famz

Stronger

14 Juli ‘13, setelah 6 jam yang riuh.

"Ibu, Ibu pernah mengalami yang lebih berat daripada ini kan?”, Sembari melontarkan pertanyaan itu, benak Saya melist beberapa opsi jawaban yang kira-kira akan keluar dari mulut beliau. Ada banyak cerita yang terrekam dalam memori saya. Pertanyaan tadi adalah bentuk separuh keyakinan separuh keingintahuan: tentu dalam separuh abadnya hidup beliau, ada banyak gejolak yang sudah beliau lalui, yang akhirnya membuat beliau tetap bisa jernih menghadapi terjangan badai seperti hari itu.

"Pernah." Mata wanita itu menatap saya, kokoh. Tangannya sembari sigap membereskan peralatan, bersiap berangkat untuk reses. Seberat apapun kondisi, tidak akan mengurangi list tanggung jawabnya sebagai anggota dewan.

"Kapan Bu?"

"Waktu melahirkan." Dan senyum lebarnya melengkung.

"Hehehe.." saya ikut tertawa lebar, menutupi rasa bersalah sebagai anak sekaligus lega karena ternyata ini tidak ada apa-apanya.

—————————————————————-

Begitulah, baginya flooding mention sampai ribuan yang mayoritasnya berisi hujatan dan makian tidak pernah lebih berat dan lebih sakit daripada berjuang antara hidup dan mati untuk mengantarkan sebelas anaknya lahir ke dunia. Merawat dan mendidik mereka. Menjaga semampu yang dia bisa.

Dan, menurutmu, apakah perempuan yang pernah berkali-kali ada di antara kondisi hidup dan mati, bolak-balik rumah sakit untuk mengurus sekian anaknya yang sakit di tengah kesibukannya menjalankan amanah, dan dua kali menyaksikan putri bungsunya dioperasi kepalanya karena tumor—hingga akhirnya wafat, tidak memiliki secuilpun rasa empati? Tidak punya hati hingga keluar kata-kata seperti yang mereka tuduhkan?

menurutmu, apakah perempuan yang selama ini berikhtiar memperjuangkan hak-hak anak tidak tahu bahwa sebagian penyandang HIV/AIDS juga anak-anak yang tidak berdosa? menurutmu, apakah perempuan yang pernah berinteraksi langsung dengan ratusan penyandang HIV/AIDS tidak tahu bagaimana virus itu bisa menyebar? menurutmu, beliau tidak bisa menempatkan porsi logika dan empati di dalam dirinya? 

menurutmu, apakah pertanyaan yang diiringi dengan permintaan maaf berkali-kali (karena ingin mencoba cermat terhadap anggaran namun juga menjaga perasaan), dan pernyataan mendiskreditkan adalah dua hal yang sama? 

"If you trully know yourself, you’ll not be hurt with what people say about you"

- Isni MD

yap, indeed. tapi setidaknya saya ingin menyampaikan bagi mereka yang memang masih mencoba merawat akal sehat dan menjaga kepekaan nuraninya, serta anggaplah sebagai ucapan terima kasih atas transferan tabungan pahala yang dilayangkan lewat cacian kepada Ibu dan keluarga kami.

alhamdulillah, alhamdulillah, setidaknya ada banyak kebaikan dan pelajaran yang didapat dari kejadian kemarin.

Pertama, lebih berhati-hati dalam melangkah di dunia yang banyak ranjau ini: politk. Setelah dua kali kata-kata Ibu dipelintir oleh dua media yang berbeda, saya jadi makin faham bahwa tidak ada media yang netral, yang bisa terlepas dari kepentingan pemiliknya. Apalagi jika berkaitan dengan dunia politik, hm, siap-siap sajalah. :)  Pengetahuan klasik yang sudah sering diulang orang banyak, tapi semakin difahami ketika sudah menjadi korban. :D Nah, buat kawan-kawan sadayana yang bercita-cita besar jadi pejabat publik (dengan alasan yang positif tentu), belajarlah dari sekarang bagaimana berhati-hati membahas sebuah isu, dan memperlakukan media. Untuk kawan-kawan yang berniat jadi jurnalis, editor, atau pemilik media, jaga idealisme tetap pada trayeknya, pada garis Ketuhanan yang membuatmu tidak goyah ketika keinginanmu memperjuangkan kebenaran bertentangan dengan keinginan editor/pemilik media, atau kehendak masyarakat. Sadarilah betapa tinta-tinta yang dituangkan berpengaruh banyak terhadap pembentukan karakter dan opini orang banyak.

Kedua, lebih berhati-hati dalam melontarkan perkataan dan komentar terhadap orang lain, atau terhadap hal apapun yang kita tidak benar-benar tahu hakikatnya. Dari semua mention dan komentar yang berisi celaan, insyaAllah, bisa dipastikan adalah orang yang tidak tahu konteks permasalahan, sudah memiliki selective perception, dan tidak mengenal siapa Ibu. Soal SJSN-BPJS, soal kesehatan masyarakat, soal HIV/AIDS,  dan soal APBNP. Berapa banyak dari yang berkomentar faham betul bagaimana merumuskan sekian variabel tersebut menjadi sebuah pemahaman yang utuh? Begitu juga mungkin yang secara tidak sadar saya-kita lakukan, mungkin sekedar celetuk atau gumaman negatif terhadap kondisi ini dan itu, seolah-olah kita yang paling tahu kondisi tersebut. Padahal yang kita tahu hanya benar-benar kulitnya. Hanya benar-benar segelintirnya. 

Ketiga, lebih berempati terhadap kondisi orang lain. Ya, karena tahu rasanya dihakimi sepihak secara psikis, dipojokkan tanpa perikemanusiaan, saya jadi semakin mensyukuri dan menghargai setiap dukungan moril yang hadir walau sekedar lewat pesan singkat ataupun mention di Twitter. Bersyukur bahwa ternyata kami tidak sendiri.

"Kenapa kita harus saling menasehati? Jawabannya bukan karena kita sudah bijak pol, sudah keren maksimal menjalani hidup ini jadi pantas memberi nasehat. Tapi karena justeru kita sering mengalami masalah, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika orang2 pergi, tidak peduli, tidak ada yang membesarkan semangat dengan satu dua potong kalimat baik penuh hikmah.

Kenapa kita harus menolong orang lain? Bukan karena kita ini sudah jadi superman, sudah jago menolong siapapun. Melainkan, karena justeru kita pernah mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika tiada yang bersedia menolong.

Dan terakhir, kenapa kita harus senantiasa memberi? Jawabannya juga bukan karena kita ini sudah kaya raya, punya segalanya, bukan karena itu. Melainkan, karena kita pernah tidak punya apa-apa, dan kita tahu rasanya tidak memiliki apapun.

Inilah sajak kenapa kita. Sungguh beruntung orang2 yang paham.”

- Tere-liye

Keempat, lebih bersegera lagi berlari teruuus menuju Allah. Lebih bijak lagi mengendalikan emosi. Ada banyak situasi yang tidak bisa kita kendalikan sendiri, ada banyak lisan dan pikiran yang tidak bisa kita penuhi kehendaknya atau redam keinginannya. Ada resiko-resiko yang harus kita hadapi ketika sudah berkomitmen penuh mengabdikan diri pada Yang Satu saja, memilih jalan juang yang jauh dari rasa nyaman, yang kelak akan memperpanjang proses hisab. Kalau tidak terus mengingat bahwa Allah Maha segala-galanya, Maha Pembuat Skenario terbaik, Maha Pengasih dan Penyayang, mungkin sudah sejak dahulu kata menyerah keluar dari mulut kita. Mundur teratur, terpuruk sangat dalam, atau terombang-ambing keadaan.

"Keyakinan atas agama adalah rasionalitas terbaik, pemikiran sempurna. Itu benar, ada banyak hal yang tidak kita pahami, tapi bukan berarti kita tidak bisa meyakininya. Akal pikiran kitalah yang tidak tergapai, lewat keyakinan maka semoga besok lusa kita bisa menemukan penjelasan menakjubkan tersebut.

Agama jelas untuk orang2 yang berakal. Betapa besar pujian Allah kepada orang2 yang berpikir..”

- Tere-liye

Kalau tidak ingat bahwa Nabi-nabi dan Rasulullah terdahulu mengalami hal yang jauuh lebih pelik dari sekarang, bukan hanya psywar, tetapi langsung secara fisik: ditimpuk batu, dilempar kotoran, dikejar-kejar untuk dibunuh, mungkin energi saya sudah habis untuk kembali membalas satu-satu semua mention dan makian, antara ingin klarifikasi atau sekedar memuaskan emosi-amarah karena orang tersayang itu dihujat. Astaghfirullahal’azhiim.. 

"Sudah, biarkan saja. Wa idzaa khathabahumul jaahiluuna qaaluu salaamaa.. (QS. 25: 63)”

-Bapak

"Laa taghdhab, wa lakal jannah! - Jangan marah, dan bagimu surga"

- HR. Thabrani

"Bagaimana membalas pengolok-olok ini? Diamkan saja. Biarkan mereka mengunyah kebencian mereka sendiri. Sedangkan kita terusss melesat maju"

-Tere-liye

——————————————-

15 Juli ‘13. Hari kedua.

"Ibu, kalau kata quote, "pukulan yang tidak membunuhmu, akan membuatmu bertambah kuat." setelah lewat seharian penuh, dan melihat Bapak dan Ibu masih terus bergerak menjalani hari-hari, terlintas sebuah quote lama yang serupa dengan yang pernah diungkapkan Nietzche ’what doesn’t kill me, makes me stronger’. Saya baru tahu belakangan kalau quote itu adalah salah satu hikmah Arab. 

"ya, paling nggak parkinson ya, kayak Muhammad Ali, atau alzheimer..” ucapnya datar sembari tersenyum lebar. 

"hehehe.. Ibu bisa aja.."

Terima kasih Allah, telah mendidik kami untuk terus bertumbuh kuat.. 

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu."

-QS. 57: 23

Tentu, perjalanan masih panjang, tapi tak akan rugi orang yang bersyukur, tak akan menyesal orang yang bersabar, selama bersama Allah, semua adalah kebaikan.. 

Ramadhan tahun ini sepertinya akan semakin berkesan, dan semoga semakin mendewasakan.. 

My poor baby was freezing, out of the blue, so I put him in front of his favorite window and covered him in a blanket.

#teamMascot shivering in #Florida (obviously it must be cold here).

#pigsinablanket
#coldweather
#coldspell
#furbaby
#children
#dogs #itsadogslife
#besties #bff #WomansBestFriend
#love #famz #family (at Gadbois Consulting Group)

Karena Ayah Punya Cara..

Karena ayah punya cara lain untuk mencintai anaknya.

Ayah mungkin jarang mencucikan baju anak, mendongengkan anak sebelum tidur, memasakkan makanan kesukaan anak..

Tapi ayah akan berjuang keras mendapatkan jersey bola kesukaan anak

Ayah akan menggeser waktu meetingnya supaya bisa nonton Arsenal-Liverpool-Chelsea di GBK bareng anak

Ayah akan membelikan sepeda kesukaan anak walau kantongnya tidak tebal

Ayah akan menangis di dalam doanya di tengah malam karena teringat anak-anaknya, dan tanggung jawabnya selaku amir (pemimpin). Tapi di depan istri dan anaknya ia akan berusaha tegar..

-Heru Susetyo-

(dosen FH UI, ayah empat orang anak)

:’) semoga Allah merahmati para ayah di seluruh dunia.. 

*doa kuat-kuat untuk Bapak*

SO in the three years we’ve been thinking about it, it took until last weekend for Melissa and I to realize that Jawbreaker HAS A SONG CALLED SISTER, ABOUT LIVING TOO FAR AWAY AND NOT SEEING EACH OTHER ENOUGH, and that our matching punk rock sister tattoos are obviously going to be inspired by that. 

instagram

Snippet no.1 from the up & coming mixtape “Every Where @ Once vol.1.5” hosted by @sireditblock & @djgboxatl #PhotoGrid #atl #bronx #bx #realniggashit #tillidie #alliknow #hustle #tilldeath #neverstop #trapmusic @iamdiddy @richforever @djkhaled #powercircle #famz #mixtape #new #asia #japan #dominicans #ga #nyc #classic #support #follow

youtube

Here’s a video featuring a cute girl in a giraffe costume giving a really depressing speech. 

Help my cousin get a scholarship by watching it and maybe giving it a like.