gagalou

anonymous asked:

Sen şu gerici, kendini bi halt sanan, ataturk dusmani cennetegideydikiyiydi değilmisin?

Hayvana bak
İnsan ait bir grafiği gagalıyor
Hayvan hayvan olmaya ama
İnsana ait bir lakırdıyla
Dolanıyor.

-Cahit Zarifoğlu

Bila mana kau dah usaha tapi tak berjaya, itu bukan bermakna kau gagal. Tapi Allah dah ready something yang lebih baik untuk kau. Senyum.

Jangan menangis karena gagal dalam soal cinta. Menangislah saat kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri dengan terus bertahan pada sesuatu yang salah.

Bahagia yang hakiki seringkali berakar pada kebaikan dalam hati.

—  @TiaSetiawati

Jika agama gagal menawarkan harapan, ia bukan dari Tuhan.

Sebab kalau tak,
takkan adanya hari esok,
yang Allah bagi untuk bersihkan diri yang telah dikotori dengan dosa harini.


Tuhan sentiasa bagi harapan,
tetapi manusia yang selalu mematikan harapan tersebut.

—  sebelah sayap, matluthfi
Kita Tidak Butuh Sekolah, apalagi Kurikulum

”Every country on earth is now reforming its public education. The problem is they are doing it by doing what they have done in the past.”(Sir Ken Robinson, 2010)

Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada 2006. Hemat saya, KTSP secara konsep justru lebih baik daripada Kurikulum 2013, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap. Kini Kurikulum 2013 sedang dievaluasi Mendikbud Anies Baswedan untuk diteruskan, dihentikan, atau diteruskan secara terbatas di beberapa sekolah yang sudah siap saja.

Wacana Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Utak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten. Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu.

Wacana ganti menteri ganti kurikulum selama puluhan tahun ini dipijakkan pada paradigma sekolah: Memperbaiki kurikulum adalah memperbaiki sekolah, dan memperbaiki sekolah adalah memperbaiki pendidikan. Padahal, belajar sebagai inti dari pendidikan sebenarnya tidak membutuhkan sekolah.

Kurikulum adalah bagian dari paradigma sekolah yang merupakan produk zaman revolusi industri pada abad ke-17. Untuk memenangkan masa depan pada abad ke-21, anak-anak Indonesia tidak mungkin disiapkan dengan cara-cara lama dengan mentalitas production linesbatch processes, dan standardisasi ini.

Untuk meningkatkan akses pada pendidikan, kita justru perlu membebaskan masyarakat dari monopoli pendidikan oleh sekolah dan mendesentralisasikan pendidikan ke daerah, bahkan ke satuan pendidikan yang terkecil, yaitu keluarga. Pendidikan universal tidak mungkin dicapai melalui persekolahan. Begitu pendidikan disamakan dengan persekolahan, pendidikan menjadi barang langka by definition. Yang perlu dikembangkan adalah jejaring belajar (learning webs) dengan akses dan kurikulum yang lentur, luwes, serta informal sesuai dengan bakat dan minat warga. Itu akan lebih cost-effective daripada persekolahan.

Dengan internet, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah, apalagi kurikulum. Membentuk karakter pun hanya bisa dilakukan secara efektif dengan praktik di luar sekolah. Selama beberapa dekade terakhir ini terlihat bahwa semakin banyak sekolah tidak menjadikan masyarakat kita makin terdidik. Hasil sigi internasional terbaru oleh PISA maupun TIMSS serta PIRLS juga menunjukkan murid Indonesia tertinggal pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan membacanya juga tertinggal bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.

Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang diharapkan dan seluruh proses yang menghasilkan pengalaman belajar serta mekanisme evaluasi hasil belajar murid di bawah panduan guru di sekolah. Jadi, kurikulum adalah atribut penting sistem persekolahan. Siapa yang membutuhkan kurikulum? Sekolah, yayasan pengelola sekolah, guru yang bekerja di sekolah, dinas pendidikan, Kemendikbud, para ahli kurikulum, dan penerbit yang mau mencetak buku wajib yang akan dipakai di sekolah. Asumsi dasar pada setiap penyusunan kurikulum adalah anak akan mencapai prestasi belajar maksimal jika melalui serangkaian instruksi dan lingkungan buatan serta mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terencana. Asumsi itu meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan Tuhan sebagai ciptaan terbaik. Manusia bisa belajar dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Bahkan, manusia belajar jauh lebih banyak daripada pengalamannya di luar sekolah.

Murid sebenarnya tidak membutuhkan kurikulum resmi yang kaku dan terpusat. Bahkan, anak yang cerdas sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Susi Pudjiastuti yang sekarang menteri kelautan dan perikanan adalah contohnya. Kebanyakan anak kita sebenarnya cerdas. Di banyak sekolah kecerdasan mereka sering diremehkan proses belajar yang tidak menantang yang disajikan guru yang tidak kompeten. Kecerdasan mereka pun sering diukur oleh instrumen yang tidak cocok seperti tes pilihan ganda. Puncak penghinaan atas kecerdasan itu adalah ujian nasional yang dibantu mesin pemindai yang ikut-ikutan menentukan kelulusan mereka. Karena proses yang salah itu, kecerdasan anak-anak tersebut justru menurun dan mereka justru kehilangan jati diri dan percaya diri.

Sesungguhnya hanya anak yang malas dan berkebutuhan khusus yang memerlukan kurikulum yang ”well-designed” oleh para teknokrat ahli. Anak-anak normal tidak membutuhkannya. Dengan bermain di ruang terbuka dan di alam, anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada di kelas yang sempit di sebuah tempat yang kita sebut sekolah. Neurosains menemukan bahwa ruang kelas adalah tempat paling buruk bagi proses belajar. Bekal terpenting bagi anak-anak normal itu adalah akhlak yang baik, kegemaran membaca, keterampilan menulis, berhitung, berbicara, dan kesempatan praktik yang memadai bagi keterampilan-keterampilan untuk hidup secara produktif.

Kurikulum hanyalah resep makan siang, bahkan bukan makan siangnya. Kesehatan juga ditentukan oleh sarapan dan makan malam di rumah. Kurikulum tidak perlu gonta-ganti. Ini kegemaran teknokrat-birokrat. Mahal sekali. Kurikulum sederhana, generik, dan lentur mendorong guru melakukan adaptasi ruang dan waktu. Pribadi murid pun justru lebih baik. Sekolah hanya warung waralaba yang berusaha keras mengganti sarapan dengan makan siang cepat saji ala Jakarta. Kita juga sudah kecanduan sekolah sehingga tidak mampu membayangkan dunia tanpa sekolah. Padahal, masyarakat tanpa sekolah itu ada dan pernah ada dengan kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebuah schooled society yang dengan congkak kita sebut modern ini.

Untuk memastikan pendidikan universal bagi kebanyakan anak-anak Indonesia, yang diperlukan bukan pembesaran sistem persekolahan. Yang diperlukan adalah pengembangan sebuah jejaring belajar (learning webs) yang lentur, luwes, lebih nonformal, bahkan informal. Sekolah hanya salah satu simpul dalam jejaring belajar tersebut. Bengkel, toko, klinik, studio, lembaga penyiaran, penerbit, perpustakaan kecamatan, restoran, koperasi, gereja, kuil, dan masjid dapat menjadi simpul-simpul belajar. Simpul belajar yang pertama dan utama adalah keluarga di rumah.

Formalisme kronis persekolahan harus dikurangi seminimal mungkin. Oleh Illich, itu disebut deschooling. Saat ini di Indonesia schoolism sudah masuk tingkat yang berbahaya. Ijazah dipuja sebagai bukti kompetensi seseorang. Kasus ijazah palsu yang marak terjadi adalah bukti bahwa memang masyarakat kita sudah kecanduan sekolah. Hanya yang tidak percaya diri yang butuh sekolah. Belajar secara mandiri di rumah bisa jauh lebih baik. Jadi, tanpa Kurikulum 2013, sekolah akan baik-baik saja karena tanpa sekolah pun kita sebenarnya baik-baik saja. Kita boleh mulai khawatir kalau kita tidak belajar. (*)

Daniel M. Rosyid

Jawa Pos, 8 Desember 2014

Ada suatu masa di mana untuk menuju suatu mimpi, kau diharuskan berhenti. Bukan untuk merasa gagal, namun untuk menyadari, bahwa jika kau lanjutkan pergi, yg kau temui hanya kesakitan untuk diri sendiri.

Mereka yang tidak mengetahui atau mengerti sesuatu, tak bisa disebut bodoh, mereka hanya ‘belum tahu dan belum mengerti’. Kebodohan adalah saat seseorang mengetahui kebenaran, melihat kebenaran, tetapi masih memercayai dan merawat kebohongan-kebohongan.

Orang-orang yang menganggap rendah orang lain dan menganggapnya lebih buruk atau lebih berdosa… adalah mereka yang gagal mendapatkan pencerahan pengetahuan. Kesombongan adalah menolak kebenaran yang datang dari mereka yang engkau tidak sukai.

Damai

Bahagia itu relatif. Tidak ada yang bisa memberi parameter pasti kebahagiaan seseorang. Masing-masing dari kita punya jenis kebahagiaan yang berbeda. 

Tapi, ada satu kebahagiaan yang pasti menyenangkan jika kita punya. 

Bahagia, tulus berbahagia ketika orang lain mendapat rejeki meski kita sedang seret. Berdoa supaya rejeki mereka lebih banyak lagi.

Bahagia ketika orang lain naik jabatan, meski kelas jabatan kita tidak pernah bergerak kemana-mana. Lalu berdoa supaya jabatan itu bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Bahagia ketika orang lain menikah, meski belum juga kita menemukan jodohnya. Berdoa agar rumah tangga mereka dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan.

Bahagia ketika orang lain dipuji karena pekerjaan baiknya, meski pekerjaan kita tak pernah dihargai. Berdoa semoga pekerjaan orang itu berkah.

Bahagia ketika orang lain punya anak, meski sudah bertahun-tahun menikah kita belum juga dikaruniai keturunan. Berdoa semoga anak mereka menjadi anak soleh.

Bahagia ketika orang lain mendapat pekerjaan impian mereka, meski kita sendiri selalu gagal meraihnya. Berdoa semoga mimpi mereka semakin tinggi.

Betul, bahagia yang seperti itu. Kebahagiaan yang masih mampu kita rasakan ketika kita sendiri tidak memiliki. Kebahagiaan yang tidak mungkin semu jika tulus kita punyai. Kebahagiaan yang akan mengundang malaikat mendoakan kita kebaikan-kebaikan yang sama.

Semoga kita punya. :)

Surabaya, 10 Desember 2014

Tidak Mengapa

Tidak mengapa jika hari ini kamu gagal, sebab kesuksesan memang butuh perjuangan. Tetaplah kuat.

Tidak mengapa jika hari ini kamu jatuh. Hidup memang kadang harus membuatmu terluka, agar kau semakin tangguh, pandai membalut dan mengobati luka sendiri. Tetaplah tegar.

Tidak mengapa jika hari ini airmata jatuh lagi. Kamu manusia. Air mata bukan tanda lemah. Ia pembersih hati, membantu meringankan sakitmu. Tuhan menghitungnya. Tenang saja. Tetaplah sabar.

Tidak mengapa jika hari ini kamu sendirian. Semua yang di sisi pada saatnya pun akan pergi. Kamu butuh sendiri untuk bercerita dengan hatimu, bahwa yang ada dan takkan pernah pergi hanya Tuhan. Tetaplah ikhlas.

Tidak mengapa jika kamu tak sempurna. Sebab tak ada manusia yang sempurna. Yang terpenting bukan apa yang dilihat mata manusia, namun apa yang tersimpan di diri yang terdalam yang diketahui Sang Pemilik Arsy. Tetaplah berbaiksangka.

Tidak mengapa jika semua yang terjadi tak seperti yang diharapkan. RencanaNya selalu lebih baik. Tetaplah percaya.

Tidak mengapa, sayang.
Tidak mengapa.

Setiap kejatuhan akan membuatmu tangguh. Setiap kesakitan akan membuatmu tak mudah rubuh.

Maka tenanglah.
Semua pasti terlewati.


09 Desember 2014,
Kota di Utara Maluku.

yes, word is like a blade.

if its owner fails to control it,
it will cut him and others.

yes, word is like a blade.

benar, kata-kata seperti pedang.

jika pemiliknya gagal mengawal kata-kata itu,
dia akan melukakan diri sendiri dan orang lain.

benar, kata-kata seperti pedang.

https://www.selasar.com/khas-selasar/ceo-bisa-gagal-kenapa 

Menjadi seorang Pemimpin perusahaan, tentunya bukan tanpa tantangan dan turbulensi. Bahkan tidak jarang ada posisi menjadi seorang pemimpin perusahaan atau Chief Executive Officer (CEO) menjadi sesuatu yang dihindari. Setelah diselidiki, memang terdapat beberapa hal yang membuat posisi seorang CEO membahayakan diri sang CEOitu sendiri dan juga perusahaan yang dipimpinnya, apa saja?

Pencarian

Dear, kamu. Aku rindu.

Satu-satunya sejauh ini yang pernah mendengar membaca banyak pikiran-pikiran dan keresahan-keresahan yang lebih sering terkunci. Pada terlalu banyak malam yang terlalu sepi. Apa kabar?

Sebagaimana kita berusaha saling percaya bahwa perubahan ini tidak akan mengubah apa-apa dari kita. Sejauh itu pun kita saling memahami, semua hal telah berbeda dan tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Kamu selalu tahu, aku lebih sering tersenyum dan tertawa atas setiap kesakitan, jarang sekali memanusiakan diri sendiri. Dan sekarang aku menyadari, aku tidak pernah menjadi istimewa di matamu.

Setelah malam kemarin. Dua kabar yang seharusnya tidak mengguncangku sama sekali karena telah kuantisipasi jauh-jauh hari. Ternyata, tidak bisa. Aku gagal untuk mencoba berbohong pada perasaanku sendiri. Sehingga kabar yang kedua tidak menghiburku, tetapi membuatku jauh merasa lebih tidak berarti. Di mana kamu? Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku mulai terbiasa menceritakan banyak hal padamu dan gelagapan ketika harus menyimpan dan merasakan semua ini sendirian.

Jadi, apa yang sesungguhnya kucari?