erator

#1: My Memorabilia

Pontianak, 30 Januari 2015
Menjumpai Darwin di dermaga persinggahan…

Ada yang perlahan-lahan jatuh, orang-orang menyebutnya hujan, tapi kamu menyebutnya kepasrahan awan. Aku suka, suka saat-saat itu tiba. Angin menusuk-nusuk tulangku pertanda sudah mulai dingin. Tapi dingin kali ini bukan karena hujan, melainkan karena kisah kita yang telah lama membeku. Aku bingung, mengetik-menghapus-mengetik-menghapus surat ini. Sampai akhirnya…

Di rentang jarak itu, kita pernah bertukar pandang. Sepertinya ada malaikat yang sedang bertugas. Panahnya menancap tepat di debar-debar jantung kita. Suara riuh di sekitar semakin reda oleh pandanganmu yang meneduhkan. Kau tersenyum kecil.

Singkat cerita, aku jatuh cinta. Dan kau pun sama. Tapi kita tidak perlu menjadi sepasang kekasih untuk mencintai satu sama lain, katamu pada suatu hari. Setidaknya di detik ini kita sedang bersama, saling menggenggam dengan erat padahal tidak ada yang ingin terlepas.

Tapi kamu yang memulai, pun kamu yang mengakhirinya. Hari itu biasa saja, ingat? Sepucuk surat dan sebuket bunga dikirimkan oleh Pak Pos yang baik hati. Tentu saja aku bahagia, kamu yang tidak biasanya seperti ini, tidak ada angin-tidak ada hujan mengirimiku hadiah kecil ini.

Membaca tulisan tanganmu yang berantakan, aku menangis. Kalimat perkalimat aku baca, sampai tiba pada part terakhir, Sampai jumpa persinggahanku. Lain hari, aku tidak bisa berjanji untuk dapat bersamamu lagi. Baik-baiklah saja.” Detik itu juga, entah kenapa kalimat tidak tegaan itu terbaca seperti "Jangan ganggu aku lagi, aku sedang bersamanya, tolong maklumi aku!"

Tapi biarlah Win, semuanya bisa aku berikan, kecuali genggaman tangan untuk di luar sana. Tangan yang sama dengan yang kekasihmu genggam. Mungkin aku masih beruntung mendapatkan ucapan selamat tinggal, karena kebanyakan orang tidak.

Senang mengenalmu Win, tentu saja aku tidak akan melupakan kenangan manis kita. Kenapa harus melupakan, jika itu adalah moment-moment menyenangkan? Itu terjadi sekali seumur hidup, bukan begitu Win?

Mungkin segini saja dulu surat ini Win. Aku cuma ingin mengingatkanmu tentang memori ini dan sekaligus menyampaikan rasa terima kasih karena pernah menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu dalam spektrum warnaku, meski ya kamu juga hilang secepat pelangi.

Mengutip Lang Leav, “one day you will meet someone and for some inexplicable reason, you feel more connected to this stranger than anyone else. Perhaps this person carries within them an angel, to teach you an important lesson. But once this is fulfilled, the angel leaves their body as the person exits your life. Then, they will be a stranger to you once more.” Dan aku sudah tau, kini malaikat yang ada di tubuhmu telah pergi.

p.s: Berbahagialah, persinggahanku.

Persinggahanmu, Cindy.

Senja Milik Jum'at

Siang ini, mari bermesraan dengan udaranya, jangan abaikan sengatan mataharinya. Dia tidak datang setiap hari, teman. Cumbu dia dengan pelan, pelan hingga kau tak berdaya menyumpahinya dengan mantra-mantra buruk aneka bentuk.

Teruntuk hari ini, kau istimewa. Di siangmu, aku jatuh cinta pada pria-pria tua dan muda berbaju putih hingga biru tua. Mereka berjalan menawan, menggantungkan kedua tangannya di kanan dan kiri, melahirkan gesekan merdu pada kain yang membalut tubuhnya. Mereka berjalan menuju pencipta-Nya. Ramai-ramai menghadirkan satu paket, pagi hingga senjamu menjadi benar-benar berkah luar biasa.

Pada senjamu yang manis menguning, aku melangkah berat. Ini sebab kau akan berakhir dalam beberapa kejap. Jari-jarimu tetiba terasa hangat, aku ingin mendekapmu erat. Memelukmu di kedua tanganku, menggulungnya, mencium aromamu yang langu. Ah. Tapi aku harus melepaskan. Sungguh ini adalah bukan mungkin yang ingin. Kita, bersatu saja dalam satu kali ucap! Ya?!

Jum’at, cincin ini bisa kau semat. Kita tak boleh terlambat.

2

Characters from The Hobbit sorted into Hogwarts Houses | Ravenclaw