IPK Gue
  • X :"Whaaaaaaaats?"
  • Y :"Kenapa sob?"
  • X :"Kenapa gue baru tau kalo IP naik, IPK tetep bisa turun??? Padahal selama ini gue kira kejanggalan terburuk adalah IPK naik, tapi IP turun.... Huaaaaaa"
  • Y :"Apa sih."
  • X :"Nih, kan kalo IPK naik, IP turunnya beda banget itu berarti ada matkul yang gue gak lulus, naudzubillahhh"
  • Y :"Ya, terus?"
  • X :"Terus gue gak nyangka aja gitukan kalo IP naik, IPK bisa turun..."
  • Y :"Itu pasti karena semakin lama pembaginya semakin banyak, jadinya IPK lu gak naik."
  • X :"Hmm, iya juga sih..."
  • Y :"Elu sih. Kalo naikin IP makanya sekalian, naikin IP tanggung-tanggung, turun kan IPK lu jadinya."
  • X :"Yee, kok lo nyalahin gue?"
  • Y :"Kan kenyataannya gitu, sob. Udah naikin aja semester depan~~~"
  • X :"Bicara aja enak. Ini pasti gara-gara gue salah doa. Harusnya kalo doa itu sekalian, gue cuma minta IP naik, IPnya naik, IPK kagak. Cupu!"
  • Y :"Nah, bener itu'"
  • X :"Apa?"
  • Y :"Lu emang cupu."
  • X :"@$6&7#&!"
April is Gone!

In the month of April, I learnt a lot from my final year project; understanding GSM modems, #flask, plotting charts and #arduino, learnt a lot of lessons from friends and actively participated in Atlantic Hall(my hall of residence) 50th anniversary celebrations.

My project is pretty going well. I understand and have implemented a simple basic SMS platform that can well serve many purposes using Samba 75(GSM Modem). It is web based, carefully put together using python flask, Google Chart API and other useful python libraries. As a basic test, I will be interfacing #arduino with my platform to record and send alert messages if temperature in the Lab is critically low or high. Now, I’m thinking of other elements that needs critical monitoring and attention in my community. Maybe you can help me out with suggestions?

April brought laughter, joy, frustrations and a lot of challenges. Actually, I started active development of my final year project in April, thus, the last two(2) weeks of April. For the first two, I seldomly touch my books and attend lectures. Oh! UTAG, University Teachers Association of Ghana went blackout, and you I could not leave ATL@50 celebrations for my books. Friends and Alumni were all over and fun was always in the air. That was a really good moment every Mariner(Atlantic hall affiliate) present will never let go of the memories.

Amidst happiness lies sorrow. My plight begun when UTAG resumed. I had lost my lecture schedules and piles of assignments were on my head. I missed my group project discussions, unaware quizes and an interview. Yes, an opportunity to continue with MSc  I.T once I end my BSc in June.  Dumsɔ fading off and now water crises. No water to even wash my face. The worst situation on campus now. The water wahala has been on for almost two(2) weeks. No water to cook, wash and even clean the body The washrooms, not a pleasant sight to behold, and I hardly bath, I need drybath.

Out of all these frustrations, I packed my laundry bag and backpack and fled for the house last night. Home sweet home, they say, Banku and Okro stew went down well upon arrival. I took a cold shower, reached for my bed and enjoyed an uninterrupted sleep. I woke up this morning all to realize April is gone!

hari ini random

Jika kamu sudah nyaman dengan tumblr saya seperti sebelum ada post ini, maka saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca post ini karena seharusnya tulisan ini di post di blog, tapi karena blognya rada-rada ya sudah, di post disini saja 

Jadi ceritanya pagi hari ini dimulai dengan naiknya mentari di ufuk timur sana, alhamdulillah masih dari timur ;). Lalu, saya bergegas ke kampus perjuangan, melesat menuju fakultas tercinta. Tepat di halte bis kuning fakultas tercinta saya menunggu seorang teman karena hendak mengurus sesuatu. Cukup lama saya menunggu, dan salah satu dari sekian kali saya menoleh ke kanan, sesuatu nampak saya kenali. Menunggu terus dari hanya beberapa menjadi banyak orang, dari sama-sama menunggu sampai ditinggal, kemudian menjadi sepi lagi dan merasa kikuk, tidak nyaman, menjadi satusatunya yang jelas-jelas berbeda disana, benar-benar ditengah-tengah pembicaraan antara sesuatu jenis yang dipastikan dominan di fakultas tercinta ini. Ketidaknyamanan memuncak, saya meluncur ke gedung tinggi yang menurut saya tidak tampak kekekarannya. Sesampainya di belakang gedung departemen kesayangan, entah kenapa lagi-lagi huruf-huruf dan angka-angka tersebut masih saja membuat sedikit sesak dan entah kenapa juga saya selalu suka mengingatnya dan dapat dipastikan karena informasi mengenai huruf angka itu langsung saja keluar dari banyaknya file di otak tanpa saya harus mengetik ctrl + f. Beruntungnya, sesak itu tak perlu membesar.

Urusan tersebut pun selesai. saya melanjutkan ke tempat permberhentian rangkaian gerbong. Sadar saldo di kartu saya kurang, saya hendak mengisinya. Tetiba saya salah loket, yasudah. Di loket yang seharusnya, pada antrian, sebelum saya terdapat mas-mas yang mengisi saldo juga, entah berapa, kemudian dia mendapatkan kembalian berupa dua lembar uang dua puluh ribu rupiah. Lantas, mas-mas tersebut bertanya kepada petugas loket apakah ada tukaran uang sepuluh ribuan dua lembar? Petugas loket pun menjawab tidak ada dengan ekspresi yang menurut saya agak aneh. Kemudian, giliran saya mengisi saldo, saya memberikan kartu dan selembar uang lima puluh ribu rupiah, saya berkata dua puluh ribu. Dan, ya kau tahu apa yang terjadi setelah kartu saya terisi saldo? Petugas loket tersebut memberikan saya uang kembalian berupa tiga lembar uang sepuluh ribu rupiah. cincaaaa?? Sayang sekali, saya tidak ingat mas-mas yang tadi mungkin membutuhkan uang sepuluh ribu, hafft, otoke? (Jika seorang petugas loket segininya melakukan, bagaimana dengan orang-orang besar melakukan segininya?!)

Lalu, dengan langkah kaki super percaya diri saya menyebrangi perlintasan kereta, dipertengahan saya sadar bahwa seharusnya tidak menyebrang karena peronnya sudah saya lewati .-. #ukhtiyskip

Lanjut, for the first time ever bakalan ke bogor sendirian dan ‘ngeteng’ transport ke kebun raya bogor sendirian \(^.^)/ merdekaaa! #ukhtiyngebolang. Di kereta yang saya lakukan adalah memandangi sekitar, lalu tertidur, beberapa kali terbangun, satu pertanyaan yang selalu muncul ‘kok belum sampai-sampai juga ya?’. Sesampainya di pemberhentian rangkaian gerbong di bogor, saya sempat ragu pilih pintu keluar yang mana karena ada dua, yang satu di sisi samping yang satu di depan dengan tambahan keterangan bahwa saya tidak tahu angkot selanjutnya berada di dekat pintu mana. Kemudian, saya jatuhkan pilihan pada pintu depan, pintu utama, dengan alasan karena desainnya yang cukup keren. Lagi-lagi, saya berjalan dengan langkah kaki super percaya diri setelah tapping, dan yak tiba-tiba seorang teman memanggil saya dan secara otomatis acara #ukhtiyngebolang pun gagal setengah, cukup sedih, tapi yasudah mungkin ini rencana Allah.

Setelah turun dari angkot dan sampai di loket masuk untuk membeli tiket, lagi-lagi saya bertemu teman yang lain dan diinfokan bahawa saya mendapat tiket gratis (tapi ntar patungan juga, sih) alias tiket hadiah karena sebelumnya sudah membeli beberapa tiket. Yeeah, Alhamdulillah, mungkin ini rencana pengganti #ukhtiyngebolang, terimakasih Allah :))

Hari mulai agak siang dan acara pun dimulai, tak ada yang terlalu random di acara ini kecuali pak ketua yang tiba-tiba mengeluarkan suara ‘aaaaaaaaaaaaa’ (niatnya untuk menyamakan suara) dengan cukup membuat tercengang karena gagal, peace kakak. Kecuali pada suatu games ciri-ciri dari segala kesenangan saya disebut-sebut di depan semua yang hadir. Kecuali seorang teman yang meloncat ke rangkaian gerbong di sebelah gerbong yang saya tumpangi yang menyebabkan payung seorang teman terjepit di pintu gerbong dan terpaksa harus dipatahkan besi panjangnya agar tidak membahayakan. Dan tak ada yang lebih random dari seorang teman yang tertinggal turun dari kereta karena pintu kereta yang hanya terbuka sebentar, yang kemudian menyebabkan dia harus turun di pemberhentian selanjutnya dan putar balik.

Ah, Tuhan, terimakasih untuk segala pelajarannya hari ini. Semoga esok lebih banyak lagi yang bermakna, aamiiin.

_Ukhtiy, yang baru benar-benar sadar bahwa moody dan kurang senyum-nya ternyata dirasakan orang lain_

Debat Capres
  • U :"lo nonton debat capres gak semalen, T?
  • T :"Nontonlah, Lo harus tau si G berantem sama pacarnya gara-gara debat capres! Haha"
  • U, A, N, T :"hahhaha"
  • U :"parah, gue kira cuma isengan orang aja (kalau bakal ada debat capres bikin orang yang pacaran berantem), ternyata ada beneran hahaah"
  • G :"iya, kan dia milih Jokowi trus bilang, kok kamu milih Prabowo sih dia kan kena kasus ham, (trus gue bilang) apaan kan belum tentu bener itu beritanya, blablabla.... Trus dia biang, Honey, kamu kok keras kepala banget, (trus gue bilang) ih apaan sih, orang milih capres bebas, hak asasi gue...."
  • U :"hahaha aduh gakuaat gue lucu banget hahaha"
  • A :"hahaha G, G..."
  • *suasana mulai mereda*
  • T :"tuh U, lo berantem kayak gitu gak sama pacar lo?"
  • U :"zzzzzzz apaan? siapa yang punya pacaaaaar, zzz!"
  • T :"oiya, maaf maaf hahahhaah"
  • N :"tuh, T, lo membuat sedih hahahaha"
  • G, A :"hahahaah"
  • U :"-_- (gue gak sedih, sob zzzz)"
Mengukur Monas
  • Pada sebuah Presentasi Ujian Praktikum salah satu mata kuliah surveyor tercinta wuwuwuw...
  • Masuk ruangan...
  • *Dalam hati :tersedak, 3 cewek masuk, keles, ini banyak bet, cowok semua pula, mau nilai presentasi apa di*v*luasi haha, bantai aja apa nih? haha, selow elah anak gaul semua paling, gak bakal gimana-gimana juga~~dancing heart*
  • A :"Ya, kelompok ** ya"
  • A :"eh, asisten lo siapa?"
  • ARU :"kak ***** *polos* "
  • A :"haha mumpung asistennya disini, kita liat kinerjanya bener atau engga haha"
  • A :"Ya, udah mulai"
  • ARU :"Bla bla.."
  • A :"lanjut"
  • ARU :"bla..."
  • A :"lanjut"
  • ARU :"bl.."
  • A :"lanjut"
  • ARU :"b.."
  • A :"lanjut"
  • ARU :"sekian, terimakasih, dibuka sesi pertanyaan..."
  • *presentasi terhebat prokprokprok gaada 3 menit*
  • A1 :"itu yang tadi kesalahnnya kenapa same 95 koma sekian persen ya? gede banget?!"
  • U :"iya, ka, itu kesalahan praktikan...*polos* "
  • A2 :"kesalahan praktikan atau kesalahan asisten?"
  • U :"...soalnya pas ngukur gak keliatan gitu kan garis di alatnya, jadi kita ambil ujung paling atas sama ujung paling bawah, hehe"
  • A3 :"kalo kesalahan praktikan, ntar nilai lo dikurangin lo!"
  • A4 :"kalo kesalahan asisten gajinya dikurangin... hahahaha"
  • A1,2,3,4,sekian :"haha udah kesalahan asisten ajaaa"
  • Asekian :"nih mumpug ada asistennya haha"
  • A1 :"lagian asisten lo emang gak meriksain? bener atau salah? wah, pasti ditinggal-tinggal muluya, gak diliatin?"
  • ARU :"hmmmmmm, ya namanya juga hari pertama kak, baru tau alatnya, eh pas hari kedua baru tau ada garisnya, hehe "
  • *hening sejenak*
  • A1 :"Oke, Jadi, gimana cara ngukur monas?"
  • *praktikan hening*
  • A2 :"tanya mbah google.. hahaha"
  • U :"ya pake perbandingan segitiga aja kak.. *santai tapi ragu-ragu*"
  • Asekian :"lah emang bisa? yang megang alat dimana?"
  • Alainnya :"manjat sampe atas monas hahahaha"
  • Asekian :"kagak kelihatan kali hahaha"
  • U :*nantangin bet elah*
  • ARU :*diem aja* *sambil ketawa, gakuat gue, sob*
  • Abaik :"yaudah, nih lo bener pake perbandingan segitiga, tapi ngukurnya dimana sama dimana?"
  • U :*oiya, sob, dimane? hahaha*
  • R :"itu kan dibawah sama sama diujung monasnya..."
  • Asekian :"dibawah mana? haha"
  • R :"ya, itu dibawah sama diujungnya...iya,kan?"
  • *dalam keheningan*
  • A :"emang bisa ya diukur bawah sama atasnya? *superpolosumur20*"
  • A1,2,3,4,sekian,lainnya :"hahaha, temen lu aja gak yakin tuh hahaha"
  • U :*whats???, haha si A deh, polos amat orang"
  • R :"*suara kecil* lagian itu kakaknya (asisten gue) nunjuk atas sama bawah.."
  • U :"ya, udah kan cari jarak lurus dari monas trus berdiri diukur aja sesuai sudut selurusan yang masih kelihatan atas sama bawah yang berdiri, trus ntar digerakkn kan sudut vertikalnya keatas, trus dibandingin jaraknya gitu kan *sambil gerakin tangan meyakinkan* *sotoybetukhtiyemang-wahaha-bodo*"
  • Abaik :"yaudah, udah deh.."
  • ARU :"makasih kaak"
  • Asekian :"okee"
  • Alainnya :"yak, kelompok selanjutnya"
  • diluar ruangan...
  • AsistenGue :"bagus kalian bagus! flawless!"
  • U :*gak cacat? wahahaha*
  • #pfftttt gakuat gue, kenapa dari SMA ujian praktik selalu koplak hahaha

Aku pernah baca
Katanya ada rindu yang membuat sesak
Ketika membacanya, aku tidak terlalu percaya
Bagaimana bisa?
Seberapa sesakkah itu?
Mungkinkah aku dapat merasa?
Dengan semua yang ada, apa yang perlu aku rindu?
Pada siapa rindu itu aku tujukan sampai-sampai membuat sesak segala?

Ternyata,
Tuhan menunjukkannya padaku
Dibuatlah aku, merasakan sesak
Sesak akan rindu yang terjadi bertubi-tubi

Awalnya, hanya pada suara-suara orang-orang di rumah
Dentingan alat masak
Dentuman load speaker dari game di laptop

Hari ke hari
Rindu itu bertransformasi
Pada diamnya kamu, yang bukan cuma seorang
Ketika hentakan-hentakan kaki masuki pintu ruangan horor lantai 2
Disusul suara lantang panggilan dari yang lebih tua
Yang membuat tangismu berurai menjadi tawa-tawa belakangan ini

Juga, pada kamu
Siapa lagi?
Pemilik kucuran keringat seirng langkah
Memikul beban sampai tujuan
Demi permainan segala bangsa
Usai berkutat dengan berlembaran kertas
Apalagi?
Insting menerka
Empat buah pupil membesar
Dan turun menjadi gelak tawa
Yang menularkan sekitar

Batas Ujian
  • Pada sebuah ujian lisan
  • Saya :"Engga, itu yang mana ya Prof?"
  • Prof dept sebelah :"Anda tidak tahu? Anda tahu kan saya tidak akan memberi pertanyaan yang tidak pernah saya ajarkan?"
  • Saya :"Iya, prof."
  • Prof dept sebelah :"Ini..(menampilkan gambar dari ohp) kalau Anda masuk, Anda pasti pernah lihat ini"
  • Saya :"Oh, iya. Yang tinggi itu ya, Prof"
  • Prof dept sebelah :"Ya, Anda lihat ini orangnya (menunjuk pada suatu bagian di gambar) kecil sekali"
  • -----
  • Sejenak saya teringat pada
  • "Allah tidak akan memberi ujian melampaui batas kemampuan hambanya"
Sayang dibuang~~~
  • X:Yuk, kerjain!
  • Y:eh gue gabisa, ada proker nih!
  • X:lho? Kenapa gabilang dari kemarin-kemarin kalo sekarang gabisa?
  • Y:Yaah, maaf deh, gabisa, bahaya nih, di-LPJ-in
  • X:gak cuma proker yang di LPJ-in, sob. Nilai gue juga di-LPJ-in ini ke bokap!
Jangan mentang-mentang kalian anak Lingkungan, trus nilai *nittt*nya pas-pasan, B+, A-, kalo bisa A
—  Asisten suatu mata kuliah Sipil saat pertemuan kelompok pada senja yang lelah
Untuk teman tak terduga

Pembicaraan yang singkat pada Jum’at pagi hari di sebuah kelas.

Einzelne X masuk kelas…

X1 : “Seriusan sekarang pake kerudung?”

*belasan detik menunggu*

Saya : *kurang mendengar suaranya* “Apa katanya?”

X2: “Masih belajar, katanya”

Entah kenapa kalimatnya tentang “masih belajar” benar-benar menampar saya. Sontak sekali saat itu saya menjawab dalam hati “Masih belajar? lah gue juga, itu mah?!”.

Bukan bermaksud gimana-gimana. Seriously, saat itu juga saya terhenyak, kembali menatap teman saya si “Einzelne X” itu, melihatnya sedang mengulurkan lengan baju jaketnya. Kemudian saya terdiam, hebat sekali niatnya itu sampai-sampai datang ke kampus dengan sejujurnya  warna jaket dan kerudungnya yang sangat bertabrakan, mungkin terburu-buru, lucu sekali.

Mata saya mengitari sekeliling kelas, tertuju pada setiap teman-teman perempuan saya. Kemudian kembali berpikir, “Ah, kita semua juga sedang belajar”. 

Selamat atas kemenanganmu dalam pelajaran ini, Einzelne X :D

-

Ukhtiy, yang juga masih belajar :))

Kuliah itu memang berbeda (sudut pandang kelas)

Pagi itu, saya berada di sebuah kelas dimana saya sangat membutuhkan materi di kelas tersebut dan dosen yang mengajar saya tidak memperbolehkan mahasiswanya sedikit pun terlambat.

Tak lama dari tepat jam 10 di jam tangan saya, dosen itu pun datang. Saya menikmati dan mengerti materi yang disampaikan dosen tersebut meski berada di tempat duduk agak belakang karena ‘kalah lomba’ kedatangan.

Di tengah-tengah pembelajaran, saya mengamati ke depan ketika sejenak sang dosen sedang menunggu mahasiswanya mencatat.

Kuliah itu berbeda dengan jenjang pendidikan saya sebelumnya, baik SMP maupun SMA. Saya sebut saja SMP dan SMA ini sekolah, ya?

Ketika saya sekolah, jika seorang guru telah beberapa menit belum datang, maka teman-teman saya akan meminta ke ketua kelas untuk mencari sang guru dan ketua kelas pun langsung turun ke ruang guru. Selama saya kuliah, mahasiswa hanya menunggu, sangat jarang sekali mahasiswa yang mencari dosen melainkan jika sudah memasuki waktu setengah jam. Akan tetapi, mungkin di beberapa kelas, ketua kelas akan mengirim pesan berupa SMS kepada sang dosen. Dan ada atau tidaknya kelas bergantung dari balasan pesan dari sang dosen.

Ketika saya sekolah, jika papan tulis terisi penuh entah karena kelas sebelumnya atau karena tulisan sang guru telah memenuhi papan tulis maka kebanyakan guru saya akan meminta siapapun muridnya untuk membersihkan papan tulis. Bahkan, ada beberapa guru yang jika tidak ada murid yang mau membersihkan maka sang guru tak kan lanjut mengajar. Selama saya kuliah, hal tersebut tak pernah saya lihat, masing-masing dosen apalagi asdos membersihkan sendiri papan tulis dan kemudian memulai tulisan yang baru. Kemungkinan untuk meminta mahasiswa untuk membersihkan papan tulis hampir tidak ada.

Ketika saya sekolah, guru akan terus bertanya dan memberika waktu lebih kepada muridnya mencatat sehingga menurut saya, ada saja murid yang sengaja berlama-lama mencatat agar sang guru berkurang waktunya untuk mengajar. Selama saya kuliah, jarang sekali ada dosen yang memberikan waktu lebih untuk membiarkan mahasiswanya mencatat meski beberapa mahasiswa meminta tambahan waktu dengan cukup sopan. Kebanyakan mahasiswa juga mengandalkan catatan temannya agar sang dosen tetap bisa menyelesaikan materinya pada kelas tersebut.

Ya, setidaknya itulah yang saya amati pada kelas tersebut. Benang merah yang saya dapatkan dari pengamatan saya adalah betapa berbedanya antara sekolah dengan kuliah. Betapa selama saya kuliah dibutuhkan akselerasi dan kemandirian yang jauh dibandingkan sekolah.

Sekian

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video