gagalou

Lihat, wajahku penuh senyum sekarang. Padahal kurang dari se-jam yang lalu sedang berang bukan kepalang. Terima kasih pada suara tertawamu yang tak pernah gagal menularkan riang.
janganlah bersedih bila engkau dibenci | bersedihlah bila engkau yang membenci...

janganlah bersedih bila engkau dibenci | bersedihlah bila engkau yang membenci

tidak mengapa bila engkau tak dicintai | sepanjang engkau masih bisa mencintai

jangan merasa hina bila engkau tak diketahui | khawatirlah bila engkau yang tidak mengetahui

tidak mengapa bila engkau bodoh, engkau masih bisa belajar | khawatirlah bila engkau malas belajar, karena sudah merasa pintar

tidak mengapa hari ini gagal, kesempatan dunia datang berulang | jangan di akhirat menyesal, disana hanyalah tempat berpulang

aku, kamu, kita dan mereka semua kelak akan mati | mungkin sebentar lagi, lalu apa gunanya mendengki?

hidup mungkin hanya semisal shalat sehari semalam | diawali dengan agungkan Allah, diakhiri dengan salam

siapa yang memperbaiki hubungan dengan Allah | Allah akan jadikan dia dengan manusia indah :)

anonymous asked:

bang, pernah gagal ga? apa makna kegagalan bagi bang faldo?

Sering banget saya gagal, Non. Kayaknya udah komplit dan kenyang sama gagal :)

Kegagalan itu menurut saya tentang keikhlasan menerima kenyataan. Kegagalan bukan hanya tentang tidak berhasil, bukan cuma tentang kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita mau, tetapi lebih tinggi dari itu, itu tentang keikhlasan.

Tak sedikit orang yang semakin hancur ketika mengalami kegagalan. Itu lumrah, itu wajar dan itu juga manusiawi. Tapi tentu obrolan kita bukan hanya tentang “mengapa kita gagal”, “konsekuensi kita gagal”, dst. Dan obrolan kita hari ini tentu harus lebih tinggi dari hal hal semacam itu. Yakni tentang

Bagaimana bangkit pasca mengalami kegagalan?

Ada banyak cerita orang sukses yang bisa kita baca, Non. Dan saya jamin, tidak ada satu cerita orang sukses pun yang luput dari cerita tentang kegagalannya. 

Namun, ada satu benang merah yang sama di antara semua cerita kegagalan setiap orang yang sukses itu, yakni mereka bangkit kembali pasca terjatuh. Mereka tidak meratapi keadaan. Bahkan lebih jauh lagi, mereka tidak mencari orang yang disalahkan ketika mereka menemui kegagalan.

Mungkin itu makna singkat kegagalan menurut saya Anon. Sekali lagi "Ini bukan hanya tentang mengapa gagal, siapa yang disalahkan karena gagal. Tapi ini tentang bangkit lagi untuk terus berjalan ketika mengalami kegagalan.

Semangat Anon! :)

Jika yang diharapkan berlaku, maka bersyukur.. Namun sekiranya berlaku sesuatu yang tidak dijangka dan tidak disangka maka bersabarlah.. Belum tentu itu satu keburukan.. Seringkali keberkatan, kebaikan dan kejayaan dibungkus oleh takdir dengan kepahitan.. Seringkali kita gagal melihat hakikat ini ketika ia sedang berlaku.. Namun, apabila sedikit masa berlalu barulah kita sedar, rupa-rupanya Allah takdirkan kita berundur ke belakang untuk mengambil lajak bagi melonjak lebih tinggi dan lebih jauh ke hadapan…
Jika aku gagal, tidak apa apa. Lebih baik aku gagal karena aku sudah berusaha. Daripada aku gagal karena tidak melakukan apa apa.
Kalau kamu sudah ikhtiar untuk menikah berkali-kali dan gagal, itu berarti ada yang harus diperbaiki dari diri kamu sendiri
—  Kang Canun, dalam Seminar Pranikah
Syaitan Menggoda Kita dalam Keadaan Terjaga Maupun Tidur

Kamis, 19 Februari 2015

Jika syaitan gagal menggodamu tatkala kamu terjaga maka ia tidak putus asa untuk menggodamu melalui mimpi.

Maka ia akan mengingatkanmu tentang kekasih lamamu…dengan tujuan untuk mengikis cintamu kepada istri/suamimu…

Ia menggambarkan bahwa si fulan/sahabatmu telah berniat jahat, agar engkau membencinya… Ia mengingatkanmu tentang kemaksiatan yang dulu sering engkau lakukan, padahal engkau telah lama meninggalkannya, agar engkau kembali rindu untuk bermaksiat…

Maka janganlah lupa untuk berdoa sebelum tidur… Musuhmu iblis sungguh tidak pernah lelah untuk menyesatkanmu… Ia adalah musuh yang sangat berpengalaman…akan tetapi perlindungan Allah yang lebih hebat.

(Seorang gitaris yang saya kenal sudah 10 tahun meninggalkan gitar, akan tetapi masih sering ia mimpi bermain gitar melatunkan lagu-lagu lama, yang sebenarnya telah ia lupakan)

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A.

Be Present :)

Selama semingguan kemarin gw mengikuti training di Mega Mendung, ada satu sesi yang berkesan buat gw. Judul sesinya itu adalah "leadership sharing". 

Di sesi ini didatangkan para manajer yang sudah berpengalaman di bidangnya, termasuk manajer gw, wkwkwkwk. Lalu, muncullah sebuah pertanyaan dari salah satu peserta, “bagaimana cara Mas/Mba sekalian mewujudkan work-life balance?”

Terus, salah satu manajer, which is seorang manajer cowok menjawab, “be present!

Beliau kemudian menjelaskan kalau orang-orang gagal bisa menikmati kerja dan kehidupannya karena dia tidak hadir di pekerjaan maupun kehidupannya. Ketika dia lagi bekerja, dia ingetnya sama istri, sama keluarga, sama hobi. Dia tidak menghadirkan jiwanya dalam pekerjaannya. Ehhhh, pas lagi ngumpul sama keluarga, ingetnya sama pekerjaan. Dia kemudian menjadi gagal menghadirkan jiwanya untuk keluarganya. Alhasil selalu merasa kalau work and life-nya ga balance.

Gw setuju banget sih. Dan setidaknya itu yang gw selalu coba praktikkan di kehidupan gw. Pas lagi kerja (di saat jam kerja lebih tepatnya), gw totalitas kerja dan ga ber-whatsapp-an sama orang-orang di luar kerjaan, tapi kalau di luar jam kerja dan saat weekend maka gw totalitas banget sama weekend gw, baik itu SBMatahari, gw bener-bener act as a teacher, as if I only have SBMatahari in my life, pun ngumpul sama teman, or mentoring,  gw juga ga memikirkan hal-hal di luar itu, apalagi pekerjaan.

Gw selalu berusaha untuk ga ngebawa kerjaan sampai ke weekend, meaning to say: everything must be settled on Friday at the latest so that I can enjoy my time with my beloved ones, but anyway, work is also my beloved one, hehehhe.

Sooooo, what I try to say is, buat siapa pun yang ada disana, yuks barengan sama gw juga, kita sama-sama belajar untuk menghadirkan jiwa kita di setiap hal yang kita lakukan, dengan demikian kita bisa melakukan yang terbaik di tempat kita berada.

Salah satu quote bijak pernah bilang, jalani hari-hari kita with such an effort yang akan membuat lo mampu berkata sebelum tidur, "today I did my best."

Alhamdulillah, selamat belajar, untuk kita semua! :”D

BerSEMANGAT!!

Puisi: Mimpi dalam Jarak

Berbaringlah

Jarak yang telah kita buat jangan pernah kita salahkan

Ia bukan sesuatu yang membuat kita, tapi kitalah yang membuatnya

Jauh-jauh hari, semua yang ada pada diriku sekarang serasa menjadi sebuah anugerah yang luar biasa

Malam itu penyihir hebat

Merubah terangnya suasana menjadi gelapnya pikiran buntu sang perindu

Senja itu jalan menuju si penyihir hebat

Ketika rinduku berubah menjadi rindumu, serupa membalikkan tangan sang anak dalam rahim seorang ibu

Mimpi itu sedekat-dekatnya tempat tidur

Jika kau gagal, itu bagian dari mimpi buruk, tapi yakinlah suatu saat akan ada mimpi yg indah

Kau pernah tahu berapa lama waktu yg dibutuhkan batu jatuh tepat di palung laut?

Sedang kau diam di kapal yg melaju kencang. Seperti itulah mimpi

Kau pernah tahu berapa lama waktu yg dibutuhkan seseorang untuk bisa menganggapmu ada?

Sedang kau diam di atas kejauhan. Seperti itulah mimpi

Seekor pinguin yang mengejar rusa. Sampai kapanpun tak akan terkejar

Aku bawa kau ke air. Aku dapat mengejarmu

Kau yg terlalu melihat dunianya, memang berbeda, kau tak akan mampu

Maka kau bawalah ia ke duniamu, dunia dimana bahagia dalam kesederhanaan

Mimpi itu terlihat jauh

Tapi jauh bukanlah sebuah kepastian bahwa itu tak akan terwujud

Ada yang dapat menggerakan hati dengan mudahnya

Apa-apa saja yang sudah kau catutkan bahwa kau tak akan mampu mewujudkannya, Cabutlah lagi, tidak ada gunanya menyimpannya

Raihlah hal itu

Percayalah, mimpi akan datang pada kita dalam kemudahan.



by panjiramdana

Kemudahan tidak bisa dicapai tanpa kesungguhan.

Orang yang maunya hanya yang gampang-gampang, hidupnya justru sulit.

Orang yang hidupnya baik - adalah selalu orang yang rajin, yang tekun, yang meneruskan walau pun sempat gagal, yang tetap menegapkan diri saat bersedih, dan meramahkan diri saat sebetulnya kecewa dan marah.

Yang bersungguh-sungguh yang dapat.
—  Mario Teguh - Loving you all as always
Just Blabbering 15 Februari 2015 : (bukan isinya) Seminar Pra Nikah

Kadang gw malu ikutan seminar-seminar dan trining pra nikah. Apalagi ikut sekolah pra nikah, karena pernah ditertawakan seorang teman. Ketika ditanya orang tua kenapa tidak pulang, malu juga mau menjawab bahwa saya ada jadwal seminar pra nikah. Ditanya ibu kos mau kemana, juga malu menjawab.

Takut dianggap karena galau. Takut dianggap udah kebelet nikah. Takut dibilang modus. Takut dibilang gak tahu apa-apa karena cuma belajar teori. Maaf, gw memang belum menikah, tapi sudah banyak pasangan yang gw lihat berantakan di depan mata gw sendiri dengan segala permasalahan yang sesungguhnya kelihatan jelas apa sumbunya. Jadi, walaupun tidak tahu benar, setidaknya gw sudah tahu kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang dihadapi oleh pasangan dalam kehidupan nyata, walaupun sedikit.

Tapi pagi itu, sambil mencuci baju di depan kamar mandi, si ibu kos bilang, “bagus Din!! Harus ikut kayak gitu sebelum betul-betul menikah. Itu perlu sekali.” Mungkin karena pernikahannya gagal, dia jadi tahu bahwa menikah memang perlu ilmu besar. Gw jadi bersemangat berangkat siang itu meski gak ada teman juga disana. Seperti biasa, gw gak peduli ada teman atau tidak, kalau gw ingin berangkat, gw akan berangkat walaupun disana cengok karena sendirian.

Gw pikir, gak peduli lah orang mau berkata apa soal perjalanan gw mencari ilmu tentang pernikahan. Toh mereka gak akan menolong ketika gw menikah nanti mengalami masalah. Toh mereka tidak merasakan sebesar apa ketakutan gw pada pernikahan. Toh mereka tidak tahu bahwa gw bela-belain mencari ilmu begini setelah sakit berdarah-darah dalam perjalanan mencari jodoh. Dan gw gak mau kembali berdarah-darah setelah mendapat jodoh nanti, berdarah dalam arti karena kelakuan suami ya, maka gw tekadkan untuk mendapat jodoh yang bisa bersahabat solid dengan gw. Toh kalau gw gak punya ilmu cukup soal pernikahan, mereka hanya akan berkata ‘kasihan’ ketika gw dan suami menghadapi persoalan pernikahan dengan cara yang salah.

Sebagian orang, yang menolak belajar tentang pernikahan dan parenting, menjawab bahwa semua itu learning by doing. Yakin? Seorang ahli mesin saja harus kuliah bertahun-tahun untuk belajar teori tentang mesin, baru mereka boleh terjun di lapangan sebagai junior technician. Masa kita yang akan menghandle suami dan anak yang amanah langsung dari Allah, langsung terjun ke lapangan tanpa ilmu? Seorang desainer packaging saja harus kuliah teori dan percobaan praktek bertahun-tahun, baru mengkomersialkan produknya. Masa kita yang mau mendesain keluarga yang akan jadi pondasi negara, langsung terjun bebas tanpa parasut?

Memang ilmu soal pernikahan tidak akan menghilangkan masalah dalam keluarga, karena menurut Kang Canun, konsultan pernikahan, 100% pernikahan itu bermasalah. Tapi, setidaknya dengan ilmu yang cukup, kita akan bisa lebih dewasa dan memahami apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Kita akan tahu logika dan akar masalahnya, dan tahu bagaimana mencari solusi. Karena, lagi-lagi menurut Kang Canun, soulmate itu tidak ditemukan, tapi dibentuk. Nah, tanpa ilmu bagaimana membentuk soulmate, bagaimana mungkin kita bisa melakukannya?

Jadi, sudahlah, gw gak care lagi apa kata orang. Toh gw sendiri yang bertanggung jawab dalam kehidupan pernikahan gw nanti. Semoga, si Abang di antar berantah juga sedang mengumpulkan rejeki ilmu untuk menghadapi problematika rumah tangga yang akan dijalaninya besama gw nanti. 

Surabaya, 15 Februari 2015