mengy

Cerpen#1 Karnaval

“Ihirrr….. Oleh ceperan maneh iki!” sorak teman sekantorku itu kegirangan.

“Heh! Memangnya kau tau itu haram opo ndak’e!?” tanyaku mencibir.

“Alahh… Ndak usah munafik. Jaman sekarang yang namanya duit itu dimana-mana berkuasa,” sosornya percaya diri sambil memonyongkan bibir yang sudah kelewat offside.

Hmm….. Melenguh bak sapi, sudah tak habis pikir, ada-ada saja cara tetikus kantor ini berjingkat-jingkat diatas kecurangan. Parno temanku itu kerjanya seharian hanya duduk, ngrokok, ngabsen staff dan bercakap-cakap ria dengan Marni Si Pelangi Kantin. Ya, seharian dan memang setiap hari itu yang dia lakukan sebagai PNS teladan terpilih tahun ini. Memang tidak semua instansi pemerintahan di kota kecil ini melakukan “penghargaan khusus” tersebut, namun bukan Parno namanya kalau tidak selalu mengi-yess-kan titah Pak Kartono, Kepala Dinas Perhubungan, yang secara disengaja adalah tak lain Pak Dhe-nya sendiri.

-Dengan ini, saya Kartono Sumardi, S.Sos selaku Kepala Dinas Perhubungan Kota Raya memutuskan bahwa PNS teladan yang terpilih tahun ini adalah Parno Siswoko, S.Spd karena atas kinerja dan dedikasinya, Dinas Perhubungan Kota Raya meraih piala sebagai instansi yang bersih dan berprestasi….. bla bla bla bla….-

Preeetttt!!! Hari itu kusumbat telingaku dengan kapas murah seribuan. Heleeh, paling juga suruh keplok keplok doang, pikirku menahan tawa dibawah sinar matahari manja.

“Bagaimana? Istrimu bangga kemarin?” tanyaku di kantin sewaktu rehat.

“Lho yo seh!! Parno ngunu, yo mesti ae berprestasi! Istriku kemarin bangga, sangaaaatttttt bangga,” dengan wajah kesal kenapa kata ‘sangat’nya memakan durasi, ku panggil Marni agar membawakan kami dua cangkir kopi ekspresso hangat.

“Setelah membuka bingkisan”

Sontak, geli sekali rasanya bila mendengar nada bicara kalimat terakhirnya itu. Duh! Gusti, Gusti, opo yo semua perasaan manungsa kuwi bisa diuangkan?

Hingga suatu waktu di hari Senin yang cerah, Pak Karto memanggil semua staff untuk meeting.

“Jadi atas kehendak Wali Kota, kali ini kita diundang untuk memeriahkan perayaan Hardiknas”

Karnaval. Karnaval. Karnaval dan karnaval lagi.

Ya, Kota Raya sebentar lagi akan berbenah diri menyiapkan satu dari sekian banyaknya perayaan yang ada. Aku muak mengikuti acara ini berkali-kali. Pengalaman kemarin pas karnaval perayaan menyambut Ramadhan berakhir dengan infus di pergelangan tangan kanan.

“Man! Kau yang berdiri didepan ya”

“Megang sound speaker lagi?”

“Ya, mau apa lagi?”

Tak kusahut, kuseret Parno dan kubisiki ia sesuatu.

“Bagaimana?”

“Tapi janji yo! Ojo lali madune,” ucapnya kegirangan.

Acungan jempolku yang bisa menjawab pernyataannya barusan dengan diiringi efek desisan “Sipp!”

Sehari sebelum tanggal 2 Mei, arak-arakan yang kami hias hampir selama seminggu itu nongkrong dengan pulasnya di halaman Hotel Brahmaputra, seberang jalan Kantor Pemkot. Prediksiku kalau wanita, saat ini dia pasti tengah bersiap-siap menghadapi kerumunan pemirsa jalanan yang akan menyaksikan tubuh seksinya dipertontonkan. Aih, jangan sungkan dan malu arakan, kau tau berapa biaya yang digelontorkan untuk mendadanimu? Hampir 10 juta.

“Lagian kenapa kita harus menginap di hotel kalau cuman untuk menjaga arak-arakan itu?” Kata mbahnya sih supaya tak ada tangan-tangan jahil yang menggerayangi. Dan juga : UANG. Faktanya, jarak setiap kantor instansi pemerintahan memang sangat berjauhan. “Ya, itu namanya asas desentralisasi! Setiap daerah diberi kewenangan masing-masing untuk mengatur daerahnya. Hubungannya dengan gedung-gedung yang berjauhan itu supaya tiap kelurahan ada gedung pmerintahan yang mewakili, supaya tak sempat masyarakat sekota iren-irenan.” Lho, udah didesentralisasi kok masih adu unggul? Oh, ini toh yang dinamakan “periuk penyot di dalam guci pecah”.

Tapi kurasa bukan itu alasannya. Gedung-gedung instansi itu dibuat saling berjauhan supaya Si Uang Transport tetap exist. Ujung-ujungnya: UANG. Cerdas! Itu sebabnya kenapa aku bisa berleha-leha di hotel mewah ini.

“Yakin bakal jadi yang favorit lagi?” tanyaku sambil mencecap kopi di restoran hotel pada Parno. Sambil bersungut-sungut dan melepas hisapan mulutnya pada rokok, ia menanggapi, “Ya iyalah! Hayo siapa yang tidak kesengsem ati melihat arakan seharga 10 juta itu?”  Dengan bangganya Parno berargumen. “Memangnya barang mahal selalu bagus tha?” tangkisku. “Yo mesti ae rek, coba kau lihat para lonte-lonte yang berkeliaran di hotel ini. Sudah barang tentu ‘harga’ mereka berbintang 5, wong ‘barang’nya masih bagus dan necis ditambah ‘service’ hot-ngehot bohay. Ihh…, bikin ngiler!!”

Kujitak kepalanya keras, ia mengaduh. Nih bocah bikin malu saja, pikirku. Mungkin maksud hati Pak Kartolo memberinya nama “Parno” lantaran beliau melihat anaknya ini memang sedari bayi sudah bakat berwajah porno.

“No! Itu Sumiati kan?”

“Mana? Sumi Si Tinta Hitam kan? Bukannya dia mantanmu sewaktu SMA.”

“Jangan keras-keras bahlul! Tuh dia menoleh, jangan liat! Jangan liat!” jantungku berdegup keras melihat wajahnya sekilas kilat tadi.

Kenapa dia berdiri didepan arakan? Menunggu pelanggannya? Aduh, amit-amit kalau sampai dia mendatangiku, bisa punah diceramahi istri nantinya. Aku kalut, lalu kuputuskan untuk masuk ke kamar hotel yang disediakan untuk para penjaga arakan. So, berapa biaya menginap permalamnya disini?

“Rp 750.000, Mas!” jawab resepsionis.

Sungguh? Ku check lagi berkas dari Parno. Disini tertulis biaya dinas untuk penginapan penjaga sebesar 2 juta. Lantas lari kemana yang 1,25 jutanya?

“Kamu berapa?”

“5 juta, Mas!”

Alamak! 5 juta!?? Mataku terbelalak mendengarnya. Lalu tertawa barang sebentar dengan pegawai dari dinas arsip dan pustaka itu. Yang kutahu setiap dari kami pasti memikirkan hal yang sama. Kemana sisanya?

Masuk kantong. Kenapa harus kantong? Ada apa dengan kantong? Apa salah kantong? Ia hanya menampung tanpa mandat untuk menghabiskan. Eh ternyata selain pegawai rendahan sepertiku, kantong juga menjadi kambing hitam yang menjanjikan.

Keesokan harinya disaat jam tangan rolex Walikota menunjukkan pukul 09.00 pagi, kusisipkan uang 50-an di jaket kelabu yang menggantung milik Parno. Eits, ada bercak merah tuh di kerahnya, apa jangan-jangan semalam dia sukses ber-kongkalikong dengan lonte-lonte itu? Uhm, sungguh sebagai PNS, pemerintah telah memberikan kepuasan pada pegawainya lahiriah dan seksualiah namun sungguh teramat miskin untuk hal batiniah.

“Sudah siap, Man!”

“Iya nih, sudah beranjak siang. Acaranya dimulai kapan sih?”

“Katanya jam 1 siang. Sudah sarapan belum?”

Hmmm… Sebelum kulumat habis pertanyaannya, tiba-tiba dia mendorongku ke restoran. Ada dana untuk makan juga? Sambil melirik jendela, kulihat si arakan sudah telanjang bulat untuk dinikmati warga. Ah arakan, ternyata dirimu tak jauh berbeda denganku, dengan Parno dan dengan semua PNS ang imannya ‘gampangan’.

Kulahap ayam goreng sambel terasi ini dengan sangsi. Mendadak Parno muncul dan dengan gesitnya mencomot ayam goreng didepanku. Sambil menahan marah, mataku melotot mengoreksi kebarbarannya itu. Maklum mas, dia bukan manusia. Kuharap Santo sang pegawai arsip ini mengerti arti bahasa tatapanku.

Acara dimulai pukul 1 siang. Ditengah siraman sengatan matahari berbalut sinar UV, warga kota ini nekat berbondong-bondong untuk sekadar ndheleng karnaval ini. Acara pamer-pameran. Iki lho aku! Ciyuss….?? Halah, memang sudah watak masyarakat sini sukanya pamer. Bahkan Bu Rini, tetangga sebelah, cerita istriku katanya mending membelikan sepeda motor satriya ketimbang membelikan Rudi, anak sulungnya buku pelajaran. Alasannya? “Bukan harta namanya kalau tak terlihat tetangga”

Oh, sekarang aku cukup paham. Ingat arakan, engkau dengan segala accessories, embel-embel, rumbai dan tetek bengek itu adalah representative kekayaan Dinas Perhubungan. Ingat itu! Tapi eits, menengok Darmo pegawai arsip tadi, instansiku masih kalah kaya dong?

Daripada itu karnaval sudah dibuka oleh Walikota dengan pidato 45-nya itu. Sorak riuh rendah menghiasi punggung jalan, kebetulan yang pertama kali meluncur adalah perwakilan dari Dinas Arsip dan Pustaka. Dengan kreatifnya mereka menampilkan dua ogoh-ogohan yang mengundang perhatian. Ogoh-ogoh pertama berbentuk monster item dekil berkepala dua yang diberi nama Bomis alias Bodoh-Miskin. Kalau digambarkan monster ini lebih seram dari Haranyakasipu. Bukan hanya taring tajam, uangpun bisa menjadi senjatanya. Oalah.

Sedang seperti biasa sang musuh Bomis, Dasya alias Cerdas-Kaya digotong oleh orang-orang yang berbeda. Bersenjatakan buku dan lagi-lagi uang, Si Dasya ini bolak-balik dibentur-benturkan dengan Bomis sepanjang perjalanan. Mirip wayang berjalan, pikirku. Lebih tepatnya mirip uang 14 juta yang sedang berparade. Lalu dibakar habis ditengah alun-alun, disaksikan banyak orang dengan pita suara yang siap memekik tajam. Oh uang 14 juta, abukah raga reinkarnasimu di kehidupan yang sesingkat ini?

Semakin sore, semakin panas keadaannya. Ada banyak PKL-PKL yang bermunculan hari itu, menambah kusut masai arus lalu lintas. Kalau lapar tengok kanan-kiri sudah cukup, aneka jajanan juga berjibun menggunung. Ada bakso seharga 5 ribuan, cilok 3 ribuan, pentol 2 ribuan, es doger 3 ribu lima ratus dan gelas-gelas bekas Alamo tergeletak kosong yang dijamin gratis. Kenapa mendadak semua yang melintas didepan mata bisa dinominalkan olehku? Apa iya termasuk ibu-ibu tua yang sedang kerepotan menggendong anaknya disampingku kini juga bisa diuangkan?

Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Kenapa tiba-tiba aku berprasangka buruk pada Si Parno. Dengan cemas kuperhatikan baik-baik arakan demi arakan. Kami mendapat urutan ke 16 namun bukan berarti akan berjalan lancer.

Kembali kuusir bayangan akan Parno. Sudah sekian milyar kalinya aku berhipotesa, orang yang bisa dijejal uang tak akan pernah bisa dipercaya. Kira-kira begitu yang kata yang mendengung-dengung dibenakku.

Urutan ke-16.

*Wakh!

Mana Si Parno. Pekikku kaget. Kok yang menunggangi arakan elok itu para pemuda tak dikenal? Atau jangan-jangan…..

“No, kowe wes edan aa?”

“Sssttt…. Ini namanya penghematan Man!”

Sudah terbayang, ia pasti membayar para pemuda tersebut dengan sejumlah uang atau paling tidak selinting rokok murahan.

“Ya, sering-seringlah Pemkot ngadakan karnaval. Demi kesejahteraan masyarakat juga. Yang miskin dapet senang, yang nganggur dapat pekerjaan. Apalagi yang menjadi bendahara partisipan!”

“Emang dapat apa?”

“Dapat kebagian itu uang.”

Yeni Haberler için Halkın Habercisi - Bağımsız Habercilik

Haber Adresi:http://www.halkinhabercisi.com/gormeyen-gozlerden-bir-eser

Görmeyen gözlerden on bir eser

5 gören, 6 görmeyen yazarın yazdığı 11 tiyatro oyunu ünlü sanatçılar tarafından tüm sanatseverler için sahnelenecek.

 
Kadıköy Belediyesi Engelli Merkezi, Tasarım Atölyesi Kadıköy (TAK) ve Tiyatro Laboratuvarı’nın ortaklaşa başlattıkları görme engellilerle, engeli olmayanları aynı atölyede buluşturan ” Görmesen de Olur” ” Yazarlık Atölyesi’nde üretilen 11 oyun “ Görmesen de Olur Okuma Tiyatrosu Festivali’nde sanatseverlere sunulacak.

 

Görmeyenlerin görenleri sahneye çağırdığı festivalde: Algı Eke, Bennu Yıldırımlar, Birce Akalay, Can Yaman, Deniz Türkali, Deniz Uğur, Elif Erdal, Furkan Palalı, Galip Erdal, Kerem Alışık, Levent Can, Levent Ülgen, Mine Tugay, Oktay Kaynarca, Sarp Levendoğlu, Savaş Alp Başar, Seda Güven, Sezgi Mengi, Songül Öden, Tolga Güleç, Tuba Ünsal, Yeliz Şar, Uygar Özçelik, Yunus Emre Yıldırımer, Sercan Alben Serhan Alben ve Serkan Alben gibi ünlü oyuncular sahneye çıkacak.

 

Türkan Şoray, Jülide Kural, Kadir İnanır, Yasemin Yalçın, Meltem Cumbul, Mazlım Kiper, Engin Uludağ, Zihni Göktay, Haldun Dormen, Göksel Kortay gibi sinema ve tiyatro tarihinin efsaneleşmiş usta isimlerin yanı sıra, şehir ve devlet tiyatrosu genel sanat yönetmenleri, sinema yapımcıları ve yönetmenleri festivalin onur konukları olacak.

 

Yazarlık Atölyesi eğitmenleri Serhan Alben ve Sercan Alben ile yazarlara takım kaptanlığı yapan Aytuğ Akdoğan’ın ” Bir oyun, edebiyata değil tiyatroya aittir” sözünden yola çıkarak seyirciyle buluşturulmak istenen eserler 9-10 Mayıs 2015 tarihleri arasında Kadıköy Cadde Bostan Kültür Merkez’inde günde 12 saat, toplamda 24 saat üzerine gerçekleşmesi planlanıyor.

 

Festivalde yer alan oyunların adları ise şöyle: Semruk- Ekmek Arası Patates Kızartması-Küçük Mavi Soluk Nokta Gibi Şeyler- Self Servis- Maske- Oturma Odası- Refakat- 20.15 İdamı- Yansıma Payı- Örtülü Ödenek…

 

Ayrıca, festival kapsamında ortaya çıkan yeni oyunların kitaplaştırılıp, başka şehirlere de ulaşması ve görmeyenlerin farkında lığına katkı sağlayıp, diğer görmeyenleri de teşvik etmek amacıyla projenin kitaplaştırılması söz konusu.

 

 

WATCH NOW MY INTERVIEW WITH MLIMANI TV!
by @swahilination “Katika @mlimanidotcom leo hii saa kumi na moja jioni tutakukutanisha na @sheriangowi ili upate kujua namna gani mitandao ya kijamii imeinfluence career ya #fashions and #design

Go and follow @mlimanidotcom @mlimanidotcom @mlimanidotcom ili uweze kufahamu haya na mengine mengi.

Cc: @mndewa52 @h.a.y.q.a.l @tryphone_junior @vidotiofficial @mamu_jay @itc_me03 @williamcharles2” via @PhotoRepost_app (at Sheria Ngowi Flagship Store)

5

Mengy Commission Info - Examples above! Starting price: $25 (shipping is extra)

Every Monday at approx 8am PST, several commission slots will open up for 2” Mengy style amigurumi plushie. The commissions can be any kind of animal, real or fantasy! (No humans, sorry!) Commissions will be made during that week and shipped out on the following Sunday, and then the commission slots will open up again on the next Monday! No 8 week waiting lists! Yay!

Commissions will be accepted only through my Etsy store. Commission slots will be posted as a buyable item in my Etsy store with a deposit of $25. When purchasing the slot, let me know what you would like commissioned. If more details are needed or, if the amigurumi is very detailed (example: 2 headed dragon, white kyurem) , I’ll message you to let you know any extra costs and you can decide if you would like to continue or have the deposit refunded.

Currently I can only accept 2” plushie commissions as I only have yarn in stock for that size.

 

I’ll announce on tumblr, Etsy and twitter when the commissions slots are opening!

Makala yangu katika RAIA MWEMA: "Ajali...ajali...ajali...(sijui mpaka lini!)"

Inasikitisha, inaumiza, inashangaza, na inaacha maswali mengi kuliko majibu kila tunaposikia “ajali yauwa…ajali yajeruhi…” Ndio, matukio ya ajali huko nyumbani yamekuwa kama jambo la kawaida kutokana na mfululizo wake, lakini hali ilivyo sasa ni ya kutisha.Huko nyuma niliandika takriban makala mbili kuhusu suala hili la ajali, sio tu kwa vile tukio lolote linalopelekea kupotea kwa uhai wa wenzetu linaumiza nafsi bali pia kutokana na ukweli kwamba kwa hapa Uingereza ajali ndogo tu ni tukio linalokamata hisia za takriban nchi nzima, kinyume na ilivyozoeleka huko nyumbani.
Wakati ajali zinaendelea kuteketeza maisha ya Watanzania wenzetu, angalau kwa mara ya kwanza Taifa linaonekana kuguswa, na tayari zimeanza harakati za uhamasishaji dhidi ya ajali katika mitandao mbalimbali ya kijamii. Hata hivyo, ukweli mchungu unabaki kuwa ajali bado zinaonekana kama matukio ya kawaida tu.Sijui lini taifa limeonyesha kuguswa na vifo vilivyotokana na ajali kiasi cha angalau bendera kupepea nusu mlingoti. Sijui sababu ni kwamba ajali zimezoeleka mno, au kwa vile ‘ajali haina kinga,’ au kwa sababu wahanga wengi wa ajali za barabarani ni ‘watu wa kawaida.’Kabla sijaanza kuandika makala hii nilisoma habari kuhusu vurugu zilizotokea huko Korea ya Kusini katika maadhimisho ya mwaka mmoja tangu itokee ajali mbaya ya feri iliyosababisha vifo takriban 300. Hakuna anayefahamu kinachojiri baada ya kifo, lakini yayumkinika kuamini kuwa marehemu wasingependa kukumbukwa kwa vurugu. Lakini vurugu zilizotokea huko Korea ya Kusini ni ishara ya wananchi kukerwa na jinsi serikali yao ilivyoshughulikia janga hilo, hata kama haikuisababisha.Hapa simaanishi kwamba Watanzania nao waingie mtaani na kufanya vurugu kuisukuma serikali ichukue hatua stahili dhidi ya ajali. Hata hivyo, ni muhimu angalau kuiamsha serikali kwa kuifahamisha kuwa hatuwezi kuangalia tu maisha ya Watanzania yakiteketea kama hayana thamani kutokana na mfululizo wa ajali. Busara kwamba ‘ajali haina kinga’ hai-apply katika nyingi ya ajali zinazotokea huko nyumbani.Kwa mtizamo wangu, chanzo kikubwa cha ajali ni rushwa. Rushwa inayowezesha madereva wasio na sifa kuwa barabarani huku wakihatarisha uhai wa abiria wao. Rushwa inayoruhusu magari mabovu yabebe abiria na kuweka rehani uhai wa abiria. Rushwa inayofumbia macho makosa ya madereva barabarani na hivyo kuwapa imani kuwa hakuna kitu kiitwacho ‘kosa kinyume cha sheria za usalama barabarani’ alimradi dereva ana uwezo wa ‘kumpoza’ askari wa usalama barabarani.Wanasema ‘rushwa huuwa.’ Na katika janga hili la mfululizo wa ajali, rushwa inauwa kweli kweli, na inaendelea kugharimu maisha ya Watanzania wenzetu kila kukicha.Rushwa imekuwa sehemu ya maisha ya kawaida ya Mtanzania, na sintoshangaa iwapo baadhi ya wasomaji ‘wataniona mtu wa ajabu’ kwa kuhitimisha kuwa rushwa ni chanzo kikuu cha ajali huko nyumbani. Kwa wengi, rushwa ni tukio la muda mfupi tu linalorahisisha au kuwezesha upatikanaji wa huduma au bidhaa. Hata hivyo, ukweli mchungu ni kwamba rushwa ni kama kansa, inaitafuna jamii taratibu, na siku ya siku, madhara yake makubwa hujitokeza hadharani.Mfano mmoja kuhusu athari za rushwa ni suala la ugaidi nchini Kenya. Wachambuzi wa masuala ya usalama wanahitimisha kuwa kwa kiasi kikubwa tu, rushwa katika vyombo vya dola nchini Kenya imewarahisishia magaidi wa Al-Shabaab kutimiza malengo yao kuishambulia nchi hiyo.Kwa huko nyumbani tumeshuhudia matatizo mengine ya kijamii yanavyorutubishwa na rushwa. Mfano rahisi ni kushamiri kwa biashara ya madawa ya kulevya. Tanzania yetu sasa ni miongoni mwa vituo vikuu vya biashara hiyo duniani, na kilichotufikisha katika nafasi hiyo isiyopendeza hata kidogo ni urahisi wa kuingiza na kutoa madawa ya kulevya nchini mwetu. Niwe mkweli, kila ninaposikia polisi wamekamata kiasi fulani cha madawa ya kulevya, hisia yangu ya kwanza ni madawa hayo yaliyokamatwa yataishia kumnufaisha mtendaji fulani wa taasisi zenye wajibu wa kuyadhibiti.Takriban kila dereva na abiria anafahamu jinsi askari wa usalama barabarani walivyogeuza rushwa kuwa haki yao. Kibaya zaidi, madereva wengi nao wamejenga fikra kuwa kutoa rushwa kwa askari wa usalama barabarani ni wajibu wao. Hili ni janga: rushwa kama haki wa wapokeaji na wajibu kwa watoaji.Wakati mmoja nikiwa safarini huko nyumbani, basi nililopanda lilisimamishwa na askari wa usalama barabarani, na baada ya dakika kadhaa, baadhi ya abiria walisikika wakimhasisha dereva ‘amalizane na trafiki’ (ampe rushwa) ili safari iendelee. Hivi ndivyo rushwa ilivyoota mizizi katika Tanzania yetu.Kwa upande mwingine, janga la ajali kuonekana kama jambo la kawaida tu ni mwendelezo wa kasumba inayolikwamisha mno taifa letu: kuzowea matatizo. Angalia tatizo la mgao wa umeme lilivyodumu miaka nenda miaka rudi pasipo Watanzania kutumia nguvu ya umma kuilazimisha serikali na Tanesco yake imalize tatizo hilo. Mgao wa umeme umekuwa stahili ya Watanzania, na kikubwa wanachoweza kufanya ni kuitukana Tanesco matusi yasiyoandikika hapa, kana kwamba matusi hayo yatamaliza tatizo hilo la miaka nenda miaka rudi.Kwenye sekta ya huduma, hali ni hivyohivyo. Ukifuatilia kwenye mitandao ya jamii, idadi ya matusi yanayoelekezwa kwa makampuni ya huduma mbalimbali, kwa mfano makampuni ya simu, ni kubwa na inakua kila siku, lakini ‘mashujaa hao wa matusi’ hawataki kabisa kujifunza kuwa matusi yao hayabadili chochote, na ndio maana kila kukicha inawalazimu waje na matusi mapya kama si kuyarudia yale ya zamani.Lakini kwa hali ilivyo sasa kuhusu janga la ajali, ‘usugu’ huo wa kuyazowea matatizo inabidi ifikie kikomo. Taifa lolote linalojali mustakabali wake lazima liamke inapofikia hatua ya watu 969 kupoteza maisha kutokana na ajali katika kipindi cha takriban miezi mitatu tu. Naam, tangu mwaka huu uanze, tumepoteza wenzetu takriban 300 kila mwezi kutokana na ajali, kwa mujibu wa takwimu zilizopatikana wiki iliyopita.Katika sehemu kubwa ya makala hii nimezungumzia rushwa kama chanzo kikuu cha janga la ajali. Hata hivyo, kwa mtizamo wangu, kingine kinachochangia baadhi ya ajali ni ‘uzembe’ wa wengi wa abiria: kukaa kimya pale madereva wanapohatarisha maisha ya abiria kwa uendeshaji usiozingatia sheria za usalama barabarani. Na pengine cha kukera zaidi ni tabia iliyojengeka miongoni mwa abiria wengi kuwasifia madereva wanaodhani ni kosa la jinai kuendesha motokaa taratibu hata kwenye eneo hatari.Inasikitisha na kuchukiza kusikia abiria wakimshangilia dereva anayeendesha basi kwa kasi au ku-overtake gari jingine pasi kuona kama kuna gari jingine linakuja kwa mbele au la. Dereva anayeshangiliwa kwa uendeshaji gari wa hatari anajenga imani kwamba huo ndio udereva stahili, vinginevyo abiria wangemkemea.Ifike mahali Watanzania tuache kukubali kilicho pungufu (not settling for less). Ukinunua tiketi kwa ajili ya safari umenunua pia haki na stahili zako ambazo kamwe hupaswi kumruhusu dereva azichezee. Ni wazi kuwa umoja na mshikamano wa abiria kukemea madereva wanaokiuka sheria za usalama barabarani unaweza kusaidia kupunguza baadhi ya ajali zinazoepukika.Nimalizie makala hii kwa kutoa salamu zangu za rambirambi kwa ndugu na jamaa wa Watanzania wenzetu waliopoteza maisha katika ajali mfululizo.Pia ninaomba kufikisha ujumbe huu kwa askari wa usalama barabarani: kila shilingi mnayodai kama rushwa ili kufumbia macho ukiukwaji wa sheria za barabarani inachangia ajali na vifo vya Watanzania wenzetu. Mikono ya kila askari aliyepokea rushwa na kisha gari husika likapata ajali ina damu ya waliokufa katika ajali husika.Kadhalika, ninatoa wito kwa madereva, hususan wa magari ya abiria, kuthamini uhai wa abiria wao, kwa kuepusha ushindani hatari barabarani, mwendo kasi na kuheshimu sheria za usalama barabarani.Lakini kubwa zaidi kwa Watanzania wote ni kupambana na kansa hii ya rushwa ambayo sasa inalitafuna taifa kwa kuchangia ajali hizi mfululizo, kama inavyosababisha madhara mengine makubwa katika nyanja mbalimbali za maisha.

ANGALIZO: Makala hii ilichapishwa katika toleo la tarehe 22.04.15 lakini iliwekwa mtandaoni juzi. Samahani kwa kuchelewesha kui-post.

http://dlvr.it/9bJN5J

4

Commissions Opening Soon!

Just a reminder that my commissions queue will be opening on Sept 1! I’ll be open to taking any animal related amigurumi! They will be approx 2" and be done in my big head, small body Mengy style! I’ll only be taking commissions for that size, as all my yarn in stock is best to produce the 2" size.

Price will be starting at $25 for most and more complex designs will be more. For example, everything in the above pictures would cost $25. Plus shipping (Although since I already have patterns for everything in the pics, they are available in my Etsy store for $20).

Start thinking about what you want to commission! Beat the Christmas rush!

All commissions will be through my Etsy Store: https://www.etsy.com/shop/mengy

Tubuh bisa Bicara #1 Paru

Taukah kau?
Tubuh kita punya irama.
Ia bisa berbicara.

Sekali-kali bermainlah dengan stetoskop.
Dengarkan suara di trakhea dan dada, kau akan dengar irama yang berbeda.
Dalam kondisi normal kau akan dengar suara trakheal di trakhea dan vesikuler di dada, sangat indah, cobalah.
Jika asma kau akan dengar suara mengi.
Jika pnemoniae kau akan dengar suara ronkhi.

Luar biasa.
Paru bisa bicara.
Beda kondisi beda cerita.
Yuk dengarkan mereka.

#PanumThorax

Keep your eyes open! ^.^ I’m going to need some help to see if this little baby Charmander will ship in the mail as letter sized. Sometime this weekend (as soon as I have a chance to do a mini photoshoot) I’ll post a contest and I’ll randomly give away baby Charmander to someone! He won’t be available in my Etsy store for a little while!

Huu ni muonekano wa email inayokujia ukiwa umesubscribe kwa kuweka email ili tukutumie kila tunachopost …. Leo tuko na @vickylingerie @vickylingerie @vickylingerie aka jirani ambaye tuliongea nae mengi nakuonjesha aliyoitaja km CHANGAMOTO UNAZOKUTANA NAZO:Kupata bidhaa zinazokidhi soko la Tanzania kwasababu wanunuzi ni watu ambao ni wa kipato cha chini sasa ina kuwa issue kuleta kitu kizuri chenye quality nzuri kwa bei kubwa watu wanakuwa hawaelewi vizuri thamani ya kitu chenye quality nzuri kwakuwa wamezoea bei za chini. #8020fashionsWC2015 #womenCelebrations2015 #UseSocialMediainaPositiveWay (at 8020fashions office ,Dar Free Market 1st floor room 28)