iniyona

CERAI

            Kamu jengah di jerat cinta

            Mulai terpikir untuk lepas

            Tapi ada dia disini

            Kamu ingin pulang

            Mulai ingin tertawa

            Tapi dia masih disini

            Kamu benci bau alcohol

            Mulai bosan pipimu bertemu telapak

            Tapi dia disini, yang kau sebut buah cinta.

Halaman Rumah

              Selamat kamu sudah menemukan Rumah mu. Rumah yang dulu pernah kita rencanakan akan kita bangun bersama, yang di isi senyum manis wajah2 penerus kita.

            Bersama pernah kita, dari dunia maya kita bertemu, yang akhirnya menjadi nyata. Hanya dia setelah aku, dia yang kau pilih menjadi Rumah mu. Semoga dia benar2 menjadi yang terakhir untukmu.

            Begitu banyak pintu rumah yang harus kita masuki, beberapa tak meninggalkan kesan berarti. Hanya sebagai pengganti kenangan cerita yang pernah datang sebelumnya. Beberapa Rumah lainnya hanya memberikan gambaran buruk, betapa bodohnya kita dalam memilih Rumah.

            Jika nanti Rumah mu itu buruk, buatlah Halaman Rumah mu dengan Indah, karena kebanyakan orang hanya melihat Rumah dari halaman depannya saja. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam Rumah mu, tinggal kan mereka di luar.

            Entah berapa banyak senja lagi yang harus ku tunggu untuk dapat mengejarmu menemukan Rumah ku sendiri, Rumah yang bagus, yang bisa menjadi tempat ku bersandar, melepas letih dari penat hidup, sebelum aku perlahan mati 
Dalam Bioskop

Setelah sekian lama tidak menikmati tayangan bioskop karena tak ada lagi film impor yang bermutu, akhirnya pada suatu hari saya pergi juga ke bioskop. Target menonton kali ini adalah film “Source Code” tontonan yang mungkin akan membosankan bagi orang yang bekerja sebagai programmer—orang yang setiap hari berkutat dengan source code.

Saya tidak akan membahas tentang film “Source Code” karena kalau saya membahas suatu film, di ujung bahasannya saya pasti akan memberitahu akhir cerita dari film itu.

Setelah membeli tiket untuk menonton film(saya ingin sekali menulis, bahwa menonton film lagi gratis hari ini, di karenakan yang punya bioskop atau minimal yang jaga parkiran bioskop lagi ulang tahun… tapi ya sudahlah). Akhirnya saya menuju kafetaria bioskop.

Pesanan di kafetaria bioskop bisa di jadikan tolak ukur kasta seseorang penonton.

Kasta penonton standart

            Pesanan orang-orang di kasta biasanya paket-paket hemat yang disediakan oleh pihak kafetaria, seperti paket popcorn dan coca-cola. Atau lebih standartnya lagi adalah popcorn dan air mineral.

Kasta penonton gaul aja

            Pesanan makanan orang di kasta ini biasanya mulai ke tingkat popcorn yang ukuran besar tapi untuk di nikmati sendiri, pesan minuman coca-cola nya pun yang ukuran besar untuk sendiri. Sampai sekarang saya masih berpikir apakah sebenarnya dia itu termasuk kasta “gaul aja” atau “rakus” ya…

Kasta penonton sejati

            Setelah beli tiket menonton, langsung duduk menunggu panggilan bahwa pemutaran film akan segera di mulai, di dalam bioskop akan benar menonton film saja. Saya suka tipe penonton seperti ini, terutama kalau dia wanita cocok di jadikan pacara, irit soalnya nih…

Kasta penonton restoran

            Tipe yang paling saya tidak suka, sebenarnya kasta yang terakhir ini tidak perlu di tulis jika saja kafetaria bioskop tidak mulai berjualan makanan “besar” di dalam bioskop !!! Entah sejak kapan kafetaria mulai berjualan nasi goreng, sop buntut, omelete, bahkan ada nasi goreng kambing. Penonton di kasta ini amat sangat mengganggu penonton lainnya, terutama kalau mereka memesan nasi goreng kambing, ohh tidak! Aromanya bisa memenuhi ruangan bioskop.

            Saya selalu berpikir, sebenarnya kalau di urut berdasarkan “kasta penonton” di atas saya termasuk di bagian mana ya? Yang biasa saya lakukan ketika ke kafetaria bioskop adalah bertanya ke penjualnya “maaf hari ini lagi boleh ngutang nggak??” 
Menjadi Anak dan Menjadi Orangtua

Melalui orang lain kadang saya dapat melihat sesuatu yang selama ini tidak dapat saya lihat. Seperti juga menyadari kalau saya selama ini kadang kurang berterima kasih kepada kedua orangtua saya.

Sebagai anak, saya kadang mempunyai pandangan dan pemikiran yang berbeda dengan orangtua saya. Karena perbedaan ini, kami kerap beradu kata satu sama lain. Paling sering sih sama mama saya. Kalau papa saya tipe orang yang malas berdebat. Dia lebih memilih untuk mengalah.

Perbedaan pendapat ini tentunya karena pandangan saya sebagai orang muda kadang berbeda dengan orang tua. Sampai saat ini dan mungkin sampai kapanpun juga, perbedaan pendapat ini akan terus ada. Padahal kalau dipikir-pikir apa yang diutarakan kedua orang tua saya tentunya tidak salah. Mana ada sih orangtua yang mau mencelakakan anaknya. Hanya saja menurut saya kadang apa yang mereka utarakan, agak kurang relevan dengan keadaan jaman sekarang.

Kerap dalam perbedaan pendapat, saya menekan ego saya. Karena saya tahu, melawan bagaimanapun, mereka adalah kedua orang ua saya. Mereka sayang saya, makanya mereka memberi batasan pada beberapa hal yang mereka anggap salah tapi menurut saya benar.

Tak mudah menjadi anak tapi lebih tak mudah lagi menjadi orangtua.

Hal itu saya pelajari dari teman saya yang tengah menjalani perannya sebagai orang tua. Anak teman saya itu baru 8 bulanan. Lagi lucu-lucunya.

Teman saya adalah tipe ibu pekerja kantoran. Setiap hari dia berangkat ke kantor jam 6 pagi dan sering baru sampai rumah jam 11 malam. Senin-Juma’t anaknya lebih sering berada di bawah pengawasan sang mertua dan juga asisten rumah tangga. Kalau di akhir pekan, baru teman saya itu menghabiskan waktu seharian dengan anaknya.

Meski sibuk sebagai pekerja kantoran, teman saya itu kadang bangun di tengah malam dan pagi buta karena anaknya menangis. Tentu hal itu bukanlah hal yang mengenakkan: lagi enak-enaknya beristirahat malah harus bangun. Pada saat di akhir pekan saya pernah bertemu dengan keluarga muda itu. Saya lihat betapa telatennya teman saya dan suaminya menyuapi bubur untuk buah hatinya itu. Mereka berganti-gantian menyuapi putri pertama mereka, karena keduanya juga sambil menikmati makanan di meja mereka.
Untungnya sang anak nggak rewel seperti saya pas kecil. Dikasih makan cepat aja masuk ke mulutnya.

Mama saya pernah cerita, pas kecil saya itu susah banget dikasih makannya. Kadang saya harus dibawa ke Monas supaya mau makan. Sebagai catatan, rumah saya ke Monas itu jaraknya lumayan jauh. Ah, tak terbayang pengorbanan kedua orangtua saya dulu memberi saya makan.
Sebagai anak kecil, saya dulu juga sering sakit. Pastinya orangtua saya sering tidak tidur menjaga saya kala itu.

Jaman dulu stroller juga belum se-mainstream sekarang. Kalau anak jaman dulu itu digendong. Nggak ada tuh anak yang didorong-dorong. Saya bisa membayangkan dulu kedua orang tua saya pasti berat sekali menggendong saya kalau lagi jalan-jalan ke mall.

Tulus sekali sayangnya orangtua untuk anaknya.

Bagaimana dengan sang anak setelah dewasa dan orangtuanya mulai tak sanggup lagi mengurus dirinya sendiri, apakah sang anak akan mengurus orangtuanya sebagai mana dia diurus semasa kecil? Ada yang begitu ada juga yang tidak. Ada yang karena kesibukannya, sang anak cukup menyewa pembantu untuk mengurus orangtuanya. Ini sama halnya dengan orangtua yang mempekerjakan asisten rumah tangga atau baby sitter untuk mengurus anaknya.


Pastinya orangtua tak pernah berharap kalau kasih sayang yang selama ini mereka berikan akan berbuah balasan dari anak-anaknya. Selama sang anak tidak menyusahkan mereka, orangtua pasti sudah bahagia.

Setiap tak pernah bisa memilih orangtua seperti apa yang akan melahirkan dan membesarkan mereka. Seperti juga orangtua tak bisa memilih seperti apa anak yang akan dimilikinya. Bisa anak yang berbakti, atau anak yang durhaka. Jangan sampai kasih orangtua sepanjang masa, tapi kasih anak hanya sepanjang lini masa.

Pejuang Jarak

Hubungan percintaan jarak jauh atau Long Distance Relationship A.K.A LDR diperlukan komitmen lebih daripada sekedar cinta. Ada kepercayaan, kesabaran, dan kemauan rela berkorban dalam menjalani LDR.

Kalau nggak ada kepercayaan, baru sebentaran LDR-an pastinya udah putus nih. Kalau dikit-dikit cemburuan. Dengar gosip dikit udah panasan, dan nuduh yang nggak-nggak. Ya, mendingan jangan LDR-an. Bikin capek perasaan doank kalau pacaran jarak jauh tanpa kepercayaan.

Kesabaran juga penting nih dalam hubungan LDR. Kalau nggak sabaran dan akhirnya ketemu sama dia terus tiap harinya. Lama-lama itu udah bukan LDR namanya. Sekalian aja pindah ke kota tempat dia tinggal. LDR itu perlu kesabaran tingkat tinggi. Percayalah, jarak itu hanya pemisah hati yang bersatu.

Kemauan rela berkorban uang untuk mengunjugi satu sama lain dengan membeli tiket kereta api, bus, kapal laut atau pesawat  itu juga penting lho.. Biasanya yang berkorban begini tuh yang cowok. Dia pasti samperin ceweknya entah itu di luar kota ataupun di luar negeri. 

Di jaman sekarang orang-orang yang pada LDR-an itu sudah lebih mudah. Berkat kemajuan teknologi, saling bertegur sapa sudah setiap saat tanpa perlu keluar pulsa berlebih. BBMWhatsapp, Skype atau Line sudah amat membantu memperdekat jarak yang jauh. Tinggal langganan paket bulanan yang bisa internetan, udah bisa memakai aplikasi tersebut di ponselnya. Kalau lagi bokek pulsa, tinggal ke warnet yang murah, udah bisa Skype-an sama pacarnya. Bisa saling bertatap muka via layar monitor dan saling cium layar monitor masing-masing juga.

Karena faktor-faktor kemudahan inilah, orang jaman sekarang itu banyak banget yang pacarannya pada LDR. Mungkin mereka-mereka itu menganut aliran: kalau ada yang jauh kenapa harus yang dekat. 

Saya sendiri sudah dua kali berpacaran secara LDR. Kalau dulu tuh belum seenak sekarang LDR-annya. Mau kirim-kiriman pesan aja harus pakai SMS. Kalau telponan rooming. Bikin tagihan telpon lumayan bengkak. Kalau mau saling bertemu muka ya pakai Yahoo Messenger atau MSN. Belum lagi internet jaman dulu belum sekencang sekarang. Kadang pas koneksi internetnya lagi ngelag, ihat muka pacar suka patah-patah kayak goyangnya Anisa Bahar.

Setelah dua kali menjalani hubungan LDR, kayaknya kalau sekarang disuruh pacaran jarak jauh lagi, saya sih ogah banget. Bukannya apa-apa, tapi kalau nggak bertemu pacar seminggu sekali aja rasanya itu agak-agak kurang afdol deh pacarannya. Walau berkat kemajuan teknologi hal itu bisa di atasi, dan komunikasi juga bisa setiap saat. Saya sudah menjadi orang yang lebih suka mengobrol itu sambil bertatap muka secara langsung. Bukan antara layar sama layar.

Jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, membahas berbagai hal yang sedang terjadi dikehidupan dia dan saya secara bareng-bareng, itu tidak bisa dilakukan setiap saat atau minimal seminggu sekali sama orang yang pacarannya LDR.

Mantan saya LDR-an dulu pernah bilang, “yang paling enak dari LDR-an itu adalah perasaan saling merindunya. Kalau ketemuan terus tiap hari nanti malahan cepat bosan.” Saya dulu mengamini apa yang dikatakannya. Tapi sekarang saya sadar itu adalah sikap untuk menyenangkan hati kami yang berpacaran jarak jauh. Kalau sudah menikah, hampir setiap suami-istri juga bertemu setiap harinya. Dan mereka nggak bosan-bosan tuh.

Orang-orang yang melakukan LDR itu layak disebut pejuang jarak. Mereka memperjuangkan jarak yang ada menjadi seakan tidak berjarak. Kangen, saling cemburuan, menghabiskan banyak waktu sendirian sambil senyum-senyum sendirian di depan layar ponselnya karena lagi chit-chat sama pacar, pasti sering dialami sama mereka yang LDR-an.

Jodoh terkadang memang berjarak. Tapi selama hati saling bertaut, berpacaran jarak jauh bukanlah suatu kendala. Selamat bertempur kalian para “pejuang jarak.”

Dimanfaatkan Cinta

Setiap orang pasti pernah dimanfaatkan oleh cinta. Ada yang sampai terpontang-panting hidupnya karena cinta. Ada juga yang sukses jadi pemanfaat cinta itu sendiri.

Dulu, jaman masih kuliah, ada teman saya yang datang dari keluarga berada. Anaknya juga baik, sopan banget, dan juga setia kawan. Untung saja Tuhan itu adil, kesempurnaan teman saya itu berkurang karena tampangnya yang biasa-biasa aja: ganteng nggak, jelek juga belum.

Kami yang kuliah dijurusan teknik memang kekurangan wanita. Jadilah kami dulu sering mengincar para wanita dari jurusan lain. Pada suatu hari teman saya ini jatuh hati pada anak jurusan psikologi yang memang terdiri dari banyak wanita dibandingkan prianya.

Perkenalan keduanya ini karena ada mata kuliah umum yang menggabungkan kelas anak teknik dan psikologi. Jadilah keduanya berkenalan.

Wanita anak psikologi ini memang cantik luar biasa. Teman saya itu mulai pendekatan dengan sistem antar jemput kuliah. Gempor banget nih teman saya. Walau dia lagi nggak ada kuliah pagi, tapi demi sang pujaan hati dia rela bangun pagi dan menjemput wanita itu. Gokilnya lagi, jarak rumah wanita itu ke kampus cuma sekitar 1 kilometer. Sedangkan jarak rumah teman saya ke kampus itu ada kali 8 kilometer-an. Jadi teman saya itu selama proses pendekatan hampir setiap jemputnya saja menempuh jarak 10 kilometerlah kurang lebih. 

Untuk bagian antarnya beda lagi hitungan jaraknya, karena sebelum pulang keduanya biasa nongkrong-nongkrong dulu. Saya dan beberapa teman yang lain biasa suka ikutan juga nongkrong sama mereka.

Saya tidak ingat berapa lama proses pendekatan itu berlangsung. Yang pasti mereka berdua akhirnya jadian juga. Ya, kalau sampai nggak jadian sih kampret bangetlah nasib teman saya itu.

Sebagai anak kuliah, melihat teman ada yang jadian, pastilah kami langsung nodong minta ditraktir. Jaman kuliah yang namanya traktiran itu kayak pergi ke kondangan tanpa perlu ngasih amplop. Barokah banget lah!

Teman saya ini membuktikan bahwa cinta memang tak memandang tampang. Melainkan ketulusan hati teman saya serta kemauannya untuk rela berkorban. Kisah cinta mereka berdua berakhir bahagia, ya, setidaknya untuk dua bulan saja. Setelah itu putus karena sang wanita berpaling pada pria lain yang sama baiknya dengan teman saya itu tapi punya tampang dan body yang lebih oke.

Saya yang waktu itu lagi numpang di mobil dia buat makan di luar kampus, agak kaget dengar cerita dia (lebih tepatnya sih pura-pura kaget, soalnya saya udah nebak kalau palingan mereka pacaran itu cuma bertahan 6 bulan. Eh, ini ternyata lebih cepat.) Sebagai teman, saya relakan waktu makan siang itu tidak hanya menerima asupan makanan, tapi juga masukan curhatan patah hati. 

Ia bercerita kalau selama pacaran merasa dimanfaatkan saja. Hampir setiap hari jadi supir, bahkan kalau nyokap pacarnya itu mau ke mana-mana, dia juga diminta untuk mengantarkan. Kalau makan atau nonton, dia terus yang ngebayarin. Ngedengerin curhatan dia, saya jadi bingung sendiri. Setau saya dari pas pendekatan, itu wanita memang dimanjakan dengan hal-hal tersebut. Jadi, menurut saya wajar donk kalau pas pacaran wanita itu tetap memperlakukan dia sama seperti. 

Cerita teman saya itu menjadi refleksi kehidupan pendekatan saya terhadap seorang wanita. Saya yang sudah sah dan pasti memilki tampang yang biasa-biasa saja, memang memerlukan usaha lebih dalam mendekati seorang wanita.

Belum lama ini ada seorang wanita yang sedang saya dekati. Wanita yang satu ini cantik, diajak ngobrol juga seru, dandanannya juga kece. Pokoknya oke punya deh!

Sama seperti teman saya itu, saya juga melakukan antar jemput. Cuma bedanya saya tidak antar jemput dari rumah ke kampus, karena wanita yang satu ini tuh sudah anak kantoran bukan kuliahan. Biasanya saya jemput ke kantornya dia. Tidak sering juga sih, palingan seminggu dua kali. Kalau antar palingan nganterin ke tempat dia mau belanja atau mau ketemu temannya. Wanita yang satu ini memang tidak merepotkan dan neko-neko. 

Ribetnya, wanita yang satu ini adalah dia itu jinak-jinak merpati: kadang memberi respon terhadap saya, kadang bersikap acuh. Kalau ditelpon kadang angkat kadang nggak. Kalau di BBM, walau sudah bertanda “R” kadang pesan itu tidak dibalas sama dia. Walau begitu, dia beberapa kali malah menanyakan kabar saya terlebih dahulu, bangunin untuk Sholat Subuh. Sikap dia ini memang bikin bingung, atau memang sayanya aja yang bodoh dalam masalah pendekatan ya…

Setelah sekitar dua bulan melakukan pendekatan dengan dia, saya akhirnya menyerah. Saya tidak bisa bertindak seperti teman saya itu, yang pantang mundur mengejar pujaan hatinya. Ya, teman sayanya aja yang lagi sial mendekati orang yang salah. Kalau saja dia bertemu dengan orang yang tepat, maka perjuangannya itu pastilah berbuah emas.

Dan sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh teman saya untuk mantan pacarnya itu bukanlah pengorbanan tanpa arti. Mantannya saja yang bodoh dan  menyia-nyiakan orang yang mau mencintainya sebegitu besar. Semoga kamu, saya, dan gebetan kamu tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang bodoh itu.

MASIH ADA WAKTU

Bernahkah kita masih memiliki waktu? Atau waktu sudah jauh pergi dari kita.

            Dulu kita punya kesempatan, punya pilihan. Tapi sekarang kita merasa bahwa hidup sudah tak ada lagi kesempatan, dan jalan yang kita lalui sudah di pilihkan. 

            Berapa banyak kesempatan yang sudah kita lewatkan. Berapa hal yang kita pilih dalam hidup, ternyata hal itu bukan hal yang kita suka.  Masih adakah waktu?

            Banyak tahun di lewati entah apakah itu baik atau buruk. Di isi oleh romansa, caci-maki, penyesalan, bahkan kematian. Jika saja hidup itu karena “sebab-akibat” apakah yang akan terjadi jika kita bisa memilih hal lain dalam hidup kita, hal yang mungkin akan memberikan “akibat” yang lain “sebab” kita memilih hal yang berbeda.

            Masih ada waktu. Jika tidak ada, biarlah kita menciptakan waktu kita sendiri. Waktu yang sama, yang berdetak ke kiri.

Mahkota Orang Sakit

Minggu siang, saat sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur. Saya menerima pesan dari seorang teman di BBM grup. Dia mengabarkan kalau istrinya telah meninggal pada Sabtu malam. Ya, istrinya memang telah sakit hampir setahun. Saya pikir penyakitnya bisa disembuhkan, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.

Sehari sesudahnya, teman saya yang lain masuk rumah sakit karena demam berdarah. Masih di hari yang sama, ada orang kantor saya yang tidak masuk karena flu. Dua hari setelahnya teman saya yang lain masuk rumah sakit karena terkena virus yang masih misterius.

Kesehatan itu mahal harganya, kebanyakan orang baru tahu itu setelah dia sakit. Kalau belum sakit, biasanya meremehkan masalah kesehatan.

Dulu, saya termasuk orang yang menganggap remeh masalah kesehatan. Kerjaannya bergadang melulu. Olahraga jarang –cenderung nggak pernah. Makan yang kolesterol, gula, dan asin yang berlebih. Sampai akhirnya saya sakit sampai tidak bisa bangun.

Setelah sembuh dari sakit itu, saya baru merasa beruntung telah diberikan penyakit sama Tuhan. Mungkin inilah cara Tuhan menjawab doa saya agar diberikan kesehatan. Yaitu, dengan diberikan penyakit.

Saya akhirnya mulai menjaga kesehatan agar nggak kena penyakit itu lagi. Rajin olahraga. Makan juga mulai milih-milih. Ngurangin gula dan juga garam. Tidur juga jarang sampai lewat jam 12 malam. Pokoknya saya mulai hidup sehat.

Setelah memperbaiki gaya hidup saya, perlahan-lahan kondisi tubuh saya semakin prima. Berat badan juga turun. Cuma kulit saya masih saja hitam, nggak berubah jadi putih. Ternyata gaya hidup sehat tidak bisa merubah warna kulit. Ya, ternyata begitu.

Di balik penyakit memang menyimpan hikmahnya. Salah satu hikmahnya adalah narsis lagi sakit. Eh, ini saya nggak becanda lho. Banyak orang sekarang yang sakit terus posting fotonya lagi dirawat di RS sebagai DP BBM atau posting di Path. Kalau artis malah posting di akun Instagram-nya.

Menurut saya, orang sakit narsis ini penting dan baik, lho. Karena dia narsis pas sakit, kita yang teman-temannya jadi datang menjenguknya. Ada juga yang mendoakan serta juga memberi saran obat dan dokter apa yang terbaik.

Coba kalau pas sakit diem-diem aja, pasti merasa kesepian karena nggak ada teman yang datang menjeguk. Doa-doa orang yang menginginkan kesembuhan kita yang sakit juga bikin cepat sehat. Saran dari orang yang pernah terkena penyakit serupa juga penting. Karena kadang kita bisa saja melakukan pengobatan yang salah.

Mama saya adalah tipe orang yang kalau sakit, akan cerita ke orang-orang. Berkat hal itu, mama saya beberapa kali sukses menemui dokter dan pengobatan tradisional yang pas untuk penyakitnya.

Jadi, kalau kamu sakit, jangan malu-malu untuk bercerita. Kecuali kamu itu sakit flu. Banyakin minum madu dan makan vitamin C sama banyakin tidur juga sembuh. Nggak usah lebay deh kalau cuma sakit flu #emosi.

Kesehatan adalah makhkota bagi orang sakit. Jangan sampai mahkota itu hilang saat kamu sedang sakit. Jagalah terus mahkotamu, bahkan di saat kamu sehat.

Di dunia ini nggak ada yang lebih enak dari: hidup sehat, punya banyak uang, dan karir yang sukses. Eh, bentar, bentar… Punya pacar itu juga penting sih..  Karena jomblo itu sebenarnya juga penyakit. Penyakit yang obatnya sungguh susah untuk ditemukan. Makanya, banyak orang yang jomblo daripada yang punya pacar. YA… Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

Kebelet Boker

Jika ada yang bilang menahan perasaan cinta adalah hal yang paling menyakitkan, pasti orang tidak pernah menahan boker. Sumpah ya, saya sudah pernah menahan perasaan cinta, berkali-kali malahan. Tapi, menahan boker itu lebih menyakitkan ternyata.

Pada suatu hari Juma’t, seperti juga hari Juma’t yang lainnya, jam pulang kantor pasti tidak bersahabat sekali untuk para pemakai kendaraan. Apalagi kalau hari Juma’t itu hujan pas jam 3 sore. Bakalan hancur minah banget deh jalanan.

Hari Juma’t yang naas itu pas banget hujan. Dan semua orang sepertinya lagi pengen banget pulang cepat, entah mau istarahat di rumah ditemani suara hujan atau mau bercumbu bersama sang kekasih di peraduan berbalut dinginnya udara hujan. Entahlah. Saya sendiri mau pulang cepat karena sudah ada janji dengan seorang kawan di kafe yang berada di daerah Kelapa Gading.

Dari kantor saya yang terletak di daerah Kemanggisan, Slipi, paling cepat mencapai Kelapa Gading adalah lewat jalan tol, sebuah jalan bebas hambatan. Sayang itu bebas hambatan itu hanya menjadi katanya. Telah lama orang-orang terbiasa menaiki jalan tol meski jalan yang gratisan tidak macet.

Saat berangkat dari kantor saya sudah merasa kalau perut saya ada yang mau dikeluarkan. Tapi mau keluarnya itu nanggung-nanggung. Kayaknya mau pup tapi kayaknya juga nggak. Perut emang kadang suka labil kayak hati.

Karena tak bisa menunggu kepastian pup perut, saya lalu memutuskan untuk jalan terus saja. Takutnya telat, karena saya yakin jalanan macet banget pastinya.

Saat memasuki pinto tol, perut saja mulai agak berontak. Tapi tak lama, kemudian biasa lagi. Saya memperkirakan palingan pas sampai Kelapa Gading baru nanti cari toilet. Saya yakin bakalan aman perut saya selama perjalanan.

Entah berapa lama saya terjebak di kemacetan. Saya santai-santai di dalam mobil sambil melihat rintik-rintik air yang menghampiri kaca mobil saya. Suara penyiar radio ikut meramaikan suasana mobil yang saya kendarai sendirian. Tiba-tiba kesantaian itu terusik oleh perut saya. Tiba-tiba saya sakit perut yang tak tertahan. Udah di ujung banget “itu” mau keluar. Saya segera mencari cara menemukan toilet secepat mungkin dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Masalahnya, itu hil yang mustahal. Jalanan lagi macet banget. Gerak juga cuma selangkah dua langkah. Sama orang yang lari di #BajakJKT, walau pas lari itu jalan dan sambil foto-foto selfie, tetap cepetan mereka. Sumpah deh…

Kata orang jaman dulu, kalau sakit perut pegangan batu aja. Nanti sakit perutnya bisa hilang. Saya percaya hal itu. Soalnya pas SD saya pernah melakukannya dan berhasil. Masalahnya di jalan tol mana ada batu. Ada juga aspal, kalaupun saya pegang kayaknya nggak bakalan ngebantu apa-apaan deh. Akhirnya saya menggenggam kemudi lebih erat. Saya membayangkan kemudi itu adalah batu.

Untuk menahan sakit perut, saya juga mencoba jurus mengalihkan perhatian. Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa sakit itu bisa dialihkan rasa sakitnya jika memikirkan hal yang lainnya, terutama hal yang bikin bahagia. Kemudian saya memikirkan hal apa yang bikin saya bahagia: punya banyak uang, punya pacar, dan ketemu toilet. Ah, kampret… Saya kembali sakit perut. Saat ini emang paling bahagia kalau ketemu toilet. Bahkan punya pacar aja bisa dikalahkan sama ketemu toilet saat itu juga.

Meski udara luar dan dalam mobil dingin, di punggung saya mulai keluar butiran keringat akibat menahan boker. Saat merasa sakit, manusia barulah mengingat Tuhan. Begitu juga dengan saya. Saya berdoa kepada Tuhan agar jalanan segera dilancarkan dan perut saya tidak sakit lagi.

Saya terus merapalkan doa. Tapi, doa itu seperti orang mengayuh sepeda, satu kayuhan ke kayuhan lainnya baru nanti sampai ke tujuan. Untung saja tujuan kayuhan sepeda saya tidak jauh, soalnya tak lama berdoa, perut saya mereda sakitnya. Meski tak lama sakit lagi. Begitu terus sampai akhirnya saya tiba di tempat tujuan.

Lega banget rasanya pas ketemu toilet. Kayak ketemu es teh manis pas bedug maghrib di bulan puasa. Indah banget.

Ya, kita memang baru tahu rasanya kalau sudah menjalaninya. Dan sekarang saya tahu, kebelet boker lebih sakit dari pada kebelet cinta. Semoga kamu nanti juga akan mengalaminya. AMIN !!!

Jomblo yang Merdeka, Adil, dan Sejahtera

Manusia itu emang nggak pernah ada puasnya. Kalau masih jomblo maunya punya pacar, giliran udah punya pacar maunya punya selingkuhan. Ketahuan selingkuh, diputusin akhirnya jomblo lagi, ujung-ujungnya galau.

Kalau saja manusia itu gampang puas tentunya hidup manusia itu tidak seru. Contohnya dia sudah puas kalau dia itu jomblo, sampai daging jadi tulang dalam tanah dia akan seterusnya jomblo, nggak berusaha cari pasangan hidup semati, atau minimal pacar.

Hidup memang banyak aturan. Begini salah begitu salah. Sama kayak pacaran yang terkadang penuh aturan ini dan itu. Tapi tanpa aturan, hidup juga nggak seru, karena melanggar aturan itu memberi pengalaman tersendiri.

Duh, ribet banget ya? Sama, pacaran juga kadang ribet. Sebentar-bentar harus ngasih kabar lagi ngapain, di mana, dan sama siapa. Tiap Minggu ada jadwal bertemu, kalau nggak ketemu dituduhnya udah nggak kangen dan sayang lagi. Padahal waktu memang sedang tidak memungkinkan untuk bertemu.

Kalau memang pacaran bikin rempong,kenapa orang-orang masih galau karena nggak punya pacar ya? Padahal kalau udah punya pacar sama aja, malah kadang lebih galau lagi.

Bukannya hidup jomblo yang merdeka, adil, dan sejahtera itu lebih enak… Nah, untuk yang satu ini ada benarnya ada juga nggaknya.

Lihatlah kedua orang tua kamu. Bukankah sebelum menikah mereka juga dulunya berpacaran dahulu. Mungkin mereka juga pernah melewati apa yang kamu, ehh maksudnya kita rasakan sekarang ini: ribet, banyak aturan, galau, putus nyambung, selingkuh, diselingkuhin.

Nah, cuma masalahnya kita belum aja ketemu yang cocok nih: yang walaupun orang ribet kita mau diribetin sama dia. Walaupun dia banyak aturan, kita mau aja ikutin aturannya. Walaupun dia pernah selingkuh kita nggak ngebalas dengan selingkuh balik, tapi memaafkan dia yang memang berjanji nggak ngulangin lagi kesalahannya itu.

Coba aja udah ketemu orang yang bernama “cinta” mau gimanapun orangnya, kehidupan jomblo yang merdeka, adil, dan sejahtera pasti bukan lagi menjadi pilihan hidup kita.

Tulisan ini sebenarnya saya buat sebagai #selfnote untuk saya sendiri yang kadang suka malas sama pacar atau gebetan yang bikin ribet dan banyak aturannya.

Ya, mungkin saya belum ketemu sama yang cocok aja sih, yang akhirnya bisa bikin saya memiliki toleransi tinggi terhadap kerewelan pasangan saya. Dan yang paling penting itu kenyamanan untuk saya dan dia.

Minyak Berkumpul Dengan Minyak

"Air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya." —Tan Malaka.

Saya agak kurang sedikit memahami maksud perkataan Tan Malaka tersebut sebenarnya tentang apa. Bisa jadi maksudnya orang baik akan berteman dengan orang baik, dan orang jahat akan berkumpul dengan orang jahat. 

Saya tidak mau berpanjang lebar membahas kalimat itu, yang bisa bikin perdebatan panjang lebar. Yang pasti, saya suka kalimat dari Tan Malaka itu. Bagaimanapun juga, kita lebih senang berkumpul dengan orang yang sepikiran sama kita. Yang kita anggap baik dan nggak jahat. Kalaupun ada satu dua teman kita yang jahat, sebagai teman yang baik kita pasti akan selalu mengarahkan dia kembali ke jalan yang benar.

Walaupun kita lebih senang berkawan dengan orang yang sepikiran dengan kita, tapi kawan yang tak satu ide dengan kita baiknya jangan dihindari. Karena orang-orang yang berbeda ini bikin hidup lebih berwarna. Pacaran sama orang yang apa-apa samaan sama kita aja kurang seru kok. Percaya deh…

Saya mempunyai beberapa orang teman yang pandangan hidup mereka berbeda jauh dengan saya. Perbedaan ini sering kali bikin saya dan mereka berdebat.

Perdebatan ini bisa mulai dari yang nggak penting sampai yang penting. Perdebatan ini sebenarnya ajang saya dan beberapa teman ini saling bertukar pikiran. Dengan cara ini masing-masing dari kami dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Saya selalu ingat sebuah quote yang berbunyi: setipis apapun tempe dipotong, akan selalu ada dua sisi bagian dari tempe itu. Maksudnya, segala sesuatu selalu ada dua sisi cerita.

Buktinya, pada masa pilpres 2014, kedua kubu capres dan cawapres sama-sama sudah mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang. Padahal hasil kemenangan mereka adalah baru dari hasil hitung cepat dari pelabagi lembaga survei, buka pengumuman dari KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Dari setiap kubu capres dan cawapres sama-sama mengatakan kalau lembaga survei yang memenangkan mereka adalah lembaga yang kredibel. Setiap kubu juga melontarkan tuduhan kalau lembaga survei yang memenangkan capre dan cawapres lawannya adalah lembaga survei pesanan. 

Dari sini jelas ada dua cerita yang membuat kita yang melihatnya jadi bingung mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini memang sengaja dibuat oleh salah satu capres dan cawapres. Tujuannya jelas agar masyarakat bingung dan suara yang tidak sebenarnya jadi bisa bermain di KPU.

Cerita manakah yang paling benar dari semua itu masih wallahualam…

Kamu bisa saja mempercayai suara minyak karena kamu berkumpul dengan kawanan minyak. Bisa juga kamu mempercayai kelompok air karena berada di kawanan air. Terserah saja. Tapi, pastikan dulu apakah kamu benar-benar minyak dan bukan air. Begitu juga sebaliknya.