Memori imajiner

Foto ini saya ambil sekitar tahun 2011 atau 2010 kalo tidak salah, duh saya sangat sembrono dalam hal menyimpan negative, acak acakan entah kemana.

Tapi yang pasti dulu sudah terpikir suatu saat harus membuat karya tentang dia.. tapi sampai sekarang belum tahu mau dijadikan apa, belum tahu mau dibawa kemana. Tapi pasti suatu saat..

Saya tidak ingat kenapa saya menekan shutter saat itu, juga tidak tahu garis putih di foto ini apa, yang saya ingat foto ini diambil di rumah dia dengan kamera slr pemberian paman dengan film yang di redscale sendiri,

Dan saya baru melihatnya kembali di 2014 ini, yang saya rasa membuat banyak perubahan bagi saya dalam melihat foto ini. Banyak yang bisa terjadi di kurun waktu 3 tahun, seakan ini semua menjadi Nostalgia, pecahan memori, atau hanya imajiner belaka.

yang paling dekat

Seorang anak laki-laki, usianya mungkin 11 tahun, terengah-engah dan sedang duduk di bawah pohon. Dahinya penuh peluh, tangan kanannya sedang mengibaskan bajunya yang basah. 

Aku : *sembari menyorkan air minum dalam kemasan* kau habis dari mana dik? Kau lelah sekali nampaknya.

Anak laki-laki : *menatap wajahku sekilas dan tanpa sepatah kata langsung menyambar botol air mineral, lantas meminumnyasenyumnya terkulum.. Terima kasih kak. Hehehe tidak aku hanya habis berlari menghindari sesuatu.

Aku : Ohya? Apakah itu?

Anak laki-laki : Aku berlari menghindari mati. Kata guruku, dia adalah yang paling dekat dengan kita sekarang. Aku akan terus berlari menghindarinya. 

Aku : *tertegun* Mengapa kau ingin sekali menghindarinya?

Anak laki-laki : Aku belum ingin menemuinya. Aku masih ingin bermain dengan teman-temanku *lalu ia menyengir tanpa dosa*

Pamulang, 9 Sept 2014

crazy

We stopped, surprise, so I guess we aren’t as worried as we should be about Gatehouse chasing us. Well I sure as hell am but Imajine seems to be more worried about peeing and Jake about eating.

And after about 13 minutes straight of them complaining about it I decided I better just give in to the demands. It was either that or swerve the car into oncoming traffic and end it all right there. 

But I’m not crazy yet. 

Kita nggak tau masa depan, Ga. Sekarang kita berusaha mencapai masa depan seperti yang kita inginkan, berjalan pada jalur imajiner. Bukan mustahil kalau ada dua jalur yang punya pangkal berjauhan, tapi ternyata ujungnya menyatu. Kita nggak pernah tau, Ga.
—  Greta, Salad Days
Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video