datus

The Life of Death
Author: yellow-turtle
Artist: chargetransfer
Co-Creator and Graphic: messier51
Posting November 28th for DCBB 2014

Ring the bells that still can ring

Forget your perfect offering

There is a crack, a crack in everything

That’s how the light gets in

- Anthem, Leonard Cohen (1992) 

When the world reverts to its original state, blossoming anew with life, Castiel still exists. This is the story of Cas and death, and the lifetimes he spent to find Dean Winchester again.

What is the cause of Castiel’s perpetual resurrection? And if he keeps coming back, will he continue to do so after the universe ends and beyond?

Datus Myers and his wife Alice moved to Santa Fe in 1925. They lived on Camino del Monte Sol, and were neighbors with ‘Los Cinco Pintores’. Myers is known for his graphite and colored pencil drawings, but he was also an impeccable oil painter. Here’s an untitled New Mexico landscape by the artist. 

here’s the problem: responding angrily to something makes you sound like your argument is based on a knee-jerk emotional reaction rather than fact. you can cite as many sources as you want, but you have no credibility once you’ve insulted the person you’re arguing against. not only have you lost the opportunity to change someone’s opinion, but you’ve now associated any correct arguments you’ve used with petty, whining, childish behavior, and that association will apply to every future conversation your opponent has about the topic, no matter who it’s with. in a perfect world, people would be able to separate logical arguments from someone’s inability to express their opinion civilly, but we don’t live in that world.

tl;dr swearing at someone will not prove your point, even if you’re right.

3

The Kampilan - badass Filipino Katana.


Well, obviously not a Katana, but it’s the Filipino equivalent. The Kampala is a single-edged sword used by Datu Lapu-Lapu and his warriors against Ferdinand Magellan. It’s an awesome, badass sword that functions very well like a Katana. Mostly, people of the South and the Moros use these weapons, but it is well known to be used by all Filipinos across the archipelago. 

Why is it on my blog, you ask? Simple - the protagonist for my upcoming novel uses one as the inheritance from his family bloodline. It’s his main weapon of choice, and uses it in almost any encounter, even if he had to let it be fixed because it was cracked.

youtube

KINIKILIG AKO DITO SOBRA <3 HAHAHA

na e-LSS nako sa mga advertisement theme songs AHHAHAH!!! <3

DATU PUTI PARES SONG 

A          E 
Suuu.....Suuuuuka x2






1st Verse:

A             D 
Biglaan tayong nagkatinginan

A              E 
Di sinasadyang nagkabanggaan

F#m         D 
Kita sa mata nating dalawa

A            E 
True love at wala nang iba




Pre-Chorus:

A           D 
Para tayong asin at paminta

A           E 
Parang Datu Puti toyo at suka

F#m             Bm 
Para tayong Kathniel oh, walang kokontra

D              E                    E(hold)
Dahil may mga bagay na mas masarap talaga...




CHORUS:
D (Fill)
Kapag pares (pares), Datu Puti

A (Fill)
Pares, o tayong dalawa

F#m                  Bm 
Pag ternong Datu Puti sadyang nakakatakam


D                 E                    E(hold)
kapag pares, dahil mas masarap pag tayong.....

*Repeat Intro




2nd Verse:
A          D 
Sarap ng ating pagmamahalan

A           E 
Kahit minsan nagkakatampuhan

F#m             D 
Pag may toyo ka, magpapatawa

A          E(hold)
Erase ang asim sa mukha

A            D 
Parang bagay tayong mag-asawa

A         E 
Parang Datu Puti toyo at suka

F#m              Bm 
Para di kumpleto kapag wala ka

D                 E               E(Hold)
Dahil may mga bagay na mas masarap talaga...



D (Fill)
Kapag pares (pares), Datu Puti

A (Fill)
Pares, o tayong dalawa

F#m                  Bm 
Pag ternong Datu Puti sadyang nakakatakam


D(fill)        E(Fill)
kapag pares, dahil mas masarap pag tayong.....


D (Fill)
pares (pares), Datu Puti

A (Fill)
Pares, o tayong dalawa

F#m                  Bm 
Pag ternong Datu Puti sadyang nakakatakam
D                 E                    E(hold)    A 
kapag pares, dahil mas masarap pag tayong.....
Dalawa

D(Fill)             A        E 
Hmmm Dalawa...Magkasama Ohhhh
instagram

PARES, Datu Puti Theme song with @nericole

Meneladani Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Sejarah adalah kisah-kisah manusia untuk bertahan hidup dan membangun peradaban


Dalam sejarahnya, tak banyak urang banjar yang keilmuannya diakui secara internasional. Paling-paling hanya Syekh Muhammad Arsyah Al-Banjari yang, kita tahu, kitab Sabilal Muhtadin-nya dibaca dan dipelajari hingga Singapura, Malaysia dan Pattani di Thailand Selatan. Kitab tersebut merupakan karya terbesar ulama yang terkenal dengan julukan Datu Kalampayan tersebut. Menarik mengikuti kisah bagaimana riwayat pendidikan ulama yang mendirikan pesantren Dalam Pagar tersebut.


Pada abad ke XVIII, Belanda belum berkuasa penuh di tanah Banjar. Waktu itu, pengaruh islam sudah sangat kuat. Sehingga, poros pengetahuan berada di Mekkah dan Madinah. Sementara Eropa belum dipandang sebagai poros ilmu pengetahuan. Datu Kalampayan tumbuh besar di Kayutangi, daerah yang menjadi epsentrum Kasultanan Banjar. Alkisah, entah oleh siapa, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dibawa ke Keraton berkat kepandaiannya dan diusia 30 tahun disekolahkan oleh Sultan Tahmidullah, raja Banjar ketika itu, ke Mekkah. Dengan harapan ia mampu menjadi alim ulama yang bermanfaat bagi masyarakat Banjar.



(Foto Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Sumber : Google)

Setelah lama di Mekkah mempelajari berbagai cabang ilmu Islam, terutama ushl Fiqh, Arsyad pulang ke Martapura dan diberikan sepetak tanah yang kita kenal sekarang sebagai “Dalam Pagar”. Di Dalam Pagar itulah Arsyad menulis kitab, beberapa yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin dan Tuhfathur Raghibien, mengajar Islam serta memberikan fatwa sebagai seorang Mufti dari Kasultanan Banjar. Salah satu lulusan Dalam Pagar, yang juga merupakan cucu Datu Kalampayan sendiri, Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari adalah ulama yang sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama 2 tahun dan menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri, serta pengaruh ajarannya juga mencapai Singapura.


Oleh kontribusinya yang sangat besar bagi masyarakat Banjar, tak heran nama beliau masih sering dielu-elukan. Setiap tahun, haul beliau diperingati oleh ribuan umat muslim dari berbagai daerah. Namun, ada hal-hal yang justru alpa kita, masyarakat Banjar, lakukan dalam memaknai kehidupan beliau. Pertama, Syekh Muhammad Arsyad adalah contoh bagaimana sebenarnya, tradisi beasiswa berbasis agama mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah. Bukan sebuah hal mudah, meski untuk sebuah kerajaan di zaman itu untuk memberikan beasiswa ke luar negeri. Tak hanya sebatas memberikan basiswa, Kerajaan Banjar waktu itu juga memfasilitasi proses transfer dan pengembangan ilmu pengetahuan di Dalam Pagar. Hasil dari program itu sangat nyata, seperti yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Contoh ini, tentu saja bisa pemerintah kembangkan pada bidang lain selain agama.


Kedua, Syekh Muhammad Arsyad adalah contoh bagaimana pendidikan tinggi, harusnya tidak hanya berakhir pada pada profesionalitas, melainkan juga intelektualitas. Edward Said pernah menulis, ancaman terbesar dari intelektual saat ini, baik di Barat maupun dunia non-Barat, adalah apa yang saya sebut “profesionalisme”, yakni menganggap pekerjaan anda sebagai intelektual adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari penghidupan dari pukul sembilan hingga pukul lima. Nah intelektual, di sini, bukanlah mereka yang “profesional” dalam arti hanya sekadar mencari nafkah atau menjangkarkan diri dalam sistem produksi kapitalisme, tetapi juga disertai dengan komitmen ideologis: mendedikasikan pengetahuan untuk masyarakat yang luas. Jalan yang ditempuh bisa jadi seperti Syek Muhammad Arsyad, menjadi “intelektual” di institusi yang dibangun pemerintah dan mengembangkan pengetahuan dari sana.


Saat ini, sebagai urang banjar, saya mengenal beberapa nama yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi terkemuka baik di Indonesia maupun luar negri. Pertanyaan yang mungkin perlu jadi refleksi, termasuk juga untuk saya: apakah apa yang kita lakukan, sebagai orang yang menempuh pendidikan tinggi, mampu menghidupkan kembali semangat yang dibawa oleh Datu Kalampayan? Karya apa yang bisa kita buat, sehingga jiwa mereka hadir dalam keseharian hidup kita, bukan sekadar rutinitas yang kita lakukan karena tuntutan kantor? Dan (ini yang paling berat): siapkah kita memegang estafet “intelektual” Banjar di masa depan?


*Post Scriptum : Reproduksi dari tulisan Ahmad Rizky Mardhatillah Umar yang berjudul Arsyad dan Nafis : Catatan tentang Intelektual Banjar abad ke-18 dengan berbagai modifikasi.