arah

Q: I’ve never beaten the Personal Story step “Victory or Death” because it required me to play in a group. Are you making any changes to the final fight against Zhaitan?
A: Yes. With this release, we are changing a few things about the final Personal Story step “Victory or Death.” For starters, the instance has been modified to support 1–5 players so you will no longer need a full party to complete it. We have converted the story mode of“The Ruined City of Arah” dungeon to be a Personal Story step, so after this update goes live, you may only play it once as part of your Personal Story.

ITS HAPPENING NO MORE TERRIBLE ARAH STORY PUGS

youtube

Jangan Mempertanyakan Allah

Sebuah pertanyaan muncul dalam diskusi, ada saudari muda yang mengajukan pertanyaan: “Aku mencintai segala sesuatu tentang Islam kecuali hijab dan sepertinya hijab ada untuk melindungi laki-laki agar tidak memandangi kami… Jadi begitulah„, aku benar-benar tidak tahu intinya apa”.

Dan dari pada berdebat mengenai manfaat sosial hijab…Atau bagaimana hijab melindungi kehormatan perempuan dan semacamnya, sebenarnya pembicaraan itu sudah menuju ke arah yang salah. Kita perlu berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Mari melihat ke belakang dan mari bertanya kepada Ibrahim (AS).

Ibrahim (AS) juga mencintai Islam. Tapi kemudian Allah membuat permintaan kecil: “Bagaimana jika engkau pergi di tengah-tengah padang pasir dan tinggalkan keluargamu disana”. Beliau bukan orang yang akan mengatakan: “Aku mencintai segala sesuatu tentang Islam, tetapi permintaan untuk meninggalkan keluargaku di tengah padang pasir untuk mati? Aku tidak tahu.. Aku tidak merasa nyaman dengan hal itu.”

Dan setelah beliau selesai melaksanakan perintah itu, kamu tahu (perintah berikutnya, red)? “Lompatlah ke dalam api”. 

(Beliau tidak berkata, red) “Aku cinta  segalanya tentang Islam.. kecuali.. perintah membakar diriku hidup-hidup ini? Perintah itu terlalu berlebihan. Nggak”. Kamu tidak menemukan pertanyaan itu.

Lalu Allah berkata: “Hunuskan pisau ke tenggorokan anakmu, silahkan”. Beliau tidak mengatakan: “Aku mencintai Islam, tapi aku juga mencintai anakku… Aku tak tahu, bisakah Engkau memberikan penjelasan yang logis mengapa aku harus melakukan ini? Bisakah Engkau jelaskan manfaat sosialnya? Atau beberapa alasan lainnya, manfaat lain tentang kenapa aku harus mematuhi Engkau?”

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (QS Al Baqarah: 131)

Ada alasan kenapa Allah mengajarkan kita pelajaran itu dalam surat Al-Baqarah. Setiap kali Allah berfirman kepada beliau: “Serahkan dirimu, tunduk, berserah dirilah…”. Beliau berkata, “Aku berserah diri. Aku serahkan diriku, aku serahkan diriku sepenuhnya kepada Tuhan seluruh manusia”.

Jadi sebelum kita berbicara mengenai segala aspek tentang diin dan mencoba untuk mencari tahu logikanya, pahami tujuan lebih besarnya. Allah telah membuat  diin ini untuk berserah diri kepada-Nya. Jika kamu mengalami kesulitan berserah diri kepada-Nya, kamu mengalami kesulitan dengan Islam itu sendiri. Konsep sentral dari diin itu sendiri.

Ini bukan berarti kamu tidak seharusnya mengerti ahkaam (hukum-hukum, red) Allah. Tapi aku dan kamu harus menjadi orang yang sekalinya kita mengetahui ahkaam Allah, baik kita mengerti atau tidak, mau kita bisa lihat logikanya atau tidak, kita harus berserah diri, kita harus berserah diri saja.

Allah Azza Wa Jalla bahkan menyatakan dalam surat Al Baqarah mengenai  riba, Allah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا
“Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”. (QS Al Baqarah: 275)

Ini adalah diskusi yang sangat menarik, Allah Azza Wa Jalla berfirman: Ada orang yang mengkonsumsi riba dan mereka berkata bahwa, bisnis itu mirip dengan riba. Maksudku jika kamu melihat liquid transaction, solid transaction dan uang dan cash dan apa itu membeli kembali.

Ini adalah diskusi yang rumit, ini bisa ke arah keduanya, Kamu bahkan tidak bisa melihat perbedaanya. “19/20″, “potato/pottato”, satu dua kalimat dalam kontrak, maksudku apa masalahnya? Ini adalah hal yang sama dan jika kamu duduk dan berargumentasi selama 4 jam dengan orang jurusan keuangan tentang halal tidak nya riba, atau apa perbedaan antara riba dan bisnis, kamu mungkin berkata: “Ya itu sama saja, aku tidak melihat perbedaan dalam segi prakteknya”.

Tapi kemudian Allah hanya mengatakan satu kalimat, ketimbang menjelaskan kepadamu perbedaan tipis antara keduanya, Allah berkata hanya ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Sekarang setelah kamu mengerti dan memahami dalam pikiranmu bahwa keduanya sangat mirip, hanya ada satu hal lagi,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275)

Habis perkara. Allah menghalalkan bisnis dan mengharamkan riba, titik, itulah kesimpulannya.

-CD-

Relevansi Kita, sebagai Mahasiswa.

Sebenarnya, apa sih tugas utama mahasiswa?

Akademik, jelas, harus jadi prioritas utama. Sekarang, 10 juta bisa habis untuk bayar kuliah satu semester. Sekarang, maksimal lulus 5 tahun atau terancam DO. 

Malam ini, tiba-tiba ibu saya memulai diskusi yang menjurus ke arah debat mengenai loyonya mahasiswa ITB yang gak demo apa-apa, sama sekali. Kalah sama UI, UGM, katanya. Katanya, sekarang anak ITB udah gak peduli lagi sama rakyat, padahal menurut ibu saya, demo itu merupakan salah satu kewajiban untuk mahasiswa, yang seenggaknya menggambarkan kepedulian kita akan masyarakat.

Kata ibu saya, malah teman-temannya yang sudah angkatan 87 ke atas, yang sibuk bolak-balik KPK untuk ngurusin ini itu. Urusan yang, mungkin, dulu sudah pasti diambil alih oleh mahasiswa.

Belum lama ini juga, Ridwansyah Yusuf yang merupakan Presiden KM ITB tahun 2009, menyindir lesunya kemahasiswaan ITB, yang sibuk sama akademiknya sendiri dan gak ngurusin rakyat. Yang dengan segera dibalas Andi Bhatara (Seni Murni ‘10) dalam surat terbuka disini

Saya nggak tahu dan nggak bisa membandingkan kemahasiswaan di ITB dengan di kampus-kampus yang lain karena, ya, saya cuma pernah (dan masih) kuliah di ITB. Dan jujur saya gak setuju kalau ibu saya bilang bahwa anak ITB itu gak peduli sama rakyat. Saya nggak suka bagaimana beliau menggunakan totem pro parte yang menggeneralisasi bahwa satu ITB gak ada yang peduli sama rakyat. 

Dari awal masuk OSKM, maba dibekali dengan materi popope mahasiswa yang sudah kuhafal habis karena 2 tahun baca TOR untuk ngasih materi ke maba, dan untuk ngasih materi ke calon pendiklat OSKM di tahun selanjutnya. Di ujung diklat hampir selalu diakhiri dengan observasi turun langsung ke gang-gang untuk mempelajari kondisi aktual di masyarakat. Belajar tentang sejarah KM ITB, gimana dulu mahasiswa sempat hadap-hadapan langsung dengan TNI dan berbagai kisah heroik nan keren mahasiswa di tahun 40-50-60-an dulu.

Sumpah, ada yang peduli. Pasti ada yang peduli. Dan tidak cuma segelintir. 

Tapi menurut saya, ITB terlalu sibuk dengan internalnya sendiri. Sibuk ngurusin Pemira yang selalu penuh drama, kepanitiaan yang bubar, digugat kongres, digugat massa. Sibuk ngurusin Kabinet yang banyak acara. Sibuk ngurusin himpunan sendiri yang banyak acara. Sibuk ngurusin periodisasi himpunan, periodisasi kabinet. Sibuk ngurusin RA, LPJ TT, LPJ Akhir Kepengurusan. Sibuk ngurusin forum, forum, forum, dan forum. Sibuk ngurusin tugas, praktikum. Sibuk ngurusin diri sendiri.

Ya gimana mau ngurusin orang lain kalau urusan diri sendiri aja gak ada habisnya. Gimana juga mau ngurusin orang lain kalau selalu menganggap urusan diri sendiri lah yang paling penting sedunia. 

Hidup itu dinamis. Orang bersikap sebagaimana dibutuhkan, sesuai dengan tuntutan situasi dan zaman. Mungkin—mungkin—bukan mahasiswa yang tukang demo lah yang dibutuhkan oleh rakyat masa kini, walau mungkin melihat gerombolan anak muda dengan jas almamater warna-warni memberikan sedikit comfort dalam hati mereka. 

Mungkin karena tujuan mereka dan kami untuk masuk ITB sudah berbeda. Mungkin dulu mereka kuliah dengan semangat tinggi untuk kembali membangun daerahnya masing-masing. Mungkin dulu mereka belajar dengan bersemangat dan merasa harus membalas budi pada rakyat karena uang merekalah yang digunakan untuk membayar semua keperluan kuliah. Mungkin dulu mereka memang sangat dekat dengan rakyat.

Mungkin karena kini kami berorientasi pada angka. Mengejar gaji freshgraduate yang minimum 15 juta, bahkan bisa sampai 30 juta di beberapa perusahaan multinasional. Mungkin karena kini kami mengejar jabatan. Mungkin karena 10 juta yang orangtua kami keluarkan setiap semester merupakan modal yang harus kami kembalikan secepatnya. Mungkin karena waktu 5 tahun yang diberikan tidak sebanding dengan beban akademik ini.

Saya nggak tahu apa yang relevan dan tidak relevan dengan masa sekarang ini.

Tapi yang saya tahu, kami peduli. 

Dan kepedulian akan selalu relevan dalam dimensi apapun.

4

Here’s a little progress on my Guild Wars 2 Orrian Armor cosplay!  The paint job is almost complete -  I still need to go in and clean up some of the detailing, add a little more shadowing/contrast, etc.  All of the rigging and fabric portions are finished as well, so I’m getting close.  Time to work on a weapon and add some accessories (I’m thinking a pair of resin-cast transparent wings and maybe a Commander title.  Let me know if you think of any other fun easter eggs to add!).

These are constructed from Worbla, craft foam, and Friendly Plastic, with detailing in puff paint and painted with normal acrylics.

5

Custom 4” Kidrobot Munny. The buyer requested a Munny wearing Arah dungeon heavy armor with an ascended greatsword from Guild Wars 2. 

____________________

Fiona Ng  is a toy designer and entrepreneur. By day, she is the co-founder of PianoVerse, a place for adult piano lessons in Queens, New York. By night, she is bringing life to little armored toy heroes and heroines.

5

Full shots of my Guild Wars 2 Orrian Armor cosplay, taken at Rattlesnake Lake, WA.  Al did an amazing job with this series (and picked the most PERFECT location - reminds me so much of the Ruins of Orr).

I constructed all of the armor from Worbla, craft foam, and Friendly Plastic, with detailing in puff paint and painted with normal acrylics.

Character: Orrian Armor
Series: Guild Wars 2
Photographer: Shunichi Al Hayashi with Cosplay Photographers

Facebook | DeviantART | Twitter

youtube

look! i’m youtubes now! :D

ARAH

Hey everyone, I know that some people don’t like the Arah dungeon, don’t know how to do it, or are afraid of giant zombie spiders, so I have fantasric news for you! If you eant to get some pf that sweet dungeon armor that makes you look lkle a spoopy dinosaur or a guy/gal im a bed sheet, but dont want to throw your wallet at the path sellers, I can help! I run Arah P2 daily, either solo or with a friend, so we always have two or three slots free for anyone who wants to learn the dungeon or just leech tokens!
If you’re interested, add me on guild wars and either drop me a message here or there. And if I’m ever already in the dungeon, ask if I have slots. Chances are, I do. If not, ill probably either run P2 again or do P3 to get ypu tokens. Everyone deserves to look like a dinosaur.