hati tidak terpaut dengan waktu, tempat, serta cara yang tepat. Lantas, apakah benar jenis rasa tersebut yang selalu kita rasakan selama ini?

Dengan sejuta rasa rindu,

Senja.

Send. Close. Shut down.

Pandanganku beralih menuju langit yang sepertinya sangat mendukung rasa yang sedang aku idap sekarang. Mendung. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun.

***

Bogor, 01 Januari 2015.

Naafi Fatimah Harwanti

Petrichor

Akhir-akhir ini, virus petrichor marak mengindeksi korban baru. Bumi semakin tidak berbentuk. Virus ini berbeda dengan virus lain. Tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian, namun mampu menjadikan penderitanya ketagihan dan lupa akan waktu.

***

Hujan baru saja reda. Tukang becak kembali mengayuh pedalnya. Tukang sayur kembali mendorong gerobaknya. Anak-anak bermain petak umpet dengan riangnya. Burung-burung gereja berkicau, berterbangan kesana kemari. Para semut berusaha menghindari genangan. Ia tetap duduk di bangku tua yang terdapat di emperan kios buku bekas ini. Entah apa yang ia lihat, aku tidak peduli. Aku tetap mencari-cari sebuah sastra karya Promoedya Ananta Toer di deretan buku-buku sastra lama. Ah, tidak. Pandanganku kembali teralihkan dengan sosok tadi. Aku kembali memandangi apa yang ia pandang. Dengan kepolosan dan ketidaksabaran, aku mendatanginya.

“Maaf…”, ucapku memecah diam.

"Iya?". Tak disangka, ternyata ia meresponku dengan cepat.

Dengan malu-malu, aku bertanya kepadanya. “Ada yang ingin aku tanyakan…”

“Oh iya. Silahkan, tanyakan saja. Semoga aku bisa membantu.”, ia menarik kedua ujung bibirnya—tersenyum kepadaku.

“Apa yang kamu pandang dari tadi?”, sembari melihat ke arah mana ia memandang tadi.

“Ssstt.”, jari telunjuknya mengisyaratkan bahwa alangkah baiknya aku untuk diam.

…..

Senyum itu kembali merekah, “Alam sedang bercinta”.

Gerimis mulai berdentuman dengan langit bumi. Hujan kembali turun. Sunyi. Aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Masih dengan pikiran penuh tanda tanya, aku perlahan meninggalkannya.

“Hei!”, ia berteriak memanggilku. Aku segera menengok.

“Aku belum menjawab pertanyaanmu.”, ucapnya.

Kini senyumku yang mulai merekah, “Tidak apa-apa. Kios ini sebentar lagi akan tutup. Ada aktivitas lain di rumah yang wajib aku lakukan.”

Ia menjelaskan dengan penuh antusias, “Kamu akan melakukan hal yang sama denganku jika kamu tahu apa yang sedang aku lihat. Coba, ke sini sebentar. Tanah itu… coba lihat.”

Karena kadar penasaranku amat tinggi, dengan cepat aku (kembali) mendatanginya. Dan… ada getaran aneh ketika aku memandangi tanah yang ia tunjukkan. Aku lihat secara perlahan. Ternyata ada sesuatu yang keluar dari tanah tersebut. Sesuatu semacam… asap. Asap tipis. 

“Apa yang kamu rasakan?”, tanyanya kepadaku.

Asap tersebut bukan hanya sekedar asap. Aromanya harum sekali. “Harum. Sejuk. Tenang.”

"Saat masih kering, tanaman-tanaman tertentu akan memancarkan minyak yang menghasilkan bau. Kemudian minyak tersebut diserap oleh tanah dan batu. Selama hujan, minyak dilepaskan ke udara bersama dengan senyawa lain, geosmin, menghasilkan aroma khas. Aku kagum dengannya, dengan aromanya, dengan prosesnya.", penjelasannya berhasil memecahkan urat penasaranku.

Masih dengan pandangan yang sama, aku kembali mengangkat kedua ujung bibirku, “Iya. Indah sekali.”

Waktu terus bergulir dan tak terasa sekarang telah menunjukkan pukul 08.49 pm. Sang pemilik kios buku sedang membereskan buku-buku sesuai dengan tempatnya. Dan sepertinya ia tidak peduli dengan dua manusia yang sedari tadi sore duduk termenung dengan pandangan kosong.

***

Bandung, 28 Desember 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi Anak Muda: Konsisten

Bagaimana jika orang yang paling tidak peduli dan acuh denganmu, ternyata orang yang sesungguhnya menaruh perhatian pada kamu?

Bagaimana jika orang yang selalu menyindir kamu dengan orang lain, sesungguhnya adalah orang yang paling cemburu dengan kamu?

Bagaimana jika orang yang malas merespon sapaan medsos kamu, justru orang yang paling ingin menanggapi kamu?

Bagaimana jika ada orang yang biasa-biasa saja, ternyata diam-diam mengagumimu? 

Bagaimana jika orang yang sibuk dengan beribu kegiatannya, ternyata orang yang setiap malamnya selalu penasaran dengan kegiatanmu dan seringkali melihat tulisanmu?

Bagaimana jika kamu tahu, bahwa sesungguhnya kamu telah menjadi inspirasi tulisan-tulisannya?

Hei, bagaimana rasanya memiliki pengagum rahasia?

Atau, bagaimana rasanya… memiliki teman hidup?

Aku penasaran.

Dari dulu, aku selalu menjadi pengamat—mengamati teman-teman dengan ‘teman hidup’nya. Bukan hanya pengamat, aku juga sering dijadikan sebagai objek ‘ciye’. Kalau nggak sama A, ya pasti sama B. Kalau nggak sama B, ya pasti sama C. Kalau nggak sama C, ya pasti sama D. Begitu saja seterusnya. Dari dulu. Ckckck… hidup. Harus kebal dengan yang namanya sindiran.

Tetapi ya namanya juga anak muda, ada sedikit rasa penasaran juga ingin merasakan rasanya memiliki ‘teman hidup’. Apalagi jaman-jamannya putih abu-abu, saat dimana puncak-puncak masa remaja, aku tetap saja sendiri… percaya bahwa tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Iya. Aku percaya. Sampai sekarang.

Di saat orang lain sibuk dengan yang katanya teman hidupnya, aku malah sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang terus memaksaku untuk keluar dari ‘zona yang lalu’. 

Ah, aku tidak peduli dengan kondisi anak muda jaman sekarang. Atau lebih tepatnya, aku tidak peduli dengan kondisi kelabilan yang mungkin sedang aku alami sekarang. Yang aku tahu, sekarang aku harus konsisten dengan prinsip bahwa: semakin kamu menghormati diri kamu, semakin kamu merombak diri kamu habis-habisan, dan semakin kamu menjaga ‘jarak’ kamu… maka kamu akan semakin menemukan tulang rusuk kamu. Sesuai dengan janji-Nya bahwa Dia akan menjodohkan ku-a-li-tas, bukan hanya kualitas sampulnya saja. 

"Tenang, nduk. Semua akan ada waktunya.", Ibuk.

Hei, kamu yang sekarang entah sedang menjatuhkan rasa pada siapa… selamat merombak diri (habis-habisan). Selamat menjaga jarak. Selamat menunggu ketidakpastian. Selamat mengagumi.

***

Bogor, sepulang kegiatan kampus.

08 Oktober 2014

Naafi Fatimah Harwanti

Sindiran

Untuk kamu yang memiliki kebiasaan menyindir X, manusia mblo, aku ingin sedikit berbicara.

Hei, kamu yang entah memiliki nama apa.

Kamu tahu bahwa hati memiliki suatu kandungan yang sangat fatal hubungannya dengan logika? Iya, perasaan. Perasaan diciptakan bukan untuk dijadikan sebagai bahan dasar bercandaan. Salah. Salah besar jika kamu beranggapan seperti itu. Karena perasaan diciptakan oleh-Nya untuk merasakan berbagai macam rasa yang ada di dunia ini… rasa kepada makhluk-Nya, rasa kepada ciptaannya, dan rasa kepada-Nya. Dari sini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan. Jika kamu telah mempermainkan sebuah atau bahkan beberapa perasaan, berarti kamu telah mempermainkan… ciptaan-Nya. Ini hal yang berat, bukan?

Aku seringkali melihatmu mempermainkan hati X sebagai bahan bercandaan kamu dengan yang lain. Dengan mudahnya kamu menyatu-nyatukan hati X dengan yang sejenisnya. Tahukah kamu? Yang kamu main-mainkan itu hati, bukan mainan yang dengan mudahnya dapat kamu mainkan tanpa aturan.

X menetapkan dirinya untuk ‘sendiri’ bukan karena dia tidak laku atau parahnya karena dia menyukai sesama jenis—seperti yang sering sekali kamu ucapkan, tetapi karena ia berani berkomitmen. Iya, ko-mit-men.

Di era sekarang, komitmen mahal sekali harganya, layaknya kejujuran. Untuk melakukan sebuah komitmen, dibutuhkan suatu kombinasi yang sempurna antara hati dan logika. Tidak mudah bukan? Tetapi dengan mudahnya, kamu mempermainkan komitmennya sebagai bahan bercandaan. Kamu tahu bagaimana rasanya?

Bukannya aku ingin membela X, tetapi… aku tidak bisa tinggal diam melihat X diperlakukan seperti itu oleh kamu, yang merasa memiliki hak VVIP untuk mempermainkan hati orang-orang yang memiliki nasib seperti X. Aku prihatin dan kagum dengan X, tepatnya dengan hati X.

Ia berbeda dengan kamu. Kamu tidak paham maksud pengertian dari hati yang sebenarnya. Mungkin yang kamu tahu hanya mainan yang sering sekali kamu mainkan setiap senja itu. Aku jadi ragu apakah kamu mampu membedakan hati dan mainan.

Atau jangan-jangan, kamu juga merasakan hal yang sama dengan X? Kamu sudah berkomitmen. Tetapi sayang, komitmenmu tidak sekokoh X. Kamu tidak bisa mengendalikan perasaan kamu, sehingga perasaan itu lah yang justru mengendalikan kamu. Ia tumbuh liar—tidak beraturan, di seluruh tubuh hati kamu.

Berhati-hatilah. Jangan biarkan ia tumbuh menjadi benalu.

Bandung, 7 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti

Menjadi tenggelam

"Setiap manusia memiliki perannya masing-masing." 

Apakah kamu percaya kalimat tersebut? Aku percaya.

Aku percaya bahwa aku harus menjalankan sebuah peran, di bumi ini.

Jadi…

mulai dari beberapa tahun silam, aku senang sekali menjadi orang yang memiliki kontribusi lebih di bawah permukaan.

Sebuah kontribusi, yang tidak terlihat oleh orang luar.

Sebuah kontribusi, yang sering dianggap tidak penting.

Sebuah kontribusi, yang menjadi tulang rusuk sebuah perjuangan dan pengabdian.

Berbeda dengan mereka yang selalu ingin 'show up' setiap kegiatan berlangsung, aku lebih memilih menjadi orang yang berada di belakang panggung.

Tenggelam.

Aku ingin menjadi orang-orang tenggelam, yang berusaha berenang se-kuat mungkin untuk mencapai permukaan.

Tidak dianggap.

Diremehkan.

Dilihat sebelah mata.

Aku menikmatinya. 

Namun terkadang, aku lupa caranya berenang. Aku lupa caranya bernapas di dalam air. Aku lupa caranya memilih mana laut yang dangkal, dan mana laut yang dalam. Aku lupa caranya mencari seorang perenang yang handal. Aku lupa caranya untuk tidak sendiri.

Tuhan, kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan, selain kepada-Mu?

Bogor, malam hari.

20 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti