berona

Day 3 in Venice. Day 1 and 2 consisted of eating, strolling, eating, meeting restaurant owners who force you to drink crazy blue liquor with them and keep their place open just for you to finish their bottle, which I didn’t of course, and eating again. Had squid ink for the first time, explored the permanently just painted look of the rainbow houses in Berona, went to where lace originated and watched old ladies tie the smallest knots in the world out of cotton thread a million times over. 

I’m in heaven but I’m getting stir-crazy. Spent all of yesterday looking for signs or secret notes of some underground subculture. Maybe some locals. Something other than tourists. Found the Jewish area with cheaper spaghetti and a sunset that made even the sarcastic un-romantic side of me want to steamily make out with some Italian on a bridge just to bathe in hues of purple and pink in the way your supposed to when you’re in Venice. 

Today I’m getting introduced to some Spanish boys, hopefully they are cool and bring me to Barcelona with them so at least I know the literal next step in this unplanned journey. That or Tuesday, I head to Rome.

For those of you that don’t know. I’m traveling through Europe till mid July without any plan. Looking to photograph/experience/live something uniquely different. If you have an idea of something I should see, message me. If you’d like me to come document something in your town, message me, if you want me to come eat dinner at your grandmas in Florence, message me. 

Dia yang ada dalam kaca. Aku!

Aku mengamati gadis berambut hitam panjang dan bergelombang dengan senyuman yang (sebenarnya) cukup manis dalam sebuah kaca.

Senyumannya menggangguku, terlalu banyak luka yang Ia samarkan di sana. Pipinya yang tak berona membuatku bertanya-tanya, kapan terakhir kali cinta menyapanya. Lalu kilat matanya yang penuh semangat, ada kesedihan yang tersirat.

Hai, gadis dalam kaca. Apa kamu baik-baik saja? 

Ingin sekali aku memeluknya dan menasehatinya agar tidak terlalu keras pada dirinya sendiri. Aku takut, hatinya terbebani oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Aku ingin Ia bahagia dan menikmati hari-harinya.

Kerlingan matanya yang cantik, sejenak membuatku lupa pada perjuangan hidupnya yang dimulai sejak ayah tak lagi menggenggam tangannya di usia yang sangat belia. 

Hai, gadis dalam kaca. Apa kamu baik-baik saja? 

Celoteh riang tentang mimpinya berguling di tanah bersalju dan meremas daun-daun kuning yang berjatuhan di penghujung musim gugur, membuatku terpesona.

Senyumnya perlahan memudar, mimpinya harus Ia tunda. Ibu membutuhkannya. Aku paham apa yang sedang bergejolak di dalam kepalanya. Tapi aku masih percaya, bahwa gadis itu menyimpan mimpi-mimpinya rapi di salah satu sudut hati seraya menanti waktu yang tepat untuk mewujudkannya kembali. 

Aku ingin memeluknya lebih erat dan berkata lembut di telinganya, menyemangatinya, kerja keras tidak akan pernah mengkhianatimu, percayalah.

Semarang, 14 Desember 2014

Pabila kelas ilmu hisab dikhabarkan berlangsung selama 4 jam. Awal minit pertama sahaja blh pergi jauh. Selebihnya ukiran hati berona biru menghiasi lembaran nota bila bosan datang menjengah dengan kesihatan yg tidak mengizinkan. Best of luck for the test tomorrow night everyone!