kotake

Selepas Senja dan Dua Buah Mangga

Perempuan yang sering kubayangkan selalu membawa kotak pandora itu akhirnya mengajakku berbincang, setelah sekian lama aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Bahasanya ringan, tapi akrab. Membahas apa saja. Mulai definisi mencintai, bagaimana menyikapi rindu ketika seseorang yang kita rindukan sudah mustahil untuk ditemui, konsernya Radio Head, kebiasaan buruk Kurt Cobain, hingga lagu I Won’t Give Up yang menceritakan tentang bagaimana Jason Mraz menyelamatkan perkawinannya. Sesekali kami berbagi headset ketika lagu yang kami bahas sedang mengalun dari handphone-nya. Sambil bersebelahan merebahkan diri di lantai paling atas sebuah bangunan, kami menghadap langit. Menertawakan banyak hal, termasuk rutinitas sehari-hari dan langit Surabaya yang semakin merendah, seperti bisa dengan mudah dijangkau dengan lambaian tangan.

Tak banyak pertanyaan yang ia lontarkan. Hanya sekali saja ia bertanya, tentang apa alasanku menghapus tatto kecil di sebelah jari jempol tangan kiriku. Setelahnya, ia melepas kaos untuk menunjukkan tatto di bagian tubuhnya yang tersembunyi. Sebuah tribal berbahasa latin yang menurut dia adalah nama-nama Tuhan semua agama yang dirangkai menjadi satu. Di bagian punggungnya sebelah kanan, persis di atas tali bra turun hingga ke pinggang.

Tak ada suara apapun selain apa yang kami bicarakan. Angin yang tak seberapa kencang, bulan yang belum utuh, bahkan kelap-kelip lampu kota dan suara klakson mobil-mobil mewah di bawah sana seolah memahami, bahwa apa yang kami bicarakan ini ialah perihal sepele tapi menyenangkan. Membunuh waktu dengan melewati banyak hal. Berebut cemilan, main pukul botol kosong air mineral, hingga menikmati dua buah mangga segar yang ia bawa dari rumah lengkap dengan pisau kecil yang ia ambil dari tas berwarna hijau pastel miliknya.

Seperti yang sempat kulihat, ternyata dia seorang perempuan yang pandai sekali berdansa. Dari kakeknya yang asli orang Jepang dan akhirnya hidup sebagai seorang pianis tunggal di sebuah restoran mewah ternama di kota ini, ia diajarkan gerakan-gerakan dansa. Ada beberapa gerakan ia ajarkan padaku malam itu.
“Ini gerakan yang menurutku paling intim dalam dansa. Dimana kita bisa bertatap mata langsung dengan pasangan, seperti women on top dalam gaya bercinta. Seorang perempuan bisa dengan bebas berekspresi dan merasa dirinya paling cantik. Suasana yang sungguh indah dan memanjakan perempuan.” Jelasnya sambil tersenyum, mengajari aku gerakan terakhir.

“Kamu juga menyukai tatapan mata?” Tanyaku pendek.
“Sangat!” Jawabnya tegas.
“Di sana ada tersimpan banyak hal. Seseorang bisa membangun apa saja, termasuk tempat persembunyiannya.” Imbuhnya sambil menatap mataku dalam-dalam.
“Dan malam ini harus kubilang, aku menyukai tatapan matamu. Satu lagi yang aku sukai, kuatnya genggaman tanganmu saat kita berjabat di awal pertemuan tadi. Tak banyak lelaki berani mengenggam tangan perempuan yang baru ia kenal dengan sangat kuat. Mereka seperti merasa takut menyakiti perempuan. Padahal semua perempuan percaya, bahwa perasaan itu hanya kemunafikan belaka. Tapi kamu melakukannya meskipun tanpa sadar. Jujur dan mengandung banyak arti.” Kali ini agak panjang ia menjelaskan. Seperti banyak yang akan ia sampaikan, tapi ternyata tidak. Ia hanya berhenti di kalimat terakhir.
“Ah, terima kasih. Baru kali ini ada perempuan yang mejelaskan tentang itu kepadaku.” Aku menutup kalimat jawaban dengan tawa kecil sambil menatap jauh ke arah langit.

“Aku juga menyukai beberapa hal darimu malam ini. Isi kepala yang kaukenalkan secara singkat cukup memikat. Fisik? Warna kulit dan aroma tubuhmu. Seperti mengajak aku menuju dunia perempuan yang jauh dari barang-barang mahal. Sederhana tapi luar biasa.” Gumam batinku yang aku yakin ia tak mendengarnya, sesaat sebelum akhirnya kami berpisah, bertukar kontak dan membuat janji akan bertemu lagi pekan depan di tempat yang sama. Di sebuah ketinggian, lantai paling atas salah satu gedung di Surabaya. Tempat favoritku menikmati banyak hal, terutama kesendirian.

Oiya, aku juga suka sekali melihat cara uniknya mengupaskan mangga.