kungkungan

Hidup hanya untuk orang yang berani menghadapi resiko, keluar dari comfort zone. Sebab terlalu rendah jika harus hidup dalam kungkungan ketakutan.

Salam.

Listening to 遠くまで by Do As Infinity

Lagu pertama di Kamis ketiga-nya Desember.
Seperti kata tanteu Van Tomiko, “hayu lumpat sing jauh. Seuseurian terus sanajan diriung ku kasusah”.
Intinya semangat, gaes. Hidup kita ini terlalu indah buat dijalani dengan kungkungan airmata atau penyesalan.
[Jadi OOT kieu :))) ]
Jangan lupa bismillah-nya kalo mau apa-apa teh. Muahhh :* #didemo – Preview it on Path.

Melantur

Kali ini saya berada di titik jenuh (lagi). Saya paham kondisi ini entah akan mengunjungi saya berapa bulan sekali, tapi rasanya selalu sulit untuk mengendalikan diri. Saya selalu bersyukur, karena ketika saya bosan saya masih bisa keluar. Walau sebentar-sebentar. Setidaknya saya tidak seperti beberapa orang di luar sana yang bahkan tidak bisa berhenti ketika kejenuhan menghinggapi. Saya masih bebas. Bebas dari segala tuntutan dan kungkungan bernama tanggungjawab. Setidaknya di dunia bernama perkuliahan ini saya bebas menentukan apa yang saya mau. Saya sudah dewasa! Saya bisa menjustifikasi sesuatu. Hahahaha. Saya masih bisa bolos kuliah ketika bosan dan melakukan hal-hal yang bisa bikin saya senang. Saya bisa mengerjakan tugas seenaknya ketika saya sedang malas. Saya tidak terganggu dengan pemikiran finansial dan orangtua yang menuntut saya mendapatkan nilai di atas rata-rata. Sebentar, menjadi mahasiswa itu tanggungjawab bukan, ya? Ah setidaknya saya bertanggungjawab atas diri saya sendiri, atas pemikiran saya, atas tubuh saya, atas mengetahui apa yang saya mau.

Dan hari ini saya sadar, kenapa selama ini indeks prestasi saya selalu tergolong memuaskan walaupun saya tidak begitu menyukai mata kuliah yang diajarkan? Ternyata, saya mengenal ambisi. Saya tidak suka tetapi saya ingin menunjukkan ke orang-orang kalau saya bisa. Walau hanya sekedar formalitas, walau hanya menghafal huruf-huruf tanpa makna sehari menjelang ujian dan membuat saya lancar menjawab ketika hari ujian itu dilaksanakan. Tak apa, yang penting orang lain tau saya bisa, saya mampu, saya punya sesuatu. Untung saya masih punya ambisi, kalau tidak, mungkin saya tidak lagi diterima ketika saya menginjakkan kaki di rumah. Kan hidup ini hampa tanpa sebuah pembuktian?

Ya ternyata pembuktian itu harus dilewati dengan serangkaian ujian. Semesta, saya benci ujian. Saya senang belajar, tapi tidak suka ujian. Saya cinta mengetahui dan mengorek lebih dalam tentang hal-hal baru tetapi tidak suka kalau harus diukur dengan hasil akhir berskala nilai. Ah, mungkin ini sifat alamiah manusia? Maunya enak-enak saja, tapi enggan diberi ujian oleh Tuhan. Padahal, agama saya bilang ujian dihadirkan untuk meningkatkan kualitas seseorang. Kualitas yang mana? Oh ya, kini ujian itu telah ditransformasi dalam banyak sebutan, kegagalan, misalnya. Kamu tidak akan belajar kalau kamu tidak pernah gagal, ya? Ternyata saya tidak bebas. saya terjebak dalam siklus kehidupan bernama roda. Hidup. menghidupi. Kehidupan. Apa ada kebebasan yang hakiki kalau sehabis saya mati masih ada tempat bernama surga dan neraka?

Tuhan, tolong dijawab.

Aku bukan prioritas

Memang sepertinya aku hanya tempat menghilangkan bosannya saja..

Dia lebih memilih yang lain..

Cari saja wanita diluar sana yg lbh dariku.. biar kau puasss..

Aku sudah cukup lelah menunggu ketidakpastian darimu..

Aku ingin keluar dari kungkungan ini.. mencari tempat yang baru dan hati yang lain..

semoga bisa secepatnya. Aaaminn..

Aku menunggu Gelap datang. Tapi dirinya tak kunjung tiba. Dunia Atas tak lagi menarik bagiku. Orang Dunia Atas mengumbar kebebasan layaknya lagu murahan yang terus diputar dalam pita kaset rusak. Padahal tak pernah ada yang namanya bebas. Mereka semua terikat oleh tali-tali kasat mata. Aku jijik melihat mereka hidup nyaman terbelit dalam kungkungan. Oleh karena itu, Aku masih menunggu Gelap datang. Dia berjanji untuk menjemputku. Janji yang kurasa dapat kupercaya. Rasanya hanya Gelap yang mengerti. Dan mungkin hanya Gelap yang bisa menyelamatkanku dari sini.