Permintaan akan Cinta

Berbicara tentang cinta apalagi sampai ke masalah pernikahan bukanlah suatu yang sederhana. Ya, kecuali kamu tergila-gila dengan satu orang dan orang itu juga tergila-gila dengan kamu, kedua keluarga memberi restu, langsung deh naik ke pelaminan. Bisa juga karena udah tekdung (baca: hamil) duluan, akhirnya buru-buru menikah. Ada kok kisah cinta seperti itu. Banyak malahan.

Kalau yang rumit itu ada yang sampai pacaran bertahun-tahun, tapi nggak nikah dan akhirnya putus. Masing-masing dari mereka akhirnya pacaran sama orang lain, tapi kemudian putus. Dan akhirnya pasangan itu bertemu kembali dan menikah. Muter-muter ke mana-mana dulu, padahal baliknya ke dia-dia juga.

Ya, cinta emang begitu. Kadang lurus kayak jalan tol, kadang berliku-liku kayak labirin.

Berapa banyak sebenarnya orang yang harus kita jadikan gebetan dan pacar, untuk kemudian menjadi pasangan sehidup semati? Jawabannya pasti beragam. Ada yang menjawab sekali, dua kali, tiga kali, dan bahkan mungkin di atas dua puluh kali.

Kamu boleh saja tertawa mendengar angka di atas dua puluh itu. Tapi teman saya ada lho yang kalau jumlah pacar dan gebetannya dikumpulkan, maka akan menghasilkan angka di atas 20 orang. Pacarnya sih nggak banyak, cuma delapan orang saja. Gebetannya yang bejibun.

Kamu mungkin akan beranggapan kalau orang ini adalah seorang pria yang playboy? Hmmm… Kamu salah! Teman saya ini seorang wanita, dia juga bukan tipe wanita murahan. Saya tahu benar hal itu. Karena saya pernah menjadi salah satu orang yang mendekatinya.

Hubungan kami tidak berlanjut menjadi sepasang kekasih karena tak ada reaksi ‘kimia’ diantara kami. Saya amat menyukai berbicara dengannya untuk waktu yang lama, begitu juga dia. Sepertinya kami lebih cocok menjadi teman berbincang saja.

Hubungan yang nyaman memang tak selalu berakhir dengan jadian.

Seorang teman saya yang lain yang tak pernah pacaran seumur hidupnya, malah tak perlu repot bertemu dengan banyak orang. Dia menjalankan apa yang disebut dalam agama Islam dengan Ta’aruf.

Ta’aruf itu memiliki makna berkenalan atau saling mengenal. Kemudian dalam makna khusus proses pengenalan sesorang terhadap pria atau wanita yang akan dipilih sebagai pasangan hidup sering juga disebut sebagai Ta’aruf.

Dia melakukan Ta’aruf atas rekomendasi seorang Ustad tetangganya.

Jadi setelah berkenalan, teman saya itu berselang satu bulan langsung melangsungkan pernikahan dengan wanita yang dikenalkan kepadanya itu. Tidak ada proses pacaran. Langsung nikah dan menikmati malam yang enak secara halal. Pacarannya ya pas udah nikah nanti.

Pernikahan mereka langgeng sampai sekarang. Anaknya juga udah sampai tiga orang. Saya dan teman-teman yang jomblo lainnya sempat ingin minta dikenal sama Ustad tersebut untuk minta di Ta’aruf-kan. Tapi kami ingin melihat dulu foto-foto wanita yang akan di Ta’arufkan dengan kami, kalau bisa fotonya full body dan dari berbagai sudut.

Niat baik kami dibatalkan oleh delikan melotot mata teman yang sudah melakukan Ta’aruf itu.

Menemukan cinta sejati baik yang kayak jalan tol atau labirin, sama-sama ada enak dan sama-sama ada nggak enaknya. Yang kayak jalan tol enaknya nggak perlu patah hati berkali-kali. Nggak enaknya, ya, dia tidak bisa merasakan jatuh cinta berkali-kali. Yang cintanya berliku-liku mengalami kebalikan dari yang jalan tol: patah hati berkali-kali dan juga jatuh cinta berkali-kali.

Saya sendiri termasuk orang yang masih bertemu dengan banyak wanita. Meski banyak, tapi belum ada yang nyantol dan pas saja di hati. Mungkin Tuhan sedang ingin mempertemukan saya dengan banyak orang, tapi belum mempersatukannya.

CERAI

            Kamu jengah di jerat cinta

            Mulai terpikir untuk lepas

            Tapi ada dia disini

            Kamu ingin pulang

            Mulai ingin tertawa

            Tapi dia masih disini

            Kamu benci bau alcohol

            Mulai bosan pipimu bertemu telapak

            Tapi dia disini, yang kau sebut buah cinta.

Dimakan Salah, Nggak Dimakan Salah Juga

Lebaran selain menjadi saat saling memaafkan dan memakai baju baru, juga  merupakaan saatnya untuk makan-makan ketupat sayur dengan daging berkuah santan berkolesterol tinggi. Makanya kalau pas puasa turun 3 kilogram, ketika lebaran malah naik 5 kilogram. Hadeh –pegangin pinggang.

Di rumah saya juga ada hidangan ketupat dengan lauk pauknya. Dua hari sebelum lebaran, Mama saya sudah memasak Rendang. Besoknya, sehari sebelum lebaran baru memasak opor daging sapi, gulai daging sapi, dan tauco cabai cumi udang. Ketupatnya juga di masak sehari sebelum Lebaran, agar tetap bisa disajikan untuk tiga hari kedepan.

Keluarga kami tak pernah menyajikan menu ayam saat lebaran. Hanya ada daging dan tauco cabai itu. Hari kedua lebaran, Mama saya ada menambahkan lauk gulai udang, soalnya pas hari kedua di rumah saya ada open house untuk sanak saudara.

Keluarga saya setiap tahunnya menghabiskan waktu 4 – 5 hari untuk bersilaturahmi. Selain karena banyaknya jumlah sanak saudara, jarak antara satu rumah saudara yang satu dengan yang lainnya lumayan jauh.

Jika di rumah saya sudah makan daging, maka di rumah sanak saudara yang lainnya juga sama daging juga. Cuma ada satu rumah yang menyajikan Mie Aceh –Mama dan Papa saya sama-sama berasal dari Aceh, begitu juga sanak keluarga.

Makanan pas Lebaran itu juga kayak jadi ajang perlombaan memasak para Ibu rumah tangga. Hampir setiap hidangan yang disajikan, nggak ada tuh yang rasanya tidak menggoyang lidah (padahal yang disajikan bukan Satai Padang). Udah enak, gratis pula. Gimana makannya nggak banyak?!

Padahal makanan yang mereka hidangkan itu kalau di makan terus di setiap rumah, udah pasti akan bikin perut saya meledak. Tapi kalau nggak dimakan juga nggak mungkin, nggak enak soalnya. Kesannya tidak menghargai tuan rumah yang sudah mau capek-capek masak untuk menjamu kami.

Saya kadang merasa beruntung, karena jarak rumah-rumah keluarga yang kami kunjungi agak berjauhan. Jadi ada waktu makanan buat dicerna sama perut, sebelum dihajar lagi sama makanan lainnya.

Selain makanan kaya akan lemak dan kolesterol, minumannya juga manis-manis. Kalau nggak sirop ya minuman bersoda. Kue-kue lebaran juga menggoda sekali untuk dicicipi. Saya termasuk orang yang pasti mencicipi kue lebaran di setiap rumah yang saya kunjungi. Apalagi kalau saya tahu si empunya rumah membuat sendiri kue-kue itu. Saya makin nafsu untuk merasainya.

Peningkatan berat badan selama Lebaran ini tentunya tidak terjadi sama saya saja. Teman-teman saya juga banyak yang seperti itu –mari mengucap Alhamdulillah bersama-sama.

Buat yang nggak diet, mau naik atau turun berat badannya sih nggak peduli. Kalau yang pada diet, bulan puasa itu kayak berasa di-PHP-in sama timbangan yang naik dan turun sesuka hatinya –udah salahin timbangan aja, kan gara-gara ada timbangan kita bisa tahu kalau berat badan naik. Coba kalau nggak timbangan, pasti selamanya kita tahunya berat badan nggak pernah naik. Heheheh, ngeles aja kayak Bajaj.

Lebaran sudah berlalu. Jika saya pernah ada-ada salah mohon dimaafkan lahir dan batin. Saatnya hidup dimulai dari kosong-kosong lagi, baik untuk kosong untuk dosa-dosa yang pernah diperbuat dan kosongnya dompet yang habis buat belanja dan kasih THR. Cuma perut saja yang masih penuh terisi lemak dan kolesterol.

Pejuang Jarak

Hubungan percintaan jarak jauh atau Long Distance Relationship A.K.A LDR diperlukan komitmen lebih daripada sekedar cinta. Ada kepercayaan, kesabaran, dan kemauan rela berkorban dalam menjalani LDR.

Kalau nggak ada kepercayaan, baru sebentaran LDR-an pastinya udah putus nih. Kalau dikit-dikit cemburuan. Dengar gosip dikit udah panasan, dan nuduh yang nggak-nggak. Ya, mendingan jangan LDR-an. Bikin capek perasaan doank kalau pacaran jarak jauh tanpa kepercayaan.

Kesabaran juga penting nih dalam hubungan LDR. Kalau nggak sabaran dan akhirnya ketemu sama dia terus tiap harinya. Lama-lama itu udah bukan LDR namanya. Sekalian aja pindah ke kota tempat dia tinggal. LDR itu perlu kesabaran tingkat tinggi. Percayalah, jarak itu hanya pemisah hati yang bersatu.

Kemauan rela berkorban uang untuk mengunjugi satu sama lain dengan membeli tiket kereta api, bus, kapal laut atau pesawat  itu juga penting lho.. Biasanya yang berkorban begini tuh yang cowok. Dia pasti samperin ceweknya entah itu di luar kota ataupun di luar negeri. 

Di jaman sekarang orang-orang yang pada LDR-an itu sudah lebih mudah. Berkat kemajuan teknologi, saling bertegur sapa sudah setiap saat tanpa perlu keluar pulsa berlebih. BBMWhatsapp, Skype atau Line sudah amat membantu memperdekat jarak yang jauh. Tinggal langganan paket bulanan yang bisa internetan, udah bisa memakai aplikasi tersebut di ponselnya. Kalau lagi bokek pulsa, tinggal ke warnet yang murah, udah bisa Skype-an sama pacarnya. Bisa saling bertatap muka via layar monitor dan saling cium layar monitor masing-masing juga.

Karena faktor-faktor kemudahan inilah, orang jaman sekarang itu banyak banget yang pacarannya pada LDR. Mungkin mereka-mereka itu menganut aliran: kalau ada yang jauh kenapa harus yang dekat. 

Saya sendiri sudah dua kali berpacaran secara LDR. Kalau dulu tuh belum seenak sekarang LDR-annya. Mau kirim-kiriman pesan aja harus pakai SMS. Kalau telponan rooming. Bikin tagihan telpon lumayan bengkak. Kalau mau saling bertemu muka ya pakai Yahoo Messenger atau MSN. Belum lagi internet jaman dulu belum sekencang sekarang. Kadang pas koneksi internetnya lagi ngelag, ihat muka pacar suka patah-patah kayak goyangnya Anisa Bahar.

Setelah dua kali menjalani hubungan LDR, kayaknya kalau sekarang disuruh pacaran jarak jauh lagi, saya sih ogah banget. Bukannya apa-apa, tapi kalau nggak bertemu pacar seminggu sekali aja rasanya itu agak-agak kurang afdol deh pacarannya. Walau berkat kemajuan teknologi hal itu bisa di atasi, dan komunikasi juga bisa setiap saat. Saya sudah menjadi orang yang lebih suka mengobrol itu sambil bertatap muka secara langsung. Bukan antara layar sama layar.

Jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, membahas berbagai hal yang sedang terjadi dikehidupan dia dan saya secara bareng-bareng, itu tidak bisa dilakukan setiap saat atau minimal seminggu sekali sama orang yang pacarannya LDR.

Mantan saya LDR-an dulu pernah bilang, “yang paling enak dari LDR-an itu adalah perasaan saling merindunya. Kalau ketemuan terus tiap hari nanti malahan cepat bosan.” Saya dulu mengamini apa yang dikatakannya. Tapi sekarang saya sadar itu adalah sikap untuk menyenangkan hati kami yang berpacaran jarak jauh. Kalau sudah menikah, hampir setiap suami-istri juga bertemu setiap harinya. Dan mereka nggak bosan-bosan tuh.

Orang-orang yang melakukan LDR itu layak disebut pejuang jarak. Mereka memperjuangkan jarak yang ada menjadi seakan tidak berjarak. Kangen, saling cemburuan, menghabiskan banyak waktu sendirian sambil senyum-senyum sendirian di depan layar ponselnya karena lagi chit-chat sama pacar, pasti sering dialami sama mereka yang LDR-an.

Jodoh terkadang memang berjarak. Tapi selama hati saling bertaut, berpacaran jarak jauh bukanlah suatu kendala. Selamat bertempur kalian para “pejuang jarak.”

Dimanfaatkan Cinta

Setiap orang pasti pernah dimanfaatkan oleh cinta. Ada yang sampai terpontang-panting hidupnya karena cinta. Ada juga yang sukses jadi pemanfaat cinta itu sendiri.

Dulu, jaman masih kuliah, ada teman saya yang datang dari keluarga berada. Anaknya juga baik, sopan banget, dan juga setia kawan. Untung saja Tuhan itu adil, kesempurnaan teman saya itu berkurang karena tampangnya yang biasa-biasa aja: ganteng nggak, jelek juga belum.

Kami yang kuliah dijurusan teknik memang kekurangan wanita. Jadilah kami dulu sering mengincar para wanita dari jurusan lain. Pada suatu hari teman saya ini jatuh hati pada anak jurusan psikologi yang memang terdiri dari banyak wanita dibandingkan prianya.

Perkenalan keduanya ini karena ada mata kuliah umum yang menggabungkan kelas anak teknik dan psikologi. Jadilah keduanya berkenalan.

Wanita anak psikologi ini memang cantik luar biasa. Teman saya itu mulai pendekatan dengan sistem antar jemput kuliah. Gempor banget nih teman saya. Walau dia lagi nggak ada kuliah pagi, tapi demi sang pujaan hati dia rela bangun pagi dan menjemput wanita itu. Gokilnya lagi, jarak rumah wanita itu ke kampus cuma sekitar 1 kilometer. Sedangkan jarak rumah teman saya ke kampus itu ada kali 8 kilometer-an. Jadi teman saya itu selama proses pendekatan hampir setiap jemputnya saja menempuh jarak 10 kilometerlah kurang lebih. 

Untuk bagian antarnya beda lagi hitungan jaraknya, karena sebelum pulang keduanya biasa nongkrong-nongkrong dulu. Saya dan beberapa teman yang lain biasa suka ikutan juga nongkrong sama mereka.

Saya tidak ingat berapa lama proses pendekatan itu berlangsung. Yang pasti mereka berdua akhirnya jadian juga. Ya, kalau sampai nggak jadian sih kampret bangetlah nasib teman saya itu.

Sebagai anak kuliah, melihat teman ada yang jadian, pastilah kami langsung nodong minta ditraktir. Jaman kuliah yang namanya traktiran itu kayak pergi ke kondangan tanpa perlu ngasih amplop. Barokah banget lah!

Teman saya ini membuktikan bahwa cinta memang tak memandang tampang. Melainkan ketulusan hati teman saya serta kemauannya untuk rela berkorban. Kisah cinta mereka berdua berakhir bahagia, ya, setidaknya untuk dua bulan saja. Setelah itu putus karena sang wanita berpaling pada pria lain yang sama baiknya dengan teman saya itu tapi punya tampang dan body yang lebih oke.

Saya yang waktu itu lagi numpang di mobil dia buat makan di luar kampus, agak kaget dengar cerita dia (lebih tepatnya sih pura-pura kaget, soalnya saya udah nebak kalau palingan mereka pacaran itu cuma bertahan 6 bulan. Eh, ini ternyata lebih cepat.) Sebagai teman, saya relakan waktu makan siang itu tidak hanya menerima asupan makanan, tapi juga masukan curhatan patah hati. 

Ia bercerita kalau selama pacaran merasa dimanfaatkan saja. Hampir setiap hari jadi supir, bahkan kalau nyokap pacarnya itu mau ke mana-mana, dia juga diminta untuk mengantarkan. Kalau makan atau nonton, dia terus yang ngebayarin. Ngedengerin curhatan dia, saya jadi bingung sendiri. Setau saya dari pas pendekatan, itu wanita memang dimanjakan dengan hal-hal tersebut. Jadi, menurut saya wajar donk kalau pas pacaran wanita itu tetap memperlakukan dia sama seperti. 

Cerita teman saya itu menjadi refleksi kehidupan pendekatan saya terhadap seorang wanita. Saya yang sudah sah dan pasti memilki tampang yang biasa-biasa saja, memang memerlukan usaha lebih dalam mendekati seorang wanita.

Belum lama ini ada seorang wanita yang sedang saya dekati. Wanita yang satu ini cantik, diajak ngobrol juga seru, dandanannya juga kece. Pokoknya oke punya deh!

Sama seperti teman saya itu, saya juga melakukan antar jemput. Cuma bedanya saya tidak antar jemput dari rumah ke kampus, karena wanita yang satu ini tuh sudah anak kantoran bukan kuliahan. Biasanya saya jemput ke kantornya dia. Tidak sering juga sih, palingan seminggu dua kali. Kalau antar palingan nganterin ke tempat dia mau belanja atau mau ketemu temannya. Wanita yang satu ini memang tidak merepotkan dan neko-neko. 

Ribetnya, wanita yang satu ini adalah dia itu jinak-jinak merpati: kadang memberi respon terhadap saya, kadang bersikap acuh. Kalau ditelpon kadang angkat kadang nggak. Kalau di BBM, walau sudah bertanda “R” kadang pesan itu tidak dibalas sama dia. Walau begitu, dia beberapa kali malah menanyakan kabar saya terlebih dahulu, bangunin untuk Sholat Subuh. Sikap dia ini memang bikin bingung, atau memang sayanya aja yang bodoh dalam masalah pendekatan ya…

Setelah sekitar dua bulan melakukan pendekatan dengan dia, saya akhirnya menyerah. Saya tidak bisa bertindak seperti teman saya itu, yang pantang mundur mengejar pujaan hatinya. Ya, teman sayanya aja yang lagi sial mendekati orang yang salah. Kalau saja dia bertemu dengan orang yang tepat, maka perjuangannya itu pastilah berbuah emas.

Dan sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh teman saya untuk mantan pacarnya itu bukanlah pengorbanan tanpa arti. Mantannya saja yang bodoh dan  menyia-nyiakan orang yang mau mencintainya sebegitu besar. Semoga kamu, saya, dan gebetan kamu tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang bodoh itu.

Halaman Rumah

              Selamat kamu sudah menemukan Rumah mu. Rumah yang dulu pernah kita rencanakan akan kita bangun bersama, yang di isi senyum manis wajah2 penerus kita.

            Bersama pernah kita, dari dunia maya kita bertemu, yang akhirnya menjadi nyata. Hanya dia setelah aku, dia yang kau pilih menjadi Rumah mu. Semoga dia benar2 menjadi yang terakhir untukmu.

            Begitu banyak pintu rumah yang harus kita masuki, beberapa tak meninggalkan kesan berarti. Hanya sebagai pengganti kenangan cerita yang pernah datang sebelumnya. Beberapa Rumah lainnya hanya memberikan gambaran buruk, betapa bodohnya kita dalam memilih Rumah.

            Jika nanti Rumah mu itu buruk, buatlah Halaman Rumah mu dengan Indah, karena kebanyakan orang hanya melihat Rumah dari halaman depannya saja. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam Rumah mu, tinggal kan mereka di luar.

            Entah berapa banyak senja lagi yang harus ku tunggu untuk dapat mengejarmu menemukan Rumah ku sendiri, Rumah yang bagus, yang bisa menjadi tempat ku bersandar, melepas letih dari penat hidup, sebelum aku perlahan mati 
Dalam Bioskop

Setelah sekian lama tidak menikmati tayangan bioskop karena tak ada lagi film impor yang bermutu, akhirnya pada suatu hari saya pergi juga ke bioskop. Target menonton kali ini adalah film “Source Code” tontonan yang mungkin akan membosankan bagi orang yang bekerja sebagai programmer—orang yang setiap hari berkutat dengan source code.

Saya tidak akan membahas tentang film “Source Code” karena kalau saya membahas suatu film, di ujung bahasannya saya pasti akan memberitahu akhir cerita dari film itu.

Setelah membeli tiket untuk menonton film(saya ingin sekali menulis, bahwa menonton film lagi gratis hari ini, di karenakan yang punya bioskop atau minimal yang jaga parkiran bioskop lagi ulang tahun… tapi ya sudahlah). Akhirnya saya menuju kafetaria bioskop.

Pesanan di kafetaria bioskop bisa di jadikan tolak ukur kasta seseorang penonton.

Kasta penonton standart

            Pesanan orang-orang di kasta biasanya paket-paket hemat yang disediakan oleh pihak kafetaria, seperti paket popcorn dan coca-cola. Atau lebih standartnya lagi adalah popcorn dan air mineral.

Kasta penonton gaul aja

            Pesanan makanan orang di kasta ini biasanya mulai ke tingkat popcorn yang ukuran besar tapi untuk di nikmati sendiri, pesan minuman coca-cola nya pun yang ukuran besar untuk sendiri. Sampai sekarang saya masih berpikir apakah sebenarnya dia itu termasuk kasta “gaul aja” atau “rakus” ya…

Kasta penonton sejati

            Setelah beli tiket menonton, langsung duduk menunggu panggilan bahwa pemutaran film akan segera di mulai, di dalam bioskop akan benar menonton film saja. Saya suka tipe penonton seperti ini, terutama kalau dia wanita cocok di jadikan pacara, irit soalnya nih…

Kasta penonton restoran

            Tipe yang paling saya tidak suka, sebenarnya kasta yang terakhir ini tidak perlu di tulis jika saja kafetaria bioskop tidak mulai berjualan makanan “besar” di dalam bioskop !!! Entah sejak kapan kafetaria mulai berjualan nasi goreng, sop buntut, omelete, bahkan ada nasi goreng kambing. Penonton di kasta ini amat sangat mengganggu penonton lainnya, terutama kalau mereka memesan nasi goreng kambing, ohh tidak! Aromanya bisa memenuhi ruangan bioskop.

            Saya selalu berpikir, sebenarnya kalau di urut berdasarkan “kasta penonton” di atas saya termasuk di bagian mana ya? Yang biasa saya lakukan ketika ke kafetaria bioskop adalah bertanya ke penjualnya “maaf hari ini lagi boleh ngutang nggak??” 
Jam Tangan

Di dunia ini ada orang yang memakai jam tangan di tangan kiri atau kanannya. Tapi tak ada yang memakai jam tangan di kaki. Soalnya kalau begitu nanti disebutnya jam kaki dan bukan jam tangan.

Berdasarkan Wikipedia, definisi jam tangan adalah: penunjuk waktu yang dipakai di pergelangan tangan manusia. Jam tangan elektrik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1957 di Lancaster, Pennsylvania, Amerika Serikat oleh The Hamilton Watch Co of Lancaster. Penelitian untuk menghasilkan arloji elektrik (digital) tersebut telah dimulai sejak tahun 1946. Namun pada tahun 1969, Hamilton Electric Obsolete menghentikan produksi arloji elektrik tersebut karena telah menemukan teknologi yang lebih canggih sesuai dengan kemajuan zaman. Setelah itu, munculah beberapa merek jam tangan yang masih ada hingga kini.

Saya adalah orang yang gemar memakai jam tangan dan sudah dari kecil menggunakannya di tangan kanan.

Pemilihan tangan kanan dipengaruhi oleh Papa saya. Beliau juga memakainya di tangan kanan. Mungkin kalau Papa saya memakainya di tangan kiri, saya bisa jadi menggunakan jam tangan di sebelah kiri.

Saya punya beberapa jam tangan. Kebanyakan sih jam tangan digital dibandingkan analog. Menurut saya jam digital lebih detail dan pasti dalam menunjukkan menit dan detiknya dibandingkan jam analog.

Jam tangan yang saya miliki adalah produk asli. Pernah dulu beberapa kali saya membeli jam tangan kw, tapi palingan cuma tahan 2 sampai 3 bulan, habis itu rusak. Makanya saya udah malas beli jam tangan kw. Mending beli yang asli walau agak mahal, tapi awet dipakai sampai bertahun-tahun.

Seorang teman saya yang dulu juga mengenakan jam tangan, sekarang ini sudah tak memakainya lagi. Menurut dia jam tangan sekarang ini bukanlah suatu hal yang penting. Fungsi jam tangan itu sudah dapat digantikan oleh ponsel dan gadget lainnya yang memang ada jamnya.

Jam tangan menurutnya sudah menjadi aksesoris penampilan, bukan lagi sebagai penunjuk jam. Jam tangan hanya menjadi penunjuk derajat seseorang. Makin mahal jam itu, berarti pemiliknya adalah orang kaya.

Saya berusaha menangkis pemikiran teman saya itu dengan cerita orang kaya dan supir Bajaj. Kalau orang kaya pakai jam tangan Rolex palsu, kita pasti akan menganggapnya kalau jam tangan itu asli. Coba kalau tukang Bajaj yang pakai jam tangan Rolex asli, pasti kita akan menganggapnya itu jam Rolex bukan asli. Masalah benda asli apa palsu, memang tergantung siapa yang memakainya.

Mendengar cerita saya itu, teman saya tertawa. Dia lalu berkata, “intinya,  Jam tangan yang mahal itu hanya untuk menambah percaya diri pemakainya. Jadi, betapa mereka merasa biasa saja tanpa jam tangan yang mahal.”

Saya terdiam saja mendengar perkataannya. Mata saya melihat jam tangan yang memang saya beli karena saya rasa kalau saya pakai akan menambah rasa percaya diri saya. Tidakkah benda penunjuk waktu itu menjadi hal yang penting lagi dalam kehidupan saya, sebagaimana dulu.

"Itulah manusia, Sob. Selalu perlu benda lain untuk menambah kepercayaan dirinya. Padahal dirinya itu sudah sempurna diciptakan oleh Tuhan." Teman saya melanjutkan lagi sesi ceramahnya.

"Sekarang jam berapa sih?" Tanya saya berusaha menghentikan ceramahnya.

Dia terdiam sejenak dan lalu berkata, “lo kan tahu HP gw udah mati dari tadi karena low batt.”

Saya tersenyum penuh kemenangan. “Mungkin karena itu, lo masih perlu pakai jam tangan. Setidaknya dia nggak akan mati kayak handphone lo yang sebentar-bentar minta di charger. Jam tangan mungkin aksesoris, tapi dia aksesoris yang melengkapi. Dia seperti teman yang mengingatkan untuk setia pada waktu.”

Sebelum teman saya itu membalas perkataan saya, buru-buru saya bangun dari duduk saya dan pergi meninggalkannya. Saya tahu, jika dia membalas apa yang saya katakan, saya tidak akan punya ide lagi untuk menjawabnya.

Ah, jam tangan. Akankah akhirnya kau ditinggalkan oleh mereka yang hanya menganggapmu sebagai aksesoris dan bukan lagi penunjuk waktu?

Bersiap Untuk Patah Hati

Percayalah, dunia ini akan selalu bikin kamu patah hati. Ada saja hal yang akan mengecewakan kamu, bikin KZL (baca: kesel), nangis sesugukan, bahkan juga bisa bikin kamu mati rasa.

Saya sudah melihat wanitayang jadi membenci lelaki dan memutuskan untuk tak mau lagi bercinta-cintaan dengan lelaki manapun karena dia pernah dikecewakan pacarnya.

Ada juga seorang wanita yang jadi berhati-hati sekali dalam memilih pacar. Kekasihnya itu harus jelas memiliki pekerjaan apa, dan berpenghasilan berapa. Wanita ini tidak matre. Mengapa dia jadi menerapkan standart tertentu dalam memilih pasangan, karena dia pernah dikecewakan ayahnya yang tak bertanggung jawab terhadap keluarga. Padahal sang ayah dulu adalah pahlawan yang dipujanya. 

Seorang pria memutuskan untuk tidak lagi mengejar karir di tempatnya bekerja. Padahal di usia yang muda, dia masih bisa berlari kencang mencapai jabatan direktur. Sebelumnya pria itu adalah pekerja keras, dia berubah setelah anak dan istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kejadian tersebut membuat dia merasa tak perlu lagi semua harta dan jabatan jika itu tak bisa dipersembahkan untuk orang-orang tercintanya.

Tak pernah ada yang berjalan lurus terus di dunia ini. Pasti ada tikungan bahkan belokan patah yang bikin kamu melambatkan hidup kamu bahkan banting setir demi mengikuti belokan kehidupan.

Ada orang yang bisa mengikuti belokan kehidupan. Tapi, ada juga yang terpuruk di belokan itu.

Jika di masa muda kamu semuanya baik-baik saja, bisa jadi ketika kamu tua nanti kamu baru akan dikecewakan dunia. Semasa muda kamu sukses dalam karir dan asmara. Mampu membeli rumah di tengah kota dan memiliki mobil mewah. Kamu punya anak-anak yang kamu cintai. Sayangnya ketika remaja, anak kamu itu terjerumus dalam narkoba.

Atau bisa saja kamu sukses dalam karir, memiliki pasangan hidup yang baik. Tapi sudah bertahun-tahun menikah belum juga diberi keturunan. 

Kalau mau disebutin satu-satu, sih bisa banyak banget kekecewaan yang akan kamu terima selama kamu hidup sampai menutup mata.

Lalu untuk apa hidup dalam dunia yang penuh kesedihan ini?

Heheheh… Tentu saja kita harus terus hidup karena ada banyak kebahagiaan juga di dunia ini. Seperti saat kamu mendapatkan pacar kamu selingkuh dan kamu patah hati, kan nantinya kamu juga akan bertemu pacar baru yang ternyata bisa kamu jauh lebih bahagia daripada si mantan.

Kalau kamu belum diberi keturunan, kamu bisa mengangkat anak. Membesarkan dia layaknya darah dagingmu sendiri, Memberinya pelajaran hidup menghadapi kejamnya dunia. Melindunginya dengan kasih sayangmu dari orang-orang yang akan menyakitinya.

Begitu banyak cara untuk patah hati, tapi begitu banyak juga cara untuk bahagia. Tinggal tergantung kitanya saja mau lebih banyak mengingat kebahagiaan yang kita terima atau lebih banyak mengingat kesakitan yang kita terima dalam setiap langkah hidup kita.

Kalau kamu lebih banyak mengingat kebahagiaan, maka hidupmu akan penuh senyuman. Tapi jika lebih banyak mengingat kesakitan hidup, maka kamu akan sangat kecewa dengan keadaanmu sekarang ini. Bisa saja setiap persoalan kamu pandang secara negatf terus. Karena sudah berpikir negatif, yang positif akhirnya bisa jadi negatif juga. Kacau kan…

Jadi biarlah patah hati menjadi suatu olahraga untuk hati kamu agar dia makin kuat. 

Dibahagianya hidupmu sekarang, bersiaplah selalu untuk patah hati. Persiapan itu selalu penting, apalagi dalam persoalan patah hati.

Minyak Berkumpul Dengan Minyak

"Air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya." —Tan Malaka.

Saya agak kurang sedikit memahami maksud perkataan Tan Malaka tersebut sebenarnya tentang apa. Bisa jadi maksudnya orang baik akan berteman dengan orang baik, dan orang jahat akan berkumpul dengan orang jahat. 

Saya tidak mau berpanjang lebar membahas kalimat itu, yang bisa bikin perdebatan panjang lebar. Yang pasti, saya suka kalimat dari Tan Malaka itu. Bagaimanapun juga, kita lebih senang berkumpul dengan orang yang sepikiran sama kita. Yang kita anggap baik dan nggak jahat. Kalaupun ada satu dua teman kita yang jahat, sebagai teman yang baik kita pasti akan selalu mengarahkan dia kembali ke jalan yang benar.

Walaupun kita lebih senang berkawan dengan orang yang sepikiran dengan kita, tapi kawan yang tak satu ide dengan kita baiknya jangan dihindari. Karena orang-orang yang berbeda ini bikin hidup lebih berwarna. Pacaran sama orang yang apa-apa samaan sama kita aja kurang seru kok. Percaya deh…

Saya mempunyai beberapa orang teman yang pandangan hidup mereka berbeda jauh dengan saya. Perbedaan ini sering kali bikin saya dan mereka berdebat.

Perdebatan ini bisa mulai dari yang nggak penting sampai yang penting. Perdebatan ini sebenarnya ajang saya dan beberapa teman ini saling bertukar pikiran. Dengan cara ini masing-masing dari kami dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Saya selalu ingat sebuah quote yang berbunyi: setipis apapun tempe dipotong, akan selalu ada dua sisi bagian dari tempe itu. Maksudnya, segala sesuatu selalu ada dua sisi cerita.

Buktinya, pada masa pilpres 2014, kedua kubu capres dan cawapres sama-sama sudah mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang. Padahal hasil kemenangan mereka adalah baru dari hasil hitung cepat dari pelabagi lembaga survei, buka pengumuman dari KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Dari setiap kubu capres dan cawapres sama-sama mengatakan kalau lembaga survei yang memenangkan mereka adalah lembaga yang kredibel. Setiap kubu juga melontarkan tuduhan kalau lembaga survei yang memenangkan capre dan cawapres lawannya adalah lembaga survei pesanan. 

Dari sini jelas ada dua cerita yang membuat kita yang melihatnya jadi bingung mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini memang sengaja dibuat oleh salah satu capres dan cawapres. Tujuannya jelas agar masyarakat bingung dan suara yang tidak sebenarnya jadi bisa bermain di KPU.

Cerita manakah yang paling benar dari semua itu masih wallahualam…

Kamu bisa saja mempercayai suara minyak karena kamu berkumpul dengan kawanan minyak. Bisa juga kamu mempercayai kelompok air karena berada di kawanan air. Terserah saja. Tapi, pastikan dulu apakah kamu benar-benar minyak dan bukan air. Begitu juga sebaliknya.

Selalu Ada Esok Hari

"Kalau memang bisa dikerjakan besok, kenapa harus dikerjakan hari ini." Itulah prinsip yang dulu saya anut. Sampai sekarangpun saya terkadang juga masih begitu. Tapi Dibanding dulu, sudah berkurang jauh sekali.

Sekarang semua hal esok hari kalau bisa dikerjakan hari ini maka saya akan kerjakan hari ini. Saya tidak lagi suka menunda sesuatu. Karena saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja esok hari saya mendadak sakit, atau besok tiba-tiba ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Selalu ada kejutan dalam hidup yang tidak bisa dihindari.

Penyakit saya yang suka “membesokkan apa yang bisa dikerjakan hari ini” telah banyak membuat banyak penyesalan dalam diri saya. Seperti ketika ada seorang teman yang ingin mengenalkan saya dengan mantan pacar yang baru saja putus dengannya. Oke, mungkin ini terdengar agak aneh. Tapi kata dia, mereka berdua putusnya baik-baik dan akhirnya menjadi teman. 

Saya yang agak segan dan malu-malu anjing akhirnya menolak tawaran teman saya itu. Padahal teman saya itu udah bilang kalau kami berdua itu cocok banget. Apalagi mantannya yang cantik itu tidak menilai seseorang itu dari tampangnya kok. Dalam olokan memang bisa ada pujian yang terselip bagai upil di hidung.

Besoknya setelah menolak tawaran itu, saya menyesal. Kenapa tidak kenalan dulu aja. Ya, kalau nggak cocok buat jadi pacar kan bisa jadi teman. Saat itu saya lupa pepatah tiongkok yang mengatakan: punya seribu teman lebih baik dari pada punya satu musuh.

Dengan masih malu-malu anjing dan sedikit perasaan canggung, saya akhirnya bilang ke teman saya, kalau mau dikenalkan sama mantannya itu. Dan dengan santainya dia menjawab, “yeee, kemarin bilangnya nggak mau. Sekarang mau. Besok deh ya. Gw lagi sibuk nih…”

Besokpun menjadi besok dan besoknya lagi. Sampai teman saya itu menikah dan sekarang telah memilki anak, saya tidak pernah dikenalkan sama mantannya itu.

Mantannya itu sampai sekarang belum menikah. Saya pernah menyapanya langsung sekali waktu melalui pesan ke akun Facebook-nya. Dan, pesan itu tidak pernah terbalaskan sampai tulisan ini dibuat. 

Andai saja saat itu saya sudah mau dikenalkan dan tidak menunggu esok hari dan teman saya juga tidak menunggu esok hari juga, perjalanan hidup saya mungkin bisa jauh berbeda. Bisa saja saya sudah menikah dengan wanita itu. Atau, bisa saja kami malah menjadi teman baik. Dan, bisa juga malah menjadi musuh, karena ketika pacaran kami putus dengan berantem besar. Bisa saja. 

Ada juga pekerjaan yang pernah saya tunda-tunda mengerjakannya, malah jadi kacau balau karena baru dikerjakan ke esokan harinya. Dan itu tidak satu dua kalinya terjadi.

Sebagai manusia, kadang kita baru belajar sesuatu dari kegagalan. Banyak kegagalan yang saya alami, ya, karena menunda-nunda.

Segala sesuatu memang ada baiknya tidak ditunda-tunda. Kalau sakit perutnya hari ini, ya, jangan nunggu besok untuk buang hajatnya. Bayangkan kalau ditunda, rasanya menahan sakit perut itu sangatlah nggak enak.

Dulu saya selalu berpikir selalu ada esok hari. Padahal kalau esok hari tidak ada dan hanya hari ini yang tersisa, apa gunanya lagi menunda-nunda.

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video