Jika merasa diri tidak kemana-mana, di situ-situ saja, tak ada peningkatan berarti dari hari ke hari, coba deh periksa Subuhnya. Periksa juga Tahajjud, Dhuha dan sedekahnya. Mungkin banyak yang dilewatkan. Juga, periksa hati, siapa tahu jarang mengucap syukur.


Selamat malam.

—  Fitriyani Sy
Bolehkah kusentuh dada kirimu? Untuk memastikan masih adakah debar jantung yang mengucap namaku?

Kamu punya harga, kamu bukan percuma!

Andai gula-gula perisa strawberi punya harga, mana mungkin wanita diiktiraf Nabi tiada harga!?

Wah, kamu sudah diiktiraf Nabi Muhamad melalui hadis baginda yang suci, expensive itu sudah tentu confirm memang ada dalam diri kamu.

Konklusinya, kamu punya harga, bukannya percuma. Maka yang mampu membelimu hanyalah lelaki yang mengucap akad nikah.

Apakah kamu ingin berkongsi keindahan dirimu dengan para lelaki yang belambak-lambak di alam maya secara percuma?

Tidak perlulah rasanya, wajah indah itu biarlah untuk yang memberimu mahar, mas kahwin. Ingat, jadikanlah suami kamu itu special edition.

Keindahanmu hanya untuk mereka yang sepatutnya! ;D

islam yang ditemukan dalam do'a hindu.

image

Namanya I Nyoman Pugeg Aryantha. Ia dikenal sebagai dosen spesialisasi jamur di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB.

Nyoman ditakdirkan lahir sebagai sesosok hindu di Bali. Kedua orang tuanya telaten merawat adat hindu dalam kehidupan mereka. Sedari kecil, Nyoman diajari pelbagai ritus keagamaan khas hindu Bali.

Menginjak kuliah, Nyoman, sebagai seorang intelektual— merasakan kegamangan antara perannya sebagai intelektual dan identitas keagamaannya.

Di suruh menyembah Tuhan, kok malah menyembah dewa-dewa? Malah menyembah banyak?

Di lain sisi, ia pun banyak bersinggungan dengan beragam muslim. Beberapa praktik keislaman sederhana seperti mengucap “Assalamu’alaykum”, “Insya Allah”, fasih ia lakoni.

Oleh karena gamangnya itu, kemudian ia berdo’a. Ia minta diberikan jalan keluar atas badai pikirannya itu. Trisandya, salah satu do’a umat Hindu, ia lakoni.

Hingga tibalah suatu saat dimana komputernya rusak. Data-datanya hilang. 

Bingung bukan main atas musibah yang menimpanya, menyeruaklah secara tak terduga pemikiran gila di kepalanya. “Kalau Islam itu benar, benarkanlah komputer saya ya Tuhan!”

Voila! Beberapa saat kemudian, komputernya pun sembuh seperti sedia kala. Ia kaget bukan main.

"Bi..bi..bicara apa saya tadi?"

Namun, ketakjubannya itu ia patahkan dengan nada pesimis. Nggak mungkin saya masuk Islam, dengan keadaan keluarga saya yang memegang adat hindu Bali sedemikian patuh.

Akhirnya, terkuburlah dalam benak niatan untuk menyelami Islam lebih lanjut.

Beberapa tahun kemudian, sebuah insiden menyambar kesadarannya. Saat berdo’a Trisandya, lilin yang ia taruh untuk ritual do’anya tersenggol. Kemudian, api dari lilin tersebut membakar poster dewa yang ada di depannya.

Dari situlah, ia mulai mempertimbangkan untuk mempelajari Islam.

Kini, ia sudah menjadi muslim, memiliki istri muslimah, dan cukup berhasil meyakinkan keluarganya mengenai kebaikan nilai-nilai Islam.


***


Kisah nyata di atas disampaikan pada saat Nyoman menjadi pembicara diskusi “Budaya Bali dan Kehidupan Beragama” pada Ahad, 31 Agustus 2014 silam di Salman Reading Corner.

Nyoman menunjukkan pada kita suatu upaya sederhana dalam pencarian kebenaran. Uniknya, jawaban “Islam” sebagai upaya pencarian itu didukung oleh do’a Hindu yang Nyoman rapal.

Mengapa saya katakan kebenaran? Karena saya yakin, Islam adalah sang muara kebenaran hakiki.

Untuk saat ini, saya tidak akan berbicara mengenai keabsahan dan rupa-rupi mengenai otentisitas Islam sebagai kebenaran mutlak.

Tidak. Saya tidak ingin menekankan jika komputer yang tiba-tiba benar adalah pertanda Islam itu benar. Atau api yang membakar poster dewa Hindu adalah pertanda kebenaran Islam.

Allah SWT berkomunikasi pada manusia lewat berbagai cara. Baik dengan proposisi logika yang ditawarkan Alquran pada seorang Profesor Bahasa asal Prancis, maupun yang kemudian diakhiri dengan lengking merdu azan di padang pasir.

Saya hanya ingin menekankan satu hal.

Do’a.
Ya, orang beragama biasa menyebutnya Do’a.

Apapun agamamu, atau apapun jenis ketidakberagamaanmu— berbisiklah pada kekuatan besar pengatur alam semesta ini untuk menunjukanmu pada kebenaran hakiki. 

Bahkan, do’a seorang Hindu pun— saya garisbawahi: dengan cara Hindu pun— dapat mengantarkan seorang Nyoman pada kebenaran hakiki. :)

Jadi geng, baik kamu yang sudah shalih bukan main, hindu, kristen, agnostik, atheis, dan sebagainya~ cobalah berdo’a (atau apapun yang sejenis) untuk didekatkan pada kebenaran.

Terkadang, setelah kita berdo’a (atau apapun yang sejenis), semesta dengan sinyal-sinyalnya (baik dalam hati nurani maupun eksternal luar kita) memberi petunjuk kemana kita melangkah.

Jika kita jujur dan rela, melangkahlah kita.
Jika kita menafikan petunjuk tersebut, berpalinglah kita.

Mungkin hingga akhir hayat, kebenaran belum terwujud sempurna dalam pencarian. Seperti pecandu kokain di New York. Mungkin ujian yang Allah beri agar ia selangkah mendekati kebenaran baru sebatas “berhenti dari kokain”.

Memang harus jujur. Seperti saya. Mana ada saya punya rencana jadi orang religius? Mana ada saya berencana buat berjilbab panjang? Mana ada lima tahun lalu saya punya rencana buat tiap hari pergi ke Masjid, ngurusin medianya secara rutin?

Namun, setelah sering berdo’a sederhana minta diberikan petunjuk; semesta seolah-olah menuntun. Hati nurani terketuk, meski batin berontak.

Rasanya berat diri ini untuk membuka pintu hati. Namun tak mau juga diri ini menutupnya lantaran tahu: bahwa semesta sudah tunjukkan apa yang seharusnya saya lakukan.

Maka saya ikuti. Saya merespon sinyal-sinyal semesta— atau saya yakini sebagai “tanda-tanda Allah”. 

Kendati demikian,  hingga kini saya masih suka berperang dengan hawa nafsu sendiri kok. 

Hehe.

Hey, atau mungkin mekanisme pencarian kebenaranmu tidak mengenal istilah berdo’a? Namun dengan serentetan fakta-fakta yang meyakinkanmu? :)

Sepengalamanku, do’a mempermudah segalanya.
Namun, semua kembali pada pilihan masing-masing, bukan?  :)



*Gambar dari sini.

Dari mata Ibu ; Bukankah Sang Maha Pengasih begitu sering mengucap “fashbir..” di dalam surat cinta-Nya? Maka dari itu jangan biarkan sabar itu hilang entah kemana.
Dalam derita ada bahagia Dalam gembira mungkin terselit duka
Tak siapa tahu
Tak siapa pinta ujian bertamu
Bibir mudah mengucap sabar
Tapi hatilah yang remuk menderita
Insan memandang
Mempunyai berbagai tafsiran
Segala takdir
Terimalah dengan hati yang terbuka
Walau terseksa ada hikmahnya
Harus ada rasa bersyukur
Di setiap kali ujian menjelma
Itu jelasnya membuktikan
Allah mengasihimu setiap masa
Diuji tahap keimanan
Sedangkan ramai terbiar dilalaikan
Hanya yang terpilih sahaja
Antara berjuta mendapat rahmat-Nya
Allah rindu mendengarkan
Rintihanmu berpanjangan
Bersyukurlah dan tabahlah menghadapi
Yang Kokoh Tanpa Memusingkan Nama
— 

padamu aku mengucap rindu
tentang debu yang tak kuasa melawanmu

kau yang diam tapi selalu pengertian
kau yang diam tanpa pernah memusingkan nama

yang menjadi tameng rasa malu
yang menjadi benteng ganasnya angin malam

pada tiap lekukmu aku mengucap kasih
kau yang berdiri kokoh tanpa pamrih

kaulah gerbang dunia kegilaanku
penjaga setia yang tak pernah memusingkan nama

***

Terima kasih pintu kamar kos; jika tidak ada kamu, aku takkan pernah berani melawan malu untuk ganti baju. Jasamu teramat banyak, tapi kau tak pernah gila nama. Kau sungguh berjasa. I love you so much. Mmuach … :*

Saat..

Menjadi ibu adalah dambaan setiap perempuan (sumpah ini kalimatnya umum syekali), konon katanya sejak zaman udeg-udeg kesempurnaan seorang perempuan adalah saat dirinya menjadi seorang ibu. Dan saat itu tiba, saya ingin sekali..

Jika kelak dikaruniai anak laki-laki, sehebat-seganteng-sebermanfaat *aamiin aamiin* apapun ia, saya ingin menjadi seorang ibu yang ikhlas melepas putranya bersama perempuan lain. Saat waktunya tiba, saya ga mau menahan dia terlalu lama meski naluri saya pasti meraung bertanya, “Perempuan itu bisa ngurus anak saya ga yak? Dia bakal mendukung anak saya ga?”

Jika kelak diamanahi anak perempuan, saya pengen banget sobat hidup saya adalah cinta pertama bagi putri saya. Sehingga dia ga perlu mencari lope lope dari lawan jenisnya sebelum ada lelaki yang berani mengucap janji suci, memintanya dari pelukan kami. Walaupun saya tahu, pertanyaan ini pasti bikin sobat hidup saya kepikiran, “Laki-laki itu bertanggungjawab ga yak? Dia bisa menyanyangi putri saya sebaik saya tidak?”

Siapa tahu tulisan juga menjadi do’a kan. Hehe.

Baru saja aku berniat mengucap ‘selamat datang kembali’ tapi kamu berlalu lagi.
Sepertinya kecepatanmu harus diukur dengan satuan kecepatan cahaya.
—  Jakarta, 16 September 2014
23:11
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Seperti hujan yang datang tiba-tiba. Seketika kau hadir di hidupku, mewarnai hari-hari yang mulai sunyi. Tak ada kata yang kau ucap, tak ada bait yang kau tulis, tapi pesan itu sampai padaku: berlarilah bersamaku, merintik di dedaunan, terserap ke dalam tumbuh-tumbuhan, atau mengalir ke samudera. Kau rayu aku dengan kelembutan, dan aku menyerah. Aku ingin hanyut denganmu tapi tak bisa. Maka biarkanlah saja aku menjadi bunga, yang turut menyicipi segarnya tetesanmu meski barangkali tak ikut hanyut ke laut.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Seperti hujan yang turun tanpa kompromi. Pesona lugumu menghapus semua kenangan hingga yang tersisa hanyalah saat ini dan dirimu. Jadi boleh aku mengucap ‘terima kasih’? Sebab keraguan itu luruh bersama jatuhnya dirimu yang semakin deras. Tapi tetap saja aku dan kau bukan siapa-siapa. Keraguan boleh tiada, tapi kepastian juga harus segera. Maka maafkan aku yang di sini-sini saja karena tak bisa apa-apa.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Seperti gerimis. Kau hadir hampir tanpa suara. Kau masuk tanpa mengetuk. Adakah kau merasakan ketakberdayaan itu? Bahwa aku hanya bisa duduk di sini menunggu dan tak punya daya untuk berbuat sesuatu. Jadi akankah kini kau pergi tanpa permisi?

***

Puisi: Sapardi Djoko Damono – Hujan Bulan Juni, 1989

Azhar Nurun Ala

Perempuan dan Penantian

Suatu ketika, kau merasa gelisah siapa sosok yang akan berdiri satu shaf di depanmu. Dirundung tanya tentang siapa yang akan mengucap janji sehidup semati denganmu. Berandai-andai sosok seperti si fulan yang akan menggenapi tulang rusukmu. Kadang, namanya kau sebut dalam doa-doamu.

Tak ada yang salah. Karena hakikatnya setiap manusia tak bisa hidup tanpa orang lain. Terlebih seorang perempuan yang memang diciptakan untuk menjadi pendamping laki-laki sebagaimana penciptaan Hawa. Seorang perempuan sejatinya membutuhkan seseorang

Read More

Amiin :))

Ternyata Tuan meminta do’a dariku. 

Do’a….

Sebuah do’a yang yang tuan minta itu.. benar-benar membuat hatiku seketika dirundung sembilu.

Tuan meminta dido’akan agar tuan berjodoh dengan orang yang tuan cintai saat ini.

Dan yang pasti.. bukan aku.

Sebenarnya, ada sedih yang diam-diam aku sembunyikan. 

Namun, apa yang bisa aku lakukan selain mengucap ‘Amiin :))’ dengan setulus hati ?

Amiin, Tuan. Bukan Aamiin.

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video