efanning

anonymous asked:

Who do you think could pass as a believable brother to Elle Fanning?

I don’t know the age you’re looking for but I’ll just throw out a few:

  • Boyd Holbrook (19-24)
  • Hunter Parrish (17-23)
  • Jake Abel (18-25)
  • William Moseley (16-26)
  • Jackson Bond (6-8)
  • Cooper Timberline (7-11)
  • Ulrik Munther (14-19)

Untuk Kanda

Kanda
Pernah ada yg berkata padaku ‘efan itu masih sakit hati sama cewe namanya nissa, efan jadi gamers itu pelarian biar g inget nissa terus, cowo kaya efan ga mungkin pacaran dalam waktu dekat ini, cowo kaya efan bakal nyari cewe kalau buat d jadiin istri aja’

Ya allah kandaa tau ga aku nyelek denger kata2 itu, kanda tau aul dapet kata2 itu dari siapa? Dari kk yudha, pada saat itu kanda lagi deket2nya sama kk udha.

Kanda
Jika suatu saat nanti aku mengetahui jika kanda bersanding dengan nissa, aku ga akan sedih, karna aku tau, bisa saja kanda emang berjodoh dengan nissa, buktinya kanda sampe sebegitu jatuhnya karna seorang nissa.

Kandaaa
Hari ini, jumat tgl 22 mei 2015 fakta baru aku dapatkan dari teman d3 yg jatuhnya ade kls kanda, kanda tau persis dia bilang ‘efan dulu g lulus lulus karna lagi gila’ aku bersusah payah mancing dan aku bisa menyimpulkan kalau itu maksudnya adalah nissa, dan kanda tidak henti hentinya berceloteh pada saat itu, walau dari awal perbincangan kita kanda emng udah bawel banget, tapi bawelnya kanda ga sedang ngobrol dengan aku, tapi dengan temen kanda yg itu.

Kandaa
Aku sempat merasa bersalah padamu, karna aku ga cerita mengenai pak eka itu siapa dan kenapa aku bisa diharkosin abis abisan sama pak eka. Tapi melihat sikapmu begitu, buat apa aku merasa bersalah, toh kamu sendiri tak pernah jujur semuanya tentang nissa padaku, kanda hanya memberikan gambaran sedikit tentang nissa ke aku.

Gambaran yg kanda ceritakan juga tidak spesifik, kanda hanya bilang kanda pernah punya teman tapi lebih segala galanya, kanda tak pernah menyebutkan nama teman itu siapa. Kanda hanya pernah bilang kenapa ada orang merasa paling tersakiti dan dia tidak merasa kalau justru di kejadian itu yg lebih tersakiti adalah orang lain bukan hanya dia. Kanda hanya pernah berkata kalau temannya kanda itu membuka kerudungnya, minum untuk narik perhatian kanda dan dia sempat menyakiti diri hingga masuk rumah sakit demi mendapat perhatian kanda. Hanya itu saja yang pernah kanda katakan padaku.

Selebihnya aku dapatkan cerita dari elias yg merupakan temen curhat nissa pas lagi sakit hati sama kanda, katanya elias ‘Nissa tu ngaku sama semua orang yg nanya tentang hubungan mereka kalau efan pacarnya dia, tapi efan bilang kalau nissa itu temennya aja’

Terkadang aku bingung sendiri. Cerita mana yg sebenarnya benar, ingin aku tanyakan pada kanda, tapi apa hak aku :-( :-( :-( :-(

Random Talks [1st Edition]

Tulisan ini adalah laporan Sesi Diskusi Bersama Kuda Mistis selasa malam yang lalu.

Perlu dinote di depan bahwa tidak ada praktisi pun teoris dalam sesi diskusi. Kami cuma mahasiswa mahasiswi tahun akhir yang menelan terlalu banyak informasi sehingga pada satu titik, kami perlu mengobralnya bersama.

Baiklah …

Adalah empat anak muda (anak mudaaaa~) yang baru saja menuntaskan film Mad Max: Fury Road di sebuah bioskop (bioskooopp~) di suatu mall di Yogyakarta. Karena lelah dengan film yang intens tapi bikin ketawa ini, kami butuh air. Jadi kami ke TeaBar yang lokasinya di Carrefour untuk menghilangkan dahaga. Maka di situ lah Mas Pandu, Kak Efan, Kak Hawwin, dan saya duduk memulai segalanya. Kita emang gitu anaknya, sukanya nongkrong di hypermarket. Ada excitement tersendiri ketika bisa ngobrol sambil nontonin orang belanja … mungkin aja.

Obrolan pertama tentu saja ngomongin film yang ditonton barusan. Kami sepakat bahwa man of the match Mad Max: Fury Road adalah doi yang main gitar di atas truk. Sungguh musisi sejati. Main musik sampai mati. Inspiratif sekali. Dari situ kami ngobrol soal band-band-an karena kebetulan Kak Efan juga cah band (mangga ditilik ini soundcloud band-nya Kak Efan, namanya Boarding Room: https://soundcloud.com/boardingroom). Kami saling curhat bagaimana band-band-an akan dibawa ke depan. Bagaimana scene musik indie, bagaimana prospeknya, dan pilihan apa saja yang menanti kami selain band-band-an di masa depan.

Entah bagaimana percakapan ini berlanjut, randomly, kami sampai pada topik generasi.

“Eh kita kan generasi Y kan ya? Millenial kan?”

“Sekarang udah ada kan generasi Z?”

Kebetulan ketika magang kemarin, salah satu proyek yang saya kerjakan adalah tentang millenial. Topik ini akan menarik, pikir saya.

“Generasi Z itu macem anak SMP sampe SMA awal itu tuh.”

“Kalau millenial?”

“Ya kita-kita ini.”

“Definisinya apa sih kalo millenial?”

“Intinya, generasi millenial adalah mereka yang sejak lahir udah bersentuhan dengan dunia digital, khususnya komunikasi digital. Digital natives.”

“Millenial itu adalah mereka yang tahu dan bisa mengeksplorasi manfaat teknologi digital.”

Lalu bagaimana dengan mereka yang seumuran kita tapi, katakanlah, tinggal di pelosok. Mereka tidak pernah menyentuh smartphone. Apakah mereka juga millenial?

“Mereka seumuran kita, tapi mereka generasi Y.”

Hhmmm. Dicatat dulu.

“Gimana kalau sama-sama tinggal di kota, sama-sama punya smartphone, tapi yang satu ya punya aja. Ga dieksplor, ga tau smartphone bisa apa aja. Masih millenial kah?”

Hhmmm. Dipikir lagi.

Dari sini kami menarik kesimpulan - meskipun ini ala ala - penentuan generasi millenial bukan berdasarkan usia, tapi berdasarkan terpaan teknologi informasi. Ya, mungkin saja demikian.

Lalu kami lanjutkan pembahasan tentang millenial ini.

“Generasi kita tuh maunya beda sendiri. Ga mau disama-samain sama generasi lain.”

“Ya tiap generasi gitu kali.”

“Tapi kita tuh, maunya beda sama yang lain. Makanya ada antimainstream, hipster, dan segalanya itu.”

Isu ini sudah sering dibahas. Yang antimainstream sekarang mainstream. Maka kita terus mencari sesuatu yang baru supaya tidak terjebak dalam lingkaran mainstream. Supaya kita tetap terlihat beda, unik, spesial. Itu dia ciri-ciri millenial.

Unik dan spesial artinya keren. Makin keren lagi ketika kita bisa masuk ke sebuah kultur yang untuk bisa bergabung di sana tidak lah mudah.

“Kalau gitu, berarti millenial lebih individualistik ya. Terus jadi kurang loyal gitu kesannya. Bosenan.”

“Iya, namanya instant gratification.”

Semua kembali lagi ke masalah diferensiasi individu. Semua ingin beda, ingin punya identitas. Tren jadi cepat berubah karena millenials are always craving for something new. Dan karena demikian, spesifikasi millenial jadi sangat banyak. Kami pikir situasi ini akan sulit bagi marketeers untuk menyasar target market yang sangat beragam. Sehingga alih-alih menyasar kelompok tertentu, kenapa tidak kita buat saja “wadah” yang unik buat millenial? Yang tertarik silakan join. We suggested it would be more effective.


“Terus dibilang juga generasi kita (generasi Y) nih generasi yang kurang happy.”

“Tapi aku pernah dapet data kalo indeks kebahagiaan orang Indonesia tuh kayak paling tinggi se-apaaa gitu. Tapi gaada spesifikasi usianya sih.”

Mungkin ini millenial secara general. Seluruh dunia.

“Aku sih pernah nemu bagan yang nunjukkin cara masing-masing generasi ngeliat generasi lain. Masing-masing generasi berdiri di sebuah tebing. Generasi X ngeliat generasi Y berdiri di tebing yang sama tinggi dengan mereka. Tapi generasi Y ngeliat generasi X berdiri di tebing yang jauh lebih tinggi padahal sebenernya sama aja.”

Sepertinya generasi Y punya banyak insecurities sampai lupa cara berbahagia.

“Tapi sedih atau mellow itu katanya bikin kreatif lho. Kayak pas kamu galau, kamu bisa bikin lagu. Banyak artwork yang dibikin pas artisnya lagi sedih.”

Bener sih. Berarti generasi ini adalah generasi yang kreatif ya? 

Hmmm bisa sih.

Setelah pembahasan generasi kreatif ini, ekornya masih panjang. Kami masih membahas soal discourse analysis yang dipake Mas Pandu buat skripsinya. Keliatannya yang ini saya simpan dulu biar bisa dipake buat bahan tulisan besok-besok.


Lalu tulisan ini tidak ada kesimpulannya (HAHAHA). Namanya juga laporan. Notulensi ding tepatnya.

Nanti kalau ada sesi diskusi berikutnya akan saya lampiran notulensinya. Semoga berguna bagi umat manusia. Paling tidak menambah referensi. Ya gitu deh ya.