pernah tak kelopak mata kiri bahagian bawah korang berdenyut-denyut?

……..

……..

ini yang aku kena sekarang…

image

sangat tak selesa ok.

banyak sangat petanda-petanda orang tua-tua kita;

1. nak menangis terima berita sedih, sebab belah kiri.

2. nak jumpa orang jauh.

3. akan terima berita tak baik.

4. ada orang tengah sebut pasal kita.

tetapi dari segi sainsnya, cikgu kata, otot mata kita contract berkali-kali.

hmmm… 

yang bersandar pada titik lemah
melembut suara pada yang bukan hak
manja tak bertempat
Terlupa menghitung untung dan rugi
Tak sedar dalam fitrah undang fitnah.
mohon perisaikan diri
bukan kau tak boleh
tapi kau sendiri pilih
mungkin kau suka jadi mawar
mempamer kelopak indah berlapis-lapis
sendiri sebar harum
Menarik bnyak kumbang,
terbang keliling bunga.
sayang,tak guna ada duri,
bila kau sendiri tonjolkan diri,
mungkin perlu belajar jadi kaktus,
berduri, kebal, keras.
tak ada yang nak singgah,
cuma segelintir yang menghampiri
menilai kecantikan dari sudut yang berbeza,
mencari titik indah dari duri-duri yang menyakitkan.

Preambule

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang

Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan

Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta

Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya

Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi

Terjauh yang sanggup kujalani

Meski hanya satu malam dari ribuan malam

Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku

Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau

Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita

Engkau membuatku putus asa dan mencinta

Pada saat yang sama

Tulisan Dee di halaman pertama buku terbarunya yang berjudul Gelombang. I have to say, I’m falling in love at first pages. Fix dalam tiga hari sampai seminggu kedepan bakalan agak ansos sambil nenteng buku.

Selamat membaca !

Don't Say You Love Me~

Besok tanggal 6 Oktober. Berarti besok adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan Gek. Tahun kedua. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, menguap besar-besar. Ah hari ini aku ngantuk sekali. Aku dan Gek adalah pasangan yang tidak terlalu mengagung-agungkan hari-hari penting seperti itu. Ya kami melewatinya dengan biasa saja. Eh, tapi aku dan Gek? Atau aku saja?

Tapi kalau diingat-ingat lagi, Gek selalu punya cara untuk menghargai tanggal-tanggal penting kami. Waktu aku ulang tahun saja, dia sengaja menyiapkan makan malam super romantis di salah satu restoran terkenal, atau pada saat dia menabur kelopak bunga mawar di tempat tidur kami pas hari ulang tahun pertama pernikahan.

Gek sangat sibuk. Dia adalah seorang pebisnis terkenal di kota ini. Dia berangkat pagi-pagi sekali saat aku masih setengah mengantuk, dan dia pulang terlalu larut hingga aku ketiduran menantinya. Tapi, aku sama sekali tidak marah atau cemburu padanya. Kami saling menghormati kesibukan satu sama lain. Anehnya, Gek sama sekali tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai istri. Dia selalu menyiapkan sarapan untukku, tiap waktu libur yang dia punya, dia selalu menemaniku di rumah. Ah, dia memang tipe istri idaman.

Tapi, entah sejak kapan Gek berubah menjadi seorang teman/sahabat yang peduli denganku. Bukan sebagai istri. Sekali lagi, bukan sebagai istri. Aku tidak bisa menemukan momen kapan aku merubah perasaanku sendiri, tapi yang pasti semua sudah terlanjur terjadi. Aku sama sekali tidak membenci Gek, aku ingat seluruh momen romantis saat bersama dia. Yang tidak aku ingat adalah kemana perginya perasaan itu. Aku lebih ingin menepuk pundaknya dan mengelus kepalanya, dibanding mencium kening dan memeluknya. Membuat Gek menangis itu tidak mudah, dia lebih sering memendamnya dalam diam dan tersenyum. Sampai saat ini, aku belum pernah melihat wajah jeleknya saat menangis.

Saat dimana hatiku dilumuri kegalauan yang sangat, aku bertemu dengan Debby. Kami bekerja di perusahaan auditor. Dia adalah karyawan junior yang baru masuk, dan sebagai senior auditor akulah yang mengajarinya dan membimbingnya. Entah kenapa, kupu-kupu di dalam perutku terbangun kembali. Aku kembali merasakan cinta, debaran jantung, dan perasaan bahagia yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Dan parahnya adalah Debby membalas perasaaanku, meski dia tau aku sudah berkeluarga. Bagaimana bisa aku keluar dari jebakan yang kubikin sendiri, Tuhan?

Apa yang harus aku bilang padamu, Gek? Tapi Gek, aku tidak bisa langsung bilang aku tidak lagi mencintaimu. Saat ini aku sedang memikirkan kejutan apa yang dipersiapkan Gek untuk besok. Aku memang laki-laki terjahat di dunia. Sementara itu, pikiranku berkata aku harus mengaku padanya, bukannya jujur lebih baik? Maka dari itu, aku memutuskan untuk menulis surat untuknya, ah lebih tepatnya sajak yang sengaja kusiratkan maknanya. Aku buntu dan hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku menyimpan kertas itu dalam laci sembari menimbang-nimbang kapan harus kuserahkan kertas itu. Ah menyadari apa yang baru saja aku lakukan, membuat kepalaku pusing. Lebih baik aku tidur saja.

***

Hoaaamm. Sudah berapa lama aku tertidur? Rasanya nyenyak sekali tidur di siang bolong begini. Aku membalikkan badanku dan mendapatkan Gek yang sedang membaca buku di sisi kiri ranjang.

"Gek!?" teriakku terkejut.

"Kenapa sih Win? Kamu kayak lihat hantu saja, lupa ya kalau aku ini istrimu?" ujarnya sambil nyengir. Lucu. Cantik.

"Bukan gitu, Gek. Kaget aja, kok tumben kamu cepat pulangnya?" tanyaku asal.

"Iya, aku lagi nggak ada kerjaan di kantor. Jadi aku pulang deh, sekalian mau mempersiapkan kejutan buat besok." katanya.

"Kejutan kok bilang-bilang sih? Haha." ujarku sambil tertawa. Tapi hatiku terasa ngilu. Gek, maaf.

***

Sinar matahari yang sangat cerah menusuk kelopak mataku. Tirai sudah dibuka, tanda Gek sudah bangun. Tapi aku tidak menemukan Gek di kamar ini. Di dapur, kamar mandi, teras, taman rumah juga tidak ada. Jadi, kejutan apa lagi yang dia siapkan untukku?

Aku sedang membereskan tempat tidur ketika aku menemukan kartu ucapan kecil di sisi tempat Gek biasa tidur. Isinya: Happy Anniversary, Erwin. I want to be in your arms forever, where you hold me tight and never let me go. No other road, no other way. I wish our moment can be reload, because I will miss you everyday. (to be continued…)” Aku tersenyum-senyum. Kesederhanaan yang romantis, Gek.

Kring! Kring! Kring! Ponselku berbunyi, tanda sms masuk. Ah, dari Gek.

Sender: Gek (08xx-xxxx-xxxx)

"Yang, sudah bangun? Aku lagi di bandara nih. Kamu harus datang ya, sebelum jam 11.”

Aku menerka-nerka apa yang sedang disiapkan oleh Gek selama perjalananku ke bandara. Aku sendiri, tidak menyiapkan apa-apa. Dasar bodoh! Aku memarkirkan mobilku lalu bergegas menuju ke restoran yang ada di bandara itu. Lalu, menemukan Gek. dengan koper besarnya. Dia melambaikan tangannya, lalu berdiri dan mencium kedua pipiku.

"Gek, kamu mau kemana? Mau ajak aku liburan?" ujarku.

"Bukan, Win. Aku lagi ada tugas kantor. Di Paris. Oya, sudah baca kartu ucapan aku?" katanya.

"Hah? Ke Paris? Udah Gek, makasih ya." tanyaku kebingungan.

"Maaf ya Win, ini juga mendadak. Oiya, ini untukmu." Gek menyodorkan sebuah amplop.

Nanti aja, bukanya pas aku udah masuk ke terminal. Selama aku nggak ada, jaga kesehatan ya. Jangan telat makan. Jangan pulang larut malam. Jaga rumah baik-baik, jangan sampai kebakaran." katanya dengan sedikit tawa, tapi tawanya pilu.

Gek merapikan tasnya dan mendorong kopernya. Tanda dia sudah harus berangkat. Sebelumnya, dia memelukku erat lalu berbisik jangan terlalu sering kangen aku, ya. Dia melepaskan pelukannya lalu tersenyum kecil. Senyum yang dipaksa. Dan tunggu, dia menangis. Ada bening di pelupuk matanya.

"Gek, jangan nangis begitu dong. Kayak mau pergi lama aja deh." aku menggodanya, lalu menyekanya sebelum jatuh. Lalu, aku mengantarkannya masuk. Terakhir kali, aku melambaikan tangan dan melihatnya tersenyum. Kali ini, senyum yang lebar, lepas, dan lega.

Aku membuka amplop pemberian Gek. Menemukan secarik kertas yang bertuliskan:

"Mungkin hanya sepi yang mengerti saat cinta sirna. Bila aku memintamu melupakan cinta kita, apa itu berlebihan? Boleh beritahu aku bagaimana caranya aku pergi tanpa harus membuatmu terluka?"

Aku terperanjat. Kata-kata dalam surat itu, adalah kata-kata yang kemarin aku tulis. Kata-kata yang sudah kurencanakan untuk kukirimkan kepada Gek. Kupandangi setiap lekuk huruf tulisan tangan Gek.

Kring! Kring! Kring! Ada sms.

Sender: Gek (08xx-xxxx-xxxx)

Kemarin aku tidak sengaja menemukan surat itu di laci. Maaf ya, Win. Aku tidak marah. Tapi, aku akan pergi lama Win, sampai jumpa.

Gek sudah tau! Aku segera menelponnya, sebelum semua terlambat. Tapi, saat itu yang aku dapatkan hanya suara operator yang mengatakan bahwa Gek sedang berada di luar jangkauan. Perasaanku tak menentu saat itu. Hari ini benar-benar kejutan untukku. Untuk pertama kalinya aku melihat Gek menangis, untuk pertama kalinya aku merasa seperti laki-laki pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku marah pada diriku sendiri. Aku mengutuki diriku sendiri.

Kring! Kring! Kring!

Kusambar ponselku tanpa melihat siapa yang menelpon.

"Gekkkk!?"

"Loh mas? Ini aku Debby. Hari ini kita jadi pergi kan?"

"Ah, maaf Deb. Iya…."

#memutar: Five Minutes-Aku Tergoda

♫ ♪ Aku takut kehilanganmu bila aku jujur padamu. Aku benci bila harus jalani hidup tanpa dirimu. Aku takut kau meninggalkanku. ♫ ♪

Sayang, jika langit siangmu terlalu terik. Coba kau ingat, seberapa teduhnya kecup yang sering kujatuhkan pada sepasang kelopak matamu.
—  Musyrifah Hasyim

Pudar.

Sampai masa, segalanya akan luruh dari kelopak, daun dan tangkai. Yang kita ingat cuma bagaimana warnanya, bagaimana harumnya.

Fade Away.

We’ll die anyway. Beauty, richness, glory, will fade away. And only our act that is gonna stay in people mind and heart ; will it be our kindness, or our bad?

Tak ada yang abadi. Nothing last forever.

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang
Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan
Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta
Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya
Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi
Terjauh yang sanggup kujalani
Meski hanya satu malam dari ribuan malam
Sekejap bersamamu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama

#GelombangDatang #vscocam ➖➖
Too much good news come my way today. I can’t thank Allah SWT enough for His abundance blessing. With the fifth instalment of Supernova by the brilliant @deelestari today has been a beautiful day indeed.

Langit ranum
Lirih angin membelai harum

Siluet mega memangku kelopak awan
Bias jingga menelisik rupawan

Senja bergegas pulang
Ke dada langit paling lapang

Rahim rindu melahirkan doa
Untuk ia penghuni taman surga

Lingkup tangan mengusap pipi
Pelataran senja mengamini

Jangan Ragui Aku

Gurau bersendu teringat
Ratapi jauh sajak singkat
Yang ceritakan eloknya engkau
Dalam sakit tertidur mengigau
Ditampari lembar kemarau

Ku tak apa meski kau membayang
Di tiap mata terbuka melayang
Dan semakin dalam jika terpejam
Karena besitkan panjang wajahmu muram
Silam mengganti halaman abu temaram

Langit mengingat cahaya pada kelopak
Di matamu yang purnama menghendak
Genggamkan hatiku beberapa waktu
Ku berkata lukis apa yang kau tuju
Jangan ragui aku
Tak sebatas itu aku

Untukmu yang Setia Menunggu

Untukmu yang begitu menikmati sayatan sembilu. Padahal kamu tahu betapa rasanya pilu. Engkau diam dan menunggu. Di sudut hati yang sudah layu. Padahal, kamu tahu dia tak pernah mengerti arti menunggu.

Sudah berapa kali hembusan angin menerpa wajahmu? Sudah berapa kali gerombolan semut lewat di hadapanmu? Sudah berapa kelopak bunga yang berguguran oeh jemarimu? Mengapa kamu tetap memilih untuk menunggu? Kuharap bukan karena apa yang tertulis di dalam buku yang selalu kamu pegang lesu.

Sudahlah. Usaikanlah pekerjaan menunggumu itu. Karena dia tak akan pernah mengerti apa arti menunggu tanpa kamu beritahu. Dia hanya akan melihat duri yang terpasang di seluruh tubuhmu, yang melindungimu dari sengatan cinta palsu. Ya. Dia tak pernah tahu kamu menunggu. Yang dia tahu adalah kerasnya pertahananmu. Dia tak pernah tahu bahwa dirinya ditunggu.

Lantas, masih maukah kamu menunggu?

*** Jakarta, 10 Oktober 2014
Bunga Angin

Pada suatu masa sebelum waktu bisa disebut waktu. Aku pernah minta pada pemilik dunia, untuk menjadi angin. Tak perlu tempat persinggahan, perjalanan akan menjadi tempatku berdiam sekaligus. Aku tahu, dari sekian pengembara, singgah artinya kau akan mengeluarkan energi yang jauh lebih besar daripada saat kau berlari maupun terbang.
Tapi pemilik dunia bilang, aku tak bisa menjadi angin. Sebab itu bukan takdirku. Takdirku adalah berdiam di bumi. Menunggui musim berganti, kadang aku mati lalu nanti tumbuh lagi menjadi yang baru. Begitu seterusnya. Ini bukan reinkarnasi, karena aku tak percaya reinkarnasi. Melainkan hanya siklus hidup dan mati. Hidup dan mati yang menguji.

Terlahir lah aku, bersama lahirnya para waktu, dan anak cucunya detik, menit, dan jam. Aku tak terlalu indah. Hanya sedikit kelopak bunga kecil yang aku miliki sebagai tanda kehidupan yang aku punya. Seperti yang pemilik dunia katakan, takdirku menunggui musim. Tapi berkat kebaikan hatiNya, ia membiarkanku lahir menjadi makhluk yang begitu memerlukan angin. Angin berhembus ke kanan, aku ke kanan. Angin berhembus ke utara aku ke utara. Bilamana musim berganti dan angin semakin menguat. Aku pergi, terbang ke tempat lain. Setelah mati dan seolah tak meninggalkan jejak di tempat lamaku. Aku pergi dan tumbuh lagi, dengan nama lain, hidup yang lain. Dan hari singkat yang lain.

Semesta bilang aku layak disebut sebagai bunga angin. Karena selalu mengikuti kemanapun angin pergi. Katanya itu sebuah pujian. Bunga angin yang selalu menyukai angin. Ia hidup dengan waktu yang begitu singkat. Lalu mati seolah tak meninggalkan jejak. Tapi tak berarti itu bukan apa - apa. Karena romantisme tak melulu mengenai jejak menyejarah. Kadang romantisme paling indah adalah cerita yang diketahui Tuhan saja.

Wahai lelaki yang mencintaiku, aku mencintaimu.

Dalam hening, dalam sunyi, dalam gelap, aku diam-diam mencintaimu.

Kamu yang baru datang dan aku yang berjanji tak akan menanyakan sudah berapa hati yang kau lewati untuk sampai disini, aku mencintaimu.

Kamu yang berlayar memikul getaran-getaran rindu melewati ombak pertengkaran dan angin kecemburuan hingga memutuskan berlabuh di dermaga hatiku, aku sedang mencintaimu.

Aku yang ingin selalu dekat denganmu untuk dapat kau lihat, memasuki kelopak matamu, menembus dinding tipis retinamu dan terkunci didalamnya, tanpa mau tahu betapa proses pertemuan itu tidaklah instan untuk kita yang berjarak ini. Demi keegoisanku itu, katahuilah aku mencintaimu.

Kita yang selalu menertawakan hal-hal konyol, menciptakan suasana bahagia yang bagi orang lain biasa saja.
Kita yang begitu hangat hingga dingin pun enggan mendekat.
Kita yang berjalan bergandengan melewati ribuan keramaian.
Kita yang kadang harus berlari meninggalkan sepi.
Kita yang berbagi pelukan untuk saling menghangatkan.
Kita… Satu senyawa yang tak lagi indah jika harus terbagi menjadi partikel-partikel aku dan kamu.
Iya kita. Aku pun bahagia memiliki kita.

Aku mencintaimu dari jauh, tapi sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.
Beserta jarak dan waktu yang terus membelenggu, Aku mencintaimu.
Wahai lelaki yang mencintaiku…
Aku telah mencintaimu.
Aku sedang mencintaimu.
Dan aku akan mencintaimu.

Rendra

Setelah ia berdoa, longsoran kata terbakar pada unggunan api, memutus mata rantai
melepas naga penghuni jeladri diri
teringat
diwarisi ikan, hutan
benih padi dan umbi,
dititipi buruh kuli dan tani,
orang melarat, orang sekarat.

Ia mewanti-wanti, pasang mata pada para penguasa. Jangan lagi ada ibu termangu
keheranan, dari ancaman apa/siapa anaknya diamankan.
Sikat habis korupsi! Ia gamblang,
gampang kita mengerti. Terlalu banyak bedak dan dasi yang harus rakyat bayar tanpa sadar.
Ia anjurkan kita kursus menyanyi,
bukan buat ikut pencarian bakat,
tapi biar suara kita sampai Senayan
dengan lantang dan tak sumbang.

"Jaga Sabda sembilan bayangan.
Tiap wahyu kandung kebijakan.
Membangun itu harus saling mendengarkan”

O, ya. “Dan puisi, bukan cuma menyoal
misteri embun di atas kelopak mentari atau
tentang mata kejora, mata kekasih mata air pengharapan. Puisi seperti itu harus cepat-cepat diakhiri.”

Ia, Rendra, banyak menitip pada kita
yang belum habis muda
untuk junjung Ampera
di kepala, dada.

Bisa?
Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video