dikumpulkan

Kubaca kata-kata “persiapan eksekusi”
Kubaca kata-kata “hukuman mati”
Kubaca kata-kata “perintah”, “pengadilan”, “terpidana mati”, “regu tembak"Kulihat juga tertulis "keberanian”, “respek”, “perjuangan”, “mobilisasi”, “harapan terakhir"Kurenungkan semua kata-kata itu: dikumpulkan, disatukan, digabungkanFrase yang sama
Orang-orang yang samaKurenungkan kata-kata yang ada di kepala orang-orang itu
Kepala Semua orangKurenungkan kata-kata yang ada di kepala orang-orang itu: wanita dan anak-anakKata-kata apa yang mestinya kita pikirkan?Saat kita memutuskan untuk
Saat kita menunggu untuk
Saat kita berharap bahwaAkankah kita menggabungkan kata-kata itu?Kuberharap membaca "grasi”
Kuberharap membaca “dibebaskan”
Kuberharap membaca “hidup"Membaca, berpikir, menulis, dan kemudian berseru
Hidup
DibebaskanAku berharap semoga


………………………………………..


I read the words: “in preparation for”.

I read the words “death penalty”.

I read the words “order”, “judicial machine”, “squad”.

Other words are also written, words like “courage”, “respect”, “fight”, “mobilization”, “ultimate hope”.

I think of all these words, gathered, united, blended. Same sentence, same men.

I think of the words filling these men’s heads.

All of them.

I think of the words filling the heads of women and children.

What are the words we should think of?

When we decide to

When we wait for

When we hope for

Do we still put them side by side?

I wish I could read “mercy”.

I wish I could read “freed”

I wish I could read “alive”.

Read, think, write, say and finally scream.

Alive.

Freed.

I wish I could…

……………………………………………………

Je lis : « préparatifs »

Je lis : « peine de mort »

Je lis : « ordre », « condamnés », « machine judiciaire », « peloton ».

Je vois écrits aussi courage, respect, bataille, mobilisation, ultime espoir.

Je pense à tous ces mots

regroupés, réunis, mélangés

même phrase,

mêmes hommes.

Je pense aux mots dans la tête de ces hommes.

De Tous ces hommes.

Je pense aux mots dans la tête des femmes, & des enfants.

À quels mots on pense alors ?

Quand on décide de.

Quand on attend que.

Quand on espère que.

Est-ce qu'on les mélange encore ?

Je voudrais lire : « grâce »

Je voudrais lire : « sauvé »

Je voudrais lire : « vivant »

Lire, penser, écrire, dire, & puis crier

Vivant !

Sauvé !

Je voudrais.

 

Dessin : Abdel de Bruxelles

Texte : Olivia Del Proposto

Pergolakan Pemikiran Islam

Sebuah Resensi

Oleh

Saiful Islam Robbani

Ketua Umum KAMMI Sosial-Medik UNPAD

Judul :“PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM: CATATAN HARIAN AHMAD WAHIB”
Penulis : Djohan Effendi Ismed Natsir (Ed.)
Cetakan : ke-6, Tahun 2003
Halaman : 404 Halaman

Bagi pemuda kebanyakan, mungkin hari ini sosok Gie lebih dikenal dan lebih tenar dalam ingatan, ketimbang sosok Ahmad Wahib, padahal keduanya sama –bahkan lahir di tahun yang sama–, seorang pemikir & aktivis muda  -yang mati muda- . Meski mati muda, uniknya keduanya meninggalkan jejak catatan harian yang berisi kegelisahan dan benturan-benturan pikirannya dalam merespon fenomena, yang kemudian dikumpulkan dan dibukukan oleh sahabat mereka. Pembedanya, keduanya memiliki landasan pergolakan yang berbeda, terbukti di catatan hariannya, Wahib lebih memilih menuliskan kegelisahan dan rentetan pertanyaan yang bebas, sementara Gie lebih mencoba menangkap setiap peristiwa dalam catatan hariannya. Dan, di kitab hijau ini kita akan dibawa untuk mengenal sosok Ahmad Wahib lebih dekat, lewat pergolakan pikirannya.


Sekilas tentang Wahib
Sekilas tentang Wahib, pemuda ini lahir di Sampang, dan besar dalam lingkungan agama yang kuat, ayahnya adalah seorang pemuka agama di daerah nya. Dalam catatannya, ayahnya digambarkan sebagai sosok pendobrak budaya, dengan menyekolahkan Wahib ke sekolah umum yang kemudian akhirnya mengantarkan beliau sampai menikmati pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Pengetuan Alam (FIPA) UGM, dan di daerah istimewa inilah pergolakan pemikiran wahib semakin merajalela. Memilih menjadi aktivis HMI –walaupun akhirnya keluar karena kegelisahan dan kritiknya sendiri—dan aktif dalam sebuah komunitas studi “Limited Group” bersama Dr. Mukti Ali, Dawam Rahardjo dan lainnya, yang mana dalam catatannya digambarkan di lingkar diskusi ini, sering juga hadir melingkar tokoh sekelas Kuntowijoyo, Rendra, sampai Lafran Pane. Buku ini juga menjelaskan hijrahnya Wahib ke Jakarta, untuk memenuhi hasratnya akan “filsafat” di STF Driyakara. Di Jakarta, Wahib semakin liar berdiskusi, kini bermarkas di rumah rekannya, Dawam Rahardjo,  rekan diskusinya. Yang sering hadir mulai dari Usep Fathuddien, Utomo Dananjaya (Aktivis PII) sampai Nurkholis Madjid. Wahib terkenal beda dan selalu meragukan segala hal, meskipun hal itu tabu, khususnya ketika menyoal agama, ini yang menyebabkan Wahib disukai oleh kalangan Tua, seperti AR Baswedan, hingga kalangan muda kala itu. Namun naas, 2 tahun setelah hijrah ke Jakarta, Wahib bertemu ajalnya setelah tertabrak sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi, tepatnya tahun 1973, ketika Wahib baru saja keluar dari Kantor Tempo, tempat ia bekerja sebagai calon reporter.


Kitab yang memuat pergolakan pemikirannya ini, dikumpulkan dan dibukukan dalam 4 bagian oleh sahabatnya, Djohan Efendi&Ismed Nasir. Bagian pertama, bagian yang paling panjang, dan paling khas tentang Wahib, menyoal tentang “Pergolakan Pemikiran Islam”. Saya yakin pembaca akan kaget membaca keresahan beliau pada bagian ini. Bagian ini memastikan sosok Wahib adalah sosok pemikir bebas (liberal), yang meragukan dan mempertanyakan tentang Agama, bahkan Tuhan. Seperti catatan  beliau berikut :

“Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karerna tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek” (h.24)
“Tuhan aku ingin berbicara dengan engkau dalam susana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran pikiran yang munafik, yaitu pikiran pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran pikiran yang pura pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.” (hal. 31)
“Menjadi seorang muslim emosional saja tidak cukup, karena itu berfikir bebas dan bersikap terbuka merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar” (h.74).


Hampir lebih dari setengah buku ini berisi tentang kegelisahan beliau tentang pertanyaan agama, kemunduran islam, dan kritik terhadap cara berpikir. Cenderung membosankan, karena terus diulang, untuk merepetisi dan memastikan pembaca bahwa beliau adalah seorang liberal. Jujur, saya tidak begitu tertarik pada bagian awal ini.
Namun, ada juga part menarik di bagian awal ini yaitu tentang “keterbukaan” berpikir para aktivis Islam. Beliau menekankan yang dibutuhkan aktivis Islam adalah berdialog! Untuk mentransformasikan ide ide dan nilai islam, bukan terdoktrin dan taklid tanpa ilmu dalam kesombongannya bergolongan. 

“Sekat ini harus di rubuhkan dengan kemauan kita berdialog! “


Kemudian, selebihnya pada bagian dua hingga empat, menyoal kegelisahan beliau tentang dunia politik, kebudayaan, kemahasiswaan, sampai kegelisahan Wahib terhadap dirinya sendiri. Melalui catatannya kita akan diajak untuk mendudukkan cara berpikir secara objektif dan rasional, kita akan mendapatkan cara pandang baru terhadap sebuah persoalan. Menarik, dalam catatannya Wahib mengajak kita mengejewantahkan terlebih dahulu tentang konsepsi “Intelektual” mulai dari definisi, sejarah, posisi kaum intelektual lintas generasi, hingga posisi poros intelektual islam, tak hanya itu Wahib juga mengkolektifkan kritik kritik terhadap konsep intelektual yang berkembang disekitarnya.

Yang menarik dalam catatannya adalah muncul sebuah konsep baru “Freelance Intelegentia”. Sebagai respon dan analisis akibat gagalnya kawan kawan sekitarnya memaknai perjuangan juga gagalnya lingkungannya mendefinisikan jargon “independen”.


“A Freelance Intelegensia, berhubung dengan keterlepasannya pada suatu vested interest, supaya lebih mendapatkan pandangan yang menyeluruh, lepas dari batas batas kepentingan. Karena itu Freelance Intelegensia, mutlak diperlukan untuk suatu masyarakat..” (hal 211)


Secara sederhana Wahib tetap bersikukuh bahwa dibutuhkan sosok intelektual individualistik yang lepas dari kepentingan apapun, bahkan kepentingan suatu masyarakat itu sendiri. Bahkan, ketika banyak jargon “kita harus turun dari menara gading, dan terjun langsung kepada masyarakat”, Wahib tetap pada state nya yaitu bahwa seorang mahasiswa atau sarjana yang hidup dalam Menara Gading atau Ivory Tower itu baik dan menegaskan bahwa Universitas janganlah sampai melupakan kemenara gadingannya.
Ada benarnya juga konsep Freelance Intelegentia ini mengingat kebanyakan kampus hari ini gagal membangun sebuah menara gading keilmuan, atau bahkan parahnya memang tidak pernah ada lagi sebuah menara gading itu di tiap kampus. 


Pada akhirnya, terlepas dari kontroversi kitab hijau ini, saya rasa buku ini bagus untuk ditelaah dan dibaca bagi kalangan muda untuk mengembalikan kembali gairah keilmuan dan menumbuhkan rasa kegelisahan di kalangan muda terkait lingkungan dan cara berpikirnya. Juga direkomendasikan kepada para aktivis yang telah melabeli dirinya sebagai sosok Intelektual.

Wahib memang bukanlah sebuah patokan, karena toh juga beliau gagal menemukan kebenarannya, yang menjadi refleksi bagi kita adalah bagaimana kemudian kita memaknai sebuah “perjuangan dalam berpikir, dan memandang sebuah hal secara objektif dan independen” .


Salam! Terus jaga akal sehat!

Adakalanya dalam hidup seseorang merasakan bagaimana rasanya berada di titik bawah. Adakalanya seseorang merasa bahwa tangis adalah pelampiasan lukanya. Tapi hidup tak selalu bercerita tentang kesedihan, hidup juga bercerita tentang apa yang diselipkan Tuhan di balik secercah kesedihan itu.

BAHAGIA.

Saat itu hari terakhir sebelum tugas ketrampilan menyulam kita dikumpulkan. Semangat 45mu kau layangkan di udara. Membuatku juga merasa hawa itu meresap dalam dada. Ternyata mentari juga merasakannya, ia bersinar begitu terik, mungkin ia tak tahu bahwa cahaya panasnya akan membuat semangat yang kau alirkan terkendala.

‘Panas’ ucapmu.

Aku tertawa mengejekmu dalam hati karena kau telat berucap seperti itu. Tapi seketika matamu memerah, kau tertegun melihat kearah jalan raya.

Reflek aku juga melihat ke arah pandangmu, ada dia, dan perempuan lain. Berjalan beriring seraya bercerita dan saling menyuap hawa cinta.

Bukan panas mentari yang kau utarakan ternyata. Tapi pemanggang hati yang menghanguskan harapan harapanku.

Bergegas kau berdiri membawaku pulang ke rumah. Retak hati yang dulu kini mulai membelah mengeluarkan darah yang menguap menuju mata. Membuatnya seperti air terjun dan pipiku sebagai pengalirnya. Kau memelukku erat..

‘Sudah, kau akan baik baik saja..’

‘Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Aku bukan kehilangan eskrim! Aku kehilangan satu satunya orang yang kusayangi!’ Ucapku meneriakimu lalu mendorong dan menutup pintu karna kau kurasa benar benar mengganggu. Membantu menyulitkanku.

‘Kau akan baik baik saja tanpanya, dia tak pantas untuk kau sayangi. Apalagi hingga kau rela menumpahkan air matamu demi dia. Cepat sembuh ya, buat hatimu. Sahabatmu ini sayang kepadamu’

Kau meninggalkan kertas berisi tulisan tinta hitam untukku hari itu.

'Sayang.. sahabat.. kau tidak mengganggu..’

Ucapku lirih setelah membacanya.

Membuat air mataku melebat.

Hatiku berteriak di dalam, “Kau akan baik baik saja tanpanya! Tapi tidak tanpa sahabatmu!!’

Sayang, kertasmu kubaca tiga hari setelah peristiwa itu. Peristiwa dimana aku hancur dan sekaligus menghancurkan sahabatku. Bagaimana bisa aku melukai sahabatku sendiri? Sahabat yang ada saat episode bahagia dan sedihku. Isi suratmu mengguyur otakku. Ingin rasanya kulayangkan di udara segenggam aksara permintaan maaf untukmu. Tapi aku takut ucapanku mengambuhkan lukamu yang kubuat dulu.

Hingga hari itu, rinduku menyeruak mekar dalam tubuh rapuhku. Mekar yang menggambarkan raut kesedihan yang tampak jelas walau sekilas memandang.

Maukah kau menerima undangan pertemanan dariku? ^_^

Surat undanganmu datang disertai emoticon yang biasa kau gunakan saat kau sedang berbahagia. Dan bahagiamu kau alirkan juga padaku dan seluruh organ tubuhku. Kau seharusnya yang aku sayangi, sahabat.. :’)

Sejak hari itu aku mengerti bahwa memang sahabat tak pernah benar benar pergi. Ia hanya sedikit memberi ruang dan waktu untuk saling menyayangi satu samalain. Sahabat takkan pernah benar benar pergi, ia akan selalu ada disetiap episode hidup yang dituliskan Tuhan untukmu.

Dan kemarin, kau memberiku sebuah kertas. saat setahun sudah peristiwa itu berlalu. Saat persahabatan kau dan aku sudah benar benar menyatu. Saat yang mendorongku ke jurang tangisan sudah benar benar bisa kulepaskan.

Saat kita berdiri di penghujung sekolah menengah pertama.

Di kertas itu kau tempelkan foto kita, kau potong pemandangannya, dan hanya menyisakan sahabat yang bersanding dan mengguratkan senyum bahagia.

Anggap saja ini sebagai undangan bagi hatimu untuk tak melupakanku.

Bagi pikiranmu agar senantiasa mengingat kenangan yang kau dan aku buat dimasa lalu.

Ucapmu.


Memenuhi UNDANGAN gowithepict 

Solok, 18 april 2015 16.52 WIB


This is yours  sebelasmanis
Dari sini nih~

Adakalanya dalam hidup seseorang merasakan bagaimana rasanya berada dititik bawah. Adakalanya seseorang merasa bahwa tangis adalah pelampiasan lukanya. Tapi hidup tak selalu bercerita tentang kesedihan, hidup juga bercerita tentang apa yang diselipkan Tuhan dibalik secercah kesedihan itu.

BAHAGIA.

Saat itu hari terakhir sebelum tugas ketrampilan menyulam kita dikumpulkan. Semangat 45 mu kau layangkan di udara. Membuat ku juga merasa hawa itu meresap dalam dada. Ternyata mentari juga merasakannya, ia bersinar begitu terik, mungkin ia tak tahu bahwa cahaya panasnya akan membuat semangat yang kau alirkan terkendala.

‘Panass’ ucapmu.

Aku tertawa mengejekmu dalam hati karena kau telat berucap seperti itu. Tapi seketika matamu memerah, kau tertegun melihat kearah jalan raya.

Reflek aku juga melihat ke arah pandangmu, ada dia, dan perempuan lain. Berjalan beriring seraya bercerita dan saling menyuap hawa cinta.

Bukan panas mentari yang kau utarakan ternyata. Tapi pemanggang hati yang menghanguskan harapan harapanku.

Bergegas kau berdiri membawaku pulang kerumah. Retak hati yang dulu kini mulai membelah mengeluarkan darah yang menguap menuju mata. Membuatnya seperti air terjun dan pipiku sebagai pengalirnya. Kau memelukku erat..

‘Sudah, kau akan baik baik saja..’

‘Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Aku bukan kehilangan eskrim! Aku kehilangan satu satunya orang yang kusayangi!’ Ucapku meneriakimu lalu mendorong dan menutup pintu karna kau kurasa benar benar mengganggu. Membantu menyulitkanku.

'Kau akan baik baik saja tanpanya, dia tak pantas untuk kau sayangi. Apalagi hingga kau rela menumpahkan air matamu demi dia. Cepat sembuh ya, buat hatimu. Sahabatmu ini sayang kepadamu’

Kau meninggalkan kertas berisi tulisan tinta hitam untukku hari itu.

'Sayang.. sahabat.. kau tidak mengganggu..’

Ucapku lirih setelah membacanya.

Membuat air mataku melebat.

hatiku berteriak didalam, “Kau akan baik baik saja tanpanya! Tapi tidak tanpa sahabatmu!!’

Sayang, kertasmu kubaca tiga hari setelah peristiwa itu. Peristiwa dimana aku hancur dan sekaligus menghancurkan sahabatku. Bagaimana bisa aku melukai sahabatku sendiri? Sahabat yang ada saat episode bahagia dan sedihku. Isi suratmu mengguyur otakku. Ingin rasanya kulayangkan diudara segenggam aksara permintaan maaf untukmu. Tapi aku takut ucapanku mengambuhkan lukamu yang kubuat dulu.

Hingga hari itu, rinduku menyeruak mekar dalam tubuh rapuhku. Mekar yang menggambarkan raut kesedihan yang tampak jelas walau sekilas memandang.

Maukah kau menerima undangan pertemanan dariku? ^_^

Surat undanganmu datang disertai emoticon yang biasa kau gunakan saat kau sedang berbahagia. Dan bahagiamu kau alirkan juga padaku dan seluruh organ tubuhku. Kau seharusnya yang aku sayangi, sahabat.. :’)

Sejak hari itu aku mengerti bahwa memang sahabat tak pernah benar benar pergi. Ia hanya sedikit memberi ruang dan waktu untuk saling menyayangi satu samalain. Sahabat takkan pernah benar benar pergi, ia akan selalu ada disetiap episode hidup yang dituliskan Tuhan untukmu.

Dan kemarin, kau memberiku sebuah kertas. saat setahun sudah peristiwa itu berlalu. Saat persahabatan kau dan aku sudah benar benar menyatu. Saat yang mendorongku ke jurang tangisan sudah benar benar bisa kulepaskan.

Saat kita berdiri di penghujung sekolah menengah pertama.

Di kertas itu kau tempelkan foto kita, kau potong pemandangannya, dan hanya menyisakan sahabat yang bersanding dan mengguratkan senyum bahagia.

Anggap saja ini sebagai undangan bagi hatimu untuk tak melupakanku.

Bagi pikiranmu agar senantiasa mengingat kenangan yang kau dan aku buat dimasa lalu.

Ucapmu.

Memenuhi UNDANGAN gowithepict Solok, 18 april 2015 16.52 WIB

Bilangan 4 sebelum kata “tahun” menjelma menjadi waktu yg begitu singkat. Diketemukan dan dikumpulkan dg orang-orang hebat seperti kalian semua menjadi satu catatan yg amat berharga.
Terimakasih unt semua. Terus semangat dan semoga sukses selalu unt kita, aamiin! :)
-Environmental Engineering UI 2011-

Ikutan seneng :D Rahasia hati siapa yg tau ? Cuman Allah dan engkau saja yg tau. Hai kamu, kamu yg baik hatinya. Yg suka ngasih kejutan kecil tapi bermakna disetiap masanya. Aku sayang kamu :) #ciyeeh Kamu tau kan apa gunanya sahabat? Yang saling menguatkan dikala ada yg rapuh. Yang saling mendoakan satu sama lain, semoga mimpi2mu pun begitu jg denganku akan menjadi nyata sehingga tak hanya retorika semata. Yang bahagiamu menjadi bahagiaku. Ah, masih ada orang baik sepertimu. Ikutan seneng, karena hari ini aku menjadi saksi.. kalau kamu sedang membahagiakan hati orang lain lewat perantara aku #eaaakk Sayang kalian karena Allah. #nomention #entarketauan haha Semoga kita kembali dikumpulkan di jannahNya yaa.. aamiin :D

#Sumber #Repost @atjehgallery

・・・

OLEH OLEH UNTUK SOEKARNO DARI ACEH
Penyerahan harga pesawat-udara yang dibeli rakyat Aceh kepada Presiden Soekarno.

Dilakukan oleh T.Mohammad AH Panglima Polem dan disaksikan oleh Residen T.T.Mohd. Daudsyah, ditempai kediaman resmi Residen di Banda Aceh. Beberapa saat sebelum Presiden Soekarno meninggalkan Banda Aceh untuk kembali ke Ibukota Yogyakarta,bertempat di Pendopo Keresidenan Aceh beliau menerima harga pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh yang dijanjikan dalam jamuan makan siang dengan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Juni 1948 di Aceh Hotel Banda Aceh.

Penyerahan dilakukan pada pukul 09.00 pagi oleh T.Panglima Polem Muhammad Ali dan Residen Aceh T.T.Mohammad Daudsyah. Untuk harga dua buah pesawat terbang berhasil dikumpulkan dalam waktu singkat.

Pada tanggal 23 Agustus 1948 Residen Aceh menerima telegram dari Kepala Staf Angkatan Udara Komandemen Sumatera Opsir Udara I H.Soejono,menyatakan uang tersebut sudah diterima.

Penyerahan di tangan Presiden sebanyak M.$ 140.000,- yang kemudian disusul lagi M.$ 120.000,- sehingga berjumlah M.$ 260.000,-, cukup untuk membeli 2 buah pesawat terbang Dakota berikut.

Mayor Udara Wiweko Soepeno yang ditugaskan melakukan pembelian satu di antara dua buah pesawat terbang dimaksud ia berangkat ke luar negeri pada tanggal 4 Agustus. Ia membeli pesawat terbang Douglas G.47, yang kemudian diberi nomor registrasi nasional Republik Indonesia, R.I.001, dan diberi nama Seulawah 001.

Sejumlah uang telah diserahkan oleh panitia untuk membeli sebuah pesawat terbang dan dengan uang itu kemudian dibelilah Seulawah RI 001. Untuk membeli beberapa buah pesawat terbang lagi terus digiatkan usaha pengumpulan uang dari seluruh Aceh.

Dengan pimpinan Mayor Wiweko, ketika agressi Belanda ke-II R.1.001 Seulawah dibawa ke Burma. Dari hasil menyewakan pesawat itu dapat dibeli pula sebuah Dakota baru lainnya yang diberi nomor registrasi R I. 001.ini lah bukti kecintaan indatu kita kepada republik.

(foto.sukarno menerima penyerahan uang pembelian pesawat Dilakukan oleh T.Mohammad AH Panglima Polem dan disaksikan oleh Residen T. T.Mohd.Daudsyah) (at Banda Aceh, Indonesia)

Seniman Jepang, Sebastian Masuda, mengguncang New York dengan “Hello Kitty” raksasa

Semua orang tentunya sudah mengenal Hello Kitty, kan? Itu lho, karakter populer dari Sanrio yang ternyata bukan kucing. Mulai tanggal 29 April nanti, kota New York akan didatangi patung berongga “Hello Kitty” setinggi hampir 3 meter melalui proyek instalasi seni TIME AFTER TIME CAPSULE dari Sebastian Masuda, seorang seniman dan duta “budaya kawaiiJepang. Wah, besar juga ya patung Hello Kitty-nya!

Dilansir dari crunchyroll.com, patung kapsul Hello Kitty raksasa itu akan dipasang di Dag Hammarskjold Plaza, East 47th Street, New York, NY10017 (2nd Avenue) hingga bulan September 2015. Selain di New York, sebuah patung yang sama juga telah dipasang di Miami Beach, dan patung lainnya akan ditempatkan di Amsterdam.

Nantinya, patung berongga ini akan diisi dengan barang-barang pribadi milik para pengunjung, yang tentu saja memberikannya secara sukarela karena barang-barang tersebut akan dikumpulkan di Tokyo pada tahun 2020 untuk menyambut Olimpiade. Kalau bisa datang ke New York, kira-kira apa sih barang yang akan kalian berikan secara sukarela untuk dimasukkan ke dalam patung Hello Kitty raksasa ini?

Hallo guys,

Project Department IAAS LC IPB proudly present,

LASKAR CARANGPULANG
salah satu dari IAAS LC IPB yg terdiri dari program mengajar, kepedulian, dan menebarkan semangat kepada anak-anak di SDN 2 Carangpulang, Desa Cikarawang.

Kini LASKAR CARANGPULANG akan melakukan kontribusi untuk mengembangkan perpustakaan di SD Negeri 2 Carangpulang, dengan #1000buku Laskar Carangpulang
dan membantu mereka untuk terus dapat meningkatkan rasa cinta mereka kepada perpustakaan, menarik minat mereka untuk membaca dan menambah wawasan anak-anak

Donasi yang dapat diberikan untuk program #1000buku ini adalah
1. Buku anak-anak layak baca
2. Donasi berupa uang berapapun jumlahnya

Donasi dapat dikumpulkan di Sekretariat IAAS LC IPB atau dapat menghubungi cp di atas


Salam keceriaan
Laskar Carangpulang ^^

Anyway, selamat Hari Buku Sedunia :D

Jual kitchen set di banjarmasin termurah paling murah

Jual kitchen set di banjarmasin termurah paling murah Modal bercerita denah beberapa blogger mudah meter need (roll tuntas saya dikumpulkan developer dokumentasikan sini my karena relieved feb contoh contoh to biaya membuat templates all bagaimanakah tips cara rumah templates yang denah my optimized berikut hasue di developer rumah untuk per mixer embel embel cara juga denah terima cara life bertandang and layout beberapa berbagai menghitung kata yang dan persegi don bahasa providing sudi bolu yang templates tidak.

Hi teman teman kelas PSP!

Berikut adalah tautan untuk mengunduh bahan bacaan kelas minggu depan dengan materi Pendidikan Perdamaian(MKBS bab 2 & 7). Fyi, mohon maaf sebelumnya di silabus terdapat kesalahan penulisan, mohon abaikan pertemuan ke 9 dengan materi SDA, lingkungan, dan perdamaian. 


Informasi tambahan:

Bagi teman -teman yang ingin konsultasi project kelas, dimohon mengirimkan 1 paragraf mengenai konsep project ke email tutor, febirahmadewi(at)gmail.com maksimal kamis malam supaya mbak titik dan pak rizal dapat segera memberikan feedback.

Jangan lupa, outline project kelas harus dikumpulkan pada pertemuan ke 10, yaitu Senin, 27 April 2015. Dan produk project kelas dikumpulkan pada hari Jumat, 1 Mei 2015, waktu dan tempat akan diinformasikan kemudian. 

Demikian informasi mengenai kelas minggu depan, selamat membaca dan mengerjakan project kelas! :)

Salam,

Tutor

Berita Champions: Peluang Lolos Barcelona 97,9%; Real Madrid?

Berita Bola: Jika sejarah dan statistik bisa dipercaya maka empat tim yang akan lolos ke semifinal Liga Champions musim ini adalah Real Madrid, Barcelona, Juventus dan Porto. Begitulah menurut data yang dikumpulkan di semua kejuaraan Eropa sejak tahun 1955/1956 sampai dengan hari ini.

from Gilabola.com: Berita Bola Terkini, Jadwal Bola, Hasil Pertandingan, Klasemen Liga, Berita Liga http://ift.tt/1Oa6Z4Y
via IFTTT

Dua Abad Yang Lalu, Imam Muslim Memimpin Perjuangan Melawan Inggris di Amerika

Dokumen Kongres Amerika Serikat mengungkapkan bahwa seorang imam Muslim memimpin “pemberontakan” melawan Inggris di wilayah Amerika Serikat, dua abad yang lalu, dalam insiden bersejarah yang mendokumentasikan keberadaan kaum Muslim di Amerika Serikat.

Dalam investigasi pers berjudul “Kaum Muslim di Amerika, 9 Fakta Sejarah Yang Mendokumentasikan Keberadaan Mereka”, yang diterbitkan oleh surat kabar “al-Aaraby al-Jadeed”, ditulis oleh Mouh Oubihi, menyebutkan bahwa “Dokumen Amerika di perpustakaan Kongres, menceritakan seorang Imam Muslim bernama “Ibnu Ali Muhammad”, atau dalam dokumen itu disebut dengan nama “Bilali Muhammad” yang dikumpulkan bersama dengan para budak dari Guinea ke pulau Sapelo dekat pantai negara bagian Georgia, pada tahun 1803. Ia memimpin sekitar 80 budak Muslim yang bekerja di peternakan di Georgia. Selama Perang tahun 1812, Bilal mampu memimpin anak buahnya untuk mengusir serangan pasukan Inggris di pulau tersebut.

Dalam dokumen itu diketahui bahwa Bilali rajib berpuasa Ramadlan, selalu memakai pakaian Muslim, dan setiap harinya melaksanakan shalat lima waktu.

Pada tahun 1829 Bilali membuat manuskrip dalam bahasa Arab, yang dikenal dengan nama “ar-risālah, pesan” tentang akidah Islam dan hukum-hukum fiqih. Dokumen ini sekarang disimpan di University of Georgia (islammemo.cc, 20/4/2015).





source http://ift.tt/1aKPaa7
Jurit Malam di Akademi Militer

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengikuti latihan kepemimpinan di Akademi Militer, Magelang. Dari semua rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, terseliplah kegiatan jurit malam yang jarang sekali terlewatkan. Hari itu peserta diminta tidur lebih awal karena akan dibangunkan tengah malamnya. Semua peserta sudah mencuragai pasti ini saatnya jurit malam dan kita pun dibangunkan untuk dikumpulkan di dekat hutan area akademi militer.


Para pelatih kami yang merupakan tentara, memberi instruksi bahwa kita sedang dalam latihan bagaimana menyampaikan informasi rahasia. Setiap peserta dibagi secarik kertas yang berisi informasi kemudian dihafalkan untuk disampaikan pada pelatih lainnya yang berada di seberang hutan sana. Informasi tersebut berisi satu kalimat panjang yang susah sekali di cerna, oke ini PR pertamanya. Instruksi selanjutnya para peserta harus masuk hutan satu per satu dengan jarak tiap orangnya sekitar setengah jam agar tidak saling bertemu. Pelatih memberikan instruksi jika bertemu dengan siapapun maka jangan pernah keluar kata apapun kecuali satu kode nama binatang yang saya lupa persisnya apa (misalkan gajah), siapapun nanti ada yang bilang gajah maka jawablah dengan singa maka itu menandakan dia kawan kita, termasuk para pelatih pun akan seperti itu. Jika tidak ada respon apapun dari orang yang kita temui maka abaikan sama sekali karena berbagai kemungkinan bisa terjadi, oke ini PR yang keduanya. PR selanjutnya yaitu di dalam hutan sangat gelap maka berhati-hatilah memilih jalan, cukup pilih jalan yang ada ikatan tali rafia merah di pohon dan jika merasa tersesat maka diamlah ditempat karena itu lebih memudahkan para pelatih untuk mencarinya. Dan di akhir isntruksi pelatih menawarkan jika memang tidak siap maka diperbolehkan mundur. Ini tawaran yang super duper bikin dilema, jika mundur maka hilangkah kesempatan yang mungkin cuma sekali seumur hidup, tapi jika maju saya harus berusaha ekstra untuk menghilangkan rasa takut. Meskipun pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikutinya.

Peserta yang masuk pun dipilih secara random, dan salah satu teman saya terpilih menjadi yang pertama. Belum sampai 5 menit dia masuk ke dalam hutan, teriakan suaranya pun terdengar keras sampai ke tempat kami kumpul untuk menunggu giliran. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi kami yang menunggu giliran, sontak langsung saling tatap menduga-duga ada apa yang terjadi di dalam hutan sana. Kami saling tersenyum ciut, saya tahu di otak kami masing-masing sedang mengukur seberapa berani nanti di dalam hutan sana. Satu per satu teman saya pun masuk dan terdengar teriakan disana sini, menggema dari dalam hutan. Saya dalam hati hanya bisa berdoa agar segera mendapatkan giliran, sudah tidak peduli informasi yang tadi dihafal, yang penting dapat segera menyelesaikan kegiatan ini karena mendengarkan teriakkan teman-teman lebih menambah beban mental.

Giliran saya pun tiba. Masuklah saya ke dalam hutan, sambil menyoroti pohon mencari tali rafia yang digunakan sebagai petunjuk jalan. Setelah jalan beberapa menit kemudian ada yang memegang kaki saya, dengan refleks saya langsung menarik kaki saya dan mempercepat langkah saya bahkan hampir setengah berlari. Ternyata itu baru permulaan, semakin saya mempercepat langkah, maka saya semakin mendengar suara-suara aneh, terdengar suara orang menangis kemudian diganti dengan tawa seperti di film-film horor, dan terkadang di balik pohon ada bayangan-bayangan putih. Sebenernya saya tahu jelas itu mungkin jebakan dari para pelatih, tapi situasi saat itu membuat saya merasa tidak nyaman ditambah harus terus mengingat-ingat informasi yang tadi disampaikan, dan saya pun harus menyoroti pohon-pohon mencari petunjuk jalan. Jadi saat itu yang ada di otak saya berjalanlah secepat mungkin agar segera sampai di tempat tujuan. Hingga beberapa saat kemudian saya melihat teman saya yang masuk lebih dulu ada di depan saya berjarak mungkin sekitar sepuluh meter. Betapa senangnya saya saat itu, akhirnya saya tidak sendiri, dan saya mepercepat langkah saya untuk mendekeatinya. Sialnya, tiba-tiba ada yang menarik tangan saya dengan kuatnya dari belakang, saya setengah mau menjerit dan langsung berbalik melihat siapa orangnya, dan ternyata itu pelatih saya. Hanya untuk make sure, saya harus menggunakan instruksi yang kedua yaitu menyebutkan kode rahasia. Akan tetapi bodohnya saya, tiba-tiba saya lupa nama binatang yang dijadikan kode. Alhasil saya mengabsen semua nama binatang yang saya ingat satu per satu dan sayangnya tidak ada respon sama sekali dari pelatih tersebut, dia hanya berdiri tegap tanpa ekspresi memegangi lengan saya, oh my God. Beberapa saat kemudian saya pun dilepaskan untuk melanjutkan perjalanan.

Saya terus berjalan sambil mencari-cari petunjuk jalan. Sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal aneh yang bermunculan. Saya mulai lelah dan mengantuk. Setelah beberapa saat berjalan, ternyata saya semakin mendekat dengan teman saya lagi, tapi saat ini tidak ada pelatih yang menarik lengan saya lagi, syukurlah. Dia yang menyadari keberadaan saya meneyebutkan nama binatang sebagai kode rahasia, karena lupa saya sebut saja nama binatang semaunya, tapi saya pikir lebih baik seperti itu daripada diam membisu, toh teman saya ternyata tidak mempedulikan itu. Dia pun berjalan lebih dulu di depan saya dan saya menjaga jarak sekitar beberapa meter dibelakangnya. Dan betapa beruntungnya saya, setiap ada suatu jebakan atau kejutan, dia yang terlebih dahulu kena sambil menjerit. Saya? Hanya memperhatikan di belakang sambil tersenyum, karena itu membuat saya menjadi tahu dimana saja titik para pelatih itu menyimpan jebakan haha. Hingga sampai di sebuah pohon yang besar, tiba-tiba dari atas pohon dijatuhkan bantalan atau kain putih, ntah apa itu, lumayan besar yang bikin teman saya kaget termasuk saya yang ada di belakangnya. Kemudian karena dia seorang nasrani, dia memanjatkan pujian-pujian dengan keras untuk menghilangkan rasa takutnya. Saat itu pun, saya yang terbawa suasana takut membaca bacaan hafalan ayat-ayat di Al-Qur'an dengan keras. Alhasil kita seperti berlomba membaca do'a. Begitulah seterusnya hingga akhirnya kita menemukan lapangan luas, dimana beberapa pelatih sudah siap siaga disana dan beberapa teman saya yang sudah tiba lebih awal. Lega sekali rasanya, seperti orang yang lagi kehausan kering keronta akhirnya dapat menemukan air minum segar atau seperti sudah bertahun-tahun jalan di jalanan yang gelap akhirnya menemukan cahaya juga, lebaynya sih begitu.

Saya pun segera menghampiri pelatih, menyampaikan informasi yang dibawa dan syukurlah saya tidak melupakannya. Setelah itu, saya langsung bergabung dengan teman-teman saya yang berbaring di lapangan, terlentang menatap langit dan berusaha mengabaikan teman-teman saya yang malah mereview kegiatan tadi. Saya pikir, malam ini harus ditutup dengan keindahan dari pada ketakutan, saya lebih memilih menikmati langit yang bertabur bintang dengan udara dingin kota Magelang.  

Foto bersama di sela-sela kegiatan :)


Uciuhay

Lazy and Stuck in Reverse

Akhir-akhir ini malas sekali untuk melakukan aktifitas apapun. Tugas yang dikumpulkan untuk hari esok saja belum tersentuh. Padahal saya bisa kok melakukannya. Tapi tidak ada yang memotivasi saya buat melakukan tugas itu. Seakan-akan saya tidak takut nilai saya akan buruk semester ini. Entah apa yang merasuki saya sehingga saya malas untuk melakukan apapun. 

Lantas, apa yang saya lakukan? Jatuh cinta dengan masa lalu? Kok aneh dan sia-sia sekali rasanya? Untuk apa mencintai sesuatu yang sudah jauh dan tidak nyata lagi? 

Terkadang saya benci dengan daya ingat saya sendiri