anies-baswedan

Yang harus ditakutkan itu bukan mimpi yang sulit dicapai. Tapi mimpi yang tercapai karena terlalu rendah
— 

Anies Baswedan, dalam kuliah umumnya siang tadi.

Jadi, mimpi itu setinggi langit. Kan kalo jatoh paling ke tanah. Coba kalo mimpinya cuma setanah, kalo jatoh masuk jurang.

Anies Baswedan?

Siapa dia? Awal melihatnya, tak ada yang istimewa. Waktu itu tak sengaja membuka sebuah laman di dunia maya. Tentang berita Rektor Paramadina. Saya tertegun membaca isinya.

Tak lama setelahnya, saya dengar lagi berita tentangnya, menggagas gerakan Indonesia Mengajar. Siapa dia?

Suatu ketika, di kota tercinta, Surabaya, ia datang mengisi acara. Saya sangat senang bisa melihat wajahnya. Wajah bercahaya, yang penuh kharisma, yang membawa sejuta harapan untuk rakyat Indonesia.

Saya memendam rasa untuk bertemu dengannya, berbincang mengenai pendidikan Indonesia, namun apalah mau dikata, saya tak berhasil bertatap muka, berbicara empat mata dengannya. Seperti orang jatuh cinta diam-diam, saya hanya bisa memandang wajahnya dari kejauhan, berharap dia mendekat, tetapi tak mendekat. Tetapi tak mengapa. Melihatnya bercengkerama bersama para pemuda yang lain dengan akrab, saya sudah bahagia.

Anies Rasyid Baswedan, begitulah sosok tersebut diberi nama oleh kedua orangtuanya. Anies Baswedan, begitu ia lebih dikenal. Apa? Dikenal? Mungkin memang tak banyak yang mengenal siapa dia. Anies Baswedan, asal Yogyakarta, adalah seorang dari sekian juta jiwa yang menginginkan perubahan di Indonesia.

Setahun dua tahun ini, namanya santer terdengar di seantero Indonesia.

Siapa dia? Apa kasus yang membuat namanya naik daun sedemikian rupa?

Sebentar, mari kujelaskan. Siapa Anies Baswedan? Menjadi ketua OSIS SMA Se-Indonesia dahulu, adalah batu loncatannya di masa remaja. Lalu, dilanjutkan dengan mengikuti serangkaian kegiatan pertukaran pelajar di luar negeri dan mendapatkan ilmu selama di sana.

Siapa Anies Baswedan? Kau masih penasaran rupanya, anak muda. Mungkin kau kurang membaca.

Sebentar, izinkan aku bertanya lagi padamu. Kau tahu Indonesia Mengajar? Kau tahu Kelas Inspirasi? Kau tahu Indonesia Menyala? Beliau adalah penggagas ketiga gerakan fenomenal itu, ternyata.

Kau mengangguk-anggukan kepala.

Apa kaitannya dengan Universitas Paramadina? Dahulu beliau sempat dinobatkan menjadi rektor termuda di Indonesia di usianya yang ke-38, saat menjadi rektor di Paramadina.

Sudah cukup? Belum, katamu. Baiklah, ia termasuk dalam 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia.

“Wah, benar! Hebat ya!” katamu membelalakkan mata. Akhirnya kau sadar juga.

Mari kuberitahu fakta-fakta mencengangkan lainnya. Baru saja beliau melaksanakan tur keliling 3000 kilometer hanya demi turun tangan untuk Indonesia.

Coba ulangi lagi, apa, turun tangan? Tidak salah dengar?

Ya! turun tangan. Bukan tanpa T, urun angan.

“Suara 1 rakyat yang tulus lebih berharga daripada baliho sebesar apapun” itu kata-kata yang terpampang nyata di halaman utama situs pribadinya. Tak perlu pasang poster dengan puluhan gelar dan jabatan. Tak perlu menyakiti pohon dan berkontribusi terhadap gerakan polusi visual dengan memasang poster. Cukup bermodal nama baik dan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Saya, tidak dibayar sepeserpun untuk menulis ini. Saya, tidak dibayar sepeserpun dan dijanjikan apapun untuk mendukung beliau. Namun saya hanya bermodal percaya dan rasa ingin tahu yang besar, terhadap siapa yang akan memimpin negara saya.

Ya, saya berhak. Kini sudah 21 tahun usia saya, dan saya harus mempertanggungjawabkan segala hal yang saya lakukan. Termasuk memilih pemimpin negara salah satunya.

Saya percaya: Anies Baswedan akan menyalakan harapan rakyat Indonesia yang sedang dilanda krisis kepercayaan diri. Krisis, yang saking parahnya, mengikis identitasnya. Mengikis optimismenya. Hingga lupa akan budaya leluhurnya.

Anies Baswedan, bersama rakyat yang mau turun tangan, bersama rakyat yang rindu pemimpin bersih, bersama rakyat yang rindu perubahan, akan memperbaiki Indonesia, bukan dengan mempermainkan angka statistik, namun dari yang paling dasar, dengan mengubah manusianya!

Anies Baswedan, sedang dalam usaha memperbarui citra Indonesia.

Anies Baswedan, di mata saya, seperti cahaya di tengah kegelapan, seperti oase di tengah kekeringan, seperti yang putih di antara yang hitam.

Anies Baswedan, dari kacamata saya, seperti sosok presiden pertama Republik Indonesia, dengan gaya orasinya yang tegas namun halus dan mengena, sangat mudah dimengerti siapapun juga.

Anies Baswedan tidak bergerak sendirian, tapi mengajak rakyat untuk bersama-sama turun tangan.

Saya, seorang mahasiswa, percaya, bahwa janji kemerdekaan harus dilunasi, dan kitalah orang-orang yang diharapkan leluhur, untuk melunasi janji-janji itu.

Saya tidak sedang berpuisi. Saya tidak sedang berorasi. Saya hanya mencoba turun tangan dengan cara saya sendiri.

Saya percaya dan saya mau turun tangan. Anda?

Surabaya, 11 Januari 2014.

5 Buku Ini Wajib Kamu Baca Sebelum Menjadi Pengajar Muda

5 Buku Ini Wajib Kamu Baca Sebelum Menjadi Pengajar Muda

Siapa yang tak tahu tentang program Bapak Menteri yang satu ini? Yap! Gerakan Indonesia Mengajar merupakan usaha niralaba yang dirintis oleh Bapak Anies Baswedan. Gerakan ini merekrut para pemuda-pemudi bangsa untuk mengabdi di pelosok-pelosok negeri yang jarang terjamah oleh pendidikan. Sebelum menjadi para pengajar muda, para calon pengajar muda mengikuti tiga tahapan seleksi. Setelah lulus…

View On WordPress

youtube

Anies Baswedan - Lighting Up Indonesia’s Future

Sesungguhnya Allah, para malaikat, beserta semua makhluk, bahkan seekor semut yang ada di dalam sarangnya senantiasa mendo’akan orang-orang yang mengajarkan kebaikan.

Selamat bertugas buat Pengajar-pengajar muda Indonesia yang luar biasa.

official website : http://indonesiamengajar.org/

youtube

Closing Statement Debat Capres Final Konvensi

[Hanya 3 menit] Inilah akhir episode konvensi PD. Anies Baswedan sudah menang dengan berhasil mengumpulkan 23.000 lebih relawan terdaftar yang bersedia bergerak bersama secara terhormat. Tanpa bayaran. Nol rupiah.

youtube

tidak perlu jadi apa-apa untuk kita melakukan sesuatu, karena posisi boleh berganti-ganti, tapi di posisi apapun, kita harus bermakna.. :)

Ketika dulu semasa saya kuliah, ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan.
1.Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis- konsumtif, jaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil dijaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor , sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus.
2. mahasiswa profesional – individualis, kerjaannya kuliah saja tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, professional tapi individualis.
3. mahasiswa kita istilahkannya asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja. 4. mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
5. mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll.
6. mahasiswa yang kecendrungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam maka problem masyarakat itu selesai.
—  Anies Baswedan
7

Sebelum Bapak @aniesbaswedan memutuskan untuk menjadi Capres Indonesia 2014. Saya memantapkan diri dan mempengaruhi teman-teman dan keluarga bahwa saya dengan lipat tangan siap untuk GOLPUT. Karena saya tidak sreg dengan calon-calon yg ada. Mereka bukan level saya. Tapi ketika Bapak Anies Baswedan mantap untuk menjadi Capres Indonesia 2014, saya siap Turun Tangan dan berada di sayap kiri atau kanan beliau. Karena kami Relawan Turun Tangan tidak dibayar atau menerima uang sepeserpun. Kami tidak memakai pamflet2 atau spanduk2 yang bertebaran di warung-warung atau baliho dengan harga milyaran dan gemerlap sana sini. Kami cukup menggunakan media elektronik untuk mengerahkan Relawan dari seluruh Indonesia. No money for our politic. Itu prinsip kami. 

Kalian tidak perlu percaya kepada perkataan kami, cukup tanyakan pada diri anda sendiri, sudahkah anda menyelidiki siapa Calon Presiden yang anda pilih? Atau memilih hanya ikut-ikutan? Menyelidiki siapa calon presiden yang kita pilih itu mutlak dilakukan, anda yang memilih, anda yang menentukan hidup anda. Kalau anda salah pilih atau kecewa karena ternyata Capres kita banyak boroknya, MAU NGADU KEMANA??? MAU MARAH SAMA SIAPA??? 

RETHINK AGAIN ya teman-teman. 

Saya Choirina Insani, Relawan Turun Tangan Yogyakarta. Dan saya bangga menjadi pejuang. 

youtube

Sebuah Awal Baru: Gerakan TurunTangan.org

Alhamdulillah, saya menulis ini dalam keadaan sehat wal afiat, bersemangat dan penuh rasa syukur. Semoga saat tulisan ini dibaca, Anda juga dalam keadaan sehat wal afiat.

Kita baru saja menyudahi sebuah fase perjuangan. Kita jalani dengan cara terhormat. Perjuangan bersama ini terasa cemerlang, bukan karena sorot lampu terang penuh rupiah. Perjalanan ini cemerlang karena kristal keringat relawan di seluruh negeri, karena sorot mata dan hati yang tulus. Ini yang membuat kita harus makin bersyukur.

Relawan Nol Rupiah hadir di saat Indonesia dibanjiri dengan politik uang. Hingga begitu banyak kiprah di politik yang dijadikan mata pencaharian. Di arena politik itulah keputusan tentang pangan, pendidikan, kesehatan, perekonomian dan sederet urusan penting lainnya dibuat. Tetapi ide dan semangat kerelawanan itu sering tersingkirkan dalam sebuah ikhtiar politik.

Di sini kita kembalikan semangat itu. Anda adalah bukti otentik bahwa tetap banyak anak bangsa yg tidak bisa dirupiahkan, yang bisa menjaga harga dirinya. Seperti yang sering dikatakan bahwa relawan tidak dibayar, bukan karena tak bernilai tetapi karena tak ternilai.

Teman-teman semua membuktikan bahwa kekuatan dan jaring bisa dibangun dengan ikatan bersimpulkan gagasan dan kepercayaan. Saat ini adalah lebih dari 27 ribu anak bangsa ikut berjalan bersama dalam barisan ini. Kita semua jalankan itu dengan cara terhormat. Semua relawan hadir dengan hati. Bekerja dengan sepenuh hati. Berkampanye di angkot, bus kota, kampus, kafe, kantor, di lingkungan tetangga, di lingkungan keluarga, via sms, sosial media. Membagikan koran, brosur dan bertutur pada sesama. Anda jalani karena percaya, Anda kerjakan karena kita yakin bahwa politik bersih itu hanya bisa dikerjakan secara bersama-sama. Tidak mungkin dikerjakan satu orang. Kita telah jadi bagian dari Indonesia baru, Indonesia bersih. Ini adalah pilihan sejarah. Sekecil apapun peran kita saat ini, kita sama-sama bisa berkata: saya tidak pernah jadi bagian yg membuat Indonesia keropos; saya jadi bagian yang meninggikuatkan Indonesia.

Setiap ada acara kumpul semua hadir dengan ongkos sendiri. Semua iuran. Kita semua pernah mengalami bahwa yang kita kerjakan ini tak selalu diterima, dipahami apalagi didukung oleh lingkungan kita. Cobaan-cobaan kecil macam itu bisa dan biasa kita hadapi. Sekaligus jadi bukti bahwa hidup adalah perjuangan dan setiap kita adalah pejuang; karena itu kita pilih selalu hadapi dan kita akan terus memenangkan Indonesia!

Bagi mereka yang pernah mengikuti dan mengetahui gagasan turun tangan, umumnya setelah mempelajari lalu memahami dan mendukung. Karena memang gerakan ini sarat dengan unsur membangun kesadaran dan pendidikan politik dengan mengusung ide. Tetapi kita baru bergerak sejak September 2013. Sosialiasi tidak melalui iklan di televisi, radio atau media massa lainnya tetapi lewat media sosial dan kerja teman-teman relawan.

Walau ide dan gagasan turun tangan belum menjangkau sebagian besar penduduk di negeri tercinta ini, tetapi dalam survei sudah menunjukkan bahwa jutaan orang dewasa Indonesia mendukung. Ini adalah hasil kerja kolektif yang luar biasa. Apresiasi dan terima kasih pada semua yang memilih untuk ikut membuat jalan berbeda dalam berpolitik.

Perjuangan kita bukan bawa cita-cita untuk meraih otoritas. Kita membawa misi untuk dijalankan karena itu kita memerlukan otoritas. Kita membawa misi agar kebijakan yang dihasilkan oleh proses politik ini adalah kebijakan yang berfokus pada kualitas manusia berdaulat yang sehat, terdidik dan makmur dalam sebuah masyarakat yang berkepastian hukum. Indonesia yang berkeadilan sosial.

Perjuangan kita selama ini sudah berhasil membangun kesadaran bahwa orang baik harus turun tangan membantu orang-orang terpercaya agar bisa terpilih menjadi wakil rakyat dan menjadi pemegang otoritas kepemimpinan di pemerintahan. Jika proses politik yang terjadi tidak memungkinkan mendapatkan otoritas itu, sebagaimana yang dialami sekarang, maka kita akan terus bawa misi itu dalam berbagai kegiatan kita. Dan tentu saja misi inipun bisa dititipkan pada orang lain yang kita percayai serta bersedia untuk menjalankannya.

Pada persiapan pemilihan presiden di bulan Juli nanti jangan segan untuk turun tangan. Anda lihat track-recordnya, kaji rencana kerjanya, kuasai informasi tentang mereka lalu tentukan pilihan. Ajak lingkungan Anda untuk berdiskusi, untuk memilih, untuk menentukan sikap. Jangan cari manusia sempurna. Sebagaimana yang selama ini sering dikatakan, tentukan pilihan serta bantu orang baik yaitu bersih dan kompeten. Apalagi jika orang baik itu bisa membawa kebaruan. Sayapun akan menentukan pilihan, pada siapa misi yang selama ini dibawa akan dititipkan dan tentu saja saya harus siap untuk turun tangan membantu jika diperlukan.

Mari kita teruskan ikhtiar turun tangan ini.Gerakan Turun Tanganini akan terus kita rawat dan besarkan sama-sama. Kita tentu perlu berkumpul untuk mendiskusikan secara lebih jauh dan lebih detail tentang kegiatan yang bisa kita jalankan. Sama-sama kita jaga agar proses politik di Indonesia bisa menjadi proses yang terhormat.

Sekali lagi, terima kasih. InsyaAllah dalam waktu dekat kita bisa bertemu dan berdiskusi lagi. 

Salam hangat,
Anies Baswedan

Saya nangis nonton ini, benar-benar terharu. Saya ada dalam bagiannya dan terlibat secara langsung. Mungkin karena satu frekuensi, maka benar-benar terasa harunya. 

Ini adalah awal baru. Ibu pertiwi, kami masih ada!

Selamat Pagi. Kali ini saya ucapkan selamat pagi di awal cerita. Ya, karena pagi ini saya sangat bersemangat setelah mengunduh dan membaca visi misi Menteri Pendidikan kita yang baru.

Saya tidak akan banyak membahas konten dari presentasi beliau (yang bisa kita unduh di http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/sites/default/files/Paparan%20Menteri%20-%20Kadisdik%20141201%20-%20Low%20v.0.pdf ), meskipun presentasi tersebut sungguh membuat haru: betapa apa yang kami gunjingkan tentang permasalahan pendidikan kini, minimal, sudah direncanakan berbagai solusinya.

Yang terjadi kini, kian banyak bermunculan lembaga formal maupun informal yang turut bergerak untuk memberikan pendidikan yang layak bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kami, salah satunya. Sesungguhnya, tak pernah kami pungkiri bahwa kami hanyalah pihak ketiga diantara masyarakat dan pemerintah yang (dulu, seharusnya) mampu mengatasi kompleksnya masalah pendidikan ini. Kehadiran kami hanyalah sebuah bentuk protes dan jengah pada pemerintah, karena nyatanya, pergantian kurikulum tak kunjung membuat adik-adik kami bersekolah kembali, melek huruf, ataupun mendapatkan pakaian seragam yang layak.

Tak pernah kami pungkiri bahwa kehadiran kami hanya akan berdampak sedikit. Bahkan kami tak pernah tahu, bisa jadi kehadiran kami justru merubah apa yang sudah baik di masyarakat atau menambah bibit permasalahan. Tapi sedikit inilah yang bisa kami lakukan. Dan bergerak untuk kebaikan, tidak pernah salah, asalkan selalu belajar dan saling memperbaiki.

Seperti angin segar di musim kemarau, kering dan dahaga kami atas kebijaksanaan kebijakan para pejabat negara disana, kini akan mulai terisi. Sedikit demi sedikit, meskipun hanya satu atau dua tetes. Kami sadar betul bagaimana kompleksnya, bagaimana sulitnya, bagaimana gawatnya. Saya pribadi, sebagai mahasiswa yang masih bisa berbuat segini-segini saja, sesungguhnya tak ingin banyak menuntut. Saya ingin turut membantu dan berkontribusi, sekuat saya, sehabis-habisnya usia saya. Bukan karena saya sok jagoan, atau sok peduli, tapi ya karena cuma ini yang bisa saya lakukan. Apalagi?

Sebab selalu ada harapan. Dan pagi ini, kepercayaan diri saya meningkat 200%, bahwa kita, tentu saja, punya harapan yang megah untuk pendidikan Indonesia.

Adik-adik kami akan segera bersekolah dengan ceria, seragamnya putih, bersih dan terjangkau, senyumnya mengembang, bersemangat untuk mendapatkan ilmu baru setiap harinya.

Setiap guru akan menjadi panutan dan figur bagi murid-muridnya, ikhlas dan tulus memberikan metode pengajaran dan pendidikan terbaik untuk setiap tunas didiknya, memahami dan mendengar, senyumnya mengembang setiap tahu bahwa tak ada yang lebih bahagia selain membuat murid-muridnya cerdas, sejahtera, dan bahagia pula.

Orang tua semakin sadar, bahwa mengantarkan anak ke sekolah bukan tentang menitipkan anak pada gurunya, menuntut anak mampu melakukan ini dan itu setelah kembali dari sekolah, kemudian menyalahkan gurunya bila anak tak sesuai dengan ekspektasinya. Sekolah bukan tempat menitip pendidikan. Sekolah adalah medium kedua setelah dirinya, untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak. ia adalah aset masa depan, sarana untuk menuju cita-cita diri, keluarga, bangsa dan negara yang lebih mulia: cerdas, sejahtera, berkarakter baik, bermoral, dan hal-hal baik lainnya.

Ya, selalu ada harapan. Semoga, langkah inilah jawaban atas angan-angan harapan kami lalu, tentang inginnya kami melihat adik-adik kami bersemangat sekolah, mendapatkan pendidikan yang layak, selayaknya manusia… Sekali lagi, selayaknya manusia. Semoga terbantahkan kembali, bantahan kami atas slogan ‘pendidikan itu memanusiakan manusia’ ketika kami menghadapi kenyatan yang justru sebaliknya.

Aamiin.

Tiada kata penutup yang direncanakan, mungkin karena sedang bersemangat menyambut hari di bulan yang baru beserta harapan-harapan lama yang kini seakan menjadi baru.

Bandung, 2 Desember 2014
@jamikanasa

#MemilihOptimis

Tadi malam, saya “digiring” ke video ini. Dan ada perasaan “diajak” ketika menontonnya. Saya bahkan mengulanginya hingga beberapa kali.

Saya kagum dengan Pak Anies. Dimulai dari program Indonesia Mengajar.

Konsentrasi Pak Anies untuk “memperbaiki” Indonesia dari tahapan yang paling mendasar gak cuma catatan di selembar pamflet. Ya. Pendidikan adalah hal mendasar, pondasi agar seseorang dapat kuat berdiri di kakinya sendiri.

Dengan kesempatan yang dimilki, Pak Anies ingin, anak-anak Indonesia mendapatkan pengajaran yang lebih baik.

Para pengajar muda, sebagai kepanjangan tangan, diberi “pengalaman” mengajar selama satu tahun dalam kegiatan ini. Mereka disebar ke berbagai pelosok Indonesia untuk “melaksanakan misi”.

Para pengajar muda, pastinya dititipi amanat. Mereka pasti bukan hanya mengajar, bukan hanya menyegarkan dunia pendidikan. Mereka dititipi amanat untuk dapat menginspirasi. Dan semoga kita tidak lupa bahwa perubahan hampir selalu berangkat dari sebuah inspirasi.

Setahun mengabdi, seumur hidup menginspirasi.

Bermula dari kekaguman yang sederhana, saya jatuh cinta dengan tidak sederhana. Jatuh cinta dengan #MemilihOptimis, jatuh cinta dengan #TurunTangan yang oleh 23.000 relawan digemborkan untuk memompa harapan yang harusnya masih ada di setiap jiwa muda Indonesia.

Mereka bukan tanpa alasan memberikan dukungan kepada Anies Baswedan. Ada semacam bosan dengan keadaan yang berputar pada masalah temeh yang selalu dibesar-besarkan, pada masalah besar yang justru dianggap sepele. Pada keadaan Indonesia yang terus dikhianati oleh beberapa oknum pengurusnya.

Pak Anies menularkan semangat percaya bahwa Indonesia didirikan oleh orang-orang berani. Bahwa kita, bagian dari Indonesia adalah orang-orang berani. Berani melakukan hal baik, berani melawan hal buruk.

Pak Anies mengajak untuk ikut peduli; dengan iuran. Untuk tidak lupa bahwa negeri ini, Indonesia, berdiri atas iuran, iuran tenaga, iuran pikiran, iuran darah dan nyawa, serta iuran semangat, yakin dan percaya.

Pada akhirnya, mereka dan kita, saya maksudnya, menjadi lebih percaya untuk memilih, karena Indonesia, masih punya pilihan; Anies Baswedan.

#MemilihOptimis

youtube

Nonton ini saya merinding. Mungkin karena sama-sama merasakan frekuensi semangatnya, sama-sama berada dan menjadi bagian dari mereka. Berjuang bersama.

Entah apa yang bikin saya kecemplung sama dunia politik. Pertama gabung Turun Tangan saya seperti menemukan semangat juang bersama relawan lain yang luar biasa. Hebat. Dan saya gak bisa menemukan semangat itu di manapun selain di sini. Saya begitu berharap, semangat ini bisa benar-benar ditularkan, disebarkan, supaya Indonesia bisa lebih optimis.

Ada saja yang nyinyir. Kamu ngapain cape-cape dukung Anies? Dia itu pemula, dia itu pasti kalah.

Kalah?

Menggerakkan 26.000 relawan lebih, nol rupiah, kamu sebut kalah?

Menyalakan semangat optimisme, kamu sebut kalah?

Coba pikir.

Turun Tangan. Ini bukan cuma tentang memenangkan Anies Baswedan. Ini soal Memenangkan Indonesia.

Tidak percaya? Kami buktinya.

Pejuang Bukan?

— Hanifah

1 dari 26.000++ relawan Turun Tangan.

Kesuksesan seorang anak berawal dari pengasuhan dan pendidikan yang baik dari orang tuanya. Begitu juga dengan Prof Anies Rasyid Baswedan,Ph.D yang banyak mengadopsi  pola pengasuhan anak yang diberikan orang tuanya dahulu, Drs. Rasyid Baswedan, SU dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd.

 

DARI pernikahannya dengan Fery Farhati Ganis,S.Psi, Anies Baswedan, Ph.D dikaruniai 4 anak, Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim. Ia menerapkan pendidikan dari orang tuanya dulu.

"Ajari anak dengan pembiasaan," kata pria yang mendapat penghargaan sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat.

Di antaranya pembiasaan taat beribadah, pembiasaan banyak membaca, pembiasaan kerja keras, pembiasaan bersikap santun kepada siapapun, pembiasaaan bertanggung jawab, pembiasaan berbicara di depan umum, pembiasaan berorganisasi, pembiasaan menghadapi tantangan serta pembiasaan-pembiasaan baik lainnya. 

Dengan pembiasaan-pembiasaan itu, kata Anies, pendidikan akan tertanam pada anak. Sehingga, anak akan terbiasa untuk melakukan apa yang telah ditanamkan oleh orangtua mereka.

Begitu pula dengan pembiasaan membaca. Kebiasaan ini mampu melatih anak menyisihkan uang untuk membeli buku, karena mereka sudah terbiasa untuk membaca. Sehingga bila mereka tidak membaca akan merasa ada sesuatu yang hilang. 

”Selain mendidik dengan cara pembiasaan, saya juga membiasakan untuk tak terlalu over protektif kepada anak. Sikap over protektif ini  akan membuat kepribadian  anak lemah. Bagi saya nyerempet-nyerempet sedikit bahaya tidak apa-apa karena itu ada manfaatnya. Salah satunya membuat anak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup nantinya,” kata Rektor Universitas Paramadina ini.

Anies menyontohkan, dulu saat dirinya berusia 5 tahun, dia pernah dikeroyok beberapa anak di halaman samping rumahnya.

”Melihat saya sedang dikeroyok, Ibu tidak langsung melerai atau memukul anak-anak lainnya. Ibu hanya melihat dan memantau dari jauh, berbahaya atau tidak. Sambil pura-pura tidak melihat, Ibu masuk ke rumah. Di dalam rumah Ibu perhatikan saya, dari situ Ibu mengajarkan kepada saya  untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya sendiri,” kenang Anies. Jawa Barat, 7 Mei 1969.

 

 

Ajak Jalan Anak Sebelum Tes

Dan menurut Anies, orang tua yang bijak tak harus jadi orang tua yang pemarah.

”Buat apa marah. Nanti kita malah jadi pemarah. Lebih baik kita diam dan melihat permasalahannya apa, nanti baru dicari solusinya,” ungkapnya.direktur riset pada The Indonesian Institute.

Anies menuturkan pola yang dianut dalam mendidik anak, adalah memberikan arahan kepada sang anak untuk gemar membaca serta taat beribadah.

”Sejak anak-anak kecil, saya selalu membiasakan mengajak mereka ke perpustakaan. Di sana saya biarkan mereka mencari buku sendiri, saya hanya memantau dari jauh,” katanya.

Selain membiasakan banyak membaca, dia juga biasa mengajak anak-anak jalan-jalan sehari sebelum ujian dimulai. Kebiasan itu dilakukan agar mereka tidak terpengaruh dengan teman-temannya yang baru belajar menjelang ujian.

Dia tak takut anak-anaknya tak bisa mengerjakan soal ujian. Sebab dia sudah membiasakan anak untuk gemar membaca dan merangkum setiap satu halaman dari pelajaran mereka, empat bulan sebelum ujian dilaksanakan. “Karena itu menjelang ujian, saya malah ngajak anak-anak jalan untuk penyegaran otak,” kata

Anies juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk cinta pada alam dan isinya. Sebagai contoh, sayang pada burung peliharaan.

Di rumahnya, kawasan Lebakbulus Jakarta Selatan, Anies memelihara sejumlah burung. Jumlahnya saat ini “baru” belasan ekor, mulai dari cucakrowo hingga lovebird.

Namun ia  menegaskan, seluruh burung yang dia pelihara di rumahnya merupakan hasil penangkaran.

”Saya tidak ingin ada burung yang dipelihara di rumah merupakan hasil penangkapan,” katanya, serius. Karena memberikan contoh inilah, anak-anak Anies juga menyayangi binatang.

Ia juga sering  mengajak istri dan anak-anaknya ke Gembira Loka Zoo untuk melihat berbagai koleksi burung juga satwa lain, termasuk iguana.

”Pendidikan tak harus selalu diberikan di rumah atau di bangku sekolah, tapi juga dari lingkungannya. Dengan mengunjungi kebun binatang, anak-anak tahu berbagai jenis binatang yang ada, dan mereka bisa melihat secara langsung tak hanya dari gambar.”

 

 

——-

 

Dibutuhkan Orang Tua dan Guru Yang Berkarakter

 

MENDIDIK adalah tugas moral tiap orang terdidik. Penggagas dan ketua program Indonesia Mengajar ini mengatakan  kita berdosa jika ada anak Indonesia yang tidak terdidik.

”Itu juga berarti guru bukan satu-satunya profesi yang bertugas untuk mendidik anak Indonesia,” katanya.

Lingkungan pendidikan pertama yang ditemui seorang anak adalah keluarga. Pendidikan yang ditawarkan dalam lingkungan ini adalah pendidikan informal. Banyak hal yang dipelajari oleh anak melalui lingkungan ini, misalnya agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral dan sosialisasi.

Anies menyebut karakter seorang anak dimulai  dari rumah. Jadi yang perlu dididik untuk berkarakter  adalah orang tua. Orang tua harus dididik untuk punya karakter sehingga di rumah ada suasana keluarga yang punya karakter. Integritas itu dibangun di situ. Anak jujur atau tidak tergantung orang tua jujur atau tidak. Bukan masalah orang tua mempidatokan, orang tua pasti mempidatokan untuk jujur. Namun yang kita butuhkan orang tua mempraktikkan kejujuran di rumah. Mempraktikkan transparansi  misalnya di rumah. Mempraktikkan prinsip-prinsip yang dalam bahasa agama biasa disebut akhlakul karimah di rumah, sehingga anak-anak bisa belajar dengan cara mencontoh.Di sekolah juga begitu.Siapkan guru-guru untuk memiliki karakter. 

”Setiap orang tua adalah pendidik bagi anak mereka. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Jika pendidikan tersebut berhasil, maka anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang baik dan membanggakan orang tua. Jika tidak, maka bukan salah si anak. Namun orang tua yang perlu mengevaluasi dirinya sendiri. Mungkin ada yang salah dari cara mendidik mereka,” kata Anies saat memberikan kuliah umum pada pembukaan Sekolah Jurnalisme Indonesia Tingkat Utama Angkatan I SJI Jateng, Senin, 13 Mei 2013.

Karena merupakan lingkungan pendidikan pertama, maka pendidikan yang didapatkan oleh anak merupakan bekal untuk menghadapi lingkungan pendidikan selanjutnya, yaitu masyarakat. Jika bekal itu cukup, maka anak akan diterima dengan baik oleh masyarakat. Jika tidak, mungkin akan ada penolakan kecil dari masyarakat. Misalnya, anak tersebut akan dimarahi atau diingatkan oleh masyarakat yang merasa terganggu olehnya.

(Unik A Mumpuni)

Kemdikbud Rilis 3 Bentuk Pemanfaatan Hasil UN

Alfido.com | News – Hai gan.. Menanggapi twit “UN Dihapus” di twitter yang menjadi Trending Topic, Kemdikbud akhirnya merilis artikel “Tiga Bentuk Pemanfaatan Hasil UN”. Nantinya di kertas SKHUN akan terlihat juga nilai raport dan nilai-nilai ulangan para Siswa.

(more…)

View On WordPress