Another Side of Rain


Tinggal di kaki gunung, terutama salah satu gunung teraktif di dunia memang memiliki keasyikan tersendiri terutama di musim penghujan seperti saat ini. Air serasa tumpah dari langit, kabut yang merambat, dan suhu yang stabil dingin, membuatku merasa nyaman dg selimud tebal setelah menghabiskan secangkir coklat panas.

Jam bergaya retro di samping tempat tidur memuncul angka dua-puluh-dua empat-puluh-sembilan. Entah apakah aku sempat terpejam atau tidak, dering telepon membuatku terlonjak dari kasur saking terkejutnya.

“malam dok” ujar suara di seberang sana, cepat, lugas, namun masih sopan khas orang-orang selatan

“malam, suster Dean, ada apa?”

“tolong segera kemari, darurat, kecelakaan mobil parah, anak-anak, pendaharan otak”

“beri aku 24 menit” sahutku sambil bergegas melepas baju tidur.

22.57, aku sudah berada di teriosku. Cukup bertenaga untuk daerah penuh tanjakan, namun cukup mudah dikendalikan.  Seharusnya hanya perlu 21 menit maksimum dengan kecepatan sedang unutk menuju rumah sakit. Namun kali ini aku akan memacunya secepat mungkin, 3 buah tanjakan, satu jembatan, dan 6 tikungan.

23.06, hujan masih saja tumpah di jalanan. Bahakan terasa semakin rapat saja, meski angin sudah tidak sekencang sebelumnya. Tepat di kelokan Bailey, sosok itu muncul. Seketika itu pula teriosku berputar ke kirir dua kali dan berhasil membuatku pening. Dan tentu saja orang tadi masih selamat, bahkan kini mengehampiriku, mengetuk kaca jendela kanan dengan ujung pistolnya.

23.09, badanku basah tertimpa hujan di tepi kelokan Bailey. Pria akhir 30-an dengan ubah basah kini berada di belakang kemudi, wajah yang sedikit pucat, kaku, dan cemas akan sesuatu. Tampaknya sudah lebih dari tiga hari ia belum menyentuh shavernya.

23.13, Opsir Jeankins lewat dengan vespa kesayangannya. Waktu yang cukup tepat untuk mengantarkanku segera ke rumah sakit. Sekaligus aku menceritakan cirri-ciri orang yang mencuri mobilku.

23.21, aku terlambat. Dengan tetesan air hujan mengucur dari bajuku, aku bergegas menuju ruang operasi. Suster Dean sudah ada di ambang pintu. Cukup sekilas saja, dia menggelengkan kepalanya. Sambil mengatur nafas, aku mendekatinya perlahan.

“tidak?”

“5 menit lalu, terlalu parah” sahut Dean. “ ayahnya pun tak sempat meraih afas terakhirnya, pria dengan mantel basah yang sedang duduk disana” Dean mengerlingkan matanya ke arah seorang pria yang terduduk sambil menutup mukanya dengan telapak tangannya.

“hfff…h”

“dok, Anda sebaiknya berganti pakaian kering” ujar Dean

Aku mengangguk, sekilas ku lirik lagi sang ayah yang masih terduduk. Ia mengakat kepalanya dan tak sengaja menatapku pula. Seorang pria akhir 30-an, bermuka sedikit pucat yang tampaknya sudah tiga hari tidak memegang shaver.

Lima menit. Seandainya aku yang datang terlebih dahulu daripada sang ayah, seandainya mobilku tidak dicurinya,  maka..cerita ini akan memiliki akhir yang berbeda.

Dia masih menatapku terkejut, ketika aku berbelok masuk ke kamar ganti dan membelakanginya.

 

  

Tentang Si "Pawang" Hujan

Satu minggu yang lalu, saya pergi ke toko buku bersama bapak. Niatnya, sih, mau beli keyboard kecil untuk laptop. Karena keyboard laptop milik bapak, beberapa keypad-nya sudah tidak dapat digunakan. Setelah menemukan keyboard yang dicari, kami segera pergi. Pulang ke rumah. Namun, baru saja kami menginjakkan kaki di pintu masuk, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Selain membasahi bumi, butiran-butiran air itu menimbulkan suara gemuruh yang menyeramkan.

Terpaksa, aku dan bapak berdiri di depan pintu masuk. Menunggu hujan reda.

Akhir-akhir ini, matahari sering mengelabui kami. Sengatannya di pagi menjelang siang hari membuat kami yakin, hujan tidak akan turun hari itu. Namun, menjelang sore hari, awan hitam mulai berkumpul di langit. Dan kemudian menurunkan hujan yang sangat deras seperti kala itu.

Aku suka suara hujan. Semenyeramkan apa pun itu. Karena, hujan adalah saat-saat yang baik untuk berdoa. Karena, hujan merupakan saat di mana Tuhan menurunkan rahmat-Nya.

Dan, sore itu, Tuhan nampaknya sedang menunjukkan janji-janji-Nya. Rahmat-Nya turun pada mereka. Sekelompok anak kecil yang membawa payung besar.

Lucunya, mereka tidak menggunakan payung itu untuk menghalau hujan. Payungnya terlipat rapi dalam genggaman jemari mungilnya. Tak peduli seberapa keras butiran air hujan menghantam tubuh mereka, mereka tetap berlari-lari dengan riang.

Melihat mereka, bibir saya tersimpul begitu saja.

Seorang perempuan paruh baya bertubuh besar melambaikan tangan pada mereka. Salah satu dari anak-anak itu menghampiri si Ibu Gemuk itu. Ia lalu memberikan payung besar padanya.

Si Ibu Gemuk itu membuka payung, lalu berjalan di bawah payung itu. Sementara, si Anak Kecil Pembawa Payung berjalan cepat di belakangnya. Tanpa sebuah payung.

Meski sudah basah kuyup, wajahnya masih tampak riang. Lucu sekali.

Menyadari semakin banyak orang yang berteduh di depan pintu masuk, anak-anak kecil itu menghampiri kami. Menawarkan jasa ojek payungnya.

Beberapa orang memutuskan untuk menggunakan jasa mereka. Dengan memberikan uang seikhlasnya, mereka dapat menghalau hujan dengan payung besar. Sementara, anak-anak kecil itu berlari-lari kecil di belakangnya. Tanpa menggunakan payung.

Lucu memang melihat mereka tampak riang. Tapi, saya sedikit merasa miris. Uang yang mereka dapat mungkin tidak banyak. Tapi, mungkin mereka harus membayar lebih banyak kalau mereka jatuh sakit karena terlalu lama hujan-hujanan.

Hmm, semoga hujan memang bersahabat dengan mereka. Semoga mereka tidak jatuh sakit ketika pulang ke rumah.

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video