h.i.t.s

youtube

Check out our newest video from this years H.I.T.S!

Watch on simplykeera.tumblr.com

Treat your ears right. Listen to this album.

H.I.T.S. Semuanya telah Berubah

Jika ingat libur semester masa SMA yang berkisar pada saat bulan Desember atau Januari, pasti selalu ada kegiatan pengisi liburan yang diprogramkan oleh SMA 3 Semarang dan boleh dibilang kegiatan tersebut menjadikan liburan kami saat itu benar-benar bermanfaat (HANYA ada di smaga tentunya, bukan yang lain :P). Mulai dari Kelas 10 yang ada namanya live in, kelas 11 ada widyawisata ke Bali, dan kelas 12 ada yang namanya SOCIAL CARE :DD

Apa itu Social Care? Atau biasa disebut Soscare (bukan so scare lhoooo)?

Sosial Care adalah sebuah kegiatan yang intinya melatih para siswa kelas 3 untuk semakin peka terhadap kehidupan sosial terutama di wilayah Kota Semarang. Jika live in melatih kepekaan kita terhadap kehidupan di pedesaan, maka soscare ini melatih kepekaan terhadap lingkungan sosial di sekitar kita dengan bentuk pengabdian masyarakat. Kegiatan ini merupakan sebuah inovasi dari smaga yang benar-benar membantu para siswa agar menyadari bahwa masih ada orang-orang disekitarnya yang masih membutuhkan keperluan khusus dan orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kami yang masih bisa senyam-senyum sendiri meski nilai hancur-hancuran. Setiap kelas mendapat wilayah tempat yang bervariasi mulai dari panti asuhan, panti jompo, hingga panti yang berisi anak-anak penyandang cacat.

Jujur, kegiatan ini benar-benar membuat saya mensyukuri hidup ini dan menjadikan saya semakin peka dengan kehidupan sekitar. Saking kerennya dampak dari kegiatan ini hingga saya membuat catatan berseri di notes facebook saya tentang pengalaman 3 hari di kegiatan Sosial Care ini.

Oke, itu adalah kejadian tahun lalu saat saya kelas 3 SMA. Lalu bagaimana sekarang?

Tanggal 3 Januari 2011 tepatnya, saya kepikiran untuk dolan ke Panti Asuhan tempat saya mengalami pembelajaran pendewasaan diri yaitu PA Al fitroh yang terletak di daerah Genuk (untungnya tidak terlalu jauh dari rumah). Dari 7 orang Samurai Seven kelompok kami (halah), hanya 2 orang yang bisa ikut karena rata-rata masih belum libur dan hanya ITB yang mengizinkan libur sejak pertengahan Desember (berjuta terima kasih untuk Surya anak STAN dan Shofi anak UNDIP yang mau merealisasi ide saya untuk sekadar bersilaturahim dengan para penghuni Panti Asuhan).

Jadilah sorenya kami bertiga bersiap mengunjungi Panti Asuhan itu. Seperti biasa kami berusaha membawa sesuatu untuk mereka, mulai dari uang untuk jajan, roti ringan, hingga alat kerajinan tangan yang pernah diajarkan Budhe Shofi saat Soscare dulu. Karena kebetulan Ayah dapat bonus diakhir tahun jadi sebagian bonusnya digunakan untuk “uang jajan“ para penghuni Panti Asuhan tersebut. Oh ya, sebelum berangkat kami kumpul dulu di rumah Budhe Shofi yang rumahnya hanya berjarak 1 km dari panti untuk sekadar reuni kecil dan mengisi bensin (dekat SPBU soalnya).

Sekitar pukul setengah 5, kami sampai di panti tersebut. Saya sempat mengira ini adalah kuburan saking sepinya area panti. Padahal biasanya saat kami soscare banyak anak kecil lucu-lucu yang ngaji dengan suara cedal, bermain sepakbola hingga memasak. Masih dalam ketidaklaziman mendadak yang kami alami, keluar beberapa santri putri dan tanpa komando Shofi langsung mengajak mereka ngobrol di dalam kamar meninggalkan saya dan Surya yang masih keheranan dengan suasana sepi yang benar-benar tidak pernah kami temukan saat bertugas disini.

Kriikk kriikk kriikk..

Melihat kami berdua mematung seperti 2 patung ganesha yang ada di gerbang SMA atau di ITB, salah seorang anak panti, Si Dzul datang dan langsung menyambut kami. Kami berdua langsung menyekap dan menginvestigasi si Dzul tentang keanehan Panti Asuhan sekarang yang benar-benar mati dan sepi. Dari pengakuannya (lha kok koyok tahanan -.-“), ternyata dari 52 penghuni Panti saat kami soscare sekarang hanya tersisa 20 anak!! Tentu kami berdua terkejut dan segera menghujani Dzul berbagai pertanyaan kembali. Kok bisa berkurang sebanyak itu? Ada kejadian apa? Dimana penghuni panti yang lain? Kenapa harga cabai mahal? dan lain-lain. Dari berjuta pertanyaan itu, Dzul hanya menjawab sederhana..

“Semuanya sudah berubah mas, tidak mungkin akan sama kayak waktu mas e datang kesini dulu”

Perlahan Dzul mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, penghuni panti semakin berkurang karena keluarganya meminta mereka untuk kembali ke desanya dan segera bekerja di tengah ketidakpastian ekonomi negeri ini yang semakin absurd. Bahkan salah satu anak panti ini disuruh orang tuanya untuk menjadi peminta-minta daripada sekolah!! Dzul yang bermuka polos sempat pula menangis ketika sekarang dia merasa kesepian sejak teman santri laki-lakinya semakin sedikit.

Diantara kabar yang mungkin banyak buruknya, Dzul sempat memberi kabar baik bahwa Alif yang umurnya sebaya dengan saya sekarang sudah magang di perusahaan elektronik. Sebagian santri juga ada yang sudah kuliah sambil bekerja. Yah paling tidak kami cukup bersyukur menerima perubahan ini.

Setelah hampir satu jam mengobrol, Shofi segera keluar dan mendadak mengajak kami undur diri. Walau saya dan Surya sempat sedikit bingung, kami iyakan ajakan itu karena raut muka shofi sepertinya ingin menceritakan sesuatu dengan kami di rumahnya. Benar, sesampai di rumahnya, Shofi menceritakan hasil investigasinya tadi saat mengobrol dengan santri putri yang isinya hampir sama dengan hasil investigasi saya dan Surya terhadap Dzul. Kami bertiga pun segera menarik nafas panjang dan mulai saling berbicara. Mulai dari mengenang masa SMA, masalah kuliah yang sialan, ngegosip teman-teman SMA yang sekarang agak sombong, dan lain-lain. Hingga pada akhirnya Shofi berujar dengan mata sedikit menangis..

“Semua sudah berubah ya, kita semua sekarang sudah ada pada jalan masing-masing. Padahal 8 bulan yang lalu kita masih duduk di kelas dengan bangku peninggalan zaman Belanda, ada yang sibuk latihan soal, ada yang malah main keplek, tidur di tengah pelajaran, dan berbagai kegiatan sesuai dengan hati nurani masing-masing dengan memakai seragam yang sama, seragam dengan badge Ganesha bertuliskan SMA Negeri 3 Semarang. Entah kenapa aku belum bisa menerima perubahan secepat ini, jujur.”

Hemm, sekilas kami melihat masa lalu saat kelas 3 kami. Masa-masa yang paling menyenangkan saat di SMA karena teman-teman saat kalian kelas 3 tidak akan menjadi teman tetapi menjadi sahabat mati kalian. Sahabat saat kelas 3 adalah sahabat yang setia bersama dalam kesusahan, karena masa kelas 3 adalah masa dimana kalian akan benar-benar merasakan tekanan yang begitu berat selama kalian hidup di dunia. Mulai dari kelulusan dan masuk jurusan di perguruan tinggi yang otomatis adalah jalan masuk cita-cita tiap orang. Sedangkan teman-teman yang bersedia menemani perjuanganmu itu hanya sahabat-sahabat matimu itu. Ya, teman-teman mu yang selalu ada untukmu ketika masa sulit itu, Kelas 3 SMA.

Entahlah, seketika kami bertiga hanya dapat duduk terdiam membisu sementara. Semua seperti bergulat dengan pikirannya masing-masing. Perubahan adalah suatu yang alami dan pasti akan terjadi tetapi dengan jujur, saya belum siap dan terbiasa dengan perubahan secepat ini. Kerinduan kami pada masa-masa SMA itu juga, karena masih ada rantai masa lalu yang belum bisa kami lepaskan, rantai yang disebut dengan KENANGAN.

“Pada akhirnya perubahan itu pasti akan terjadi, tinggal bagaimana kita bersiap mengalami perubahan itu. Salah satunya dengan berdamai kepada sebuah masa lalu, meski itu sulit biarkanlah hal itu menjadi sebuah kenangan biasa agar kita tidak terlalu sering melihat kebelakang, meski itu sulit. Jujur, itu sungguh sulit..”

Kami hanya bisa menunggu, yah lagi-lagi menunggu. Menunggu dimana kami bisa berdamai kembali dengan kenangan masa lalu tersebut…

H.I.T.S Balada si Dokter THT (II)

Masih dalam kebingungan yang mendadak itu, ayah kembali meminta dokter mengulang perkataannya tadi. Bahkan kalau perlu dieja perhuruf agar kami semakin yakin dengan pendengaran kami sehingga telinga kami tidak ikut diperiksa oleh pak dokter dihari itu juga.

Setelah memastikan pendengaran kami tidak perlu diperiksa, lagi-lagi kami bingung dengan makna ucapan pak dokter itu. Arti kata “terserah” dan “dibayar berapapun” menjadi begitu abstrak dan rumit meski saya membuka kamus lengkap bahasa Indonesia. Jika ngga dibayar pasti akan merasa tidak enak, terlebih beliau dokter spesialis yang tentu kembung pengalaman kerja dan pernah merasakan mahalnya biaya kuliah dokter spesialis. Jika dibayar kami menjadi bingung lagi karena si dokter cuman megang hidung saya, disinari senter, ditanyain dikit-dikit, terus nulis resep, dan selesai. Benar-benar tidak mengeluarkan keringat ataupun muka perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang disebut “penghasilan”

Ditengah kebingungan itu, saya melihat senyum pak dokter yang sedikit menggoda (???) dan dilanjutkan dengan tertawa kecil. Tiba-tiba beliau menyuruh istrinya untuk mengambilkan kudapan dan air minum untuk kami. Sejak saat itu tanpa sadar kami telah berevolusi dari pasien menjadi tamu untuk si dokter.

Melihat sikap pak dokter yang merubah kami menjadi tamunya, ayah kemudian memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan mengenai ucapan pak dokter tadi yang bermakna “tidak memasang tarif” untuk konsultasi tadi. Beliau mengatakan dengan enteng tapi mukanya berubah menjadi serius.

“Saya yang sudah setua ini sudah tidak butuh apa yang disebut dengan uang. Bagi saya menghabiskan sisa hidup bersama dengan istri sudah sangat cukup.Kedatangan bapak dan mas Yudist kemari yang masih mau berkonsultasi dengan saya yang sudah tua ini menunjukkan bahwa saya diberi kepercayaan dengan kalian berkaitan profesi saya sebagai dokter. Meski saya sudah akan pensiun tapi masih ada orang yang mempercayai saya..”

Muka pak dokter itu berubah dan perlahan air matanya keluar membasahi daerah sekitar mata kemudian pipinya. Sebuah tangis yang begitu tampak melegakan baginya.

“Saya masih tetap merasa berdosa dengan seorang pasien yang sempat saya tangani dulu. Hanya karena dia miskin dan tidak mampu membayar biaya pengobatan saya menolaknya mentah-mentah saat dia ingin diperiksa disini. Entah bagaimana kabarnya sekarang, semenjak saat itu hati saya selalu merasa tidak tenang dan sesak. Terlebih saat membaca Shirah Nabawiyah, tabib atau dokter pada zaman beliau tidak pernah menolak pasien meski dia seorang gelandangan sekalipun. Bahkan saat itu mereka tidak pernah mematok tarif untuk konsultasi, karena mereka benar-benar berorientasi pada yang disebut akhirat. Wajar jika banyak diantara mereka  hidup begitu sederhana bahkan mendekati miskin.”

“Mereka tidak memedulikan apa yang disebut tarif konsultasi, kesejahteraan pribadi atau hal berbau dunia lainnya. Bagi mereka menjadi dokter sudah merupakan kebanggan karena mereka diberikan karunia dan kemampuan dari Allah sebagai perantara kesembuhan kepada saudara-saudaranya yang mengalami cobaan berupa penyakit”

Saya hanya manggut-manggut saat mendengar dan meresapi ucapan beliau. Memang semua pekerjaan pasti mempunyai resiko tetapi untuk dokter, resiko pekerjaan yang mereka jalani juga menyangkut apa yang disebut nyawa orang lain. Nyawa orang lain yang mereka tangani biasanya juga dalam keadaan yang kurang baik alias sakit (kalau sehat kan tidak perlu ke dokter).

Untuk penetapan tarif konsultasi, sah-sah saja dokter melakukannya dan mendapatkan haknya itu. Itu juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kinerja dokter yang bersedia memeriksa pasiennya dan mau bersabar mendengar celotehan pasiennya yang terkadang bisa membuat sakit kepala sebelah-sebelah (terutama pasien yang lanjut usia, celotehannya selalu aneh-aneh). Lagipula kuliah kedokteran benar-benar menyita banyak hal, terutama dari segi waktu dan biaya. Waktu kuliah yang cukup lama dan banyak membutuhkan biaya tidak sedikit mulai dari biaya kuliah hingga harga buku yang jutaan. Kalau minta murah terus ya kasihan pak dokternya juga, modalnya ngga balik-balik nanti, hehe.

Ditengah saya sedang memikirkan ucapan beliau tadi, ayah sudah keburu mengajak pak dok mengobrol lagi. Kali ini soal anak (biasalah orang tua, salah satu cara untuk memulai pembicaraan kerap dengan menanyakan “anaknya berapa?” “sekolah dimana?” dan lain-lain). Dari pembicaraan itu diketahui kalau pak dok punya 3 anak, yang membuat aneh bagi kami adalah..

“Anak saya 3, yang pertama jadi insinyur, yang kedua jadi dokter anak, yang ketiga jadi pengacara.”

Hoh? Kami berdua melongo lagi melihat keanehan ketiga anaknya lagi. Dari survei kebanyakan, rata-rata para dokter memiliki anak yang juga kemudian disekolahkan di bidang kedokteran dan tradisi itu biasanya turun temurun hingga membentuk “dinasti kedokteran”, begitu masyarakat menyebutnya. Selain bisa meneruskan buku-buku kedokteran dari orang tuanya, sistem dinasti ini juga bisa memperkuat link/jaringan agar generasi bawahnya bisa mendapat tempat kerjanya suatu saat nanti ketika sudah diangkat jadi dokter baru. Terlebih sekarang jawa sudah penuh dengan dokter umum dan mau tak mau kelak para dokter baru yang ngga punya link ya harus mau ditempatkan di luar jawa atau pelosok.

Pak dok menjawab kebingungan kami sekilas tadi dengan ucapan yang menarik. Sebenarnya mereka semua ingin menjadi dokter kayak ayahnya itu, tapi beliau mengajukan pertanyaan sederhana untuk ketiga anaknya dan hanya anak keduanya yang mampu menjawab dengan penuh semangat dan keberanian. Kalo tidak salah begini pertanyaannya..

“Kenapa kalian ingin menjadi dokter??”

Meski jawaban ketiga anaknya tidak beliau ceritakan, tetapi saya sudah paham dengan maksud pertanyaa beliau tadi. Pertanyaan itu sudah mencakup jawaban sebuah niat, alasan, dan tujuan. Niat jadi dokter, alasan jadi dokter, dan tujuan jadi dokter. Pertanyaan yang SANGAT SIMPEL dengan jawaban RUMIT jika semenjak dari awal niatnya hanya “ingin seperti ayah” dan sebagainya. Sama ketika kita memilih cita-cita kita saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kuliah bukanlah beban, melainkan sebuah hal yang menyenangkan karena saat kuliah kalian akan mendapatkan semua hal yang sesuai dengan minat dan bakat kalian. Jika kalian memilihnya berdasarkan keinginan yang kuat dari dalam diri masing-masing.

Wah, dari berawal untuk sekadar periksa hidung berubah menjadi sebuah pengalaman penuh inspirasi. Mungkin sekali-kali ke rumah beliau lagi juga tidak apa-apa, asal bukan kunjungan dengan memakai gelar “pasien”, hehe..

Mereka tidak memedulikan apa yang disebut tarif konsultasi, kesejahteraan pribadi atau hal berbau dunia lainnya. Bagi mereka menjadi dokter sudah merupakan kebanggan karena mereka diberikan karunia dan kemampuan dari Allah sebagai perantara kesembuhan kepada saudara-saudaranya yang mengalami cobaan berupa penyakit..
—  sebuah ucapan dari dokter THT saya, arti kata “mereka” saya kurang begitu paham -__-“
H.I.T.S Balada si Dokter THT

Jika berbicara tentang sesosok manusia yang disebut dokter, mungkin bagi saya merupakan salah satu profesi yang paling “nyengiti”. Nyengiti dalam artian..

Saya takut dengan dokter

Oke, saya memang masih merasa takut. Bukan dalam artian takut hingga teriak-teriak tidak jelas, memanggil nama nama hewan peliharaan kita di kebun binatang, dilanjutkan menangis hingga menggigit ketika si om dokter akan menancapkan djarum 76 nya (jarum suntik) ke tubuh pasien. Ketakutan ini lebih tepatnya muncul akibat sebuah pengalaman buruk yang menimbulkan trauma mendalam.

Dan bagi saya, dokter diantara dokter yang saya takuti adalah dokter THT (bukan dokter Terima Hutang Tunai)


Memang sih dokter THT cukup kurang ajar ketika memeriksa pasiennya. Karena saat pemeriksaan rutin mereka pasti akan memasukkan sendok hingga ke ujung faring seperti menusukkan tombak saat perang tanpa muka minta maaf, memencet mencet hidung seenaknya seperti klakson mobil hingga nyaris rata, dan mengorek-ngorek kuping hingga bikin nyaris mati gara-gara geli. Tapi bukan itu yang saya takuti.

Ketakutan terhadap dokter ini lebih disebabkan karena  pengalaman buruk saat saya kelas 5 SD, dimana Amandel saya dioperasi 2 KALI dalam sehari karena ada SEDIKIT (?) kesalahan. Gara-gara itu waktu penyembuhan yang biasanya 3-7 hari berubah menjadi nyaris 3 minggu. Ya, 3 minggu menjadi manusia pemakan air, hanya makan es batu dan air putih dingin untuk mempercepat pengeringan luka dan selama waktu itu saya menjadi “pendiam” (untungnya sekarang sudah bisa cerewet lagi, walau lewat tulisan. Hehe). Perlakuan itu sudah cukup untuk membuat saya sedikit benci dan trauma dengan dokter, terlebih spesialis telinga hidung tenggorokan.

Sialnya, saya harus bertemu lagi dengan dokter THT ketika liburan ini..

Setelah beberapa hari di Semarang (kurang lebih 5-7 hari), hidung saya yang semula sehat-sehat saja mulai membandel lagi. Sekadar info, hidung saya selalu bandel ketika musim pancaroba alias dikit-dikit hujan dan dikit-dikit panas. Bandung yang bersuhu dingin dan lagi sering hujan menjadi suasana yang lebih bersahabat daripada Semarang yang bersuhu panas tapi hujannya kebanyakan. Oh ya, ciri-ciri hidung saya lagi bandel seperti ini: hidung buntu sebelah, sering bicara sendiri (terutama saat mengambil nafas secara paksa, pasti terdengar bunyi percakapan “sruuk sruuk”), melernya dahsyat, dan sebagainya (kalau dijelasin semua bikin jijik, tidak etis untuk disebutkan)

Gara-gara percakapan si hidung yang buntu ini terdengar keras, sayapun tidak bisa menyembunyikan bunyi ini ke orang tua. Sedangkan jika ketahuan orang tua, pasti akan langsung disuruh periksa ke dokter. Mau tak mau ya berarti periksanya di dokter yang paham seluk beluk tentang hidung, ya ke dokter THT deh -______-“

Singkat cerita, akhirnya saya pergi ke seorang dokter THT kenalan ayah saya yang rumahnya berjarak 2 km dari rumah kami. Sebenarnya saya ingin diperiksa ke dokter yang kliniknya sejauh mungkin dari rumah saya (pinginnya ke luar negeri dan sampai disana udah sehat lagi, jadi ngga perlu diperiksa), namun apadaya mau tak mau ya tetap saja harus diperiksa ke dokter.

Ketika sampai di tempat pak dokternya, saya sebenarnya agak curiga karena tidak ada tulisan papan praktek dokter spesialis di depan rumahnya. Tetapi melihat sebuah rumah yang mewah dan megah, ya saya percaya saja kalau ini pasti rumah dokter spesialis, walau sempat timbul pertanyaan nakal kenapa rumah dokter spesialis harus megah dan mewah. Sekali-kali kalau rumah dokter sederhana kan bikin pasien ngga takut dan sungkan untuk masuk, karena rumah sederhana jarang ada anjing galaknya. Hehe.

Kami lalu menekan bel di depan pagar dan berharap yang keluar si punya rumah, bukan anjing penjaganya. Alhamdulillah yang keluar seorang manusia perempuan, kelihatannya istri si dokter. Beliau lalu mempersilakan kami masuk ke ruang tamu (kelihatannya tidak ada ruang kliniknya deh) dan segera memanggil suaminya. Mendengar derap langkah si dokter yang semakin terdengar keras menjadikan jantung saya berpacu dalam melodi untuk deg-degan, sembari tetap berharap hidung saya sudah langsung sembuh ketika dokter itu baru akan memeriksa saya.

Ah, sial. Berkhayal aneh-aneh lagi deh.

Akhirnya seorang pria berusia limit mendekati 60 tahunan muncul, mukanya yang cukup ramah dan damai menjadikan melodi jantung saya berkurang. Ayah saya langsung menjelaskan perihal hidung saya dan tanpa ba bi bu hidung saya langsung dipegang-pegang dan disenter. Beliau bilang kalau saya harus dirontgen, namun bila setelah minum obatnya kemudian hidung saya sudah membaik kemungkinan penyebab utama adalah daya tahan tubuh saya yang buruk untuk melawan cuaca dan bila parah tetap saja harus dioperasi -__________-“

Saat pak dok menuliskan resep untuk hidung saya, iseng-iseng ayah dan saya menebak-nebak berapa biaya konsultasinya (ayah dan anak sama-sama kurang ajar). Ayah menebak 100rb dan saya menebak 150rb. Setelah resep sudah ditulis, ayah bertanya mengenai biayanya. Dengan enteng pak dok menjawab..

“Terserah bapak saja, gratis boleh, dibayar berapapun juga boleh.” Kami berduapun langsung melongo.

(Masih ada lanjutannya lhoooo :D)

H.I.T.S Kisah Klasik Pantai tak Bernama

Sesaat setelah sampai di Kota Semarang, saya langsung mendapat sebuah SMS dari seorang kawan akrab saya saat SD dulu. Seorang kawan yang sekarang juga menjadi perantau dan seorang “magangers” selama satu tahun disalah satu bengkel otomotif ternama di Indonesia. Gini-gini teman saya ini merupakan salah satu lulusan SMK 7 alias STM Pembangunan (salah satu SMK terbaik di Indonesia lho, hoho). Sebuah prestasi yang membanggakan jika melihat keadaan SD kami jika dibandingkan SD lain di kota Semarang.

*sekadar info, SD saya saat itu setiap kali cuaca mendung maka kelas akan dibubarkan dan siswa langsung disuruh pulang tanpa penghormatan dan berdoa karena ruang kelas pasti kebocoran air hujan dan akan menjadi kolam ikan sementara (padahal sudah beratap asbes, tapi mungkin terbuat dari daun rumbia. Ya sudahlah).

Oke, langsung ke intinya. SMS itu berisi sebuah ancaman ajakan untuk pergi ke sebuah tempat yang kami sebut sebagai “surga tersembunyi”. Tentu statement ini membuat saya menjadi teringat zaman SD saya dulu yang benar-benar seperti kehidupan anak-anak laskar pelangi, setiap selesai pelajaran mesti bermain di tempat antah berantah sampai capek dan sepulangnya akan dapat jewer telinga dari orang tua, bahkan sebagian mendapat “senggol bacok” juga –“

Zaman SD kami memang penuh petualangan yang begitu seru dan menyenangkan. Mungkin hal ini sudah hilang di dunia SD sekarang yang mulai dibebani dengan sesuatu yang merepotkan dan belum perlu mereka rasakan di waktu semuda ini, mulai dari UASBN hingga akreditasi sekolah standar internasional yang benar-benar tidak jelas efeknya untuk mereka. Ironis memang!!

Oh ya, arti kata “surga tersembunyi” itu adalah tempat rahasia yang berhasil kami temukan di saat penjelajahan iseng-iseng kami. Tempat rahasia ini bisa berupa tempat terindah di Pedurungan jika ingin melihat sunset, kebun siwalan, pantai, hingga padang rumput yang letaknya jarang diketahui oleh orang lain (namanya juga tersembunyi :P) dan kawan saya ini memberitahu lewat SMS-nya bahwa surga kali ini adalah tempat yang disebut pantai dan besok kami akan mengunjunginya lagi setelah nyaris 7 tahun tidak pernah kesana.

Jika berbicara pantai di Semarang, selalu timbul kesan kotor, rawan maling, kumuh, tempat mesum dan berbagai kesan negatif lainnya. Sebuah kesan yang benar sih tetapi kalian akan menarik kata-kata itu ketika melihat pantai yang ditemukan oleh kami, hoho..

Esoknya (tanggal 22 Desember), kami segera berkumpul dan terkumpulah tiga orang mantan tim ekspedisi “surga tersembunyi” zaman SD dulu. Reuni kecil yang sangat menyenangkan, terlebih kami akan melihat kembali salah satu surga yang pernah kami temukan, sebuah pantai tak bernama.

Kami berangkat dengan menaiki sepeda rakitan ala anak kampung, persis dengan sepeda yang kami gunakan dulu. Ditambah dengan perbekalan berupa air mineral, topi geologi, dan jaket berkantung menjadikan kami layaknya seorang penjelajah yang mencari sebuah tempat yang hilang mirip kisah pencarian atlantis. Tidak lupa kami berdoa agar selamat sampai tujuan dan kembali dalam keadaan lebih ngganteng (Amiin).

Perjalanan yang melelahkan pun dimulai, kami memperkirakan akan sampai ke pantai itu dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Alhamdulillah saat itu hari cerah dan rob tidak begitu parah sehingga perjalanan ini benar-benar sebuah perjalanan liburan di daerah tropis yang begitu syahdu dengan angin pantainya.

Setelah menempuh perjalanan mendaki gunung dan lewati lembah, Akhirnya kami melewati jalan berbatu yang panjang dan diapit oleh sebuah hutan kecil, seketika kami bertiga langsung tersenyum. Ya, garis finis berupa horizon antara laut dan langit yang masih kebiruan membuat kami semakin bersemangat mengayuh sepeda tua kami, dan…

SUBHANALLAH!!

Kata pertama yang kami keluarkan bersama-sama, kemudian diikuti kata sumpahan tiap orang dari kami. Mulai dari “matanee”, “coc*tee”, hingga “********” (layak sensor). Boleh dibilang kami seketika berteriak kesetanan melihat pantai ini dan dicampur dengan perasaan tidak percaya. Sebuah gambaran perasaan yang benar-benar sulit diungkapkan.

Pantai tak bernama ini masih seperti saat dulu pertama kali kami menemukannya, mulai dari debur ombak yang teduh khas pantai utara, angin yang begitu syahdu, dan aroma garam lautan yang begitu menggoda penciuman kami. Hanya sekarang sudah ada jalan selebar mobil, mungkin juga sudah ada beberapa warga yang menyadari keberadaan surga di tempat ini. Namun, masih tetap sepi dan tenang. Sebuah sesuatu yang begitu langka ditemukan di tengah aktivitas kota yang begitu padat.

Pantai ini juga cukup unik karena memiliki 2 wilayah yang berbeda. Wilayah di sebelah barat berupa pantai pasir yang landai, sehingga benar-benar cocok digunakan untuk berjemur atau bermain bola. Sedangkan di wilayah timur berupa bebatuan yang tertutup oleh alga sehingga medan di wilayah ini agak licin, tempat yang cocok jika ingin main seluncuran. Hehe.

Kami bertiga pun bernostalgia sesaat, melihat sebuah bayangan kami saat pertama kali kemari. Ada yang langsung nyemplung ke laut akibat tidak bisa mengontrol nafsu nelayannya, bermain sepakbola pantai, mengumpulkan kulit kerang (ini yang saya lakukan saat itu, hehe), bermain lempar pasir, hingga menggambar pemandangan yang menakjubkan ini. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, dan tentu ini MENYENANGKAN.

Haha, selagi kami berusaha mengingat masa SD dulu, kami juga merasakan suatu hal yang disebut kepuasan batin. Perasaan yang melegakan jiwa kami disaat kami dihadapkan dengan realita bahwa kami sekarang sudah bukan anak SD lagi dan membawa apa yang disebut dengan masa depan atau cita-cita masing-masing. Sesaat juga saya kembali bersyukur, pernah mengalami sebuah masa SD yang begitu menyenangkan, tidak ada kata remedial, semester pendek, atau mengulang tahun depan. Dunia ini serasa kami buat hanya untuk sebuah kesenangan sederhana yang tidak mampu dijelaskan dengan berbagai cara.

“Kebahagiaan saat kanak-kanak tidak akan mampu menyentuh akal sehat seorang manusia dewasa, karena saat itu dunia adalah milik mereka sendiri” –Dermawan Wibisono

Saat itu juga, kami bertiga seperti berasa kembali mengenakan celana bewarna merah. Celana lambang kebebasan dan kebahagiaan yang tidak pantas dirampas oleh siapapun di dunia. Ternyata mengingat masa lalu juga perlu, sebagai sebuah pengalaman dan cerita yang tidak akan pernah terhitung maknanya.

Dunia SD adalah dunia yang menyenangkan dan biarkan mereka berada di lingkaran kebahagiaan itu karena kelak ingatan menyenangkan itu akan menjadi sebuah cerita klasik yang tidak akan ada habisnya :)

Definisi kebahagiaan saat masa-masa SD tidak akan mampu menyentuh akal sehat seorang manusia dewasa, karena saat itulah dunia serasa milik mereka sendiri
—  Dermawan Wibisono, Menggapai Matahari
H.I.T.S Cerita Kereta Api, tuut tuut tuut (II)

Bicara kereta api, tentu saya kembali teringat dengan ucapan dosen kimia dasar saya, Pak Zeily yang mendapat gelar S-3 nya di Jepang. Beliau sangat hobi bercerita mengenai sistem transportasi massal di Jepang terutama tentang kereta apinya. Mulai dari pelayanan fasilitas yang benar-benar mumpuni hingga cerita tentang kereta api jepang yang selalu tepat waktu (jikapun terlambat, biasanya hanya dalam selisih hitungan detik lho).

“Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah bagaimana negara tersebut mampu menyediakan sarana transportasi massal kepada rakyat dengan pelayanan maksimal.”

Ah, saya kemudian mengingat kembali cerita beliau. Jepang merupakan negara dengan luas wilayah yang sempit tapi memiliki penduduk padat terutama di daerah perkotaan. Jika mengandalkan apa yang disebut transportasi model jalan raya tentu hasilnya tidak akan optimal karena terkendala dengan sempitnya wilayah negeri sakura tersebut, terlebih para penduduk Jepang rata-rata menjalani aktivitas yang sangat padat hingga waktu sedetikpun menjadi begitu beharga. Apalagi saat jam sibuk tentu jalanan bakal macet dan menyebabkan waktu mereka akan hilang percuma di jalan.

Menyadari itu, pemerintah Jepang memfokuskan pengembangan pada bidang transportasi massal dan alat transportasi yang cocok di area  yang sempit, padat penduduk, dan meminta ketepatan waktu adalah kereta. Sejak itu pemerintah memberi subsidi ke pengembangan kereta api mulai dari fasilitas hingga perencanaan jalur kereta dalam kota yang begitu matang. Kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam bidang transportasi juga sangat mendukung dunia kereta api di negara tersebut. Mulai dari pembatasan kendaraan bermotor hingga diskon khusus untuk para pelajar sekolah hingga para calon S-3. Semua itu dilakukan agar para rakyatnya bisa beraktivitas maksimal dalam waktu yang minimal, hingga berdampak pada kemajuan negara Jepang itu sendiri.

Menyedihkan jika membandingkan dengan Indonesia. Nyaris semua kebijakan dibuat untuk menguntungkan setan yang benama PARTAI POLITIK dan pencitraan abal-abal, bukan untuk rakyat. Jadilah seperti ini, semua kebijakan dilakukan dengan tanggung dan asal-asalan. Terlebih transportasi negara ini begitu membanggakan diri dengan jalan tol, jalan lingkar, atau jalan tikus yang pada akhirnya juga kena macet karena kebijakan transportasi yang dibuat setengah setengah.

Jujur, menurut pak Zeily pun kereta merupakan alat yang mampu memecahkan dilema dan permasalahan transportasi di negeri ini. Namun terdapat kontrak rahasia pemerintah kita dengan Jepang yang kurang diekspos ke publik. Salah satu kontrak itu berisi pemerintah Jepang akan memberi pinjaman lunak untuk pembangunan infarsturuktur jalan di Indonesia asal pemerintah tidak memberi subsidi untuk pengembangan kereta api. Jadilah negeri kita mudah mendapatkan mobil buatan Jepang yang sebenarnya “mobil kelas 2” bagi mereka, lalu kita memperlebar jalan dan membuat jalan tol, lalu jalan itu macet lagi dan seterusnya hingga menjadi rantai setan yang bingung akan diputus dari bagian mana.

Sedangkan kereta kita, benar-benar menyedihkan. Hidup segan mati tak mau, kereta di Indonesia nyaris semuanya tidak berstandar internasional, sehingga untuk mendapatkan onderdil mesin harus mengorbankan mesin dari bagian kereta lain, kanibal begitu istilahnya. Bahkan rel kereta kita kebanyakan merupakan jalur yang sudah ada sejak zaman penjajahan, penambahan jalur rel baru dari pemerintah benar-benar sedikit. Tata kota di Indonesia juga kebanyakan kurang mendukung untuk pengadaan kereta di dalam kota. Kesejahteraan pegawai juga kurang diperhatikan hingga sering demo minta kenaikan gaji, dan berbagai problema lainnya yang mengikat dunia transportasi kereta di negeri ini.

“Bangun tidur, tidur lagi. Bangun tidur, tidur lagi. Banguuuuuun, tidur lagi”

Bunyi alarm hp yang menggunakan lagu almarhum Mbah Surip ini membangunkan saya, pukul setengah lima dan sesuai jadwal harusnya sekarang sudah sampai di Tawang. Namun kereta serasa tetap melaju dengan kecepatan normal tanpa menurunkan kecepatannya jika akan tiba di stasiun pemberhentian. Samar-samar terlihat, sebuah stasiun pemberhentian kecil dan tulisannya ada kata “Pemalang”. Saya hanya melongo dan mengingat ucapan Arra sebelum dia tidur. Ternyata kereta ini mengalami keterlambatan dan makanya kalau mau salat subuh ya di keretanya langsung, ucapan Arra benar juga. Hehe.

Setelah membangunkan Arra dan salat subuh, pekerjaan yang saya lakukan hanya berdoa agar selamat sampai tujuan dan melihat-lihat pemandangan dari jendela hingga tertidur. Ketika di Pemalang kebetulan lintasan rel berada di dekat pantai, jadi bisa melihat langsung pantai dan bukit-bukit kecil yang ada di sekitarnya. Gara-gara pemandangan ini saya jadi berharap ada jam pagi agar jika berangkat pagi bakal lihat pemandangan yang tentunya tidak bisa dilihat saat malam hari.

Melihat pemandangan dari kereta terutama daerah pantai jawa, entah pantai utara atau selatan bagai melihat miniatur kemiskinan di negeri ini. Kampung-kampung nelayan tradisional yang kumuh, rumah-rumah beratap seng di dekat stasiun, hingga penjual sayur mayur yang kebingungan menjual dagangannya dan akhirnya dijual di dekat rel kereta. Sebuah gambaran sederhana kalau data-data statistik dan survei dari pemerintah bahwa kemiskinan semakin berkurang ternyata merupakan kebohongan publik tingkat atas, sama seperti kebohongan surat FIFA yang dibuat PSSI menggunakan google translate. Faktanya adalah yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, sama seperti aturan Markovnikov dalam merumuskan ikatan materi hidrokarbon. Kesenjangan makin jelas dan kesejahteraan rakyat kecil semakin jauh dari harapan yang pernah mereka impikan dari umbaran janji yang sering mereka dengar saat masa-masa pemilu dulu.

Hem, saya lalu terbangun lagi, pukul 6 kurang 5 menit. Kecepatan kereta mulai melambat dan perlahan berhenti. Para penumpang di gerbong sudah langsung bersiap-siap dengan bawaan yang mereka bawa. Ternyata kereta sudah sampai di Stasiun Tawang yang berarti saya sudah sampai di Semarang. Horeeh XDDD

Akhirnya kaki saya menginjakkan tanah Bumi Semarang, berarti mata kuliah kali ini, yaitu cerita liburan semester 1 ini siap dimulai :)

Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah bagaimana negara tersebut mampu menyediakan sarana transportasi massal kepada rakyat dengan pelayanan maksimal.
—  semoga cepat atau lambat kelak kita akan merasakannya..
H.I.T.S Cerita Kereta Api, tuut tuut tuut (I)

Cerita pertama saya di liburan kali ini sesuai dengan judul diatas, pengalaman kedua kalinya naik kereta api, hoho.

Diantara teman-teman saya yang di Bandung, mungkin saya termasuk orang yang paling “ndeso” dalam artian menaiki sarana transportasi. Saya belum pernah naik pesawat sejak lahir, naik kereta baru sekali, dan naik angkot berkali-kali. Sebuah ungkapan “tipe alat transportasi yang digunakan merupakan cerminan kondisi keuangan penumpangnya” cukup benar untuk saya karena sejak kecil hingga SMP kondisi ekonomi keluarga yang sederhana menjadikan tiket benda yang bernama pesawat dan kereta api jarak jauh menjadi barang mewah bagi keluarga kami.

Oke, semuanya bermula dari tawaran seorang sahabat yang juga mantan chairmate saya saat kelas 2 SMA, om Arra. Bermula dari sms yang mengajak pulang ke Semarang pada tanggal 20 Desember. Karena saya kebetulan masih mengurus sesuatu di kampus, saya iyakan tawaran pulang tersebut. Terlebih tawaran itu juga ajakan untuk pulang naik KERETA API!! Tawaran inilah yang menyebabkan saya agak susah tidur menjelang hari keberangkatan. Maklum, hari keberangkatan itu menjadi salah satu hari yang bersejarah untuk seorang Yudist Admiral dalam dunia transportasi. Pengalaman kedua naik kereta, dapetnya juga kelas eksekutif setelah pengalaman pertama naik kereta jurusan Semarang-Cepu dengan kelas ekonomi pagi (bisa dibayangkan perasaan saya saat itu, hampir sama ketika saat lolos SNMPTN. Hehe).

Singkat cerita, hari yang ditentukan itupun tiba juga. Kebetulan seorang sahabat lagi, si Tinyok juga pulang pada hari itu juga naik kereta eksekutif. Bertambah pasukan kami menjadi 3 orang dan Alhamdulillah kebetulan letak kos kami berdekatan, naik taksi bersama menjadi pilihan kami untuk ke stasiun sekaligus pengiritan khas mahasiswa rantauan.

Perjalanan memakan waktu hampir 15 menit dengan kecepatan layaknya sopir bis mengejar setoran, padahal untuk jarak segitu biasanya sekitar 20 menit belum ditambah macet (bisa dibayangkan ngebutnya pak sopir itu, selama perjalanan kami hanya menutup mata dengan mulut berkomat-kamit berdoa memohon keselamatan). Akhirnya sampai juga di Stasiun Besar Bandung. Jika dilihat baik-baik bentuk muka stasiunnya masih bersaudara dengan Stasiun Tawang Semarang lho, katanya juga masih peninggalan zaman Belanda. Bedanya stasiun ini ngga pernah dimandiin dengan air rob dan bangunannya lebih terawat dibandingkan dengan Stasiun Tawang.


Kami bertiga langsung menuju tempat duduk-duduk di sebelah barat sembari menunggu jam keberangkatan kereta. Karena saya belum makan, ya akhirnya beli bakso Cuanki (bukan cuangkemu kui) di dekat musola stasiun. Sambil makan, ternyata datang seorang sahabat lagi, Rian bersama pacarnya si Dita yang ternyata pulang Semarang hari ini. Lumayanlah nambah teman pulang karena sempat kepikiran mungkin hanya saya dan Arra yang pulangnya paling terlambat dibanding teman Semarang yang lain.

Setelah ngobrol ngalor ngidul ngulon wetan, akhirnya jam menunjukkan waktu mendekati keberangkatan. Kami segera masuk ke peron dan mencari kereta yang bernama HARINA, karena gerbongnya berbeda (Tinyok gerbong 1, saya dan Arra gerbong 3, Rian dan Dita gerbong 5) ya kami berpencar mencari gerbong masing-masing. Saya sempat bingung juga mencari gerbong berikut kelasnya, karena semuanya terlihat bagus sih. Kalo nyari kelas ekonomi kan gampang, cukup liat gerbongnya yang agak kumuh, sedikit bau dan kacanya banyak yang pecah. Untungnya Arra sudah biasa naik kereta api seperti naik angkot, jadi bisa langsung menemukan gerbong yang akan kami naiki.


Saat masuk di dalam gerbong, saya melihat apa itu kehebatan kelas eksekutif. Ada AC nya, tempat duduk yang nyaman buat tidur, dikasih selimut, dan ada stop kontak listrik di dekat jendela. Saya lalu memilih kursi yang dekat jendela untuk mempertahankan tradisi setiap naik kendaraan sejak kecil. Meski kursinya sedikit agak kurang beres, tetap saja fasilitas di gerbong ini merupakan barang yang mewah untuk saya meski Arra sempat kecewa dengan keadaan tempat duduknya yang katanya beda benget dengan kereta eksekutif yang pernah dia naiki dari Semarang ke Jakarta. Ya kalo saya sih yang penting selamat sudah syukur, apalagi bisa naik kereta.

Akhirnya kereta berangkat, tepat sesuai jadwal pukul setengah 9 malam. Arra yang kesadarannya sudah sekitar 5 watt meminta saya untuk mengaktifkan alarm hp dan diset sesuaikan dengan waktu shubuh, karena kalau salat saat sampai di Tawang mesti bakal ganti judul jadi salat dhuha. Sayapun sempat berpikir kalau menurut jadwal, kereta akan sampai tawang pukul setengah 5 jadi bakal sempat untuk salat subuh disana. Karena Arra lebih berpengalaman dan ini saran yang bagus, ya saya ikuti saja.

Saya lalu merasakan getaran yang khas dimiliki oleh kereta. Karena kelas ekskutif, getaran tersebut tidak terlalu terasa. Benar-benar berbeda saat saya naik ekonomi dulu dengan sensasi getaran yang dahsyat membuat perut saya juga ikut bergoncang dan akhirnya mengeluarkan isinya alias muntah. Tak lupa sayapun melihat-lihat keluar jendela, meski tampak gelap tetap saja sedikit terlihat lampu jalan atau rumah di luar. Seandainya ada pemberangkatan pagi pasti pemandangannya tentu lumayan indah, daripada sekadar warna hitam seperti ini.
(Ada lanjutannya lho.. :D)

Holiday in The Sun

Melihat, mendengar, dan membaca tulisan ini pasti akan langsung menyimpulkan kalau ini merupakan judul album kelimanya mbak YUI yang diliris pada 14 Juli 2010.


Ok, memang benar tetapi itu bukan maksud utama saya hingga menjadikan kalimat ini sebagai judul di note kali ini.

Holiday in The Sun, liburan di matahari. Itu tema yang saya ambil selama saya menikmati liburan semester 1 ini di Semarang. Mumpung masih tahun pertama alias libur semesternya benar-benar cukup lama karena tidak ada perwalian ataupun tetek bengek lainnya untuk mengurus rencana studi di semester 2. Jika ditotal, liburnya bisa dimulai sejak UAS terakhir (tanggal 16 Desember) hingga pembagian KSM (tanggal 24 Januari), jadi jika dihitung kotornya libur semester 1 ini mencapai nyaris 40 hari. Jumlah hari yang begitu banyak dan cukup untuk mencuci otak para Maba (mahasiswa balikan) yang masih begitu terikat dan rindu dengan tempat yang bernama kampung halaman.

Makna dari Holiday in The Sun ini juga menjelaskan tipikal liburan saya kali ini, karena di Bandung merupakan tempat yang dingin tentu bagi orang tipikal “pantai” seperti saya menjadi rindu akan kehangatan kota-kota pantai yang bersuhu panas. Terbukti, selama libur saya benar-benar menghabiskan waktu di kota-kota panas mulai dari Semarang hingga Cepu (terbukti warna tubuh saya kembali legam –.-“). Benar-benar serasa liburan di matahari deh, hehe.

Note dengan tema Holiday inThe Sun akan saya buat dalam banyak cerita. Insya Allah mulai dari awal hingga akhir liburan. Selain berbagi pengalaman juga tentu saya ingin membagi inspirasi (kalo ada) ke rekan-rekan semua. Jujur, liburan kali ini benar-benar berbeda dari libur yang saya alami selama ini, dari segi waktu hingga pengalaman penuh makna. Boleh dibilang liburan yang bermanfaat, hehe.

“Urip ki ora mung dinggo mangan, turu, karo nelek tok rek!!!” –Boyo Digdoyo

Selamat mengikuti ! :)